# “Aku Memb*nuh Muhammad!” Teriakan yang Mengguncang Uhud - AI Visual - Wahai Rasul | Episode 7

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/i-klled-muhammad-uhud-was-shaken-by-a-cry-ai-visualized-o-messenger-ep-7
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=CPWL76pGaBI
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Kaum Muslim hampir meraih kemenangan. "Aku adalah singa Allah!" Namun satu kesalahan besar membalikkan semuanya. Para Mujahid tiba-tiba mendapati diri mereka terkepung dari depan dan belakang, terjebak di antara dua serangan. Pada hari Uhud yang penuh ujian dan cobaan, kekacauan dan kepanikan menyebar di pasukan Muslim. Para sahabat kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Akankah mereka menemukan jalan keluar dari jebakan mematikan ini? Saat kemenangan begitu dekat, bagaimana bisa keadaan berbalik? Mari kembali ke awal dan lihat bagaimana semuanya terjadi. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam terpercaya.

Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Setelah banyak tokoh penting Makkah yang terbunuh, Abu Sufyan menjadi pemimpin baru Quraisy. Semua orang di sekitarnya menuntutnya melakukan balas dendam. Di sisi lain, reputasi kabilahnya sudah sangat tercoreng akibat kekalahan di Perang Badar. Mereka tak bisa menerima atau melupakannya. Mereka sangat ingin memulihkan kehormatan. Bahkan para budak yang dahulu melayani mereka kini berani menantang mantan tuan mereka. Semua ini tak tertahankan bagi Quraisy.

Beberapa tokoh mereka seperti Jubair bin Muth'im dan Safwan bin Umayyah, serta Ikrimah bin Abu Jahal berkumpul membuat rencana. "Muhammad telah menghancurkan kita dengan membunuh para pemimpin kita. Kini saatnya membalas dendam." "Ya. Kembalikan modal kafilah dagang kepada para pemiliknya dan gunakan keuntungannya untuk mempersiapkan perang melawan kaum Muslim." Semua menyetujui rencana itu. Mereka menjual barang dagangan, mengubahnya menjadi uang, dan memakai keuntungan itu untuk biaya perang. Semua orang, terutama yang kehilangan keluarga di Badar, mengerahkan seluruh kemampuan mereka menyiapkan pertempuran baru.

Paman Rasulullah ﷺ, Abbas, memberi kabar kepada Rasulullah ﷺ tentang keadaan di Makkah. Beliau mengetahui pasukan 3.000 orang bersiap untuk berangkat ke Madinah. Mendengar itu, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat dan meminta pendapat mereka tentang situasi ini. Pendapat beliau sendiri adalah bertahan di dalam Madinah. Namun bermusyawarah adalah bagian dari sunnahnya. Bahkan dalam situasi genting ini. Beliau tak ingin memutuskan sendiri. Beliau ingin mendengar pendapat para sahabat. Dalam musyawarah itu, muncul dua pendapat utama. Para sahabat muda ingin keluar menghadapi musuh di medan terbuka, seperti yang terjadi di Badar. Hamzah juga mendukung ide ini.

Di sisi lain, mereka yang tak ikut Badar merasa telah kehilangan kehormatan besar, sehingga ingin bertempur di medan terbuka pula. Salah satu sahabat yang mendukung ide ini adalah Khaitsamah. Sebelum Badar, ia dan putranya Sa'd mengundi siapa yang akan pergi ke medan perang. Undian jatuh pada putranya, dan Sa'd syahid di Badar. Kini Khaitsamah sangat menginginkan syahid bagi dirinya. Ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, aku berharap Allah Azza wa Jalla memberi kita kemenangan atas Quraisy. Tapi jika hasil lainnya terjadi, yakni syahid, aku telah kehilangan kehormatan itu di Badar. Justru anakku yang mendapatkannya.

Kini hatiku sangat rindu untuk bersama putraku di Surga. Aku sudah tua dan ingin bertemu Rabbku sebagai syahid. Jangan halangi aku. Doakan aku gugur syahid dan bertemu Sa'd di Surga." Mereka berlari menuju kematian yang ditakuti manusia, dan meninggalkan dunia yang diperebutkan banyak orang, karena merindukan kehidupan abadi di akhirat. Rasulullah ﷺ dan para sahabat senior lebih memilih bertahan di dalam kota. Namun setelah musyawarah, mayoritas memilih perang terbuka. Maka Rasulullah ﷺ mengikuti keputusan itu dan memutuskan bertarung di luar kota.

Setelah mengimami salat Jumat, Rasulullah ﷺ menasihati sahabat tentang persiapan jihad dan berkata: "Menahan dan menunda jihad adalah tanda kelemahan. Bila sabar dan teguh, pertolongan Allah akan datang. Maka bersabarlah dan teguhlah." Rasulullah ﷺ sangat menekankan dua sifat ini. Setiap kata-katanya penuh tujuan dan makna. Tak lama, di medan perang, peristiwa besar terjadi yang mengubah jalannya pertempuran dan membuka banyak ujian. Di situlah kesabaran dan kegigihan benar-benar dibutuhkan. Setelah mengimami salat Asar, Rasulullah ﷺ pulang untuk mengenakan baju perang dan mengikat pedangnya.

Sementara itu, dua sahabat Sa'd bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair berkata kepada kaum Muslim yang berkumpul di luar: "Meski sebenarnya Rasulullah ﷺ tak ingin keluar Madinah, kalian terus memaksa kita untuk pergi. Padahal perintah datang dari langit. Serahkan urusan ini kepada beliau dan ikuti keputusannya." Ucapan ini mengubah pikiran mereka yang ingin menghadapi musuh di luar kota, bahkan sebagian mulai merasa menyesal. Saat mereka melihat Rasulullah ﷺ keluar dari rumah mengenakan baju perang dan membawa pedang, mereka berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, kami tak ingin sesuatu yang tak kau sukai.

Jika engkau ingin tetap di Madinah, maka kami akan tetap bersamamu." Kami tak akan pernah menentang kehendakmu." Rasulullah ﷺ menjawab: "Tidak pantas bagi seorang nabi setelah mengenakan baju perang, melepaskannya sebelum menghadapi musuh, dan sebelum Allah memberi keputusan antara dirinya dan mereka." Bersama pasukannya, Rasulullah ﷺ berangkat dari Ash-Shaykhayn menuju Uhud. Di antara mereka ada kaum munafik Madinah, yang ingin melemahkan persatuan dan semangat kaum Muslim. Dan ingat pemimpin mereka, Abdullah bin Ubay bin Salul, pria yang tak pernah berhenti merencanakan tipu daya pada Rasulullah ﷺ karena iri dengki, ia punya rencana busuk.

