# Saya Meninggalkan Seorang Miliuner Arab demi Islam - Kisah Masuk Islam Mantan Kristen seperti Film

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/i-left-private-jets-vip-life-for-islam-ex-christian-germans-conversion-to-islam
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=4OEzXBJmJgI
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Aku bersekolah di sekolah Katolik. Aku tak merasa benar-benar punya hubungan dengan Tuhan. Aku sedang duduk di sebuah kafe di London. Di seberang kami, ada dua pria muda. Dia berasal dari keluarga bangsawan dan salah satu keluarga Arab terkaya. Sejak saat itu, seluruh hidupku berubah total. Terkadang terbang dengan jet pribadi, pesawat pribadi. Aku pernah terbang dengan Concorde. Kami punya sopir, pembantu, koki. Semua yang bisa dibayangkan. Jujur saja, percakapan-percakapan itu, benar-benar mengubah cara pikirku! Jadi, aku mulai membeli buku tentang Islam. Dan semakin dibaca, rasanya semakin menakjubkan. Menghubungkan semua hal itu terasa sangat masuk akal bagiku.

Dan ada siaran langsung salat dari Makkah. Syekh Sudais sedang melantunkan Al-Qur’an. Dan itu langsung menyentuhku, begitu saja, dan aku mulai menangis. Menangis dan terus menangis. Jadi aku mendatanginya dan berkata, apa yang kita lakukan di sini adalah perbuatan haram (terlarang), dan kita harus menikah, atau aku harus pergi. Dan dia mengatakan bahwa dia belum siap untuk menikah. Dan pada saat itu, aku tahu, aku tak bisa melakukannya lagi. + Assalamu'alaikum saudari Patricia Venco, selamat datang di Towards Eternity. Kami sangat senang kamu bersama kami. Aku ingin memulai dengan, siapa Patricia Venco? Bisa ceritakan secara singkat kehidupanmu?

- Wa'alaikumussalam Terima kasih banyak atas undangannya. Aku sangat senang berada di sini. Tentangku, aku seorang mualaf asal Jerman. Ayahku sebenarnya orang Yunani, dan ibuku orang Ceko. Aku tumbuh di lingkungan Kristen yang sangat liberal. Pada usia 20 tahun, aku memeluk Islam. Di usia 50, aku mulai belajar psikologi kesehatan, dan kemudian menjadi salah satu pendiri Unaya, perusahaan suplemen. Dan sekarang, aku membagikan semua pengetahuan dan pengalamanku di media sosial sebagai penasihat kesehatan. + Bagaimana hidupmu sebelum memeluk Islam? Bisa bawa kami kembali ke masa itu? - Aku bersekolah di sekolah Katolik. Jadi aku tumbuh secara Katolik dan membaca kisah-kisah para nabi.

Orang tuaku bercerai saat aku masih sangat kecil, dan aku dibesarkan ibuku. Ibuku berdoa kepada Tuhan, merayakan Paskah dan Natal. Jadi, bisa dibilang Tuhan selalu ada. Aku tahu Dia ada, tapi aku tak pernah benar-benar mendalaminya. Aku tak pernah benar-benar bertanya apa arti iman sebenarnya. Aku tak merasa benar-benar punya hubungan dengan Tuhan. Itu lebih ke tradisi yang menjadi bagian dari hidupku, seperti merayakan Natal, selalu merasa sangat senang dengan hadiah, tentunya. Di Jerman, sebenarnya setiap orang yang bekerja dan menganggap dirinya seorang Kristen, harus membayar pajak ke gereja.

Tapi karena ibuku juga keluar dari gereja pada suatu titik, dia berkata, "Kenapa aku harus memberi uang untuk mengimani Tuhan? Kau tahu, kenapa aku harus membayar pajak untuk melakukan itu?" Jadi dia meninggalkan gereja meskipun tetap percaya pada Tuhan. + Bagaimana kamu pertama kali mengenal Islam, dan bagaimana perjalanan itu dimulai? - Aku rasa perjalananku cukup tak biasa. Itu dimulai saat liburan musim panas. Aku pergi ke Inggris untuk kursus bahasa, dan sehari sebelum kembali ke Jerman, aku duduk di sebuah kafe di London bersama seorang teman. Dan di seberang kami, ada dua pria muda.

