# Dari Buddha ke Allah: Perjalanan Seorang Buddha Tiongkok Menuju Islam

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/from-buddha-to-allah-a-chinese-buddhists-journey-to-islam
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=5FCW9eM7G0o
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Saya dilahirkan di keluarga Buddha. Lalu saat saya sadar bahwa di agama Kristen, tampaknya sangat terbuka. Anda bisa bebas melakukan hampir apapun. Saya mulai bertanya pada Tuhan, saya tak tahu siapa Tuhan yang sebenarnya sekarang. Saya mencari-Mu. Bimbinglah saya, Tuhan. Saat beragama Buddha, saya tinggal di kuil. Saat beragama Kristen, saya melayani gereja. Jadi saya pilih tinggal di masjid selama empat tahun. Lalu saya menemukan Islam yang tampaknya sangat praktis dan seimbang. Saya tak pernah mengalaminya di agama lain. + Assalamu'alaikum, Syekh Hussain Yee. - Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh + Saya ingin mulai pertanyaan saya dengan, siapa Syekh Hussain Yee?

Bisakah ceritakan secara singkat kehidupan Anda? - Saya dikenal sebagai Muhammad Hussain Yee saat saya jadi Muslim. Saya orang Cina. Hidup saya dimulai karena saya dilahirkan di keluarga Buddha. Biasanya, jika Anda lahir di keluarga itu, Anda akan tumbuh mengikuti tradisi itu, mengikuti orang tua. Saya suka hal-hal spiritual, jadi saya suka terlibat di kuil, melayani kuil. Lalu Alhamdulillah dengan kehendak Allah, saya berpindah agama menjadi Kristen. Setelah pindah agama Kristen, karena beberapa anggota keluarga saya juga, keluarga saya sangat beragam. Ada yang Kristen, Buddha, ada yang Tao, ada pemikir bebas.

Lalu Alhamdulillah, dengan kehendak Allah, saya mencari sesuatu yang dapat membuat saya merasa lebih baik, dan lalu saya bisa percaya pada sesuatu yang solid, bukan sekedar kabar angin, tapi sesuatu yang kuat dengan segala buktinya. Lalu Alhamdulillah dengan izin Allah, di tahun 1968, saya baca riwayat hidup Umar bin Khattab. Lalu saya jadi seorang Muslim. Begitulah saya mulai menjalani hidup sebagai Muslim sejak tahun 1968. + Kembali ke masa Anda tumbuh sebagai umat agama Buddha, Bagaimana kehidupan beragama Anda dulu? Apa yang Anda yakini? - Sebagai umat Buddha, tentu percaya pada ajaran Buddha Gautama, tentang nilai-nilai mereka, ajaran spiritual.

Hal terpenting adalah dia mencoba memastikan semua orang mengerti bahwa penderitaan itu nyata. + Jadi apakah dia percaya pada akhirat? Apakah dia mengajarkan tentang akhirat? Apakah dia percaya pada satu Tuhan? - Saya pribadi percaya setelah menjadi Muslim, bahwa dia tahu. Itu sebabnya dia beribadah. Dia juga bersujud. Doanya, Anda dapat melihat nilainya. Jika dilihat dari istilah 'Sukha wa dukkha', maka Anda mengerti apa yang difirmankan Allah, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا Allah berfirman, "Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat..." Nama-namanya, Anda tahu dalam Al-Qur'an ada 25, namun sebagian besar tidak disebutkan dalam Al-Qur'an.

Saya tak tahu, secara pribadi saya merasa mungkin dia salah satunya, dia tak pernah menyuruh siapapun menyembahnya. Dia tak pernah mengatakan tidak ada Tuhan, tapi dia sendiri bersujud. Dia orang yang selalu berkomunikasi dengan 'Kekuatan tak terlihat'. Bagaimana pengikut lainnya mengikuti ajarannya, Wallahu a'lam. Sama halnya kisah Musa dan Yesus. Yesus tidak pernah mengatakan dirinya adalah Tuhan atau anak Tuhan. Namun pengikutnya mengatakan dia adalah Tuhan, dialah Bapa, Putra kudus, dan semuanya menjadi satu. Ini bukan kesalahan Yesus, tapi kesalahan orang-orang setelahnya, membuat agama baru dan menggunakan namanya.