Ia mengaku beriman, pada Allah dan Rasul-Nya, namun tak ada jejak iman di hatinya. Dia sudah datang jauh-jauh, tapi sejak awal ia ragu dan dipenuhi ketakutan. Tiba-tiba ia berdiri dan berteriak: "Muhammad mendengarkan pendapat para pemuda yang tak berpengalaman dan mengabaikan saranku! Wahai kalian! Aku tak mengerti mengapa kita harus mempertaruhkan nyawa untuknya saat dia tak mau mendengar kita?" Lalu sekitar 300 orang dari sukunya dan orang munafik yang mendukungnya tiba-tiba meninggalkan pasukan dan kembali ke Madinah bersamanya. Akibat pengkhianatannya, pasukan Muslim tersisa 700 orang. hanya seperempat dari pasukan Quraisy.

Allah Azza wa Jalla menguji kaum Muslim melalui perang Uhud untuk membedakan yang mana yang sungguh beriman dan yang tidak. Dia menjelaskan ini pada Rasulullah ﷺ melalui ayat ini: "Dan apa yang menimpa kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang (yang benar-benar) beriman, dan untuk menguji orang-orang yang munafik." Rasulullah ﷺ tidak mundur meski pasukan berkurang. Beliau terus berjalan bersama para sahabat yang tersisa. Di saat yang sama, beliau berpikir tentang mimpi yang dilihatnya. Apakah mimpi itu?

Beliau menceritakan pada para sahabat: "Dalam mimpiku, aku mengayunkan pedang ke tanah dan bilahnya patah. Maka itu adalah musibah yang menimpa sebagian kaum mukmin pada hari (perang) Uhud. Kemudian aku ayunkan sekali lagi, ternyata pedang itu kembali utuh dengan sempurna. Maka itu adalah kemenangan yang didatangkan Allah dan bersatunya kaum beriman." Mereka tiba di Uhud larut malam. Rasulullah ﷺ meninjau medan perang dan memilih posisi paling strategis di mana kaum Muslim akan berdiri. Di hadapan mereka ada pasukan empat kali, lebih besar, dengan sekitar 200 pasukan berkuda. Karena itu Rasulullah ﷺ merencanakan segalanya dengan cermat. Beliau menempatkan 50 pemanah ahli di Bukit Aynayn.

Jika kavaleri musuh, pasukan berkuda, menyerang dari arah itu, kaum Muslimin bisa dengan mudah terkepung dari dua arah. Karena itu menjaga bukit tersebut sangatlah penting. Jika para pemanah meninggalkan pos, musuh segera unggul. Rasulullah ﷺ memberi perintah tegas kepada mereka: "Walau kalian melihat kami mengalahkan musuh, jangan tinggalkan posisi kalian hingga aku mengirim utusan kepada kalian.

Dan jika musuh mengalahkan kami, jangan tinggalkan pos kalian dengan berkata 'Mari kita pergi dan bantu mereka'." Setelah mengulang perintah itu berkali-kali, Rasulullah ﷺ kemudian berkata: "Walau kalian melihat kami sedang dicabik-cabik oleh burung, jangan tinggalkan tempat kalian hingga aku mengirim utusan kepada kalian." Rasulullah ﷺ kemudian menempatkan pasukannya di posisi strategis dengan Gunung Uhud di belakang mereka. Alasannya sangat jelas. Jika musuh menyerang, akan ada gunung itu menjadi pelindung mereka. Dan jika kaum Muslimin menyerang, musuh akan lebih mudah untuk melarikan diri. Taktik ini dirancang untuk meraih kemenangan dengan kerugian sekecil mungkin di kedua pihak.

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mengangkat sebuah pedang dan bertanya kepada para sahabat, "Siapa yang mau mengambil pedang ini?" Banyak sahabat ingin mengambilnya. Kali ini Rasulullah ﷺ bertanya: "Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan haknya?" Maksudnya, menggunakannya dengan benar. Sebuah suara berseru, "Apa haknya, wahai Rasulullah?" Itulah Abu Dujanah, seorang Anshar yang dikenal berani dan tangguh. Rasulullah ﷺ berkata: "Haknya adalah engkau memerangi musuh dengannya hingga pedang itu patah atau tak lagi bisa digunakan." "Aku akan mengambilnya dengan haknya, wahai Rasulullah." Lalu ia mengambil pedang itu. Kedua pasukan kini saling melihat. Mereka telah membentuk barisan dan menunggu.

Saat yang dinanti pun tiba. Tak mampu menahan lagi, kedua pihak maju menyerang. Benturan terjadi dengan sangat cepat. Para mujahidin, bersemangat berperang di jalan Allah, menerjang pertempuran dengan penuh keberanian. Saatnya Abu Dujanah menepati janjinya. "Aku akan mengambilnya dengan haknya!" Ia menerobos barisan musuh dengan kecepatan luar biasa, mengayunkan pedangnya, dengan kekuatan tak terbendung. Setiap tebasan menjatuhkan siapa pun yang ada di hadapannya dan ia terus maju dengan langkah tegap. Sementara itu, Hamzah RA berseru: "Aku adalah singa Allah!" Ia menerjang barisan musuh tanpa gentar, menebas ke kiri dan ke kanan.

Saat itu, Khalid bin Walid yang berada di pihak Quraisy, menunggu di balik Bukit Aynayn bersama 200 pasukan berkuda. Pasukan Quraisy mulai kewalahan dengan kaum Muslimin. Ia ingin turut bergabung di peperangan dan membantu mereka. Dari waktu ke waktu, ia mencoba melewati bukit itu, namun para pemanah yang Rasulullah ﷺ telah tempatkan di sana tidak membiarkannya lewat. Khalid terus menunggu, mengamati saat yang tepat untuk menyerang. Pasukan Muslim berjuang dengan seluruh kekuatan mereka, menunjukkan keteguhan luar biasa dan keberanian. Tak lama kemudian, pasukan kaum musyrik tak mampu bertahan dan mulai lari ketakutan.

