# Ex-Muslim vs Muslim - Debat di Istanbul

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/ex-muslim-vs-muslim-debate-in-istanbul
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=J1RmKDvl-kE
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Aku sudah khatam Al-Qur'an dua kali. Lalu suatu hari, ketika sedang tidur... Aku bertanya dalam mimpi: Apa yang kuyakini? Kalau alkohol haram di dunia ? Kenapa ada sungai anggur di surga? Bro, anak umur 5 tahun, diperkosa dan dibunuh. Kalau anak itu dimasukkan ke surga. Bagaimana mereka yang masih hidup? Juga, apa salah anak yang diperkosa itu? Diperkosa, bro! Diperkosa! Jahat sekali... Melihat banyak penderitaan, anak-anak kecil diperkosa sampai mati. Aku jadi nggak yakin beragama lagi, nggak yakin kebaikan manusia lagi. Kamu diizinkan memiliki 3-4 istri. Maksudku... Apapun alasanmu tentang hal ini nggak bisa kuterima, nggak bisa. 1, 2, 3 dan 4...

Setelah pertanyaan-pertanyaan ini terjawab, bagaimana pendapatmu? Halo. Halo bro, kamu lagi sibuk apa? Ya... Aku bekerja. Kami lagi jalan-jalan, ini temanku. Bagaimana denganmu? Kalian bersama, kan. Apa agamamu? Agamaku... Aku hanya percaya ada Pencipta, selebihnya aku nggak percaya. Kapan kamu mulai berpikir seperti itu? Dulu kamu seorang Muslim? Dulu aku khatam Al-Qur'an dua kali sebelum berumur 17 tahun. Aku solat Jumat terus waktu itu. Suatu hari, aku menonton berita. Di lantai dasar sebuah apartemen, tinggal satu keluarga dengan tiga anak. Apartemen itu runtuh. Dua anak mati.

Aku jadi berpikir kalau kita hidup dalam masyarakat Muslim, dan Tuhan Maha Pengasih, kenapa Dia membiarkan anak-anak itu mati? Kenapa Tuhan membiarkan anak-anak itu terkubur dalam reruntuhan apartemen? Jadi pertanyaanmu: Apakah Tuhan Maha Pengasih? Pertama, bagaimana kita menyikapi kematian? Ketika kita mendengar seseorang meninggal, rasanya nggak adil. Namun jika kita menganggap kematian sebagai pintu masuk kehidupan abadi, seperti dikatakan Islam, jadi kematian hanyalah tiket untuk masuk pintu itu. Ketika anak kecil itu mati, bagaimanapun caranya, apa yang terjadi? Dia masuk surga. Apa yang dilakukan Allah kepada bayi itu? Mendapat karunia surga. Apakah anak itu tahu hal ini?

Anak itu nggak tahu sedikit pun. Jadi, dalam kasus kematian yang dibalas dengan surga... Bisakah kita bertanya kenapa anak kecil itu mati? Kenapa dia mati dengan mengerikan? Masuk ke surga sudah berupa karunia untuk anak itu. Lalu bagaimana orang yang mati dalam kesakitan? Bro, bayangkan mimpi terburukmu, oke? Bayangkan yang paling buruk . Katakanlah kamu merasa mimpi itu 80 tahun lamanya. Mimpimu yang terburuk... Ketika terbangun, bukankah kamu bisa melupakan mimpi itu dengan segelas air? Mudah sekali melupakan mimpi itu. Seperti itu juga, katakanlah hidup kita di dunia ini mengerikan dan menyakitkan. Kematian kita juga terlihat menyakitkan.

Tapi kita bilang, Mimpi buruk yang seolah terjadi 80 tahun dapat dilupakan dengan segelas air. Jadi, bagaimana kematian yang singkat tidak terlupakan, jika setelahnya kita masuk ke surga untuk selamanya. Bukankah balasan surga sudah cukup? Bukankah balasan surga yang abadi setimpal? Kamu tahu yang kita lakukan? Kita melihat sesuatu dari permukaan. Secara dangkal. Tapi kalau berpikir lebih lanjut, di balik segala yang terjadi ada hikmahnya. Sangat banyak karunia daripada yang kita tahu. Kita harus ingat bahwa dunia ini adalah hasil kebijaksanaan. Bro, anak kecil berumur 5 tahun diperkosa dan dibunuh. Oke, anak itu diberikan balasan surga.

