# "Kamu Bukan Anakku Lagi" - Kisah Seorang Imam Jepang

- Language: id
- Published: 2026-08-26
- Canonical: https://blog.towardseternity.com/id/blog/youre-not-my-son-anymore-the-story-of-a-japanese-imam
- Source video: https://www.youtube.com/watch?v=u1hY190uX3s
- Channel: Towards Eternity

This is the cleaned transcript of the source video. The speech is unaltered.

---

Apa hal yang nggak masuk akal bagimu tentang Buddhisme?? Bagaimana keluarga dan temanmu menanggapi kamu masuk Islam? Apa yang paling sulit bagimu di Jepang ketika mempraktikkan agamamu? Lalu dia mulai bertanya: Kenapa kamu masih Muslim? Keluarlah dari Islam. Kubilang, aku nggak bisa. Akhirnya dia berkata baiklah, kamu bukan anakku lagi. Siapa Ahmed Maeno? Namaku Ahmed Maeno. Nama asliku Naoki. Aku dari Jepang, asalku dari Aichi, yang terletak di tengah Jepang sekarang tinggal di Chiba, sebelah Tokyo, dan aku bekerja di Tokyo. Dan aku satu dari empat imam dalam Asosiasi Muslim Jepang. Jiwaku, egoku, diriku, tersadar, tersadar sekitar umur 13 ke 14 dan aku mulai bertanya, Dari mana asalku?

dan aku mulai bertanya, "Dari mana asalku?" "Ke mana aku akan pergi? dan "Apa tujuan hidupku?" Dan karena aku dibesarkan di Jepang, aku lahir dan besar di Jepang. Suasana yang paling dekat dengan agama adalah Buddhisme. Jadi kupikir jika aku memeluk Buddhisme, terutama versi asli Buddhisme kupikir kubisa mendapat jawaban terhadap pertanyaanku. Aku pernah menyerah mencari kebenaran melalui agama, mencari kebenaran melalui agama, lalu aku berkesempatan ke Melbourne Australia sebagai mahasiswa pertukaran pelajar selama setahun. Ketika aku tinggal di sana, alhamdulillah, aku bertemu satu keluarga Mesir. Mereka sangat baik terhadapku.

Jadi mengenal mereka lewat interaksi sehari-hari, membuat pandanganku biasku tentang Islam perlahan hilang. Jadi kapan kamu mulai benar-benar yakin tentang Islam? Setelah meyakini tentang Islam, bahwa ini agama yang selalu kucari. Aku masih takut dan cemas dengan masa depanku karena aku adalah orang, antara orang yang memandang Islam dengan pandangan yang bias. Jadi kutahu jika kuambil langkah akhir kamu tahu, semua langkah yang diperlukan untuk menjadi dan masuk Islam ke dunia Muslim, bagaimana aku akan terlihat dalam masyarakat Jepang, masyarakatku sendiri? Aku akan terlihat sebagai orang yang sangat aneh. Itu alasan terakhir yang membuatku takut melewati batas terakhir.

Tapi kemudian menonton film Malcolm X memberiku kekuatan yang diperlukan alhamdulillah karena Malcolm X hidup sebelumnya sebagai gangster yang bertindak kriminal dan semacamnya lalu melihat bagaimana dia mengubah diri dan hidupnya secara drastis menjadi seseorang yang seperti wali. Seseorang yang sangat lurus. Dan juga melihat... pemandangan ketika Haji ketika dia pergi berhaji ke Makkah, yang mengagumkanku. Begitu banyak orang berkumpul di banyak tempat untuk tujuan menonton pertandingan sepak bola atau menari, atau ke konser untuk bersenang-senang. Tapi orang yang berkumpul di sini, begitu banyak orang berkumpul dengan tujuan menyembah satu Tuhan.

Adakah pujian lain yang lebih tinggi dari ini? Kubilang nggak. Dan akhirnya aku memahami menjadi Muslim bukan berhati menjadi orang yang pemalu. Nggak, menjadi Muslim itu keren, sangat keren, bagus dan hebat. Jadi, alhamdulillah, kutempuh langkah akhir dan masuk Islam. Jadi pada malam setelah aku menonton film Malcolm X siangnya kuanggap diriku itulah momen ketika aku masuk Islam, aku kembali menghadap Allah Ta'ala ketika aku berlutut dan keningku menyentuh lantai dan menyembah Allah Ta'ala. Bagaimana keluarga dan temanmu menanggapi kamu masuk Islam? Mereka salah sangka, walaupun kuberitahu orang tuaku kisahku masuk Islam dari A ke Z, tapi mereka salah sangka.

