Towards Eternity
Kembali ke blog

Apakah Dajjal Sudah Muncul? - Tanda-Tanda Hadis Mengejutkan yang Kita Lewatkan!

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Siapa sebenarnya Dajjal? Apakah Al-Mahdi sudah muncul? Bagaimana dengan Ya'juj dan Ma'juj? Dabbatul Ard? Turunnya Nabi Isa AS dari langit, dan masih banyak lagi. Nabi Muhammad SAW memberitahu tentang setiap peristiwa di akhir zaman. Tapi beberapa hadis tersebut terkadang terasa jauh dari kenyataan yang kita alami sehari-hari. Misalnya, apa maksudnya bahwa satu hari Dajjal akan terasa seperti satu tahun, dan hari lainnya seperti satu bulan? Bagaimana dengan perjalanan mengelilingi bumi secepat awan? Cara dia masuk setiap kota dalam 40 hari? Tunggangannya, dengan jarak 40 hasta antara kedua telinganya? Memerintahkan langit menurunkan hujan dan memerintahkan bumi mengeluarkan harta tersembunyi?

Sebenarnya, apa maksud semua itu? Semua terlihat mustahil pada zaman sekarang. Akibatnya, sebagian orang menjadi ragu, sementara yang lain mempertanyakan kredibilitas hadis. Bagaimana jika kita melewatkan bahasa simbolis tertentu? Bagaimana jika gambaran ini disampaikan dengan bahasa kiasan yang indah? Dan yang terpenting, bagaimana kalau beberapa nubuat yang kita tunggu ternyata sudah terjadi? Bagaimana kalau zaman yang sedang berjalan sekarang ternyata terbentuk oleh dampak dari semua itu, hanya saja kita belum menyadarinya? Dalam video ini, kami takkan menghindari pertanyaan sulit. Tujuan kami sederhana: menghilangkan semua tanda tanya dan memberi jawaban yang jelas dan memuaskan.

Di akhir video, kamu akan lihat bagaimana tanda-tanda ini sesuai dengan keadaan sekarang. Kamu juga akan lihat bagaimana Rasulullah SAW memberitahu tentang masa depan sebagai mukjizat. Bersiaplah melihat hadis-hadis ini dari sudut pandang berbeda Mari kita mulai dengan hadis yang menjadi dasar dari pembahasan ini "Di antara waktu penciptaan Adam dan Hari Kiamat, tak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal". Coba pikirkan. Kalau orang mengambil nyawa atau harta kita, mereka hanya merusak dunia kita yang sementara. Tapi kalau seseorang mengambil iman kita, kita kehilangan kebahagiaan yang kekal dan menghadapi neraka untuk selamanya.

Jadi, fitnah terbesar dari awal hingga akhir kehidupan manusia mungkin hanya berupa gerakan besar yang membawa kekufuran. Sepanjang video ini, kita akan menggunakan petunjuk dari hadis-hadis lain untuk mempersempit kemungkinan. Setiap hal yang kita temukan akan menjadi seperti kepingan puzzle, membantu kita melengkapi gambaran besar agar kita bisa mengidentifikasi. Sekarang, bandingkan dua skenario ini dan tanya dirimu: Mana yang lebih bahaya? Skenario 1: monster seram tiba-tiba muncul tepat di depanmu dan bilang, "Aku adalah Dajjal. Kufurlah kepada Nabi Muhammad SAW!" Dia langsung membunuh siapa pun yang menolaknya. Skenario 2: Dajjal adalah manusia biasa seperti kita.

Dia memimpin gerakan ideologi yang kuat untuk menyebarkan kekufuran. Dia membuat sistem yang korup terlihat menarik, modern, dan indah. Dia menyesatkan banyak orang lewat media dan propaganda. Tentu saja, skenario kedua bisa membuat jutaan orang kehilangan iman tanpa mereka sadari. Skenario pertama tidak bisa menipu siapa pun karena terlalu jelas. Bahkan, bisa jadi Dajjal sendiri tidak menyadari identitasnya sendiri. Dia hanya akan jadi manusia biasa yang menjalani ujiannya sendiri. Kalau dia tahu bahwa dia Dajjal, mungkin saja dia malah masuk Islam. Itulah kenapa kita perlu menyadari bahwa gambaran dalam hadis sebenarnya bersifat simbolis.

Rasulullah SAW memilih kata sedemikian rupa sehingga peristiwa tersebut bisa dikenali saat waktunya tiba. Misalnya, menurut hadis, Dajjal akan tinggal di bumi selama 40 hari. Selama waktu itu, dia akan memasuki setiap kota kecuali Makkah dan Madinah. Di zaman Rasulullah SAW, keliling dunia butuh bertahun-tahun, bukan berhari-hari. Orang bepergian naik unta dan kuda, bahkan menyeberangi gurun bisa berminggu-minggu. Selama lebih dari seribu tahun, detail hadis ini terlihat sangat tidak masuk akal. Tapi ketika kita melihat satu abad terakhir, semuanya berubah. Dunia benar-benar berubah karena perkembangan transportasi modern.

