# Model Asia Terkenal Masuk Islam! – “Saya Terbelenggu; Islam Memberi Kebebasan!”

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/famous-asian-model-converts-to-islam-i-was-enslaved-islam-gave-me-freedom
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=CPLwLX5-0yQ
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Aku tumbuh di Amerika. Ayahku adalah pastor Gereja Presbiterian. Dibutuhkan dan juga terkenal, hidupmu tak bebas lagi. Terlihat seperti memegang kendali dan terlihat sangat glamor, tapi sebetulnya kamu terikat pada, misalnya, aku terikat pada suatu agensi. Aku merasa seolah-olah agensi itu hanya menghisap jiwaku. Aku tidak membuat pilihan apa pun. Aku merasa sangat hampa. Siapa aku? Siapa Aliza? Aku benar-benar tak tahu lagi! Aku diperbudak. Aku bisa merasakan depresiku meningkat. Aku merasakan kegelapan itu muncul dalam diriku dan aku berpikir, aku butuh spiritualitas sekarang. Pada waktu yang sama, aku bertemu dengan seseorang di Malaysia yang benar-benar salat lima kali sehari.

Jadi dia memberiku sebuah pamflet. Satu demi satu, itu mengubah pola pikirku. Akhirnya, dia bilang, "Hei Aliza, aku rasa kamu tahu banyak. "Aku rasa kamu harus menjadi Muslim." Jika Allah ingin aku melakukan ini, aku tak dapat menghentikannya. Dan aku merasa ringan, sangat ringan. Dan itulah kebebasan. + Siapa Aliza Kim? Ceritakan kehidupanmu secara singkat? - Aku orang Amerika Thailand. Aku lahir di Enid, Oklahoma, sebuah kota kecil, anak dari seorang pastor. Jadi ayahku adalah pastor Gereja Presbiterian. Aku tumbuh di Amerika. Setelah aku lulus S2, aku pindah ke Thailand di mana aku mengikuti kontes Miss Thailand.

Jadi, dari situlah, aku mulai berakting dan menjadi model, dan akhirnya aku pindah ke Malaysia, di mana aku menjadi Muslim 12 tahun yang lalu. + Alhamdulillah. Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Apa yang kamu yakini? - Aku lahir di keluarga Kristen yang sangat taat. Ayahku seorang pastor Presbiterian. Kakekku seorang pastor, pamanku seorang pastor, dan, mereka pastor yang cukup diperhitungkan di Thailand. Jadi, saat aku lahir di Oklahoma, ayahku sedang menempuh pendidikan doktor di bidang teologi. Jadi, aku tumbuh besar di gereja. Aku mulai bernyanyi di paduan suara saat usia tiga tahun, dan praktik agama Kristen pun selalu ada. Aku pergi ke gereja, setiap hari Minggu.

Bahkan di perguruan tinggi, aku bernyanyi dalam kelompok acappella Kristen. Jadi, agama Kristen hal yang penting bagiku. Secara spiritual percaya pada Tuhan. Aku bahkan ingat ujian, Aku berpikir, "Oh, aku tidak belajar, tapi aku punya salibku." Aku akan membawanya dan menaruhnya di mejaku, dan jika hasilnya bagus, aku pikir ini adalah tangan Tuhan. Jadi aku cukup religius, tapi aku selalu berdoa kepada Tuhan Bapa. Aku tidak pernah berdoa pada Yesus. Aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan Anak. + Apa yang membuatmu mempertanyakan keyakinanmu? - Itu sebenarnya dimulai saat, kurasa, aku mendapatkan sedikit ketenaran. Jadi, aku sudah tampil di TV sejak usia 12 tahun.

Dunia ini cukup familiar bagiku. Hmm, kurasa ibuku senang melihatku berkembang dan mampu bersikap sedikit ramah. Jadi, saat dia melihatku bisa berbicara lebih banyak, maka aku mulai ikut modeling anak-anak dan hal semacam ini. Setelah aku lulus S2, aku kembali ke Thailand untuk berlibur dengan ayahku. Sekarang, saat aku sampai Thailand, ayahku memutuskan, Ya, dia tidak memutuskan. Dia harus melakukan perjalanan bisnis ke Jenewa, dan dia meninggalkanku selama dua minggu. Jadi pada saat itu ada sebuah iklan tentang kontes Miss Thailand. Aku berpikir, "Ini akan menjadi liburan dua minggu gratis bagiku." Ayahku pergi. Aku juga akan menikmati liburan yang seru.

