# Muslim Said Such A Thing That.. And He Converted To Islam!

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/muslim-said-such-a-thing-that-and-he-converted-to-islam
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=Bpv9QQ6rRdY
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Apa kepercayaanmu? Kepercayaanku pada dasarnya Deisme. Aku mempraktikkan sufisme tiga bulan dan solat lima kali sehari, Pernah aku berdiam aja di kamar, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, tetapi nggak ada perubahan. Semuanya bertambah buruk. Takdir manusia sudah tertulis. Kenapa Tuhan bisa menakdirkan anak berumur 3 tahun diperkosa? Kenapa Dia menakdirkan ada pemerkosa? Aku menyalahkan Tuhan, harusnya Dia membatasi kehendak orang, jadi nggak ada kejahatan apapun. Aku jadi nggak menghormati sifat adilNya. Apakah kamu mau dianggap setingkat pemerkosa? Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad darrasulullah Apakah kamu keberatan jika video ini tampil di YouTube? Nggak ada.

Topik kita hari ini tentang kepercayaan. Apa kepercayaanmu? Kepercayaanku basisnya deisme. Maksudnya, aku percaya keberadaan Pencipta. Alam semesta ini luas; nggak mungkin wujud sendiri. Aku setuju ada Pencipta, tapi aku nggak menghormati sifat adilNya. Aku nggak tau ya, mungkin aja karena aku cemburu. Ada orang seumuranku punya mobil BMW dan Porsche. Dan aku berpikir: Kenapa mereka punya? Kenapa aku nggak? Mereka nggak solat, nggak berpuasa, nggak berzakat, dst. Jadi aku bingung. Sedangkan aku melakukan semua hal ini. Walaupun aku mengeluh, aku tetap melakukan semua hal ini. Walaupun aku bertato... karena diingatkan seorang kawan.

Aku mempraktikkan sufisme tiga bulan dan solat lima kali sehari, tapi nggak ada perubahan. Semuanya bertambah buruk. Aku jadi berpikir: Pernah aku berdiam aja di kamar untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan Tetapi entah kenapa, nggak ada perubahan, semuanya bertambah buruk. Kulihat orang-orang yang nggak solat dan nggak bersyukur tetap sukses. Aku jadi bertanya: “Apakah ini keadilanMu?” Seperti kamu tahu, di negara ini terjadi pemerkosaan anak-anak. Aku bilang: "Tuhanku, Engkau Maha Besar, Maha Berkuasa, Maha Kuat. Kenapa Engkau nggak bertindak?" Bisakah dibilang gara-gara semua ini, kamu jadi menganut Deisme? Ya, ya, bisa. Oke, bro, aku lihat kamu tulus, jujur. Terima kasih.

Jadi, kamu tulus nih, dan juga sepertinya berterus terang. Pertanyaanku: Kalau aku berhasil menjawabmu dengan jelas dan logis, maukah kamu masuk Islam lagi? Tentu saja, kalau kamu berhasil, Kenapa nggak? Ketika terjadi hal yang kamu ceritakan: "Ada yang jadi kaya, dan waktu itu, walaupun aku Muslim, dia nggak, aku lebih miskin dari dia." Dan kedua, banyak kejahatan di dunia. Dan kamu juga bilang ada orang menyakiti orang lain. Sekarang, kita lihat ya, apakah kedua hal ini bukti kesalahan Islam dan Al-Qur'an? Bagi aku, iya. Karena kawanku, yang kubilang tadi, berkata: Semakin kamu yakin, semakin kamu mensyukuri Tuhan. ... Semuanya akan makin mudah. Seperti itu katanya.

Aku nurut aja karena aku percaya dia. Ketika aku nurut, ternyata nggak ada yang berubah. Semuanya bertambah buruk. Setelah itu, aku jadi berpikir seperti yang kubilang. Aku ngerti yang kamu bilang. Mungkin kita perlu memahami dengan benar. Kamu tau nggak? Dunia itu tempat pelatihan manusia. Kalau ke perpustakaan, kita nggak bilang, oh hening sekali di sini, dan Kita nggak berpikir keheningan di situ buruk, kan? Perpustakaan memang harusnya hening karena harus begitu. Atau kalau kita ke tempat kebugaran, melihat orang capek berolahraga, Melihat orang berkeringat. Kita nggak mungkin bilang itu tempat jahat. Sebaliknya, masuk akal terjadi seperti itu karena itulah tujuan tempat-tempat itu.

