# Surat Nabi ke Kaisar dan Raja! - Respons Mengejutkan - Divisualisasikan AI - Wahai Rasul | Ep. 9

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/epic-conquest-of-khaybar-visualized-by-ai-alis-heroic-fight-o-messenger-ep-9
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=ebeAyx_E7pc
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Empat sahabat dipilih khusus oleh Rasulullah ﷺ. Dihyah Al-Kalbi, Hatib bin Abi Balta’ah, Amir bin Umayyah, dan Abdullah bin Hudhafah. Masing-masing akan berangkat membawa sebuah surat. Namun pada siapa surat itu ditujukan? Kepada para penguasa kekuatan besar saat itu. Kaisar Bizantium, Raja Abyssinia, Penguasa Mesir, dan Kisra, Raja Persia. Setiap surat ditulis khusus untuk penerimanya, mengajak pada Islam. Beliau bahkan membuat sebuah cincin stempel dan memakainya untuk menyegel semua surat. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam tepercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam.

Saat itu sekitar awal tahun 629. Tujuh tahun telah berlalu sejak Hijrah. Misi Rasulullah ﷺ adalah menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Karena beliau bukan nabi yang hanya diutus untuk Quraisy atau Arab, melainkan diutus untuk seluruh manusia. Maka surat-surat pun ditulis dan para sahabat diutus untuk menyampaikannya pada mereka. Untuk Kekaisaran Bizantium, Rasulullah ﷺ mengutus Dihyah Al-Kalbi. "Selamat datang di istana." Saat ia tiba, ia disambut oleh seorang penguasa lalu dibawa menghadap Kaisar Heraklius. Kaisar menerima surat itu dan memerintahkan agar dibacakan keras. "Biarkan kami mendengarnya." Saat mendengarnya, ia mulai mengingat apa yang tertulis dalam kitab suci mereka.

Di sana ada kabar gembira tentang nabi yang akan datang dan menggambarkan sifat-sifatnya. Kini, seseorang yang mengaku nabi telah mengirimkan surat kepadanya. Mungkinkah ini orang yang mereka tunggu? Hal itu membuatnya berpikir mendalam. “Silakan beristirahat. Kau pasti lelah karena perjalanan.” Lalu ia melakukan dua hal penting. Pertama, ia menulis surat kepada sahabat dekatnya, Patriark Bizantium, Daghatir al-Usquf. Ia mempercayai nasihatnya, maka ia menjelaskan keadaan itu dan meminta pendapatnya. Kedua, ia memerintahkan orang-orangnya: “Pergilah dan periksa apakah ada di sini seseorang dari suku pria yang mengaku nabi ini.” Tak lama kemudian, Patriark mengirim jawabannya.

Namun apa yang ia tulis? Akan kita bahas sebentar lagi. Tapi sebelum itu, mari perhatikan percakapan Kaisar dengan satu nama familiar, Abu Sufyan. Ya, Abu Sufyan kebetulan berada di wilayah itu untuk berdagang. Ketika para tentara melihatnya di pasar, mereka membawanya kepada Kaisar bersama teman-temannya. Mereka dibawa ke gereja Ilya. Heraklius memanggil mereka ke majelisnya. "Yang Mulia." Ia mengumpulkan para pejabat Romawi dan para pemimpin agama. Kaisar lalu bertanya, "Siapa di antara kalian yang nasabnya paling dekat dengan pria yang mengaku nabi itu?" “Aku yang paling dekat kekerabatannya.” “Bawa dia mendekat, dan biarkan teman-temannya berdiri di belakangnya.

Aku akan bertanya beberapa pertanyaan tentang lelaki itu. Jika ia berdusta, kalian harus segera membongkarnya.” Dengan cara ini, Abu Sufyan tidak bisa berbohong. Lalu Heraklius mulai bertanya padanya. “Bagaimana nasabnya di antara kalian?” “Ia berasal dari keluarga mulia.” “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelumnya?” “Tidak.” “Siapa yang mengikutinya? Para bangsawan atau orang miskin?” “Orang miskin dan lemah.” “Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang?” “Mereka terus bertambah.” Abu Sufyan tidak memahami tujuan pertanyaan ini, namun semuanya punya maksud.

“Apa kau pernah berperang melawannya?” “Ya, pernah.” “Bagaimana hasilnya?” “Terkadang ia menang, terkadang kami yang menang.” “Apa yang ia perintahkan pada kalian?” “Ia memerintahkan kami menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya. Ia melarang kami menyembah apa yang disembah nenek moyang kami. Ia memerintahkan kami salat, berkata jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahmi dengan saudara.” “Semua yang kau sebutkan adalah sifat-sifat seorang nabi. Jika apa yang kau katakan benar, ia akan segera menguasai tanah di bawah kakiku. Aku sudah tahu seorang nabi akan muncul, namun aku tak menyangka ia akan berasal dari bangsa kalian.” Dan itulah yang akan terjadi.

Heraklius kini yakin bahwa nabi yang disebut dalam Injil dan Taurat adalah Nabi Muhammad ﷺ. Saat ia selesai berbicara, suara-suara mulai terdengar. Para pejabat tinggi mulai berdiskusi, dan suara keributan semakin besar. Abu Sufyan dan teman-temannya segera dibawa keluar. “Perkara ini telah menjadi besar, hingga Kaisar Romawi pun takut kepadanya.” Heraklius kemudian akan masuk Islam, namun karena takut takhtanya akan terguncang, ia menyembunyikan keimanannya. Namun bagaimana dengan surat yang ia kirim kepada temannya, Patriark? Jawabannya telah datang. Dalam suratnya, Daghatir menulis bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar seorang nabi.

Kaisar kemudian meminta Dihyah untuk menemui Patriark dan mengajaknya memeluk Islam. Jawaban Patriark dan apa yang ia alami kemudian sangat mengejutkan. “Kembalilah kepada Nabimu, sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya, aku beriman tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan aku juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah.” Kemudian Patriark itu pergi ke kamarnya, melepas jubah hitamnya, dan mengenakan jubah seremonial putih. Ia mengambil tongkatnya dan berdiri di hadapan orang-orang yang berkumpul di gereja. Kini saatnya mengumumkan kebenaran. “Wahai orang-orang Romawi! Kami telah menerima sebuah surat dari seorang nabi bernama Ahmad.

Di surat itu, ia mengajak kita beriman pada Allah Yang Maha Tinggi. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Ahmad adalah hamba dan utusan-Nya.” Mendengar hal itu, orang-orang menjadi sangat marah. “Bagaimana mungkin?! Engkau meninggalkan agama nenek moyangmu!” Mereka menyerbu Daghatir dan memukulinya hingga ia syahid. Semoga Allah merahmatinya. Penguasa lain yang dikirimi surat adalah Raja Abyssinia, Najasyi. Amr bin Umayyah yang menyampaikannya. Jika kalian ingat, saat kaum Muslim melakukan perjalanan sulit ke Abyssinia, Najasyi menyambut mereka dengan sangat baik.

“Kalian aman di negeriku.” Ia mengambil surat dari Rasulullah ﷺ, menempelkannya ke matanya sebagai tanda hormat, menciumnya, dan mengangkatnya ke dahinya. Lalu ia memerintahkan salah satu orangnya untuk membacanya dengan keras. Setelah mendengar surat itu, ia turun dari singgasananya, duduk dengan rendah hati di tanah, dan mengucap kalimat syahadat. "Asyhadu an laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah" Seandainya aku bisa pergi menemuinya, pasti akan kulakukan." Utusan itu, Amr bin Umayyah, memiliki satu permintaan lagi.