Dengan menabuh genderang dan bernyanyi, wanita Quraisy mencoba memanggil para prajurit yang lari. Namun bagi hati tanpa iman, semua itu sia-sia. Mereka lari menyelamatkan diri. Namun, musibah apa yang dilihat Rasulullah ﷺ dalam mimpinya? Semua berjalan memihak kaum Muslimin hingga sesuatu yang tak terduga terjadi. Saat para pemanah di bukit melihat Quraisy mundur, mereka mengira perang telah usai dan tugas selesai. Di antara mereka, ada Abdullah bin Jubair mengingatkan perintah Rasulullah ﷺ dan berseru: "Apakah kalian lupa pesan Rasulullah?

Perintah dan arahan yang beliau berikan?" Namun meski telah diingatkan, hanya sedikit yang tetap tinggal, mayoritas turun dari Bukit Aynayn mengumpulkan harta rampasan. Inilah sebab Rasulullah ﷺ menekankan sabar dan keteguhan. "Serbu!" Saat itu, Khalid bin Walid, yang menunggu di belakang Aynayn dengan 200 pasukan berkuda, melihat peluang dan segera beraksi. Mereka membunuh 10 sahabat yang tersisa di bukit dan menyerang kaum Muslim dari belakang. Melihat itu, pasukan Quraisy berbalik arah. Tiba-tiba kaum Muslim terkepung dua pasukan musuh. Itu momen yang sangat mengejutkan dan menghancurkan bagi kaum Muslimin. Namun, tahukah kalian hal paling luar biasa tentang peristiwa ini?

Hingga kini, tak ada yang tahu siapa 40 sahabat itu. Yang meninggalkan bukit. Tak ada yang tahu nama mereka, kecuali yang hadir saat itu. Mengapa? Karena tak seorang pun boleh menyalahkan mereka. Sebagian orang yang jauh di bawah kedudukan para sahabat, mungkin akan menghakimi mereka dengan keras dan melupakan kebaikan dan pengorbanannya. serta seluruh kemuliaan mereka. Lagipula, membuka aib seseorang atau menceritakan mereka dengan hal yang tak mereka suka, meski itu benar, adalah ghibah. Dan itu dosa. Karena itu, para sahabat yang tahu nama mereka tak mengungkapnya. Mereka belajar keindahan akhlak dan adab ini dari Rasulullah ﷺ. Itulah tahap kedua Perang Uhud.

Itulah momen di mana kaum Muslim diuji dengan cobaan terberat dalam hidup mereka. Para mujahid terpukul dan benar-benar terkejut. Mereka tak mampu bangkit dan tercerai-berai di medan perang. Meski panik, sekitar 10–15 sahabat tetap di sisi Rasulullah ﷺ. Segelintir mukmin ini tetap bertahan, berjuang semampu mereka. Mereka berlari ke hadapan Rasulullah ﷺ untuk melindunginya dari hujan panah, tombak, dan tebasan pedang yang datang dari musuh. Di tengah kekacauan itu, sebuah batu yang dilemparkan orang kafir mengenai wajah mulia Rasulullah ﷺ, mematahkan satu gigi kanan bawah. Luka lain mengoyak dahi dan membelah bibir beliau.

Lalu, seorang kafir bernama Abdullah bin Qami'ah menebas dengan pedang, memecahkan helm Rasulullah ﷺ, hingga dua cincin besinya menancap di wajah beliau. Wajah Rasulullah ﷺ berlumuran darah. Beliau mengusap darah dengan tangannya dan berkata: "Bagaimana suatu kaum bisa beruntung setelah melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, Padahal dia menyeru mereka kembali kepada Allah?" Di sisi lain, Hamzah RA tetap berdiri melawan serangan kaum musyrik dengan sekuat tenaga. Ia berdiri teguh, menghadapi musuh tanpa rasa takut menantang mereka. Sejak awal pertempuran, ada seseorang yang mengawasi Hamzah, menunggu saat yang tepat untuk membunuhnya. Wahsyi, budak Jubair bin Muth'im.

Paman Jubair tewas di Badar. Untuk balas dendam, ia memilih Wahsyi dan berkata: "Ikutlah berperang. Jika kau bunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai balasan atas pamanku Tu'aymah bin Adi, maka kau akan bebas." Orang lain yang ingin balas dendam pada Hamzah adalah Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Ayah, paman, dan saudaranya tewas di Badar. Ia menyimpan dendam mendalam pada Hamzah dan bersumpah memakan hatinya. Ia menjanjikan Wahsyi perhiasannya sebagai hadiah. Untuk memenuhi semua dendam itu, Wahsyi dikirim ke medan perang membunuh Hamzah. Hamzah tahu ia akan bertarung hingga napas terakhir. Dengan iman, keberanian, dan keyakinan pada Allah, ia berdiri tegak menghadapi musuh.

Sementara itu, dengan tombaknya, Wahsyi terus mengitari Hamzah untuk beberapa lama. Namun mustahil untuk mendekatinya. Singa Allah itu menanamkan rasa takut di hati musuh-musuhnya dengan keberanian dan kekuatannya. "Aku adalah singa Allah!" Saat Hamzah RA menebas kaum musyrik dengan pedangnya, Wahsyi bersembunyi di balik sebuah batu. Ia ahli menggunakan tombak, dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Melihat peluang itu, Wahsyi melemparkan tombaknya dan tepat menembus dada sahabat mulia itu. Pada hari yang memilukan di Uhud itu, Hamzah pun gugur syahid. Namun Wahsyi belum berhenti. Untuk menyenangkan Hindun, istri Abu Sufyan, ia membelah dada Hamzah, mengambil hatinya dan membawanya.

Dibutakan oleh dendam, Hindun menggigit hati syuhada mulia itu dan mengunyahnya. Namun itu pun belum cukup meredakan amarahnya. Ia mendatangi jasad Hamzah RA dan dengan tindakan keji, memotong hidung dan telinganya untuk dijadikan gelang dan perhiasan kakinya. Para sahabat masih terpukul atas gugurnya Hamzah RA ketika kabar mengejutkan lainnya datang. "Aku telah membunuh Muhammad! Aku telah membunuh Muhammad! Saat para sahabat mendengarnya, mereka terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Sebagian bahkan berpikir untuk kembali ke Madinah. Benarkah Rasulullah ﷺ telah syahid? Saat mereka kebingungan, terdengar suara lantang: "Mengapa kalian duduk di sini?" Itu adalah Anas bin Nadr.