Kereta api dan jaringan rel yang luas mulai membentang di seluruh dunia. Pesawat membuat manusia bisa mengelilingi dunia dalam kurang dari dua hari. Tapi yang terpenting adalah komunikasi global. Dalam satu abad terakhir, ideologi bisa menyebar dengan sangat cepat melalui surat kabar dan radio. "Atas perintah pemerintah, semua kegiatan keagamaan selain ibadah dilarang. Lembaga keagamaan yang melanggar aturan tersebut akan ditutup." Sekarang, gerakan ideologi bisa masuk ke setiap kota dan smartphone di seluruh dunia dalam hitungan detik. Inilah cara Dajjal menyebarkan ide-idenya, kerusakannya, dan membangun pengaruh globalnya hanya dalam 40 hari.

Jauh sebelum teknologi seperti ini ada, Rasulullah SAW sudah menggambarkan zaman komunikasi yang instan seperti ini. Bukankah ini mukjizat yang luar biasa? Seolah beliau melihat melewati 14 abad dan menyaksikan kenyataan hari ini. Allah memperlihatkan kepadanya rahasia masa depan. Itulah mengapa gambaran tentang tunggangan Dajjal sangat penting. Hadis menyebutkan jarak antara kedua telinga tunggangannya adalah 40 hasta. Selama satu abad terakhir, umat manusia mengalami perubahan besar. dari menunggangi hewan jadi membuat mesin baja raksasa. Pesawat, kereta api, mobil, dan sebagainya. Lihatlah betapa indahnya cara Rasulullah SAW mengajarkan hal ini.

Karena para sahabat adalah murid pertama dan paling penting bagi beliau, bahasa yang beliau gunakan disesuaikan dengan pemahaman manusia pada zaman mereka. Kalau kita membawa mobil modern ke zaman itu, bagaimana orang akan melihatnya? Mereka mungkin melihatnya seperti sepasang mata yang menyala. Grill bagian depan mungkin terlihat seperti mulut besar. Dan kaca spion atau bahkan pintu mobil yang terbuka, terlihat seperti telinga. Ini adalah gambaran yang sangat tepat tentang mesin modern jika dilihat dari sudut pandang orang pada abad ketujuh. Seperti yang kita tahu, jarak antara dua sisi beberapa kendaraan modern bisa mencapai sekitar 40 hasta, atau kurang lebih 20 meter.

Detail dalam hadis bukan sebuah kekeliruan. Ini adalah tanda yang jelas tentang era teknologi yang dimaksud dalam hadis ini Ketika para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, berapa lama dia akan tinggal di bumi?" Rasulullah SAW menjawab, "40 hari. Sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti seminggu, dan hari-hari sisanya seperti hari-hari kalian." Apa maksud rentang waktu tersebut? Bediuzzaman, ulama tafsir dan hadis, memberikan dua penjelasan mendalam untuk memahami rahasia ini. Dia menekankan cepatnya kerusakan menyebar. Pada awalnya, Dajjal bekerja dengan kecepatan yang sangat mengerikan.

Hari pertamanya menggambarkan sebuah masa kelam saat kehancuran spiritual terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Pada tahap kedua, kecepatannya sedikit menurun namun ia masih melakukan pekerjaan yang sangat besar. seolah menyelesaikan pekerjaan sebulan penuh dalam satu hari. Pada tahap ketiga, dia masih sangat kuat, kerusakan seminggu dilakukan hanya dalam satu hari. Pada akhirnya, sistem melambat ke kecepatan normal sehari-hari. Namun, penafsiran kedua dari Bediuzzaman justru menunjukkan sisi lain dari kata-kata Rasulullah SAW yang sangat menarik. Menurutnya, hadis tersebut sebenarnya mengandung pengetahuan geografis yang luar biasa. Coba pikirkan.

Di belahan bumi mana ada satu hari yang berlangsung selama setahun? Hal itu terjadi di sekitar Kutub Utara, tepat di atas wilayah Siberia, Rusia. Di sana, seseorang bisa mengalami enam bulan siang terus-menerus, kemudian enam bulan malam terus-menerus. Satu tahun seolah satu siang dan satu malam. Bukan hanya itu. Kalau kita bergerak sedikit ke selatan, siang jadi lebih pendek. Di wilayah-wilayah tersebut, ada tempat di mana satu hari berlangsung sebulan, dan lebih jauh lagi bahkan berlangsung seminggu. Kemudian, semakin ke selatan menuju wilayah dunia lainnya, keanehan itu berakhir. Siklus siang dan malam akhirnya kembali normal.

