“Apakah Hidup Terlalu Berat untuk Dihadapi? Berserahlah kepada Allah
Diterbitkan pada
Semuanya sudah berakhir. Kamu memutuskan mengakhiri hidupmu. Kamu tidak ingin hidup lagi karena hidup membuatmu sakit. Pikiranmu terus mengganggu dan kamu merasa sengsara. Kamu bilang, "Aku tidak bahagia, untuk apa aku hidup?" Kamu memanjat ketinggian untuk mengakhiri hidupmu. Kamu biarkan dirimu jatuh menghantam tanah. Merasakan sakit terburuk yang bisa dibayangkan. Sirene ambulan berdengung. Orang-orang datang, berlari, berteriak dan menjerit, "Dia menjatuhkan dirinya.", teriak mereka. Tiba-tiba ibumu datang ke balkon dan mencarimu. Kamu di mana? Dia melihat ke bawah, melihat tubuhmu tak bernyawa dan berlari menuruni tangga sambil menangis. "Bukan anakku. Semoga itu bukan anakku.
Jangan biarkan dia mati." Kamu menjadi penyebab luka terdalam yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Luka yang akan dia rasakan setiap hari sampai akhir hidupnya. Kita akan bicara tentang bun*h diri. Mengapa seseorang bun*h diri? Masalah memang datang silih berganti, bukan? Kita semua pernah kesulitan, bukan? Namun, di dunia ini juga ada musibah yang cukup mendorong seseorang bunuh diri. Rasanya seperti peperangan di kepalamu. Ada hal yang terus berputar di benakmu. Banyak pikiran yang muncul. Kamu merasa bingung dan tidak berdaya. Jadi, kamu berperang dengan dirimu sendiri. Bahkan aktivitas yang dulu kamu nikmati sekarang terasa tak berarti.
Kesehatan mentalmu hancur dan jadwal tidurmu berantakan. Kamu tak menikmati makan atau minum lagi. Kamu tahu apa yang paling buruk? Tidak seorang pun memahamimu. Kamu bahkan tak percaya seseorang dapat mengurai masalahmu. Kamu menonton TV untuk hilangkan kebosanan. Melakukan banyak hal untuk melupakan rasa sakitmu. Namun tak membantu. Karena pikiran itu ikut denganmu ke mana pun dan menggerogotimu dari dalam. Jika kamu tak bisa menggunakan akalmu dan mengendalikannya, datanglah bencana. Aku telah meneliti tentang subjek ini, dari sudut pandang ilmiah, psikologis, dan Islam. Ada temuan terbaru dan mencengangkan. Misalnya, tahukah kamu bahwa setiap 40 detik seseorang bunuh diri di dunia ini?
Jadi sejak video ini dimulai, dua atau tiga orang telah bunuh diri. Orang yang bunuh diri itu dulunya adalah orang dengan pandangan hidup yang positif, yang berpikir positif, yang tampak tidak punya masalah, begitu gembira. Namun, malapetaka yang mereka hadapi membawa mereka ke titik yang sangat jauh, dan mereka pikir mereka tidak kuat lagi. Sebenarnya, bunuh diri bukanlah solusi. Itu pelarian, karena akan selalu ada jalan keluar. Bahkan ada kutipan yang mengatakan, "Jika kamu mengimani Allah, peluangmu untuk menyelesaikan masalah itu tidak terbatas." Kekuatan Allah tidak terbatas, kan? Jadi, apa yang sulit bagi-Nya? Dalam sebuah ayat Al-Qur'an.
Allah berfirman, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Lalu, Kenapa orang bun*h diri? Salah seorang ulama Islam terhebat, Bediuzzaman Said Nursi, mengamati tentang kesabaran. Ia berkata, "Jika seseorang tidak menyalurkan kesabarannya ke masa lalu dan masa depan, tetapi memusatkannya pada masa kini, ia dapat menanggung setiap musibah." Ya, seseorang bisa menghadapi tiap musibah, termasuk semua masalah yang mendorong untuk bunuh diri.
Jika kamu terlalu berpikir tentang apa yang telah terjadi dan mengeluh, "Mengapa begitu?" Kamu menggunakan kesabaranmu untuk masa lalu, dan pada saat yang sama kamu menyalurkannya ke masa depan dan berpikir, "Apa yang akan terjadi? Bagaimana keadaan akan membaik?" Kamu telah menyebarkan kemampuan sabarmu ke masa lalu dan masa depan. Pusatnya, yaitu masa kini, jadi tidak berdaya. Kemudian setan, iblis, menyadari kekosongan itu dan segera menyerangmu. Dia menguras kesabaranmu hingga kamu berpikir, "Sudah cukup. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak ingin hidup lagi." Ini karena kamu telah menyebarkan kesabaranmu ke masa lalu dan masa depan.