"Apa yang harus kita lakukan? Rasulullah ﷺ telah wafat." "Walau Nabi telah terbunuh, Rabb Nabi itu tidak pernah terbunuh. Lagi pula, apa arti hidup kalian setelah Nabi wafat? Mari berperang dan syahid seperti beliau." Tanpa ragu sedikit pun, ia menerjang barisan musuh. Hari itu, didorong cintanya kepada Rasulullah ﷺ, Anas pun menjadi syahid. Tubuhnya tercabik-cabik. Seusai perang, saudarinya hanya mengenalinya dari jari-jarinya. Tersentuh oleh kata-kata Anas, para sahabat bangkit kembali. Mereka ingin memastikan apakah Rasulullah ﷺ benar gugur. Mereka mencarinya ke segala arah. Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Rasulullah ﷺ?

Saat itu Rasulullah ﷺ terjatuh ke dalam sebuah lubang yang digali kaum musyrik. Karena luka-lukanya, beliau tak sanggup keluar sendiri. Akhirnya beberapa sahabat menemukannya dan menolong beliau keluar. Lalu, siapakah pria yang diteriakkan Ibnu Qami'ah "Aku membunuh Muhammad"? Mus'ab bin Umair sangat mirip dengan Rasulullah ﷺ. Sebelum perang, ia mengenakan jubah Rasulullah ﷺ dan membawa panji pasukan Muslim. Di tengah pertempuran, ia berhadapan dengan Ibnu Qami'ah dan melawannya dengan gagah berani. Ibnu Qami'ah menebas lengan Mus'ab, yang memegang panji, dan memutuskannya sekali tebas. Mus'ab lebih memuliakan panji Islam daripada nyawanya sendiri.

Ia meraihnya dengan lengan yang lain agar tak jatuh. Namun Ibnu Qami'ah menebas lagi, memutus lengan yang tersisa. Meski terasa sakit luar biasa, Mus'ab menekan panji ke dadanya dengan bahunya, berusaha tetap menegakkannya. Tapi saat Ibnu Qami'ah menebas untuk terakhir kalinya, ia pun syahid. Mus'ab bin Umair, yang mengajarkan Islam di Madinah, berjuang gagah pada hari Uhud dan menyerahkan nyawanya demi panji yang ia bela. Baginya, waktu berjuang telah usai, dan masa ganjaran telah tiba. Ibnu Qami'ah meneriakkan kata-kata itu karena mengira Mus'ab adalah Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersama beberapa sahabat berlindung di sebuah gua kecil. Di sana, Rasulullah ﷺ hanya punya dua pilihan.

Tetap diam, atau mengumpulkan kembali pasukan yang tercerai berai. Namun untuk memanggil mereka, beliau harus bersuara keras. Jika beliau melakukannya, kaum musyrik akan mendengarnya dan langsung membunuh beliau. Rasulullah ﷺ mempertaruhkan nyawa dan memilih pilihan kedua. Beliau berseru keras dan kembali mengumpulkan sahabat. Saat kaum musyrik sadar bahwa Rasulullah ﷺ masih hidup, mereka kembali berkumpul dan menghujani panah dari segala arah. Mereka ingin mengakhirinya dengan satu serangan terakhir. Namun para sahabat di sekitar Rasulullah ﷺ melindunginya dengan tubuh mereka. Siap mengorbankan nyawa mereka demi beliau. Dan ada satu sahabat lagi di sana.

Yang kelak Rasulullah ﷺ sebut tentangnya: "Ke mana pun aku memandang hari itu, kulihat ia bertarung di sisiku." Dialah ibu kita, Nusaibah. Ia melindungi Rasulullah ﷺ dengan keberanian luar biasa, melawan musuh sekuat tenaganya. Bersama suami dan anak-anaknya, ia tetap berada dekat dengan Rasulullah ﷺ. Hari itu ia menderita 13 luka, dan butuh hampir setahun untuk pulih. Semoga Allah meridainya. Hari itu, Rasulullah ﷺ memanah begitu banyak hingga busurnya pun patah. Sa'd bin Abi Waqqas berdiri di sisinya, terus memanah demi melindungi beliau.

Dia terus-terusan memanah hingga Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: "Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu." Saat kaum musyrik sadar tak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka memutuskan cara terbaik agar tak kalah lagi adalah dengan mundur. Dengan angkuh dan sombong, mereka meninggalkan medan perang. Rasulullah ﷺ terluka dan kelelahan. Beliau bahkan tak sanggup berjalan sendiri. Bersandar pada Sa'd bin Mu'adz dan Sa'd bin Ubadah, beliau perlahan menuju lereng berbatu Syi'b, tempat kaum Muslim berlindung. Beliau ingin beristirahat di sana dan memulihkan tenaga. Setelah berjalan beberapa saat, tenaga yang sedikit itu pun habis. Dua baju zirah yang dikenakan beliau terasa terlalu berat.

Saat itu, Thalhah bin Ubaidillah berlutut dan berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ. Naiklah ke punggungku. Aku kuat." Lalu ia menggendong beliau di punggungnya hingga sampai ke atas bebatuan. Pasukan Quraisy perlahan mundur dari medan perang. Setelah berkeliling medan perang, panglima mereka, Abu Sufyan, naik ke bukit terdekat dan berseru: "Apakah Muhammad masih hidup?" Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat: "Jangan jawab dia." Abu Sufyan mengulang pertanyaannya tiga kali, namun tak ada jawaban. "Apakah putra Abu Quhafah hidup?" Maksudnya Abu Bakar. Sekali lagi, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk tetap diam. "Apakah putra Khattab hidup?" Ia maksudkan Umar RA.

Tetap saja, Rasulullah ﷺ tidak mengizinkan siapa pun menjawab. "Kita telah membunuh mereka semua!" Kali ini, Umar RA tak mampu menahan diri. "Kau berdusta, wahai musuh Allah! Demi Allah, itu bohong! Mereka semua hidup! Dan ada di sini!" Saat Abu Sufyan mendengar suara Umar, ia mengerti bahwa mereka tidak terbunuh. "Jadi kalian bertiga masih hidup?" "Ya!" "Ini balasan untuk Perang Badar. Kalian menang di Badar, dan hari ini kami menang di Uhud. Begitulah perang. Kadang kalian menang, kadang kami menang. Hari ini balasan atas Badar." "Tidak! Tidak sama! Yang gugur dari kami ada di Surga!

