Towards Eternity
Kembali ke blog

Apa Itu Qadar? Penjelasan Lengkap Tentang Takdir dalam Islam!

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Jika aku ditakdirkan tertabrak mobil di sini, apakah aku akan tetap tertabrak, apa pun yang kulakukan? Bagaimana jika aku mundur selangkah... Segala hal yang akan terjadi dalam hidup kita... sudah tertulis dalam takdir kita dengan sangat rinci. Lalu apa peran kita di dunia ini? Apakah kita hanya boneka yang memainkan apa yang sudah ditulis? Misalnya, apakah kamu ditakdirkan untuk menonton video ini sekarang? Mari kita buat pertanyaannya lebih sulit lagi. Jika seseorang sudah ditakdirkan masuk neraka, lalu apa kesalahan orang tersebut? Kepercayaan pada takdir adalah sebuah konsep yang telah diperdebatkan selama berabad-abad. Mungkin juga salah satu topik yang paling sulit dipahami.

Banyak terjadi kesalahpahaman dan ketidaksepakatan tentang masalah ini. Akibatnya, muncullah pertikaian serius. Ada orang-orang yang sepenuhnya menolak takdir, dan sebaliknya, ada orang lain yang menerimanya tetapi menolak kehendak bebas sepenuhnya. Dengan kata lain, kedua belah pihak berseberangan dan tidak menemukan jalan tengah. Lalu, bagaimana seharusnya jalan tengahnya? Bagaimana cara yang benar untuk percaya takdir? Apakah keyakinanmu sudah benar? Atau ada kesalahan yang belum kamu sadari? Jika kamu ingin mengetahui jawaban semua pertanyaan ini, tontonlah video ini dengan saksama hingga akhir. Mari kita mulai.

Iman kepada takdir adalah meyakini bahwa sejak awal, Allah mengetahui semua yang akan terjadi di alam semesta, dan Dia telah menuliskan semuanya dengan sangat rinci bahkan sebelum menciptakannya. Namun, bagaimana sesuatu diketahui sepenuhnya dan ditulis sebelum hal itu terjadi? Wajar kita merasa sulit memahaminya karena hal ini berkaitan dengan keabadian. Saat kita hidup dalam waktu, sangat sulit untuk memahami keadaan yang abadi berada di luar waktu. Sekarang, mari definisikan konsep 'waktu' dalam pengertian mendasar.

Konsep 'waktu' adalah penciptaan segala hal dari pengetahuan Allah yang tak terbatas, kemunculannya dalam eksistensi, dan akhirnya penarikannya melalui kematian dan pemusnahan. Dengan kata lain, waktu adalah urutan di mana segala sesuatu diciptakan. Allah menciptakan hari yang berbeda kemarin, hari ini berbeda, dan menciptakan esok hari juga berbeda. Seolah-olah waktu itu seperti tali dan semua kejadian yang terjadi berjajar satu demi satu pada tali itu. Namun urutan ini hanya berlaku bagi kita. Misalnya kamu punya sepuluh baris puisi dalam ingatanmu. Kesepuluh baris ini ada dalam ingatanmu pada saat yang sama. Namun saat mulai menuliskannya di kertas, kamu menuliskannya berurutan.

Dimulai baris pertama, lalu baris kedua, lalu baris ketiga dan seterusnya. Saat menulis di kertas, kamu menulisnya satu demi satu dan dalam urutan tertentu, dalam ingatanmu, semua baris ini hadir pada saat yang sama. Begitulah, segala sesuatu yang telah terjadi atau akan terjadi dalam eksistensi, sudah ada dalam pengetahuan Allah secara bersamaan. Namun ketika Dia mewujudkannya, Dia menciptakannya dalam urutan tertentu. Kita sebut urutan itu waktu. Mari kita sederhanakan. Allah adalah Pencipta konsep waktu, benar? Dan sebagai aturan, semua yang Dia ciptakan di alam semesta dibatasi oleh waktu. Jadi, apakah aturan ini juga dapat diterapkan pada Allah padahal Dialah yang menciptakan itu?