Saat itulah iblis menyerang seseorang yang semakin dekat untuk bunuh diri. Tiba-tiba dia menyerang pikiranmu. Pikiran negatif mengalir di kepalamu. Saat kamu memakai kacamata hitam, semua akan berwarna hitam, kan? Jadi, iblis pakaikan kacamata hitam padamu. Semuanya tampak negatif dan mustahil untuk dihadapi. Dia menyerangmu dari kiri dan kanan. Dan kamu ingin membungkam pikiran-pikiran ini, tapi kamu tidak bisa. Inilah alasan kenapa orang bunuh diri, untuk menghilangkan rasa sakit di pikiran dan hati. Jadi, apa mereka ingin mengakhiri hidup jika rasa sakit itu hilang? Tentu saja tidak. Kami telah menguraikan alasan penyebab bunuh diri. Alasan keuangan. Mendapat masalah. Alasan keluarga.
Gangguan psikologis. Depresi. Kesepian. Putus cinta, bertepuk sebelah tangan. Hal ini bisa menyebabkan orang bunuh diri. Selain itu, 90% kasus bunuh diri disebabkan oleh alasan psikologis, dan 50% orang bunuh diri kecanduan alkohol atau narkoba. Sangat menarik, kan? Ada sesuatu yang selalu dilupakan orang. Tubuh ini hanya titipan untukmu. Coba lihat dirimu sendiri. Dari mana matamu berasal? Di pasar mana kamu bisa membeli mata? Kamu tidak memiliki apa pun. Apa kamu menyadarinya? Lalu, apakah manusia berhak berkata, "Kenapa harus seperti ini?" Coba pikirkan. Kamu beli rumah dan mendekorasinya sesuai keinginan. Lalu, ada tamu datang dan mulai mengkritik. "Kenapa dindingnya kamu warnai begini?
Sofanya tidak cocok dengan warna ini. Aku mau mengganti warnanya." Apa reaksimu jika mereka bilang begitu? Kamu akan bilang, "Kamu bukan pemilik rumah ini. Kamu tidak berhak memutuskan itu." Ya kan? Sekarang mari lihat diri kita sendiri. Apa yang kita miliki? Tidak ada. Dan pemiliknya bebas melakukan apa pun yang dimiliki-Nya. Dia menguji kita untuk memperbaiki diri. Misalnya, saat ujian dimulai dan kertas ujian dibagikan, guru bisa berubah menjadi sangat serius, bukan? Terutama jika kamu tidak mengikuti aturan. Saat kamu melihat kertas ujian, kamu melihat soal ujian. Ada pilihan yang benar dan salah. Kamu tidak bisa berkata, "Kenapa pada pilihan B, C, D, dianggap salah Kenapa begini?
Ini salah." Ini adalah ujian. Demikian pula, hal-hal negatif pasti akan terjadi di dunia ini. kamu akan menghadapi masalah. Akan ada saat yang membuatmu berpikir, "Kenapa ini terjadi padaku?" Tapi jangan khawatir. Di akhirat, semuanya akan mendapat keadilan. Jangan bilang, "Kenapa mataku tidak melihat? Kenapa telingaku tidak mendengar?" Di akhirat, semua akan seimbang. Contohnya, seseorang yang terlahir buta. Ia datang ke dunia, hidup. Kemudian kematian datang dan ia pergi. Ia tidak dapat melihat apa pun.
Namun ketika kekurangan yang dialaminya diberikan kepadanya di dunia sebagai pahala di akhirat, dia akan berkata, "Aku sama sekali tidak bersedih, karena aku buta di dunia." Jika tidak ada Akhirat, itu sungguh menjadi ketidakadilan. Tetapi kita memiliki Akhirat. Kesusahanmu juga akan mendapat keadilan. Jadi jangan khawatir, nanti kamu akan melihat ke belakang dan tersenyum atas penderitaanmu yang lalu. Selalu seperti ini, kan? Ingatlah musibah terbesar dalam hidupmu. Dia datang dan pergi. Mungkin kamu tidak tersenyum karenanya, tapi kamu merasa rasa sakitnya telah mereda. Setelah seminggu, rasa sakitnya sedikit reda. Kemudian tiga minggu berlalu, dan rasa sakitnya semakin berkurang.
Setahun kemudian kamu akan berkata, "Apakah aku memang sekesal itu?" Dan ketika sepuluh tahun berlalu, kamu bahkan tidak mengingatnya. Dalam Surah Al-Maidah ayat 32, Allah berfirman, "...Barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia." Dalam ayat ini, ketika disebutkan mengambil nyawa, kenapa kamu hanya memikirkan orang lain? Kamu tahu bagian terburuk dari bun*h diri? Kamu tidak berkesempatan untuk bertobat. Katakanlah kamu telah berzina atau dosa lainnya. Kamu menyesal lalu bertobat, lalu Allah mungkin mengampunimu.
Namun jika kamu bun*h diri, kamu tidak punya kesempatan, tidak ada waktu untuk bertobat. Dengan dosa besar itu, kamu langsung menuju akhirat. Apa alasanmu bunuh diri? Agar semuanya berakhir, kan? Tapi tidak semuanya berakhir saat kamu mati. Sebenarnya, tidak ada yang berakhir. Sebaliknya, yang lebih buruk dimulai. Bagaimana jika Allah tidak mengampunimu? Apakah Neraka tidak membuatmu takut? Sekarang, misal aku menamparmu sepuluh kali di sini, kamu pasti ingin keluar, kan? Bagaimana jika aku bilang kalau kamu keluar, seratus orang akan menamparmu lebih keras? Begitulah neraka. Coba lihat ayat-ayat tentang neraka.