Jadi aku daftar, aku tidak terlalu tinggi. Jadi kupikir, aku tidak, ini tidak akan lolos. Aku hanya akan mencari makanan gratis. Tapi aku sampai di posisi lima teratas, dan aku berpikir, "Apa yang aku lakukan?" Namun itu membuka banyak pintu. Jadi, aku menyelesaikan kontes kecantikan, semuanya, mulai membuat iklan TV, dan sebenarnya iklan TV lah yang membawaku ke Malaysia. Jadi aku, datang ke Malaysia untuk melakukan itu juga. Aku pernah ikut acara realitas, semacam itu. Hingga akhirnya bergabung di sebuah film televisi, jadi film yang diputar di TV. Itu film vampir. Dan krunya Muslim Melayu.

Meskipun pada saat itu aku sangat Amerika, aku tidak memikirkan tentang agama atau apa pun saat aku sampai di sini. Aku tidak mengira wanita-wanita berjilbab itu adalah Muslim. Aku pikir, "Oh, ini mode yang sedang tren di sini." Aku tidak mengira jika pria berjenggot itu adalah Muslim. Aku kira, "Oh, di sini mereka suka wajah berjenggot." Aku tidak memikirkannya. Lalu aku sampai di lokasi syuting, dan aku tidak mengerti mengapa kru, sutradara, dan semua aktor lainnya, tidak makan di siang hari? Dan mereka makan sangat banyak di malam hari. Aku tidak tahu saat itu bulan Ramadan. Aku tidak tahu, tapi aku tahu mereka tidak makan. Mereka menyuruhku makan, tapi mereka tidak.

Jadi aku pikir, "Oke, ini aneh." Kurasa analogi yang bisa aku berikan adalah, kadang kita melihat aktor Hollywood, setelah menjadi terkenal, kamu melihat mereka mengalami depresi atau lebih buruk dari itu. Dan kamu berpikir, "Kenapa? Kau punya segalanya. Punya segalanya. Apa yang kamu lakukan?" Jadi aku mulai merasakannya karena aku merasa, apakah orang-orang ingin mengenalku dan berteman, karena aku? Atau karena apa yang mereka pikirkan tentangku? Tidak hanya itu saja, karena pada tingkat tertentu, karena dibutuhkan, dan juga terkenal, hidupmu tak bebas lagi.

Terlihat seperti memegang kendali, dan terlihat sangat glamor, tapi sebenarnya kamu terikat pada, misalnya, aku terikat pada suatu agensi. Jadi, aku merasa seolah-olah agensi itu hanya menghisap jiwaku, bisa dikatakan begitu. Karena coba membayangkan, saat kamu sudah berada di level tertentu, setidaknya di industri pemodelan komersial, kamu bangun di pagi hari, kamu pergi ke lokasi syuting, kamu tak perlu menyisir rambutmu. Kamu bisa langsung masuk ke set mengenakan apa saja, piyama jika kamu mau. Begitu aku duduk, seseorang datang menyisir rambutku, seseorang datang memberi pakaianku, ada yang merias wajahku, ada yang memberiku makan.

Aku tidak membuat pilihan apa pun sampai pada titik di mana aku bahkan tidak tahu jenis telur apa yang aku sukai. Aku bahkan tak tahu model rambut apa yang aku mau. Bahkan jika aku potong rambut di lokasi syuting, lalu klien datang dan bilang, "Oh, kami tidak suka rambut itu." Mereka akan bawa orang dari salon untuk potong rambutku di sana. Jadi, aku merasa hampa saja. Siapa aku? Siapa Aliza? Aku bahkan tak tahu lagi. Aku tidak tahu cara berpakaian. Aku benar-benar tidak tahu. Jadi, aku merasa hidupku berantakan dan hatiku terasa hampa. Aku merasa seolah-olah aku, aku hampir tergelincir ke dalam ketiadaan. Dan bukan itu saja, aku hanya, sejujurnya, aku tidak tahu lagi apa itu kebahagiaan.

Aku tak tahu siapa diriku, apa yang aku rasakan. Aku hanya merasakan apa yang naskah katakan padaku. Jika aku harus bersedih hari itu, maka aku bersedih. Jika aku harus bahagia hari itu, maka aku akan bahagia. Aku bahkan tak tahu perasaanku. Aku tak boleh potong kuku tanpa tanya dulu pada seseorang. Kulitku tidak boleh menggelap tanpa memberi tahu seseorang karena nanti riasannya akan berubah, dan berat badanku tak boleh turun atau bertambah 300 gram karena fitur wajahku dan tubuhku akan berubah. Aku diperbudak. Aku merasa hampa dan tersesat. Jadi aku selalu merasa seperti, siapakah aku? Dari menjadi gadis Amerika yang sangat percaya diri, aku bisa merasakan depresiku meningkat.