Tentu tidak. Karena Allah adalah pencipta waktu, maka tentu saja Dia tidak terikat oleh waktu. Karena Allah tidak dibatasi oleh waktu, bukankah wajar bagi-Nya untuk mengetahui masa depan? Sekarang akan kutunjukkan hal ini dengan contoh yang sangat kuat. Aku ingin kalian memperhatikannya dengan saksama. Bayangkan sebuah kamera di tangan kita. Lalu kita menggambar garis di atas meja. Sisi kiri mewakili masa lalu, sisi tengah mewakili masa kini dan sisi kanan adalah masa depan. Jika aku memegang kamera di tengah dan dekat dengan meja, kamera hanya menangkap dan melihat masa kini. Makin tinggi kamera diangkat, makin banyak masa lalu dan masa depan yang terekam.

Saat kita angkat kamera sangat tinggi, kamera itu mencakup dan menangkap semua momen tersebut sekaligus. Semuanya dapat dilihat secara bersamaan di kamera itu. Sama seperti ini, kita hidup pada garis waktu tertentu di alam semesta. Kita memiliki kehidupan yang kita jalani sebagai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mirip dengan kamera yang menangkap seluruh meja dari atas, Allah, yang berada di luar waktu, mencakup seluruh waktu, masa lalu, masa kini, dan masa depan, dengan pengetahuan-Nya yang tak terbatas. Jadi, keabadian Allah berarti mencakup seluruh waktu sekaligus. Bukan hanya berada di awal garis waktu atau di masa sebelum segalanya ada.

Jadi seperti yang kamu lihat, sangat masuk akal untuk berpikir bahwa Allah dapat mengetahui seluruh waktu dan peristiwa dan Dia-lah telah menuliskan semuanya ke dalam takdir kita. Tepat pada titik ini, kita menemukan pertanyaan yang sangat populer. Jika Tuhan berada di luar waktu, dan mengetahui dan menulis segalanya bahkan sebelum itu terjadi, lalu di manakah kehendak bebas kita dalam gambaran ini? Dengan kata lain, apakah kita hanyalah boneka? Memiliki takdir dan kehendak bebas awalnya tampak kontradiktif. Namun, meski tidak memahami hubungan antara kedua konsep ini, kita tetap menyadari kehendak bebas kita.

Misalnya, dalam sebuah penelitian dari Pusat Penelitian Pew pada tahun 2012, Umat Muslim di seluruh dunia ditanya apakah mereka percaya pada takdir dan merasa memiliki kehendak bebas. Sementara 70-90% Muslim percaya bahwa takdir telah ditetapkan oleh Sang Pencipta, mereka juga percaya pada tanggung jawab individu dan kehendak bebas. Jadi bagaimana mungkin, takdir yang sudah tertulis tidak memaksa kita melakukannya? Mengetahui sesuatu tidak berarti memaksa seseorang untuk melakukan hal itu. Kesalahan paling umum kita adalah mencampuradukkan kedua konsep ini. Pengetahuan adalah satu hal dan Kekuasaan adalah hal lain. Pengetahuan adalah satu hal, dan memaksa seseorang adalah hal lain.

Pikirkanlah warna-warna matahari yang berbeda. Kuning adalah salah satu warna tersebut dan merah itu warna lainnya. Demikian pula, Allah juga memiliki nama dan sifat yang berbeda. Salah satu nama-Nya adalah al-Alim, Yang Maha Mengetahui dan yang lainnya adalah al-Qâdir, Yang Maha Kuasa. Jadi pengetahuan-Nya dan campur tangan-Nya yang kuat adalah dua sifat yang berbeda. Jadi fakta bahwa Allah mengetahui segalanya tidak berarti kita tidak punya kehendak bebas atau melakukan segalanya dengan paksa. Ada prinsip terkenal dalam ilmu logika. Pengetahuan bergantung pada apa yang diketahui. Artinya, pengetahuan tentang sesuatu didasarkan pada, ketergantungan pada realitas hal tersebut di dunia nyata.

Dengan kata lain, pengetahuan tidak menciptakan atau mengubah realitas sesuatu. Sebaliknya, sesuatu bergantung pada dan sesuai dengan bagaimana sebenarnya hal itu. Ada contoh yang sangat bagus yang mengingatkan kita akan hal ini. Misalnya kau berada di puncak gunung dan melihat dua kereta api melaju saling mendekat. Karena merasa kasihan pada penumpang di kereta api, kamu menulis di kertas bahwa kereta api ini akan bertabrakan dalam 8 detik. Dan mereka benar-benar bertabrakan dalam waktu 8 detik. Sekarang, dalam situasi ini, dapatkah kita mengatakan sesuatu seperti, “Kereta api itu tabrakan karena kamu menuliskannya di kertas sebelumnya. Oleh karena itu, ini salahmu.” Tentu saja tidak.

