# Aku Ditampar Saat Memakai Hijab! "Kamu Bukan Orang Arab!" - Katolik Meksiko Masuk Islam

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/i-thought-islam-was-trror-a-catholic-christian-converts-to-islam
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=Bv8DiYVKs38
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Saat tanggal 9/11, aku harusnya pergi ke kota. Kereta yang harusnya aku naiki melewati bawah The Twin Towers. Dan aku tertidur. Saat terbangun, teleponku terus berdering dan TV menyala. Hari paling mengerikan dalam sejarah Amerika. Musuh melakukan penyerangan pada negara kita. Pembawa berita terus mengucap, "Allahu Akbar." Aku bertanya, "Apa itu Allahu Akbar?" Sebagai warga amerika, aku sangat marah. Aku ingin tahu, siapa teroris itu Mengapa mereka di sini? Jadi aku mendatangi sebuah masjid. Lalu sadar bahwa masjidnya sangat dekat. Tanganku berkeringat. Aku sangat gugup. Aku mulai berjalan. Aku pakai hijab dan mengambil foto.

dan aku memposting foto itu, Keluargaku bertanya, "Apa ini?" Sepupu terdekatku sangat kecewa. Dia menarik hijabku dan menamparku. Dia bilang, "Kamu bukan orang Arab, lepaskan itu." Dia mau menampar lagi, dan aku pegang tangannya, lalu bilang, "Apa Jesus senang jika kamu memukulku?" Jadi, dia berhenti dan bilang, "Keluar, aku tidak mau melihatmu." + Assalamu'alaikum, Nahela Morales. Terima kasih telah hadir. Selamat datang di wawancara ini. Aku ingin mulai dengan, Siapa Nahela Morales? Bisakah ceritakan kehidupanmu secara singkat? - Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih. Suatu kehormatan bisa hadir di sini. Nahela adalah anak keluarga Katolik Meksiko yang religius.

Saat umur 25 tahun, aku pindah ke New York City. Setelah kuliah, aku belajar pemasaran barang dagang, dan pindah jauh dari California. Tempat terjauh yang memungkinkan adalah New York City. Maka aku pindah ke New York, saat musim panas 2001. Tiga bulan sebelum kejadian 9/11. Butuh bertahun-tahun hingga aku akhirnya masuk Islam. + Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Apa yang kamu yakini? - Aku dilahirkan di keluarga Katolik. Aku tidak percaya bahwa Jesus itu Tuhan. Tapi aku memiliki penghormatan tinggi pada Bunda Maria dari Guadalupe, yaitu Bunda Maria versi Meksiko. Karena secara kebudayaan, di Meksiko, Bunda Maria dari Guadalupe berkedudukan sangat tinggi.

Kami ke gereja pada acara spesial saja, mungkin Minggu, pernikahan, dan pembaptisan, namun tidak secara rutin. Jadi, sejak usia 7 tahun, aku selalu penasaran pada trinitas. Dan karena aku menghormati nenekku, aku tidak bisa bertanya banyak. Saat dewasa, aku bertanya pada beliau, "Kenapa ada tiga?" Dan beliau hanya bilang, "Kamu hanya perlu percaya." Rasanya seperti pintu tertutup. Sulit untuk percaya pada trinitas. Aku sadar Tuhan itu ada. Meski aku dibesarkan dengan menghormati ketiganya, aku tidak percaya. Tidak selaras dengan pemikiranku. Aku selalu mempertanyakannya. Bagaimana bisa ada 3 wujud dalam satu substansi? + Bagaimana kamu pertama kali tahu tentang Islam?

- Tidak pernah sebelum kejadian 9/11 yang... sungguh membuatku ingin tahu agama Islam. Aku ulang tahun tanggal 12 September. Aku ingin merayakannya di New York City, karena aku tinggal di pinggiran kota. Saat tanggal 9/11, aku harusnya pergi ke kota. Dan aku tertidur. Kereta yang harusnya aku naiki adalah jalur 1 atau 9 yang melewati bawah The Twin Towers. Seandainya aku tidak tertidur, aku mungkin saja ada di bawah menara itu. Karena aku rencana berangkat jam 6:30. Saat terbangun, teleponku terus berdering dan TV menyala. Saat melihat pesawat pertama menghantamnya, aku pikir itu sebuah film. Aku bilang, "Ada apa ini?" Sangat mengejutkan, aku butuh jawaban.

