# “Pacar Hinduku membawaku kembali ke Islam” - Kisah hidup emosional dari @The Sunnah Guy

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/my-hindu-girlfriend-led-me-back-to-islam-emotional-life-story-of-at-the-sunnah-guy
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=A-xPS0uZY7c
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Dulu aku punya pacar, dia seorang Hindu. Keluargaku jadi sangat religius, aku tidak mau jadi religius, Sebenarnya aku benci! Konsep agama yang mengatur hidupku. Aku ingin hidup bebas, tapi ayahku sangat keras, jadi dia selalu membangunkanku untuk salat subuh setiap hari. Aku biasanya turun, mencuci muka, lalu kembali tidur, aku tidak pernah salat. Aku melakukan ini selama lima tahun. Aku merasa sangat sakit. Aku muntah terus-menerus. Aku merasa hampir mati. Aku berkata, “Ya Allah, ampunilah aku.” Aku diliputi keraguan. Setan seperti berbisik di telingaku setiap saat. Bagaimana kalau Islam tidak benar? Lalu aku berpikir, aku harus mencari tahu.

Aku mulai bertanya, apakah ini hal yang selama ini aku abaikan? + Assalamu’alaikum, saudaraku Shoaib Hussain, yang juga dikenal sebagai The Sunnah Guy. Kami sangat senang kau hadir bersama kami di Towards Eternity. Dan aku ingin mulai dengan pertanyaan, siapa itu Shoaib Hussain? Bisa ceritakan sedikit tentang kehidupanmu? - Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, saudaraku. Alhamdulillah, suatu kehormatan bisa berada di sini. Namaku Shoaib Hussain. Aku pria Pakistan yang tinggal di Inggris. Aku terlahir dari keluarga yang tidak terlalu kaya, hanya keluarga biasa yang terlahir di Inggris. Sejujurnya, sejak aku kecil, aku sudah terbiasa memberontak terhadap orang tua.

Singkat cerita, saat aku beranjak dewasa, keluargaku menjadi sangat religius. Aku tak mau jadi religius. Sebenarnya aku benci konsep agama yang mengatur hidupku. Aku ingin hidup bebas. Dan aku mulai mengenal Islam di usia 16 tahun. Dan selama 16 tahun terakhir, aku berdakwah tentang Islam, dengan cara yang bisa membantu dan berdampak kepada banyak orang. + Bisa kamu membawa kami kembali ke masa sebelum kamu memiliki pemahaman tentang Islam, lingkungan hidupmu dulu, dan apa minatmu saat itu? - Aku ingat saat masih sekolah, ada seorang anak nonmuslim yang dirundung oleh siswa Muslim Pakistan. Aku berkata, “Itu tidak benar. Itu tidak benar," Siswa sekolahku mayoritas Pakistan.

Aku melihat mereka menendang tasnya tanpa alasan. Mereka merundungnya. Aku berkata, “Itu tidak benar. Kenapa mereka melakukan itu?” “Apa salah dia?” Karena membelanya, aku pun dirundung. Aku dirundung di sekolah dasar dan juga di sekolah menengah karena aku berbeda. Kemudian, saat aku berusia lima tahun, masa di mana ayahku mulai mendalami agama. Dan saat itu dia menjadi ketat, sangat ketat. Tapi aku tidak menyukai itu. Aku tak suka kekerasan itu. Aku dipaksa salat, dan aku tak menyukainya, karena kupikir, "Tunggu, dulu aku bebas bersama bibiku. Aku sudah terbiasa. Aku tak menginginkan ini.

Aku tak menyukai ini." Ayahku sangat disiplin, sepulang sekolah, setiap hari selama dua jam, dari usia delapan hingga 14 tahun, ya kan? Selama enam tahun, aku pergi ke madrasah. Aku pergi dan duduk di sana, merasa sangat bosan, dan tak sabar menunggu pulang saat waktu menunjukkan pukul 6:30. Demi Allah, aku masih ingat jam itu, jam itu berwarna perak. Aku terus menatapnya. Aku berpikir, “Kalau sudah 6:30, aku bisa pulang.” Jadi, berada di sekolah adalah pelarianku dari ayahku. Ayahku selalu berkata, "Salatlah, pastikan kau berwudu di sekolah." Tapi aku tak pernah melakukannya. Aku selalu melewatkannya. Aku tak salat selama 4–5 tahun. Ayahku mengira aku salat. Kenapa?

