# Alam Semesta: 6 Hari atau 13,8 Miliar Tahun? - Sains Terus Mengonfirmasi Al-Qur’an!

- Language: id
- Published: 2026-09-12
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/apakah-ada-kesalahan-ilmiah-dalam-al-quran-sanggahan-yang-ada-justru-menjadi-mukjizat
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=E4G4J3LizNU
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Apakah sains dan Al-Qur'an benar-benar bertentangan? Enam hari. Benarkah itu waktu yang disebutkan Al-Qur'an untuk penciptaan alam semesta? Lalu, bagaimana dengan tujuh langit? Bisakah sains membuktikan konsep Al-Qur'an tentang langit berlapis tujuh? Dan benarkah Al-Qur'an menyebutkan bahwa matahari terbenam di mata air berlumpur? Di satu sisi, mukjizat ilmiah baru dalam Al-Qur'an ditemukan setiap harinya. Namun di sisi lain, ada ayat yang tampaknya bertentangan dengan sains modern. Jadi, mana yang benar? Dalam video ini, kita akan meluruskan semua kebingungan. Kita akan menganalisis beberapa ayat yang paling diperdebatkan. Dan hari ini, aku punya tujuan yang jelas.

Di akhir perjalanan ini, kamu akan memahami sebuah aturan dasar. Aturan dasar sebagai kunci utama untuk menjawab hampir semua pertanyaan lain yang ada di benakmu. Ini akan mengubah caramu memandang Al-Qur'an, dan belajar menjawab berbagai sanggahan dengan aturan kita. Sejarah mencatat bagaimana gereja menentang sains di Eropa. Ini memicu kemarahan berkepanjangan terhadap agama, dan Islam ikut dinilai secara tidak adil dengan standar yang sama. Kini saatnya meluruskan kesalahpahaman tersebut. Bisa jadi yang dianggap kesalahan justru merupakan mukjizat tersembunyi. Dan mungkin Al-Qur'an dan sains sebenarnya menceritakan kisah yang sama, namun dalam dua bahasa yang berbeda.

Pertama-tama, kita perlu perjelas satu hal. Apakah Al-Qur'an itu berasal dari Tuhan? Tanpa landasan ini, menganalisis detailnya hanya akan sia-sia. Jika Al-Qur'an adalah kebenaran, hal-hal rumit ini hanyalah teka-teki untuk kita pecahkan. Tidak mengetahui jawabannya hari ini bukan berarti kitab tersebut salah. Kita hanya perlu terus mempelajarinya. Tapi jika dasar ini belum tertanam di pikiranmu, jawaban apa pun tidak akan memuaskanmu. Itulah sebabnya melihat bukti-bukti Islam, yang dapat kamu pelajari dalam video-video kami yang lain, adalah kunci untuk memahami gambaran besarnya. Dan ini adalah aturan utama kita. Mari kita mulai dengan klaim yang paling terkenal.

Dalam Surah Qaf, ayat 38, disebutkan, "Sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun." Sains mengatakan bahwa alam semesta membutuhkan miliaran tahun untuk terbentuk, sementara Al-Qur'an secara harfiah menyebut "enam hari". Bukankah ini sebuah kontradiksi? Pertama-tama, kita harus mengajukan pertanyaan penting. Apa sebenarnya arti "hari" dalam Al-Qur'an? Ketika kita mengatakan hari, kita otomatis berpikir tentang 24 jam. Namun, seberapa masuk akal menggunakan ukuran 24 jam ketika bumi dan matahari bahkan belum ada?

Benarkah Al-Qur'an bermaksud mengatakan bahwa bumi berotasi enam kali pada porosnya bahkan sebelum bumi diciptakan? Tentu saja tidak. Untuk memahami hal ini, kita harus melihat kata asli bahasa Arab yang digunakan Al-Qur'an: yaum. Dalam konteks linguistik yang sebenarnya, "yaum" bukan sekadar berarti 24 jam. Kata ini merujuk pada suatu periode, fase, atau masa yang memiliki awal dan akhir. Dalam pengertian ini, enam hari tersebut sebenarnya adalah enam masa utama penciptaan. Bagi Sang Pencipta alam semesta, waktu tidak dapat diukur hanya berdasarkan siklus 24 jam kita.

