Kami Tanya Para Ateis dan Deis! - Mereka Nggak Bisa Menjawab!
Diterbitkan pada
+ Bagaimana kamu bisa bahagia sebagai ateis, kalau percaya nanti kamu nggak ada wujudnya lagi? - Aku nggak tahu apa yang akan terjadi, dan sejujurnya, aku nggak begitu peduli. Begitulah pemikiranku. + Bagaimana kamu bisa benar-benar mencintai ibu dan saudaramu + jika percaya nanti kamu lenyap dan nggak berwujud? - Kita semua pasti mati, kawanku. Setelah itu, aku nggak peduli apa yang terjadi. + Begitupun, kamu sungguh nggak ingin tahu? + Nggak mau mencari tahu? - Kupikir kamu juga nggak bisa tahu. +Dengan Islam kita bisa tahu. Islam menyampaikan pada dasarnya... +Apa pekerjaanmu? Kamu lagi kuliah atau sudah bekerja? - Aku manajer regional untuk perusahaan swasta +Apa agamamu?
- Kuanggap aku seorang deis. - Aku lagi kuliah. Kedokteran. Posisiku antara ateisme dan deisme, tapi mungkin lebih dekat ke deisme. + Jadi, kamu percaya pencipta itu ada? - Ya, aku percaya pencipta itu pasti ada. Ketiadaan pasti menghasilkan ketiadaan. Jadi mustahil. + Kamu percaya ada kehidupan setelah mati? - Nggak percaya. - Aku pemusik. Aku percaya pencipta itu ada, tapi aku nggak tahu namanya apa. - Aku pedagang. Tapi aku juga pemusik. + Ok, jadi apa agamamu? - Aku menganggap diriku seorang deis, Kupikir tuhan itu ada. Ya, pencipta itu ada, tapi aku nggak menerima agama. + Kamu percaya ada kehidupan setelah mati, atau nggak? - Aku nggak tahu apa yang akan terjadi setelah kita mati.
Sejujurnya, aku juga nggak begitu peduli. Begitulah pemikiranku. - Sekarang aku tinggal di Amerika. Sudah lima tahun. + Apa agamamu? - Aku ateis, jadi aku nggak percaya agama apapun Sejauh ingatanku, aku nggak pernah percaya agama apapun. Aku hidup dalam keluarga Muslim, pengasuhku Muslim. Mereka selalu berkata, "Melangkahlah ke luar rumah dengan kaki kanan." "Ucapkan bismillah sebelum keluar." Meskipun lingkungan hidupku begitu, aku tetap menjadi ateis, + Kamu tahu biasanya Muslim yang ditanya-tanya. Sekarang, giliran kami bertanya kepada kawan-kawan ateis dan deis. Ada dua pertanyaan kami.
Pertanyaan pertama: Sebagai ateis, kamu percaya setelah mati wujudmu nggak ada lagi, jadi apa tujuan hidupmu? - Anggaplah aku mati hari ini. Apakah orang memuji atau mencaciku setelah mati? Jika memuji, berarti aku tetap hidup. + Tapi jika wujudku nggak ada lagi kalau sudah mati apa gunanya pujian orang? Kan harusnya ada yang lebih dari ini? Harusnya ada tujuan yang lebih besar? - Menurutku kalau orang memujimu setelah mati, sudah cukup. Kupikir nggak perlu berpikir lebih lanjut. - Tujuan hidup adalah menjadi orang baik. Meninggalkan nama baik, dan hal-hal baik untuk orang yang ditinggalkan. Aku berusaha menjadi orang baik di komunitasku, jadi tujuan ini penting juga.
- Tujuanku dalam kehidupan adalah untuk hidup dan mati sebagai orang baik. Aku mau orang-orang yang kutinggalkan berkata, "Dia orang baik. Orang pemurah." Sederhananya, hidup dengan baik. + Katakanlah kamu meninggalkan nama baik. Kalau kamu mati dan orang yang kamu tinggalkan juga nanti akan mati, bukankah tujuanmu akhirnya nggak bisa tercapai? - Aku percaya nggak ada lagi yang bisa dilakukan. - Kamu harus berjuang memperbaiki diri... - Di dunia. Berusaha di dunia sebaik-baiknya. Contohnya, pertama kali aku tampil di panggung, aku berusaha sebaik-baiknya, aku tetap mau tampil. Bagiku, inilah kehidupan. Mencintai, dicintai, dan bahagia, bertemu orang, berkenalan, bergaul, secara aktif...