Kereta api tidak bertabrakan karena kamu menulisnya. Kamu tahu kereta api akan bertabrakan, itulah mengapa kamu menulisnya. Sama seperti kita pun dapat mengetahui kapan kereta api akan bertabrakan dengan pengetahuan kita yang terbatas, Allah pasti dapat mengetahui apa yang kita lakukan di hidup kita dengan pengetahuan-Nya yang tak terbatas. Seperti yang dijelaskan, Pengetahuan Allah tentang peristiwa tidak membebani atau menghilangkan kehendak bebas kita, namun mencerminkan realitas dari peristiwa sebagaimana adanya. Waktu matahari terbit tertulis di kalender, ya kan? Tapi bisakah tulisan itu menjadi faktor yang memaksa matahari terbit pada waktu tertentu? Tentu saja tidak.

Ditulis seperti itu berdasarkan pergerakan matahari dalam kehidupan nyata. Demikian pula, fakta bahwa Allah mengetahui yang akan kita lakukan tidak membuat kita melakukan hal-hal ini. Hal-hal yang tertulis dalam takdir kita ada di sana karena kita benar-benar akan melakukannya. Pengetahuan tidak mengubah realitas, dia hanya menyesuaikan diri dengannya. Pada titik ini, kita harus mengklarifikasi bahwa konsep takdir pada dasarnya terbagi menjadi dua. Yang pertama, Takdir yang mutlak, Qadar Idtirari, dan yang kedua, Takdir yang tidak mutlak. Qadar Ikhtiari. Takdir yang mutlak adalah takdir yang hanya ditentukan oleh Allah, di luar pilihan atau kendali kita.

Kita tidak punya kendali dalam hal itu. Sedangkan takdir yang tidak mutlak adalah tindakan yang dapat kita pilih untuk dilakukan. Di bagian inilah kita bertanggung jawab sepenuhnya. Jadi fakta bahwa Allah memaksakan kehendak-Nya pada kita dalam aspek tertentu tidak berarti bahwa Dia tidak akan meminta pertanggungjawaban kita. Dia akan meminta pertanggungjawaban atas tindakan kita yang dapat dipilih atas kemauan sendiri. Sebagai contoh, mari kita pikirkan sebuah lift. Seseorang yang menggunakan lift tidak tahu apa pun tentang sistem mekanisnya, atau detail pengaturan seluruh unit. Dia juga tidak berpengaruh pada sistem lift.

Desain interior dan sistem mekanis umum lift ini sepenuhnya tidak bergantung pada keinginan orang tersebut. Namun, pilihan lantai yang akan dituju lift adalah kehendak orang tersebut. Terserah dia pilih naik ke lantai 7 atau turun ke lantai -7. Kehendaknya berlaku di sana. Dalam kehidupan ini, situasi kita mirip contoh ini. Ada hal-hal yang dapat kita atur dan ada yang tidak dapat kita ubah. Kita bertanggung jawab atas beberapa pilihan, tetapi tidak untuk pilihan lainnya. Misalnya, kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, karakteristik fisik kita, siapa orang tua kita, atau negara tempat kita dilahirkan.

Itulah sebabnya kita tidak bertanggung jawab atas hal ini. Sama seperti pengaturan sistem lift. Jadi, ini adalah takdir yang mutlak. Namun, untuk tindakan yang kita pilih untuk dilakukan, kita bertanggung jawab. Kita dapat melakukan perbuatan baik atau buruk. Jadi, sama seperti kita dapat memilih lantai mana yang mau dituju di dalam lift, kita juga dapat membuat pilihan bebas di dunia ini. Dan ini adalah takdir yang tidak mutlak. Ngomong-ngomong, tahukah kamu bahwa kamu dapat melihat keberadaan takdir di sekitarmu? Maksudku, keberadaan takdir begitu jelas sehingga takdir itu sebenarnya tersebar di seluruh alam semesta dan bahkan terlihat oleh mata kita. Tapi bagaimana caranya?