Kamu mungkin berpikir, "Biarlah berakhir, aku akan bebas setelah bun*h diri." Tapi, tidak. Tidak seperti itu. Tepat setelah semuanya berakhir, rasa sakit sebenarnya datang. Ada pepatah mengatakan. Jika dunia ini sementara, bagaimana mungkin kesusahanmu permanen? Bukankah itu benar? Dengar, ada banyak ayat yang menghibur kita. Dalam Surah al-Insyirah ayat 5-6, Allah berfirman, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Surat az-Zumar, ayat ke-53. "...Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." Surat az-Zumar, ayat ke-36. "Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?" Surat al-Baqarah, ayat ke-216. "...boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Dengan semua kabar baik yang diberikan pada kita melalui ayat-ayat ini, bagaimana mungkin seseorang tidak memiliki harapan? Ada sebuah pepatah. Mereka yang melihat keindahan hidup, berpikir dengan indah, dan mereka yang berpikir indah, menikmati hidup mereka. Ada orang yang 50 kali lebih menderita daripada kamu, tapi mereka masih bisa hidup bahagia. Kenapa?
Karena pola pikir mereka. Karena mereka punya perspektif baik pada hidup. Lihatlah kehidupan para nabi. Seperti apa mereka? Apakah Ayyub AS hidup di dunia tanpa masalah dan kesulitan? Lihat kesulitan Nabi Yunus AS, yang Nabi Isa AS lalui. Nabi Muhammad SAW. Mereka semua mengalami banyak kesulitan. Tapi apakah mereka pernah mempertanyakan Tuhan atau bun*h diri? Jadi, ini salah satu alasan kenapa orang bunuh diri. Kamu fokus pada hal-hal negatif. Kamu tidak menghargai hidupmu. Kamu pikir masalah tidak dapat ditangani dan ingin bun*h diri. Saudara dan saudariku, percayalah, itu karena pola pikir kita. Kamu dapat berita, masuk ke telingamu, berita buruk merusak seluruh psikologimu.
Yang perlu kita lakukan adalah di mana menempatkan kalimat itu dan bagaimana memprosesnya. Tahukah kamu bahwa hidup yang tidak kamu sukai itu adalah impian jutaan orang? Mereka akan melakukan apa saja untuk menjalani hidupmu. Ada banyak orang di dunia yang menderita. Beberapa dari mereka bahkan tidak bisa membayangkan hidup sepertimu, karena bayangan mereka belum sampai. Mereka belum pernah melihat kehidupan seperti itu. Aku mengerti penderitaanmu sangat dalam, tapi kamu harus merubah pola pikirmu dan yakinkan dirimu untuk keluar dari labirin. Kapan terakhir kali kamu bersyukur bahwa kamu memiliki kaki? dan dapat berjalan?
Beberapa orang diuji dengan disabilitas, ada yang hidup tanpa tangan, yang lain tanpa kaki, ada yang tidak dapat melihat. Mereka menghadapinya. Mereka menghadapi tantangan 50 kali lebih besar dari kita, tapi mereka memilih untuk hidup dan menemukan kebahagiaan. Di akhirat, mereka akan diberi pahala lebih dari kita semua. Ada berbagai macam penderitaan di dunia. Allah telah memberimu begitu banyak nikmat. Aku mengerti kamu tidak selalu bisa melihat yang kamu miliki karena suasana hatimu. Sekarang tutup matamu, dan bayangkan apa yang mungkin terjadi dalam pikiran seseorang yang berpikir untuk bun*h diri. Kamu memutuskan mengakhiri hidupmu. Sekarang, semuanya sudah berakhir.
Kamu tidak ingin hidup karena menyakitkan. Pikiranmu terus mengganggumu. Kamu merasa sengsara. Kamu berpikir, "Aku tidak suka hidupku, untuk apa aku hidup?" Jadi kamu panjat tempat tinggi dan menjatuhkan diri lalu menghantam tanah. Menjadi rasa paling sakit dalam hidupmu. Ada dua kemungkinan bagimu, dan tidak ada jaminan bahwa kamu akan mati. Bayangkan kamu lumpuh atau cacat permanen. Sekarang, selama sisa hidupmu, kamu mungkin tidak bisa merasakan nikmat sederhana, seperti berlari bebas semaumu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar individu yang selamat dari percobaan bun*h diri, mereka langsung menyesali sesaat setelah melakukan tindakan tersebut.
Studi menunjukkan hingga 90% penyintas bun*h diri, mereka tidak mati karena bun*h diri. Mereka menyesalinya. Atau kemungkinan lainnya. Katakan saja kamu sudah meninggal. Apa yang terjadi sekarang? Di sekitarmu, terdengar suara ambulans. Orang-orang datang, berlarian, berteriak. Mereka berteriak. Tapi kamu di mana? Tiba-tiba ibumu datang ke balkon dan mencarimu, tapi tidak menemukanmu. Ibumu melihat ke bawah, dia melihat mayat dan berlari menuruni tangga. Menangis, "Bukan anakku. Semoga bukan anakku. Jangan biarkan dia mati." kamu penyebab dia merasakan sakit luar biasa yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Dia turun, melihat dan ternyata itu anaknya. Rasa sakit yang tak ada duanya.