Dan yang gugur dari kalian di Neraka!" "Tak ada yang bisa menyamakan kita, wahai musuh Allah!" "Tahun depan kita bertemu lagi, dan bertempur di Badar!" "Rasulullah ﷺ menyetujuinya. Jika Allah menghendaki, itulah tempat pertemuan kita." Lalu Abu Sufyan meninggalkan medan perang. Perang akhirnya usai. Bagi para pejuang Islam, kini saatnya beristirahat, merawat luka, dan memakamkan para syuhada. Bayangkan kau ada di sana. Coba bayangkan suasananya. Begitu banyak sahabat gugur. Sahabat yang berbagi banyak kenangan bersama, saudara yang berbagi suka dan duka, kini terbaring di hadapanmu sebagai syuhada. Saat kau berjalan di antara mereka, mengenali satu wajah demi wajah, hatimu semakin hancur.

Sebagian tubuh mereka terkoyak tak dikenali. Kenangan pun kembali menyeruak. Luka yang tak terucap. Di saat itu, satu-satunya yang menguatkanmu hanyalah keyakinan teguh bahwa kelak kau akan bertemu lagi di alam yang abadi, di rumah sejati kita, Surga, Insya Allah. Tempat jauh dari duka dan luka, tanpa perpisahan lagi. Tanpa iman pada akhirat, duka saat itu akan terasa tak tertahankan. Rasulullah ﷺ ingin tahu keadaan Hamzah di antara para syuhada. Beliau mengutus sahabat bernama Harits untuk mencarinya. Saat Harits menemukan Hamzah RA, ia terkejut. Ia tak tahu cara menyampaikannya kepada Rasulullah ﷺ tentang apa yang ia lihat. Ia duduk dan menangis tersedu.

Ketika Harits tak kembali, Rasulullah ﷺ mengutus Ali RA menyusulnya. Saat Ali melihat Hamzah RA, ia pun menangis. Bagaimana menjelaskan kondisi ini kepada Rasulullah ﷺ? Setelah menguatkan diri, ia kembali. Ia tak ingin Rasulullah ﷺ melihat Hamzah seperti itu. Namun Rasulullah ﷺ bersikeras. Beliau berjalan ke tempat Hamzah gugur syahid. Saat melihatnya, beliau berkata: "Wahai Hamzah, paman Rasulullah. Wahai Hamzah, singa Allah dan Rasul-Nya. Wahai Hamzah, yang selalu berbuat baik. Wahai Hamzah, pelindung Rasulullah. Semoga Allah merahmatimu." Hamzah selalu tegar melawan kaum musyrik, menebar rasa takut di hati mereka di medan perang. Ia selalu membela keponakannya dari hinaan Abu Jahal.

Ingat hari ia masuk Islam? Dan betapa gembiranya Rasulullah ﷺ saat itu. Kaum Muslimin selalu kuat karenanya. Namun kini ia telah syahid. Hati Rasulullah ﷺ terbakar oleh duka, air mata mengalir dari mata mulia beliau. Rasulullah ﷺ menangis lama di sana. Dalam duka manusianya, beliau berkata: "Sungguh, aku akan mencabik-cabik 30 orang dari mereka sebagai balasan.' Lalu ayat 126 Surah An-Nahl diturunkan sebagai peringatan. "Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar." Kuburan digali, shalat jenazah ditegakkan.

Rasulullah ﷺ berkata: “Kuburkanlah para syuhada di tempat mereka gugur.” Di antara syuhada ada Mus'ab bin Umair. Pembawa panji pasukan. Guru Islam pertama di Madinah. Saat Rasulullah ﷺ mengenang masa lalu Mus'ab, duka mendalam memenuhi hati beliau. Tak ada kain untuk mengafaninya. Ia hanya punya satu jubah. Saat para sahabat menutup kepalanya, kakinya terbuka. Saat kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Melihat itu, Rasulullah ﷺ berkata: “Tutuplah kepalanya dengan kain itu, dan tutuplah kedua kakinya dengan rumput idzkhir.” Mus'ab dahulu pemuda penuh harta dan kenyamanan. Namun ia tinggalkan semua demi Islam dan hijrah ke Madinah. Kini tak ada kain yang cukup untuk menutup tubuhnya.

Ia telah mengorbankan segalanya demi agama Allah. Ia serahkan semua yang ia miliki. Kini mereka meraih derajat syahid yang didambakan. Orang-orang yang tersisa, terluka dan letih, kembali menuju Madinah. Rasulullah ﷺ pernah berkata: "Mujahid sejati adalah yang berjihad melawan nafsunya." Kini jihad yang lebih besar akan mereka hadapi. Iman dan kesetiaan para sahabat akan diuji lagi. Sementara itu, masalah lain muncul di Madinah. Yahudi Bani Nadhir mulai mengancam kedamaian kota. Mereka diam-diam bersekongkol melawan kaum Muslimin. Pengkhianatan terakhir mereka jadi puncaknya. Apa rencana itu? Bagaimana Rasulullah ﷺ menanggapinya?

Hingga Allah memberi kemenangan, kaum musyrik takkan mampu mencelakai kita lagi. Ucapan Rasulullah ﷺ ini menjadi penghibur lembut, penenang hati yang masih berduka pasca Uhud. Kekalahan di Uhud membuat banyak wanita menjadi janda. Banyak ibu kehilangan putra, dan banyak anak kehilangan ayah. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meringankan derita, mendapat ketenangan hati dan penghiburan jiwa. Setiap orang mengalami kehilangan berbeda. Ada yang kehilangan suami, ayah, atau anak. Namun, dari bibir mereka terucap kata yang sama. "Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu, wahai Rasulullah ﷺ." Hati Rasulullah ﷺ masih diliputi kegelisahan.

Beliau berpikir tentang kemungkinan kaum Quraisy akan kembali dan menyerang Madinah. Kota gelisah setelah kekalahan, dan perasaan itu harus dihilangkan. Kaum Muslimin harus menunjukkan keberanian dan kekuatan mereka masih hidup. Keesokan paginya setelah kembali dari Uhud, Rasulullah ﷺ mengimami salat Subuh dan memanggil Bilal RA. Beliau memerintahkannya untuk mengumumkan: "Rasulullah ﷺ memerintahkan kalian mengejar musuh! Yang tidak ikut berperang di Uhud kemarin tidak boleh ikut. Hanya yang ikut berperang yang akan berangkat!" Hampir semua sahabat ikut berjuang di medan perang. Namun mereka terluka, Rasulullah ﷺ pun terluka, semua letih dan lemah. Baru sebentar mereka kembali dari Uhud.