Tujuanku menciptakan musik seperti yang dulu kulakukan itulah prioritas terdekatku. Aku mau tampil di panggung lagi pada akhir hidupku. + Ini pertanyaan kedua bagimu, kawan: Apa sumber kebahagiaan hidupmu? Apa yang membuatmu bahagia? - Sumbernya adalah membuat orang di sekelilingku bahagia. - Jadi pertama-tama, aku harus hidup aman dan nyaman. Yang kedua sering keluar rumah, berbagi dan berdiskusi dengan orang lain... Contohnya, aku takut hidup sendiri. Bukan berarti nggak suka sendiri, tapi kalau ada orang bersamaku, untuk berbagi dan berdiskusi, aku jadi lebih bahagia. Inilah persisnya kebahagiaan untukku. - Musik membuat aku bisa mengekspresikan dan mengenal diriku sendiri.
ini satu sumber kebahagiaanku. - Ada banyak anak yatim dan binatang yang hidup di jalan, kucoba menolong mereka sebisa mungkin. - Mati di panggung... Kawan, kalau aku mati dan satu orang masih mendengarkan musikku lewat kaset, Spotify, atau cara lain, aku akan bahagia sekali. Aku harap itu yang terjadi ketika aku mati. Kalau memang ada kehidupan setelah mati. + Kita ambil satu contoh dan pikirkan ulang. - Ya, tentu. + Katakanlah kamu, keluargamu, dan semua yang kamu cintai sedang berada di tengah laut di atas kapal raksasa dalam situasi: kapal sedang tenggelam. Dalam situasi seperti itu, ketika semua orang sedang berlari mencari jalan keluar, apa yang akan menjadi tujuan utamamu?
Pasti berusaha mencari jalan keluar. Contohnya, kamu akan mencari sampan atau seseorang yang bisa menyelamatkanmu. Semua tujuan lain nggak sepenting tujuan ini. Jika ada yang berkata, "Tujuan utamaku adalah mengecat tiang kapal dengan warna lain", atau "Aku suka memandang-mandang" respons ini bukan reaksi yang wajar. -Ya, benar. + Dan kedua, jika kapal sudah mau tenggelam, tujuan kebahagian seseorang paling besar, adalah menyelamatkan diri dan keluarganya. Jika kapal sedang tenggelam, aku harus berusaha menyelamatkan diri, bersama penumpang lain untuk mencapai kebahagiaan.
Atau, jika ada orang datang menawarkan tiket bioskop, apakah kujawab, "Oh, ini film favoritku yang dapat membuatku bahagia selamanya". - Tentu nggak. + Karena berhadapan dengan situasi yang sangat serius, kita perlu fokus menyelesaikan masalah yang paling utama, baru bisa membicarakan hal yang lain. Cara lain nggak akan mencapai kebahagiaan sejati, hanya menghibur diri. Aku ingin kamu melihat bahwa dunia kita seperti kapal, berlayar mengarungi semesta, dan kalau memikirkan dunia ini, kita sadar bahwa ia akan tenggelam seperti kapal dalam contoh tadi. Dan ia sedang tenggelam. Nggak peduli terjadi hari ini, besok, atau 60 tahun dari sekarang.
Kita dan semua orang yang kita cintai di atas kapal akan tenggelam. Bukankah tujuan utama kita seharusnya bertanya: "Akankah aku lenyap beserta semua yang kucintai?" kita perlu jawabannya. Seseorang harus mengutamakan jawaban ini. Inilah tujuan kita untuk poin kedua yaitu mencari cara menjadi bahagia. Kedua hal ini terkait. Karena, jika kamu, keluargamu, semua yang kamu cintai, nggak bisa menjawab apa yang terjadi setelah mati, ketika jawabannya dicari, seperti kasus kapal di atas, dan jika kematian disamakan nggak berwujud, maka kebahagian tertinggi adalah mengetahui cara selamat dari kondisi ini. Hal lain nggak akan bisa membuatmu bahagia.