Jadi saya pribadi merasa setelah menjadi Muslim, saya lebih mengerti apa yang dilakukan Gautama Buddha dan bagaimana dia melatih setiap orang untuk 'tazkiyatun nafs', tidak untuk menjadi pelayan, atau budak keinginan Anda. Dunia ini tidak ada apa-apanya. + Anda dibesarkan sebagai penganut agama Buddha di keluarga Anda. Apa yang membuat Anda mempertanyakan keyakinan Anda? Apa yang membuat Anda mempertanyakannya? - Saya rasa karena saat muda, saya suka segala hal yang bersifat spiritual. Jika orang berbicara iblis, hantu, malaikat, saya ingin mengalaminya sendiri jika bisa. Ada yang bilang, "Jangan ke kuburan, ada hantu di sana." Saya justru ingin tinggal di kuburan.

Ya, tidur di sana beberapa jam saat malam, jika memungkinkan. Jadi kami mencoba, mencoba apa saja untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman hidup. Karena hal ini tidak didapatkan dari buku. Jadi, yang terjadi kemudian adalah, saya melihat banyak sekali hal yang dilarang oleh ajaran itu. Entah itu dari dia atau bukan, saya tak tahu, namun menurut apa yang kita ikuti, tidak ada, Anda tidak bisa makan daging apapun, tidak membunuh, membunuh dilarang. Jadi Anda menjadi vegetarian. Itu berarti Anda melepaskan diri dari dunia. Jadi sebagai remaja, saya merasa ada yang hilang. Tidak ada keseimbangan. Itu bukan logika rasional bagi saya.

Tapi saya mengikuti nilai baik tentang bagaimana menjadi rendah hati, cara memurnikan 'Tazkiyatun nafs'. Janganlah mengikuti hawa nafsu, janganlah terlalu terikat pada dunia. Jangan pikirkan pernikahan, jangan pikirkan apa pun, jadilah orang baik saja. Jadi saya pribadi merasa itu tidak seimbang. Itulah sebabnya saya mulai ragu. Lalu saya mulai mencari cara lain. Jadi, saya pribadi merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Saya pribadi merasa, apakah agama begitu sulit? Atau ini hanya semacam tambahan yang diberikan oleh para pengikutnya? Jadi banyak sekali ajaran yang tidak murni lagi. Saya pribadi merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya.

Saya merasa bahwa saya harus pindah. Lalu akhirnya saya diperkenalkan oleh kakak perempuan saya, mereka beragama Kristen. Mereka mendorong saya untuk ikut ke gereja, dan saya melakukannya. Lalu saya sadar bahwa di agama Kristen, tampaknya sangat terbuka. Anda bisa bebas melakukan hampir apapun. Apa saja. Bahkan dalam pengajaran yang sebenarnya, ada banyak hal yang tidak diperbolehkan. namun jika membahas Kekristenan masa kini, semuanya boleh dilakukan. Selama Anda mencintai Yesus, Anda percaya pada Yesus, Dia juru selamat. Maka Anda aman. Ini sangat menarik. Karena dulu banyak yang tidak boleh, sekarang banyak sekali yang diperbolehkan. Karena saya ingin menjadi orang yang berkomitmen.

Jika saya beragama Buddha, saya ingin jadi umat Buddha yang taat. Saat saya jadi orang Kristen, saya ingin jadi orang Kristen yang taat. Ya, karena kenapa? Jika ini adalah pesan Tuhan yang sebenarnya. Jadi, tidaklah benar jika saya menyimpannya untuk diri sendiri. Saya harus berbagi dengan teman. Dan saya punya banyak teman Muslim. Jadi saya ingin berbagi dengan mereka tentang ajaran Yesus. Lalu, saat saya memulai misi untuk mulai berbicara dengan mereka, mereka menanyakan hal yang membuat saya terkejut. Mereka juga percaya pada Yesus. Muslim percaya pada Yesus. Mereka tidak masalah percaya pada Yesus, tapi satu hal, cara kita percaya pada Yesus berbeda.