Karena aku terbiasa memberontak. Itu bagian dari diriku. Begitulah aku tumbuh. Ayahku tak mengetahuinya. Dan aku rasa itu adalah bagian dari terciptanya konflik karena di lubuk hatiku terdapat cahaya moral yang sesungguhnya ingin melakukan hal yang benar, melakukan hal yang benar 100%, tapi ayahku terlalu keras, ia selalu membangunkanku untuk salat subuh setiap hari. Dan aku selalu turun, mencuci muka, dan kembali tidur. Dan aku tak pernah salat. Aku melakukannya selama lima tahun. Ayahku mengira aku salat. Ia tak tahu aku mengobrol dengan perempuan. Dan semuanya terjadi tanpa sepengetahuannya. Ibuku, Subhanallah, ia sedikit mengetahuinya.

Kadang ia menyembunyikan beberapa hal dari ayahku karena ia tak ingin aku dipukul. Saat itu sekitar tahun 2008. Saat itu Peace TV sangat populer. Itu channel berbahasa Inggris pertama yang membahas tentang dakwah dan Allah dan Rasul-Nya, siaran itu di Sky TV. Semoga Allah memberkahi Dr. Zakir Naik. Ibuku sering memutar ceramah Dr. Zakir Naik. Dan Subhanallah, setiap kali ia memutar ceramah Dr. Zakir Naik, ia selalu berkata, "Lihatlah dia. Tonton dia. Lihat dia." Ia juga berkata, “Aku harap kau menjadi seperti dia suatu hari nanti.” Aku hanya berlalu dan berkata, “Ya Tuhan, Ibu ingin aku seperti dia? Ya Tuhan, kumohon. Itu takkan pernah terjadi.

Tidak akan." + Bisa ceritakan momen saat kamu berpikir, “Tunggu, sebenarnya apa yang kulakukan dengan hidupku?” Dan kapan hidupmu mulai berubah? - Aku punya pacar di tahun 2010. 2009-2010. Dia seorang Hindu. Aku jatuh cinta padanya. Aku pikir itu “cinta,” ya. Lalu yang terjadi adalah, suatu hari, dan ini terjadi setelah tujuh tahun menjalani berbagai hubungan. Aku sedang meneleponnya karena saat itu sedang turun salju, sedang bersalju, jadi tidak masuk sekolah. Jadi kami kembali masuk setelah libur Natal. Jadi kami tidak masuk, dan kami tetap mengobrol di telepon. Aku begadang, karena kami berdua bersiap untuk kembali ke sekolah. Jadi aku berbicara dengannya setelah salat Subuh.

Ibuku hendak masuk ke kamarku. Ia sedang menuju kamarku, tapi ia ingin mendengar percakapan kami. Lalu dia berdiri di sana selama 20 menit, mendengarkan. Aku belum pernah ketahuan sebelumnya. Dan ia terus mendengarkan. Lalu ia kembali tidur Aku juga kembali tidur. Saat aku bangun, ibuku berkata, “Siapa tadi yang kau telepon?” Aku tak bisa menjelaskannya, tubuhku langsung panas dingin. “Siapa tadi yang kau telepon?” Dan aku seperti… Aku mencoba membuat alasan apa saja. Lalu aku meledak. Aku mengeluarkan semuanya. Tujuh tahun frustrasi. Aku berkata, “Kau tak akan pernah mengerti apa itu cinta. Kau tidak tahu apa itu.” Aku meluapkan semuanya di depan kedua orang tuaku.