Mereka mendekati kami, kami mulai berbincang, bertukar nomor telepon, dan sejak saat itu, hidupku berubah total. 180 derajat. Aku tetap berhubungan dengan salah satu dari mereka, dan kemudian dia memberi tahuku bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan dan salah satu keluarga Arab terkaya. Dan akhirnya kami menjalin hubungan selama lebih dari empat tahun. Dan itu benar-benar tahun-tahun paling gila dalam hidupku. Maksudnya, aku seorang gadis muda dari Jerman, tiba-tiba menjalani kehidupan seperti “putri”. Dan rasanya seperti dongeng. Maksudnya, setiap gadis ingin menjadi putri, bukan? Jadi ya, kami benar-benar menjalani gaya hidup yang sangat eksklusif.

Seperti menikmati layanan VIP di seluruh dunia, kadang naik jet pribadi, pesawat pribadi, aku pernah naik Concorde. Kami punya sopir, pembantu, koki. Semua yang bisa kau bayangkan. Bahkan aku pernah bertemu Michael Jackson. Kekasihku saat itu memiliki ketertarikan besar pada mobil sport mahal. Jadi terkadang kami berkendara keliling London dengan menaiki Rolls Royce berwarna cerah atau dengan mobil Jaguar terbaru untuk mengunjungi kafe. Di mana itu adalah hal menakjubkan, gaya hidup yang terasa gila. Dan bahkan kami berkendara di Los Angeles dengan Harley-Davidson kuning tanpa helm. Ya, dahulu itu sungguh gila. Dan kau tahu, keluarganya selalu bersikap baik padaku.

Dan yang paling aku suka dari mereka adalah ikatan keluarga mereka yang sangat kuat. Meskipun dia tidak terlalu taat agama, dia masih menjalankan banyak nilai-nilai utama Islam. Jadi, kami sering membahas tentang agama, tentang wanita, pria, rasa hormat, dan martabat. Dan sejujurnya, perbincangan-perbincangan itu, benar-benar mengubah cara pikirku. Maksudnya, awalnya aku tak tahu banyak tentang Islam. Semua pikiran umum tentang Islam ada di benakku bahwa wanita tak dihargai dan patut dikasihani, dan mereka dipaksa menutup tubuh.

Tapi semakin dia menjelaskan betapa berharganya perempuan dalam Islam dan bahwa kesederhanaan bahkan bisa menjadi bentuk kebebasan, semakin aku mulai mempertanyakan hidupku sendiri. Karena memang, jika kecantikan ditentukan oleh mode dan industri kecantikan, seberapa bebas aku sebenarnya? Apakah aku benar-benar bebas memilih siapa yang boleh melihat tubuhku? Apakah aku sebebas itu, atau hanya ilusi? Dan apa yang terjadi jika aku memilih untuk tak menampilkan semuanya, misalnya saat melamar pekerjaan? Maksudnya, apakah penampilan luar benar-benar lebih penting daripada nilai dan kualitas dalam diriku?

Dan seiring waktu aku menyadari bahwa perempuan di Barat mulai bersaing dengan pria, mencoba menjadi seperti pria hanya karena mereka tidak benar-benar diberi nilai dan hak yang layak sebagai perempuan. Dan di situlah perjalanan batinku sebenarnya dimulai, dengan kesadaran bahwa ada cara lain untuk berpikir, menjalani gaya hidup, dan pendekatan terhadap sesuatu. Saat itu, saat aku mengunjungi negaranya, rasanya cukup membosankan. Tidak ada media sosial atau semacamnya saat itu, dan tak banyak yang bisa dilakukan. Jadi aku mulai membeli buku. Dan juga versi lama kaset VHS besar tentang Islam. Itulah yang tersedia di sana.

Dan pada saat itu, Syekh Ahmed Deedat dan Profesor Jeffrey Lang, mereka adalah pendakwah terkenal. Jadi, aku menonton beberapa ceramah mereka, video ilmuwan yang masuk Islam. Aku menonton video tentang mukjizat Al-Qur’an. Dan semakin sering aku menonton dan membaca, semakin aku menyadari ini tidak mungkin berasal dari selain Tuhan. Maksudku, seorang pria buta huruf di padang pasir lebih dari 1.400 tahun lalu tidak mungkin mengetahui tentang api di kedalaman laut, atau bahwa gunung memiliki akar dalam yang menstabilkan kerak bumi, atau bahwa matahari menghasilkan cahayanya sendiri sementara bulan hanya memantulkannya. Itu benar-benar membuka pikiran. Lalu aku mendalami lebih jauh.