Kami percaya bahwa ia adalah Bapa, Putra kudus, konsep trinitas, dan seterusnya. Jadi saya merasa sudah waktunya untuk mencari tahu lebih lanjut, untuk mencoba memahami lebih jauh tentang apa yang disebut agama kebenaran ini. Al-Haqq. Penting untuk mengetahui kebenaran. Bukan setengah kebenaran, tapi seluruh kebenaran. + Bagaimana perjalanan Anda menuju Islam dimulai? dan apa yang paling membuat Anda terkesan tentang Islam? - Saat saya memulai misi untuk menelepon teman saya terkait agama Kristen, lalu mereka bertanya beberapa hal pada saya. Saya terkejut. Saya kembali ke pendeta dan meminta pencerahannya tentang konsep trinitas, Bapa, Putra, roh kudus atau roh suci.

Mereka tak bisa meyakinkan saya. Karena saya suka berpikir, suka bertanya. Mereka tak bisa, katanya, "Tunggulah sampai roh kudus datang kepadamu." "Biarkan Roh Kudus menjelaskannya padamu." Itulah yang mereka katakan, itulah yang saya tunggu. Saya mulai bertanya pada Tuhan, "Saya tak tahu siapa Tuhan yang sebenarnya sekarang. Saya mencari-Mu. Maka tuntunlah saya, Tuhan." Saya hanya berpikir, saya harus berdoa pada Tuhan yang tahu bahwa saya sedang mencari-Nya. Saya tidak menggunakan nama lagi. Saya berkata, "Ya Tuhan, Engkau tahu saya sedang mencari-Mu." Lalu tiba-tiba keinginan saya untuk membaca Al-Qur'an jadi sangat kuat. Saya ingin tahu apa yang diyakini umat Muslim.

Namun tak seorang pun menawarkan saya Al-Qur'an. Naluri saya untuk mencari kebenaran sangat kuat. Alhamdulillah, saya baca buku tentang Umar bin Khattab. Khalifah kedua, yang dulunya merupakan musuh Islam, musuh Rasulullah, ingin membunuh beliau. Namun dengan Al-Qur'an, dia tercerahkan. Dan dia menjadi seorang Muslim. Bukan hanya seorang Muslim tradisional, umat Muslim biasa, Tapi dia menjadi sahabat Rasulullah dan menjadi khalifah kedua dan pada masanya, Kekaisaran Romawi dan Persia berada di bawah Kekaisaran Muslim. Sesuatu yang sangat bersejarah terjadi. Itu membuka hati saya. Agama ini pasti sangat kuat, bisa mengubah orang ini.

Orang yang anti Islam, anti Rasulullah, dia ingin membunuhnya. Kemudian dengan Al-Qur'an, dengan tuntunan Al-Qur'an, dia benar-benar berubah. Itulah awal perjalanan saya menuju Islam. Lalu saya menemukan Islam tampaknya sangat praktis dan seimbang. Tentu ada yang boleh dan tidak boleh dilakukan, namun, larangannya lebih sedikit. Kita beribadah, namun kita juga harus bekerja keras. Anda bisa punya keluarga, Anda bisa bermu'amalat, munakahat, semuanya seimbang. Begitu indah saat saya belajar lebih dalam, bahwa Islam begitu sempurna. Dijelaskan dari A sampai Z, SOP, semuanya siap. Kita tak perlu lagi menciptakan jalan hidup sendiri, kita hanya mengikuti.

Lalu cara makan, cara minum, cara berpakaian, cara berbicara, cara bekerja, semuanya sangat rinci. Allahu Akbar wa lillahil hamd. Hal itu tidak pernah saya alami di agama lain. Agama lain bisa saja mengatakan demikian, namun tidak ada bukti, tidak terperinci. Namun Islam bukan hanya sekedar kabar angin, bukan hanya apa yang dikatakan Allah, Rasulullah diutus untuk menunjukkan segalanya pada Anda. + Jadi apa hal utama yang meyakinkan Anda bahwa Islam adalah 100% kebenaran? - Karena saat saya mencari tahu, lalu saya kembali perlahan, saya mulai belajar lebih banyak. Lalu saya berangkat ke Madinah, menimba ilmu lagi, dan membaca Al-Qur'an.