Pembawa berita terus mengucap, "Allahu Akbar." Aku bertanya, "Apa itu Allahu Akbar?" Mereka terus menyebut, "Teroris" dan "Islam". Aku tidak paham apa maksudnya. Jadi aku butuh jawaban. Namun di sisi lain, keluargaku menelpon. Mereka sangat takut dan khawatir akan keselamatanku. Mereka ingin aku kembali ke California. Dan aku ingin mempelajari arti dari Allahu Akbar. Aku ingin tahu, siapa teroris itu dan mengapa mereka di sini? Sebagai warga Amerika, aku sangat marah. Aku bilang, "Aku ingin dapat jawabannya." Aku ingin tahu lebih, dan itulah titik awal dari cerita ini. Kota itu hancur hingga beberapa bulan berikutnya. Tapi aku mulai menelusuri secara online, keingintahuanku sangat besar.

Langkah selanjutnya setelah itu, aku meninggalkan New York dan pindah ke New Jersey. Aku tinggal tiga blok dari sebuah masjid. Jadi aku mendatangi sebuah masjid. Lalu sadar bahwa masjidnya sangat dekat, bisa berjalan kaki saja. Mungkin aku sedikit emosional karena ini... Ini mengingatkanku kembali. Momen itu sangat menakutkan, tapi juga sangat menarik. Aku tidak tahu yang aku harapkan. Aku tidak punya pakaian yang pantas. Aku tidak punya hijab. Aku maju mundur di depan cermin, mencoba berkata, "Assalamu'alaikum". Jadi aku belajar bilang, "Assalamu'alaikum" di depan cermin. Tanganku berkeringat. Aku sangat gugup. Akhirnya, aku masuk ke dalam.

Guru pertamaku, Syekh Muhammad Al Hayek, memanggil dan menyapaku. Aku hanya pakai selembar pakaian yang berlubang. Bukan hijab yang sesuai. Aku sangat gelisah, aku memainkannya. Aku sangat gugup. Lalu beliau berkata, "Mari, mari." Beliau menuntunku menuju kantornya. Beliau memperkenalkan diri. Beliau bertanya, "Siapa namamu?" Dan aku tetap bingung memegang hijabku. Lalu beliau bertanya, "Apakah kamu Muslim?" Aku bilang, "Bukan." Dia bilang, "Kamu mau melepasnya?" Aku berkata, "Ya." Lalu beliau jawab, "Lepas saja. Tidak apa-apa. Santai saja." Beliau bilang, "Aku ada kelas hari ini. Kamu boleh datang." Lalu aku masuk ke kelas itu, setiap Rabu, secara rutin, aku datang ke kelas itu.

Sering kami bercanda, "Aku terlambat, aku ikut jam orang Muslim." "Tidak, tidak, terlambat tetaplah terlambat. Namun dalam Islam, kita harus hargai waktu orang lain." Aku punya teman wanita dari Indonesia dan Malaysia. Aku belajar kata-kata, seperti InsyaAllah, Alhamdulillah, MasyaAllah. Mereka bertanya, "Apakah kamu Muslim?" Aku jawab, "Aku bukan Muslim, Tapi aku sedang belajar." + Towards Eternity membutuhkan dukunganmu. Kami adalah organisasi non profit yang bertujuan menyebarkan pesan Islam ke seluruh dunia dalam 10 bahasa. Dengan dukunganmu, kamu dapat membantu orang masuk Islam, meninggalkan yang haram, mulai salat, memakai hijab, belajar membaca Al-Qur'an, dan sebagainya.

