Siapakah yang Menciptakan Allah? Kenapa Allah Menciptakan Kita? INTEROGASI #2
Diterbitkan pada
+Kalau semua hal yang ada di dunia ini memiliki pencipta, lalu siapa yang nyiptain Allah? +Apakah Allah nyiptain kita karena Dia butuh kita? +Kalau begitu, kenapa Allah nyiptain kita? +Apakah Allah itu egois? +Terus kenapa Allah minta disembah? +Kalau semua hal yang ada di dunia memiliki pencipta, lalu siapa yang nyiptain Allah? Inilah akibatnya kalau nggak terlalu paham fisika. Sebagai contoh, boleh aku pinjam ponselmu? Anggaplah aku penemu ponsel ini. Ada dua kesimpulan di sini. Pertama, Kalau aku yang nyiptain ponsel ini, berarti aku sudah ada sebelum ponsel ini ada. Kedua, aku nggak terikat dengan apa yang aku ciptakan. Ponsel ini benda, sedangkan aku manusia.
Aku dan ponsel ini pastinya berbeda. Sama halnya dengan Allah, Allah yang nyiptain alam semesta. Allah sudah ada sebelum alam semesta ada. Allah juga nggak terikat ruang dan waktu. Dia (Allah) yang menciptakan alam semesta. Wajar aja kalau manusia yang terikat ruang dan waktu yang nanya "Siapa yang nyiptain Allah?" dianggap nggak logis dan kontradiktif. Seandainya aku harus ngikutin “lingkaran izin tak berujung” buat nyiptain ponsel ini, aku nggak bakalan bisa berbuat apa-apa sampai izin itu diberikan. Karena alam semesta ini sudah tercipta, artinya "lingkaran izin tak berujung" itu nggak bakalan ada. +"Lingkaran izin tak berujung"? apa itu?
Misalnya, kalau aku harus nyiptain sebuah ponsel aku harus minta persetujuan dari bosku dulu, terus bosku itu bakal minta izin ke atasannya, terus atasannya harus minta izin ke orang yang jabatannya lebih tinggi, dan begitu seterusnya. Jadi aku nggak bakalan bisa nyiptain ponsel ini, karena persetujuannya nggak bakalan pernah diberikan. Tapi, kalau aku langsung ngedesain dan berhasil membuat ponsel ini, jelas nggak bakalan ada yang namanya "lingkaran izin tak berujung". Begitu juga cara Allah nyiptain alam semesta. Jadi, “lingkaran izin tak berujung” atau pertanyaan "Siapa yang nyiptain Allah?" nggak bisa diterima. Alam semesta inilah buktinya.
+Apakah Allah nyiptain kita karena Dia butuh kita? Konsep tentang kebutuhan bisa dipahami ketika ada kelemahan. Aku punya kebutuhan karena aku punya kelemahan. Tapi, Allah tidak punya kelemahan karena Dia Mahakuasa. Artinya, Allah tidak butuh apa pun. Misalnya nih, kalau ruangan ini penuh dengan cahaya, kita nggak bisa dong bilang kalau ruangan ini gelap. Allah juga gitu. Kuasa-Nya nggak terbatas karena nggak punya kelemahan. Jadi, Allah nggak punya kebutuhan. +Kalau begitu, kenapa Allah nyiptain kita? Pertama, kita harus ngebahas nama-nama Allah dan keagungan-Nya. Allah punya nama lain yaitu Al-Hakim, "Yang Mahabijaksana" Al-Hakim berarti bertindak dengan sangat logis dan bermanfaat.
Allah itu Al-Hakim, dan penciptaan alam semesta ini bukti kalau Allah "melakukan hal yang logis dan bermanfaat", sesuai dengan nama-Nya. Nama selanjutnnya Ar-Rahim, Lalu, Ar-Rahim "Yang Maha Penyayang”, terus Al-Jawwad "Yang Maha Dermawan". diambil dari kemurahan dan kasih sayang-Nya. Sebagai pemilik seluruh harta yang nggak ada habisnya, Allah memutuskan untuk menciptakan sebuah semesta lalu memberikan hadiah sebagai wujud dari nama Ar-Rahim itu. Allah juga dikenal dengan nama Al-Jawwad, diambil dari sifat-Nya yang dermawan. Lihatlah dunia ini! Dunia ini diciptakan karena kedermawanan-Nya. +Oke, tapi banyak orang yang nanya gini; +Apakah Allah itu egois? Ada dua prinsip dalam sifat egois.