Aku merasa kegelapan muncul dalam diriku, dan aku berpikir, "Aku butuh spiritualitas sekarang." Jadi awalnya, tentu saja, aku adalah anak seorang pastor, aku mulai mempelajari agama Kristen dan aku membeli banyak buku sampai ayahku bertanya, "Apakah kamu akan pergi ke seminari? Apakah kamu akan menjadi pengkhotbah?" Jadi aku membeli banyak buku sambil berpikir, "Oke, aku selalu mengandalkan Tuhan sejak aku masih kecil. Kuakan mendasarkan diriku pada agama." Jadi aku berpikir, "Oke, jika aku melakukan ini sebagai orang dewasa, bukan seperti anak kecil yang hanya mendengarkan pengkhotbah, aku akan melakukannya dengan benar. Aku akan mencari tahu." Jadi aku mulai membaca.

Sejujurnya, aku bukan tipe pembaca yang rajin, sama sekali tidak. Tapi di sinilah Allah SWT mulai benar-benar membimbingku dalam perjalananku, karena aku percaya jika aku dapat menemukan gereja paling awal, inilah misiku, aku akan menemukan gereja paling awal, mencari tahu bagaimana mereka beribadah, begitulah caraku menyembah Tuhan karena itulah cara Dia akan senang. Karena aku tahu agama Kristen punya banyak denominasi. Saat itu, ada sekitar 200 denominasi yang berbeda. Kurasa itu tidak mungkin. Pasti ada satu yang terbaik.

Dan saat aku membaca sejarah bagaimana Alkitab disusun, aku berpikir, "Tunggu sebentar, bagaimana sekelompok pria dapat memutuskan apa yang dimasukkan ke dalam naskah?" Itu seharusnya datang dari Tuhan? Bagaimana bisa kamu memutuskannya? Aneh sekali. Bagaimana kamu bisa memutuskan ini dimasukkan, ini dihapus? Mengejutkan sekali. Tidak bisa. Aku tak bisa memaksakan diriku untuk percaya pada Alkitab. Jadi aku pikir, "Oke. Jangan dipikirkan lagi." Ini membuatku takut. Jadi aku singkirkan Alkitab dan berpikir, "Oke, aku tidak mau melihat Alkitab." Mari kita lihat sejarahnya. Tentu saja, sejarah Kristen sangat berdarah.

Dan aku pikir, jika kamu harus membunuh sebanyak itu untuk meyakinkan orang dan memaksa orang untuk percaya, tentu saja itu salah. Jadi sekarang aku tak percaya Alkitab, sejarah juga. Aku berpikir, sekarang bagaimana? Sebagai gadis Kristen, ya, aku bisa lupa berdoa, tapi tidak hanya itu, aku juga suka dansa saat itu. Jika aku pergi dansa suatu malam, Sabtu malam, dan aku memakai baju yang ku mau, dan lakukan apa pun yang ku mau, dan lalu aku ke gereja keesokan paginya, apakah itu baik? Tidak begitu baik. Jadi aku berpikir, oh, ada beberapa celah di sini. Aku tidak tahu apakah aku baik-baik saja dengan celah itu. Aku berusaha tak memikirkannya, tapi aku tidak yakin apakah aku baik-baik saja.

Aku masih belum mencoret agama Kristen. Aku pikir mungkin aku hanya perlu mencari tahu lagi. Pada waktu yang sama, aku berteman dengan seseorang di Malaysia yang benar-benar salat lima kali sehari. Sebelum ini, aku belum pernah bertemu seorang pun yang salat lima waktu. Di lingkunganku, tidak ada. Dan aku melihat temanku dan mereka melakukan, Masya Allah, ibadah dengan seluruh anggota badan, salat lima waktu. Dan aku melihat mereka dan berpikir, aku putri seorang pastor. Aku tidak salat lima waktu. Jika aku lupa salat dua bulan, tidak terjadi apa-apa, ya kan? Jadi salah satu temanku menyarankanku untuk mengikuti kelas bersama mereka, kelas yang akan mereka ikuti.