“Aku ingin kau mengirim kaum Muslim yang masih tinggal di Abyssinia ke Madinah.” Najasyi tidak pernah berkesempatan bertemu Rasulullah ﷺ, tetapi selama bertahun-tahun ia melindungi kaum yang pernah melihat beliau. Dan kini, ia mengirim mereka pulang untuk kembali berkumpul dengan beliau. Penguasa Persia, Kisra Parvez, juga menerima surat dari Rasulullah ﷺ. Abdullah bin Hudhafah tiba di Persia dan langsung menyerahkan surat itu kepada Kisra. Kisra meminta juru tulisnya membacanya. "Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Dari Muhammad, Utusan Allah, kepada Khosrow, pemimpin Persia.” Kisra tiba-tiba menjadi amat marah dan langsung menyela sebelum surat itu selesai dibacakan. “Lihat ini! Orang ini, yang tak lebih dari sekadar rakyatku, budakku, berani menulis surat untukku dan bahkan menulis namanya lebih dulu! Sambil berkata demikian, ia merobek surat itu. Ketika kabar ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah agar menghancurkan Kisra dan kerajaannya hancur berkeping-keping. Allah mengabulkan doa Rasul-Nya, dan tidak lama kemudian, Kisra Parvez ditusuk dan dibunuh oleh putranya sendiri, Shirwayh. Hancur berkeping-keping seperti surat itu.

Bahkan Rasulullah ﷺ telah memberitahukan bulan dan hari ia akan dibunuh, dan semuanya terjadi persis seperti itu. Adapun kerajaannya, ia dihancurkan oleh Sa’d bin Abi Waqqas pada masa khalifah Umar RA. Utusan yang dikirim ke Mesir adalah Hatib bin Abi Balta’ah. Ia berangkat untuk menyampaikan surat Nabi kepada penguasa Mesir, Muqauqis. Karena Muqauqis berada di Alexandria pada saat itu, Hatib menemuinya di sana dan menyerahkan surat itu. "Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba dan Utusan Allah, kepada Muqauqis, pemimpin bangsa Qibthi. Salam bagi semua yang mengikuti petunjuk. Aku mengajakmu kepada Islam.

Masuklah Islam maka engkau akan selamat, dan Allah akan melipatgandakan pahalamu. Namun jika engkau menolak, maka kau menanggung dosa bangsa Qibthi. Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim." Setelah surat itu dibacakan, Muqauqis menunjukkan keramahan pada sang utusan, Hatib bin Abi Balta'ah. Tapi ia tidak berkata apa-apa saat itu.

Malamnya, ia memanggil Hatib ke hadapannya. Setelah percakapan panjang, Muqauqis berkata: “Aku tahu bahwa akan datang nabi lain. Tapi kukira ia akan muncul dari Syam, karena kebanyakan nabi terdahulu muncul dari sana. Tapi aku juga membaca dalam kitab bahwa nabi terakhir akan muncul dari Arab, tanah yang penuh kesulitan dan kemiskinan. Kami menemukan sifat-sifatnya tertulis dalam Kitab Allah. Dan inilah waktu baginya untuk muncul. Tapi kaum Qibthi tak kan mendengarkanku jika aku menyuruh mereka mengikutinya, dan aku tidak sanggup melepas tahtaku. Nabi itu akan menguasai banyak negeri, dan setelahnya, para sahabatnya akan datang hingga ke kota-kota kami dan menetap di sini.

Pada akhirnya mereka akan mengalahkan orang-orang di sini.” Ia telah melupakan fakta bahwa pahala di akhirat tak terhingga dan jauh lebih baik. Dalam Surah Al-Qasas, Allah mengingatkan bahwa segala yang kita miliki sebenarnya berasal dari-Nya, Dia berfirman: "Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?" Surat-surat itu telah dikirim kepada para penguasa, dan perjuangan untuk menyebarkan pesan Islam ke negeri-negeri baru terus berlanjut. Namun kondisi yang tepat untuk langkah berani ini tidak diperoleh dengan mudah.

Di baliknya ada sebuah perjanjian yang menuntut kesabaran besar: Perjanjian Hudaibiyah yang ditandatangani dengan kaum musyrik Makkah. Peristiwa ini terjadi sekitar 8 sampai 10 bulan sebelum surat-surat itu dikirim. Semua bermula dari sebuah mimpi. Malam itu Rasulullah ﷺ bermimpi yang sangat memengaruhi seluruh Madinah. Dalam mimpinya, dia mengunjungi Ka’bah bersama para sahabatnya dan mereka berada dalam keadaan aman. Mereka pergi ke Makkah bersama-sama. Pagi harinya, ketika Rasulullah ﷺ menceritakan mimpi itu dengan para sahabat, mereka merasa sangat gembira. "Hei! Kalian sudah dengar? Rasulullah ﷺ bermimpi. Dalam mimpi itu kita melaksanakan umrah di Makkah!

Dengan aman!" Mengapa hanya sebuah mimpi memberi dampak besar? Karena mimpi para nabi adalah suatu bentuk wahyu. Karena itu, mimpi ini dianggap sesuatu yang pasti akan terjadi. Semua orang mulai membayangkan kembali ke Makkah. Setelah enam tahun berpisah, akhirnya mereka dapat kembali ke Makkah dan mengunjungi Baitullah. Persiapan langsung dimulai. Pada hari Senin, 1.400 Muslim berangkat dari Madinah dengan gembira. Mereka membawa 70 unta kurban dan hanya pedang yang digunakan untuk perlindungan. Tujuan mereka bukan perang, melainkan melaksanakan umrah. Bahkan dari jauh pun harus terlihat bahwa mereka tidak berniat berperang.

Bayangkan saja, mereka menuju orang-orang yang telah mereka perangi selama enam tahun, tanpa persiapan perang. Sungguh amat berani! Seperti semua kebajikan lainnya, keberanian mereka lahir dari iman. Ketika tiba di Dzul-Hulaifah, mereka salat Zuhur. Setelah salat, Rasulullah ﷺ mengenakan dua helai kain putih, berniat untuk umrah, dan memasuki keadaan Ihram. Lalu beliau mulai mengucapkan talbiyah: "Labbaik Allahumma Labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah)." Para sahabat ikut mengucapkannya dengan semangat yang sama. Mereka semakin dekat menuju Makkah. Kegembiraan mereka mencapai puncak. Sementara itu, kabar ini sampai kepada Quraisy.

Ketika mendengar 1.400 Muslim menuju Makkah, mereka panik. “Kalian dengar? Kaum Muslim menuju Makkah! Mereka 1.400 orang! Bagaimana mungkin?" “Tapi mereka tidak bersenjata. Kami tak tahu kenapa mereka datang.” “Kalau begitu kita harus bertindak! Segera! Apa pun alasannya, kita tak boleh membiarkan ini.” Kaum musyrik merasa ini bukan soal perang. Ada sesuatu yang berbeda. Meski demikian, mereka memutuskan tak membiarkan kaum Muslim masuk ke Makkah. Mereka membentuk pasukan kavaleri 200 orang di bawah komando Khalid bin Walid. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui tentang persiapan Quraisy, beliau mengubah rute. Beliau berencana masuk ke Makkah lewat jalan lain.

Namun ada satu hal yang menghalangi: unta beliau, Qaswa. Ingatlah, di akhir hijrah ke Madinah, unta itu pernah duduk di suatu lahan dan menolak bergerak. Sekarang, ketika mereka mendekati perbatasan Makkah, ia duduk lagi. Sekeras apa pun mereka mencoba membuatnya berdiri, mereka gagal. Para sahabat merasa kesal dan berkata: “Al-Qaswa sudah menjadi keras kepala.” Rasulullah ﷺ menjawab: “Ia tidak keras kepala, karena itu bukan kebiasaannya Ia justru ditahan oleh Zat yang menahan gajah.” Maksudnya gajah Abraha yang hendak menuju Ka'bah.