Yang pertama mementingkan diri sendiri. Yang kedua berpura-pura kalau dirinya superior. Tapi Allah sama sekali nggak sesuai dengan dua prinsip itu. Pertama, Allah nyiptain dan ngasih kita banyak hal yang bermanfaat. Berarti Allah nggak mementingkan diri sendiri. Kedua, semua yang dikatakan Allah itu benar. Allah bilang "Aku Maha Mengetahui" dan itu betul. Allah Maha Segalanya. Mahaperkasa dan Mahakuasa. Jadi, sifat egois sangat jauh dari Allah. Egoisme itu hanya ada pada sesuatu yang konsepnya sama. Bisa saja salah satu dari kita ada yang egois, karena kita sama-sama manusia. Contohnya dalam hal superioritas, bisa nggak aku bilang ke gelas ini; "Hei gelas!
Aku lebih unggul dari kamu!" Pastinya konyol banget kan? Karena ini gelas sedangkan aku manusia. Egoisme juga gitu, tidak bisa menghubungkan konsep yang berbeda. Jadi, nggak ada superioritas atau ego antara Sang Pencipta dan manusia. Itu nggak masuk akal banget. +Oke, Allah nggak butuh apa-apa, dan nggak egois. +Terus kenapa Allah minta disembah setelah nyiptain kita? Intinya kita nggak bisa nganggap itu sebagai kebutuhan. Kebutuhan itu buat manusia, bukan buat Allah. Manusia yang butuh Allah untuk disembah. Karena manusia itu punya penyakit spiritual. Kalau ada dokter yang ngasih obat ke pasiennya, yang untung si pasien kan? bukan si dokter. Terus kenapa Allah minta disembah?
Seperti kataku tadi, karena kita punya penyakit spiritual. Kita pengen abadi kan? maka kita perlu mengingat Allah, agar kita bisa kembali ke kehidupan abadi, yaitu surga. Jadi, sebenarnya Allah nggak butuh doa kita. Allah menciptakan kita dengan satu tujuan; mengenal Allah dan menyembah-Nya. Jangan sampai kita tenggelam dalam urusan duniawi, dan misi kita untuk hidup abadi bakalan terjaga hanya dengan menyembah Allah. +Oke, pertanyaan kami sudah habis. +Bakalan ada lebih banyak pertanyaan sulit lainnya nanti. Nggak ada pertanyaan yang sulit, yang ada itu pertanyaan yang belum terjawab.
Aku dan ponsel ini pastinya berbeda. Sama halnya dengan Allah, Allah yang nyiptain alam semesta. Allah sudah ada sebelum alam semesta ada. Allah juga nggak terikat ruang dan waktu. Dia (Allah) yang menciptakan alam semesta. Wajar aja kalau manusia yang terikat ruang dan waktu yang nanya "Siapa yang nyiptain Allah?" dianggap nggak logis dan kontradiktif. Seandainya aku harus ngikutin “lingkaran izin tak berujung” buat nyiptain ponsel ini, aku nggak bakalan bisa berbuat apa-apa sampai izin itu diberikan. Karena alam semesta ini sudah tercipta, artinya "lingkaran izin tak berujung" itu nggak bakalan ada. +"Lingkaran izin tak berujung"? apa itu?
Misalnya, kalau aku harus nyiptain sebuah ponsel aku harus minta persetujuan dari bosku dulu, terus bosku itu bakal minta izin ke atasannya, terus atasannya harus minta izin ke orang yang jabatannya lebih tinggi, dan begitu seterusnya. Jadi aku nggak bakalan bisa nyiptain ponsel ini, karena persetujuannya nggak bakalan pernah diberikan. Tapi, kalau aku langsung ngedesain dan berhasil membuat ponsel ini, jelas nggak bakalan ada yang namanya "lingkaran izin tak berujung". Begitu juga cara Allah nyiptain alam semesta. Jadi, “lingkaran izin tak berujung” atau pertanyaan "Siapa yang nyiptain Allah?" nggak bisa diterima. Alam semesta inilah buktinya.