Menusuk hatinya. Berita itu sampai ke ayahmu. Dia menjadi sangat sedih. Kamu membuat keluargamu merasakan hal yang sama. Bisa bayangkan kamu meninggalkan semua orang di sekitarmu dengan patah hati? Selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, mereka hidup dengan luka. Beberapa minggu setelah kamu meninggal, Ibumu masuk ke kamarmu, melihat fotomu, bantalmu, tempat tidurmu. Semua kenangan tentangmu. Seorang wanita yang menghabiskan hidupnya untukmu. Kamu tidak boleh melakukan ini padanya. Jadi, apa yang dapat dilakukan untuk terbebas dari pola pikir ini? Pertama, buat dirimu sibuk dengan sesuatu yang bermakna. Mungkin mencoba fotografi atau menjelajahi tempat-tempat baru di dunia.
Asalkan masih dalam batas halal, bisa apa saja. Cara terbaik untuk menyibukkan pikiran adalah dengan terhubung dengan Tuhanmu. Mendengarkan-Nya lewat Al-Qur'an. Menyibukkan diri membantumu terhindar dari kesepian dan mengalihkanmu dari pikiran buruk. Inilah cara sederhana menemukan kedamaian dan membawa energi positif dalam hidupmu. Setan, iblis, akan mencoba melemahkan kesabaranmu. Ia akan terus-menerus membawamu ke masa lalu dan masa depan. Kamu harus sibuk dengan sesuatu untuk menjaga pikiranmu tetap pada saat ini. Bahkan masalah yang tampak mustahil sekalipun dapat diselesaikan. Allah menciptakan alam semesta dari ketiadaan.
Bukankah tidak masuk akal untuk berpikir, Dia tidak bisa menghentikan masalah ini? Dia adalah Sang Pencipta alam semesta. Ingatlah ini. Selalu ada jalan keluar. Meski kamu tidak dapat menemukannya sekarang. Meskipun jalanan berkabut sekarang, kabut pasti akan hilang. Menarik bahwa banyak bun*h diri terjadi karena intensitas yang luar biasa dari satu momen. Saat itulah, iblis memanfaatkan kelemahanmu, memperbesar keputusasaan, dan membuat masalah tampak tak terpecahkan. Namun emosi itu seperti gelombang. Naik dan turun. Berhenti sejenak dan beristirahat selama sehari akan membantu.
Pada pagi berikutnya, rasa sakitnya mungkin akan berkurang, bahkan sedikit, menawarkan perspektif yang lebih jelas dan kekuatan baru untuk melangkah maju. Jangan lupa. Dunia penuh dengan rasa sakit dan kesedihan. Dunia bukan tempatmu mendapatkan balasan karena perbuatan baikmu. Ini adalah dunia yang menghancurkan hati Nabi Muhammad SAW. Ia kehilangan istrinya, Khadijah al-Kubro. Dunia tempat air mata Nabi Muhammad SAW jatuh ke tanah, ketika ia melihat pamannya Hamza di Uhud. Paru-paru Hamza terkoyak, dan telinganya, hidungnya, semuanya terputus. Inilah Dunia, di mana Nabi Allah paling menderita. Bagaimana mungkin kamu tidak merasa gelisah? Bagaimana mungkin kamu tidak menderita?
Siapa dirimu sehingga bisa selamat dari malapetaka? Dalam kondisi seperti ini, kita akan bertahan dan bersabar. Apa yang Allah katakan dalam Surat Ad-Duha ayat tiga? "Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu," Sungguh indah ayat ini. Tuhanmu tidak membencimu. Dia tidak meninggalkanmu, saudara saudari. Bukankah Allah menjanjikan surga bagi umat Islam? Ketika hari itu tiba, semuanya akan baik-baik saja. Semua masalah dan kesulitan akan berakhir. Selama kita hidup untuk-Nya, semuanya akan baik-baik saja. Alhamdulillah. Suatu hari kita akan mati. Sebenarnya, ini kalimat yang sangat menenangkan.
Namun, jika itu terjadi karena pilihanku sendiri, bun*h diri, Akhirat akan sangat sulit. Namun jika Tuhanku mengambil nyawaku dan aku hidup sesuai dengan keinginan-Nya, Dia sudah ingin mengampuni kita. Dia tidak ingin mengirim kita ke neraka. Sekarang bayangkan, kamu memasuki Surga. Semua masalahmu lenyap, tidak akan pernah kembali. Sekalipun seluruh dunia menentangmu, tidak akan lagi memengaruhimu. kamu lihat para Nabi. Yunus AS, Muhammad SAW, Isa AS. Kamu bertemu dengan para Sahabat. Kamu bertemu kembali dengan orang yang kamu cintai, teman-temanmu, kerabatmu. Yang terpenting, kamu bertemu dengan Tuhanmu, Allah. Dia yang menciptakanmu, memberkatimu, dan membimbingmu.