Aku mulai membandingkan agama karena aku pikir, bagaimana dengan Kristen? Dan saat itu sebenarnya pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar mencari konsep Tuhan. Aku mulai membaca Alkitab. Itu pertama kalinya. Dan aku menonton banyak debat oleh Syekh Ahmed Deedat. Maksudku, dia sangat kuat dalam membandingkan ayat Alkitab dan Al-Qur’an serta Perjanjian Lama dan kitab-kitab lainnya. Dia sangat berpengetahuan tentang kembali ke ajaran asli. Aku juga menyadari bahwa ajaran asli Yesus AS adalah menyembah satu Tuhan. Dia tidak pernah mengatakan dirinya satu dari tiga, tidak pernah mengklaim dirinya Tuhan. Jadi hal-hal itu berubah jauh kemudian. Namun ajaran aslinya sama.

Dan juga cara dia berdoa, atau bahwa dia berpuasa, tidak makan babi. Banyak sekali kesamaan. Atau Maryam, ibu dari Yesus. Dia adalah salah satu teladan terbesar kita. Dan dari luar pun, dia selalu tertutup. Jadi seperti yang aku katakan, semua hal itu jika digabungkan, semuanya masuk akal. Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal. Dan pada suatu titik aku menyadari sesuatu yang sangat penting. Bahwa pesannya selalu sama. Sumbernya selalu sama. Dari Adam hingga Musa, Yesus, hingga Muhammad SAW Dan aku memahami bahwa aku tidak perlu memilih di antara agama-agama itu karena jika aku seorang Muslim, aku otomatis percaya pada ajaran sejati Kristen dan Yahudi.

Seorang Muslim bukanlah Muslim jika tidak percaya pada Yesus dan Musa dan semua nabi sebelumnya. Jadi, menghubungkan semua petunjuk itu terasa sangat masuk akal bagiku. Namun di sisi lain, aku juga merasakan sesuatu dengan sangat dalam. Dan Islam berbicara pada kedua sisi diriku. Lalu ada momen yang sangat, sangat istimewa di negaranya. Aku ingat seperti baru kemarin. Aku ingin menyalakan TV, jadi aku mengambil remot, menyalakannya, dan ada siaran langsung salat dari Makkah. Dan aku rasa itu pertama kalinya aku benar-benar memperhatikan. Syekh Sudais sedang melantunkan Al-Qur’an. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana suaranya bergetar.

Kau bisa merasakan kekaguman dan cinta kepada Allah di setiap kata. Lalu aku melihat semua umat Muslim itu. Mereka berdiri berdampingan, melakukan rukuk, merendahkan diri mereka di hadapan Tuhan, bersatu. Dan beberapa dari mereka bahkan menangis. Dan itu langsung menyentuhku. Dan aku mulai menangis. Menangis dan terus menangis. Dan aku tidak mengerti satu kata pun yang dia ucapkan. Tapi aku rasa hatiku mengerti. Dan jiwaku juga paham. Dan rasanya seperti bayi yang tak mengerti kata-kata ibunya, tapi mengenalinya. Dan itulah yang aku rasakan. Saat itu aku tahu. Aku benar-benar tahu. Allah benar-benar ada. Dan Dia adalah satu-satunya kebenaran. + Bagaimana perasaanmu saat mengucapkan syahadat?

- Aku kembali ke Jerman ke sebuah masjid kecil di halaman belakang. Imamnya sangat baik, dia tersenyum dan menyambutku. Kami duduk melingkar di lantai, dan dia mengajukan beberapa pertanyaan, apakah aku tahu tentang Islam, apakah aku dipaksa, atau aku melakukannya dengan sukarela. Ya, lalu dia memintaku membaca syahadat. Dan aku masih ingat, aku merasa sangat ringan. Seperti kelegaan yang sangat, sangat dalam. Seolah jiwa aku berkata, “Ah, akhirnya.” + Lalu bagaimana hubunganmu berlanjut setelah kamu masuk Islam? Apakah kamu memberitahunya? - Ya, aku memberitahunya, dan dia juga menyadarinya. Karena cintaku kepada Allah SWT tumbuh setiap hari. Dan aku mulai berpuasa, mulai salat.