Dan aku pikir ayahku akan memukulku, tapi dia tetap diam. Lalu aku menangis sangat keras hari itu, karena hatiku hancur. Karena aku merasa, baiklah... Ibuku menyadari bahwa ia bukan seorang Muslim, ibuku menanyakan namanya. Aku menyebutkan namanya, dan ibuku langsung… Ibuku mulai berteriak, “Dia bukan seorang Muslim! Apa salahku sampai membesarkanmu seperti ini?” Lalu aku punya waktu untuk berpikir. Aku tidak langsung berubah, karena yang kulakukan hanya pergi dan mendengarkan musik galau. Dan pergi bersama teman-temanku. Dan teman-temanku berkata, “Kawan, santai saja, tidak apa-apa. Kamu masih bersamanya.

Dia masih bersamamu, dia perempuan yang baik." Lalu kukatakan padanya, “Orang tuaku sudah tahu. Kamu harus jadi Muslim kalau kita mau lanjut. Masuk Islam.” Dia berkata, “Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak akan melawan agama ibuku.” Demi Allah, aku ingat itu, itu terus bolak-balik. Selama beberapa hari, aku berbicara padanya, lalu kupikir, aku harus mulai mencari tahu sekarang. Aku harus meyakinkannya, aku tak bisa menyuruhnya begitu saja. Aku harus meyakinkannya bahwa Islam itu benar. Jadi aku membuka Google dan YouTube, lalu kuketik, “Cara meyakinkan orang Hindu bahwa Islam itu benar.” Demi Allah, aku ingat sekali mencari ini di Google. Dan orang yang muncul adalah Dr. Zakir Naik.

Dan saat itu, aku benar-benar mendengarkannya. Setelah bertahun-tahun ibuku memaksaku mendengar ceramahnya, kali ini aku tertarik untuk mendengarkannya. Aku memutarnya dan terus menonton ceramahnya. Satu demi satu, satu demi satu, satu demi satu, satu demi satu, terus-menerus. Saat dia mulai membahas tentang embrio, teori Big Bang, tentang sains dalam Al-Qur’an, aku tercengang. Aku tercengang, karena dia pernah mengatakannya di Peace TV saat TV menyala, tapi aku tak menyimaknya. Aku mendengarkannya, bukan menyimak.

Tapi saat aku mulai mendengarkan, lalu aku benar-benar fokus, aku berpikir, “Apakah ini hal yang selama ini aku abaikan?” Inikah yang kutinggal tidur selama ini?" “Apakah ini yang selama ini aku abaikan?” Subhanallah. Aku berkata, “Ya Allah…” Lalu aku punya waktu dua atau tiga minggu untuk merenung. Aku jatuh sakit waktu itu, di momen dua atau tiga minggu itu. Aku keracunan makanan dan merasa hampir mati. Aku ingat pergi ke sajadah dan langsung sujud. Aku berwudu, lalu salat. Dan aku berkata, “Ya Allah… Ya Allah, ampuni aku, ampuni aku atas segalanya." Subhanallah, semuanya terasa indah, karena momen itu pas sekali dengan saat aku mulai menonton ceramah Dr. Zakir Naik.

Aku mulai yakin bahwa Islam itu benar. Lalu aku mulai perlahan berdakwah ke teman-temanku di sekolah, dan mereka mengejekku. Jadi, aku menjauh dari mereka. Lalu Allah memberiku sakit yang sangat parah. Aku sakit selama enam hari. Aku muntah, lagi dan lagi, terus-menerus. -Sakit fisik? -Ya, sakit fisik. Aku merasa akan mati. Aku tidak bisa menahan diriku. Aku tak bisa menahannya. Lalu setelah itu aku berkata, “Ya Allah, ampuni aku.” Aku sangat emosional saat itu. Dan aku berkata hari itu, aku ingat sekali, “Aku tak akan meninggalkan salat.” Dan itulah hari ketika aku membuat janji pada Allah SWT dan mengambil keputusan itu. Dan sejak saat itu, aku tak pernah berpaling.

