Towards Eternity
Kembali ke blog

Mengapa Islam Mewajibkan ZAKAT & Menyatakan PERANG terhadap RIBA!

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Berapa lama kamu pernah tidak makan? 10 jam? 24 jam? Itu hal yang sangat sulit, bukan? Pada tahun 2021. Jumlah orang yang menderita akibat kelaparan kronis di dunia meningkat menjadi 828 juta. Setelah melihat semua ini, ribuan orang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Kenapa orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya? 42 orang terkaya di dunia Laporan tahun 2017, Oxfam menyatakan total kekayaan itu setara dengan total kekayaan setengah populasi dunia. Tahun berikutnya, setengah dari kekayaan dunia menjadi sama dengan kekayaan hanya 26 orang terkaya, bahkan lebih sedikit dari tahun sebelumnya.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, 71% populasi dunia tinggal di negara-negara dengan ketimpangan pendapatan terus meningkat hari ke hari. Ya, ini mencakup banyak negara yang merupakan negara maju. Sebagian besar masyarakat merasa tegang dan putus asa, seperti bom yang siap meledak. Tapi, akan kuberitahu bahwa ratusan tahun lalu, Islam membawa solusi yang sangat kita cari? Jika solusi ini diterapkan dengan benar, pasti di beberapa kota tidak akan ada lagi orang miskin. Maka, sumbangan harus disalurkan ke kota lain bermil-mil jauhnya. Apakah ini mungkin?

Jika sudah siap untuk konten komprehensif yang disiapkan berminggu-minggu, dengan kutipan dan wawasan dari para ahli dan peneliti, mari kita mulai. Bayangkan sebuah negara yang mengumukan pada publik, Di mana orang-orang yang berutang? yang membutuhkan, anak yatim, orang miskin yang ingin menikah, yang tertindas, atau yang memiliki hak dan kebutuhan. Datang dan ambillah hak kalian! Pejabat negara turun ke jalan mencari keluarga miskin. Ini bukan mimpi. Bukan sekedar cerita. Masa itu benar-benar terjadi. Di awal tahun 700, mendekati tahun ke-100 setelah munculnya sistem Zakat. Khalifah Islam Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan dekrit dan membuat pengumuman itu.

Suasana yang sangat jauh dari kehidupan saat ini, ya, kan? Sebenarnya, apa itu zakat dan seberapa relevankah zakat itu di zaman sekarang? Kita akan bahas semuanya. Namun, mari kita coba pahami sistem Islam ini. Kita berada di jalan buntu dan sulit untuk keluar. Ada dua kalimat yang menghancurkan hidup kita di seluruh dunia. Salah satunya, "Kamu bekerja dan aku makan." yang adalah sistem bunga. Masalah yang timbul karena ini sangatlah banyak. Mari kita analisis satu contoh. Kamu ingin beli mobil atau rumah, namun tidak mampu membelinya. Kamu hanya bisa mencari nafkah. Lalu dengan senyuman, orang bank datang dan bilang, "Saya hadir untuk membantu.

Saya bisa memberikan uang yang kamu inginkan dengan cicilan sekian, tapi bayarlah dengan bunga sekian." Kamu merasa tidak ada pilihan lain, dan tanda tangani kontrak itu. Lalu kamu akan bekerja bertahun-tahun untuk membayar pinjaman dengan bunga yang tinggi. Bunganya saja harus dibayar dengan tambahan kerja berbulan-bulan. Kamu akan mencari kerja tambahan dan berusaha lebih keras. Mungkin pasanganmu juga harus bekerja. Juga mengorbankan waktu bersama anak-anakmu. Sementara itu, jika bermasalah dan tidak membayar tepat waktu, utangmu akan semakin bertambah. Artinya lebih banyak stres dan pekerjaan untukmu. Tahukah apa yang terjadi sebelum memulai proses yang panjang dan menyakitkan ini?