Namun itu juga membuatku semakin tidak nyaman dengan kehidupan “putri” yang mewah karena pergi ke klub malam dengan hijab terasa tidak masuk akal. Jadi di awal aku mencoba mencari jalan tengah. Saat di Jerman, aku memakai hijab. Dan saat bersama dia, aku melepasnya. Dan dia tidak masalah dengan itu, dia bilang dia tidak ingin aku memakai hijab saat bersamanya. Aku bilang oke. Tapi jauh di dalam, itu terasa tidak benar. Hal itu menimbulkan pergulatan besar di hatiku. Karena aku tak bisa jalani dua kehidupan beda sekaligus dan bahagia. Dan aku juga menyadari seiring waktu, semakin dekat aku dengan Allah, justru semakin terasa jarak antara aku dan dia.

Lalu suatu hal terjadi, dan aku tahu hal ini bisa menjadi akhir. Aku semakin banyak membaca tentang Islam, berusaha belajar. Dan aku ingat menutup buku itu dan berpikir, “Oke, ada yang benar-benar salah di sini. Aku tak bisa melakukan ini lagi, aku tak bisa mengabaikan ini.” Jadi aku mendatanginya dan berkata, “Apa yang kita lakukan ini adalah perbuatan haram, dan aku tidak bisa melanjutkan ini. Kita harus menikah, atau aku harus pergi.” Dan dia mengatakan bahwa dia belum siap menikah. Tapi kita bisa lanjut seperti sebelumnya. Dan saat itu, aku langsung sadar. Aku tidak bisa. Tidak bisa lagi. Jadi aku mengemasi barang, dan pergi.

+ Lalu bagaimana perasaanmu saat pulang ke rumah dan meninggalkan hubungan yang berlangsung selama empat tahun? - Itu benar-benar masa yang berat. Terasa seperti bencana, karena aku pulang dan bahkan tidak punya tempat lagi di rumah ibuku. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus dilakukan di hidupku? Karena aku baru lulus SMA tapi belum melanjutkan pendidikan. Tak ada lagi jalan-jalan, tak ada jet pribadi, tak ada layanan VIP, tak ada apa-apa. Aku merasa seperti tamu di rumah sendiri karena aku tinggal bukan hanya selama satu minggu, dua atau tiga minggu, aku dulu sering bolak-balik. Sekarang aku tinggal di sana, seperti, selamanya.

Memasak, membersihkan rumah, semuanya harus dilakukan sendiri terus-menerus. Dan itu sangat sulit. Dan menyadari bahwa semuanya sudah berakhir. Dan harus bagaimana sekarang. Jadi aku berpikir, aku akan belajar Islam. Aku masuk universitas dan ya, entah kenapa aku tidak begitu yakin. Aku berpikir, apakah aku benar-benar bisa? Dan tidak lama setelah itu aku bertemu suami aku sekarang. Jadi aku sebenarnya belum memulai apa pun. + Seberapa sulit bagimu menjalani gaya hidup Islam, seperti menghindari hal haram dan salat lima waktu? - Ya, jujur saja, aku tidak merasa itu sulit. Karena aku benar-benar yakin, dan sampai sekarang juga, bahwa aturan yang Allah SWT berikan penuh dengan hikmah.

Semua itu ada demi kebaikan umat dan khususnya kebaikan perempuan, untuk perlindungan perempuan, karena mereka sudah pasti kaum yang lebih rentan. Perempuan telah diberi begitu banyak hak dalam Islam lebih dari 1400 tahun lalu. Hak untuk mewarisi, hak untuk memilih suami, hak untuk bercerai, hak untuk memiliki dan mengelola hartanya sendiri, bahkan tanggung jawab untuk mendidik diri. Hak-hak ini bahkan baru diperoleh perempuan di Eropa belakangan ini. Jadi kembali ke pertanyaanmu, menjalani gaya hidup Islam, sebagai contoh, mengenakan hijab sebenarnya keputusan yang aku ambil di bus.