"Ada hikmah dalam setiap arah yang Allah tetapkan bagi makhluk-Nya, dan ada kebaikan dalam setiap hal yang Dia tahan." Akhirnya mereka berkemah dekat sebuah sumur di area Hudaibiyah. Tanah kelahiran mereka, kenangan mereka, rumah mereka, dan orang-orang tercinta kini sudah dekat. Namun satu pertanyaan ada di benak semua orang: “Kapan kita diizinkan masuk ke Makkah?” “Aku tidak tahu. Tapi Rasulullah ﷺ lebih mengetahuinya.” Ketika kaum musyrik mengetahui keadaan ini, mereka langsung mendirikan kemah di dekat kaum Muslim. Kini para utusan mulai bolak-balik di antara kedua sisi.

Utusan pertama dari kaum Muslim pergi menemui kaum Quraisy dan berkata mereka datang hanya untuk umrah dan Rasulullah ﷺ ingin membuat perjanjian. Kaum musyrik menolak tawaran itu. Namun, Budail bin Warqa, seorang pria Quraisy menganggap tawaran itu masuk akal dan datang menemui Rasulullah ﷺ. Ia berkata: “Wahai Muhammad, kaum Quraisy akan memerangimu dan akan mencegahmu mengunjungi Ka'bah.” Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa mereka datang hanya untuk umrah. Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya perang telah melelahkan Quraisy. Jika mereka mau, kita bisa merundingkan perdamaian.

Tapi sekarang, biarkan mereka menyingkir dan tak menghalangiku menuju Baitullah." Biarkan kami melaksanakan umrah dan menyembelih kurban kami.” Para utusan terus bolak-balik, namun tak ada kesepakatan. Akhirnya Rasulullah ﷺ memutuskan mengutus Utsman bin Affan. Utsman RA tokoh terhormat di Makkah, dan juga memiliki kerabat di sana, sehingga ia adalah orang yang paling tepat untuk hal ini. “Aku datang menjelaskan niat Rasulullah ﷺ serta mengajak kalian pada perdamaian dan masuk Islam.” “Katakan pada orang yang mengutusmu ia tak kan pernah masuk Makkah atau tawaf mengelilingi Ka'bah." "Tapi jika kau mau, kau boleh tawaf.” Utsman sudah 13 tahun tidak melihat Ka'bah.

Pada tahun keenam kenabian ia hijrah ke Abyssinia, dan setelah hijrah, ia kembali kepada Rasulullah ﷺ di Madinah. Meski begitu, jawabannya jelas: "Tidak. Jika Rasulullah ﷺ tidak diizinkan tawaf, maka aku juga tidak.” Jawaban ini membuat kaum musyrik marah, lalu mereka menahan Utsman di Makkah. Tiga hari telah berlalu sejak ia pergi. Namun belum ada kabar darinya. Lalu tersebar kabar di kalangan Muslim: “Utsman telah dibunuh!” Mereka tidak bisa diam saja. Rasulullah ﷺ hanya punya satu pilihan: membalas kematian Utsman. Beliau mengumpulkan para sahabat untuk mengambil baiat. Mereka akan bersumpah berjuang bersama beliau, apa pun yang terjadi.

Meski mereka tak memiliki persiapan perang, semua maju satu per satu, memegang tangan Rasulullah ﷺ, mereka mengikrarkan baiat. “Kami akan melawan Quraisy hingga mati, dan tak akan lari dari musuh." Peristiwa heroik ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Baiat Ridwan (Janji Kesetiaan pada Rasulullah ﷺ). Hanya satu orang yang belum berbaiat: Utsman RA, yang nasibnya masih belum diketahui. Rasulullah ﷺ mengangkat tangan kanannya dan berkata: “Ini adalah tanganku.” Lalu beliau mengangkat tangan kirinya dan berkata: Dan ini adalah tangan Utsman.” Kemudian beliau menaruh tangan kanan di atas tangan kiri. Setelah itu, beliau menoleh ke kaum Muslim dan berkata: “Jadilah saksi.

Ini baiat untuk Utsman.” Hal ini makin menambah semangat para sahabat. “Kita harus membebaskan Utsman! Atau pasukan Muhammad akan menyerang Makkah!" Saat Quraisy mendengar tentang sumpah untuk Utsman ini, mereka ketakutan dan membebaskan Utsman. Kepulangannya membawa kegembiraan besar bagi seluruh kaum Muslim, terutama bagi Rasulullah ﷺ. Melihatnya hidup dan selamat menenangkan hati semua orang. Menghadapi sikap tegas ini, kaum musyrik terpaksa mundur. Mereka mengutus Suhail kepada Rasulullah ﷺ untuk berdamai. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau berkata: "Yang datang itu Suhail. Sekarang urusan kalian akan dipermudah." Saat Quraisy menginginkan damai, mereka selalu mengutus orang ini.

Kini Quraisy hanya memikirkan sebuah perjanjian. Suhail datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Muhammad, aku datang mewakili Quraisy untuk membuat kesepakatan.” Ini memang yang diinginkan Rasulullah ﷺ, maka beliau menerimanya. Kemudian Ali RA dipanggil untuk menulis isi perjanjian. Rasulullah ﷺ berkata: “Wahai Ali, tulislah: Bismillahirrahmanirrahim. Suhail langsung keberatan dan berkata: “Aku belum pernah mendengar ungkapan ini, dan aku tak tahu apa arti Ar-Rahman. Yang kami kenal dalam perjanjian adalah 'Bismikallahumma' (Dengan nama-Mu, ya Allah) Tulislah itu saja.” Rasulullah ﷺ berkata: “Bismikallahumma juga baik.” Lalu dituliskan demikian.

Kemudian Rasulullah ﷺ berkata: “Wahai Ali, tulislah: 'Ini adalah persyaratan perdamaian yang disepakati Muhammad, Utusan Allah, dengan Suhail bin Amr.'" Suhail kembali merasa keberatan. “Demi Allah, seandainya kami mengakui engkau adalah Utusan Allah, kami tidak akan menghalangimu mengunjungi Ka'bah, dan kami tidak akan memerangimu. Tulislah saja ‘Muhammad bin Abdullah.’” Rasulullah ﷺ menerima ini juga dan berkata, “Wahai Ali, hapuslah itu dan tulislah 'Muhammad bin Abdullah'." Ali terdiam kaget. Para sahabat juga sangat terganggu dengan situasi itu. Ali berkata: "Demi Allah, aku tak akan menghapus gelar 'Rasulullah'.

Aku tidak sanggup melakukannya.” Rasulullah ﷺ bertanya di mana tulisan itu. Ketika Ali menunjukkannya, beliau menghapus gelar "Rasulullah" dengan tangannya dan meminta Ali menulis "Muhammad bin Abdullah". Keadaan tidak berjalan baik. Tapi para sahabat merasa sangat kaget dengan pasal pertama perjanjian itu. "Kaum Muslim akan kembali tahun ini tanpa memasuki Makkah. Mereka akan umrah tahun depan. Tapi mereka tak boleh membawa senjata, kecuali pedang yang tetap di dalam selongsongnya. Dan mereka boleh tinggal hanya tiga hari.” Saat Rasulullah ﷺ menyetujui hal ini, kekecewaan besar pun muncul. tak ada yang bisa memahaminya.