Senyuman bank yang sama bersepakat dengan orang kaya tepat sebelum mengambil pinjaman itu. Uangnya diinvestasikan untuk mendapat bunga, dan sekarang uangnya terus bertambah tanpa melakukan apa pun. Hanya dalam waktu satu bulan, tanpa usaha apa pun, orang itu akan mendapatkan bunga dari pinjaman beberapa keluarga sepertimu yang telah membayar dengan susah payah mungkin dalam beberapa bulan atau setahun. Pada akhirnya, kamu sadar telah membeli uang orang itu dan telah membuatnya semakin kaya selama ini. Bagaimana perasaanmu di situ? Mungkin kamu merasa benci. Kita hidup di dunia di mana total kekayaan 1% sama dengan total kekayaan dari 99% sisanya.

Jadi, cukup jelas bahwa ada yang salah di sini, dan orang-orang menyimpan amarah pada pihak 1% itu. Lalu, kesenjangan material dan emosional muncul antara kedua kelompok ini. Tepat pada titik ini, kamu menemukan kalimat kedua yang merusak kehidupan sosial kita. "Asalkan aku kenyang, aku tidak peduli orang lain mati kelaparan." Lalu Islam datang dan melarang bunga dan menggantinya dengan sistem yang jauh lebih baik, Zakat. Zakat dibuat wajib untuk menghapus kesenjangan finansial di masyarakat. Apa sebenarnya zakat itu? Akan aku jelaskan dengan runtut. Pertama, ada konsep yang disebut ‘’Nilai Nisab’’. Apa itu? Hitung seluruh uangmu termasuk tabungan dan barang dagangan.

Sekarang lunasi utangmu dengan uang dan barang itu. Lalu, jika tabunganmu di atas "Nilai Nisab", yang setara dengan nilai minimum 80 gram emas dalam mata uangmu, dan jika tidak berada di bawah jumlah ini selama setahun, kamu wajib "Membayar Zakat". Namun jika berada di bawah batas ini, kamu berhak menerima "uang Zakat" Jadi, apakah jumlah Zakat begitu besar sampai orang sulit membayarnya? Tentu tidak. Kita bicara tentang 1/40 atau 2,5% dari jumlah tabungan yang kamu miliki. Misal kamu punya $100.000 dan telah ditabung selama setahun. Memberi $2.500 tentu jumlah yang kecil. Apalagi jika diberikan pada orang yang membutuhkan. Kamu juga akan merasa mendapat pahala.

Yang lebih penting lagi, kamu akan melihat kegembiraan orang itu. Jadi, tidak seberapa bagimu tapi hal yang besar bagi mereka yang membutuhkan. - Zakat adalah salah satu caranya. Itu bukan pajak, tapi dapat dibandingkan dengan pajak kekayaan. Tidak ada satu pun negara di Barat, saat ini, yang memiliki pajak kekayaan yang komprehensif. Sebagian besar pajak berbasis pada penghasilan, atau jenis produk, pajak konsumen, PPN, dan pajak penjualan. Sedangkan zakat adalah tentang uang yang belum dimanfaatkan. Jadi, uang yang berdiam setelah satu tahun, tentu saja, di atas nisab. Dan uang itu belum digunakan untuk pengeluaran harian anda.

Jadi, uang properti anda, uang keluarga anda, uang untuk biaya pendidikan putra anda, uang anda untuk putri anda, pernikahan atau apa pun itu, uang itu adalah uang yang dibelanjakan. Dan itu tidak akan dikenakan zakat. Tapi, zakat dikenakan pada kekayaan yang tidak dibelanjakan. Jadi zakat itu pajak dari tabungan. + Ada juga keindahan mengejutkan dalam zakat. Berkali-kali dalam sejarah Islam, orang-orang yang sebelumnya menerima zakat akhirnya menjadi mampu berzakat setelahnya. Buka browser dan cari harga 80 gram emas dalam mata uangmu. Setelah jangka waktu tertentu, banyak keluarga mampu memiliki sejumlah emas sebagai tabungan.

Jadi dengan bantuan sistem ini, orang miskin tidak semakin miskin, namun menjadi lebih kaya. Dalam sumber-sumber Islam, ada informasi berikut. Di Negara Islam, zakat dikumpulkan dari satu wilayah dan mulai didistribusikan di sana. Meski masih punya uang untuk diberikan, namun tidak ada lagi yang membutuhkan. Jadi sisa zakatnya dikirim ke daerah lain, beberapa kilometer ke kota lain. Bisa kamu bayangkan? Dalam sejarah Islam, ini bukanlah mimpi. Tidak perlu kusebut namanya, namun pasti dapat menebaknya. Mereka menghitung total kekayaan salah satu orang terkaya di dunia. Berita ini 2 atau 3 tahun lalu, dan mereka berkata hanya dengan 2% dari kekayaan orang ini, itu berarti $6 miliar.