Contohnya, kamu bilang "baik kepada sesama" mungkin oke berbuat baik kepada para penumpang di atas kapal, dan saya nggak mempermasalahkannya, tapi ia bukan sumber kebahagian yang benar. Jika aku percaya kapal akan tenggelam lalu mencari cara selamat, baru bahagiaku benar. Menurutku menolong orang seperti ini adalah sumber kebahagiaan yang besar. Karena, jika aku membuat penumpang kapal bahagia, tapi kapal itu nanti akan tenggelam maka kebahagiaan terbesar adalah menyelamatkan mereka dari tenggelam. -Baik, ya, kamu benar. -Kita nggak bisa sembunyi dari kematian di manapun. Kita tetap akan mati nanti, kawan.
Aku nggak tahu apa yang menantiku, makanya aku katakan: Apa yang menantiku aku nggak peduli, aku akan lihat setelah mati. + Begitupun, kamu nggak ada pertanyaan? Seperti, "Harus kuketahui". Apakah hidup setelah mati ada, dan apakah akan kulihat teman dan keluargaku di akhirat? - Kupikir nggak bisa kuketahui sepenuhnya. + Islam memberi kita pengetahuan dan solusi terhadap masalah ini. Islam mengatakan: "Banyak kebutuhan manusia. Ratusan hanya untuk bertahan hidup saja. Dan, untuk memenuhi satu kebutuhan saja, harus ada yang melihat dan mendengar semua kebutuhannya. Contohnya, ketika melihat tanah, kita lihat ia nggak bernyawa, nggak sadar, nggak berkuasa, kering.
Tapi, kita bisa lihat ia menghasilkan seratus ribu jenis sayur dan makanan yang berbeda. Jadi harus ada yang memenuhi kebutuhan kita di balik tanah. Dia melihat dan mengasihi kita, mengetahui kita. Dia berpengetahuan. Islam berkata: Dialah pencipta hasil bumi ini. Jika dia menghidangkan seratus ribu makanan di depan kita untuk memenuhi selera kita, tentunya, Dia bisa memenuhi kebutuhan kita selamanya, yaitu hidup setelah mati." Kalau kebutuhan terkecil pun dipenuhiNya mungkinkah Dia nggak memenuhi kebutuhan terbesar kita yaitu keinginan hidup selamanya? Mungkinkah dia bisa mendengar suara dengungan lalat tapi bukan suara petir?
Kebutuhan kita bersama orang-orang terkasih di dunia abadi juga dipenuhi. Jadi, Islam berkata "Surga dan akhirat benar-benar ada". Perspektif ini memberikan kita tujuan paling signifikan, dan solusi yang membawa kebahagiaan besar. - Semua ini dapat kumengerti dengan baik. - Oke. Aku nggak ada bantahan terhadapnya. Aku berkata aku nggak pasti dan aku nggak tahu. Aku juga nggak peduli. + Mungkinkah kematian sedang di depan mata? - Tentu. Bisa saja terjadi. + Jadi mungkin kamu harus mengantisipasi momen kematian ini. Jika kamu bilang, "Wujudku akan lenyap," bagaimana orang bisa benar-benar mencintai ibunya, saudaranya, calon pasangannya?
Karena jika wujud mereka akan lenyap, bukankah cinta akan menyakiti mereka? - Kita semua akan mati. Kita tahu semua orang akan mati. Aku nggak berpikir tentang ketidakwujudan. Cara terbaik adalah menikmati setiap momen sebaik mungkin. Aku nggak berpikir tentang dunia lain, di dunia ini aku mau bersama orang-orang yang kucintai, memeluk dan mencintai mereka. - Sehari-hari, tujuan kita mungkin sulit tercapai. Kebahagian sulit ditemukan. Akankah aku bahagia di masa depan? Ya, tapi sepertinya aku nggak mungkin sebahagia ketika aku nggak sadar apa-apa. Jadi, seberapa banyakpun aku berpikir atau berusaha mencari tahu, aku nggak akan bisa mendapatkan jawabannya.