Namun saat Rasulullah ﷺ memanggil lagi, tak seorang pun ragu. Di antara sahabat ada dua bersaudara yang terluka parah. Namun cinta pada jihad membuat mereka lupa rasa sakit, dan kembali berangkat. Saat salah satunya lemah berjalan, yang lain menggendongnya. Mereka melanjutkan perjalanan dengan cara seperti itu. Salah satu sahabat yang terluka parah adalah Usaid bin Hudair. Ia memiliki tujuh luka dalam yang masih terasa sakit. Seharusnya ia beristirahat dan merawat luka, namun saat mendengar perintah Rasulullah ﷺ, ia tinggalkan pengobatan dan bergabung dengan pasukan. Rasulullah ﷺ memasuki masjid dan salat dua rakaat. Lalu beliau mengenakan baju perang dan helm di kepala.

Hanya mata beliau yang tampak. Dalam keadaan itu, beliau memimpin pasukan. Rasulullah ﷺ mengutus tiga orang untuk mengintai musuh. Salah satu dari mereka terlalu lelah dan tertinggal, sementara dua lainnya terus maju dan menemukan pasukan Quraisy. Seperti yang telah diperkirakan Rasulullah ﷺ, orang-orang kafir sedang bersiap untuk menyerang kaum Muslimin. Kedua pengintai itu tertangkap dan gugur sebagai syahid di sana. Rasulullah ﷺ tiba di daerah Hamra al-Asad dan mendirikan perkemahan di sana. Beliau lalu memerintahkan para sahabat mengumpulkan kayu bakar untuk malam itu. Saat malam tiba, ratusan api dinyalakan di seluruh perkemahan.

Tujuan Rasulullah ﷺ adalah untuk menggentarkan musuh, agar mereka mengira kaum Muslimin telah mengumpulkan pasukan besar. Dan itulah yang terjadi. Hampir 500 api berkobar sepanjang malam, menebar ketakutan di hati kaum musyrikin. Mereka pun lari ketakutan. Pasukan Quraisy tak terlihat lagi. Hanya satu orang yang tertinggal. Ia tertidur. Dialah Abu Izzah, penyair yang pernah ditawan di Badar. Melalui syair-syairnya, ia mengejek dan menghina Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin, menyakiti mereka. Ia berjanji tak mengulanginya lagi dan dibebaskan tanpa tebusan. Namun ia mengingkari janjinya dan datang ke Uhud. Lewat syairnya, ia terus memprovokasi Quraisy melawan kaum Muslimin dan menghina mereka.

"Aku takkan mengulanginya! Aku berjanji takkan mengulanginya lagi!" Namun jawaban yang ia terima dari Rasulullah ﷺ tegas dan pasti. "Seorang mukmin tak disengat dari lubang yang sama dua kali. Demi Allah, aku tak akan membebaskanmu untuk kembali ke Makkah, lalu membanggakan diri, mengatakan: ‘Aku telah menipu Muhammad dua kali.’ Lalu Rasulullah ﷺ memberi perintah, dan Abu Izzah pun dihukum mati. Rasulullah ﷺ masih berada di Hamra al-Asad ketika Ma'bad bin Abi Ma'bad dari kabilah Khuza'ah, yang tinggal di wilayah Tihamah, datang menemuinya. Meski belum memeluk Islam, ia tulus dan setia kepada Rasulullah ﷺ. "Wahai Muhammad, musibah Uhud juga membuat kami berduka.

Kami berdoa semoga Allah memberimu kesehatan dan keselamatan melawan musuh." Dengan kata-kata itu, ia berusaha menghibur Rasulullah ﷺ. Ia ingin membantu kaum Muslimin. Dengan niat itu, ia melanjutkan perjalanannya. Di tempat bernama Rawha, ia mendapati Quraisy sedang bermusyawarah. Mereka berkumpul untuk menyerang kaum Muslimin. "Kita telah membunuh para sahabat Muhammad, yang terbaik dan paling berani. Namun kita belum memusnahkan mereka semua. Bagaimana kita bisa kembali ke Makkah begini? Kita harus mengejar sisanya dan menghabisi mereka!" Ketika pemimpin Quraisy, Abu Sufyan, melihat Ma'bad, ia bertanya: "Wahai Ma'bad! Berita apa yang kau bawa dari sana?

Muhammad dan para sahabatnya telah berangkat mengejar kalian dengan pasukan lebih besar dari yang pernah terlihat sebelumnya." "Celakalah aku! Apa yang kau katakan, Ma'bad?" Karena Abu Sufyan tahu Ma'bad bukan seorang Muslim, ia menyimak ucapannya dengan saksama. Namun yang ia dengar jauh dari dugaannya. Ma'bad lalu memuji pasukan Muslim melalui syair. Semakin ia berbicara, Abu Sufyan makin ketakutan. Ketakutan telah mencengkeram hati mereka, dan akhirnya, mereka membatalkan rencana menyerang kaum Muslim dan kembali ke Makkah. Dengan langkah cerdik ini, Ma'bad telah berjasa besar bagi kaum Muslim. Ia mengutus seorang dari kaumnya untuk memberi tahu Rasulullah ﷺ tentang yang telah terjadi.

Rasulullah ﷺ kembali bertindak hati-hati dan tinggal di Hamra al-Asad selama tiga malam. Saat tak melihat gerakan musuh, beliau kembali ke Madinah. Rabb kita mengingatkan hari-hari itu dalam Al-Qur'an dengan ayat: "(yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud).

Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar." (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, "Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," mereka menjawab, "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." Mereka benar-benar layak atas pujian ini. Dengan satu kata, satu perintah dari Rasulullah ﷺ, mereka mengubah seluruh hidup mereka. Kesetiaan ini terus terlihat berulang kali sepanjang Sirah Rasulullah ﷺ. Kini mereka kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.