+Apakah Allah nyiptain kita karena Dia butuh kita? Konsep tentang kebutuhan bisa dipahami ketika ada kelemahan. Aku punya kebutuhan karena aku punya kelemahan. Tapi, Allah tidak punya kelemahan karena Dia Mahakuasa. Artinya, Allah tidak butuh apa pun. Misalnya nih, kalau ruangan ini penuh dengan cahaya, kita nggak bisa dong bilang kalau ruangan ini gelap. Allah juga gitu. Kuasa-Nya nggak terbatas karena nggak punya kelemahan. Jadi, Allah nggak punya kebutuhan. +Kalau begitu, kenapa Allah nyiptain kita? Pertama, kita harus ngebahas nama-nama Allah dan keagungan-Nya. Allah punya nama lain yaitu Al-Hakim, "Yang Mahabijaksana" Al-Hakim berarti bertindak dengan sangat logis dan bermanfaat.
Allah itu Al-Hakim, dan penciptaan alam semesta ini bukti kalau Allah "melakukan hal yang logis dan bermanfaat", sesuai dengan nama-Nya. Nama selanjutnnya Ar-Rahim, Lalu, Ar-Rahim "Yang Maha Penyayang”, terus Al-Jawwad "Yang Maha Dermawan". diambil dari kemurahan dan kasih sayang-Nya. Sebagai pemilik seluruh harta yang nggak ada habisnya, Allah memutuskan untuk menciptakan sebuah semesta lalu memberikan hadiah sebagai wujud dari nama Ar-Rahim itu. Allah juga dikenal dengan nama Al-Jawwad, diambil dari sifat-Nya yang dermawan. Lihatlah dunia ini! Dunia ini diciptakan karena kedermawanan-Nya. +Oke, tapi banyak orang yang nanya gini; +Apakah Allah itu egois? Ada dua prinsip dalam sifat egois.
Yang pertama mementingkan diri sendiri. Yang kedua berpura-pura kalau dirinya superior. Tapi Allah sama sekali nggak sesuai dengan dua prinsip itu. Pertama, Allah nyiptain dan ngasih kita banyak hal yang bermanfaat. Berarti Allah nggak mementingkan diri sendiri. Kedua, semua yang dikatakan Allah itu benar. Allah bilang "Aku Maha Mengetahui" dan itu betul. Allah Maha Segalanya. Mahaperkasa dan Mahakuasa. Jadi, sifat egois sangat jauh dari Allah. Egoisme itu hanya ada pada sesuatu yang konsepnya sama. Bisa saja salah satu dari kita ada yang egois, karena kita sama-sama manusia. Contohnya dalam hal superioritas, bisa nggak aku bilang ke gelas ini; "Hei gelas!
Aku lebih unggul dari kamu!" Pastinya konyol banget kan? Karena ini gelas sedangkan aku manusia. Egoisme juga gitu, tidak bisa menghubungkan konsep yang berbeda. Jadi, nggak ada superioritas atau ego antara Sang Pencipta dan manusia. Itu nggak masuk akal banget. +Oke, Allah nggak butuh apa-apa, dan nggak egois. +Terus kenapa Allah minta disembah setelah nyiptain kita? Intinya kita nggak bisa nganggap itu sebagai kebutuhan. Kebutuhan itu buat manusia, bukan buat Allah. Manusia yang butuh Allah untuk disembah. Karena manusia itu punya penyakit spiritual. Kalau ada dokter yang ngasih obat ke pasiennya, yang untung si pasien kan? bukan si dokter. Terus kenapa Allah minta disembah?
Seperti kataku tadi, karena kita punya penyakit spiritual. Kita pengen abadi kan? maka kita perlu mengingat Allah, agar kita bisa kembali ke kehidupan abadi, yaitu surga. Jadi, sebenarnya Allah nggak butuh doa kita. Allah menciptakan kita dengan satu tujuan; mengenal Allah dan menyembah-Nya. Jangan sampai kita tenggelam dalam urusan duniawi, dan misi kita untuk hidup abadi bakalan terjaga hanya dengan menyembah Allah. +Oke, pertanyaan kami sudah habis. +Bakalan ada lebih banyak pertanyaan sulit lainnya nanti. Nggak ada pertanyaan yang sulit, yang ada itu pertanyaan yang belum terjawab.