Makanya aku menikmati setiap momen daripada berpikir tentang makna atau akhir kehidupan. Makanya aku nggak berpikir tentang apa yang kamu sebut: "sisi lain dari jurang." Jika aku harus membuat daftar prioritas hari ini, berpikir tentang sisi lain dari jurang, pasti berada di urutan kesepuluh. + Senang berdiskusi denganmu. - Aku juga. Terima kasih karena kamu telah bersikap sangat ramah. - Terima kasih juga. Aku senang sekali. - Terima kasih banyak. - Sampai jumpa. + Dengan senang hati.
- Kuanggap aku seorang deis. - Aku lagi kuliah. Kedokteran. Posisiku antara ateisme dan deisme, tapi mungkin lebih dekat ke deisme. + Jadi, kamu percaya pencipta itu ada? - Ya, aku percaya pencipta itu pasti ada. Ketiadaan pasti menghasilkan ketiadaan. Jadi mustahil. + Kamu percaya ada kehidupan setelah mati? - Nggak percaya. - Aku pemusik. Aku percaya pencipta itu ada, tapi aku nggak tahu namanya apa. - Aku pedagang. Tapi aku juga pemusik. + Ok, jadi apa agamamu? - Aku menganggap diriku seorang deis, Kupikir tuhan itu ada. Ya, pencipta itu ada, tapi aku nggak menerima agama. + Kamu percaya ada kehidupan setelah mati, atau nggak? - Aku nggak tahu apa yang akan terjadi setelah kita mati.
Sejujurnya, aku juga nggak begitu peduli. Begitulah pemikiranku. - Sekarang aku tinggal di Amerika. Sudah lima tahun. + Apa agamamu? - Aku ateis, jadi aku nggak percaya agama apapun Sejauh ingatanku, aku nggak pernah percaya agama apapun. Aku hidup dalam keluarga Muslim, pengasuhku Muslim. Mereka selalu berkata, "Melangkahlah ke luar rumah dengan kaki kanan." "Ucapkan bismillah sebelum keluar." Meskipun lingkungan hidupku begitu, aku tetap menjadi ateis, + Kamu tahu biasanya Muslim yang ditanya-tanya. Sekarang, giliran kami bertanya kepada kawan-kawan ateis dan deis. Ada dua pertanyaan kami.
Pertanyaan pertama: Sebagai ateis, kamu percaya setelah mati wujudmu nggak ada lagi, jadi apa tujuan hidupmu? - Anggaplah aku mati hari ini. Apakah orang memuji atau mencaciku setelah mati? Jika memuji, berarti aku tetap hidup. + Tapi jika wujudku nggak ada lagi kalau sudah mati apa gunanya pujian orang? Kan harusnya ada yang lebih dari ini? Harusnya ada tujuan yang lebih besar? - Menurutku kalau orang memujimu setelah mati, sudah cukup. Kupikir nggak perlu berpikir lebih lanjut. - Tujuan hidup adalah menjadi orang baik. Meninggalkan nama baik, dan hal-hal baik untuk orang yang ditinggalkan. Aku berusaha menjadi orang baik di komunitasku, jadi tujuan ini penting juga.
- Tujuanku dalam kehidupan adalah untuk hidup dan mati sebagai orang baik. Aku mau orang-orang yang kutinggalkan berkata, "Dia orang baik. Orang pemurah." Sederhananya, hidup dengan baik. + Katakanlah kamu meninggalkan nama baik. Kalau kamu mati dan orang yang kamu tinggalkan juga nanti akan mati, bukankah tujuanmu akhirnya nggak bisa tercapai? - Aku percaya nggak ada lagi yang bisa dilakukan. - Kamu harus berjuang memperbaiki diri... - Di dunia. Berusaha di dunia sebaik-baiknya. Contohnya, pertama kali aku tampil di panggung, aku berusaha sebaik-baiknya, aku tetap mau tampil. Bagiku, inilah kehidupan. Mencintai, dicintai, dan bahagia, bertemu orang, berkenalan, bergaul, secara aktif...