Alhamdulillah saya menemukan inilah satu-satunya kitab Tuhan yang tidak pernah mengalami perubahan, tidak tercemar, tidak diubah. Ya, tidak ada satu ayat pun yang dapat diubah. Tidak ada cacat. MasyaAllah. Itu keajaiban lainnya. Saya sangat bangga karena saya percaya pada kitab yang 100% murni. Sejak Al-Qur'an diturunkan sampai hari ini, tidak berubah, tidak diubah. Lalu saat saya bepergian keliling dunia, saya bepergian ke sana kemari, ke mana pun saya pergi, Al-Qur'an tetap sama. Saat umat Islam beribadah, satu bahasa. Saat mereka mengumandangkan azan, satu bahasa. Saat menyangkut salat, satu bahasa. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Ya, karena saat saya mulai mengerti, saya yakin saya sedang berdoa pada Allah, bukan pada Allah. Tapi pada Tuhan, "Berilah hamba petunjuk." Dan saat hal ini datang begitu kuat dalam hidup saya, saya berkata, "Saya siap." Dan saat saya ingin jadi Muslim, saudara Ahmed, itu tidak mudah. Saya pikir itu mudah. Saya pribadi yang mendekati imam, bilang, "Saya ingin jadi seorang Muslim. Bisakah Anda membantu saya?" Terkadang saya terkejut saat melihat teman Muslim saya. Saya bilang, "Saya seorang Muslim." Mereka bilang, "Kapan? Kapan? Mengapa memilih Islam?" Sepertinya mereka tidak terkejut saya jadi seorang Muslim.

Mungkin mereka heran, "Mengapa Anda mau memilih Islam?" Itu membuat saya merasa sedih. Tapi saya tidak menyalahkan siapa pun atas pengalaman saya pindah dari agama Buddha, Kristen, banyak orang hanya menjadi pengikut, pengikut buta. Mereka hanya mengikuti tanpa pengetahuan. Mereka hanya mengklaim saya beragama Buddha, saya beragama Kristen, tapi mereka bahkan tidak membaca kitabnya. Berapa banyak orang Kristen yang membaca Alkitab? Berapa banyak orang Buddha yang membaca Dharma? Sangat sedikit. Kita bisa menghitungnya. Tapi semua Muslim membaca Al-Qur'an. Jutaan Muslim menghafal Al-Qur'an. Dapatkah kita bayangkan? Keajaiban itu sungguh menakjubkan.

Hal ini membuat saya semakin kuat dan kuat, keyakinan saya pada Allah, dan Al-Qur'an dan Islam tumbuh dari waktu ke waktu. Itu tidak memudar. Bahkan saya menghadapi banyak tantangan di sana sini, tapi itu tidak mengurangi keyakinan saya pada Islam. Jadi saya pergi ke masjid, saya bertemu dengan imam, saya beritahu tentang niat saya, dan saya segera mengucapkan syahadat, Alhamdulillah, sekarang saya sudah jadi seorang Muslim. Tapi saya tidak tahu di mana saya harus tinggal, karena saya sangat mandiri sejak muda. Saya orang yang sangat mandiri. Saya meminta izin, "Bolehkah saya tinggal di masjid?" Karena saya tidak suka membebani siapa pun.

Saya lebih suka karena saat masih muda, saat saya beragama Buddha, saya tinggal di kuil, kuil Buddha. Saat saya beragama Kristen, saya melayani gereja. Jadi saya suka area seperti itu, area rumah ibadah, karena kita tidak mengganggu siapa pun, dan semua orang baik datang ke area itu. Begitulah yang saya yakini. Hanya Muslim yang taat yang akan datang ke masjid. Hanya umat Kristen yang taat yang pergi ke gereja. Hanya umat Buddha yang taat yang pergi ke kuil. Mereka yang tidak taat tidak pergi ke sana. Jadi saya memilih tinggal di masjid selama empat tahun. Iya, tapi berbeda-beda masjid, saya berhijrah. Seminggu di sini, dua minggu di sana, beberapa bulan di sana.

