Mantan Politisi Anti-Islam Menjadi Muslim! Bagaimana Kisahnya Masuk Islam!
Diterbitkan pada
Yah, saat aku jadi anggota anti-Islam ini, partai politik anti-Islam ini, PFF... Kami tidak menginginkan hal-hal menyangkut Islam lebih banyak lagi. Jadi aku lebih memilih tidak memiliki Al-Qur'an, dan tutup masjid dan larang Al-Qur'an. Jadi, mereka mencuci otakku sehingga menjadi anti-Islam. Tujuan utama mereka adalah melawan Islam, tentu saja, dulu aku mendukungnya. Mungkin aku membenci agama itu. Aku sungguh berpikir, bahwa agama Islam adalah ancaman bagi masyarakat, Apakah aku memiliki masalah dengan Islam? Ya, aku bermasalah dengan Islam. Tentu sekarang aku merasa sangat menyesal. Tapi aku ikut di beberapa proyek itu. Ya, tentu saja. Assalamualaikum, saudara Arnoud.
Terima kasih mau menerima undangan kami. Aku ingin memulai dengan siapa Arnoud Van Doorn? Waalaikumsalam, terima kasih undangannya. Suatu kehormatan bisa ada di sini. Namaku Arnoud Van Doorn, usiaku 56 tahun. Aku seorang Muslim, alhamdulillah sejak 2013. Aku lahir dan besar di Belanda, di The Hague. Keluargaku Kristen, aku tumbuh sebagai Kristen. Aku dulu aktif di politik. Aku jadi anggota partai politik anti Islam Belanda bernama PFF. Aku masuk Islam di tahun 2013. Alhamdulillah. Sekarang sudah hampir 10 tahun. Aku di Istanbul diundang oleh Halis Media. Mereka punya sebuah proyek. Mereka mewawancarai ratusan mualaf lebih dari 40 negara, salah satunya adalah aku.
Jadi, suatu kehormatan bagiku bisa berada di sini, dan bisa melakukan wawancara di kota hebat ini. Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Agama apa yang kamu yakini? Aku tumbuh sebagai penganut Kristen. Aku ikut sekolah Katolik, dan klub olahraga Katolik dan sebagainya. Ayahku menganut Kristen. Aku pergi ke gereja pada hari Minggu, dan terkadang di hari biasa, tapi aku tidak pernah merasa 100% nyaman, hanya seperti rutinitas biasa. Aku hanya menjalaninya, tapi ada yang kurang. Mungkin sekarang, jauh di lubuk hatiku, dan dengan pengetahuan yang sekarang aku punya, bahkan sejak kecil, aku merasa ada yang hilang.
Ada hal yang tidak aku mengerti, seperti, bagaimana bisa ada tiga Tuhan, bagaimana bisa Yesus, Isa sang Nabi, bagaimana bisa dia menjadi anak Tuhan? Tidak masuk akal, ya kan? Dan ada beberapa hal yang benar-benar aneh bagiku, seperti darah Kristus dan tubuh Kristus, begitulah, semua perkara upacara ini... saat di gereja. Bagiku, itu, tidak masuk akal. Aku tidak bisa menjelaskan penyebabnya, karena aku masih kecil saat itu, tapi aku merasa ada yang kurang. Bagaimana saat kamu pertama kali mendengar tentang Islam? Bagaimana anggapanmu tentang agama ini? Aku mendengar tentang Islam sama seperti kebanyakan orang di negara Barat, dari media, politikus.
Islam, sebagai ancaman, penyebab kejadian 9/11, dan menindas wanita, dan semua aktivitas terorisme. Dan masalahnya di Belanda, di Eropa Barat, orang-orang tidak mempelajari Islam sendiri. Mereka percaya media massa. Mereka percaya politikus. Aku juga sama. Jadi yang aku tahu tentang Islam hanya, negatif, berbahaya. Mungkin aku membenci agama itu. Aku sungguh berpikir bahwa agama itu, Islam, ancaman bagi masyarakat, ancaman bagi kebebasan kita. Begitulah, saat aku masih menjadi anggota anti Islam, partai politik anti Islam ini, PFF, tujuan utama mereka adalah, melawan Islam, ya, tentu saja, dulu aku mendukungnya. Dan aku pikir ini hal benar dan aku meyakininya.