Dalam kekuasaan-Nya yang begitu luas, satu hari di Jupiter hanya sekitar 10 jam, sementara di Venus, satu hari berlangsung lebih lama daripada satu tahun penuh. Bahkan Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." Atau dalam ayat lainnya, "....hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." Al-Qur'an sendiri menjelaskan bahwa ukuran satu hari dapat berubah. Jadi, mengapa ada ayat seperti ini dalam Al-Qur'an? Mengapa Al-Qur'an menyebutkan enam masa ini? Ini bukan tentang berapa lama prosesnya. Ini tentang bagaimana proses itu dirancang.

Jika kamu mengetahui bahwa prosesnya 15,8 miliar tahun alih-alih 13,8 miliar tahun, hal itu tidak akan mengubah hidupmu. Namun, mengetahui bahwa semuanya dilakukan tahap demi tahap, menunjukkan kepada kita bahwa penciptaan adalah proses yang terkendali dan terprogram. Bahkan apa yang tampak seperti kekacauan sebenarnya berada dalam kendali. Segalanya mengikuti suatu proses. Segalanya terukur, dan segala sesuatu memiliki tujuan. Sekarang, tugas para ilmuwan adalah menemukan dengan tepat apa keenam masa tersebut. Dan ketika kita melihat hasil temuan mereka, kesesuaian ini mustahil untuk diabaikan. Kita melihat bahwa ini adalah perjalanan yang sangat sesuai dengan enam tahap.

Dimulai dari satu titik dan berakhir dengan kehidupan yang kita lihat hari ini. Seperti yang kita katakan di awal, Al-Qur'an dan sains menunjukkan kebenaran yang sama dalam dua bahasa berbeda. Allah tidak hanya berbicara kepada sekelompok kecil ahli. Dia berbicara dalam bahasa yang menyentuh setiap hati, tanpa memandang zaman atau pendidikan. Dan itu membawa kita pada aturan utama kedua. Al-Qur'an bukanlah buku teks sains. Al-Qur'an adalah pedoman hidup. Al-Qur'an tidak membahas seni demi seni itu sendiri, melainkan untuk memperkenalkan sang senimannya. Untuk memperkenalkan Sang Pencipta kita. Terlepas kamu seorang ilmuwan atau penggembala, Al-Qur'an mengajarkanmu cara memandang.

Itulah sebabnya Al-Qur'an menghindari detail seperti dinosaurus atau hal-hal teknis, tapi berfokus pada contoh-contoh sederhana seperti unta dan lalat. Sekarang, kita harus menghadapi misteri yang lebih dalam. Sains modern berbicara tentang alam semesta yang dapat diamati. Namun, Al-Qur'an menggunakan istilah berbeda: Sab'a samawat (tujuh langit). Dalam Surah Al-Mulk, Allah berfirman, "Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?" Sekilas, kita hanya melihat satu ruang yang luas dan tak berujung.

Jadi, apa sebenarnya arti tujuh lapisan ini? Apakah ini fakta ilmiah yang belum kita temukan, atau kita melihatnya dengan cara yang keliru? Mari kita coba pahami misteri ini dan melihat bagaimana hal ini sesuai dengan pengetahuan kita tentang alam semesta saat ini. Bayangkan kamu sedang duduk di dalam kereta berkecepatan tinggi, sambil memegang secangkir kopi. Bagimu, kopi itu tampak diam. Namun bagi seseorang yang berdiri di luar di atas peron, kopi itu melaju melewatinya dengan kecepatan 200 kilometer per jam. Siapa yang benar? Keduanya benar. Kecepatan dan gerak tidak memiliki makna tanpa titik acuan.