Dan Subhanallah, di situlah hidupku benar-benar berubah. Saat aku sadar, agama ini ternyata benar. Ini benar-benar nyata. Subhanallah, Allah itu nyata. Rasulullah ﷺ beliau nyata. Beliau sungguh seorang nabi Allah. Allah berkomunikasi dengannya melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an adalah firman Allah. Apa? Dan kenyataan itu menghantamku. Aku berpikir, “Wah, apa sebenarnya yang sudah aku lakukan selama ini?” Jadi Subhanallah, di situlah aku berubah. + Bagaimana reaksi teman-temanmu tentang dirimu yang baru, identitas barumu? - Aku katakan pada mereka bahwa beberapa hal itu haram dan kita harus salat. Dan mereka malah menertawakanku. Tertawa, seperti mengejek, memperolokku.

Dan di sekolah kami ada acara prom. Semacam pesta kelulusan. Semua orang berdandan rapi. Kami sewa Limusin, pergi ke London, merokok shisha, bersenang-senang sedikit, lalu pulang. Teman-temanku menyewa Limusin, dan aku mulai menjalankan Islam beberapa bulan sebelum itu. Aku mulai salat, aku mulai berubah. Dan teman-temanku berkata, “Kamu harus ikut.” Kukatakan, “Aku tak ingin ikut lagi, karena aku harus salat. Aku harus salat, aku tak ingin meninggalkan salatku.” Mereka berkata, “Tenang saja, kau tak akan ketinggalan salat.” Dan yang terjadi justru sebaliknya, Aku masih di mobil, dan waktu subuh hampir habis. Aku ingat mereka menurunkanku, lalu aku pulang dan terlambat salat subuh.

Tapi mereka menurunkanku 20 menit dari rumah. Jadi aku harus jalan kaki. Kukatakan, “Kenapa tak antar aku sampai rumah?” Mereka berkata, “Tidak bisa, kami harus mengembalikan Limusin ini, waktunya sudah habis,” dan sebagainya. Demi Allah, aku berjalan kaki. Aku mengenakan tuksedo. Waktu itu umurku 16 tahun. Matahari baru saja terbit. Kukatakan, “Aku tak ingin melihat mereka lagi seumur hidupku.” + Apa yang terjadi setelah itu? Kamu lanjut kuliah? Dan bagaimana perjalanan spiritualmu, imanmu? - Setelah lulus sekolah, aku masuk ke sekolah sepak bola. Jadi, bermain sepak bola dan juga belajar. Aku satu-satunya Muslim di antara sekitar 45–50 nonmuslim. Aku dirundung di sana karena agamaku.

Dia berkata, “Kalau kau mau jadi Muslim sejati, kau harus mengamalkan Surah Al-‘Asr (Demi Masa).” "Aamanu wa amilus salihati watawa saubil haqqi watawa saubis sabr." “Kau harus beriman. Kau harus beramal saleh, mengajak kepada kebenaran, dan mengajak kepada kesabaran.” Kamu bukan Muslim sejati kalau tidak mengajak pada kebaikan. Aku berpikir, “Baiklah, aku harus berdakwah. Dakwah itu wajib.” Tapi aku tak punya strategi. Aku masih 16 tahun. Aku membagikan kotak dakwah, berdiri di bus, memberi nasihat. Pokoknya aku hanya melakukan apa yang kupikir benar. Tapi aku malah diejek dan dihina. Dan orang-orang itu mengolok-olokku. Mereka mengejekku, mengejek Allah, dan juga Rasul-Nya.

Lalu Subhanallah, sesuatu terjadi dalam hidupku yang membuatku merasa ragu. Syubhat (keraguan). Suatu hari aku berjalan pulang dan muncul satu pikiran yang mengubah hidupku. Pikiran itu adalah, “Bagaimana kalau Islam itu tidak benar?” Seolah-olah setan membisikkan itu setiap detik. Itu mungkin adalah masa tersulit dalam hidupku. Aku sampai mengalami iritasi mata. Kulit di sekitar mataku kering karena selama beberapa tahun itu, aku menangis setiap hari. Merasa seolah aku bukan Muslim lagi. Karena aku mempertanyakan, siapa yang menciptakan Allah? Aku tak bisa tak memikirkannya. Aku sedang bersujud, lalu tiba-tiba berpikir, “Aku seperti menyembah tembok.