Ada bukti takdir dalam segala hal yang kita lihat di sekitar kita. Takdir pada dasarnya berarti pengetahuan dan perencanaan. Saat kita melihat setiap sudut alam semesta, kita juga menyaksikan bahwa semuanya berfungsi melalui pengetahuan dan perencanaan. Pikirkanlah pohon apel yang kamu lihat saat berjalan di jalan. Bukankah semua tahap pembentukan pohon apel itu sudah tertulis dalam benihnya sejak awal? Ya. Itu sudah diprogram di dalamnya. Ada rencana, rancangan dalam benih. Atau bayangkan seekor kelinci putih yang lucu. Atau kucing kecil. Atau bayi baru lahir yang melihat dengan mata biru mereka.

Bagi mereka semua, DNA seperti buku takdir, memberikan informasi tentang makhluk itu sebelumnya. Itu memberi tahu kita karakteristik fisik bayi yang akan lahir, bahkan beberapa penyakit yang mungkin dideritanya di masa mendatang. Jadi, DNA seperti versi kecil dari Kitab Takdir. Fakta bahwa bulu mata kita memiliki panjang tertentu, rambut kita punya pola tumbuh yang berbeda, panjang jari-jari kita didasarkan pada ukuran dan logika tertentu. Semuanya menunjukkan sebenarnya ada rencana, program dan takdir untuk segala hal. Pikirkanlah. Jika sesuatu berjalan dengan sangat terorganisasi dan penuh perhitungan, bukankah itu menunjukkan adanya perencanaan di baliknya?

Tidak mungkin ada fungsi yang direncanakan dalam sesuatu yang terjadi secara acak, atau spontan. Dengan kata lain, saat melihat sekeliling kita, fakta bahwa semuanya, dari atom hingga bintang, diatur oleh hukum tertentu, pergerakan matahari dan bulan semuanya mengikuti pola yang tepat, rencana dan program semua makhluk hidup sudah tertulis dalam benih mereka, dalam DNA mereka menunjukkan kepada kita realita takdir yang nyata dan membuktikan keberadaannya di alam semesta. Bahkan fakta bahwa ada sesuatu yang disebut "Deja vu" dapat diberikan sebagai bukti takdir. Kamu tahu, kita terkadang bilang, "Tunggu! Aku pernah mengalami momen ini sebelumnya." Aku yakin ini juga terjadi padamu.

Kita benar-benar merasakan hal ini, karena di Alam Jiwa, Allah mengizinkan kita melihat peristiwa khusus tersebut pada pada Lauhul Mahfuz, yang berarti Kitab takdir yang Terpelihara. Kitab itu berisi informasi tentang semua peristiwa, tindakan, dan hasil dari awal penciptaan hingga akhir zaman. Jadi saat peristiwa itu benar-benar terjadi, seolah-olah kita pernah mengalami hal itu sebelumnya. Bagaimana mungkin kita tahu sebaliknya tentang sesuatu yang baru saja kita alami? Ini berarti jiwa kita diperlihatkan momen itu dari Kitab Takdir kita. Dan, sangat tepat, nama 'Deja Vu' diberikan untuk jenis pengalaman ini yang dalam bahasa Prancis berarti 'sudah terlihat'.

Jadi, masuk akal untuk berpikir bahwa seluruh kondisi fisik dan spiritual kita, serta semua hal yang akan kita alami, sudah tertulis di suatu tempat." Atau, jika kita melihat Al-Qur'an, dapat ditemukan banyak bukti keberadaan takdir. Misalnya, fakta bahwa Surat Al-Masad menyatakan bahwa Abu Lahab dan istrinya akan mati sebagai orang kafir merupakan mukjizat kenabian yang luar biasa. Allah juga berfirman di Surah Ar-Rum bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia di masa mendatang, yang tampaknya mustahil pada saat itu. Ini juga berita dari yang tak terlihat, mukjizat kenabian. Ramalan ini pun menjadi kenyataan, tentu saja.

Jadi, fakta bahwa Al-Qur'an punya jenis-jenis Ayat yang memberi berita akurat tentang apa yang akan terjadi adalah bukti kuat bahwa Allah mengetahui masa depan. Ada berbagai jenis ketetapan dalam konsep takdir. Salah satunya adalah Keputusan Bersyarat, al-Qada' al-Mu'allaq, juga dikenal sebagai Ketetapan yang Ditangguhkan, dan yang lainnya adalah Ketetapan Absolut, al-Qada' al-Mubram, artinya Takdir yang Tetap. Jadi, yang pertama bisa diubah, dan yang kedua tidak bisa diubah. Misalnya, katakanlah Allah telah menetapkan bencana bagi seseorang. Namun, Dia telah mengikat musibah ini dengan apakah umatnya salat atau tidak.