Kita mungkin memiliki sisa 30 atau 40 tahun penuh dengan tantangan, tapi semuanya akan berlalu. Setiap kesulitan akan berakhir suatu hari. Dengan kesabaran datanglah keselamatan, dan dengan iman selalu ada harapan. Hidup adalah perjalanan singkat, ujian kesabaran dan keimanan yang sementara. Rasa sakitmu sekarang tidaklah permanen. Itu adalah jembatan yang membawamu lebih dekat pada Allah. Setiap air mata yang kamu teteskan, setiap momen perjuangan dilihat oleh Allah. Kamu tidak dilupakan dan kamu tidak pernah sendirian. Di balik badai dunia ini, ada kedamaian abadi. Rumah tempat semua kesedihan sirna dan hatimu menemukan ketenangannya. Bertahanlah sedikit lebih lama.
Surga sepadan dengan setiap kesulitan.
Jangan biarkan dia mati." Kamu menjadi penyebab luka terdalam yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Luka yang akan dia rasakan setiap hari sampai akhir hidupnya. Kita akan bicara tentang bun*h diri. Mengapa seseorang bun*h diri? Masalah memang datang silih berganti, bukan? Kita semua pernah kesulitan, bukan? Namun, di dunia ini juga ada musibah yang cukup mendorong seseorang bunuh diri. Rasanya seperti peperangan di kepalamu. Ada hal yang terus berputar di benakmu. Banyak pikiran yang muncul. Kamu merasa bingung dan tidak berdaya. Jadi, kamu berperang dengan dirimu sendiri. Bahkan aktivitas yang dulu kamu nikmati sekarang terasa tak berarti.
Kesehatan mentalmu hancur dan jadwal tidurmu berantakan. Kamu tak menikmati makan atau minum lagi. Kamu tahu apa yang paling buruk? Tidak seorang pun memahamimu. Kamu bahkan tak percaya seseorang dapat mengurai masalahmu. Kamu menonton TV untuk hilangkan kebosanan. Melakukan banyak hal untuk melupakan rasa sakitmu. Namun tak membantu. Karena pikiran itu ikut denganmu ke mana pun dan menggerogotimu dari dalam. Jika kamu tak bisa menggunakan akalmu dan mengendalikannya, datanglah bencana. Aku telah meneliti tentang subjek ini, dari sudut pandang ilmiah, psikologis, dan Islam. Ada temuan terbaru dan mencengangkan. Misalnya, tahukah kamu bahwa setiap 40 detik seseorang bunuh diri di dunia ini?
Jadi sejak video ini dimulai, dua atau tiga orang telah bunuh diri. Orang yang bunuh diri itu dulunya adalah orang dengan pandangan hidup yang positif, yang berpikir positif, yang tampak tidak punya masalah, begitu gembira. Namun, malapetaka yang mereka hadapi membawa mereka ke titik yang sangat jauh, dan mereka pikir mereka tidak kuat lagi. Sebenarnya, bunuh diri bukanlah solusi. Itu pelarian, karena akan selalu ada jalan keluar. Bahkan ada kutipan yang mengatakan, "Jika kamu mengimani Allah, peluangmu untuk menyelesaikan masalah itu tidak terbatas." Kekuatan Allah tidak terbatas, kan? Jadi, apa yang sulit bagi-Nya? Dalam sebuah ayat Al-Qur'an.
Allah berfirman, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Lalu, Kenapa orang bun*h diri? Salah seorang ulama Islam terhebat, Bediuzzaman Said Nursi, mengamati tentang kesabaran. Ia berkata, "Jika seseorang tidak menyalurkan kesabarannya ke masa lalu dan masa depan, tetapi memusatkannya pada masa kini, ia dapat menanggung setiap musibah." Ya, seseorang bisa menghadapi tiap musibah, termasuk semua masalah yang mendorong untuk bunuh diri.
Jika kamu terlalu berpikir tentang apa yang telah terjadi dan mengeluh, "Mengapa begitu?" Kamu menggunakan kesabaranmu untuk masa lalu, dan pada saat yang sama kamu menyalurkannya ke masa depan dan berpikir, "Apa yang akan terjadi? Bagaimana keadaan akan membaik?" Kamu telah menyebarkan kemampuan sabarmu ke masa lalu dan masa depan. Pusatnya, yaitu masa kini, jadi tidak berdaya. Kemudian setan, iblis, menyadari kekosongan itu dan segera menyerangmu. Dia menguras kesabaranmu hingga kamu berpikir, "Sudah cukup. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak ingin hidup lagi." Ini karena kamu telah menyebarkan kesabaranmu ke masa lalu dan masa depan.
Saat itulah iblis menyerang seseorang yang semakin dekat untuk bunuh diri. Tiba-tiba dia menyerang pikiranmu. Pikiran negatif mengalir di kepalamu. Saat kamu memakai kacamata hitam, semua akan berwarna hitam, kan? Jadi, iblis pakaikan kacamata hitam padamu. Semuanya tampak negatif dan mustahil untuk dihadapi. Dia menyerangmu dari kiri dan kanan. Dan kamu ingin membungkam pikiran-pikiran ini, tapi kamu tidak bisa. Inilah alasan kenapa orang bunuh diri, untuk menghilangkan rasa sakit di pikiran dan hati. Jadi, apa mereka ingin mengakhiri hidup jika rasa sakit itu hilang? Tentu saja tidak. Kami telah menguraikan alasan penyebab bunuh diri. Alasan keuangan. Mendapat masalah. Alasan keluarga.
