Towards Eternity
Kembali ke blog

Ali Dawah Answered The Toughest Atheism Questions! - Only in 1 Minute

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Tuhan pencipta segalanya. Jadi siapa pencipta Tuhan? Kamu percaya Tuhan. Jadi, ilmuwan nggak bisa menemukan Tuhan. Tapi kamu bisa. Benarkah? Kalau ada waktu tak terhingga. Kenapa bukan kemungkinan tak terhingga? Begitu dia menciptakannya, dia menjadi tidak berkuasa karena dia tidak bisa mengangkatnya. Yang seperti itu tidak ada. Ada sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Oxford oleh Justin Barrett. Dia menemukan bahwa anak kecil yang nggak diajarkan Islam atau Kristen atau agama lain, mereka cenderung percaya satu Tuhan Ali Dawah, kamu punya satu menit untuk tiap pertanyaan. Kamu siap? Kamu sudah siap? Bisakah kamu buktikan keberadaan Tuhan dalam 1 menit? Mari kita lihat Google.

Agar Google ada, kita perlu Internet. Agar Internet ada kita perlu komputer atau telepon atau tablet Agar komputer ada, harus ada manusia dst. Harus ada listrik. Pertanyaannya jadi seperti berikut. Google butuh Internet. Internet butuh komputer. Komputer butuh kita dan listrik. Terus seperti itu. Nggak mungkin terus menerus ada ketergantungan seperti itu. Harus ada sesuatu di ujung yang masuk akal, sesuatu yang independen, tak bergantung dan perlu ada, yaitu Tuhan. Kenapa "Sesuatu yang Perlu Ada" itu bukan semesta? Pernyataan yang bagus karena menunjukkan kamu setuju bahwa harus ada sesuatu di ujung. Itu bagus.

Jawabanmu menunjukkan sesuatu itu adalah semesta, dan kubilang semesta berkontradiksi dengan sesuatu itu, karena ia seharusnya independen, tak bergantung, dan perlu ada. Semesta itu bergantung dan nggak berdiri sendiri. Malah sebaliknya. Jadi semesta bukanlah sesuatu tersebut karena kontradiktif. Bisakah Tuhan membuat batu yang tak bisa diangkat-Nya? Bagiku, pertanyaan ini nggak valid. Ketika orang bertanya, seolah-olah ia valid. Aku bisa bertanya juga, bisakah Tuhan berhenti ada? Tentu nggak bisa. Karena kontradiktif. Seolah-olah aku tanya, berapa hari dalam sepekan, ya atau nggak? Ya atau nggak? Pertanyaannya bukan ya atau nggak. Pertanyaannya berapa hari dalam sepekan? Tujuh.

Jadi poinnya, pertanyaannya nggak valid, jadi jika bertanya: Bisakah Tuhan membuat batu yang nggak bisa dia angkat?. Kalau bisa begitu, Dia jadinya nggak berkuasa karena Dia nggak bisa mengangkatnya . Nggak ada yang wujud seperti itu. Pertanyaannya nggak butuh jawaban, hanya retoris. Bisakah ada lebih dari satu Pencipta? Nggak, karena kita balik ke argumen sesuatu yang perlu ada. Jika ada lebih dari satu pencipta, pertanyaannya jadi bagaimana bisa ada lebih dari satu yang mandiri dan independen. Jika ada pencipta lain, terjadi ketergantungan. Ia jadi nggak perlu ada.

Jadi pertanyaannya, kalau ada dua pencipta, pertama, Allah katakan dalam Al-Qur'an, mereka akan bertarung satu sama lain demi kekuasaan. Ya. Jadi pertarungan ini menunjukkan ketergantungan mereka, satu harus lebih berkuasa agar bisa membunuh yang satu lagi. Itulah makanya kita percaya hanya ada satu Tuhan. Yang mandiri, independen, dan diperlukan keberadaanya. Tuhan pencipta segalanya. Jadi siapa pencipta Tuhan? Pertanyaannya nggak valid. Sekali lagi, pertanyaannya nggak valid. Hanya karena ada orang menanyakan ini nggak berarti pertanyaannya valid, karena yang kita lihat adalah sebab dan akibat dalam semesta kita.