Kelaparan di seluruh dunia dapat berakhir. Ingat tentang 1 miliar orang yang mengalami kelaparan kronis yang telah kita sebutkan di awal? Itu tidak akan terjadi lagi. Dan apakah 2% itu terdengar familiar bagimu? Jumlahnya sedikit lebih kecil dari zakat, yang sebesar 2,5%. Dan jika kita memperhitungkan bahwa zakat diberikan setiap tahun, hasilnya menjadi tidak terbayangkan. Mari kita lihat dari sudut pandang lain. Jika kemakmuran finansial seperti itu tercapai di suatu wilayah, bukankah angka kejahatan juga akan turun? Karena banyak kejahatan, seperti pencurian, berhubungan dengan kemiskinan. Tentu, tidak selalu karena itu dan tidak membenarkan orang yang melakukannya.

Namun tidak mungkin menyangkal dampaknya. Bayangkan ada penjahat dan hukumannya diserahkan padamu. Ada dua pilihan. Kamu memberikan hukuman yang pantas diterimanya, tentu keputusan ini masuk akal, atau justru kita kembali ke masa lalu dan menghilangkan alasan orang ini melakukan kejahatan. Mana yang kamu pilih? Bukankah lebih baik sejak awal mencegah kejahatan itu, jika memungkinkan? Lihatlah bagaimana zakat juga melawan kesulitan keuangan di balik beragam kejahatan dan secara tidak langsung menegakkan keadilan dan keselamatan masyarakat. Inilah kedamaian multidimensi dan kemakmuran yang diberikan zakat. Towards Eternity membutuhkan dukunganmu.

Kami organisasi amal yang bertujuan menyebarkan pesan Islam ke seluruh dunia dalam sepuluh bahasa. Dengan dukunganmu, kamu dapat membantu orang-orang masuk Islam, meninggalkan yang haram, mulai salat, mengenakan hijab, belajar membaca Al-Qur'an dan sebagainya. Dan jadilah bagian dari amal saleh ini, Insya Allah. Mari berdonasi melalui Towards Eternity dan jangan lewatkan kesempatan emas ini. - Apa yang terjadi pada tahun 2008 selama resesi? Apa yang dilakukan Obama? Dia pergi ke Kongres. Dia mendapat $600 atau $700 miliar dan dia mengirimkannya ke rekening orang-orang yang tidak mampu. Dan dia tidak mengatakan, "Dengar, ini adalah uang terakhir yang kita punya.

Jadi coba simpanlah." Tidak, katanya, "Ambil dan belanjakanlah." Dan seperti itu. Perekonomian akan berjalan jika kamu memberi $100 dan memasukkannya ke kantong orang kaya. Setelah satu tahun kamu akan tetap di sakunya. Dia bahkan lupa. Dia tidak menggunakannya. Itu tidak menguntungkan siapa pun. tapi jika $100 diberikan pada orang miskin dalam waktu 15 menit, uang itu akan hilang! Karena dia butuh. Dia akan membeli makanan. Dia akan membeli pakaian, sepatu, dan barang untuk anak-anaknya. Akhirnya yang terjadi adalah ia menggerakkan perekonomian. Semakin banyak uang dituangkan ke perekonomian, semakin banyak permintaan terhadap barang.

Untuk menghadapi hal ini, anda perlu meningkatkan produksi. Untuk meningkatkan produksi, anda menciptakan lapangan kerja. Itulah zakat... - Ada seorang jurnalis Inggris yang mengatakan bahwa kekayaan telah menjadi begitu jauh, anda bahkan tidak tahu jika hal itu masih nyata. Anda hanya dapat melihatnya saat anda membuka majalah tentang lifestyle dan melihat orang-orang super kaya memiliki pulau dan kapal pesiar dan anda tahu bagaimana mereka hidup. Selain itu, kekayaan menjadi mustahil bagi anda bahkan untuk dibayangkan. + Menurut Islam, jika kamu orang yang membutuhkan dan tidak dapat mengubah keadaanmu, kamu sebenarnya berhak atas harta orang kaya.