Dan itu adalah kelas di pusat Islam Syeikh Hussain Yee. Aku tidak tahu siapa beliau. Aku cukup takut. Aku harus pakai baju apa? Aku kan model. Aku tak punya pakaian yang pantas. Jadi aku pergi ke pusat Islam Syeikh Hussain. Jadi dia memberiku beberapa pamflet, dan bisa kukatakan, seakan-akan pamflet ini dibuat oleh Allah untukku. Begitulah yang aku rasakan. Yang pertama, aku masih ingat, pamflet pertama disebut Anatu. Anatu adalah dewa bagi suku Aborigin di Australia. Dan alasan mengapa Anatu adalah karena konsep mereka tentang Tuhan adalah orang yang tidak makan dan tidak pergi ke toilet. Jadi ini mengarah pada Tauhid.

Jadi satu demi satu, hanya mengubah pola pikirku, dan aku merasa itu sangat mudah. Dan dia menceritakan kisah para nabi, jadi aku berpikir, itu, itu agak familiar. Aku tidak sadar awalnya bahwa Ibrahim itu Abraham. Aku tidak bisa menangkapnya. Aku tidak sadar bahwa Musa adalah Moses. Aku tidak bisa menangkapnya. Hanya saja bahasa Arab masih asing di telingaku saat itu. Kadang orang bertanya, "Yah, kamu seorang model, kamu berada di industri ini, semua hal ini. Apakah sulit?" Tidak terlalu. Bahkan sebagai model, aku tak seperti model pada umumnya. Aku tidak pergi berpesta dan melakukan semua hal itu. Aku akan duduk di sudut dan membaca buku, menunggu giliranku, begitulah.

Jadi aku berpikir, ini sebenarnya, apa pun yang aku baca beresonansi denganku dan sesuai dengan nilai-nilaiku. Aku selalu merasa seperti seseorang yang berada di posisi yang tidak sesuai denganku. Seperti, ya, aku berada di dunia modeling dan acting, dan banyak sekali orang yang ingin masuk di industri itu, dan aku merasa diberkati karena ada di industri itu, tapi aku tidak pernah merasa menjadi diriku sendiri. Saat aku mulai membaca pamflet ini, aku merasa nilai-nilai di sana sangat selaras denganku. Jadi tidak, tidak sulit. Memahami Tauhid, memahami, semua bagian-bagian yang menyatu seperti puzzle. Aku pikir Islam lebih seperti sebuah konsep.

Jadi aku bisa memahami dengan menelusuri kembali hingga ke Adam, Islam itu sudah ada selama ini. Muslim sudah ada sejak dulu. Aku mengerti. Dan sekarang aku harus berpikir, dan kurasa ini adalah sisi diriku yang terlalu banyak berpikir, perfeksionis, dan kutu buku. Wah, aku ingin jadi Muslim yang baik. Bisakah aku jadi Muslim yang baik? Aku tidak ingin jadi Muslim dan lalu langsung berbuat dosa lagi. Itulah logikaku saat itu. Dan kupikir, oke, jadi aku perlu mempelajari beberapa hal. Aku perlu belajar bahasa Arab, belajar cara salat, semuanya, ya kan Dan pada saat itulah Ustaz Syarif mencegatku.

Sebenarnya, pada hari dia mulai berbicara padaku dengan lebih serius, aku sebenarnya telah meminta seorang relawan dari Al Khaadem. aku pikir, oke, aku perlu tahu sepagi apa mereka bangun tidur. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengenakan jilbab? Pasti lama sekali. Apakah panas? Dan bagaimana mereka berpuasa? Karena saat itu, aku bahkan lebih kurus dari ini. Aku sangat kurus. Gimana caranya puasa? Apakah aku, apakah aku akan sakit? Jadi aku pikir, oke, aku akan ikut dengan seorang wanita selama seminggu. Aku akan pergi ke rumahnya jam 5 pagi ikuti apa yang dia lakukan dan lihat apakah aku juga bisa.

Jadi aku seharusnya bertemu dengan relawanku hari itu, tapi hari itu adalah hari minggu, biasanya ada kelas. Jadi aku pergi ke kelas dulu dan Ustaz Sharif mencegatku lebih dulu. Dia bilang, "Hei Aliza, jadi apa yang sudah kamu ketahui sejauh ini? Apakah kamu ingin mengobrol?" Dalam hatiku, "Tak usah Ustaz, aku sudah mencari tahu sendiri. Aku sudah merasa seperti Muslim. Aku tidak perlu bicara lagi." Tapi dia begitu baik sehingga aku pikir, Baiklah, biar aku pergi duduk bersamanya dan mengobrol saja.