Apakah dulu kamu terlibat dalam proyek melawan Islam? Ya. Kamu tahu film terkenal itu kan? Aku bukan pembuatnya. Banyak orang berpikir begitu karena filmnya dibuat sebelum aku aktif di partai politik ini, tapi aku bersama beberapa orang lain, bertugas mendistribusikan film ini, untuk mempromosikan film, di media sosial dan sebagainya. Jadi, dulu aku adalah bagian organisasi ini dan terlibat promosi film. Ini salah satu contohnya. Tentu saja, sekarang aku merasa sangat menyesal, tapi dulu aku ikut di beberapa proyek ini. Ya, tentu. Kenapa kamu merasa tertarik dengan Islam? Aku tidak langsung tertarik dengan Islam.
Bukan seperti tiba-tiba bangun di pagi hari lalu menjadi seorang Muslim, tentu tidak. Tapi aku sempat ragu tentang Islam. Tidak masuk akal bagiku. Aku lihat di media, lihat para politikus dan mereka semua mengatakan kalau Islam itu jahat, dan ancaman bagi masyarakat, ancaman bagi kebebasan kita, dan semua itu jahat. Tapi tidak masuk akal bagiku, karena, 1.5 miliar orang di dunia, apakah mereka semua orang jahat, kejam, dan berbahaya? Lebih dari 1 juta orang di Belanda, mereka Muslim. Apa mereka semua orang jahat, kejam dan berbahaya? Dan banyak sekali orang Muslim. Banyak orang-orang baik, ramah dan bersahabat yang aku kenal secara pribadi.
Dan mereka bilang kita harus mempelajari Islam karena gagasan kita tentang Islam itu salah. Ya, ya, tentu. Tapi aku mulai belajar tentang Islam dengan membaca Al-Qur'an. Aku pergi ke masjid, berdiskusi dengan imam, orang Muslim lain, mencari tahu sendiri. Aku ke perpustakaan. Dan semakin belajar tentang Islam, rasanya semakin jelas, terutama bagiku, tapi hanya di saat-saat seperti ini, semakin aku belajar tentang Islam, semakin keyakinan itu berpindah dari kepala menuju hatiku. Aku merasa, "Wow, hebat, indah sekali." "Menjawab pertanyaan-pertanyaanku." "Mereka salah." "Ini agama yang luar biasa.
Aku merasa agama ini, menjawab semua pertanyaanku." Dan jika kamu belajar Islam, maka semua ini, semua keraguan dalam dirimu, semua hilang, begitu. Semua kesenjangan musnah. Segala pertanyaan yang kamu punya, semua terjawab. Apa hal pertama yang menyentuh hatimu tentang Islam? Pertanyaan ini banyak ditanyakan orang padaku, dan jawabannya bukan dari suatu bagian tertentu dari Al-Qur'an, suatu ayat tertentu, bukan. Tapi Islam itu sendiri, kehidupan nabi, Sallallahu 'alaihi wa sallam. Ada sebuah buku di Belanda. Berjudul Muhammad, dan isinya tentang kehidupan beliau. Itu juga sangat menginspirasiku. bagiku, Ini semua sebuah riset. Belajar tentang Islam.
Dan proses yang sangat lama mulai dari sangat sinis, seperti, oke, aku mau belajar Islam, tapi, mereka semua kan pembohong dan tidak benar. Mereka mencuci otakku. Perbincangan di masjid, ya, mereka sangat baik, tapi begitulah, menurutku mereka tidak jujur. Jadi semakin kamu belajar tentang Islam, sungguh-sungguh mencari tahu dengan pikiran terbuka, ini sangat penting, hati terbuka, pikiran terbuka, maka kamu tidak bisa menyangkal kebenaran. Jadi akhirnya setelah perjalanan panjang, dari non-Muslim menjadi seorang Muslim, butuh waktu setahun bagiku untuk masuk Islam, dan akhirnya, menjadi jelas bagiku, kalau Islam adalah, agama yang hebat, lalu aku bersyahadat di tahun 2013, alhamdulillah.
Bagaimana perasaanmu terhadap orang-orang yang melakukan propaganda yang salah terhadap Islam? Jujur, aku merasa ditipu. Aku selalu berpikir kalau di Belanda dan Eropa Barat, media massa, mereka semua jujur, mereka objektif. Dan begitu juga dengan politikus, mereka orang jujur, baik, dan bijaksana. Begitulah, mereka ada untuk kita, melindungi kita, menuntun kita. Tapi aku merasa dikhianati oleh mereka, karena, begitulah, saat kamu belajar tentang Islam, maka kamu juga akan mengerti semua yang mereka bilang tentang Islam itu salah. Semua negatif. Jadi aku sangat kecewa karena mereka mencuci otakku hingga menjadi anti-Islam. Bagaimana akhirnya kamu mengucapkan syahadat?