Untuk menentukan bagaimana sesuatu bergerak, pertama kamu harus bertanya: dibandingkan dengan apa? Tak ada satu pun di alam semesta yang bergerak sendiri. Semuanya selalu bergerak dalam ruang yang lebih besar. Dan setiap langit menyediakan titik tetap bagi segala sesuatu di dalamnya. Mobilmu bergerak relatif terhadap bumi. Bumi bergerak relatif terhadap matahari. Jadi, langit pertama adalah kerangka bumi, dan langit kedua adalah tata surya. Dan matahari pun juga tidak diam. Matahari bergerak dengan kecepatan 19 kilometer per detik menuju suatu arah. Kita hanya dapat memahami gerakan ini dengan menggunakan bintang-bintang di sekitar sebagai acuan.

Jadi, langit ketiga adalah lingkungan bintang-bintang. Dan bintang-bintang tersebut berotasi mengelilingi pusat galaksi bernama Bima Sakti. Jadi, itu adalah langit keempat. Langit kelima adalah Grup Lokal, gugus yang terdiri sekitar 50 galaksi, termasuk Andromeda. Di sini, kita mengukur bagaimana seluruh galaksi bergerak relatif satu sama lain. Langit keenam adalah wilayah supergugus galaksi. Pada skala yang sangat besar ini, ribuan kelompok galaksi mengalir bersama seperti sungai-sungai gravitasi yang bercahaya. Dan langit ketujuh adalah alam semesta yang dapat diamati. Kerangka acuan terakhir. Di sini, pemuaian ruang itu sendiri menjadi acuannya. Ia mencakup segala sesuatu.

Ini adalah hierarki yang tersusun sempurna, di mana sistem yang lebih rendah selalu menemukan maknanya dalam sistem yang lebih tinggi. Ulama besar Islam, Bediuzzaman, di sisi lain, menawarkan sudut pandang yang berbeda. Gerakan planet tidak seperti pesawat yang terbang di udara, melainkan seperti ikan yang berenang di dalam air. Ruang angkasa melengkung di sekitar bintang dan menciptakan gelombang tak kasatmata, hampir seperti lautan kosmik yang luas. Para astrofisikawan modern sering memodelkan alam semesta sebagai fluida raksasa yang mengalir. Dan tahukah kamu bahwa Al-Qur'an telah mengisyaratkan sifat seperti fluida ini berabad-abad lalu?

Surah Yasin menggambarkan matahari dan bulan dengan kata yang sangat spesifik. Disebutkan, "Masing-masing beredar pada garis edarnya." Itu adalah definisi fisika yang sempurna. Bahkan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW menggambarkan ruang angkasa sebagai Mauj Makfuf, yang berarti gelombang yang tertahan. Struktur seperti fluida ini secara konsisten ditekankan dalam Al-Qur'an. Karakter ruang angkasa berubah-ubah tergantung pada massa yang berinteraksi dengannya. Di tata surya kita, matahari melengkungkannya menjadi sumur gravitasi yang dalam.

Namun dalam skala galaksi, ruang angkasa melengkung di bawah beban kolektif miliaran bintang, yang mengarahkan semuanya membentuk cakram raksasa yang berputar. Interaksi yang berbeda-beda ini mengubah alam semesta dari sekumpulan materi acak menjadi lapisan-lapisan yang bertingkat. Dan setiap lapisan bertindak sebagai lingkungan berbeda dengan hukumnya masing-masing. Jadi, jika Sang Pencipta telah mengelompokkan struktur rumit ini menjadi tujuh lapis, maka memang tujuhlah jumlahnya. Namun, mari kita tanyakan: mungkinkah mereka yang mengklaim alam semesta tidak mungkin memiliki tujuh lapisan melewatkan pesan yang lebih dalam di baliknya?