Orang jadi kuat dengan berolahraga, mereka jadi berotot. Senada, jadi apa tujuan penciptaan dunia? Tujuannya mendidik manusia lebih baik. Manusia diturunkan ke dunia untuk pendidikan dan pengembangan spiritual. Seperti ujian aja. Kalau kita lihat kenapa ada ujian, kita bisa berpikir: Seperti pengembangan fisik yang terjadi di tempat kebugaran, Kesulitan dan masalah adalah tanda pengembangan. Jadi masalah di dunia adalah bukti; pengembangan spiritual manusia. Artinya, ia adalah indikator.

Jadi, sebagaimana logika sebelumnya, bioskop yang hening itu pertanda baik, Kalau begitu, masalah di dunia, kalau ternyata lebih banyak bagi Muslim yang mengerti Islam adalah indikator pengembangan spiritual. Tujuan penciptaan dunia adalah untuk mengenal Tuhan... dan dengan kesabaran dan ujian, jadi meningkatkan pengembangan spiritual. Memang seperti ini adanya. Sadarilah kamu mengatakan; ‘bahkan setelah aku lebih banyak beribadah, hasilnya lebih buruk.’ Tapi, seperti kita bilang tadi, harus ada kesulitan yang dialami di dunia, agar kita dapat belajar. Dan bukan hanya terkait kesuksesan duniawi saja, aku juga punya contoh lain.

Contoh yang buruk, tapi aku akan jelaskan; terkait anak berumur 3 tahun itu. Contohnya, memang ada penjahat pengecut di negara kita yang beraninya menyakiti anak kecil. Kita bilang Tuhan itu Maha Besar. Kenapa Tuhan yang Maha Besar nggak menolong anak kecil itu? Apa dosa anak berumur 3 tahun itu? sehingga dia harus diuji sedemikian rupa? Aku ingin bertanya setulusnya terkait hal ini: Dalam kasus ini, apakah kamu pikir pemerkosanya yang bertanggung jawab dan bersalah Atau Sang Pencipta, Allah? Aku pikir Sang Pencipta, karena takdir si pemerkosa sudah ditetapkan. Takdir itu berbeda. Nanti kita diskusikan juga. Penetapan takdir nggak meniadakan kehendak, nanti kita diskusikan.

Jadi, kenapa Tuhan menakdirkan seperti itu bagi anak kecil dan pemerkosanya? Aku paham. Kamu berpikiran begitu karena kita belum mendiskusikan takdir. Mari kita diskusikan. Kalau kita lihat, ya, memang ada kekejaman, Kita bisa melihat manusia berbuat jahat, kita bisa melihat manusia menyakiti manusia lain, tapi kalau kita analisis, kita bisa melihat bahwa yang bersalah itu manusianya. Karena, manusia punya kehendak. Contohnya, hari ini kamu memakai baju biru. Kamu yang memilihnya, atau ada yang memaksa kamu? Aku yang memilih. Jadi pilihanmu adalah kehendakmu. Ini bukti kehendak parsial. Alurnya, "Aku memilih memakai baju ini." Sekarang, kita paham ada kehendak parsial.

Jadi kalau kita pikir lagi, manusia berbuat jahat karena kehendaknya, Kita sudah tau manusia bertanggung jawab atas pilihannya. Mari kita lihat contoh lain: Kita lihat orang melakukan kejahatan dan kita menyalahkan Al-Qur'an. Katakanlah ada dokter yang sengaja menusuk seseorang dalam ruang operasi. Apakah kita menyalahkan buku kedokteran? Nggak, kita menyalahkan dokter itu. Kenapa kita menyalahkan dokter itu? Karena nggak ada hubungannnya dengan buku kedokteran. Dalam kenyataan, dokter yang nggak mematuhi buku, kan? Sama saja, orang yang berbuat jahat kepada orang lain, seperti memerkosa, menyiksa atau membunuh, tidak mematuhi Al-Qur'an. Seperti contoh dokter itu.