Kemudian pasal kedua ditulis: “Kedua pihak tidak akan saling berperang selama sepuluh tahun." Pasal ketiga: “Jika seseorang dari Madinah meninggalkan agamanya dan kembali ke Makkah, ia tak akan dikembalikan ke kaum Muslim. Namun, jika seseorang dari Makkah masuk Islam, ia harus dikembalikan kepada Quraisy.” Hal ini sangat berat bagi kaum Muslim. Para sahabat berkata: “SubhanAllah (Maha Suci Allah)! Bagaimana bisa kita kembalikan saudara kita pada kaum musyrik setelah ia datang pada kita sebagai seorang Muslim?" Rasulullah ﷺ, yang hanya menginginkan perdamaian menjawab: “Ya. Jika ada yang meninggalkan kita untuk pergi ke mereka, semoga Allah menjauhkannya dari kita.

Adapun mereka yang datang kepada kita lalu kita kembalikan kepada mereka, sungguh Allah mengetahui mereka semua. Dia pasti akan memberikan kelapangan dan jalan keluar bagi mereka." Empat: “Suku-suku Arab bebas bersekutu dengan pihak mana pun." Perjanjian itu berlanjut dengan beberapa syarat lain yang serupa. Di atas syarat-syarat berat ini, terjadi sesuatu yang membuat mereka semakin kecewa. Perjanjian sudah ditulis, tetapi belum ditandatangani. Saat itu, seorang pria yang kakinya dirantai jatuh di tengah kaum Muslim. Dia adalah Abu Jandal, putra utusan Quraisy, Suhail. Ayahnya telah memenjarakannya selama empat tahun hanya karena ia masuk Islam.

Ia berhasil melarikan diri dan dengan susah payah sampai kepada kaum Muslim. Ia mendatangi Rasulullah ﷺ untuk meminta perlindungan dari penindasan dan siksaan ayahnya. Ia berteriak: “Tolong aku, wahai kaum Muslim!” Melihat pemandangan itu, wajah Suhail memerah karena marah. Ia berkata: “Wahai Muhammad! Ini adalah syarat pertama perjanjian kita. Aku ingin anakku dikembalikan.” Rasulullah ﷺ tidak ingin mengembalikan Abu Jandal. Beliau mencoba membujuk Suhail. Beliau mengingatkannya bahwa perjanjian itu belum ditandatangani dan memintanya agar tidak menerapkan syarat itu pada putranya. Namun Suhail menolak tegas.

“Aku takkan menandatangani perjanjian ini kecuali jika putraku dikembalikan.” Saat itu Abu Jandal berseru dengan suara pilu: “Wahai kaum Muslim! Akankah kalian mengembalikanku pada musyrikin setelah aku datang pada kalian sebagai Muslim? Tidakkah kalian melihat penderitaanku?” Rasulullah ﷺ memandang Abu Jandal dan dengan suara pilu berkata: “Bersabarlah sedikit lagi. Bersabarlah atas kezaliman yang kau hadapi sedikit lagi. Harapkanlah pahala keadaan sulit ini dari Allah.

Allah pasti akan memberi kelapangan dan membuka jalan keluar bagimu dan bagi kaum Muslim yang tertindas." “Kita tak boleh melanggar janji kita kepada mereka.” Dengan kata-kata penghibur ini, beliau mengembalikan Abu Jandal pada ayahnya. Sebenarnya beliau sedang memberi kabar gembira tentang kebebasan yang akan datang. Sebuah jalan keluar bagi Abu Jandal dan kaum Muslim tertindas di Makkah. Jalan itu kelak membuat kaum musyrik menyesal akan syarat yang mereka buat dalam perjanjian. Saat itulah buah pertama Perjanjian Hudaibiyah akan terlihat. Sekilas, syarat-syarat itu tampak merugikan kaum Muslim. Namun Rasulullah ﷺ telah melihat kemenangan besar yang akan datang setelah perdamaian ini.

Namun para sahabat sangat kecewa. Mereka tidak memahami mengapa syarat berat itu diterima. Sampai hari itu, Rasulullah ﷺ sering bermusyawarah dengan para sahabat dan mendengar pendapat mereka. Namun menariknya, hari itu beliau tak bermusyawarah, meski tak ada yang setuju dengannya. Beliau tahu bahwa rencana Allah berbeda, dan harus terjadi dengan cara ini. Kini waktunya keluar dari ihram dan kembali ke Madinah. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat mencukur kepala mereka dan menyembelih hewan mereka. Biasanya para sahabat berlomba menaati perintah beliau. Namun kali ini yang terjadi adalah sebaliknya. Walau Rasulullah ﷺ mengulang perintah tiga kali, tak ada yang berdiri.

Rasulullah ﷺ tidak tahu apa yang harus dilakukan. Beliau masuk ke tenda istrinya, Ummu Salamah, dan menceritakan apa yang terjadi. Ummu Salamah RA memberi sebuah saran. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, jika engkau ingin mereka menaati perintahmu, keluarlah tanpa berbicara apa pun. Sembelihlah hewanmu dan panggil tukang cukurmu untuk mencukur rambutmu. Saat para sahabat melihat ini, mereka akan mengikutimu.” Rasulullah ﷺ menerima saran ini. Beliau menyembelih hewan kurban dan mencukur rambutnya. Ketika para sahabat melihatnya, mereka pun melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian, angin berhembus dan membawa potongan rambut mereka ke arah Ka'bah.

Para sahabat merasa bahwa Allah, yang bahkan tidak meniupkan angin tanpa alasan, sesungguhnya sedang menenangkan mereka. Mereka menganggapnya sebagai tanda bahwa umrah mereka telah diterima. Sebenarnya keraguan para sahabat bukan karena ketidaktaatan. Lalu apa alasannya? Mereka menunggu, berharap wahyu turun dan mengubah keputusan Rasulullah ﷺ. Lagi pula, mereka pernah melihat Allah menegur atau meluruskan Rasul-Nya di Al-Qur'an. Mereka menahan diri karena mereka pikir wahyu baru akan turun. Namun ketika Rasulullah ﷺ telah keluar dari ihram, mereka pun mengikutinya. Kini saatnya kembali ke Madinah. Mereka memulai perjalanan dengan penuh kegembiraan, namun kini pulang dengan kesedihan.

Mereka tegang dan sangat sedih. Mereka sangat membutuhkan sesuatu untuk mengangkat semangat mereka. Saat itulah Tuhan mereka mengirim kabar gembira yang mereka nanti dan menghapus semua keraguan serta keputusasaan mereka. Tiba-tiba tanda-tanda wahyu mulai tampak pada Rasulullah. Dan seluruh Surah Al-Fath diturunkan sekaligus. "Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." "Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut.

Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat." Umar bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah perjanjian ini benar-benar kemenangan?" Beliau menjawab, "Ya, demi Allah, ini benar-benar sebuah kemenangan." Kata-kata ini membawa ketenangan besar ke hati para sahabat. Namun mereka baru akan memahami bagaimana ini menjadi kemenangan nanti. Sekarang mereka hanya bisa menunggu dan melihat. Setelah perjalanan panjang, mereka kembali ke Madinah. Rasulullah ﷺ telah menandatangani perjanjian dengan penduduk Makkah untuk tidak berperang selama 10 tahun. Hudaybiyyah awalnya dianggap sebagai kekalahan bagi Islam.

Namun sebaliknya, ia akan membawa hasil yang sama sekali tak terduga. Hasil yang bahkan tidak diharapkan oleh Quraisy, dan tak pernah dibayangkan kaum Muslimin. Quraisy segera menyesali perjanjian ini dan ingin membatalkan salah satu syaratnya. Langkah demi langkah, semuanya akan terjadi persis sesuai rencana Allah. Musuh tak terduga, kemenangan tak terduga. Menurutmu, kemenangan mana yang lebih besar? Kemenangan dengan pedang atau kemenangan dengan pena? Walau kemenangan dengan pedang lebih sulit diraih, kemenangan dengan pena jauh lebih hebat. Rasulullah ﷺ mengetahui hal ini. Itulah sebabnya beliau menerima perjanjian itu.