Jadi kita pergi ke rumah Syeikh Hussain, dan kita, kita duduk dan dia mulai mendengarkan apa pun yang aku ceritakan kepadamu sekarang, Lalu pada akhirnya dia berkata, "Hei Aliza, kurasa kamu tahu banyak. Rasanya kamu sudah siap menjadi Muslim sekarang." Aku bilang, "Eh, ada seorang relawan yang harus kutemui 15 menit lagi. Aku rasa tidak hari ini." Lalu dia bertanya, "Lalu, apa yang menghentikanmu?" Jadi aku menjawab, "Aku merasa perlu belajar bahasa Arab, dan perlu membaca Al-Qur'an, aku perlu belajar cara salat.

Aku merasa setidaknya aku harus tahu beberapa Hadis." Dan dia menatapku, dan dia bertanya, aku ingat pertanyaannya, dan aku rasa dia akhirnya, atau mungkin dia sudah tahu, dia menangkap sisi perfeksionisku. Dia semacam menangkap itu, dan dia seperti, "Oke, menurutmu butuh berapa lama untuk melakukan itu? 20 tahun? 30 tahun? 50 tahun?" Lalu, aku tidak tahu apakah ini akan terdengar konyol untukmu dan yang menonton, tapi yang membuatku menangis, dan kamu ingat aku sudah mempelajarinya selama sekitar tiga bulan kurang lebih, dan kemudian, dan ya. Dan aku sangat menginginkan pengetahuan itu. Aku ingin mengerti agar dapat menjadi Muslim yang baik.

Jadi dia berkata, "Aliza, apakah kamu tahu bahwa Allah SWT hanya memberikan tingkat pengetahuan yang kamu inginkan pada seorang Muslim?" Jadi sekarang, ini masuk ke dalam diriku dan mengenai hatiku dan membuatnya sakit. Tapi saat itu, aku menangis karena aku terluka karena aku tidak bisa, aku tak bisa sempurna. Tapi aku mengerti. Pada saat itu, aku mengerti. Dan Allah SWT menanamkan dalam diriku, nomor satu, untuk berpikir, "Kau tahu, Aliza, jika Allah SWT telah membawamu dalam perjalanan ini dan menunjukkan bahwa kamu telah selama ini adalah Muslim, tidakkah kamu berpikir Dia akan menolongmu dan ayahmu? Tidakkah kamu berpikir Dia akan menolongmu dengan keluargamu?

Jadi pikiran itu diringankan. Dan kemudian aku berpikir, Ustadz itu benar. Semua hal yang aku katakan, itu sedikit pamer. Memamerkan apa yang aku tahu, memamerkan apa yang aku rasakan, Tapi itu cuma omong kosong. Aku hanya ucapkan di bibirku. Namun sampai aku menyatakan diriku dengan Syahadat, aku belum berbuat apa-apa kecuali sekadar berbicara, hanya ucapan saja. Mengapa Allah SWT harus memberiku ilmu itu? Padahal aku bahkan tak berani mengambil langkah untuk menyerahkan diriku? Aku mengerti.

Jadi saat di mana aku menangis paling keras karena aku berpikir, Masya Allah, Tentu saja, Ustadz sangat akrab dengan Syahadat, aku pikir dia melihat bahwa aku sampai pada titik pemahaman lebih mendalam. Lalu dia bertanya, ya, "Apakah kamu siap?" Dalam percakapan itu, tidak direncanakan, hendak pergi menemui relawanku. Namun aku mengerti. Hal terakhir yang kupikirkan saat dia bertanya padaku, Jika Allah menghendakiku melakukan ini, aku tidak dapat menghentikannya. Jika Allah menginginkannya, aku tidak dapat menghentikannya. Jadi akhirnya aku bersyahadat. + Bagaimana rasanya? - Perasaan itu, aku mengerti sekarang.

Saat kamu bersyahadat dalam bahasa Arab, kamu mungkin merasa tidak yakin, karena kamu bahkan tak tahu apakah kamu mengucapkannya dengan benar. Tapi begitu aku mengucapkannya dalam bahasa Inggris, aku mengalaminya sekarang. Aku merasakan getaran yang menjalar dari atas kepalamu dan menjalar ke tengkukmu dan ke seluruh tubuhmu. Dan sekarang aku merasakannya bahkan di lututku dan sampai ke kakiku. Dan kamu merasakan gelombang ini, dan seolah-olah kehidupan lamamu baru saja berlalu. Kehidupan lamamu pergi, kehidupan baru itu masuk dari kepala ke, kamu tahu, dari atas ke bawah, seperti halnya Adam, ruhnya ditiup dari atas ke bawah. Aku merasakannya.