Tergantung daerahnya dan jika kondusif, memberi saya perasaan yang lebih baik, saya akan tinggal lebih lama. Selama empat tahun saya berada di masjid. Alhamdulillah. Saya membuat keputusan yang tepat karena itu adalah tempat terbaik untuk tinggal dan itu adalah tempat tercepat untuk belajar karena orang datang ke masjid untuk ibadah. Jadi saya bisa terus bertanya serta belajar dari mereka. + Bagaimana reaksi keluarga saat Anda masuk ke Islam? Keluarga, ibu dan ayah Anda? - Uh, ya, ibu saya agak terkejut karena saya anak laki-laki termuda di keluarga. Jadi saya khawatir mereka akan terluka dan mereka akan mengejar saya, dan mereka memukuli saya atau memaksa saya melakukan sesuatu.

Itulah kekhawatiran saya. Tapi Allah Maha Besar. Itulah sebabnya saat saya jadi Muslim, saya tidak pernah pulang ke rumah. Saya sama sekali tidak pernah memberi tahu orangtua saya. Ibu saya masih hidup, nenek masih ada di sana, tapi saya pergi sendiri agar mereka tidak tahu saya ada di mana, jadi mereka tidak mengganggu saya. Lalu guru saya yang baik berkata, "Kau harus kembali, menemui mereka, berbicara pada mereka." Saat saya sampai di rumah, tentu ibu saya agak kecewa. Awalnya dia khawatir bahwa dia akan kehilangan putranya.

Alhamdulillah, saya belajar sedikit dari sana sini, "Ibu, saya anak Ibu, saya orang Cina." Ibu masuk ke kamarnya, mengunci diri, tapi saya bicara dengan nenek saya, saudara saya, mereka semua sangat terbuka. Allahu Akbar. Mereka gembira, mereka bertanya, "Bagaimana saat kau menjadi Muslim, apa yang terjadi sekarang? Bagaimana situasinya?" Mereka sangat berpikiran terbuka. Jadi itu membuat saya merasa sangat aman. Lalu, saya lebih sering pulang ke rumah, dan membuat mereka merasa lebih baik. "Jangan khawatirkan tempat tinggal saya." Saya bilang ke mereka, "Saya tinggal di rumah bagus, di rumah besar." Saya tidak bilang kalau saya tinggal di masjid.

Lalu di kemudian hari, seiring kami semakin berkembang, kami semakin dekat dan dekat, dan mereka melihat perkembangan saya, dan mereka bangga. Lalu dia merasa lebih nyaman karena saya akan kembali sekarang. Saya tidak tinggal bersama mereka dan pulang. Kami menghabiskan waktu bersama, kami berbincang, saya membawakan mereka buah, Saya bawa apa pun yang halal, saya bawa pulang. Jadi mereka tidak merasakan perbedaannya. Saya tahu bagaimana kita mengembangkan diri, dan jika kita menunjukkan nilai indah Islam, saya yakin semua orang akan cinta Islam. Hidayah itu dari Allah, tentu. + Apakah ada orang dari keluarga atau kerabat yang menjadi Muslim setelah Anda? - Alhamdulillah.

Kakak laki-laki saya sebelum meninggal, dia menjadi Muslim. Kami melaksanakan salat jenazah di pusat kami. Ibu saya, dia menjadi seorang Muslim. Alhamdulillah. + Banyak orang di Barat, Turki, dan di seluruh dunia, mereka mencoba mencari kenyamanan melalui meditasi agama Buddha. Apakah ajaran Buddha sungguh dapat memberi kenyamanan bagi jiwa manusia? Apa perbedaan meditasi dan salat? Umumnya orang membuat perbandingan ini. - Jika kita melihat semuanya, kita melihat bahwa dalam Islam itu lebih sempurna, lebih seimbang. Tugas kita tidak hanya duduk, meditasi, dan tidak melakukan apa pun.