Aku masih sangat ingat, aku sedang duduk dan melihat orang-orang di sekitar, dan aku berpikir, apakah aku takut memakai selembar kain di kepalaku karena apa yang orang pikirkan atau katakan? Atau aku lebih peduli dengan apa yang Allah pikirkan dan katakan? Dan jawabannya sangat jelas bagiku. Jadi aku mulai mengenakan hijab keesokan harinya. Dan aku sangat gugup. Aku ingat jantungku berdegup. Namun ternyata jauh lebih mudah dari yang aku bayangkan. Itu memberiku rasa utuh yang sangat dalam karena aku mengekspresikan di luar apa yang aku rasakan di dalam. Jadi memang terasa lebih mudah untuk memulai dengan langkah mengenakan hijab.

+ Apakah kamu pernah mengalami momen luar biasa di mana kamu merasakan hubungan khusus dengan Allah? - Oh ya. Beberapa kali. Misalnya setelah aku bercerai. Aku dan anak-anak harus memulai dari nol. Tanpa uang, tanpa tabungan, tanpa pekerjaan, tanpa dukungan keluarga. Tidak ada yang membantu. Aku harus pindah ke kota baru dan mencari tempat tinggal. Dan siapa pun yang pernah mencoba menyewa tempat di kota itu tahu betapa mustahilnya hal itu. Maksudku, mereka meminta bukti penghasilan, deposit, jaminan. Aku tidak punya semua itu. Dan benar-benar ada begitu banyak iklan bahkan dari orang-orang berpendidikan tinggi dengan penghasilan stabil yang putus asa mencari tempat tinggal.

Aku bersumpah demi Tuhan, ini terasa seperti misi yang tidak mungkin. Dan aku ingat dengan jelas. Aku sedang duduk di depan komputer, sedang merencanakan untuk melihat iklan penyewaan, dan pada saat itu, aku benar-benar berserah dan yakin. Dan aku berkata, “Ya Allah, tuntunlah aku. Tunjukkan ke mana harus pergi. Dan tempat pertama yang kudapat, akan kuambil karena Engkau tahu yang terbaik bagi kami.” Dan itu hari Kamis. Aku mengecek, dan itu pertama kalinya aku mengecek. Dan hanya ada satu iklan baru. Sebuah rumah indah, cukup besar untuk kami dan harganya terjangkau.

Aku mengirim pesan ke pengiklan, dan mereka bilang aku bisa datang Sabtu antara pukul 10 sampai 12 siang, tapi memperingatkanku bahwa banyak orang yang akan datang, jadi siapkan waktu yang cukup. Aku bilang, tidak masalah. Silakan kirimkan alamatnya. Di hari Jumat, aku cek alamatnya, dan tahu apa yang terjadi? Orang itu menambahkan catatan di iklan, "Untuk semua yang tertarik, Silakan hubungi saya kembali karena semua email terhapus oleh sistem.” Aku pikir, hah? Aneh sekali. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya karena lebih khawatir tentang apa yang akan aku kenakan. Aku merasa sangat ragu soal hijab. Aku berpikir, "Bagaimana jika aku mengenakan hijab yang sedikit longgar?

Agak longgar ke belakang? Atau cara biasa sampai ke depan? Aku tidak ingin terlihat terlalu religius, karena ini Jerman. Ada cukup banyak rasisme. Lalu aku berkata, “Ya Allah, semua ini di tangan-Mu.” Dan aku mengenakannya dengan cara biasa. Jika kami memang ditakdirkan tinggal di rumah yang indah itu, Engkau akan mewujudkannya. Jadi, hari Sabtu pagi, karena ada janji lain dan jalanan macet sekali, aku datang terlambat. Pukul 10:45. Keluarga itu membuka pintu, tersenyum dan berkata, “Selamat datang, Anda yang pertama.” Aku berpikir, “Apa? Bukannya banyak yang datang?” Baru kemudian aku paham bahwa banyak orang tidak mendapat alamat karena email mereka terhapus. Subhanallah.