Gangguan psikologis. Depresi. Kesepian. Putus cinta, bertepuk sebelah tangan. Hal ini bisa menyebabkan orang bunuh diri. Selain itu, 90% kasus bunuh diri disebabkan oleh alasan psikologis, dan 50% orang bunuh diri kecanduan alkohol atau narkoba. Sangat menarik, kan? Ada sesuatu yang selalu dilupakan orang. Tubuh ini hanya titipan untukmu. Coba lihat dirimu sendiri. Dari mana matamu berasal? Di pasar mana kamu bisa membeli mata? Kamu tidak memiliki apa pun. Apa kamu menyadarinya? Lalu, apakah manusia berhak berkata, "Kenapa harus seperti ini?" Coba pikirkan. Kamu beli rumah dan mendekorasinya sesuai keinginan. Lalu, ada tamu datang dan mulai mengkritik. "Kenapa dindingnya kamu warnai begini?
Sofanya tidak cocok dengan warna ini. Aku mau mengganti warnanya." Apa reaksimu jika mereka bilang begitu? Kamu akan bilang, "Kamu bukan pemilik rumah ini. Kamu tidak berhak memutuskan itu." Ya kan? Sekarang mari lihat diri kita sendiri. Apa yang kita miliki? Tidak ada. Dan pemiliknya bebas melakukan apa pun yang dimiliki-Nya. Dia menguji kita untuk memperbaiki diri. Misalnya, saat ujian dimulai dan kertas ujian dibagikan, guru bisa berubah menjadi sangat serius, bukan? Terutama jika kamu tidak mengikuti aturan. Saat kamu melihat kertas ujian, kamu melihat soal ujian. Ada pilihan yang benar dan salah. Kamu tidak bisa berkata, "Kenapa pada pilihan B, C, D, dianggap salah Kenapa begini?
Ini salah." Ini adalah ujian. Demikian pula, hal-hal negatif pasti akan terjadi di dunia ini. kamu akan menghadapi masalah. Akan ada saat yang membuatmu berpikir, "Kenapa ini terjadi padaku?" Tapi jangan khawatir. Di akhirat, semuanya akan mendapat keadilan. Jangan bilang, "Kenapa mataku tidak melihat? Kenapa telingaku tidak mendengar?" Di akhirat, semua akan seimbang. Contohnya, seseorang yang terlahir buta. Ia datang ke dunia, hidup. Kemudian kematian datang dan ia pergi. Ia tidak dapat melihat apa pun.
Namun ketika kekurangan yang dialaminya diberikan kepadanya di dunia sebagai pahala di akhirat, dia akan berkata, "Aku sama sekali tidak bersedih, karena aku buta di dunia." Jika tidak ada Akhirat, itu sungguh menjadi ketidakadilan. Tetapi kita memiliki Akhirat. Kesusahanmu juga akan mendapat keadilan. Jadi jangan khawatir, nanti kamu akan melihat ke belakang dan tersenyum atas penderitaanmu yang lalu. Selalu seperti ini, kan? Ingatlah musibah terbesar dalam hidupmu. Dia datang dan pergi. Mungkin kamu tidak tersenyum karenanya, tapi kamu merasa rasa sakitnya telah mereda. Setelah seminggu, rasa sakitnya sedikit reda. Kemudian tiga minggu berlalu, dan rasa sakitnya semakin berkurang.
Setahun kemudian kamu akan berkata, "Apakah aku memang sekesal itu?" Dan ketika sepuluh tahun berlalu, kamu bahkan tidak mengingatnya. Dalam Surah Al-Maidah ayat 32, Allah berfirman, "...Barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia." Dalam ayat ini, ketika disebutkan mengambil nyawa, kenapa kamu hanya memikirkan orang lain? Kamu tahu bagian terburuk dari bun*h diri? Kamu tidak berkesempatan untuk bertobat. Katakanlah kamu telah berzina atau dosa lainnya. Kamu menyesal lalu bertobat, lalu Allah mungkin mengampunimu.
Namun jika kamu bun*h diri, kamu tidak punya kesempatan, tidak ada waktu untuk bertobat. Dengan dosa besar itu, kamu langsung menuju akhirat. Apa alasanmu bunuh diri? Agar semuanya berakhir, kan? Tapi tidak semuanya berakhir saat kamu mati. Sebenarnya, tidak ada yang berakhir. Sebaliknya, yang lebih buruk dimulai. Bagaimana jika Allah tidak mengampunimu? Apakah Neraka tidak membuatmu takut? Sekarang, misal aku menamparmu sepuluh kali di sini, kamu pasti ingin keluar, kan? Bagaimana jika aku bilang kalau kamu keluar, seratus orang akan menamparmu lebih keras? Begitulah neraka. Coba lihat ayat-ayat tentang neraka.