Jadilah bagian dari semua amal baik ini, InsyaAllah. Mari berdonasi melalui Towards Eternity. Dan jangan lewatkan kesempatan emas ini. - Lalu aku ingat, aku pakai hijab, dan mengambil foto dan memposting foto itu. Keluargaku bertanya, "Apa ini?" Aku bilang, "Oh, ini seperti Bunda Maria dari Guadalupe, beliau memakai kerudung, dan..." Lalu, aku mencoba menghubungkannya. Oke, hijab, biarawati, nenek juga pakai. Menurutku ini sangat menarik. Namun yang paling menarik, Allah itu Esa. Jadi, kita mengeliminasi dua lainnya. Ini mudah. Aku berdoa pada Allah, hubunganku hanya dengan Allah. Tidak butuh dua lainnya. Hal inilah yang menarik bagiku. Jadi aku mulai belajar beribadah.

Aku mulai pergi ke masjid. Temanku memberiku hijab, dan aku selalu pakai. Lama-lama, orang menganggapku Muslim. + Kapan kamu bersyahadat? Bisakah kamu menceritakannya? - Aku ingat saat itu ada wanita di masjid yang tahu aku bukanlah Muslim. Dia memberi tahu, "Kamu harus bersyahadat." Aku jawab, "Tapi kan aku pergi ke masjid, Aku puasa. Bagiku sudah cukup." Di hari terakhir bulan Ramadan dia bilang, "Hari inilah saatnya." Setelah salat dia menepukku, dan bilang, "Kamu harus bersyahadat hari ini." Lalu aku jawab, "Baiklah." Dia beri tahu Syekh, lalu aku bersyahadat. Itu hari terbahagia di hidupku, jujur saja. Sangatlah luar biasa. Perasaanku tak bisa dijelaskan.

Rasanya semua beban di pundakku hilang. Rasanya sangat ringan. Seperti terlahir kembali. Sejujurnya itu hari paling bahagiaku. Lalu aku pulang. Semua orang mulai pergi dan keluarga mereka juga pergi. Jadi, aku berjalan pulang. Aku ingat aku pegang sajadahku dan aku bersujud. Aku merasa kesepian. Dan aku... bertanya-tanya apa keputusan ini tepat, yang aku ambil kemarin malam. Sedih dan putraku tidak tahu apa yang terjadi. Sulit sekali jika menceritakannya. Karena aku tahu banyak mualaf di luar sana mengalami hal yang sama. Allah lah yang memberi jalan keluar saat itu. Aku ingat, aku pergi ke toko dan beli permen untuk putraku setelah sarapan, hari berlalu.

+ Bagaimana reaksi keluarga dan orang di sekitarmu saat kamu masuk Islam? - Aku ingat saat itu bulan Agustus, panas sekali. Aku pakai kaos turtleneck, jeans dan bandana. Jadi, lengan panjang. Dan keluargaku menganggapku gila. "Ini musim panas. Kenapa berpakaian begitu?" Aku bilang, "Karena aku Muslim dan aku harus menutupinya." Sulit bagi mereka untuk mengerti. Terutama, satu sepupuku. Sepupuku sangat marah. Aku ingat di akhir pertemuan itu, aku berjalan di dalam rumahnya, lalu dia menarik hijabku, dan menamparku. Dia bilang, "Kamu bukan orang Arab. Jangan harap jadi orang Arab. Lepaskan itu." Dia mau menampar lagi, aku pegang tangannnya. Dia Katolik yang taat. Sangat taat.

Dia ke gereja tiap Minggu. Dia punya foto Bunda Maria dari Guadalupe yang sangat besar. Dan aku pegang tangannya, lalu bilang, "Apakah Jesus senang jika kamu memukulku? Beginikah ajaran agamamu?" Jadi, dia berhenti dan bilang, "Keluar, aku tidak mau melihatmu. Keluar." Jadi dia mengusirku. Dia sepupu terdekatku, seperti kandung. Tahun berikutnya saat berkunjung, aku memakai abaya. Bajuku tertutup sepenuhnya. Abaya, hijab. Semua orang terkejut. Mereka bilang, "Apa ini? Kenapa lebih tertutup? Apakah yang terjadi? Siapa yang merubah pikiranmu?" Di kunjungan ketiga, nenekku menarikku ke samping. Dan bertanya apakah aku bahagia.