Tidak merasakan hadirnya Tuhan.” Aku bangkit dari sujud di tengah salat, lalu merasakan denyut nadiku. Aku berpikir, “Subhanallah, siapa yang menciptakan ini?” Lalu aku menangis dengan penuh kekhusyukan dan iman. Karena perubahan perasaan ini, merasa seperti neraka, merasa seperti tidak ada Tuhan, aku harus berhenti salat sekarang, lalu memasuki fase seperti terkatung-katung. Perasaan itu naik-turun, seperti bolak-balik dan terus-menerus. Hidupku benar-benar kacau saat itu. Kepalaku terasa berputar. Hatiku terasa tak tenang. Lalu aku mendengar sebuah hadis yang akhirnya menenangkanku. Demi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa, hati orang-orang beriman berada di tangan Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Dia membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya. Dan ada hadis lain, bahwa hati orang beriman itu seperti air yang mendidih. Selalu naik dan turun, naik dan turun, terus-menerus. Imanmu selalu naik dan turun, selalu begitu. "Falyas'alillaha an yujaddidal imana fi qulubikum." Maka memohonlah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian." Aku selalu merasa tenang setelah mendengar hadis-hadis itu. Aku menjalankan Islam sendirian. Aku sering mendengarkan ceramah. Aku mendengar ceramah orang-orang seperti Syekh Bilal Assad. Dan aku ingat aku hanya mencari-cari tokoh.

Aku sering mendengarkan ceramah Nouman Ali Khan, ceramah Al-Qur'annya... I'jaz Al-Qur'an (mukjizat Al-Qur'an), ceramahnya tentang mukjizat Al-Qur'an. Itu membuatku merasa tenang. Demi Allah, semoga Allah memberkahi Nouman Ali Khan atas segala amalnya. Subhanallah, pengaruhnya amat besar bagiku. Aku mendatangi konferensi, acara, kelas, dan kajian. Aku menemui seorang syekh. Syekh Naveed Aziz yang datang dari luar negeri. Beliau dari Kanada. Dia datang ke Inggris untuk memberikan beberapa kajian.

Aku bilang, “Syekh, aku sedang berjuang dengan waswas ini.” Dia berkata, “Carilah persaudaraan.” Lalu kukatakan, “Syekh, aku tak bisa menemukannya, tak ada teman di sekitarku.” Beliau berkata, “Kalau begitu, bangun sendiri persaudaraan itu.” Sejak itu, setiap sujud, aku selalu membaca satu doa: "Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinik." "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Setelah itu, sekarang aku punya doa kedua: “Ya Allah, bantulah aku membangun persaudaraan di kotaku.” Itu doa keduaku. Tahun 2011, bulan November. Lalu pada Februari 2012, ayahku punya kenalan seorang bibi dari Melbourne, Australia. Mereka berteman di Facebook.

Dia mengirimkanku pesan dari Syekh Bilal Assad. Bayangkan saja, aku tak punya teman Muslim, aku menonton semua ceramah Syekh Bilal secara online. Lalu tiba-tiba, aku menerima pesan video darinya. “Assalamu’alaikum Shoaib…” lalu dia bilang, “Saudari ini banyak cerita tentangmu.” Aku benar-benar kaget. "Apa? Syekh Bilal mengenaliku?" Lalu beliau berkata, “Kau orang favoritku di UK, dan doaku bersamamu, wahai saudaraku.” Sejak itu, aku menyimpan video itu sepanjang hidupku. Video itu menyemangatiku sepanjang hidupku. Aku sungguh menjaganya di hatiku. Itu tahun 2012. Beliau bahkan tak mengenalku. Beliau hanya membuat video biasa. Subhanallah. Video itu sangat membantuku.

Aku merasa sangat spesial. Sejak saat itu, Subhanallah aku semakin terdorong untuk berdakwah. Aku mulai membuka stan dakwah. Sempat berhenti, lalu aku mulai lagi. Aku mengumpulkan teman-teman, kami berdakwah bersama. Lalu aku jadi semakin bersemangat untuk berdakwah, terus, terus, terus, dan terus. Dan aku ingat aku tak sabar untuk lulus kuliah, di akhir tahun 2012, bulan Juli, aku benar-benar ingin segera lulus. Setelah keluar, aku berpikir, aku akan fokus berdakwah. Aku benar-benar berdakwah sekitar tiga kali seminggu di pusat kota. Kadang aku berdiri sendirian membagikan selebaran, berbicara dengan orang-orang.