Harus ada perancang yang menciptakan, kalau ditanya siapa pencipta perancangnya itu, kamu belum ngerti siapa perancangnya itu. Balik lagi ke masalah sesuatu yang perlu ada apa sifat-sifatnya? Ia independen. Ia mandiri. Ia diperlukan keberadaannya. Jika setuju hanya butuh tiga sifat ini. Ya. Kamu harus mengakui pertanyaan tentang siapa pencipta Tuhan. "Bisakan Tuhan menciptakan batu yang nggak bia dia angkat?" "Bisakah Tuhan berhenti ada?" adalah pertanyaan yang nggak valid. Nggak ada wujudnya. Jawaban pertanyaanmu nggak ada wujudnya. Karena kalau ada Tuhan yang menciptakan tuhan, maka tuhan menjadi bergantung. Dia nggak mandiri lagi.

Jadi kita bilang bahwa pencipta ini, selama pencipta yang perlu ada ini independen, mandiri, dan diperlukan keberadaannya, terjawab sudah semuanya. Kenapa Islam sedangkan ada banyak agama lain? Baik, itu pertanyaan yang kutanya sendiri sebelum masuk Islam, "Kenapa Islam?" dan ketika aku mengkaji yang kutemukan adalah fitrah. Ada penelitian di Universitas Oxford oleh Justin Barrett. Dia menemukan bahwa anak kecil yang nggak diajarkan Islam atau Kristen atau agama lain, mereka semua cenderung percaya satu Tuhan, bukan dua atau tiga. Jadi bagiku, aku memang percaya ada satu Tuhan.

Tapi pertanyaannya "Kenapa Islam?" pertanyaan yang kutanya diri sendiri juga, lalu kutemukan Islam adalah monoteisme yang sebenarnya, Ya. yang sebenarnya, karena jika tanya orang Kristen, mereka bilang mereka monoteis tapi mereka percaya tiga dalam satu, tanya orang Hindu, mereka percaya 1 juta tuhan sebagai satu. Poinnya, monoteisme murni ini dan ibadah serta pemahaman tentang Tuhan hanya ada dalam Islam. Bukan hanya itu, kalau kita lihat Al-Qur'an, ditemukan bahwa ia satu-satunya kitab di planet ini yang terjaga dan keajaibannya bisa terlihat. Contohnya, jika aku datang ke orang Kristen dan berkata, aku ingin memeluk agama Kristen. Tunjukkan. Kamu tahu, Yesus menghidupkan yang mati.

Maka dengan izin Tuhan, tunjukkan padaku. Jika pergi ke orang Yahudi dan berkata, Musa melakukan itu, tunjukkan. Bisa mereka tunjukkan? Nggak bisa. Jika mereka datang dan bertanya, apa keajaiban Al-Qur'an? Kita jawab, ini Al-Qur'an yang bisa ditunjukkan dan disentuh bisa dirasakan, bisa dianalisis. Kenapa? Karena Al-Qur'an sumber ilmu. Al-Qur'an untuk semua manusia. Dan kamu bisa lihat, dengar, kaji. Tapi keajaiban para nabi lain, nggak pernah bisa dibuktikan. Karena dikhususkan hanya untuk zaman nabi itu. Kalau Al-Qur'an untuk semua zaman karena ada metode tradisi lisan, untuk Al-Qur'an, yang bisa dikaji oleh kita dan generasi penerusnya. Dan memang ku kaji, sebelum aku masuk Islam.

Aku mengkajinya. Kubaca, kulihat pernyataan-pernyataannya, kulihat keajaiban-keajaibannya, kubilang, kitab ini pasti berasal dari Allah. Kamu bilang Al-Qur'an ada keajaibannya. Bisakah kamu beri tahu satu keajaiban Al-Qur'an? Dengan murah hati. Kuberitahu tiga keajaiban. Kamu harus murah hati dalam hidup ini. Kamu tahu, yang pertama, kupikir, sangat dalam. Sangat penting, karena kita diberitahu, contohnya, dalam Surah al-Massad (Al Lahab) Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang Abu Lahab dan sangat menarik karena Abu Lahab bisa menyatakan sesuatu dan seluruh Islam akan terbukti salah. Allah berkata dalam Al-Qur'an Abu Lahab dan istrinya, mereka akan terbakar api, api neraka.