Seperti kita tidak menyalahkan buku kedokteran, kita tidak menyalahkan Al-Qur'an dan Islam. Manusia yang bertanggung jawab. Aku sebenarnya tidak menyalahkan Al-Qur'an dan Islam. Aku menyalahkan Sang Pencipta. Seperti yang kukatakan, Dia Maha Besar dan Berkuasa. Kita baca bahwa Tuhan menolong dan membimbing nabi-nabi dan umat-umat sebelumnya. Dia menunjukkan jalan yang benar. Kenapa tidak seperti itu sekarang? Kenyataannya, Dia juga membimbing manusia sekarang. Dia memberi kita solusi. Dia memberi kita contoh dari Al-Qur'an dan Sunnah. Kita bisa melihat solusinya, tetapi, manusia punya kehendak, bisa memilih nggak mematuhi, seperti dokter tadi. Banyak dokter melakukan hal yang benar.

Dan bertindak sesuai petunjuk, tetapi sebagian nggak, karena punya kehendak sendiri. Kenapa Tuhan tidak mencegah? Kalau kita diskusikan dengan bijaksana, kita akan menyadari alasannya. Contohnya, kalau seseorang menusuk orang lain. Atau menembak dengan tujuan membunuh. Ketika ada yang ingin menyakiti orang lain, dan Tuhan selalu mencegah, bisakah kita membedakan yang bersalah dan yang nggak? Jika kehendak dibatasi, dan nggak ada yang bisa berbuat jahat, apa bedanya kamu dan pemerkosa? Jadi nggak ada bedanya antara baik dan jahat. Apakah kamu mau dianggap setingkat pemerkosa? Nggak, aku nggak mau, tapi yang aku inginkan: Tuhan membatasi kehendak manusia jika perlu.

Dan menghilangkan kejahatan dan orang jahat, sehingga hanya kebaikan yang ada, dan nggak ada yang masuk neraka. Kalau dari perspektif ini, yaitu kehendak dibatasi, nggak akan ada perbedaan manusia yang baik dan yang jahat. Katakanlah ada manusia yang sudah merusak jiwanya. Bagaimana membedakan dia dengan orang lain? Di sinilah peran kehendak. Ya, Tuhan bisa mencegah. Tapi secara umum, pencegahan kejahatan akan meniadakan kehendak. Lalu apa yang terjadi? Orang bisa berkata: "Aku nggak punya kehendak. Aku nggak bersalah." Bagaimana jadinya? Keberadaan ujian jadi nggak perlu. Manusia baik maupun jahat tingkatnya jadi sama. Kamu bilang kamu nggak mau dinilai setingkat pemerkosa.

Apa yang membedakan kamu dan tingkatanmu? Apa bedanya orang berhati baik dan berhati jahat?? Kehendaklah pembedanya. Keberadaan kehendak, membedakan kebaikan, dengan keburukan. Kita melihatnya dengan bijaksana. Aku sedih juga, tapi coba kita pahami. Mustahil Dia yang menciptakan kasih tidak memiliki kasih. Kalau kita lihat lebih luas, memang, orang bisa dipersekusi. Tapi, pikirkan: Contohnya, ingat mimpi burukmu. Terkadang mimpinya panjang, kan? Katakanlah dalam mimpi itu, 80 tahun berlalu, mimpinya buruk. Tapi, begitu bangun, bukankah kamu bisa melupakan mimpi itu dengan minum segelas air? Kita maklum, ternyata cuma mimpi, yang bisa dilupakan.

Dengan meminum segelas air, Tuhan bisa membuat kita lupa mimpi buruk yang seolah terjadi 80 tahun. Bagaimana Dia nggak bisa membuat kita lupa masalah di dunia dengan surga yang abadi? Kita bicara surya yang abadi. Kita bilang Tuhan mencintai semua hambanya dengan setara, kan? Jadi, kenapa Dia mau ada manusia yang berjiwa jahat? Jika Dia mau, Dia nggak akan menciptakan orang jahat. Tuhan mau kebaikan, tetapi manusia diberikan kehendak parsial untuk menunjukkan kemampuan mereka. Manusia menggunakan kehendak parsial ini sesuai keinginan mereka. Contohnya, keberadaan api itu menyenangkan, kan? Jika memenuhi kebutuhan kita, api itu bagus. Api ada banyak manfaat.