Kamu mungkin berpikir, "Biarlah berakhir, aku akan bebas setelah bun*h diri." Tapi, tidak. Tidak seperti itu. Tepat setelah semuanya berakhir, rasa sakit sebenarnya datang. Ada pepatah mengatakan. Jika dunia ini sementara, bagaimana mungkin kesusahanmu permanen? Bukankah itu benar? Dengar, ada banyak ayat yang menghibur kita. Dalam Surah al-Insyirah ayat 5-6, Allah berfirman, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Surat az-Zumar, ayat ke-53. "...Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." Surat az-Zumar, ayat ke-36. "Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?" Surat al-Baqarah, ayat ke-216. "...boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Dengan semua kabar baik yang diberikan pada kita melalui ayat-ayat ini, bagaimana mungkin seseorang tidak memiliki harapan? Ada sebuah pepatah. Mereka yang melihat keindahan hidup, berpikir dengan indah, dan mereka yang berpikir indah, menikmati hidup mereka. Ada orang yang 50 kali lebih menderita daripada kamu, tapi mereka masih bisa hidup bahagia. Kenapa?
Karena pola pikir mereka. Karena mereka punya perspektif baik pada hidup. Lihatlah kehidupan para nabi. Seperti apa mereka? Apakah Ayyub AS hidup di dunia tanpa masalah dan kesulitan? Lihat kesulitan Nabi Yunus AS, yang Nabi Isa AS lalui. Nabi Muhammad SAW. Mereka semua mengalami banyak kesulitan. Tapi apakah mereka pernah mempertanyakan Tuhan atau bun*h diri? Jadi, ini salah satu alasan kenapa orang bunuh diri. Kamu fokus pada hal-hal negatif. Kamu tidak menghargai hidupmu. Kamu pikir masalah tidak dapat ditangani dan ingin bun*h diri. Saudara dan saudariku, percayalah, itu karena pola pikir kita. Kamu dapat berita, masuk ke telingamu, berita buruk merusak seluruh psikologimu.
Yang perlu kita lakukan adalah di mana menempatkan kalimat itu dan bagaimana memprosesnya. Tahukah kamu bahwa hidup yang tidak kamu sukai itu adalah impian jutaan orang? Mereka akan melakukan apa saja untuk menjalani hidupmu. Ada banyak orang di dunia yang menderita. Beberapa dari mereka bahkan tidak bisa membayangkan hidup sepertimu, karena bayangan mereka belum sampai. Mereka belum pernah melihat kehidupan seperti itu. Aku mengerti penderitaanmu sangat dalam, tapi kamu harus merubah pola pikirmu dan yakinkan dirimu untuk keluar dari labirin. Kapan terakhir kali kamu bersyukur bahwa kamu memiliki kaki? dan dapat berjalan?
Beberapa orang diuji dengan disabilitas, ada yang hidup tanpa tangan, yang lain tanpa kaki, ada yang tidak dapat melihat. Mereka menghadapinya. Mereka menghadapi tantangan 50 kali lebih besar dari kita, tapi mereka memilih untuk hidup dan menemukan kebahagiaan. Di akhirat, mereka akan diberi pahala lebih dari kita semua. Ada berbagai macam penderitaan di dunia. Allah telah memberimu begitu banyak nikmat. Aku mengerti kamu tidak selalu bisa melihat yang kamu miliki karena suasana hatimu. Sekarang tutup matamu, dan bayangkan apa yang mungkin terjadi dalam pikiran seseorang yang berpikir untuk bun*h diri. Kamu memutuskan mengakhiri hidupmu. Sekarang, semuanya sudah berakhir.
Kamu tidak ingin hidup karena menyakitkan. Pikiranmu terus mengganggumu. Kamu merasa sengsara. Kamu berpikir, "Aku tidak suka hidupku, untuk apa aku hidup?" Jadi kamu panjat tempat tinggi dan menjatuhkan diri lalu menghantam tanah. Menjadi rasa paling sakit dalam hidupmu. Ada dua kemungkinan bagimu, dan tidak ada jaminan bahwa kamu akan mati. Bayangkan kamu lumpuh atau cacat permanen. Sekarang, selama sisa hidupmu, kamu mungkin tidak bisa merasakan nikmat sederhana, seperti berlari bebas semaumu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar individu yang selamat dari percobaan bun*h diri, mereka langsung menyesali sesaat setelah melakukan tindakan tersebut.
Studi menunjukkan hingga 90% penyintas bun*h diri, mereka tidak mati karena bun*h diri. Mereka menyesalinya. Atau kemungkinan lainnya. Katakan saja kamu sudah meninggal. Apa yang terjadi sekarang? Di sekitarmu, terdengar suara ambulans. Orang-orang datang, berlarian, berteriak. Mereka berteriak. Tapi kamu di mana? Tiba-tiba ibumu datang ke balkon dan mencarimu, tapi tidak menemukanmu. Ibumu melihat ke bawah, dia melihat mayat dan berlari menuruni tangga. Menangis, "Bukan anakku. Semoga bukan anakku. Jangan biarkan dia mati." kamu penyebab dia merasakan sakit luar biasa yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Dia turun, melihat dan ternyata itu anaknya. Rasa sakit yang tak ada duanya.
Menusuk hatinya. Berita itu sampai ke ayahmu. Dia menjadi sangat sedih. Kamu membuat keluargamu merasakan hal yang sama. Bisa bayangkan kamu meninggalkan semua orang di sekitarmu dengan patah hati? Selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, mereka hidup dengan luka. Beberapa minggu setelah kamu meninggal, Ibumu masuk ke kamarmu, melihat fotomu, bantalmu, tempat tidurmu. Semua kenangan tentangmu. Seorang wanita yang menghabiskan hidupnya untukmu. Kamu tidak boleh melakukan ini padanya. Jadi, apa yang dapat dilakukan untuk terbebas dari pola pikir ini? Pertama, buat dirimu sibuk dengan sesuatu yang bermakna. Mungkin mencoba fotografi atau menjelajahi tempat-tempat baru di dunia.