Singkat cerita, penyewa sebelumnya ingin merekomendasikan orang pertama yang mereka sukai kepada pemilik rumah. Subhanallah. Dan pagi itu, aku yang pertama tiba dan mereka menyukaiku. Jadi melawan segala kemungkinan, kami mendapatkan rumah itu. Dan aku bersumpah demi Allah, rumah itu sangat indah. Taman luas, tetangga Muslim yang baik. Semua yang kami butuhkan ada di dekat kami. Dan aku benar-benar menangis karena bersyukur setiap hari. Karena akhirnya aku bisa memberi anak-anak rumah yang damai dan indah. Banyak orang mencari bertahun-tahun dan tidak pernah mendapat tempat. Namun ketika kau membiarkan dirimu benar-benar berserah sepenuhnya, barulah Allah akan menolongmu.

Dan itu perasaan yang sangat indah. Sangat sulit untuk mencapainya. + Saudari Patricia, perjalanan Islammu juga memengaruhi perjalanan kesehatanmu. Bisakah kamu ceritakan lebih lanjut? - Setelah 20 tahun pernikahan yang toksik dan membesarkan anak-anak, aku benar-benar jatuh ke titik terendah. Dan tubuhku ambruk. Aku mengalami penyakit autoimun, Hashimoto dan psoriasis. Aku mengalami peradangan kronis dan benar-benar merasakan sakit setiap siang dan malam. Ada saat-saat aku tidak bisa salat berdiri lagi. Aku harus duduk. Aku mengalami rambut rontok, masalah jantung, kabut otak, dan kelelahan mendalam. Tidak peduli selama apa aku tidur atau minum kopi.

Dan setiap ke dokter, dia hanya berkata, “Bagaimana kabarmu?” dan aku langsung menangis. Suatu kali dokter itu menatapku dan berkata, “Jika kau terus seperti ini, kau akan masuk rumah sakit karena kelelahan atau kanker.” Itu sangat menakutkan bagiku. Karena saat itu, aku sangat takut menderita kanker. Dan saat itu aku mengalami lagi salah satu keajaiban hidupku. Aku bekerja di depan komputer dan ibuku mencoba menghibur. Dia bilang lewat telepon, “Coba lihat Facebook ibu, ibu memposting sesuatu yang lucu.” Aku tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Sama sekali tidak pernah. Aku tidak punya waktu. Tapi saat itu, sesuatu yang sangat spesial terjadi.

Dan aku masih mengingatnya hingga kini. Seolah ada seseorang yang mengarahkan tanganku, menggerakkan mouse. Aku membuka profil ibuku, menggulir sedikit, dan tiba-tiba muncul judul: “Terobosan dalam penelitian kanker. Menyembuhkan kanker dengan buah beri.” Sejak saat itu, aku mendalami penelitian dan kesehatan holistik. Aku sangat tertarik pada kesehatan. Aku terobsesi untuk memahaminya. Aku ingin tahu bagaimana tubuh bekerja, bagaimana menghubungkan semuanya. Aku mencoba ratusan jenis suplemen, mencoba segalanya, mengubah segalanya. Aku mengikuti pakar kesehatan dari seluruh dunia yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit kronis dan penyakit autoimun.

Dan kini aku di sini, Alhamdulillah, semuanya berhasil. Dengan izin Allah. + Apa itu biofilm dan proyek apa yang sedang kamu kerjakan saat ini? - Biofilm pada dasarnya adalah kotoran lengket di usus yang bisa membuatmu sakit. Dan dari pengalamanku, hampir semua orang memilikinya. Mungkin kamu juga. Ngomong-ngomong, biofilm bukan hal baru. Coba bayangkan pipa saluran air di bawah wastafelmu. Selalu ada lapisan licin dan bau yang menempel di dinding dalamnya, kan? Hal serupa, lapisan berlendir juga bisa terbentuk di sepanjang dinding dalam ususmu, tempat sebagian besar sistem imun berada. Dan itu bisa jadi masalah besar.

Aku benar-benar percaya bahwa biofilm adalah salah satu topik yang paling terabaikan dalam kesehatan. Bahkan penelitian yang dipublikasikan American Health Institute menunjukkan hingga 80% infeksi kronis dalam tubuh melibatkan biofilm. Ini luar biasa. Itulah sebabnya menghilangkan biofilm di saluran pencernaanku mengubah segalanya. Dan ketika kamu menghilangkannya dengan produk pembersih ususku, kamu bahkan bisa mengeluarkannya dan memegangnya di tangan. Aku sangat menyukainya. Kamu harus mencobanya. Jadi masalahnya adalah dengan gaya hidup zaman sekarang dan makanan yang kita konsumsi, makanan olahan, justru memberi makan bakteri jahat bukan bakteri baik.