Sebaliknya, jika kamu kaya, orang-orang yang membutuhkan berhak atas hartamu. Kedengarannya aneh, bukan? Dalam Al-Qur'an ayat ke-19 Surah Adz-Dzariyat, Allah berfirman, "Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta." Pahami ayat ini melalui sebuah contoh. Bayangkan sebuah wilayah di mana banyak kelaparan dan kemiskinan, dan kita melihat 25 orang yang sama sekali belum makan berhari-hari. Mereka pucat dan sangat lemah. Rasa lapar terlihat jelas di wajah mereka. Beberapa saat kemudian, meja makan besar mulai disiapkan dengan berbagai macam makanan. Kamu datang dan duduk di meja itu dengan berpakaian indah.

Mejanya sangat besar dan penuh makanan bahkan cukup untuk seribu orang. Tapi kamu tidak mengundang siapa pun dan mengabaikan 25 orang yang membutuhkan itu. Saat mereka melihatmu makan dengan sangat lahap, mereka semakin merasa lapar. Setelah kenyang, kamu menyuruh pelayan mengemas sisa hidangan yang bisa dimakan 999 orang lalu pergi. Situasi ini sangat menyebalkan, ya kan? Tidakkah rasa lapar dan penderitaan 25 orang lapar di sekitarmu terlihat di makanan dan kekayaanmu sebagai kotoran, kekayaan yang tampaknya bersih tapi kotor secara spiritual? Di sinilah makna kata 'zakat' terlihat.

Salah satu makna kata ini yang disebutkan berulang kali di Al-Qur'an, adalah "mensucikan", yaitu, "membersihkan". Dalam artian, sebuah kewajiban yang akan membersihkan harta jika diberikan dan akan menjadi kotor ketika tidak diberikan. Semua kesulitan yang disebabkan oleh kemiskinan di dunia, kelaparan, penderitaan, kekurangan, kejahatan, kesulitan spiritual, air mata, dan lainnya, semua berubah menjadi kotoran bagi kekayaan orang-orang yang mengabaikan penderitaan itu.

Saat orang berzakat, seolah-olah dia berkata, "Aku menyadari situasi ini dan melakukan bagianku sebatas yang paling dasar." Pada kenyataannya, dia mengundang 25 orang itu ke mejanya, yang dapat memberi makan seribu orang, yang berarti dia membantu 2,5% dari mereka. Di dunia yang penuh cobaan, seperti halnya tubuh yang diberikan sebagai amanah bagi manusia, keluarga kepada ayah, dan bayi kepada ibu, orang miskin menjadi amanah orang kaya. Dalam Surat Al-Ma'un, Allah menegur dan menyingkap kejahatan sebagian orang kaya yang tidak memenuhi amanah ini.

Pada ayat kedua dan ketiga Allah berfirman tentang keduanya, "Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mengajak memberi makan orang miskin." Salah satu masalah terbesar di sistem di mana kita tumbuh adalah "Seiring waktu, yang seharusnya adalah jalan menjadi tujuan." Apa maksudnya dengan itu? Kehidupan mewah yang telah kita lihat sejak kecil mendorong kita terus menginginkan lebih. Persepsi kita dan cara kita memandang dunia telah dibentuk untuk selalu fokus mendapatkan lebih banyak. Lalu, kita masuk dunia bisnis dan berkata, "Semakin banyak penghasilanku, semakin dekat aku mewujudkan hidup impianku." Pertama-tama, mari kita perjelas.

Tidak ada yang salah dengan orang-orang mencari kekayaan, dan Islam tidak melarang kita melakukannya selama melalui cara-cara yang diperbolehkan. Namun sistem yang kita hadapi membuat sebagian orang menjadi sangat rakus. Uang menjadi alat untuk membeli barang atau membelanjakannya, bukan? Namun bagi sebagian orang, menghasilkan uang telah menjadi tujuan utama. Tujuan ini mendorong mereka menabung lebih banyak dari 30-40 tahun sebelumnya. Dan dia sadar seluruh hidupnya telah dihabiskan menjaga kekayaan melimpah yang tidak dapat dia habiskan, bahkan jika dia menginginkannya. Kekayaan yang bahkan dilupakan.