Asalkan masih dalam batas halal, bisa apa saja. Cara terbaik untuk menyibukkan pikiran adalah dengan terhubung dengan Tuhanmu. Mendengarkan-Nya lewat Al-Qur'an. Menyibukkan diri membantumu terhindar dari kesepian dan mengalihkanmu dari pikiran buruk. Inilah cara sederhana menemukan kedamaian dan membawa energi positif dalam hidupmu. Setan, iblis, akan mencoba melemahkan kesabaranmu. Ia akan terus-menerus membawamu ke masa lalu dan masa depan. Kamu harus sibuk dengan sesuatu untuk menjaga pikiranmu tetap pada saat ini. Bahkan masalah yang tampak mustahil sekalipun dapat diselesaikan. Allah menciptakan alam semesta dari ketiadaan.
Bukankah tidak masuk akal untuk berpikir, Dia tidak bisa menghentikan masalah ini? Dia adalah Sang Pencipta alam semesta. Ingatlah ini. Selalu ada jalan keluar. Meski kamu tidak dapat menemukannya sekarang. Meskipun jalanan berkabut sekarang, kabut pasti akan hilang. Menarik bahwa banyak bun*h diri terjadi karena intensitas yang luar biasa dari satu momen. Saat itulah, iblis memanfaatkan kelemahanmu, memperbesar keputusasaan, dan membuat masalah tampak tak terpecahkan. Namun emosi itu seperti gelombang. Naik dan turun. Berhenti sejenak dan beristirahat selama sehari akan membantu.
Pada pagi berikutnya, rasa sakitnya mungkin akan berkurang, bahkan sedikit, menawarkan perspektif yang lebih jelas dan kekuatan baru untuk melangkah maju. Jangan lupa. Dunia penuh dengan rasa sakit dan kesedihan. Dunia bukan tempatmu mendapatkan balasan karena perbuatan baikmu. Ini adalah dunia yang menghancurkan hati Nabi Muhammad SAW. Ia kehilangan istrinya, Khadijah al-Kubro. Dunia tempat air mata Nabi Muhammad SAW jatuh ke tanah, ketika ia melihat pamannya Hamza di Uhud. Paru-paru Hamza terkoyak, dan telinganya, hidungnya, semuanya terputus. Inilah Dunia, di mana Nabi Allah paling menderita. Bagaimana mungkin kamu tidak merasa gelisah? Bagaimana mungkin kamu tidak menderita?
Siapa dirimu sehingga bisa selamat dari malapetaka? Dalam kondisi seperti ini, kita akan bertahan dan bersabar. Apa yang Allah katakan dalam Surat Ad-Duha ayat tiga? "Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu," Sungguh indah ayat ini. Tuhanmu tidak membencimu. Dia tidak meninggalkanmu, saudara saudari. Bukankah Allah menjanjikan surga bagi umat Islam? Ketika hari itu tiba, semuanya akan baik-baik saja. Semua masalah dan kesulitan akan berakhir. Selama kita hidup untuk-Nya, semuanya akan baik-baik saja. Alhamdulillah. Suatu hari kita akan mati. Sebenarnya, ini kalimat yang sangat menenangkan.
Namun, jika itu terjadi karena pilihanku sendiri, bun*h diri, Akhirat akan sangat sulit. Namun jika Tuhanku mengambil nyawaku dan aku hidup sesuai dengan keinginan-Nya, Dia sudah ingin mengampuni kita. Dia tidak ingin mengirim kita ke neraka. Sekarang bayangkan, kamu memasuki Surga. Semua masalahmu lenyap, tidak akan pernah kembali. Sekalipun seluruh dunia menentangmu, tidak akan lagi memengaruhimu. kamu lihat para Nabi. Yunus AS, Muhammad SAW, Isa AS. Kamu bertemu dengan para Sahabat. Kamu bertemu kembali dengan orang yang kamu cintai, teman-temanmu, kerabatmu. Yang terpenting, kamu bertemu dengan Tuhanmu, Allah. Dia yang menciptakanmu, memberkatimu, dan membimbingmu.
Kita mungkin memiliki sisa 30 atau 40 tahun penuh dengan tantangan, tapi semuanya akan berlalu. Setiap kesulitan akan berakhir suatu hari. Dengan kesabaran datanglah keselamatan, dan dengan iman selalu ada harapan. Hidup adalah perjalanan singkat, ujian kesabaran dan keimanan yang sementara. Rasa sakitmu sekarang tidaklah permanen. Itu adalah jembatan yang membawamu lebih dekat pada Allah. Setiap air mata yang kamu teteskan, setiap momen perjuangan dilihat oleh Allah. Kamu tidak dilupakan dan kamu tidak pernah sendirian. Di balik badai dunia ini, ada kedamaian abadi. Rumah tempat semua kesedihan sirna dan hatimu menemukan ketenangannya. Bertahanlah sedikit lebih lama.
Surga sepadan dengan setiap kesulitan.