Jadi, itu berarti wilayah ini adalah tempat munculnya gerakan Dajjal. Dan dari sana gerakan tersebut menyebar ke seluruh dunia. Menariknya, pada abad terakhir, wilayah utara tersebut memang berubah menjadi pusat gelombang kekufuran yang sangat besar. Kekuatan negara, sekolah, dan media digunakan untuk menyebarkan ateisme secara luas. Lebih dari 95% masjid dan gereja disebut dihancurkan atau ditutup. Buku-buku agama dibakar dan pendidikan agama dilarang. Ribuan ulama dan tokoh agama diasingkan ke kamp-kamp dingin di Siberia, atau bahkan dieksekusi. Selama puluhan tahun, jutaan anak dibesarkan dengan propaganda yang mengatakan bahwa agama adalah kebohongan.

Bahkan didirikan organisasi bernama Liga Ateis Militan, kelompok resmi yang didukung negara. Kelompok ini mengubah jutaan warga menjadi pejuang aktif yang melawan agama. Sebuah gerakan bernama "Down With Shame" juga diluncurkan. Orang-orang berjalan di jalanan dalam keadaan telanjang, hanya membawa spanduk bertuliskan "Down With Shame". Selama beberapa waktu, negara ini bahkan menghapus konsep pernikahan tradisional. Klub nudis dibuka di mana-mana, dan pemandian tradisional dijadikan pemandian campur, agar pria dan wanita bisa telanjang bersama di sana. Mereka menginginkan masyarakat yang tak beribadah, tak percaya akhirat dan tidak patuh hukum Tuhan. Dan tahukah kalian?

Virus pemikiran ini menyebar melintasi batas negara, dan hari ini kita hidup di dunia yang dibentuk oleh virus tersebut. Selama bertahun-tahun, agama disingkirkan dari pendidikan dan sains dan sistem baru dibentuk. Sistem tersebut membuat kita melihat alam semesta hanya dari sudut pandang materialistik, bahkan saat kita sendiri masih beragama. Hingga dua abad lalu, hampir tak ada orang tak beriman. Namun kini, sekitar 1,3 miliar orang mengaku tidak beriman, atau sekitar satu dari enam orang. Tentu saja, hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran dan makna sebenarnya dari semua ini. Namun, mungkinkah nanti muncul gerakan yang jauh lebih merusak? Jujur saja, hal ini patut kita renungkan.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi. Coba perhatikan peristiwa yang tadi kita bahas. Tokoh-tokoh Yahudi disebut terlihat cukup menonjol di tingkat kepemimpinan tertinggi dalam gerakan ateistik tersebut. Dan ini baru salah satu contoh. Baik secara terbuka maupun di balik layar, mereka disebut punya peran di antara kelompok-kelompok elite yang membentuk politik global. Dalam bahasa Arab, angka seperti 40, 70, 70.000, 80, atau 80.000 tidak selalu berarti jumlah pasti. Itu hanya cara umum untuk menyebut jumlah yang sangat besar. Dengan kata lain, kita tidak harus membayangkan ada tepat 70.000 orang yang meneriakkan dukungan kepada Dajjal.

Sistem seperti ini memaksa setiap orang menghadapi pilihan yang sangat berat. Rasulullah SAW memperingatkan kita: "Dia akan membawa surga dan neraka. Tetapi nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka." Apa maksudnya? Jawabannya cukup jelas. Dajjal membangun sistem di mana hidupmu bergantung pada kesetiaan padanya. Kalau kamu mengikuti gelombang materialisme dan mendukung sistem yang tidak beriman itu, dia akan membuka pintu "surganya". Kamu akan mendapatkan kenyamanan, kekayaan, dan status yang tinggi. Namun jika kamu memilih berada di pihak Allah, "neraka" Dajjal akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Kamu bisa dikirim ke kamp kerja paksa, penjara, bahkan dieksekusi.

Tapi sebenarnya, "surga" Dajjal adalah jalan menuju neraka yang sesungguhnya. Sedangkan "neraka dunia" yang dia berikan kepada orang-orang beriman justru bisa menjadi jalan menuju surga yang kekal. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: "Di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah jumlah pria berkurang sementara jumlah perempuan semakin banyak, sampai-sampai hanya ada satu pria yang mengurus 50 perempuan." Kalau kita lihat realitanya, hal seperti ini memang terlihat pada abad terakhir. Perang dunia memakan banyak sekali korban jiwa. Dan sebagian besar adalah pria. Dari populasi pria yang tersisa kebanyakan masih anak-anak, lanjut usia, atau veteran perang yang terluka.