Tapi, yang terhukum sebenarnya adalah orang-orang yang masih di dunia. Siapa mereka? Ayah dan ibu. Persis. Keluarga anak umur 5 tahun itu… - Mereka yang menderita. Tentu, mereka yang menderita! Apa alasan di balik kematian anak itu? Diperkosa, bro! Diperkosa! Semua kekacauan ini... Melihat orang menderita, juga anak kecil yang diperkosa dan dibunuh. Semua ini menghilangkan kepercayaanku terhadap agama dan kemanusiaan. “Menciptakan syaitan tidaklah jahat; tindakan menuruti syaitan lah yang jahat." Artinya... Katakanlah kita menciptakan pisau, oke? Kenapa kita menciptakan pisau? Untuk manfaat manusia, kan? Katakanlah ada orang memakai pisau itu untuk menusuk dan membunuh orang lain.

Bisakah kamu bilang, "Kamu, pencipta pisau ini, adalah orang jahat?" Nggak bro, penggunaan pisau itu yang menentukan kejahatan. Benar kan? Dan aku bilang tidaklah jahat ketika Allah menciptakan sesuatu. Misalnya, Dia menciptakan manusia, dan kehendak bebas, dan kecocokan antara lawan jenis. Dia menciptakan seksualitas. Dia menciptakan hubungan seksual. Tuhan menciptakan manusia, dengan kehendak, agar manusia bisa memilih, dan memberikan nafsu kepada manusia tidaklah jahat. Yang jahat adalah bagaimana nafsu digunakan untuk tindakan tak bermoral.

Hanya karena seseorang melakukan kejahatan, contohnya, karena seseorang menggunakan pisau untuk menusuk orang lain, kita nggak bisa bilang pencipta pisau itu jahat. Kita nggak bisa bilang Tuhanlah yang jahat di sini. Kalau kita bicara tentang beban keluarga tersebut... Seperti sudah dibilang, semua orang sedang diuji. Sebagian orang diuji dengan kesabaran, sebagian lainnya dengan kesyukuran. Sebagian orang lagi diuji dengan masalah keluarga. Tujuan kehidupan di dunia ini adalah untuk menguji manusia dengan perasaan dan cobaan.

Tapi seperti dibilang tadi, ketika bangun dari mimpi yang lamanya serasa bertahun-tahun, segelas air minum bisa menghapus semua perasaan buruk, serupa, ketika berada di surga, semua kesakitan di dunia akan dihilangkan juga. Katakanlah seorang dokter menyakiti ribuan pasien di ruang operasi. Apakah kita lalu bisa mengatakan ilmu kedokteran itu jahat? Tidak. Bisa, kalau diperlukan. Maksudku, apakah kita bisa mengatakan ilmu dan buku kedokteran itu jahat? Nggak bisa. Di sini, yang salah adalah dokter itu. Kita nggak bisa melihat hal ini lalu mengatakan "Semua dokter itu jahat." Serupa, mengkritik agama Islam karena kesalahan pemeluknya, tidaklah tepat. Ya, manusia bisa salah.

Aku juga bisa marah, tapi kamu tau nggak? Aku berusaha mengubah keadaan. Yang penting adalah bagaimana kita berusaha mengubah keadaan yang buruk ini. Kita berkeliling dan mencari cara untuk memberi tahu orang lain. Kalau tidak, kalau kita bertindak seperti orang yang menolak buku kedokteran, kita jadi nggak ada gunanya, kita nggak bertindak dengan tepat. Ya, ada kematian, tapi seperti dibilang tadi, “Melakukan kejahatan itu jahat, tapi menciptakan kejahatan tidaklah jahat." Contohnya, karena Tuhan memberimu kehendak bebas, kamu bisa memberitahu orang lain agar melakukan kebaikan, kan? Karena Tuhan telah menciptakan kita dan memberikan kita kehendak.

Karena Tuhan sudah bertindak sedemikian pemurah, kita bisa meneruskannya tindakan ini kepada orang lain, dan memberitahu orang lain agar melakukan kebaikan. Bisakah kita bilang ini jahat? Tuhan yang memberikan kemampuan ini? Nggak bisa. Kita nggak bisa bilang begitu. Kalau sekarang ada orang yang menyalahgunakan karunia Allah dengan membunuh dan mencederai orang lain. Kepedulian kita seharusnya; bagaimana menyampaikan informasi-informasi yang akurat kepada mereka? Kalau nggak, seperti dibilang tadi, kalau kita menghubungkan kejahatan dengan Islam, kita jadi bertentangan dengan pengetahuan dalam Al-Qur'an. Bukankah Al-Qur'an mengatakan hal yang sebaliknya? Al-Quran mengatakan yang sebaliknya.