Ya, itu kenapa awalnya nggak ada program, sebenarnya. Tapi ketika masalah sosial terjadi di Jepang, dengan nyata akibat kelompok fanatik bernama Aum yang melemparkan racun untuk membunuh di kereta api bawah tanah Tokyo. Walaupun nggak ada hubungan dengan Islam citra yang terbentuk sangat negatif terhadap agama apapun, terhadap seseorang yang beragama apapun. Lalu ada masalah terkait keignoranan atau ketidaktahuan tentang Islam. Mereka pikir Islam bisa serupa, seperti orang-orang fanatik itu. Ketika aku ingin meminta izin dari ayahku untuk belajar di Kuwait untuk belajar, kamu tahu, bahasa Arab. Aku sudah belajar bahasa Arab sebagai jurusan kuliah di Osaka. Dia menolak.

Lalu dia bertanya: Kenapa kamu masih Muslim? Keluar dari Islam. Kubilang, aku nggak bisa. Pa, tahukah kamu setelah aku masuk Islam. Apakah aku jadi gila? Lebih buruk dari sebelumnya? Dia tahu dalam dirinya. Nggak! Anaknya, kamu tahu, nggak menjadi lebih buruk. Tapi akhirnya, dia bilang, baiklah kamu bukan anakku lagi. Pernyataan itu sangat mengejutkan. Walaupun waktu itu aku sudah bekerja paruh waktu tapi aku masih bergantung kepada orang tuaku. Jadi aku harus mencari cara lain untuk hidup. Besoknya, aku pergi ke masjid di Kobe dan berkonsultasi dengan imam dari Mesir. Lalu dia memberi surat rekomendasi ke Kedutaan Mesir agar aku mendapat beasiswa ke Universitas al-Azhar.

Jadi kukirimkan surat itu ke Kedutaan Mesir, dan kembali menemui orang tuaku dan duduk bersama mereka dalam suasana yang tenang. Lalu alhamdulillah kutemukan orang tuaku menerimaku kembali. Jadi alhamdulillah. Apakah ada dari mereka yang kemudian masuk Islam? Sayangnya, nggak ayahku meninggal setelah itu. Walaupun suratnya sebelum meninggal, berkata bahwa jika dia hidup bersamaku, mungkin dia akan bersedia masuk Islam. Tapi situasi keluargaku nggak memungkinkan. Begitulah. Apa hal yang nggak masuk akal bagimu dalam Buddhisme, yang nggak kamu temukan dalam Buddhisme? Salah satunya reinkarnasi.

Reinkarnasi adalah pemikiran berasal dari India, dan kamu tahu bahwa Buddhisme adalah penerus Hinduisme, bahkan Buddha sendiri dianggap merevolusi Hinduisme, jadi reinkarnasi memastikan kamu punya roh, kamu punya jiwa, dan jiwa ini nggak akan pernah mati. Dan tetap di dunia dalam berbagai jenis dan bentuk, tergantung perbuatanmu, apa yang kamu lakukan. tergantung perbuatanmu, apa yang kamu lakukan. Jadi dalam kehidupan sebelumnya, kamu mungkin seekor binatang atau serangga atau apapun. Lalu, tergantung pada perbuatanmu dalam kehidupan ini. Kamu mungkin menjadi makhluk berbeda. Kamu mungkin menjadi manusia atau makhluk lain setelah kehidupan ini.

Terus begitu, kecuali kamu mencapai nirwana, kecuali kamu memahami seluruh semesta ini yang sebenarnya lalu keluar dari siklus reinkarnasi. Begitulah pemikiran reinkarnasi. Jadi pertanyaannya, dan jumlah orang-orang yang hidup dari waktu ke waktu. Jadi jika kamu bilang jiwa itu terus hidup, terlahir kembali, terus terlahir kembali. Bagaimana bisa seimbang? Terus, apa yang bisa menghentikanku dari menjadi biksu, yaitu memisahkan sepenuhnya antara kesucian dan kehidupan normal atau sehari-hari. Ya, mereka memisahkan sepenuhnya antara kehidupan beragama dan sehari-hari. Jadi kamu menemukan kontradiksi.