Hudaybiyyah akan menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah yang diraih dengan pena. Dalam waktu singkat, benih kemenangan yang tersembunyi di balik perjanjian itu akan mulai tumbuh. Dan yang pertama di antaranya adalah Abu Basir, yang melarikan diri dari Makkah menuju Madinah. Namun ia tidak tahu bahwa pelariannya akan menjadi jalan keluar bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi puluhan Muslim lainnya. Abu Basir berasal dari kabilah Tsaqif. Ia adalah pria pemberani yang memeluk Islam di usia muda. Ketika ia tak sanggup lagi menanggung kerasnya keadaan di Makkah, ia menemukan cara untuk melarikan diri dan berangkat ke Madinah untuk bergabung dengan saudaranya.

Namun kaum musyrik tidak berniat membiarkannya pergi. Tiga hari kemudian, Quraisy mengirim dua orang untuk membawa Abu Basir kembali. Mereka datang kepada Rasulullah dan berkata, "Kami mengingatkanmu akan perjanjian yang kau tanda tangani." Lalu mereka menuntut agar ia dikembalikan. Karena perjanjian itu, Rasulullah ﷺ harus menyerahkan Abu Basir. Beliau berkata padanya:"Wahai Abu Basir, engkau tahu kita telah membuat perjanjian dengan Quraisy dan berjanji pada mereka. Dalam agama kita, kita tidak boleh melanggar janji.

Allah pasti akan memberi kelapangan dan membuka jalan keluar bagimu dan kaum Muslim tertindas lainnya yang terjebak di tengah kaum musyrik." Abu Basir berkata, "Wahai Rasulullah, apa kau akan mengembalikanku pada mereka kaum musyrik agar mereka menyiksaku dan memaksaku keluar dari agamaku?" Bayangkan betapa putus asanya ia. Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Lalu apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ? "Pergilah. Allah akan memberi jalan keluar bagimu dan yang lainnya." Kemudian beliau menyerahkannya kepada kedua orang itu. Kedua utusan Quraish membawa Abu Basir dan berangkat ke Madinah. Namun Abu Basir tidak berniat menyerah atau kembali ke Makkah.

Ketika mereka tiba di Dzul Hulaifah, mereka berhenti untuk beristirahat. Abu Basir terus mengamati kesempatan untuk melarikan diri. Pertama, ia berpura-pura bersikap ramah untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Ia mulai mengobrol dengan mereka. Ia berkata kepada salah satu dari mereka: "Pedangmu itu tampaknya sangat tajam." "Ya, sangat tajam." Lalu Abu Basir bertanya dengan tenang: "Bisakah aku melihatnya?" "Tentu, silakan." Abu Basir baru saja menemukan kesempatan yang sempurna. Begitu ia meraih pedang itu, ia menyerang orang itu dan membunuhnya. Melihat itu, orang satunya melarikan diri ke Madinah secepat mungkin.

Ia langsung menemui Rasulullah ﷺ dan berkata: "Temanku telah terbunuh, dan aku hampir terbunuh juga!" Saat ia berada di sana, Abu Basir juga tiba di sana. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah menepati janjimu dengan menyerahkanku kepada mereka, dan kini Allah telah menyelamatkanku dari mereka." Rasulullah ﷺ berkata, "Orang ini adalah percikan perang. Jika ia memiliki beberapa orang bersamanya, hampir tak ada yang tak bisa ia lakukan." Namun Abu Basir tetap tidak bisa tinggal di Madinah karena perjanjian itu. Maka ia pergi dan menetap di lembah Ish, di jalan antara Makkah dan Syam. Tempat itu menjadi tempat perlindungannya.

Ketika kaum Muslim yang dipenjara di Makkah dan orang-orang yang menyembunyikan imannya mendengar hal ini, mereka mulai melarikan diri dan berkumpul di sekitar Abu Basir. Yang pertama di antara mereka adalah Abu Jandal. Ingat dia? Ia adalah putra Suhail bin Amr. Setelah Perjanjian Hudaybiyyah ditandatangani, ia datang kepada Rasulullah ﷺ tapi harus dikembalikan pada musyrikin. Kini ia berhasil melarikan diri sekali lagi. Ketika mengetahui lokasi Abu Basir, ia pergi bergabung dengannya. Sekejap saja, jumlah mereka menjadi 70 orang. Dan ketika orang-orang dari kabilah lain bergabung, mereka menjadi 300 orang. Dengan cara ini, Abu Basir membangun kekuatan besar.

Dulu Quraisy memenjarakan dan menyiksa mereka di tanah mereka sendiri. Kini Abu Basir dan pasukannya bertekad membuat kaum musyrik menyesali perbuatannya. Bagi Quraisy, kafilah dagang yang mereka kirim ke Syam sangatlah penting. Dan markas Abu Basir dan pasukannya tepat berada di jalur itu. Mereka mulai memutus jalur perdagangan dan menyerang kafilah Quraisy. Dengan serangan-serangan itu, mereka melemahkan kaum musyrik. Quraisy yang mendatangkan masalah ini dengan tangan mereka sendiri. Mereka sampai pada titik tak mampu menghadapi pasukan Abu Basir.

Jika mereka tidak memasukkan syarat dalam perjanjian yang berbunyi "Kembalikan setiap orang yang datang padamu yang berasal dari kami" di perjanjian Hudaibiyah, kelompok ini takkan pernah terbentuk. Di sinilah buah pertama dari perjanjian itu, yang tampaknya merugikan kaum Muslimin, justru mulai terlihat. Adapun di Madinah, tidak ada yang ingin kembali ke Makkah. Sejak perjanjian ditandatangani, tidak ada konflik antara mereka dan Makkah. Keadaan pun tenang untuk sementara. Tapi Quraisy bukan satu-satunya musuh. Kaum Yahudi juga menjadi ancaman besar. Setelah diusir dari Madinah, mereka berkumpul di Khaibar.

Merekalah yang menghasut suku-suku Arab, membawa mereka ke Madinah, dan menyebabkan Perang Khandaq. Mereka saling mendorong untuk menyerang Madinah dan memberi ucapan yang menyemangati satu sama lain. Rasulullah ﷺ menerima kabar bahwa ada aktivitas di Khaibar. Beliau mengirim beberapa sahabat untuk mengumpulkan informasi. Kaum Yahudi sedang mempersiapkan perang. Setiap hari Khaibar semakin menjadi ancaman yang semakin sulit ditangani. Bahaya ini harus diakhiri. Jika Quraisy masih menjadi ancaman bagi Muslim. keadaan akan jadi jauh lebih sulit ditangani. Melalui rencana-Nya yang luar biasa, Allah menunjukkan mimpi itu pada Rasul-Nya dan mengarahkannya ke Umrah.

Dan akhirnya, Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani. Dengan itu jumlah musuh berkurang dari dua menjadi satu. Kini kaum Muslimin dapat menuju Khaibar. Rasulullah ﷺ memutuskan segera berangkat dan memerintahkan para sahabat bersiap segera. Pasukan Muslim segera berkumpul. Jumlah mereka mencapai 1.600 orang, termasuk 200 penunggang kuda. Ini hanya pasukan yang berangkat dari Madinah bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian 400 orang dari kabilah Daus akan bergabung. Di antara mereka ada Abu Hurairah. Saat itu adalah tahun ke-7 hijrah. Panji pasukan Muslim dibawa oleh Ali RA, dan Umar RA memimpin sayap kanan pasukan. Kemudian mereka tiba di tempat bernama Raji dan berkemah di sana.