Bisa kamu ceritakan momen itu kepada kami? Saat aku memeluk Islam, usiaku 45 tahun. Aku bersyahadat di masjid. Sebelumnya aku pernah ke sana beberapa kali, saat aku punya pertanyaan tentang Islam. Jadi mereka bilang, "Kamu boleh datang ke masjid dan kamu bisa tanyakan semua pertanyaanmu." Aku berpikir, "Tidak, tidak, aku tidak akan ke masjid, karena mereka mungkin membenciku, dan aku tidak diterima di sana." Tapi aku diterima. Mereka mengajakku. "Kamu boleh masuk." Mereka sangat ramah. Mereka kasih teh dan sebagainya. Berjam-jam aku berbincang dengan mereka dan itu salah satu yang membuatku bingung karena mereka seharusnya membenciku.
Bagaimana bisa mereka ramah, bagaimana bisa pikiran mereka sangat terbuka? Bagaimana bisa mereka menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku? Itulah salah satu, yang membuatku memeluk Islam. Aku terpaksa melakukannya secara bersembunyi karena kalau orang lain tahu, aku bisa kehilangan pekerjaan, aku bisa kehilangan jabatan. Tapi saat itu aku sangat enggan. Dan aku bersyahadat di masjid, tapi tidak di depan khalayak. Di sebuah kantor kecil. Aku bahkan bukan bersama imam, tapi salah satu sukarelawan di masjid yang memanduku sebagai mentor di seluruh proses ini. Kami ucapkan syahadat dan tidak ada orang lain di sana.
Jadi mulai saat itu aku mempelajari islam, hingga akhirnya bersyahadat, bukan dalam beberapa hari, beberapa minggu, tapi hingga sekitar setahun. Prosesnya naik turun. Terkadang aku merasa sangat termotivasi, terkadang aku tidak melakukan apa pun. Tapi selama masa ini, semakin jelas bahwa Islam itu indah. Dan akhirnya, alhamdulillah, aku bersyahadat tahun 2013. Bagaimana perasaanmu setelah bersyahadat? Apakah kamu merasa damai dan tenteram? Ya, tentu. Setan selalu ada. Bahkan di menit-menit terakhir, dia hadir dan berbisik, "Jangan, jangan, jangan lakukan." Dan, "otakmu akan dicuci," lalu, "jangan," bahkan hingga 5 menit sebelum aku memeluk Islam.
Tapi setelah aku melakukannya, aku merasa seperti... beban beratku hilang. Aku sangat bahagia. Aku merasa... sulit diungkapkan, mereka yang pernah melakukannya, mereka mungkin mengerti maksudku. Seperti terlahir kembali. Bagaimana reaksi orang-orang di sekitarmu saat kamu masuk Islam? Yah, mereka terkejut. Sejujurnya, aku salah karena seluruh perjalananku menjadi seorang muslim dan memeluk Islam aku lakukan sendiri. Tidak ada yang tahu. Hanya ibuku dan dia mendukungku. Dia masih mendukungku, hingga sekarang. Teman-teman, rekan kerja, tidak ada yang tahu perjuanganku. Jadi aku sempat merasa sedikit takut. "Oke, sekarang...
tidak ada yang tahu kalau aku melangkah ke sini untuk memeluk Islam." Bagi mereka, ini mengejutkan. Jadi aku sangat ragu. Aku tunggu beberapa minggu untuk mengungkapkannya. Tapi anggota keluarga lain, sebagian besar, bahkan saudara dan saudaraku, menjadi seperti ada jarak. Bukan mereka menolakku, tapi ada yang berubah. Kita tidak pernah membahas tentang Islam. Sangat sensitif. Aku merasa ada jarak. Aku kehilangan banyak teman, serta pekerjaanku. Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi setelah masuk Islam, dan pengorbanan apa yang harus kamu lakukan?