Mereka akan mati sebagai kafir dan masuk neraka. Sekarang kalau kamu pikir, Abu Lahab, bisa melakukan satu hal dan membuktikan Islam salah. Karena di Al-Qur'an jelas. Kamu akan ke neraka, kamu dan istrimu, dan kamu akan mati sebagai kafir. Jadi begini. Mereka bisa, Abu Lahab bisa berkata, "Tunggu dulu. Asyhadu Alla Ilaaha Illallah nah terbukti kan, agamamu salah karena agamamu berkata, aku masuk neraka. Agamamu bilang aku akan mati sebagai kafir. Jadi, aku masuk Islam." Hal itu nggak dilakukannya 192 00:06:26,469 --> 00:06:28,346 Dia mati sebagai kafir. Bagiku, itu dalam karena dia hanya perlu menyatakan masuk Islam sebagai bukti... Dia ingin...

Mereka ingin menghentikan Nabi Muhammad, semua yang dilakukannya. 10 detik mengucapkan syahadah seluruhnya terbantahkan. Tapi hal itu gak dilakukannya. Jadi terbukti Yang kedua, ada bukti, contohnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkata dalam Al-Qur'an, tentang zaman Musa dan zaman Yusuf a.s dan Allah berkata pada zaman Yusuf a.s Dia menyebut pemimpin sebagai raja. Pada zaman Musa, Dia menyebut pemimpin sebagai firaun (pharaoh). Tapi di Bibel pada zaman Yusuf a.s pemimpin disebut firaun.. Pada zaman Musa pemimpin juga disebut firaun. Ini kesalahan sejarah ketika mereka menafsirkan batu Rosetta; untuk memahami hieroglif Mesir. Mereka menemukan nggak ada firaun pada zaman Yusuf.

Dinasti itu nggak ada. Yang ada raja, bagaimana Al-Qur'an tahu hal ini? Dan kata mereka "Al-Qur'an meniru Bibel", Jika Al-Qur'an meniru Bibel. Kenapa pada Al-Qur'an nggak ada kesalahan itu? Dan bagaimana Al-Qur'an tahu pada zaman Yusuf pemimpin itu raja, bukan firaun? Bagaimana Al-Qur'an tahu? Itu yang kedua. Yang ketiga. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan dalam Surah Ar-Rum orang Romawi sudah dikalahkan tapi akan menang. Para sejarawan berkata cara orang Romawi dikalahkan orang Persia. Mustahil secara logika mereka akan menang kemudian. Bahkan hanya untuk bertahan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berkata dalam Al-Qur'an. Orang Romawi sudah kalah, tapi mereka akan menang.

Itu pernyataan besar, seperti mengatakan aku dan kamu, kita akan mengalahkan AS dan kita akan mengalahkan Trump. Gila kan. Pernyataan yang besar taruhannya. Dan setelah 3 hingga 7 tahun atau 3 hingga 9 tahun, Bangsa Romawi benar mengalahkan bangsa Persia. Ada bukti sejarahnya. Inilah bukti keajaiban Al-Qur'an. Ada ratusan lagi. Ratusan. Baru kuberi tiga saja. Dan bisa kulanjutkan. Kamu percaya Tuhan. Ilmuwan nggak bisa menemukan Tuhan, tapi kamu bisa. Benarkah? Bukan tentang aku bisa. Kita pakai logika. Kita pakai otak, sains berhubungan dengan lima panca indera. Yang bisa dilihat, empirisme. Jadi sangat sederhana. Ada ilmuwan yang percaya sesuatu.

Jika mengatakan, contohnya, aku nggak bisa melihat Tuhan, makanya, kamu tahu, aku nggak percaya Tuhan. Kamu tahu, Bukan tentang science yang nggak membahas hal-hal supernatural. Hanya hal yang bersifat fisik. Tapi kita tahu, contohnya, ilmuwan telah menemukan materi gelap (dark matter) baru-baru ini dark matter nggak bisa mereka lihat, nggak bisa disentuh, dirasakan, nggak bisa dicium, didengar, jadi sama analisanya, terkait wujud Tuhan. Bisakah Tuhan dilihat? Nggak. Disentuh? Nggak. Bisakah Tuhan dicium? Nggak. Didengar? Nggak. Bisa kamu lihat Tuhan? Nggak. Tapi kamu tolak Dia ada. Tapi sama seperti kasus materi gelap. Sama saja. Tapi kamu bilang nggak.