Ini adalah titik strategis antara Khaibar dan wilayah Ghatafan. Ada alasan mengapa Rasulullah ﷺ memilih lokasi itu. Yahudi Khaibar meminta bantuan Ghatafan, dan mereka menerimanya. Mereka berjanji bahwa jika diperlukan, mereka akan datang dan memerangi pasukan Muslim dari dalam benteng Khaibar. Rasulullah ﷺ telah mengetahui hal ini. Untuk mencegah bantuan itu, beliau membuat tawaran kepada Ghatafan. Jika mereka setuju tak membantu Yahudi, mereka akan menerima hasil panen kurma Khaibar selama satu tahun setelah penaklukan. Namun mereka menolak. Dengan menempatkan pasukannya di sana, Rasulullah ﷺ menghalangi setiap bantuan yang bisa datang dari Ghatafan kepada Yahudi.

Lalu Rasulullah ﷺ bergerak dengan pasukan dari Raji menuju Khaibar. Saat tiba, hari sudah malam. Karena bukan kebiasaan beliau menyerang pada malam hari, beliau menunggu hingga pagi. Setelah matahari terbit, tanpa sadar, orang-orang Yahudi keluar dari benteng menuju ladang mereka. Namun ketika mereka melihat pasukan Muslim di hadapan mereka, mereka terkejut. Mereka berteriak, "Muhammad dan pasukannya!" Dan lari sembari panik masuk ke benteng untuk berlindung. Sebagian besar mereka tak pernah membayangkan bahwa Rasulullah ﷺ akan mengepung mereka. Lagipula benteng mereka kuat, mereka memiliki banyak prajurit dan persenjataan yang melimpah.

Mereka mengira Rasulullah ﷺ tak akan berani mengepung tempat yang kuat itu. Namun kenyataannya tidak seperti yang mereka bayangkan. Rasulullah ﷺ pertama-tama menawarkan mereka untuk memeluk Islam. Jika mereka menolak, mereka harus membayar pajak pada kaum Muslim. Beliau berkata, jika tidak tercapai perdamaian melalui dua cara itu, maka akan terjadi perang. Orang-orang Yahudi Khaibar masuk kembali ke benteng untuk bermusyawarah. Namun tak lama kemudian mereka mulai menembakkan panah ke arah kaum Muslim. Mereka menolak penawaran itu. Semua pasukan Yahudi berkumpul di Natat, benteng terkuat mereka. Dan mereka memindahkan harta dan keluarga mereka ke benteng lain.

Pasukan Yahudi berjumlah 10.000 menghujani panah pada 1.600 sahabat. Sekitar 50 mujahid terluka pada hari itu. Setiap pagi, Rasulullah ﷺ dan para mujahid naik ke dataran tinggi dekat benteng Natat dan memerangi Yahudi hingga petang. Pada malam hari mereka kembali ke Raji. Pada masa itu, Rasulullah ﷺ mengalami sakit kepala yang parah. Karena hal ini, beliau tak dapat memimpin pasukan selama dua hari. Beliau menunjuk Abu Bakar untuk memimpin dan mengirimnya untuk memerangi Yahudi. Namun penaklukan belum berhasil. Keesokan harinya panji perang diserahkan kepada Umar RA. Namun kemenangan tetap belum berhasil diraih. Hal ini membuat Yahudi bersemangat.

Mereka membuka gerbang benteng dan mulai bertempur secara langsung. Pertempuran berlangsung seperti ini hingga petang. Tapi meski kaum Muslim berusaha keras, mereka belum mendapatkan hasil. Suatu hari saat pengepungan, Rasulullah ﷺ berkata: "Besok aku akan memberikan panji perang kepada seorang lelaki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan melalui ia." Rasa penasaran pun menyebar di kalangan para sahabat. Semua bertanya-tanya. "Siapa yang akan mendapat kehormatan ini?" Lagi pula, siapa yang tak ingin pujian itu? Banyak sahabat menghabiskan malam dengan harapan dan keinginan itu.

Umar RA kemudian berkata: "Aku tak pernah berharap memimpin pasukan seperti harapanku pada hari itu." Setelah salat Subuh, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar panji perang dibawa kepadanya. Semua mata tertuju pada panji di tangannya. Semua telinga menunggu nama yang akan disebut. Rasulullah ﷺ bertanya, "Di mana Ali?" Kini jelas siapa sang penakluk. Namun saat itu Ali sedang menderita sakit mata dan tidak bisa membuka matanya. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, matanya sedang sakit." Meski demikian, Rasulullah ﷺ berkata, "Panggil dia. Suruh dia datang." Mendengar kabar ini, Ali menemui Nabi dengan bantuan para sahabat. Ketika Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah, mata Ali sembuh seketika.

Sejak hari itu, Ali tak pernah lagi mengalami sakit mata. Rasulullah ﷺ juga berdoa: “Ya Allah, jauhkan darinya kesulitan panas dan dingin.” Ali RA kemudian berkata: "Sejak hari itu aku tidak terganggu oleh panas atau dingin." Dia kemudian sering terlihat mengenakan pakaian musim dingin di musim panas dan pakaian musim panas di musim dingin. Rasulullah ﷺ lalu memberikan panji kepada Ali dan memakaikan baju zirah kepadanya. Beliau berkata, "Berperanglah hingga Allah memberi kemenangan. Dan jangan mundur." Ali mengambil panji itu dan melangkah maju.

Setelah beberapa saat, ia bertanya pada Nabi: "Wahai Rasulullah, untuk tujuan apa aku memerangi mereka?" Jawabannya jelas: "Perangi mereka hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah. Maju dengan tenang hingga mencapai benteng mereka. Kemudian ajak mereka kepada Islam. Jika mereka menerima, jelaskan kewajiban mereka. Demi Allah, jika satu orang saja dibimbing Allah melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada sekumpulan unta merah." Artinya, lebih baik dari harta paling berharga. Kata-kata ini juga menunjukkan tujuan sebenarnya penaklukan Islam. Tujuannya hanya menyampaikan risalah Islam dan menyelamatkan manusia.

Ali pun maju dengan gagah di depan para mujahidin. Saat sampai di tembok benteng Natat, ia menancapkan bendera itu di tanah. Ia menceritakan tentang Islam dan mengajak mereka menjadi Muslim. "Wahai Ahli Kitab! Masuklah ke dalam agama Islam, niscaya kalian akan selamat." Namun orang-orang Yahudi menolak. Mereka keluar dari benteng untuk bertempur. Saat itu, terdengar teriakan keras. "Aku adalah orang yang menjatuhkan singa-singa buas dengan pedang dan tombak!" Semua orang menoleh ke arah suara. Yang mereka lihat adalah seorang prajurit besar dan menakutkan mengenakan dua lapis zirah dan membawa dua pedang. Dialah Marhab, yang dikenal sebagai pejuang paling berani Yahudi Khaibar.

Dia mendengar bahwa saudaranya telah dibunuh. Jadi ia keluar dari benteng bersama para prajuritnya. Ia ingin menakuti kaum Muslim dan mencari lawan duel. Lalu terdengar suara lain: "Aku adalah orang yang ibuku menamaiku Haydar, Aku seperti singa hutan yang perkasa! Aku tidak akan membiarkanmu hidup! Aku akan mengalahkanmu!" Dialah Ali RA. Pembawa panji pasukan Muslim. Keduanya pun saling berhadapan. Ali bertarung dengan pedang milik Rasulullah ﷺ. Setelah beberapa saat, ia mengayunkan pukulan sangat kuat hingga menghancurkan perisai Marhab dan helm berlapisnya. Pukulan itu menembus lebih dalam dan langsung membunuhnya.