Dan aku bilang "Ya, aku sangat bahagia." Beliau bilang, "Oke, lakukan yang kamu mau." Beliau bilang pada keluarga, "Biarkan dia." "Dia tidak minum, tidak merokok, Dia tidak berkeliaran di malam hari. Dia merawat anaknya. Dia berbusana dengan baik. Tidak apa-apa." Akhirnya beliau menerimaku dan meminta seluruh keluarga menghormati kepercayaanku. + Apakah ada keluargamu yang jadi Muslim setelah kamu, karena terinspirasi olehmu? - Yang mengejutkan, orang yang tak kusangka justru menjadi seorang Muslim. Dia adalah Ibuku. Hubungan kita kurang baik, namun saat aku wawancara di channel Spanyol, dia melihatku berhijab. Dia tidak pernah melihatku sebelumnya.

Dia melihatku berhijab lalu bilang, "Bajumu seperti badut, kamu Muslim?" Aku menjawab, "Benar." Sebenarnya aku takut mendakwahi ibuku. Tidak tahu. Jadi aku kumpulkan buku, Al-Qur'an, dan informasi berbahasa Spanyol dan kirim ke California. Ibu mulai membaca. Akhirnya beliau bersyahadat. + Bisakah ceritakan pendapatmu tentang hijab? Orang Barat berpikir hijab itu pembatasan, tapi kamu mencintainya. Apa alasanmu menyukai hijab? - Aku merasa merdeka. Hijab benar-benar membuatku terbebas. Aku berhak memilih siapa yang boleh dan tidak boleh melihatku. Tidak seperti iklan minuman alkohol, dan ada wanita setengah telanjang. Bagiku, itu penindasan. Bagiku, ini kebebasan.

+ Setelah menjadi Muslim, adakah peristiwa luar biasa yang membuatmu merasa sangat dekat dengan Allah? - Saat pergi Haji. Aku dan putraku berhaji tahun 2018. Aku ingat saat pergi Haji, dan aku sedang tawaf. Dia berkata, "Sekarang, sekarang. Kita akan menyentuh Ka'bah." Dan kamipun menyentuh Ka'bah. Lalu aku terasa seperti terhimpit. Aku bilang, "Andrew..." Aku mulai cemas lalu menangis. Aku bilang, "Ya Tuhan, mereka akan membuatku remuk." Lalu, dia pegang tanganku dan jalannya terbuka. Ada seseorang pakai baju putih. Putraku pegang tangannya dan jalan terbuka seperti lautan yang terbelah untuk Musa. Lalu kami berjalan. Dan pria itu pun pergi, dia pergi.

Aku bilang, "Mana pria tadi, untuk berterima kasih padanya?" Dia menghilang. Aku tidak tahu apa itu. Apakah itu Malaikat? Apakah itu... Tapi pasti itu dari Allah. Kejadiannya sangat cepat. Aku ingat aku sedang menangis karena takut terinjak. Tiba-tiba Allah menyelamatkanku. + Apa yang paling meyakinkanmu bahwa Islam 100% benar? - Yang paling membuatku yakin bahwa Islam itu kebenaran adalah fakta bahwa Al-Qur'an tidak pernah berubah dan jutaan orang menghafalnya. Aku tidak pernah dengar ada jutaan orang penghafal Alkitab. Jadi bagi aku itu mukjizat. Al-Qur'an bukanlah kitab kecil. Cukup tebal. Jadi itu menjadi perhatianku. + Terkait ini, aku ingin bertanya padamu.