Kami percaya, "قُولِي حَرَكَةٌ بَرَكَةٌ" "Dalam gerakan selalu ada berkah." Jadi kita lihat salat dalam Islam begitu indah. Sangat sempurna karena bahkan salat pun tidak kita ciptakan sendiri. Semua bacaan yang kita baca dalam salat bukanlah berasal dari Anda, dari saya, dari siapa saja yang suka. Tidak, itu diajarkan oleh Allah pada Rasulullah dan Rasulullah pada kita. Cara komunikasi yang sangat unik. Kita rukuk, kita sujud. Tentu saja, jika kita kembali ke Dharma Buddha, kita kembali ke ajaran Musa, Yesus, juga mereka memiliki rukuk dan sujud. وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ dan seterusnya. Namun orang-orang tidak lagi mengikutinya. Orang-orang mulai berubah.

Tahukah Anda, pengikutnya dari generasi ke generasi, lalu mereka melupakan seluruh ajarannya, mereka tidak memiliki hal untuk dirujuk. Kitab asli yang menjadi rujukan mereka sudah tidak ada lagi. Hal yang sama berlaku untuk Dharma, hal yang sama berlaku untuk... semuanya telah diterjemahkan dan di luar kendali. Taurat lama sudah tidak ada lagi, sudah digantikan oleh Talmud, dan Injil juga, semuanya menjadi kacau. Kecuali Alhamdulillah, mukjizat Al-Qur'an tetap tidak berubah, tidak diubah, asli sampai hari ini. Allahu Akbar. + Saat bermeditasi, apakah orang mencoba untuk tidak memikirkan apa pun? Dan apakah itu mungkin dan benar-benar bermanfaat bagi jiwa?

- Meditasi adalah salah satu cara yang mengajarkan kita mengatasi semua kekuatan negatif. Saya menganggap meditasi sebagai suatu bentuk 'Tazkiyatun Nafs.' Renungkan, ingatlah semua hal negatif yang kita miliki dan cobalah untuk memurnikannya. Segala sesuatu yang negatif, cobalah mengatasinya dengan yang positif. Jadi kita harus merenung, banyak merenung. Kita tidak memikirkan hal negatif, maka itu tidak membantu kita. Kita pasti berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya. Itulah karma. Kita menyebutnya Qada dan Qadar.

Segala sesuatu terjadi, وَرَاءَ كُلِّ مَسْأَلَةٍ سَعَادَةٌ seperti yang kita tahu Di balik semua hal buruk yang terjadi di sekitar kita, ada pelajaran yang bisa dipetik. Ya, kita harus berpikir positif. Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan, bagi kita sebagai seorang Muslim, karena Islam begitu sempurna, begitu jelas, sangat jelas, sangat mudah dihubungkan, mudah dijelaskan. Jadi meditasi adalah salah satu cara mereka saat itu. Tapi cara terbaik jika kita cari dalam Islam, Allahu Akbar. Dapatkah kita bayangkan sebelum kita mulai salat dan berdoa, apa saja yang kita lakukan? Kita harus membersihkan tubuh kita. Kita harus berwudu. Kita melihat betapa sempurnanya Islam.

Apa yang kita pelajari dengan mencuci tangan, mulut, hidung kita, wajah kita? Karena ini terekspos, terekspos ke dunia. Dan semuanya begitu rusak di sekitar kita. Itulah sebabnya saya selalu ingatkan murid saya, setiap orang yang saya temui, jangan lewatkan salat. Kita tetap terhubung dengan Allah, "فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ" Allah selalu ada untuk kita. Bahkan seberapa buruk situasi Anda, kita tahu, betapa sedihnya Anda, jangan lewatkan salat. + Apa yang paling mengesankan Anda tentang Nabi Muhammad SAW? - Shalallahu Alaihi Wassalam Tak ada yang bisa menandinginya karena beliau diutus sebagai rahmat bagi kita semua.