Ketika orang-orang Yahudi melihat akhir mengerikan pejuang terkuat mereka, hati mereka dipenuhi rasa takut. Inilah momen di mana arah peristiwa itu berubah. Melihat kejadian itu, Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira pada mujahidin: "Bergembiralah! Penaklukan Khaibar kini menjadi mudah." Setelah itu kaum Muslim maju menghadapi musuh dengan gagah berani. Para sahabat bertempur hingga mencapai gerbang benteng. Saat itu seorang prajurit Yahudi memukul perisai Ali dengan pedangnya hingga terlepas dari tangannya. Ali melihat ke sekeliling dan melihat gerbang benteng. Saksi hari itu mengatakan bahwa Ali mencabut gerbang besar benteng dan menggunakannya sebagai perisai.

Melihat prajurit mereka jatuh satu demi satu, orang-orang Yahudi pun melarikan diri ketakutan, tanpa menoleh sedikit pun. Ucapan Rasulullah ﷺ telah terbukti. Allah memberikan kemenangan pada kaum Muslim melalui tangan Ali RA. Menariknya, ketika ketakutan melanda pasukan Yahudi berjumlah 10.000, mereka bahkan belum kehilangan 100 orang. Saat para sahabat merindukan syahid, orang-orang Yahudi justru berusaha lari dari kematian karena takut. Kedua belah pihak sama-sama percaya bahwa agama mereka benar. Namun orang-orang Yahudi sangat terikat pada kehidupan dunia.

Dalam Al-Qur’an, Allah membahas mereka melalui Rasul-Nya seperti ini: "Katakanlah (Muhammad), "Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu orang yang benar." Tetapi mereka tak menginginkan kematian itu sama sekali, karena dosa yang telah dilakukan tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim. Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab.

Dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan." Mengejar para tentara musuh yang lari, Ali dan para mujahidin memasuki benteng Natat. Namun mereka tidak menemukan siapa pun kecuali anak-anak. Mereka tidak menyentuh anak-anak itu. Para tentara Yahudi meninggalkan Natat. Kemudian para mujahidin menuju benteng Na’im dan menaklukkannya juga. Setelah itu, benteng Sa’b bin Mu’adz juga menyerah. Melihat benteng mereka jatuh satu per satu selama pengepungan yang panjang, orang-orang Yahudi tak punya pilihan selain meminta perdamaian. Sebenarnya sudah terlambat untuk permintaan seperti itu. Namun Rasulullah tetap menerimanya.

Nyawa mereka diselamatkan, dan mereka boleh meninggalkan Khaibar bersama keluarga mereka. Setiap keluarga boleh membawa satu muatan unta berisi barang-barang mereka. Saat mereka bersiap untuk pergi, mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dengan sebuah usulan. “Wahai Abul-Qasim! Kaummu tidak terbiasa dengan tanah-tanah ini, dan kami tahu cara mendapat panen terbaik. Mengapa kita tidak sepakat membagi hasil panen di antara kita?” Rasulullah ﷺ dan para sahabat tak bisa tinggal di Khaibar. Selain itu, mengurus tanah itu tak mungkin bagi mereka. Karena itu Nabi menerima tawaran mereka dan mengizinkan para Yahudi tinggal di Khaibar. Dengan syarat mereka membagi setengah hasil panen setiap tahun.

Namun Nabi dapat mengakhiri perjanjian ini kapan pun beliau mau. Karena tidak diketahui apa yang mungkin mereka lakukan di masa depan. Syarat ini dibuat untuk mencegah mereka melakukan sesuatu yang salah. Setiap tahun saat musim panen, Rasulullah ﷺ mengutus Abdullah bin Rawahah ke Khaibar. Abdullah membagi hasil panen menjadi dua lalu membiarkan orang-orang Yahudi memilih. Dan berkata: “Ambillah bagian yang kalian inginkan.” Melihat keadilan ini, para Yahudi berkata: “Dengan keadilan inilah langit dan bumi tetap tegak.” Namun demikian, mereka hanya setia pada perjanjian ini sekitar 12 tahun. Pada masa kekhalifahan Umar RA, mereka menimbulkan masalah dan melanggar perjanjian.

Karena itu, akhirnya mereka diusir dari Khaibar. Khaibar kini telah ditaklukkan, dan perjanjian telah dibuat. Rasulullah ﷺ beristirahat bersama para sahabatnya. Tapi wanita Yahudi bernama Zainab membuat rencana licik. Ia akan mencoba meracuni Rasulullah ﷺ. Ia memanggang seekor kambing dan meracuni setiap bagiannya dengan racun yang kuat. Kemudian ia membawanya kepada mereka. Para sahabat duduk bersama untuk makan. Rasulullah ﷺ mengambil sepotong dari bahu kambing itu, mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim" dan memasukkannya ke mulut. Namun begitu beliau merasakannya, ia langsung mengeluarkannya dan berkata: "Jauhkan tangan kalian!

Daging ini memberitahuku bahwa ia beracun!” Para sahabat segera menarik tangan mereka dari makanan. Tetapi salah seorang dari mereka sudah menelan sepotong daging. Bishr bin Bara berubah menjadi ungu dan ia pun syahid. Wanita yang melakukan ini, Zainab, ditangkap dan dibawa kepada Nabi. Rasulullah bertanya alasan ia melakukan itu. Ia menjawab: “Aku berkata pada diriku: ‘Jika dia benar-benar seorang nabi, Allah akan memberitahunya. Tetapi jika dia bukan seorang nabi, racun ini akan membunuhnya, dan kami akan terbebas darinya.’” Rasulullah ﷺ selalu memaafkan orang yang menyakitinya secara pribadi. Menurut satu riwayat, beliau memaafkan wanita itu. Menurut riwayat lain, ia dihukum mati.

Para ulama menjelaskan peristiwa ini demikian: Rasulullah memaafkannya atas apa yang ia lakukan kepada beliau. Tapi karena Bishr telah syahid, keputusan diserahkan pada keluarganya. Dan mereka memilih menggunakan hak Qisas (balasan setimpal), sehingga wanita itu dihukum mati. Ketika Nabi masih berada di Khaibar, terjadi sesuatu yang membuat beliau gembira. Dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, kaum Muslim yang berhijrah ke Abyssinia tiba. Jika kalian ingat, Rasulullah ﷺ pernah meminta Najasyi mengirim mereka kembali.

Rasulullah ﷺ sangat gembira hingga beliau berkata: “Aku tidak tahu mana dari dua hal ini yang lebih membuatku bahagia: Penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja’far?” "Senang berbisnis denganmu." Dengan penaklukan Khaibar, Madinah dipenuhi kelimpahan dan berkah. “Kurma segar! Kurma segar di sini!” Namun di Makkah, keadaannya sebaliknya. Kelaparan hebat terjadi, dan setiap hari mereka semakin miskin. “Kita hampir sampai.” Merekalah orang-orang yang selama bertahun-tahun menyiksa para sahabat, mengusir mereka dari rumah mereka, dan membuat mereka kelaparan hingga harus mengikat batu di perut mereka. Dan sekarang, mereka sangat putus asa.