Ada lebih dari 170 orang yang mengucapkan syahadat dalam satu tahun, tapi kemudian mereka pergi. Kemudian kami sadar, kami butuh infrastruktur. Kami seperti mengajak orang ke rumah tanpa isi. ‫Lalu aku mulai membina saudara-saudara itu mengembangkan mereka, dan mulai berbicara dengan para pemuda Muslim. Mengajak mereka main bola, makan bersama, mengumpulkan mereka, mengajak mereka jadi sukarelawan, mengajak mereka ke acara dan konferensi, dan kami mengendarai mobil bersama, dan pergi retret, dan melakukan segala hal. Tujuannya tetap sama, menyelamatkan manusia dari api neraka. Lalu datanglah COVID. Saat di mana aku berada di persimpangan. Aku selalu ingin masuk ke dunia online.

Aku ingin menjangkau lebih banyak orang. Aku ingin memberi dampak. Aku ingin menyebarkan pesan Islam lebih luas. Aku tahu kalau lebih banyak orang yang memahami pesan ini, lebih banyak yang bisa terselamatkan dari api neraka. Akhirnya aku memulai “The Sunnah Guy” dan membuat video-video pendek Islami. Aku menikmatinya, aku merasa ini bisa efektif. Aku ingat menonton film Avengers. Di bagian akhir film Avengers, aku menangis. Meski sedang menangis, aku berpikir, “Kenapa ini bisa begitu menyentuh?” Kenapa ini sangat memengaruhiku?" Lalu aku sadar, saat kami duduk bersama di sekitar api unggun, kami menceritakan kisah para sahabat. Kami mengingatkan mereka tentang surga dan neraka.

Teman-teman menangis. Aku tersadar, Subhanallah. Saat kau menggabungkan audio dan api, para saudara, dan atmosfernya, kamu bisa memengaruhi mereka. Kamu bisa menyentuh hati mereka. Dan Subhanallah aku berkata pada diriku sendiri, “Kalau itu bisa dilakukan lewat video, aku ingin melakukannya.” Kami bahkan bercita-cita untuk masuk ke bioskop. Aku pikir, “Kenapa tidak? Kenapa tak bisa? Pasti bisa." Aku dan sinematograferku, kami duduk, berdiskusi, merencanakan, dan menambahkan empat, lima, delapan, adegan, sembilan, 12, 13 sudah banyak adegan sekarang. Itu jadi film Islami pertama di Inggris yang tayang di bioskop. Untuk pertama kalinya, Muslim salat di depan layar bioskop di Inggris.

Itu momen yang sangat besar. Aku diundang untuk mempresentasikan satu produk Eman Channel, yang merupakan panggung Eman Academy di acara Light Upon Light. Syekh Bilal Assad juga menjadi pembicara di konferensi Light Upon Light itu. Aku turun dari panggung, dan setelah pembicara lain selesai, Syekh Bilal naik ke panggung. Ketika dia turun, aku langsung menghampirinya. “Aku harus menunjukkan sesuatu.” Dia bilang, “Apa?” Lalu aku menunjukkan foto-foto lama anak-anaknya. Karena bibi itu bukan hanya mengirim video, tapi juga foto-foto anak beliau. Aku dulu sering melihat foto-foto anak-anak beliau dan berpikir, “Wow, ini anak-anaknya.” Video mereka membaca Al-Qur’an.