Lalu, saat ia sampai ke jari kakiku, kamu tahu, kadang saat acara TV selesai, ada suara eeh, bunyi bip itu? Aku mendengar telingaku berbunyi "bip". Bahkan penglihatanku menjadi sedikit pink. Bahkan penglihatanku sedikit berbeda. Lalu aku merasa ringan, sangat ringan, sangat ringan. Seperti, wow, oke, jadi ini dia, sangat ringan. Dan segera setelah itu, eh, ada azan salat Asar. Dan aku pergi berwudu tanpa tahu tata cara berwudu. Seseorang berkata, "Lakukan ini, lakukan itu, lakukan ini, jangan lakukan itu. Baiklah, lakukan ini.” Dan aku segera pergi ke mushola di Al Khaadem dan aku berdiri di samping teman lain yang baru kutemui. Sepanjang waktu, seperti ini, hanya seperti ini.

Hanya seperti ini, oke seperti ini. Dan itulah salat pertamaku dan sejauh yang aku ingat, Sejak itu, aku tidak pernah lagi melewatkan salat. Sujud pertama yang aku pahami sedang berada di Magrib malam itu. Aku pergi menemui relawanku bersama teman-temannya. Jumlah mereka ada lima. Empat di antaranya mualaf. Jadi, um, kita bertemu di kafe dan setelah itu, kami pergi ke salah satu rumah mereka untuk salat Magrib. Jadi Imam pertamaku adalah pria. Imam keduaku adalah wanita. Dan keempat orang mualaf itu mengajariku saat itu untuk melakukan, eh, melakukan sujud, yang terakhir, sedikit lebih panjang dan untuk membuat, eh, untuk berdoa. Di sujud terakhir karena saat itulah Allah SWT akan menerima.

Dan aku akan memberitahumu satu doa yang aku panjatkan setiap kali salat. Sampai akhir tahun. Aku ingat dengan rinci karena aku mengucapkannya setiap salat. "Ya Allah, jadikanlah kedua orang tuaku menerimaku sebagai putri Muslim mereka." Jadi, pertanyaan pertama yang kudapatkan saat aku menceritakan kisah ini adalah, "Lalu, apa yang terjadi pada ayahmu? Apa yang terjadi pada ibumu?" Dan aku katakan padamu, itu benar-benar kekuatan doa. karena aku masih sangat takut. Aku khawatir. Bulan Desember adalah hari besar di mana aku harus memberi tahu ayahku bahwa, aku sudah menjadi Muslim. Ini adalah janjiku pada Allah SWT. Jadi, aku mengajaknya makan malam.

Orang yang kenyang adalah yang paling bahagia. Jadi itu adalah sebuah strategi. Dan ingat, itu adalah satu tahun penuh doa, doa yang sama yang aku panjatkan, "Ya Rabb, kumohon, tolong bantu orang tuaku menerimaku sebagai seorang putri Muslim." Itu berulang-ulang, berulang-ulang kali, aku tidak menyerah dalam hal itu. Dan di akhir hidangan penutup, aku memberanikan diri dan berkata pada ayahku, "Ayah, aku harus memberitahumu tentang aku dan Islam." Dan kemudian setelah itu, dia berkata, "Baiklah, Aliza, kamu tidak perlu mengatakan apa pun." Oh tidak. Tapi setelah itu, ayahku mengucapkan kata-kata yang paling indah, kata-kata yang paling indah. Dia berkata, "Kau tahu, Aliza?

Jika kamu percaya Tuhan dari Ibrahim, sama sepertiku, aku senang. Dan jika agama ini menenteramkan hatimu dan memberimu kedamaian, itu tidak apa-apa. Kamu teruskan saja. Dan kamu tak perlu khawatir tentangku, dan kamu tak perlu khawatir tentang Ibu, dan kamu tak perlu khawatir tentang keluarga kita." Lalu dia membuat daftar, "Karena ada penganut Buddha di keluarga kita, ada Katolik, ada Protestan, dan sekarang kita punya Muslim. Jadi semuanya akan baik-baik saja." Dan itu adalah hal yang paling indah, kata-kata yang paling indah, lembut, paling indah. Dan tentu, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana dengan ibuku? Ibuku ada di Amerika.

Dan rencanaku, karena aku anak yang pintar, rencanaku adalah memberitahu Ayah karena Ayah adalah orang yang lebih lembut, dan setelah dia mengunjungiku, dia selalu pergi mengunjungi ibuku. Ibuku masih tinggal di Boston saat itu. Dia punya penyakit ginjal, jadi dia harus menjaga kesehatan. Jadi rencananya adalah memberi tahu Ayah, Ayah memberi tahu Ibu. Jadi ayahku pergi ke Boston, dan mereka meneloponku, tentu saja, begitu dia mendarat, semuanya. Aku bilang, "Baiklah, besok dia akan memberitahuku bahwa dia sudah memberitahunya." Satu hari berlalu, dua hari berlalu. Aku seperti, aku tak ingin memberi tahu Ibu. Ibu akan menanyakan banyak hal padaku.