Kalau seseorang melakukan kejahatan, artinya mereka tidak mengikuti Al-Qur'an. Contohnya, kalau alkohol haram di dunia? Mengapa ada sungai anggur di surga? Masalah haram dan halal berasal dari Allah yang mengatakan sesuatu itu baik atau buruk. Contohnya, jika Allah mengatakan sesuatu itu haram, ia haram. Jika Dia mengatakan sesuatu itu halal, ia halal. Jadi, sesuatu itu tidak baik atau buruk dengan sendirinya. Karena kita sedang diuji di dunia ini, kita harus menggunakan akal kita. Karena kita sedang berpikir di sini. Kita sedang mencari Allah, kan? Allah menyebut sesuatu sebagai buruk di dunia ini. Bagaimana kalau di surga?

Karena Allah tidak mengatakan sesuatu itu haram di surga, jadi nggak haram di sana. Tentu Allah mengatakan apa yang haram dan halal di dunia ini. Kamu akan ke surga atau neraka berdasarkan tindakanmu. Inilah gunanya dunia ini. Ia adalah tempat ujian. Apakah ada ujian serupa di surga? Nggak ada ujian di surga. Jika Allah yang menentukan sesuatu itu baik atau buruk, nggak mengejutkan bahwa Dia menghalalkan anggur di surga. Kita nggak lagi diuji di surga. Benar kan? Kamu bisa memiliki 3-4 istri kan? Apapun yang kamu bilang, bro. Apapun alasan Tuhan atau apapun penjelasanmu, aku nggak bisa menerima. Kamu bisa saja mencintai orang lain. Setelah suatu hubungan berakhir. Tapi 1, 2, 3 dan 4...

Apakah Al-Qur'an mewajibkan poligami? Nggak. Ayatnya berbunyi: "Kamu bisa menikahi sampai 4 istri." Jadi Al-Qur'an tidak mewajibkan poligami. Batasannya empat. Lalu bunyi ayatnya: ..Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.. (An-Nisa, 4:3) Kamu tau nggak bunyi ayat selanjutnya? Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian... (An-Nisa, 4:129) Jadi apa yang disampaikan Al-Qur’an ? Al-Qur'an menyampaikan nikahilah satu orang. Lalu ayat berikutnya. Bagaimana bunyinya? "Kamu bisa menikahi sampai 4 istri." Apa tujuan ayat-ayat ini? Bro, Al-Qur'an itu kitab universal.

Kalau ada kebutuhan yang muncul akibat keadaan, manusia diberikan kesempatan. Bagaimana contohnya? Misalnya terjadi perang dunia? Siapa yang meninggal dalam perang? Lelaki atau perempuan? Biasanya lelaki. Para lelaki meninggal. Lalu apa yang terjadi? Jumlah perempuan jauh lebih banyak. Bagaimana mengatasi ketimpangan ini? Poligami berdasarkan Al-Qur'an, sehingga keluarga tetap terbentuk. Apa yang disampaikan Al-Quran? "Kamu bisa menikahi sampai 4 istri." Al-Qur'an sudah mendukung monogami. Tapi karena situasi, seperti dalam kasus perang, ada batasan sampai empat perempuan. Poligami nggak dilarang agar orang bisa melanjutkan kehidupan berkeluarga.

Dengan kata lain, kita harus ingat bahwa Al-Qur'an itu universal. Agama Islam dan Al-Qur'an cocok dan berlaku untuk setiap zaman dan kondisi, dan situasi. Kita sudah diskusi bersama, termasuk tentang ayat Al-Qur'an. Setelah diskusi ini, apakah pikiranmu berubah? Aku menambahkan satu hal: Kamu bilang kebaikan, aku bilang kasih sayang. Dua hal ini serupa. Maksudku adalah... Yang penting itu kemanusiaan bro! Jangan sampai rasa kemanusiaan kita hilang. Serius, kita butuh rasa kemanusiaan ini, terutama sekarang. Menjadi seorang Muslim itu sejujurnya hebat. Seperti yang kamu bilang. Kita berdiskusi dengan sungguh-sungguh. Dan jika pendapat kita kebanyakan serupa... Temanmu juga seorang Muslim.

Bagaimana kalau kamu masuk Islam lagi sambil terus mendalami Al-Qur'an? Aku dan timku bisa membantumu mendalami Al-Qur'an kalau kamu membutuhkan? Aku mau bilang ini: Ngomong-ngomong, diskusi kita menarik. Terima kasih, aku suka diskusi ini. Kalau ada kata-kata yang menyinggung, aku minta maaf. Aku akan mendalami lebih lanjut berdasarkan diskusi kita. Aku janji. Aku akan mendalami lebih lanjut. Tapi aku tetap mau bilang: Jangan kehilangan rasa kemanusiaan kita. Harusnya anak-anak dan perempuan nggak terbunuh lagi. Dunia ini milik kita, kan. Pendapat kita serupa. Aku senang bertemu kamu berdua. Begitu juga kami. Diskusi kita sangat menarik.