Saat aku jadi Muslim, dulunya aku adalah politikus, tapi aku tidak bekerja untuk partai politik itu lagi, untuk PFF, karena selama masa itu sudah jelas bahwa itu bukan tempatku. Tapi bagi mereka, tetap mengejutkan. Yah, seandainya menjadi Muslim di organisasi politik ini, di partai politik ini, ya, kamu sudah tidak dianggap lagi. Ya, setelah tersiar kabar kalau aku menjadi Muslim, aku kehilangan pekerjaan, dan kehilangan banyak teman. Aku kehilangan anggota keluarga, banyak rekan kerja, tentu saja. Jadi aku harus pindah. Kujual rumahku, lalu pindah ke rumah yang lebih kecil. Aku harus jual mobil. Jadi hidupku sedikit kurang mewah. Bagiku itu bukan pengorbanan.
Sebelumnya aku punya banyak uang, sering berlibur, punya jam tangan mewah dan mobil indah, dan semuanya, bagus dan mewah, tapi, begitulah, itu hanya benda. Hatiku terasa kosong. Tapi setelah aku memeluk Islam, ya, aku memang punya sedikit uang, tapi aku lebih bahagia dari sebelumnya. Jadi pembuktian bahwa, barang-barang, uang, dan mobil mahal tidak mengisi kekosongan di hatimu. Jadi berkorban materi? Ya. Berkorban dan kehilangan sahabat dan keluarga? Betul, itu juga pengorbanan. Lagi pula, aku merasa lebih bahagia. Setelah kamu menjadi seorang Muslim, apakah ada orang yang terinspirasi darimu dan juga masuk Islam? Aku punya seorang putra adopsi, Iskander.
Dia memeluk Islam setelahku, selama acara di Dubai. Dia memang sudah tertarik pada Islam. Dia juga ikut denganku ke masjid dan ikut belajar dan sebagainya. Lalu, akhirnya di sana, dia berbincang dengan orang-orang penting selama kami di sana. Lalu, dia akhirnya, alhamdulillah, memeluk Islam. Dan aku dengar cerita dari orang-orang. Aku tidak bisa bilang mereka masuk Islam karena aku, karena mereka dituntun oleh Allah. Tapi mungkin aku menginspirasi mereka belajar Islam, cari ilmu tentang Islam, pergi ke masjid atau semacamnya, atau merenung tentang Islam, melakukan riset. Mungkin, ya. Seperti itu yang aku dengar dari banyak orang. Semoga begitu.
Apa hal tentang Nabi Muhammad SAW yang paling membuatmu terinspirasi? Kehidupan beliau sulit. Beliau bersama keluarganya menghadapi banyak kesulitan, orang-orang melempar batu dan sebagainya. Namun beliau tidak marah. Beliau tidak membenci. Beliau tetap jadi orang yang sabar, pemaaf, ramah, murah senyum, beradab, berakhlak, dan sebagainya. Beliau tetap bersikap sama, meskipun dengan semua kesulitan ini, semua kejadian ini, yang menentang beliau. Dan bagiku, itu sangat menginspirasi. Dan itulah yang aku coba lakukan, setidaknya mencoba seperti nabi kita, Sallallahu 'alaihi wa sallam. Proyek apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?
Kami punya beberapa proyek di Maroko, beberapa proyek kecil, kami coba bantu keluarga miskin, orang miskin. Bukan hanya untuk Islam, tapi kami coba bantu agar mereka bisa sekolah, punya barang-barang, buku sekolah dan sebagainya. Kami dapat uang dari banyak pebisnis. Dan kami bekerja sama membangun rumah-rumah kecil untuk mereka yang tinggal di jalanan, dan sebagainya. Hal-hal kecil. Kami menggelar acara untuk anak-anak kecil. Dan tentu kami juga membahas tentang Islam. Ada banyak orang di sana yang lebih memahami Islam daripada aku karena aku bukan ahlinya. Aku bukan sarjana. Mereka membahas Islam, apa yang bisa dilakukan, cara menjadi Muslim yang lebih baik.
Jadi kami coba menggabungkan amal dengan dakwah. Kalau kamu berkesempatan untuk bicara pada semua non-Muslim di dunia, apa yang ingin kamu katakan dalam waktu satu menit? Pesanku adalah jangan dengarkan media massa. Jangan dengarkan politikus yang bicara negatif tentang Islam. Kamu cari tahu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas pengetahuanmu sendiri. Kalau kamu tidak mengerti, cari tahu. Dan itu sangat mudah. Ada banyak konten di media sosial. Kamu bisa baca tentang Islam, pergi ke masjid, bicara dengan imam, berkunjung ke orang Muslim, diskusikan tentang agama ini, tapi jangan ikuti begitu saja apa yang dikatakan media dan politikus.