Apakah jihad yang lebih besar itu? Yaitu perjuangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan melawan hawa nafsu. Dan kesetiaan mereka segera diuji lagi di Madinah dengan pengharaman khamar. Saat itu tahun keempat setelah Hijrah. khamar belum diharamkan. Ayat yang mengharamkannya belum diturunkan. Saat itu ada empat minuman umum di Jazirah Arab: air, susu, minuman manis (syarbat), dan anggur. Maka, anggur sudah diminum luas dan mengakar dalam budaya Arab. Orang-orang suka meminumnya, menulis syair tentangnya, dan tong-tong anggur ada di banyak rumah. Pada masa itu, itu adalah minuman biasa seperti minuman ringan zaman sekarang.

Mari kita bayangkan suasana itu melalui sudut pandang Umar RA, karena perasaannya paling bisa menggambarkan peristiwa tersebut. Ia membenci khamar dan paling ingin agar khamar diharamkan. Hal itu begitu mengusiknya hingga ia terus berdoa kepada Allah. Tapi apa yang begitu mengganggunya? Ia tak tahan melihat saudara Muslimnya dalam keadaan itu. Baginya, itu tak pantas bagi kehormatan dan martabat orang beriman. Sementara itu, sebagian sahabat juga bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum khamar dan judi, siap menaati perintah apa pun yang akan beliau beri. Umar berdoa, "Ya Allah, berikan kami ketetapan jelas tentang khamar." Tak lama, turunlah ayat pertama yang memperingatkannya.

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya." Mendengar itu, sebagian Muslim meninggalkan anggur karena bahaya, sementara yang lain masih minum, karena belum diharamkan total. Mungkin muncul pertanyaan: "Mengapa tak langsung diharamkan?" Di sinilah tampak hikmah metode Islam. Kebiasaan adiktif seperti minum khamar, sesuatu yang menyebabkan kecanduan, tak mudah ditinggalkan seketika. Untuk menghapusnya, Al-Qur'an menggunakan metode tadrij, yakni pengharaman bertahap. Rabb kita mempersiapkan kaum beriman untuk pengharaman ini sedikit demi sedikit.

Dalam proses itu, sebagian Muslim berhenti total atau mulai mengurangi konsumsinya. Itu pun adalah suatu kemajuan. Jika sesuatu tak bisa diwujudkan sekaligus, jangan ditinggalkan sepenuhnya. Sebaliknya, orang yang sangat lekat dengan khamar mungkin merasa sulit menerima Islam jika langsung diharamkan. Mereka bisa enggan meninggalkannya. Karena itu, ayat-ayat tentang khamar di Al-Qur'an turun bertahap, menjelaskan mudaratnya. Akhirnya, pada tahap ketiga, larangan yang jelas dan final pun diturunkan. Dari sudut psikologi dan ilmu tingkah laku, metode Al-Qur'an sungguh luar biasa. Kita perlu mengingatnya.

Bahkan salat lima waktu pun baru diwajibkan sekitar setahun setengah sebelum Hijrah, pada malam Isra dan Mi'raj. Sekitar 11 tahun setelah Rasulullah ﷺ mulai menerima wahyu. Mereka mempelajari tujuan penciptaan, alasan manusia diutus ke dunia, misi kenabian sejak manusia pertama hingga masa mereka, nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta hakikat tawakal dan tafakur. Mereka belajar tentang Akhirat, Surga dan Neraka. Metode yang menempatkan iman sebagai inti. Yang menjadikan iman pelajaran pertama, tak mungkin gagal. Dan setelah fondasi kuat itu ditanamkan, perintah seperti salat, zakat, puasa, hijab, atau larangan khamar tak lagi terasa seperti beban bagi para sahabat.

Mereka beribadah bukan karena terpaksa atau enggan, melainkan dengan semangat dan cinta. Saat waktu salat tiba, seruan dibuat atas perintah Rasulullah ﷺ: "Rasulullah berkata, janganlah kalian mendekati salat ketika kalian dalam keadaan mabuk." Namun, seorang Muslim minum malam itu dan tetap salat. Umar RA kembali merasa sangat sedih dan gelisah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengangkat tangan dan berdoa. "Ya Allah, berikan kami hukum yang jelas tentang khamar." Akhirnya, perintah yang lama dinantikan diturunkan dalam ayat berikut: "Wahai orang-orang yang beriman!

Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?" Inilah tahap ketiga dan terakhir larangan khamar. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Atas perintah Rasulullah ﷺ, seorang penyeru berjalan di jalanan Madinah, mengumumkan: "Dengarlah wahai manusia!

Khamar telah diharamkan!" Salah satu saksi hari itu, Anas bin Malik, berkata: "Saat kaum Muslim mendengar, mereka langsung menumpahkan seluruh khamar di rumah mereka. Mereka memecahkan bejana dan menghancurkan tempayan. Khamar mengalir di jalan Madinah seperti sungai. Sejak saat itu, umat Muslim memusnahkan semua anggur yang mereka punya." Terkadang kau hanya perlu berkata dengan tulus dan tegas: "Aku tinggalkan, ya Rabb. Apa pun dosanya, jika Engkau tak meridai, aku tinggalkan. Tubuh ini milik-Mu. Ini amanah dari-Mu. Aku hanya menjaganya sementara. Engkaulah satu-satunya yang ingin kupatuhi, Aku tak mau mematuhi nafsu atau orang-orang di sekelilingku.

Mereka meninggalkan sesuatu demi cinta dan rida Rabb mereka. Karena yang berkorban demi Allah akan menang." Bisa kau lihat betapa dalam perintah Al-Qur'an dan Rasulullah ﷺ telah memengaruhi mereka? Kini, untuk meninggalkan kebiasaan kecil saja, orang mendatangi terapis dan pakar, namun seringnya tetap gagal. Lalu, bagaimana satu ucapan punya daya sebesar itu? Hingga mampu mencabut kebiasaan mengakar di masyarakat. Bukankah itu tanda nyata kekuatan ilahi di belakangnya? Ingat, anggur termasuk empat minuman utama saat itu. Menyingkirkan sesuatu yang begitu umum hampir mustahil. Dengan hukum ilahi yang turun, satu orang mengubah masyarakat dari kegelapan dan membawa mereka menuju cahaya.

Tentang keberhasilan luar biasa ini, ulama besar Bediuzzaman Said Nursi berkata: "Katakanlah mereka membawa seratus filsuf, pergi ke sana, dan biarkan mereka bekerja seratus tahun. Mampukah mereka meraih satu persen dari yang ia capai setahun?" Syiar-syiar Islam, simbol-simbol Islam, hukum dan aturannya, tegak satu per satu melalui perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Sementara itu, Rasulullah ﷺ tetap waspada setelah Perang Uhud, mengambil setiap langkah demi keamanan Madinah. Meski kaum Muslimin kian bertambah hari demi hari, masih ada beberapa kabilah Yahudi di sekitar kota. Salah satunya adalah Bani Nadhir, kabilah kaya dan berpengaruh, keturunan Harun AS.