Namun sekitar lima hari berlalu, lima hari berlalu. Lalu aku bertanya pada ayahku, "Ayah, diamlah, oke Ayah, Sudahkah kamu memberi tahu Ibu? Dia tidak mengatakan apa-apa?" Dan dia hanya berkata dengan santai, "Ya, aku sudah bilang pada Ibu. Tidak ada apa-apa. Kamu mau bicara dengannya tentang itu? Aku seperti, "Tidak, tidak, tidak, aku tidak ingin membicarakannya padanya." Jadi kisah orang tuaku begitu mudah. Itu sangat mudah. Aku sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya percaya bahwa ini karena doaku. Jangan, jangan, jangan sekali-kali menyerah dalam doa. Jangan pernah lupa berdoa. Teruslah berdoa sampai kamu mendapatkannya.

Ketika aku menjadi Muslim, aku menyadari bahwa aku punya keluarga. Untuk pertama kalinya, aku punya keluarga yang tidak peduli jika aku berhasil dalam studiku, dan mereka tidak peduli apa masa laluku. Menjadi seorang muslimah saja sudah cukup bagi mereka untuk bersikap baik dan merawatku, bahkan saat aku dalam kesulitan. Dan aku tidak pernah memilikinya. Aku anak tunggal. Aku tumbuh sendirian. Aku punya keluarga. Meski pada awalnya aku tidak merasakannya, aku seperti, mengapa semua orang memanggil satu sama lain saudara, saudari? Awalnya aku tidak merasakannya. Kini, jika lihat wanita berhijab, dia adalah saudariku. Tidak, aku tidak peduli dari mana asalnya.

Aku tidak tahu, tidak mengenalnya, tapi dia saudariku. Saat aku berjalan-jalan di Thailand, kadang aku tak tahu apakah dia seorang Muslim, tapi seorang pria berjalan dan aku mendengar, "Assalamualaikum." Dan aku akan membalas, "Waalaikumsalam." Saat Islam datang ke dalam hidupku, Pertama, tentu saja aku selaras dengan nilai-nilainya. Lalu aku mulai menyesuaikan dengan penampilannya. Dan aku rasa sekarang, saat aku berhijab, orang-orang sekarang lebih mendengar suaraku. Orang-orang sekarang mendengar suaraku. Orang-orang sekarang mendengar kecerdasanku, yang sangat aku dambakan karena aku tak bisa menyampaikan pendapatku. Aku tak bisa membagikan pendapatku. Aku tak bisa membagikan apa pun.

Dan itu adalah kebebasan. Itu adalah kebebasan dari perbudakan itu. Jadi Islam adalah kebebasan, kebebasan berpikir, kebebasan berbicara, kebebasan untuk memilih siapa yang melihat, apa yang aku pakai. MasyaAllah. + Sebagai seorang wanita yang sudah masuk Islam, apakah menurutmu agama ini merendahkan wanita, merendahkan derajat wanita? - Oke, jadi, um, ada kesalahpahaman, kesalahpahaman lain bahwa Islam merendahkan, mengecilkan dan menindas wanita. Namun menurutku, hal itu jauh dari kebenaran. Sekarang, aku akui bahwa terkadang di tempat tertentu, Budaya ikut berperan dalam bagaimana Islam, dipraktikkan, tapi kalau kita lihat Islam murni, aku merasa kasihan pada kaum pria, maaf.

Aku agak merasa sedikit kasihan pada para pria karena merekalah yang benar-benar harus keluar dan punya begitu banyak tanggung jawab, Padahal Allah SWT telah meninggikan derajat wanita dengan banyak kenyamanan. Para pria diharapkan untuk mengurus para wanita secara finansial, fisik, secara mental, segalanya, segalanya. Para wanita, kita memasak untuk para pria karena rasa belas kasih, kita mencuci pakaian mereka karena amal. Tentu saja kita menyenangkan mereka untuk menyenangkan Allah. Tapi, menjadi seorang wanita dalam Islam di antara laki-laki yang taat beragama, MasyaAllah, MasyaAllah, kamu tidak tertindas. Mereka akan...