Dan orang di sekitarnya berpikir apa yang akan terjadi pada semua uang ini setelah mati dan membuat perhitungan dalam benak mereka. Di sisi lain, ada dunia begitu berbeda. Di kota tempat orang kaya itu tinggal, ada seorang ibu yang suaminya telah meninggal dan dia ditinggalkan bersama anak-anaknya. Dia mencoba mencari cara bagaimana merawat mereka, memenuhi kebutuhan mereka. Dia berada dalam situasi yang sangat sulit dan membutuhkan dukungan. Ada seorang ayah yang usaha dan dagangnya gagal dan dia bangkrut. Dia begitu putus asa sehingga dia berpikir untuk bunuh diri. Ada orang yang tidak bisa terbebas dari utang. Ada orang yang pernah ditipu, dirampok, dicuri, yang sedang berputus asa.

Apa kamu pernah mendengar tentang orang yang merawat orang tua yang sudah tua? Mereka memiliki pengeluaran rutin yang perlu ditanggung, seperti obat-obatan. Ini bukan hal-hal yang hanya terjadi di film. Ada orang yang kehilangan rumah akibat gempa bumi. Orang yang harta bendanya hancur akibat kebakaran atau banjir. Ada orang-orang yang kelaparan di Afrika. Di sisi lain, ada data yang menunjukkan, kekayaan orang terkaya 1% dari populasi dunia sama dengan kekayaan 99% sisanya. Tidakkah kamu juga berpikir bahwa kesulitan yang dialami orang-orang ini menodai, mencemari harta benda orang-orang yang terus mengumpulkan kekayaan di rekening mereka dan tidak peduli dengan orang lain?

- Sikapmu adalah alasan kenapa orang-orang miskin berhak atasmu. Jika punya lebih banyak uang, aku beri mereka lebih banyak. Jadi, mereka bukan keburukan. Terkadang Nabi Muhammad SAW akan menghormati orang miskin dan yang lemah sedemikian rupa, sampai saat mereka bersedekah, dia bagikan sedekah itu, sedikit kurma itu lebih dari banyak harta yang diberikan oleh orang-orang kaya. Dan dia berkata, inilah berkah. Dari sinilah datangnya berkah. Jadi itu adalah bagian dari sunah Nabi SAW untuk mencintai orang miskin. + Aku menemukan satu judul di situs forum diskusi terkenal. Ada pertanyaan yang sangat menarik.

"Apa yang akan terjadi jika kita mendistribusi ulang 1% kekayaan dunia pada 99% sisanya seperti 'pengaturan ulang' sekali saja?" Ayo kita turun ke jalan dan ceritakan ide ini pada orang lain dan katakan pada mereka, “Ada tombol di depanmu. Jika kamu menekannya, 'distribusi ulang' ini akan terjadi." Jika kamu di jalan seharian, kamu akan lihat semua orang ingin menekannya, kecuali 1% kelompok itu, tentu saja. Bahkan ada orang yang menekannya sebelum pertanyaannya selesai. Dan apa yang akan kamu lakukan? Ingat contoh meja makan yang aku katakan sebelumnya? Jika aku tidak mengundang orang-orang itu, mereka akan merasa jauh dariku, dan pasti begitu. Mereka bahkan dendam padaku.

Akibatnya, ketidakpekaanku pada mereka akan meningkat. Mengabaikan mereka bahkan bisa menjadi hal biasa bagiku. Lama-lama, aku akan mengalami keruntuhan moral, dan sebagai akibatnya, masyarakat yang seharusnya bersatu akan terbelah menjadi dua. Mari kita pikirkan dua adegan sejarah. Yang pertama berasal dari Revolusi Prancis, atau revolusi Komunis Rusia di pelajaran sejarah. Mereka membawa perubahan besar, tapi secara bersamaan menjadi tragedi sejarah yang sangat besar yang mengakibatkan pertumpahan darah banyak orang.