Tapi, jika seseorang berkehendak menyentuh api dan sengaja membakar tangannya, bisakah dikatakan: "Keberadaan api itu buruk"? Nggak bisa. Kita nggak bisa bilang begitu karena nggak logis. Orang itu yang salah. Sama saja, keberadaan kehendak, yang parsial adalah karunia besar. Mereka yang berbuat baik dan jahat bisa dibedakan, dan keberadaan kehendaklah yang membedakan dan memberi nilai. Tetapi, seperti orang membakar tangan atau menusuk orang; Jika menyalahgunakan kehendak dengan membunuh atau menyakiti orang, bisakah kita bilang: Penciptaan kehendak parsial lah yang jahat dan nggak bermoral. Kenapa Tuhan menciptakannya? Seperti contoh api tadi. Kita nggak bisa bilang begitu kan?

Kalau melihat dalam konteks ini, kita bisa bilang: Ya, keberadaan kehendak itu bagus, ada banyak manfaat. Tapi ada manusia yang jahat. Tetapi, seperti sudah dibilang, ada akhirat. Kebahagian abadi di surga menunggu orang baik. Dan orang-orang jahat yang membuat kamu marah mereka akan dihukum dengan adil. Bayangkan seorang raja yang bisa menghukum dengan surga dan neraka. Kita bisa diskusikan takdir sekarang? Kita bisa pahami begini: Takdir adalah pengetahuan Tuhan. Kita terkadang keliru antara pengetahuan dan pencegahan. Seperti matahari yang memiliki banyak warna. Contohnya, warna kuning dan merah. Dua warna ini berbeda. Serupa, Allah memiliki nama Al-Alim. Nama Allah yang Mengetahui.

Kita bisa memadankan takdir dengan nama ini. NamaNya yang lain adalah Al-Qadir. Misalnya tindakanNya menciptakan Dia Mengetahui, tapi apakah Dia mencegah? Kita keliru tentang dua konsep berbeda. Seperti dua warna matahari. Nama Al-Alim berbeda dengan nama Al-Qadir. Jadi kita bilang: Bahwa Tuhan mengetahui sesuatu, tidak berarti dia akan mencegah dan memaksa kita. Kedua hal ini berbeda. Lalu, kenapa perbuatan kita adalah salah kita walaupun sudah ada takdir? Bukan seperti itu pemahamannya. Tuhan sudah menakdirkan suatu hal karena Dia tahu kita akan melakukan hal itu. Kita akhiri dengan contoh kecil. Katakanlah dua mobil datang dari sisi berlawanan. Kita hitung secara matematis.

Kita hitung, dan kamu bilang mereka akan bertabrakan dalam 8 detik. Kamu tulis di atas kertas, dan tabrakan terjadi. Terlihat jelas. Karena kamu sudah menulis di atas kertas, bisakah yang tabrakan mengatakan; "Kami bertabrakan karena tulisan kamu. Jadi kamu yang salah." Nggak bisa, karena tabrakan pasti terjadi, ada atau nggak ada tulisan. Kamu lihat pasti terjadi tabrakan berdasarkan pengetahuan kamu, lalu kamu tuliskan. Tulisan kamu berdasarkan pengetahuan kamu. "Pengetahuan berdasarkan hal yang diketahui." Sama saja, Tuhan menentukan takdir kita bergantung kepada peristiwa yang terjadi. Kita tidak melakukan sesuatu karena Tuhan tahu. Tapi Tuhan tahu apa yang akan kita pebuat.

dan Dia menakdirkannya, seperti contoh tadi. Artinya takdir harus kita pahami seperti ini. Jadi, jika seseorang melakukan kejahatan, tanggung jawab ada padanya. Apakah semua sudah jelas? Sangat jelas. Alhamdulillah Saya paham. Sangat jelas sekarang. Seperti yang saya katakan, saya selalu percaya Tuhan itu ada. Alam semesta begitu besar nggak mungkin tercipta sendiri. Nggak mungkin sama sekali. Cuma, ada hal-hal yang membuat aku bingung. Bagaimana, apakah kamu mau masuk Islam lagi? Ya, aku mau. Kamu ingat dua kalimat syahadat kan? Ingat, tentu saja. “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad-ar-Rasulullah.”