Jika seseorang di Jepang ingin mengetahui Islam dan menulis pertanyaan tentang Islam di Google, apa yang akan dilihatnya? Nah, ada begitu banyak tergantung seberapa dalam dia ingin mengetahui Islam tapi saya sangat beruntung, ada beberapa buku yang ditulis para orientalis yang ingin, menyebarkan kebencian terhadap Islam kepada orang Jepang. Buku-buku itu sangat laku terjual. Sayangnya. Mungkin itu media pertama yang ditemukan orang Jepang, kuduga. Apa hal yang paling sulit kamu alami di Jepang tentang mempraktikkan agamamu dan hidup sebagai Muslim? Sekarang? Ya, secara umum. Nah, aku akan berkata kekurangan bantuan karena aku punya lima anak, alhamdulillah.

Tapi kamu tahu kami nggak punya maksudku, keluargaku termasuk aku ada tujuh orang, yang Muslim kepada keluarga dan saudaraku. Seperti juga istriku. Jadi kami nggak punya keluarga untuk membantu komunitas. Bahkan, dalam komunitas tempat tinggalku bernama Kyoto di Chiba, di mana relatif banyak Muslim yang tinggal. Tetapi kulihat Muslim hanya berkumpul waktu solat. Tapi dalam kehidupan pribadi, nggak kulihat hubungan kamu tahu Nggak ada teman dalam kehidupan sehari-hari interaksi dengan Muslim lain. Apa ciri terbaik Nabi (s.a.w) yang paling mengesankanmu?

Belas kasihannya terutama waktu dia pulang dari Taif, berdakwah kepada orang Taif tapi malah dilempari batu dan terhadap tindakan ketika dia ditawarkan oleh Malaikat Gunung untuk menghancurkan mereka, apa dikatakannya? subhanallah Jangan! Mungkin ada generasi sesudah mereka, yang akan percaya satu Tuhan. Subhanallah. Kenapa kamu memilih menjadi imam? Karena nggak ada imam. Hanya ada, subhanallah beberapa yang bertahan, setelah masuk Islam, banyak orang yang mengucapkan syahadat tapi hanya Allah yang tahu nasib mereka setelah bersyahadat karena nggak ada sistem yang dibuat untuk peduli terhadap mereka. Nggak ada, kamu tahu.

Dan mereka, terutama yang datang dari luar Jepang, mereka yang antusias untuk berdakwah. Mereka berdakwah dan ketika sudah membuat orang bersyahadat, mereka mencari orang lain tanpa menguatkan yang baru bersyahadat. Ketika aku masih cukup muda setelah masuk Islam, jumlah sarjana studi Islam sangat terbatas dari generasi sebelumku. Tapi karena, kupikir itu salah satu alasan kenapa aku merasa jauh dari aktivitas mereka. Aku nggak tinggal di Tokyo, sedangkan mereka banyak tinggal di Tokyo, dan begitu sedikit aktivitas mereka sampai kepadaku. sampai ke orang-orang sepertiku jadi kutanya diriku.

Walaupun mereka belajar dan diberikan peluang belajar agama Allah bagi hati anak muda seperti diriku waktu itu. Tindakan mereka nggak cukup. Nggak cukup, kamu tahu. Tapi tentu, kemudian aku sadar bahwa setiap orang punya hidup masing-masing dan sibuk dengan hidup mereka. Tapi waktu itu tindakan mereka nggak cukup dan mereka belum berusaha yang terbaik. Jadi kalau nggak ada orang lain, aku harus berbuat. Menurutmu apa alasan orang menyerang Islam begitu ganas, begitu kejam? Apa alasan, bahkan di Jepang, kamu melihat ini? Dalam pandanganku, salah satu alasan adalah karena mereka tahu mereka paham Islam itu benar. Dan karena mereka bisa langsung paham dalam diri mereka.

Setelah mengetahui, mengenal Islam sebagai kebenaran, mereka tahu mereka harus menerimanya. Tapi jika menerimanya, Islam jadi beban bagi mereka. Jadi mereka membenci dan melawan Islam. Karena, kamu tahu, tanpa ajaran dan didikan Islam, nafsu kita menjadi besar dan dahsyat dan berkuasa terhadap kita. Ada hal yang ingin kamu tambahkan? Oh, tolong. Jika kamu saudara dan saudariku seiman, tolong jangan lupa mendoakan aku dan keluargaku, dan terutama untuk masuk Islamnya ibuku dan ibu mertuaku dan saudara dalam keluargaku dan selalu, kamu tahu, situasi serupa seperti orang tua kita. Banyak orang tua muallaf seperti orang tuaku, yang belum masuk Islam. Jadi tolong doakan kami. Terima kasih.