Apa yang ingin kamu sampaikan pada para penonton dari Meksiko yang sedang menontonmu? - Saudaraku dari Meksiko, pertama, aku sangat ingin mengajak kalian untuk belajar agama ini, yang tidak jauh berbeda dari yang diajarkan budaya kita. Kamu akan merasa nyaman dan menemukan tujuan. Jangan biarkan perasaan itu mati rasa. Penuhi rasa keingintahuanmu, banyaklah bertanya, pastikan kamu membaca dan belajar dari sumber yang benar, seperti situs ini. Penting untuk mendapatkan berbagai jawaban. Temukan jawaban. Bertanyalah pada seorang Muslim. Jika sakit jantung, kamu akan datang ke spesialis jantung. Jika punya pertanyaan tentang Islam, tanyalah pada seorang Muslim, baca Al-Qur'an.

Pelajari Rasul SAW kami yang tercinta. + Banyak mualaf bertanya, setelah masuk Islam, "Haruskah aku meninggalkan budayaku seutuhnya? Karena aku cinta keluargaku dan budayaku." Mengganti nama menjadi Arab, atau berpakaian seperti orang Arab. Apa tanggapanmu pada mereka yang punya kekhawatiran ini? - Sayangnya, banyak pemikiran yang keliru. Beberapa tahun yang lalu, ada wanita bersyahadat, dan dia berencana untuk bersyahadat tanggal 25 Desember. Dia akan bersyahadat pada hari Natal. Biasanya kami berkumpul hari itu, jadi orang tidak merasa kesepian, dan merasakan kekeluargaan. Ada yang tidak datang dan merayakan dengan berbagai alasan.

Ada yang karena keluarga mereka minum alkohol atau semacamnya. Jadi kami berkumpul saat dia akan bersyahadat. Dia ajak keluarga non-Muslimnya, Ayahnya, kakaknya. Dia orang Amerika kulit putih. Dia juga undang calon iparnya. Jadi dia rencana akan menikah, sebelum dia jadi mualaf, dari Asia Selatan. Setelah kami bersyahadat... Aku yang membimbingnya. Semua orang memeluknya. Momen yang emosional. Calon ayah mertuanya berdiri dan berkata, "Mulai hari ini, namamu adalah Dua." Dan dia terkejut. dia berkata, "Tidak, tidak, tidak." Aku genggam dan meremas tangannya. Aku bilang, "Tidak apa-apa." Dan aku berkata, "Tidak, saudaraku.

Namanya tetap nama aslinya." Lalu Ibu mertuanya berkata, "Katakan padanya mulai hari ini, dia harus makan Sabiha, hanya boleh halal." Aku meremas tangannya lagi. Menguatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku bersamamu. Tidak apa-apa. Jadi, aku genggam tangannya, "Saudariku, tidak apa-apa." Dan saat dia memelukku lagi, dia berterimakasih karena aku sudah hadir di sana untuk mendukungnya. Karena, sekali lagi, pemahaman keliru tentang keharusan merubah namamu saat memeluk Islam, itu tidak benar. Tidak ada yang mengharuskan mengganti nama. Selama tidak bermakna jelek, kamu bisa menjadi Maria, Felipe, Pablo. Tidak ada masalah. Ini penting karena itulah identitasmu.

Bagiku, bahkan nama belakangku, Morales. Orang tidak langsung tahu aku Muslim. Dan ini sebuah tiket untuk berdialog, seperti... Jadi, kamu tidak perlu merubah namamu. Sama sekali tidak. Kamu tetap bisa melanjutkan kebaikan budayamu. Aku masih tetap masak mole, tacos, flautas. Aku sangat menikmati budayaku. Kamu tidak harus berhenti mencintai dan percaya pada Jesus dan mengetahui bahwa ibunya, Maria dikisahkan dalam sebuah Surah di Al-Qur'an. Jadi, mereka tidak asing bagi kita. Kita mencintai dan menghormati mereka. Dan kamu tidak perlu berhenti mencintai dan menghormati mereka. Sebaliknya, Islam memperkuat kehidupan kita dalam berbagai bentuk.

Jadi, teruslah makan tacos, teruslah menikmati seluruh budaya asalmu. Teruslah belajar Islam, karena Islam adalah cara hidup.