Di situasi kedua, di sisi lain, adalah dekrit negara yang telah kita bicarakan di awal ketika Negara Islam mengumumkan di jalan karena tidak ada orang yang membutuhkan yang harus diurus lagi. Alasan terjadinya kedua skenario tersebut adalah hubungan antara si kaya dan si miskin. Namun dalam kasus pertama, ada kebencian dan kemarahan, sementara dalam kasus lainnya saling menghormati, ada kasih sayang dan cinta. Jika situasinya seperti ini, siapa yang bisa menyangkal bahwa sistem zakat adalah salah satu hal yang paling kita butuhkan?

Pada titik ini, kamu mungkin berpikir, "Jika ada sistem seperti itu dalam Islam dan hasilnya positif, kemakmuran muncul setelah diterapkan, lalu kenapa tidak ada negara lain yang muncul dengan sistem yang serupa?" Maksudku, bukankah hal ini selalu terjadi? Suatu sistem dikembangkan atau teknologi yang berhasil, dan lama-lama negara lain menggunakan sistem itu juga. Entah karena prasangka terhadap Islam atau kecintaan pada harta, sistem itu tidak diterapkan, tapi sistem bunga justru lebih umum. - Jika zakat dipraktikkan sebagaimana seharusnya dipraktikkan. Maka zakat, pertama-tama, zakat mengubah pandangan kita terhadap kekayaan, terhadap kekayaan yang kita miliki.

Jadi, ada manfaat zakat yang langsung, instan. Momen untuk menjadi muslim atau menjadi muslim yang baik yaitu anda sadar harus membayar zakat. Jadi anda berzakat. Jadi sikap anda terhadap harta anda yang tersisa itu akan berubah. Jika tidak berubah, berzakatlah dengan cara yang benar. Anda harus mengeluarkan zakat dari zakat anda, karena zakat berarti, Aku telah memberikan hak orang miskin dalam hartaku. Namun, hati pun terbuka untuk beramal, karena sekarang aku melihat mungkin aku punya lebih banyak kekayaan dan orang ini membutuhkannya. Atau orang-orang ini lebih membutuhkannya. Seketika, hubunganmu dengan orang lain menjadi, aku memiliki kekayaan ini dan menjadi sebuah amanah.

Amanah yang telah Allah berikan kepadaku. Hal terbaik yang dapat aku lakukan dan membuatku sangat bahagia adalah jika aku memberikan pada yang paling berhak menerimanya. + Bayangkan seseorang datang ke dunia berabad-abad yang lalu di tengah masyarakat jauh dari peradaban, di tanah Arab pada masa Jahiliyah. Dia tidak bisa membaca dan menulis dan tidak menerima pendidikan duniawi. Dan orang itu membawa sebuah kitab Al-Qur'an dan konsep zakat dan larangan bunga, yang telah kita bicarakan, hanya dua dari banyak aturan di buku itu, tapi mereka membawa solusi untuk banyak masalah kemanusiaan. Mengatasi kemiskinan, menghilangkan kebencian dan kesombongan dalam masyarakat, dan membawa persaudaraan.

Juga mengajak orang untuk beramal dan menghidupkan kembali perekonomian. Ketika kita melihat semua upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang disebut ahli di bidang ini selama berabad-abad, kita bisa melihat mereka tidak pernah mampu menghasilkan sistem yang bahkan mendekati dari yang dibawa oleh pria buta huruf ini. Mari kita kumpulkan 100 ekonom paling sukses saat ini dan biarkan mereka bekerja bertahun-tahun. Bisakah mereka membuat sistem yang mendekati ini, dan membuat orang mempraktikkannya dengan cara yang efektif selama ratusan tahun? Kurasa tidak. Semua ini jelas menunjukkan bahwa ini bukanlah sistem buatan manusia, dan itu hanya bisa terjadi karena wahyu ilahi. Waktu terus berlalu.

Berabad-abad terus berlalu, tapi Islam semakin muda dan muda. Hari demi hari, nilai aturannya dipahami dan diapresiasi dengan lebih baik. Setiap hari semakin jelas terlihat bagaimana kesesuaiannya dengan kodrat manusia, dan karena hal itu hanya mungkin datang dari Pencipta semua manusia dan seluruh alam semesta. Dan pilihan untuk mengabaikan atau menerimanya ada pada kita.