Jadi jika ingin mengurangi kemungkinan biofilm terbentuk dan berkembang, beri makan bakteri baik. Mereka menyukai yang alami, makanan asli, makanan utuh. Apa pun yang alami dan bersih, makanlah. Yang lain, tinggalkan. Dengan begitu kamu memberi makan bakteri baik. + Jadi apa arti Islam dan kedokteran bagimu? - Aku benar-benar percaya bahwa Allah SWT menciptakan tubuh yang luar biasa ini untuk membawa kita menjalani hidup. Ini adalah anugerah dari Allah. Dan satu hal yang aku sadari selama perjalanan kesehatanku adalah tubuh kita selalu berusaha melindungi kita.

Aku berharap dunia medis lebih fokus mendukung proses penyembuhan yang Allah sudah tanamkan dalam diri kita, bukan hanya mengobati gejala. Maksudnya, kenapa tidak mencoba untuk memahami apa yang dilakukan tubuh kita? Kenapa tubuh tiba-tiba meningkatkan kolesterol? Kenapa reseptor insulin merespons lebih sedikit? Mengapa tekanan jantung meningkat? Siapa yang menanyakan itu? Dan jika kamu mencari jawabannya, kamu akan kagum karena tubuhmu tidak sedang gagal. Sering kali justru menyelamatkanmu dari hal yang lebih buruk. Dan aku sedih bahwa kita sebagai Muslim punya panduan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, bahkan seberapa banyak.

Dan kalau tidak salah, hanya ada empat ayat dalam Al-Qur'an yang membahas tentang makanan yang halal. Tapi selalu disertai dengan yang thayyib (baik). Artinya makanan yang baik. Jadi apa yang benar-benar baik sekarang? Apakah gula halal? Ya. Tapi apakah ia baik? Tidak. Apakah makan daging itu halal? Semoga saja. Tapi apakah makan daging setiap hari itu baik? Tidak. Label halal pada kemasan tidak berarti itu thayyib (baik). Aku pikir Islam dan kedokteran harus berjalan bersama. Nabi Muhammad ﷺ, bersabda bahwa Allah SWT menciptakan setiap penyakit dengan obatnya. Dan ngomong-ngomong, hadis ini aku tempel di dapur sebagai pengingat. + Apa yang paling mengesankanmu tentang Nabi Muhammad ﷺ?

- Menurutku, dia dikenal selalu bersikap lembut, selalu baik hati dan bersikap adil. Terkadang aku membayangkan hidup di masa itu, mempertaruhkan segalanya, mempertaruhkan nyawa dan status. Kamu mempertaruhkan segalanya, kehilangan segalanya. Namun tetap ramah, penuh kasih, dan adil. Itu sungguh tidak seperti manusia. Siapa pun bisa saja langsung merasa kesal, merasa marah, siapa pun bisa saja akhirnya menjadi tidak adil. Namun beliau tidak seperti itu. Dan untuk memiliki keteguhan dan keberanian itu, dan memiliki kekuatan itu adalah hal luar biasa. Itu hanya bisa terjadi jika kamu dipilih oleh Allah, jika kamu seorang nabi. Tidak ada orang lain yang mampu.

+ Terakhir, jika kamu punya satu menit untuk berbicara kepada non-muslim di seluruh dunia, apa yang ingin kamu sampaikan? - Aku berharap kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat membaca Al-Qur'an. Beberapa ayat benar-benar membuatku menangis karena aku sadar ini adalah firman Sang Pencipta. Dan tidak ada manusia yang berbicara seperti ini. Ada satu bagian yang sangat menyentuh. Setelah Allah menjelaskan tanda-tanda penciptaannya dan segala buktinya, Dia bertanya kepada manusia: “Lalu ke mana kau akan pergi?” Kamu bisa mengejar tujuan, mengalihkan diri, melelahkan diri, membangun rumah dan keluarga. Kamu bisa membeli mobil. Kamu bisa mengisi hari dan selalu menginginkan lebih.

Lalu berhentilah sejenak, pejamkan mata. Dan saat sang Pencipta bertanya dengan lembut, dengan penuh cinta, cobalah rasakan. Lalu kemana kamu akan pergi?