Di Al-Qur’an, Allah berfirman pada Rasul-Nya: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." Hati Rasulullah ﷺ penuh dengan kasih sayang sehingga beliau tak tega melihat keadaan kaum Quraisy yang merupakan kerabatnya. Maka beliau mengirim banyak makanan dan persediaan ke Makkah. Beliau tunjukkan rahmat bahkan pada musuh-musuhnya. Meski sebagian kaum musyrik tak mau menerima bantuan ini, Abu Sufyan mengambil persediaan itu dan membagikannya pada orang-orang miskin. Ia berkata: “Keponakanku yang mengirim ini. Semoga Allah membalasnya.” Di antara hadiah itu juga ada kurma Madinah untuk Abu Sufyan.

Bantuan Nabi kepada kerabatnya telah menanam benih iman di hati mereka. Dan seiring waktu, benih itu akan tumbuh dan berakar. Satu tahun telah berlalu sejak Perjanjian Hudaibiyah. Dan hari yang lama dinanti akhirnya tiba. Saatnya untuk Umrah Qadha. Jika kalian ingat, para sahabat harus kembali tanpa memasuki Makkah, bahkan tanpa melihat Ka'bah. Umrah yang tak bisa mereka lakukan waktu itu akan dilaksanakan sekarang. Setelah tujuh tahun yang panjang, akhirnya mereka akan bertemu kembali dengan tanah air mereka dan bertawaf di Ka'bah. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk bersiap Umrah.

Setelah semuanya siap, Rasulullah ﷺ pergi ke Makkah bersama 2.000 sahabat dan 70 ekor unta untuk disembelih. Ketika Rasulullah sampai di Dzul-Hulaifah, sekitar 10 kilometer dari Madinah, beliau masuk keadaan ihram. Kemudian para sahabat mengikutinya. Dan semua orang sekarang mengenakan pakaian putih. Dengan satu suara yang lantang, mereka mulai melantunkan Talbiyah. "Laa syariika laka" (tiada sekutu bagi-Mu) "Labbaik Allahumma Labbaik" (Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah)." “Labbaik laa syariika laka labbaik" (Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).” Para pemimpin Quraisy meninggalkan Makkah dan naik ke pegunungan agar tak melihat kebahagiaan Nabi dan para sahabat.

Mereka tak sanggup melihat Ka'bah menjadi pusat Islam. Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dengan menunggang unta beliau, Qaswa, diikuti oleh para sahabat. Sebagian laki-laki musyrik, bersama wanita dan anak-anak, menyaksikan mereka dari Darun Nadwah. Ketika Rasulullah ﷺ memasuki Ka'bah, beliau membuka bahu kanannya. Kemudian beliau berkata kepada para sahabat: “Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kepada kaum musyrik kekuatan dan semangatnya hari ini.” Orang-orang musyrik mengamati para sahabat dari belakang dan kagum melihat keteguhan mereka. Karena sebelumnya tersebar kabar kaum Muslim menjadi lemah dan sakit demam setelah pergi ke Madinah.

Beginilah Rasulullah ﷺ memberikan jawabannya. Semua ritual Umrah pun dilaksanakan. Kemudian Rasulullah ﷺ mencukur rambut dan mengakhiri ihramnya. Para sahabat melakukan hal yang sama. Dengan demikian, mimpi yang dilihat Nabi setahun sebelumnya menjadi kenyataan. Untuk kunjungan Umrah ini, sebuah tenda didirikan bagi Nabi. Para sahabat tinggal di tenda-tenda di sekeliling beliau selama tiga hari. Pada waktu salat, mereka berkumpul di Ka'bah dan salat berjamaah. Selama waktu ini, mereka mengunjungi kerabat mereka dan menyampaikan Islam melalui perkataan dan perilaku mereka. Mereka menjadi teladan bagi semua orang dengan sikap dan tindakan mereka.

Selama tiga hari ini, mereka berusaha menaklukkan Makkah dari dalam. Bagi banyak orang Quraisy, kebencian, kemarahan, dan prasangka pada teman lama mereka mulai menghilang. Semua orang merindukan percakapan hangat dengan teman lama. Pedang-pedang fisik dimasukkan ke sarungnya, dan pedang spiritual Al-Qur’an pun keluar. Sejak perdamaian dimulai, pedang itulah yang menjalankan jihad. Dan tampaknya itu berhasil. Sekali lagi, kaum Quraisy mempertanyakan segala keyakinan mereka dan sikap keras mereka terhadap Islam. Tiga hari yang berkesan telah berlalu. Kini saatnya untuk pergi.

Dengan perintah Rasulullah ﷺ, semua orang bersiap untuk pulang, mengumpulkan barang-barang mereka, dan berangkat menuju Madinah. Sangat sulit untuk membayangkan menyakitkannya perpisahan itu. Namun mereka bukan satu-satunya yang merasakan sakitnya perpisahan. Sudah satu atau dua tahun sejak Abu Basir menetap di lembah Ish. Selama waktu itu, kerusakan yang ditimbulkan kelompoknya pada orang Makkah sungguh membuat kaum musyrik lelah. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa menghentikan kaum Muslim dengan cara ini. Selain itu, tidak satu pun orang dari Madinah datang ke Makkah untuk berkata “Aku telah meninggalkan Islam.” Jadi syarat ini tak membuahkan hasil.

Mereka sangat yakin pada diri mereka saat itu. Tapi sebagaimana setiap orang punya rencana, Allah juga memiliki rencana-Nya. Kaum Quraisy tidak tahu lagi harus berbuat apa. Akhirnya mereka mengirim seorang utusan dengan surat kepada Rasulullah ﷺ. Isinya: “Demi Allah dan demi hubungan kekerabatan kita, tolong sampaikan kepada Abu Basir dan teman-temannya bahwa, mulai sekarang siapa pun yang datang padamu di Madinah, akan aman dan tidak akan dikembalikan.” Rasulullah ﷺ menerima permintaan ini dan mengirim surat kepada Abu Basir, mengundangnya dan saudara-saudaranya ke Madinah. Namun saat itu Abu Basir sedang sakit keras.

Ketika surat Nabi sampai kepadanya, ia sedang berada di saat-saat terakhirnya. Matanya dipenuhi air mata. Dengan tangan lemah, ia mengambil surat itu dan mengusapkannya ke wajah dan matanya. Ia dipenuhi kerinduan untuk bertemu dengan Rasulullah ﷺ. Namun ia wafat bahkan sebelum sempat menyelesaikan membaca surat itu. Pertemuannya dengan Rasulullah ﷺ ditunda hingga di Jannah. Ia telah meninggalkan Makkah hanya untuk menjalankan agamanya. Ia telah menunaikan tugasnya di dunia dan berangkat menuju rumah sejatinya, yaitu akhirat. Abu Jandal dan kaum Muslim lainnya mensalatkannya dan menguburkannya. Kemudian mereka membangun sebuah masjid di sana agar kuburnya tidak dilupakan.

Setelah itu Abu Jandal dan teman-temannya pergi ke Madinah menemui Nabi. Apa yang dikatakan ayat tentang Perjanjian Hudaibiyah? Kemenangan yang nyata. Dan memang benar demikian. Namun ini baru permulaan. Kaum Quraisy akan kehilangan orang-orang mereka satu per satu. Orang terkuat mereka, yang paling tidak mereka sangka, akan bergabung dengan Islam. Hudaibiyah adalah kunci menuju kemenangan besar. Dan nama-nama itu akan menjadi kunci bagi banyak kemenangan berikutnya. Akhirnya, hari yang penuh berkah itu semakin dekat. Makkah akan dibebaskan. Tahun-tahun kerinduan akan berakhir. Dan kaum Muslim Makkah akan kembali ke rumah mereka. Kalian siap menyaksikan salah satu kemenangan terbesar Islam?

Penaklukan Makkah dengan banyak adegan mengharukan menanti kita di episode berikutnya. Nantikan terus. "Allahu Akbar." "Allahu Akbar. Allahu Akbar."