Dia menatapku dan berkata, "Apa? Bagaimana kau dapat foto-foto ini? Bahkan aku tak memilikinya. Dari mana kau dapatkan ini?" Dan Subhanallah, aku menunjukkannya video yang dikirimkannya 11 tahun lalu. Lalu dia berkata, "Apakah itu dirimu?" Aku menjawab, "Syekh, itu aku." Itu 11 tahun yang lalu. Kau mengirim pesan video ini padaku, lalu aku menceritakan kisahku dan apa yang terjadi, bagaimana aku melawan keraguan dan syubhat (keraguan), dan bagaimana aku kesulitan dan dia membantuku. Aku dan dia duduk di sebuah ruangan, dan kami mulai menangis sejadi-jadinya. Subhanallah. Lalu setahun kemudian, aku melakukan tur di Australia bersama Syekh Bilal Assad, di atas panggung. MasyaAllah.

Di depan semua orang di Melbourne dan bibi itu, dia naik ke panggung bersama kami. Dan aku tidak tahu dia ada di sana. Aku akhirnya melihatnya pertama kali. Demi Allah, hidupku terasa seperti menjadi lingkaran yang penuh. Semuanya terasa utuh. + Kalau Rasulullah ﷺ masuk ke ruangan ini sekarang, apa yang akan kau katakan kepadanya? - Aku sedang berusaha, Ya Rasulullah. Aku akan melakukan yang terbaik. Itu yang akan aku katakan. Tentu setelah berterima kasih kepadanya dan mencium kakinya serta dahinya, berdoalah untukku, Ya Rasulullah, agar ini berhasil. + Sedikit pertanyaan singkat dan jawaban singkat, lalu kita punya beberapa pertanyaan lagi. Apa hal yang The Sunnah Guy paling sukai?

- Membuat konten yang menyentuh hati orang agar mereka lebih dekat kepada Allah SWT (Yang Maha Suci dan Maha Tinggi) dan mengenal Penciptanya. Aku suka itu. Saat aku melihat cahaya di mata mereka, ketika mereka mengenal Allah, tak ada perasaan yang lebih baik dari itu. + Apa keputusan terbaik yang pernah dibuat The Sunnah Guy? - Tak menyerah memperjuangkan Islam. Iya. Demi Allah. Tak menyerah memperjuangkan Islam, dan terus mencari ilmu. Tak ada yang lebih penting, tak ada keputusan yang lebih baik dari itu. + Hal pertama yang akan dilakukan The Sunnah Guy jika masuk surga, InsyaAllah? - Aku akan mendatangi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, lalu berterima kasih.

Aku akan berterima kasih pada Umar bin Khattab karena mengirim prajurit ke Persia, dan berterima kasih pada Khalid bin Walid atas perjuangannya di Perang Qadisiyah, dan aku akan mencium dahi dan kaki mereka, karena mereka membebaskan leluhurku dari kesyirikan. Itu mungkin hal pertama yang akan kulakukan. InsyaAllah. + Apa sifat pribadimu yang paling tak kau sukai? - Kadang aku terlalu tergesa-gesa. Aku punya sifat obsesif, dan itu bisa berdampak baik maupun buruk. Ya, itu dua hal utama. + Apa hal terakhir yang kau cari di Google? -Boleh aku cek? +Tentu. - Aku juga penasaran. Waktu matahari terbit di Istanbul. + Iya. Kau baru sampai malam tadi, jadi itu wajar. Iya.

+ Apa momen lucu yang sangat memalukan, dan tidak bisa kau lupakan? - Waktu aku masih muda, aku berada di masjid, dan ada konferensi di London Timur. Dan London Timur sekitar dua jam dari rumahku. Dan acaranya besok hari. Imam di masjid kami adalah seorang imam yang tegas. Aku butuh tumpangan ke sana. Usiaku saat itu 17 tahun. Aku tidak kenal siapa pun yang pergi ke konferensi itu. Jadi setelah salat, aku berdiri dan mengumumkan, Aku berkata, "Ada konferensi luar biasa besok. Syekh ini datang, syekh itu datang, syekh itu juga datang.