Lakukan pencarianmu sendiri dan kamu akan menemukan jalanmu. Insya Allah. Islam adalah solusi dan Islam adalah kebenaran. Saudara Arnoud, terima kasih atas wawancara indah ini. Semoga kita bisa bertemu lagi, insya Allah. Insya Allah. Aku akan datang lagi, insya Allah. Terima kasih sekali lagi telah mengundangku.
Terima kasih mau menerima undangan kami. Aku ingin memulai dengan siapa Arnoud Van Doorn? Waalaikumsalam, terima kasih undangannya. Suatu kehormatan bisa ada di sini. Namaku Arnoud Van Doorn, usiaku 56 tahun. Aku seorang Muslim, alhamdulillah sejak 2013. Aku lahir dan besar di Belanda, di The Hague. Keluargaku Kristen, aku tumbuh sebagai Kristen. Aku dulu aktif di politik. Aku jadi anggota partai politik anti Islam Belanda bernama PFF. Aku masuk Islam di tahun 2013. Alhamdulillah. Sekarang sudah hampir 10 tahun. Aku di Istanbul diundang oleh Halis Media. Mereka punya sebuah proyek. Mereka mewawancarai ratusan mualaf lebih dari 40 negara, salah satunya adalah aku.
Jadi, suatu kehormatan bagiku bisa berada di sini, dan bisa melakukan wawancara di kota hebat ini. Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Agama apa yang kamu yakini? Aku tumbuh sebagai penganut Kristen. Aku ikut sekolah Katolik, dan klub olahraga Katolik dan sebagainya. Ayahku menganut Kristen. Aku pergi ke gereja pada hari Minggu, dan terkadang di hari biasa, tapi aku tidak pernah merasa 100% nyaman, hanya seperti rutinitas biasa. Aku hanya menjalaninya, tapi ada yang kurang. Mungkin sekarang, jauh di lubuk hatiku, dan dengan pengetahuan yang sekarang aku punya, bahkan sejak kecil, aku merasa ada yang hilang.
Ada hal yang tidak aku mengerti, seperti, bagaimana bisa ada tiga Tuhan, bagaimana bisa Yesus, Isa sang Nabi, bagaimana bisa dia menjadi anak Tuhan? Tidak masuk akal, ya kan? Dan ada beberapa hal yang benar-benar aneh bagiku, seperti darah Kristus dan tubuh Kristus, begitulah, semua perkara upacara ini... saat di gereja. Bagiku, itu, tidak masuk akal. Aku tidak bisa menjelaskan penyebabnya, karena aku masih kecil saat itu, tapi aku merasa ada yang kurang. Bagaimana saat kamu pertama kali mendengar tentang Islam? Bagaimana anggapanmu tentang agama ini? Aku mendengar tentang Islam sama seperti kebanyakan orang di negara Barat, dari media, politikus.
Islam, sebagai ancaman, penyebab kejadian 9/11, dan menindas wanita, dan semua aktivitas terorisme. Dan masalahnya di Belanda, di Eropa Barat, orang-orang tidak mempelajari Islam sendiri. Mereka percaya media massa. Mereka percaya politikus. Aku juga sama. Jadi yang aku tahu tentang Islam hanya, negatif, berbahaya. Mungkin aku membenci agama itu. Aku sungguh berpikir bahwa agama itu, Islam, ancaman bagi masyarakat, ancaman bagi kebebasan kita. Begitulah, saat aku masih menjadi anggota anti Islam, partai politik anti Islam ini, PFF, tujuan utama mereka adalah, melawan Islam, ya, tentu saja, dulu aku mendukungnya. Dan aku pikir ini hal benar dan aku meyakininya.
Apakah dulu kamu terlibat dalam proyek melawan Islam? Ya. Kamu tahu film terkenal itu kan? Aku bukan pembuatnya. Banyak orang berpikir begitu karena filmnya dibuat sebelum aku aktif di partai politik ini, tapi aku bersama beberapa orang lain, bertugas mendistribusikan film ini, untuk mempromosikan film, di media sosial dan sebagainya. Jadi, dulu aku adalah bagian organisasi ini dan terlibat promosi film. Ini salah satu contohnya. Tentu saja, sekarang aku merasa sangat menyesal, tapi dulu aku ikut di beberapa proyek ini. Ya, tentu. Kenapa kamu merasa tertarik dengan Islam? Aku tidak langsung tertarik dengan Islam.