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa Al-Qur'an konsisten menggunakan frasa tujuh langit bukan hanya mengatakan langit? Ini adalah pesan tentang kendali penuh. Menentukan batas-batas pasti suatu sistem membuktikan bahwa Allah adalah arsiteknya. Atau setidaknya bahwa Allah memahaminya luar dalam. Allah mengelola tujuh lapisan berbeda dengan tujuh hukum yang berbeda. Namun, semuanya adalah satu kesatuan tindakan. Allah secara bersamaan mengatur kepakan sayap burung di lapisan pertama dan pergerakan galaksi di lapisan keempat. Bagi-Nya, dunia mikro dan makro adalah satu sistem tunggal yang tertata sempurna. Dan inilah aturan utama ketiga kita.

Jangan hanya melihat kata-katanya, cobalah memahami makna di baliknya. Dalam Surah Al-Isra, ayat 44, disebutkan tentang Allah, "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah." Tujuh langit di satu sisi timbangan, dan bumi di sisi lainnya. Meskipun bumi bagaikan sebutir pasir di alam semesta, bumi adalah pusat maknanya. Sebuah pameran mahakarya Ilahi. Bumi adalah tempat benih-benih kehidupan akhirat ditanam. Dan bumi adalah rumah bagi para pembimbing terbesar umat manusia, ribuan nabi seperti Nabi tercinta kita, Nabi Muhammad SAW. Nilai sesuatu tidak diukur dari ukuran fisiknya, kecepatannya, atau mineral yang dikandungnya.

Jadi, ini mengungkap aturan utama keempat kita. Al-Qur'an memberi nilai pada sesuatu bukan berdasarkan materinya, melainkan maknanya. Itulah sebabnya pertanyaan, "Apakah Tuhan sungguh peduli pada kita di alam semesta yang begitu luas?" harusnya tak terlintas di pikiranmu. Para ulama kita telah memberikan berbagai penafsiran lainnya. Misalnya, beberapa berpendapat bahwa seluruh alam semesta yang dapat diamati, segala sesuatu yang kita lihat, sebenarnya hanyalah langit pertama. Di luar itu, masih ada enam lapisan lain yang sepenuhnya berada di luar jangkauan pengamatan kita. Seiring semakin banyak gagasan yang dikemukakan, kita harus menghindari jebakan yang umum.

Kita sering mengira hanya satu dari berbagai pandangan ini yang benar. Karena dengan akal kita yang terbatas, ucapan kita biasanya hanya memiliki satu makna. Namun, pengetahuan Allah itu abadi. Firman-Nya dapat mengandung setiap lapisan kebenaran sekaligus. Dan ini membawa kita pada aturan utama kelima. Satu kata dalam Al-Qur'an tidak hanya mewakili satu makna. Kata itu berfungsi sebagai kunci menuju berbagai keajaiban sekaligus. Dan logika ini dapat diterapkan dengan sempurna pada penciptaan alam semesta dalam enam masa. Sama seperti ada berbagai pemahaman yang valid tentang tujuh langit, bisa juga ada enam penafsiran yang berbeda dan akurat tentang enam masa ini.

Semuanya bisa benar dan semuanya bisa dimaksudkan oleh Allah pada saat yang sama. Namun, bagaimana dengan penafsiran yang tidak akurat? Di sinilah banyak orang terjebak dalam jebakan logika lainnya. Misalnya, pandangan yang populer adalah bahwa tujuh langit merujuk pada tujuh planet yang terlihat di tata surya kita. Itu adalah dugaan yang logis pada masanya. Tapi, saat sains menemukan lebih banyak planet, teori ini pun runtuh. Beberapa kritikus kemudian mengklaim bahwa Al-Qur'an terbukti salah. Namun, mereka hanya membantah teori seorang manusia. Kamu tidak dapat menyalahkan penulis atas kesalahpahaman pembaca. Membuktikan satu teori salah bukan berarti kamu telah menghancurkan kebenaran.