Dan kalau ada saudara yang ingin ikut, tolong beri tahu aku, karena beberapa dari kami tertarik.” Syekh yang merupakan imam masjid kami, dia sangat tidak setuju dengan para masyaikh tersebut. Dia pun membantah mereka secara terbuka. Lalu dia berkata kepadaku, “Saudara, ini bukan sirkus di mana kau bisa berdiri dan mengumumkan apa saja. Tidak ada yang tertarik. Silakan duduk.” Di depan seluruh jamaah. Kemudian, aku pergi ke luar. Demi Allah, beberapa saudara berkata, "Hal itu biasa terjadi." Tapi akhirnya aku dapat tumpangan, Alhamdulillah. + Kau tahu, bahkan di kalangan pemuda Muslim, ada yang tidak menemukan tujuan hidup mereka dan akhirnya terjerumus ke narkoba.

Bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang para pemuda ini alami sebenarnya? - Kita perlu mengatasi masalah pemuda yang kurang ambisi dan semangat, yang tak merasa menjadi bagian dari suatu perjuangan. Salah satu cara terbesar dan terbaik untuk menyalurkan energi dalam diri para pemuda di Barat adalah dengan memberi mereka fokus untuk melawan setan dan pasukannya. Buat mereka bersemangat menyelamatkan diri dan orang lain dari api neraka. Tapi yang paling mereka butuhkan adalah lingkungan untuk menemukan tujuan hidup. Teman-teman yang membantu menemukan tujuan. Teman yang juga punya misi. Kembali ke akar masalah. Akar masalahnya adalah kurangnya arah dan tujuan hidup.

Berikan mereka tujuan. Karena ketika mereka punya tujuan, mereka pun akan memberi tujuan bagi orang lain. Tapi kalau kau hanya berkata, “Salat saja,” atau “perbaiki diri saja.” Itu hanya permulaan. Itu cuma menyalakan mesin. Jangan hanya menyalakan mesin. Jalankan mobilnya. + Ada seorang pemuda yang sedang menonton sekarang, dia berkata, “Aku dikelilingi hal-hal haram, bagaimana aku menyelamatkan akhiratku di masa seperti ini?” Apa yang akan kau katakan padanya? - Aku akan beri empat langkah: Hal terpenting yang harus kau lakukan adalah terhubung dengan Allah SWT (Yang Maha Suci dan Maha Tinggi). Bangun hubungan yang erat dengan Allah.

Hal kedua yang harus kau lakukan adalah membangun hubungan dengan kitab Allah SWT. Baik melalui terjemahan atau bahasa yang kau pahami. Tapi bacalah Al-Qur’an. Pelajari cara membacanya. Fokus selama enam bulan untuk itu. Lalu, carilah guru atau seseorang untuk belajar. Duduk bersama mereka dan belajar. Yang terakhir, jadilah bagian dari persaudaraan, bergaul dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Dan kalau boleh masih ada satu nasihat terakhir, nasihat itu adalah setelah kau memiliki fondasi, temukan tujuan dalam menyelamatkan orang lain dari api neraka. + Bayangkan ada seseorang yang menontonmu, dan saat kau bercerita, dia merenungkan hidupnya.

Apa yang ingin kau katakan padanya dalam satu menit? - Saudaraku, apa yang kau alami sekarang, saat kamu menua, itu akan terasa kecil saja. Kekhawatiran yang ada di hatimu sekarang, serahkan kepada Allah Azza Wa Jalla (Yang Maha Perkasa dan Agung). Tak akan ada rasa tenang dan aman kecuali kamu membangun hubungan pribadi dengan Allah SWT yang hanya kamu dan Dia yang tahu. Itu saja. Begitu kau melakukannya, teruslah berkembang dengan menanamkan hubungan dengan kitab Allah SWT. Demi Allah, tanpa kitab Allah, tidak ada keamanan di dunia ini. Carilah ilmu.

Cari teman yang baik dan pertahankan mereka, pegang erat teman yang saleh, karena saat kau melakukan amal saleh, kau harus memastikan untuk meninggalkan hal yang dilarang. Jadi, saat kau terhubung dengan Allah SWT, kamu meninggalkan segala hal yang menjauhkanmu dari Allah. Saat kamu pergi dan mencari ilmu, berarti kamu meninggalkan kebiasaan bermalas-malasan dan hanya menonton Netflix. Dan saat punya teman yang saleh, berarti kamu meninggalkan teman yang buruk dari hidupmu pula. Itu yang akan kukatakan.