Bukan seperti tiba-tiba bangun di pagi hari lalu menjadi seorang Muslim, tentu tidak. Tapi aku sempat ragu tentang Islam. Tidak masuk akal bagiku. Aku lihat di media, lihat para politikus dan mereka semua mengatakan kalau Islam itu jahat, dan ancaman bagi masyarakat, ancaman bagi kebebasan kita, dan semua itu jahat. Tapi tidak masuk akal bagiku, karena, 1.5 miliar orang di dunia, apakah mereka semua orang jahat, kejam, dan berbahaya? Lebih dari 1 juta orang di Belanda, mereka Muslim. Apa mereka semua orang jahat, kejam dan berbahaya? Dan banyak sekali orang Muslim. Banyak orang-orang baik, ramah dan bersahabat yang aku kenal secara pribadi.
Dan mereka bilang kita harus mempelajari Islam karena gagasan kita tentang Islam itu salah. Ya, ya, tentu. Tapi aku mulai belajar tentang Islam dengan membaca Al-Qur'an. Aku pergi ke masjid, berdiskusi dengan imam, orang Muslim lain, mencari tahu sendiri. Aku ke perpustakaan. Dan semakin belajar tentang Islam, rasanya semakin jelas, terutama bagiku, tapi hanya di saat-saat seperti ini, semakin aku belajar tentang Islam, semakin keyakinan itu berpindah dari kepala menuju hatiku. Aku merasa, "Wow, hebat, indah sekali." "Menjawab pertanyaan-pertanyaanku." "Mereka salah." "Ini agama yang luar biasa.
Aku merasa agama ini, menjawab semua pertanyaanku." Dan jika kamu belajar Islam, maka semua ini, semua keraguan dalam dirimu, semua hilang, begitu. Semua kesenjangan musnah. Segala pertanyaan yang kamu punya, semua terjawab. Apa hal pertama yang menyentuh hatimu tentang Islam? Pertanyaan ini banyak ditanyakan orang padaku, dan jawabannya bukan dari suatu bagian tertentu dari Al-Qur'an, suatu ayat tertentu, bukan. Tapi Islam itu sendiri, kehidupan nabi, Sallallahu 'alaihi wa sallam. Ada sebuah buku di Belanda. Berjudul Muhammad, dan isinya tentang kehidupan beliau. Itu juga sangat menginspirasiku. bagiku, Ini semua sebuah riset. Belajar tentang Islam.
Dan proses yang sangat lama mulai dari sangat sinis, seperti, oke, aku mau belajar Islam, tapi, mereka semua kan pembohong dan tidak benar. Mereka mencuci otakku. Perbincangan di masjid, ya, mereka sangat baik, tapi begitulah, menurutku mereka tidak jujur. Jadi semakin kamu belajar tentang Islam, sungguh-sungguh mencari tahu dengan pikiran terbuka, ini sangat penting, hati terbuka, pikiran terbuka, maka kamu tidak bisa menyangkal kebenaran. Jadi akhirnya setelah perjalanan panjang, dari non-Muslim menjadi seorang Muslim, butuh waktu setahun bagiku untuk masuk Islam, dan akhirnya, menjadi jelas bagiku, kalau Islam adalah, agama yang hebat, lalu aku bersyahadat di tahun 2013, alhamdulillah.
Bagaimana perasaanmu terhadap orang-orang yang melakukan propaganda yang salah terhadap Islam? Jujur, aku merasa ditipu. Aku selalu berpikir kalau di Belanda dan Eropa Barat, media massa, mereka semua jujur, mereka objektif. Dan begitu juga dengan politikus, mereka orang jujur, baik, dan bijaksana. Begitulah, mereka ada untuk kita, melindungi kita, menuntun kita. Tapi aku merasa dikhianati oleh mereka, karena, begitulah, saat kamu belajar tentang Islam, maka kamu juga akan mengerti semua yang mereka bilang tentang Islam itu salah. Semua negatif. Jadi aku sangat kecewa karena mereka mencuci otakku hingga menjadi anti-Islam. Bagaimana akhirnya kamu mengucapkan syahadat?