Kamu hanya telah membuka jalan bagi enam kemungkinan lainnya. Jadi, jika kamu pernah mendengar bahwa sains tidak sejalan dengan Al-Qur'an, ingatlah ini: kemungkinan besar kamu sedang melihat penafsiran manusia yang meleset dari makna sebenarnya. Sepanjang video ini, kita telah menyoroti mukjizat-mukjizat Al-Qur'an. Dengan begitu banyak bukti Islam, konflik-konflik ini tetap menjadi teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan. Tidak mengetahui jawabannya hari ini menunjukkan bahwa kita masih belajar. Sekarang, mari kita terapkan aturan-aturan ini pada ayat terakhir yang disalahpahami. Kisah perjalanan Dzulkarnain, seorang penguasa yang hebat.

Saat menggambarkan ekspedisinya yang terkenal ke arah barat, ayat tersebut berbunyi, "Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya (matahari) terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam..." Sekilas, ini mungkin tampak seperti kesalahpahaman kuno tentang bumi datar. Para kritikus yang ingkar pun bertanya, "Bagaimana mungkin bintang raksasa, yang lebih besar dari bumi secara fisik jatuh ke dalam genangan lumpur?!" Jawabannya sebenarnya tersembunyi dalam ayat yang mereka kritik itu sendiri. Al-Qur'an tidak mengatakan bahwa matahari secara fisik tenggelam ke dalam genangan lumpur. Ungkapan persisnya adalah, "dia melihatnya terbenam".

Di sini, Al-Qur'an menggunakan bahasa manusia sehari-hari untuk menggambarkan pandangan seorang musafir. Al-Qur'an sebenarnya berfungsi seperti kamera, mengabadikan pemandangan cakrawala secara persis. Yang kita ketahui dari ayat tersebut hanyalah bahwa dia berjalan ke arah barat. Kita tidak tahu dari mana dia memulai maupun di mana dia berakhir. Namun, hanya dengan satu baris, Al-Qur'an memberikan gambaran yang brilian tentang lokasi persis tempat peristiwa yang telah berusia berabad-abad ini terjadi. Dia berdiri di suatu tempat di mana lautan luas tampak seperti mata air berlumpur yang mendidih.

Perjalanannya ke arah barat membawanya hingga ke ujung benua, tepat di hadapan lautan yang sangat luas. Kemungkinan besar itu adalah Samudra Atlantik. Dan saat itu adalah pertengahan musim panas. Panas yang ekstrem membakar rawa-rawa dan lahan basah di sepanjang pesisir. Ini memunculkan uap tebal yang mengepul. Dzulkarnain tidak sedang melihat cakrawala yang jelas. Dia melihat selimut tebal kabut dan embun yang mengepul. Dan begitulah dia menyaksikan matahari terbenam dari tepi pantai. Namun, bukan itu saja. Ingat, kita telah mengatakan bahwa satu ungkapan dalam Al-Qur'an dapat mengandung berbagai lapisan makna. Itu sebenarnya adalah pola yang brilian yang kita lihat di seluruh Al-Qur'an.

Kadang Al-Qur'an mengibaratkan Bumi yang luas ini sebagai buaian aman. Matahari yang terik sebagai lampu biasa, dan bulan sebagai lentera lembut. Dalam kekuasaan Allah yang tak terbatas, bagaimana lautan terbesar di planet kita seharusnya digambarkan? Lautan yang paling luas tidak lebih dari mata air panas yang kecil. Jadi, Tuhan kita menggunakan bahasa sedemikian rupa sehingga Dia menciptakan titik temu antara persepsi manusia dan keagungan-Nya sendiri. Bahkan hari ini kita mengatakan, "matahari terbenam". Dan tidak ada yang mengoreksi kita dengan mengatakan, "sebenarnya Bumi sedang berotasi". Semua orang memahami konteksnya.

Namun sayangnya, sebagian besar kritikus modern mencari pertentangan alih-alih mencari makna. Mereka yang bahkan belum satu jam belajar bahasa atau konteksnya justru menjadi yang pertama mengklaim bahwa itu tidak benar secara ilmiah. Pikirkanlah. Kamu tidak akan meminta seorang insinyur mesin melakukan operasi jantung terbuka, bukan? Kamu pasti akan pergi ke dokter bedah. Lalu mengapa kita memperlakukan Al-Qur'an secara berbeda? Jika seseorang menghabiskan waktunya untuk menyerang Al-Qur'an atau membangun platformnya untuk mengkritik Islam, jangan berharap analisis yang objektif. Jika kamu menginginkan kebenaran, datanglah kepada para ahlinya.