Maksudku, suaraku didengar, aku merasa dilihat, aku merasa dilindungi. Jika aku termasuk orang yang taat, astaga, dulu aku pernah bekerja di sebuah LSM, sebuah LSM Islam, dan kita pun bergantian memberikan Tafkirah. Saat tiba giliranku, semua pria akan mengalihkan pandangan atau menunduk. Mereka akan memberiku rasa hormat yang tinggi untuk tidak menatapku. Mereka akan mendengarkan perkataanku dan mereka akan mendengarkan pengingatku, tapi mereka akan sangat menghormatiku. Bahkan ketika aku pergi makan di Chili's, Chili's, restoran Amerika, tapi di Malaysia, halal. Aku ingat di mana pun aku berada, dan pelayannya, berasal dari Bangladesh.

Begitu dia melihatku, dia berkata, "Halo!" Dia melihat ke arah meja. "Halo, Bu. Bagaimana, ada yang bisa aku bantu?" Sepanjang waktu, dia akan melihat ke arah meja. Dia memberiku rasa hormat. MasyaAllah. + Mengapa Islam di antara ratusan gaya hidup dan agama? - Jadi ini juga salah satu pertanyaan utama. Mengapa Islam? Jadi jawabanku adalah karena aku menyukai Syariah. Aku suka, aku suka aturannya. Dan semua orang selalu sangat terkejut, "Kamu suka aturannya? Maksudnya apa? Kamu suka aturannya? Kita tidak suka aturan." Teman Muslimku sejak lahir. "Kita lari dari aturan. Apa maksudmu?" Jadi aku bilang, kamu tahu?

Berasal dari pikiran yang begitu tersesat dan kosong dan setelah menjalani gaya hidup semi-selebriti, apa pun itu, aku merasakan kontrasnya. Dari tidak benar-benar tahu apa yang kamu lakukan, benar atau salah, untuk menjadi sangat jelas, mengetahui bahwa ini benar, ini tidak benar, dan apa pun yang ada di antaranya, selama kamu melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan Islam. Alhamdulillah. Sangat jelas. Aku tahu bagaimana memposisikan hidupku, yang harus kulakukan. Jadi aku suka aturannya. Dan bahkan saat ada beberapa aturan yang tidak kita pahami, Mengapa harus ada satu saksi laki-laki, dan dua saksi perempuan? Kenapa? Selalu ada jawaban yang bagus. Selalu ada jawaban yang bagus.

+ Jika ada seorang wanita, dia ingin mencari nilai dalam kecantikannya, cantik bagi orang-orang disekitarnya, atau hanya ketenaran atau lainnya, apa yang akan kamu katakan padanya? - Tanyakan pada dirimu apakah hal-hal itu sungguh akan membuatmu bahagia, karena saat kamu memakai riasan dan gaya rambut seperti itu, pakaian-pakaian itu dan semua barang-barang itu, jika kamu benar-benar memikirkannya, kamu menyerahkan kebahagiaanmu pada orang lain. Kamu mengandalkan validasi dan penerimaan mereka terhadapmu agar kamu bahagia. Itu tanggung jawab mereka. Nilaimu ada pada mereka. Dan bagaimana dengan ketenaran? Apakah ketenaran benar-benar hal yang akan memuaskanmu? Ketenaran juga eksternal.

Ketenaran juga datang dari orang lain. Kamu tidak bisa menjadi terkenal kecuali orang lain yang mengatakan bahwa kamu hebat. Jadi apakah memang itu yang kamu inginkan untuk dirimu? Mungkin begitu, tapi ada cara lain untuk menjadi terkenal. Kamu bisa terkenal di kalangan para malaikat. Oke, tapi itu, kamu tidak dapat melihatnya. Kamu juga bisa terkenal karena kebaikanmu. Kamu bisa terkenal karena, betapa salehnya kamu. Jika kamu bilang padaku kamu bisa percaya diri dalam situasi apa pun, menghadapi apa pun, dan tetap bisa menyuarakan suaramu, kamu masih bisa menarik, kamu masih bisa bangga pada dirimu sendiri, oke, mungkin aku akan mempercayainya, ya.

Temukan harga dirimu dalam dirimu sendiri dan pelajari Islam, karena Islam adalah hal yang akan mengembalikan kehormatanmu. Islam adalah hal yang akan mengembalikan suaramu, akan mengembalikan harga dirimu, akan membuatmu menyadari bahwa kamu lebih dari sekadar pakaian, sekadar rambut. Carilah di dalam dirimu sendiri dan teruslah mencari jawaban-jawaban itu dan jangan berhenti sampai kamu mendapatkannya.