Bisa kamu ceritakan momen itu kepada kami? Saat aku memeluk Islam, usiaku 45 tahun. Aku bersyahadat di masjid. Sebelumnya aku pernah ke sana beberapa kali, saat aku punya pertanyaan tentang Islam. Jadi mereka bilang, "Kamu boleh datang ke masjid dan kamu bisa tanyakan semua pertanyaanmu." Aku berpikir, "Tidak, tidak, aku tidak akan ke masjid, karena mereka mungkin membenciku, dan aku tidak diterima di sana." Tapi aku diterima. Mereka mengajakku. "Kamu boleh masuk." Mereka sangat ramah. Mereka kasih teh dan sebagainya. Berjam-jam aku berbincang dengan mereka dan itu salah satu yang membuatku bingung karena mereka seharusnya membenciku.
Bagaimana bisa mereka ramah, bagaimana bisa pikiran mereka sangat terbuka? Bagaimana bisa mereka menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku? Itulah salah satu, yang membuatku memeluk Islam. Aku terpaksa melakukannya secara bersembunyi karena kalau orang lain tahu, aku bisa kehilangan pekerjaan, aku bisa kehilangan jabatan. Tapi saat itu aku sangat enggan. Dan aku bersyahadat di masjid, tapi tidak di depan khalayak. Di sebuah kantor kecil. Aku bahkan bukan bersama imam, tapi salah satu sukarelawan di masjid yang memanduku sebagai mentor di seluruh proses ini. Kami ucapkan syahadat dan tidak ada orang lain di sana.
Jadi mulai saat itu aku mempelajari islam, hingga akhirnya bersyahadat, bukan dalam beberapa hari, beberapa minggu, tapi hingga sekitar setahun. Prosesnya naik turun. Terkadang aku merasa sangat termotivasi, terkadang aku tidak melakukan apa pun. Tapi selama masa ini, semakin jelas bahwa Islam itu indah. Dan akhirnya, alhamdulillah, aku bersyahadat tahun 2013. Bagaimana perasaanmu setelah bersyahadat? Apakah kamu merasa damai dan tenteram? Ya, tentu. Setan selalu ada. Bahkan di menit-menit terakhir, dia hadir dan berbisik, "Jangan, jangan, jangan lakukan." Dan, "otakmu akan dicuci," lalu, "jangan," bahkan hingga 5 menit sebelum aku memeluk Islam.
Tapi setelah aku melakukannya, aku merasa seperti... beban beratku hilang. Aku sangat bahagia. Aku merasa... sulit diungkapkan, mereka yang pernah melakukannya, mereka mungkin mengerti maksudku. Seperti terlahir kembali. Bagaimana reaksi orang-orang di sekitarmu saat kamu masuk Islam? Yah, mereka terkejut. Sejujurnya, aku salah karena seluruh perjalananku menjadi seorang muslim dan memeluk Islam aku lakukan sendiri. Tidak ada yang tahu. Hanya ibuku dan dia mendukungku. Dia masih mendukungku, hingga sekarang. Teman-teman, rekan kerja, tidak ada yang tahu perjuanganku. Jadi aku sempat merasa sedikit takut. "Oke, sekarang...
tidak ada yang tahu kalau aku melangkah ke sini untuk memeluk Islam." Bagi mereka, ini mengejutkan. Jadi aku sangat ragu. Aku tunggu beberapa minggu untuk mengungkapkannya. Tapi anggota keluarga lain, sebagian besar, bahkan saudara dan saudaraku, menjadi seperti ada jarak. Bukan mereka menolakku, tapi ada yang berubah. Kita tidak pernah membahas tentang Islam. Sangat sensitif. Aku merasa ada jarak. Aku kehilangan banyak teman, serta pekerjaanku. Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi setelah masuk Islam, dan pengorbanan apa yang harus kamu lakukan?
Saat aku jadi Muslim, dulunya aku adalah politikus, tapi aku tidak bekerja untuk partai politik itu lagi, untuk PFF, karena selama masa itu sudah jelas bahwa itu bukan tempatku. Tapi bagi mereka, tetap mengejutkan. Yah, seandainya menjadi Muslim di organisasi politik ini, di partai politik ini, ya, kamu sudah tidak dianggap lagi. Ya, setelah tersiar kabar kalau aku menjadi Muslim, aku kehilangan pekerjaan, dan kehilangan banyak teman. Aku kehilangan anggota keluarga, banyak rekan kerja, tentu saja. Jadi aku harus pindah. Kujual rumahku, lalu pindah ke rumah yang lebih kecil. Aku harus jual mobil. Jadi hidupku sedikit kurang mewah. Bagiku itu bukan pengorbanan.