Satu analisis mendalam setingkat ahli lebih bernilai daripada seratus kritik kosong ala internet. Mereka mengira telah menemukan kesalahan besar. Kesalahan yang tidak disadari oleh para ilmuwan Muslim selama berabad-abad. Apakah mereka mengira para pemikir terbesar dalam sejarah sains tidak pernah membaca Al-Qur'an? Sejarah Islam dipenuhi ratusan ilmuwan brilian, astronom, dan matematikawan. Mereka menghabiskan hidup mereka mempelajari sains dan Al-Qur'an. Kita berbicara tentang peradaban yang menjadi pelopor sains. Dunia modern yang kita kenal saat ini dibangun di atas upaya mereka. Misalnya, Ibnu al-Haytham. Penemu ilmu optik modern. Bersamanya, ada ilmuwan seperti Al-Khwarizmi.

Dialah yang melahirkan algoritma yang kamu gunakan untuk menonton video ini sekarang. Jabir bin Hayyan adalah pendiri kimia modern, yang membangun laboratorium pertama di dunia pada abad ke-8. Lihatlah Ibnu Sina, yang ensiklopedia medisnya menjadi rujukan tertinggi di universitas-universitas Eropa selama lima abad. Lihatlah Al-Jazari, bapak robotika dan teknik mesin. Lihatlah Ibnu Khaldun, pendiri sosiologi dan historiografi. Mereka semua mempelajari Al-Qur'an dengan pemikiran analitis yang mendalam, namun mereka menemukan keselarasan mutlak di dalam ayat-ayatnya. Lihatlah Fatimah Al-Fihri, perempuan visioner yang mendirikan universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini.

Misalnya, Mariam Al-Ijliya. Saat itu, di Barat, jika seorang perempuan mempelajari sains, dia akan menghadapi penyiksaan dan eksekusi. Namun di dunia Islam, Mariam al-Ijliya mempelajari matematika dan teknik yang bahkan tidak akan terbayangkan oleh Eropa selama berabad-abad. Dia membuat alat penghitung astronomi yang sangat kompleks bernama astrolab. Ibnu al-Baytar, Al-Jahiz, Al-Zahrawi, Al-Biruni, Al-Battani. Masih banyak lagi. Itulah sebabnya seorang profesor Muslim, Fuat Sezgin, pernah berkata, "Peradaban Barat adalah anak dari Islam." Jadi, mulai sekarang, ketika seseorang memberi tahumu bahwa dia telah menemukan kesalahan dalam Al-Qur'an, kamu tinggal tersenyum saja.

Karena kini kamu sudah memegang kunci utamanya. Ujilah setiap klaim dengan kunci itu. Pertama, fokus pada bukti-bukti Islam lebih dulu. Agar satu pertanyaan tidak mengguncang seluruh fondasi keyakinanmu. Kedua, mungkinkah mereka memperlakukan Al-Qur'an seperti buku teks fisika alih-alih sebagai kitab petunjuk hidup? Al-Qur'an menggambarkan alam semesta bukan untuk mengajarkan kimia atau astronomi, melainkan untuk memperkenalkan Sang Seniman. Ketiga, jangan hanya melihat kata-katanya. Cobalah memahami makna di baliknya. Mungkin mereka melewatkan makna yang lebih dalam yang ingin ditunjukkan Sang Seniman.