Materi gelap (dark matter) beneran ada. Kontradiksi macam apa ini? Pertama, Tuhan nggak ada karena nggak bisa kusentuh, kurasakan. Tapi materi gelap. Kontradiksi. Kenapa ada standar ganda seperti ini? Ini hal yang terjadi pada ilmuwan, bukan yang baru kutemukan. Kugunakan logika, rasionalitas untuk sampai pada kesimpulan sederhana. Dan aku nggak perlu jadi ilmuwan. Aku nggak peduli kamu ilmuwan sehebat apa. Kamu tahu, ada orang yang percaya Tuhan. dan ilmuwan juga, kamu tahu, seperti Einstein. Kamu tahu, dia percaya adanya Kekuasaan yang Lebih Tinggi. Jadi ilmu atau ilmuwan dan Tuhan tidak berkontradiksi. Bisa ada ilmuwan Muslim atau ilmuwan Kristen. Jadi, ya, bukan temuan baru.

Beranikah kamu bicara dengan ateis terkenal? Apa yang kamu lakukan jika bertemu mereka? Nggak masalah karena sejujurnya, aku nggak peduli seberapa ateis kamu seberapa saintis, profesor, aku nggak peduli, sama aja. Kamu tahu, argumenku sama dan kamu harus menjawabnya. Aku nggak peduli karena yang kutahu 100% pasti logis dan rasional jadi nggak ada cara kamu bisa lari, kecuali kamu mengaku sebagai deis, minimal itu. Mungkin teis, bisa juga. Deisme. Jadi aku nggak peduli apakah kamu profesor, aku nggak peduli, nggak relevan, selagi kamu punya akal, kuharap. Kita bisa berlogika, jadi 100% nggak ada kesimpulan lain. Jika ada waktu tak terhingga Ya Kenapa bukan kemungkinan tak terhingga?

Pertanyaan bagus. Aku harus minum dulu baru menjawab. Gelas ini kosong. Ya, kosong. Jika kita bilang ada waktu tak terhingga, karena argumennya di sini kalau ada waktu tak terhingga, apapun bisa terjadi. Ini salah karena kalau berargumen seperti itu, Jika aku suka kue keju coklat, bukan kue keju coklat. Dalam bahasa Turki. Ya. Sutlac (kue Turki). Jika aku mau makan sutlac di sini dan berkata, kita beri waktu tak terhingga, bisakah kudapat sutlac? Dan ngomong-ngomong, aku suka sutlac yang atasnya gosong. Ayo lebih spesifik. Bisakah kita dapat sutlac? Nggak, karena waktu bukan faktor yang relevan jika bahan untuk membuat sutlac seperti yang kusuka nggak ada, nggak pernah terhasil sutlac.

Sesederhana itu. Waktu nggak relevan. Apa relevansi waktu di sini? Kalaupun ada waktu yang tak terhingga bisa kamu dapat Ferrari? Nggak, kalau ada waktu tak terhingga bisa kita dapat semesta? Nggak, karena bahan-bahan untuk membuat semesta atau Ferrari atau sutlacku yang lebih penting lagi, ternyata nggak ada. Jadi kalau nggak ada, kamu nggak akan pernah dapat. Tapi kuharap setelah ini aku akan dapat sutlac. Oke. Sesi tanya jawab kita sudah selesai Makanya aku mau bertanya kepadamu. Kenapa kamu nggak masuk Islam setelah kujawab semua pertanyaanmu? Tolong ulangi: “Asyhadu Alla.. Kami Muslim, alhamdulillah. Kami Muslim. Senang sekali kalau begitu.

Seperti bisa kamu lihat, ada biskut, teh Turki. Kamu tahu, kurasa aku harus sering-sering ke sini. Tolong, undang aku secara rutin. Sampai jumpa lagi. Assalamu alaikum.