Dengan kata lain, Allah telah menetapkan bahwa jika orang tersebut salat, musibah tersebut akan diangkat, dihilangkan darinya. Namun jika dia tidak salat, maka hal itu akan terjadi. Jadi, karena ada syarat agar peristiwa ini terjadi, maka itu disebut Ketetapan Bersyarat. Hadis tentang sedekah sebagai penghalang antara seseorang dan musibah adalah contoh sempurna dari hal ini. Dalam Ketetapan Bersyarat, jenis situasi ini diputuskan seperti ini. Jika dia bersedekah, bencana itu akan berlalu. tapi jika dia tidak melakukannya, maka itu akan terjadi. Namun, apakah seseorang pada akhirnya akan memberikan sedekah atau tidak sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuz.

Sedangkan ketetapan bersyarat tertulis dalam Lauhul Mahw wa'l-Ithbat, Kitab Penghapus dan Peneguhan. Dengan kata lain, Lauhul Mahfuz tertulis di batu, sudah ditetapkan. Namun, Lauhul Mahw wa'l-Ithbat bagaikan papan yang dapat dihapus dan ditulis lagi. Singkatnya, Allah mengetahui keadaan akhir segala sesuatu. Namun, kita tidak. Jadi, tugas kita adalah selalu berusaha sebaik mungkin dan berdoa. Salah satu aspek terindah dari keyakinan akan takdir yaitu keyakinan itu menciptakan rasa kedamaian dan kepercayaan mendalam di hati. Orang itu menjalani hidupnya dengan keyakinan dan kegembiraan. Ketika musibah atau kesulitan menimpa, dia tidak panik, dia merasa tenang karena percaya pada takdir.

Karena dia tahu pasti bahwa semuanya direncanakan dengan sempurna, sampai ke detail terkecilnya, di bawah pengetahuan dan kekuatan tak terhingga milik Allah. Pikirkanlah. Apa pun yang terjadi padamu, jika kamu tahu semuanya terkendali, bukankah itu memberi rasa percaya diri dan ketenangan pikiran yang sempurna? Jika percaya pada takdir, kamu akan berkata, "Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa alasan atau tanpa tujuan. Semuanya punya makna dan hikmah di baliknya." Keyakinan ini membuatmu sungguh merasakan bahwa setiap saat, setiap detik, Allah menjagamu. Seseorang yang percaya takdir berpikir bahwa dia selalu berada di bawah perlindungan Allah.

Dia mengesampingkan semua kekhawatirannya tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu. Dalam setiap situasi, dia berkata, "Tuhanku sudah cukup bagiku! Lagipula, segala sesuatu berada di bawah perintah-Nya," dan melanjutkan hidupnya dengan pola pikir yang menenangkan ini. Percaya pada takdir juga melindungi seseorang dari kesombongan dan keangkuhan. Karena dia tahu bahwa semua amal saleh dan keberhasilannya bukanlah hasil usahanya sendiri, melainkan merupakan anugerah yang Allah berikan kepadanya. Maka dia kembali kepada Tuhannya, bukan kepada egonya. Pada saat yang sama, dia juga menyadari tanggung jawab atas hal buruk yang dilakukannya.

Dia tidak menyalahkan takdirnya dan berkata, "Aku ditakdirkan melakukan kejahatan ini, itu sudah tertulis," namun mengakui dia memiliki kehendak bebas dan menerima bahwa dia bertanggung jawab. Hal penting lainnya adalah bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang menjelaskan konsep takdir ini dengan cara yang dengan cara yang menarik bagi pikiran dan hati. Pemahaman mendalam dan menyeluruh tentang takdir adalah bukti lain bahwa Islam adalah agama yang benar. Sekarang, mari kita kembali ke pertanyaan yang kita tanyakan di awal. Apakah menonton video ini sudah tertulis dalam takdirmu? Ya. Tapi kamu yang memilih untuk klik tombolnya.

Suatu hari nanti, saat kau mencapai garis akhir dari perjalanan hidup ini, apakah kamu akan berakhir di Surga atau Neraka sudah tertulis dalam takdirmu. Namun, yang akan membawamu ke sana adalah pilihan yang kamu buat dengan kehendak bebasmu sendiri.