Sebelumnya aku punya banyak uang, sering berlibur, punya jam tangan mewah dan mobil indah, dan semuanya, bagus dan mewah, tapi, begitulah, itu hanya benda. Hatiku terasa kosong. Tapi setelah aku memeluk Islam, ya, aku memang punya sedikit uang, tapi aku lebih bahagia dari sebelumnya. Jadi pembuktian bahwa, barang-barang, uang, dan mobil mahal tidak mengisi kekosongan di hatimu. Jadi berkorban materi? Ya. Berkorban dan kehilangan sahabat dan keluarga? Betul, itu juga pengorbanan. Lagi pula, aku merasa lebih bahagia. Setelah kamu menjadi seorang Muslim, apakah ada orang yang terinspirasi darimu dan juga masuk Islam? Aku punya seorang putra adopsi, Iskander.
Dia memeluk Islam setelahku, selama acara di Dubai. Dia memang sudah tertarik pada Islam. Dia juga ikut denganku ke masjid dan ikut belajar dan sebagainya. Lalu, akhirnya di sana, dia berbincang dengan orang-orang penting selama kami di sana. Lalu, dia akhirnya, alhamdulillah, memeluk Islam. Dan aku dengar cerita dari orang-orang. Aku tidak bisa bilang mereka masuk Islam karena aku, karena mereka dituntun oleh Allah. Tapi mungkin aku menginspirasi mereka belajar Islam, cari ilmu tentang Islam, pergi ke masjid atau semacamnya, atau merenung tentang Islam, melakukan riset. Mungkin, ya. Seperti itu yang aku dengar dari banyak orang. Semoga begitu.
Apa hal tentang Nabi Muhammad SAW yang paling membuatmu terinspirasi? Kehidupan beliau sulit. Beliau bersama keluarganya menghadapi banyak kesulitan, orang-orang melempar batu dan sebagainya. Namun beliau tidak marah. Beliau tidak membenci. Beliau tetap jadi orang yang sabar, pemaaf, ramah, murah senyum, beradab, berakhlak, dan sebagainya. Beliau tetap bersikap sama, meskipun dengan semua kesulitan ini, semua kejadian ini, yang menentang beliau. Dan bagiku, itu sangat menginspirasi. Dan itulah yang aku coba lakukan, setidaknya mencoba seperti nabi kita, Sallallahu 'alaihi wa sallam. Proyek apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?
Kami punya beberapa proyek di Maroko, beberapa proyek kecil, kami coba bantu keluarga miskin, orang miskin. Bukan hanya untuk Islam, tapi kami coba bantu agar mereka bisa sekolah, punya barang-barang, buku sekolah dan sebagainya. Kami dapat uang dari banyak pebisnis. Dan kami bekerja sama membangun rumah-rumah kecil untuk mereka yang tinggal di jalanan, dan sebagainya. Hal-hal kecil. Kami menggelar acara untuk anak-anak kecil. Dan tentu kami juga membahas tentang Islam. Ada banyak orang di sana yang lebih memahami Islam daripada aku karena aku bukan ahlinya. Aku bukan sarjana. Mereka membahas Islam, apa yang bisa dilakukan, cara menjadi Muslim yang lebih baik.
Jadi kami coba menggabungkan amal dengan dakwah. Kalau kamu berkesempatan untuk bicara pada semua non-Muslim di dunia, apa yang ingin kamu katakan dalam waktu satu menit? Pesanku adalah jangan dengarkan media massa. Jangan dengarkan politikus yang bicara negatif tentang Islam. Kamu cari tahu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas pengetahuanmu sendiri. Kalau kamu tidak mengerti, cari tahu. Dan itu sangat mudah. Ada banyak konten di media sosial. Kamu bisa baca tentang Islam, pergi ke masjid, bicara dengan imam, berkunjung ke orang Muslim, diskusikan tentang agama ini, tapi jangan ikuti begitu saja apa yang dikatakan media dan politikus.
Lakukan pencarianmu sendiri dan kamu akan menemukan jalanmu. Insya Allah. Islam adalah solusi dan Islam adalah kebenaran. Saudara Arnoud, terima kasih atas wawancara indah ini. Semoga kita bisa bertemu lagi, insya Allah. Insya Allah. Aku akan datang lagi, insya Allah. Terima kasih sekali lagi telah mengundangku.