Beliau habiskan begitu banyak waktu untuk menunjukkan kita jalan menuju Allah. Beliau lah jalannya. Jadi jangan sekali-kali mengabaikan sunnah Rasulullah. Saya ingin memanggil semua Muslim di mana pun Anda berada, jangan abaikan Rasulullah. Anda bilang Anda beriman kepada Allah, Allah memberikan satu syarat, قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ Ikutilah utusan-Nya. Jadi, haraplah rendah hati. Apa yang Allah katakan, apa yang Rasulullah katakan, ikuti saja. Kita tidak akan pernah salah. + Sebagai orang Cina, Anda mungkin merasa sedih karena negara Anda, lebih dari satu miliar orang, mayoritas dari mereka adalah ateis.

Bagaimana menurut Anda cara menyentuh hati mereka? Bagaimana cara mengenalkan Islam pada mereka? Bagaimana menurut Anda? - Itulah sebabnya saya bekerja sangat keras. Saya telah berbicara dengan mereka. Itulah sebabnya saya terlibat, ya, selalu dengan mereka. Saya sangat terbuka dan merasa mereka juga sangat terbuka, saudara Ahmed. Ketika saya berbicara dengan orang Cina yang ateis, yang tidak percaya pada Tuhan, Saya berkata, "Saudara-saudari, tahukah kalian? Nomor satu, ketika Anda mengatakan, "Saya tidak percaya pada Tuhan mana pun," Anda sudah setengah jalan menuju Islam. Karena jika Anda ingin menjadi Muslim, Anda harus mengucapkan, "La ilaha". Tidak ada Tuhan lain.

Anda hanya perlu meneruskan "illAllah". Caranya sangat mudah. Anda sudah percaya, "La ilaha". Jika dilanjutkan, Alhamdulillah." Jadi saya membuat mereka mengerti, dan saya membuat mereka merasa bahwa Islam ada di sini, Islam itu indah, sederhana, dan mudah. Allah tidak pernah membuat agama menjadi sulit. Sampai hari ini, kemana pun saya pergi, saya bertemu dengan orang Cina, saya selalu berbicara dengan mereka. Dan Alhamdulillah, beberapa orang menjadi sangat positif, dan mereka belajar sekarang. Saya beri mereka Al-Qur'an. Saya katakan, "Baca, baca maknanya." Dan setelah dua tahun, mereka datang pada saya dan berkata, "Terima kasih, Syekh.

Sekarang saya sudah membaca seluruh Al-Qur'an." Dan itu sangat menakjubkan dan menarik. Mereka sangat positif. Tentu saja, itu hidayah dari Allah. Kami merasa sedih, tapi tidak putus asa. Teruslah berdoa dan lakukan yang terbaik. Dan bentuk dakwah terbaik, saudara Ahmed, adalah memberi contoh yang baik. Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. + Jika ada kesempatan untuk berbicara pada semua non-Muslim di dunia, apa yang ingin Anda sampaikan jika Anda punya waktu sedikit saja? - Saya selalu mengingatkan orang-orang, perbedaan besar antara Muslim dan Islam. Islam adalah ajarannya, Muslim adalah orang-orangnya. Saya bangga menjadi seorang Muslim karena saya mengikuti Islam.

Bukan Islam yang ikut saya. Mohon ketahui perbedaan antara Islam dan Muslim. Dan Islam bukan milik ras tertentu. Islam milik kita semua. Itulah sebabnya ISLAM. Saya selalu menerjemahkannya dalam bahasa Inggris, "I Shall Love All Mankind" Jika Anda tidak mengerti, silakan bertanya dan belajar. Namun belajarlah dari sumber yang tepat. Dan janganlah berlaku tidak adil pada orang-orang baik. Kami siap. Jangan khawatir. Ya, kami tidak di sini untuk menghakimi siapa pun karena setiap orang mempunyai kesempatan untuk menemukan kebenaran, untuk menjadi orang yang bertakwa dan jadi Muslim yang taat. Karena Islam milik kita semua. + Jazakallahu khairan Syekh Hussain Yee.

Terima kasih banyak telah bersama kami. Kami merasa terhormat Anda bersama kami dan semoga Allah membalas kebaikan Anda dan menjaga Anda. - Aamiin, saudara Ahmed.