Keempat, mungkinkah Allah mengarahkan pandangan kita ke tempat lain dan meminta kita melihat dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda? Ketika Al-Qur'an menyebutkan suatu ciptaan, mungkin Al-Qur'an tidak berfokus pada fungsi fisiknya sehari-hari. Kelima, mungkinkah kamu menyalahkan penulis atas kesalahan pembaca? Jangan samakan dugaan keliru ilmuwan dengan firman Tuhan yang sempurna. Keenam, tanyakan pada dirimu, "Apakah aku sedang membaca firman dari Sang Pencipta, atau hanya kosakata terbatas dari seorang penerjemah?" Kamu tak bisa menyempitkan firman Ilahi yang agung ke dalam satu kata terjemahan sederhana. Itu ibarat mencoba menuangkan lautan ke dalam cangkir kecil.

Ketujuh, apa kamu mencari kebenaran dari pakarnya atau dari mereka yang cuma mencari perdebatan? Jika kamu sungguh ingin memahami kitab suci, kamu harus belajar bersama para ulama yang mendedikasikan hidup mereka untuk mempelajarinya. Bukan dari para pembangkang yang mendapat keuntungan dari menyerang Al-Qur'an. Delapan, Islam tidak seperti agama-agama lain, jadi jangan menyamaratakannya. Karena dari seratus agama, hanya satu yang bisa menjadi kebenaran. Maka secara logis, 99 lainnya pasti salah. Dan tentu saja mereka akan bertentangan dengan sains atau logika. Dan jika kamu mengelompokkan agama yang benar dengan 99 agama yang penuh kekeliruan itu, kamu tidak sedang bersikap objektif.

Kamu hanya sedang bersikap malas. Kamu menilai suatu agama berdasarkan sejarah yang bukan miliknya. Saat gagasan manusia mulai usang, Al-Qur'an tetap relevan sepanjang masa. Al-Qur'an tidak akan usang. Justru semakin relevan di setiap zaman. Setiap kali sains melangkah maju, sains tidak semakin menjauh dari kitab suci. Sains justru semakin mendalaminya. Ingat, sejarah tidak asing dengan para kritikus yang angkuh yang mencemooh Al-Qur'an berdasarkan gagasan keliru pada zaman mereka. Hari ini, teori-teori keliru tersebut telah dilupakan. Dan para kritikus itu kini sendirian di dalam kubur mereka bersama penyesalan mereka. Bagaimanapun, sains pun berubah.

Apa yang disangkalnya hari ini, mungkin akan diterimanya besok. Dan jika kamu menerapkan kunci-kunci ini, maka ilusi kontradiksi itu akan menghilang. Bayangkan alam semesta sebagai sebuah buku yang ditulis oleh Sang Pencipta. Sains hanya berfokus pada berat buku tersebut, ukuran hurufnya, kertasnya, tintanya, dan struktur kalimat-kalimatnya. Namun, sains tidak akan pernah bisa membaca isinya. Sementara itu, Al-Qur'an adalah panduan untuk menerjemahkan alam semesta. Al-Qur'an mengungkap makna di balik seluruh ciptaan, sehingga kita dapat membaca pesan-pesan dari Sang Pencipta.

Jika kamu memisahkan Al-Qur'an dari sains, Kamu akan menghabiskan seluruh hidup hanya menghitung huruf-huruf dalam buku alam semesta. Namun, kamu tak akan pernah benar-benar memahami pesannya. Dan karena kedua buku tersebut ditulis oleh Penulis yang sama, kontradiksi di antara keduanya secara logis tidak mungkin terjadi. Ingin tahu sumber di balik video-video kami? Kami mengundang Anda ke perpustakaan kami dan memberi Anda akses ke sumber yang sama melalui aplikasi tafsir My Risale kami.

Dengan fitur pelacakan bawaannya, Anda dapat mendalami makna Al-Qur'an, menguatkan iman, dan mempelajari cara membuktikan kebenaran Islam— membuktikan keberadaan Allah, kerasulan Muhammad SAW, serta seluruh rukun iman lainnya dengan yakin dan efektif. Jangan biarkan setan membuat Anda menunda kesempatan ini. Klik tautan di bawah, unduh aplikasi gratis ini, dan mulailah perjalanan Anda bersama kami hari ini.