Tujuanku menciptakan musik seperti yang dulu kulakukan itulah prioritas terdekatku. Aku mau tampil di panggung lagi pada akhir hidupku. + Ini pertanyaan kedua bagimu, kawan: Apa sumber kebahagiaan hidupmu? Apa yang membuatmu bahagia? - Sumbernya adalah membuat orang di sekelilingku bahagia. - Jadi pertama-tama, aku harus hidup aman dan nyaman. Yang kedua sering keluar rumah, berbagi dan berdiskusi dengan orang lain... Contohnya, aku takut hidup sendiri. Bukan berarti nggak suka sendiri, tapi kalau ada orang bersamaku, untuk berbagi dan berdiskusi, aku jadi lebih bahagia. Inilah persisnya kebahagiaan untukku. - Musik membuat aku bisa mengekspresikan dan mengenal diriku sendiri.
ini satu sumber kebahagiaanku. - Ada banyak anak yatim dan binatang yang hidup di jalan, kucoba menolong mereka sebisa mungkin. - Mati di panggung... Kawan, kalau aku mati dan satu orang masih mendengarkan musikku lewat kaset, Spotify, atau cara lain, aku akan bahagia sekali. Aku harap itu yang terjadi ketika aku mati. Kalau memang ada kehidupan setelah mati. + Kita ambil satu contoh dan pikirkan ulang. - Ya, tentu. + Katakanlah kamu, keluargamu, dan semua yang kamu cintai sedang berada di tengah laut di atas kapal raksasa dalam situasi: kapal sedang tenggelam. Dalam situasi seperti itu, ketika semua orang sedang berlari mencari jalan keluar, apa yang akan menjadi tujuan utamamu?
Pasti berusaha mencari jalan keluar. Contohnya, kamu akan mencari sampan atau seseorang yang bisa menyelamatkanmu. Semua tujuan lain nggak sepenting tujuan ini. Jika ada yang berkata, "Tujuan utamaku adalah mengecat tiang kapal dengan warna lain", atau "Aku suka memandang-mandang" respons ini bukan reaksi yang wajar. -Ya, benar. + Dan kedua, jika kapal sudah mau tenggelam, tujuan kebahagian seseorang paling besar, adalah menyelamatkan diri dan keluarganya. Jika kapal sedang tenggelam, aku harus berusaha menyelamatkan diri, bersama penumpang lain untuk mencapai kebahagiaan.
Atau, jika ada orang datang menawarkan tiket bioskop, apakah kujawab, "Oh, ini film favoritku yang dapat membuatku bahagia selamanya". - Tentu nggak. + Karena berhadapan dengan situasi yang sangat serius, kita perlu fokus menyelesaikan masalah yang paling utama, baru bisa membicarakan hal yang lain. Cara lain nggak akan mencapai kebahagiaan sejati, hanya menghibur diri. Aku ingin kamu melihat bahwa dunia kita seperti kapal, berlayar mengarungi semesta, dan kalau memikirkan dunia ini, kita sadar bahwa ia akan tenggelam seperti kapal dalam contoh tadi. Dan ia sedang tenggelam. Nggak peduli terjadi hari ini, besok, atau 60 tahun dari sekarang.
Kita dan semua orang yang kita cintai di atas kapal akan tenggelam. Bukankah tujuan utama kita seharusnya bertanya: "Akankah aku lenyap beserta semua yang kucintai?" kita perlu jawabannya. Seseorang harus mengutamakan jawaban ini. Inilah tujuan kita untuk poin kedua yaitu mencari cara menjadi bahagia. Kedua hal ini terkait. Karena, jika kamu, keluargamu, semua yang kamu cintai, nggak bisa menjawab apa yang terjadi setelah mati, ketika jawabannya dicari, seperti kasus kapal di atas, dan jika kematian disamakan nggak berwujud, maka kebahagian tertinggi adalah mengetahui cara selamat dari kondisi ini. Hal lain nggak akan bisa membuatmu bahagia.
Contohnya, kamu bilang "baik kepada sesama" mungkin oke berbuat baik kepada para penumpang di atas kapal, dan saya nggak mempermasalahkannya, tapi ia bukan sumber kebahagian yang benar. Jika aku percaya kapal akan tenggelam lalu mencari cara selamat, baru bahagiaku benar. Menurutku menolong orang seperti ini adalah sumber kebahagiaan yang besar. Karena, jika aku membuat penumpang kapal bahagia, tapi kapal itu nanti akan tenggelam maka kebahagiaan terbesar adalah menyelamatkan mereka dari tenggelam. -Baik, ya, kamu benar. -Kita nggak bisa sembunyi dari kematian di manapun. Kita tetap akan mati nanti, kawan.