Mereka tinggal di benteng-benteng kuat di jalur menuju Makkah, sekitar dua jam dari Madinah. Mereka memiliki perjanjian dengan Rasulullah ﷺ. Mereka tak akan melawan kaum Muslimin atau bersekutu dengan musuh. Meski begitu, mereka tetap diam-diam bersekutu dengan Quraisy dan kaum munafik Madinah. Terutama setelah Perang Uhud, mereka semakin erat bersekutu dengan musyrikin dan munafik. Karena ini dan kejadian lain, Rasulullah ﷺ terus mengawasi mereka. Untuk menguji kesetiaan Bani Nadhir pada perjanjian Madinah, Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat. Saat tiba di permukiman mereka, orang-orang Yahudi menyambut hangat. Mereka bahkan menegaskan akan menepati perjanjian.

"Kami bersamamu, kami pegang janji dan kesepakatan." Namun saat mereka menjauh, mereka mulai berbisik satu sama lain. "Inilah kesempatan yang tepat untuk membunuhnya. Mari naik ke atas atap sekarang, jatuhkan batu dan singkirkan dia." Saat itu, salah satu pemimpin mereka, Sallam bin Misykam, berkata, "Demi Allah, jika kalian lakukan, wahyu akan memperingatkannya. Itu juga berarti melanggar perjanjian antara kita dan dia. Dengarkan aku, hentikan rencana ini. Jika tidak, itu berarti kehancuran Yahudi dan kemenangan Islam berlanjut hingga Hari Kiamat." Sebagaimana ucapannya, rencana pengkhianatan itu diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ oleh malaikat Jibril.

Rasulullah ﷺ tiba-tiba berdiri tanpa berkata apa pun, lalu menjauh dari rumah itu seolah ada urusan. Beliau langsung kembali ke Madinah. Para sahabat menunggu sejenak, mengira beliau akan kembali. Tapi saat mereka sadar beliau tak kembali, mereka pun bangkit dan pergi juga. Dengan rencana jahat itu, suku Bani Nadhir jelas menunjukkan bahwa mereka tak lagi setia pada perjanjian. Ditambah lagi kerja sama rahasia dengan kaum munafik dan dukungan pada kaum musyrikin tak bisa diterima. Rasulullah ﷺ memanggil Muhammad bin Maslamah dan memerintahkannya pergi ke Bani Nadhir, dan memberi tahu bahwa mereka punya 10 hari untuk keluar dari Madinah.

"Rasulullah ﷺ berkata: Kalian punya 10 hari keluar." Saat Bani Nadhir mendengarnya, mereka tak membantah. Mereka setuju untuk pergi dan mulai bersiap. Saat pemimpin munafik, Abdullah bin Ubayy, mengetahui ini, ia sangat gelisah. Jika mereka pergi ia kehilangan sekutu, dan kekuasaan Muslim akan semakin kuat. Ia menyusun rencana licik dan tanpa membuang waktu, ia mengirim pesan ke Yahudi. "Jangan tinggalkan rumah atau harta kalian. Aku kirim 2.000 orang dari suku Arab untuk membantu kalian. Mereka akan bertempur dengan kalian hingga hembusan napas terakhir. Yahudi Bani Qurayzhah juga akan membantu." Karena takut, pemimpin munafik itu mengirim pesan rahasia.

Saat Bani Nadhir menerimanya, mereka tak jadi hijrah. Mereka mengirim pesan kepada Rasulullah ﷺ, berkata: "Kami tak akan pergi! Lakukan sesukamu!" Setelah jawaban itu, tindakan pun jelas. Benteng dikepung, Bani Nadhir dipaksa keluar. Setelah persiapan selesai, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menuju wilayah Bani Nadhir. Usai salat Asar di kebun-kebun mereka, beliau mengepung benteng dan mengulang perintahnya. "Tinggalkan Madinah." Bani Nadhir bukan hanya menolak perintah Nabi, mereka menjawab menantang: "Mati lebih ringan bagi kami daripada memenuhi permintaanmu. Kami lebih memilih mati." Para Yahudi terjebak dalam benteng berhari-hari. "Tak ada lagi jalan bagi kita.

Kita harus menyerah, dan tak ada pilihan lain." Bantuan yang dijanjikan oleh pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubayy, tak pernah datang. Dan memang tak akan datang. Memang itulah sifat kaum munafik: Ingkar janji, berdusta, menipu. Lagi pula, mengharap bantuan dari pengkhianat atau mempercayainya adalah sia-sia. Tentu saja, semua ini bukan hal mengejutkan. Sadar tak mampu bertahan, para Yahudi menyerah dan memohon untuk tak disakiti. Rasulullah ﷺ menerima permintaan mereka, dan tak seorang pun disakiti. Beliau membolehkan mereka membawa harta sebanyak yang unta mampu bawa, kecuali senjata mereka. Saat hendak meninggalkan Madinah, asap membumbung di langit. Dari mana asalnya?

Tak butuh lama untuk mengetahuinya. Para Yahudi membakar rumah-rumah mereka agar tak ada kaum Muslim yang menempatinya setelah mereka pergi. Meski nyawa mereka selamat, mereka meninggalkan Madinah dengan amarah dan kebencian. Namun permusuhan belum berakhir. Kelak akan muncul kembali. Di belakang mereka, sekutu mereka, kaum munafik, berduka. Suku Yahudi yang bekerja sama secara rahasia dengan mereka melawan Muslim kini telah sirna. Namun mereka tak berhenti mencari cara-cara lain untuk menyebar kekacauan dan fitnah. Masalah bukan hanya kaum munafik. Musuh-musuh Islam mengenyampingkan perbedaan mereka dan menyatukan kekuatan untuk melenyapkan kaum Muslimin.

Pertempuran besar menanti Nabi dan para sahabat. Taktik yang belum pernah ada, proses persiapan berat dan pengkhianatan. Siapa yang menang kali ini? Akankah kaum musyrik akhirnya mencapai tujuan mereka? Kita saksikan di episode berikutnya, Insya Allah. Nantikan terus.