Aku nggak tahu apa yang menantiku, makanya aku katakan: Apa yang menantiku aku nggak peduli, aku akan lihat setelah mati. + Begitupun, kamu nggak ada pertanyaan? Seperti, "Harus kuketahui". Apakah hidup setelah mati ada, dan apakah akan kulihat teman dan keluargaku di akhirat? - Kupikir nggak bisa kuketahui sepenuhnya. + Islam memberi kita pengetahuan dan solusi terhadap masalah ini. Islam mengatakan: "Banyak kebutuhan manusia. Ratusan hanya untuk bertahan hidup saja. Dan, untuk memenuhi satu kebutuhan saja, harus ada yang melihat dan mendengar semua kebutuhannya. Contohnya, ketika melihat tanah, kita lihat ia nggak bernyawa, nggak sadar, nggak berkuasa, kering.
Tapi, kita bisa lihat ia menghasilkan seratus ribu jenis sayur dan makanan yang berbeda. Jadi harus ada yang memenuhi kebutuhan kita di balik tanah. Dia melihat dan mengasihi kita, mengetahui kita. Dia berpengetahuan. Islam berkata: Dialah pencipta hasil bumi ini. Jika dia menghidangkan seratus ribu makanan di depan kita untuk memenuhi selera kita, tentunya, Dia bisa memenuhi kebutuhan kita selamanya, yaitu hidup setelah mati." Kalau kebutuhan terkecil pun dipenuhiNya mungkinkah Dia nggak memenuhi kebutuhan terbesar kita yaitu keinginan hidup selamanya? Mungkinkah dia bisa mendengar suara dengungan lalat tapi bukan suara petir?
Kebutuhan kita bersama orang-orang terkasih di dunia abadi juga dipenuhi. Jadi, Islam berkata "Surga dan akhirat benar-benar ada". Perspektif ini memberikan kita tujuan paling signifikan, dan solusi yang membawa kebahagiaan besar. - Semua ini dapat kumengerti dengan baik. - Oke. Aku nggak ada bantahan terhadapnya. Aku berkata aku nggak pasti dan aku nggak tahu. Aku juga nggak peduli. + Mungkinkah kematian sedang di depan mata? - Tentu. Bisa saja terjadi. + Jadi mungkin kamu harus mengantisipasi momen kematian ini. Jika kamu bilang, "Wujudku akan lenyap," bagaimana orang bisa benar-benar mencintai ibunya, saudaranya, calon pasangannya?
Karena jika wujud mereka akan lenyap, bukankah cinta akan menyakiti mereka? - Kita semua akan mati. Kita tahu semua orang akan mati. Aku nggak berpikir tentang ketidakwujudan. Cara terbaik adalah menikmati setiap momen sebaik mungkin. Aku nggak berpikir tentang dunia lain, di dunia ini aku mau bersama orang-orang yang kucintai, memeluk dan mencintai mereka. - Sehari-hari, tujuan kita mungkin sulit tercapai. Kebahagian sulit ditemukan. Akankah aku bahagia di masa depan? Ya, tapi sepertinya aku nggak mungkin sebahagia ketika aku nggak sadar apa-apa. Jadi, seberapa banyakpun aku berpikir atau berusaha mencari tahu, aku nggak akan bisa mendapatkan jawabannya.
Makanya aku menikmati setiap momen daripada berpikir tentang makna atau akhir kehidupan. Makanya aku nggak berpikir tentang apa yang kamu sebut: "sisi lain dari jurang." Jika aku harus membuat daftar prioritas hari ini, berpikir tentang sisi lain dari jurang, pasti berada di urutan kesepuluh. + Senang berdiskusi denganmu. - Aku juga. Terima kasih karena kamu telah bersikap sangat ramah. - Terima kasih juga. Aku senang sekali. - Terima kasih banyak. - Sampai jumpa. + Dengan senang hati.