Di negara terdampak perang, pria dewasa dan sehat yang bisa menjaga perempuan menjadi sangat sedikit. Dan sekali lagi, perjalanan sejarah membuktikan kebenaran perkataan Rasulullah SAW. Seperti yang sudah kita lihat sebelumnya, angka 50 dalam hadis juga bukan hitungan matematika. Ini cara umum untuk menyebut jumlah yang besar. Sekarang, mari kita lihat petunjuk lain dari hadis-hadis ini. Dan kali ini, coba kamu tebak sendiri apa maksudnya. Dajjal disebut akan menyuruh langit menurunkan hujan, dan hujan pun turun. Dia akan melewati sebuah tanah tandus dan berkata, "Keluarkan harta-hartamu, lalu pergilah". dan harta-harta tersebut mengikutinya seperti segerombolan lebah.

Sekarang, coba lihat dunia saat ini. Apa kira-kira maksudnya? Sekitar tahun 1940-an, manusia menemukan teknologi penyemaian awan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan mempelajari cara memicu awan secara buatan dan membuat hujan turun sesuai kebutuhan. Seolah kita memerintahkan langit untuk menurunkan hujan. Teknologi tersebut bekerja. Pada masa yang sama, industri pertambangan modern juga mengalami revolusi besar. Dengan teknologi modern, minyak, gas, dan logam mulia bernilai triliunan dolar mulai bisa diekstraksi dari dalam bumi sesuai kebutuhan. Apa kamu menyadari sesuatu? Setiap kali seseorang mencoba menyerang hadis mukjizat yang tersembunyi di baliknya terlihat makin jelas.

Tak mungkin Rasulullah SAW mengetahui semuanya sendiri. Semua itu jelas merupakan wahyu dari Allah. Ini memunculkan pertanyaan besar. Kenapa semua dibuat begitu misterius? Bukankah lebih mudah jika Rasulullah memberikan nama dan tanggal yang jelas sehingga semua orang bisa langsung memahaminya? Tapi coba aku balik pertanyaannya. Apa tujuan dari hadis-hadis tersebut? Kenapa Rasulullah SAW memperingatkan kita? Karena beliau ingin umatnya tetap waspada. Tapi Rasulullah bukan hanya pembimbing untuk zaman tertentu. Beliau adalah pembimbing bagi seluruh manusia sampai Hari Kiamat. Beliau ingin agar keberadaan Al-Mahdi dan Dajjal bisa dirasakan di setiap zaman.

Jika beliau memberikan identitas Dajjal dan Al-Mahdi secara spesifik, lengkap dengan waktu dan tanggalnya, hanya satu generasi yang akan memperhatikannya. Sementara generasi-generasi setelahnya bisa saja lengah. Beliau ingin seluruh umat tetap waspada dalam melihat keadaan. Beliau menggunakan cara bijak agar setiap generasi bisa melihat zamannya sendiri, membandingkan dengan hadis, lalu bertanya, "Apakah ini waktunya?" Kemungkinan bertemu Dajjal membuat kita tetap waspada. Sementara harapan terhadap Al-Mahdi membuat kita tetap punya semangat. Keseimbangan antara rasa takut dan harapan inilah yang menjadi rahasia di balik bahasa simbolis dalam hadis-hadis ini.

Ini juga menjelaskan kenapa beberapa riwayat menyebut lokasi yang berbeda ketika membahas tempat munculnya Dajjal. Ada yang menunjuk Khurasan. Riwayat lain menunjuk antara Irak dan Syam. Dan ada juga yang menyebut orang Yahudi dari Isfahan. Kenapa? Karena Rasulullah bersabda bahwa sebelum datangnya Hari Kiamat akan ada hampir 30 Dajjal. Jadi, bukan hanya ada satu pemimpin kerusakan. Ada banyak. Artinya, kita tidak harus menggabungkan semua tanda Dajjal menjadi satu orang saja. Satu hadis bisa saja sedang menggambarkan karakteristik salah satu Dajjal, sementara riwayat lain sedang membicarakan Dajjal yang berbeda.

Dan lagi-lagi, kalau kita melihat kembali abad terakhir, sistem anti-agama yang tadi kita bahas bekerja seperti gurita raksasa. Kepala dan otaknya berada di Rusia, sementara tentakelnya menjangkau negara-negara Muslim di sekitarnya. Negara-negara seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Azerbaijan mengalami tekanan yang berat. Masjid-masjid ditutup secara paksa. Pakaian Islami dibatasi. Para ulama ditangkap, diasingkan, atau dieksekusi secara sistematis. Padahal mayoritas besar penduduknya adalah Muslim. Azan bahkan dilarang sepenuhnya, dan masyarakat harus belajar agama sembunyi-sembunyi. Sekarang, coba sejenak ingat kembali semua petunjuk yang sudah kita bahas tadi.

Ilusi tentang surga dan neraka duniawi. Serangan terhadap iman. Kehancuran spiritual yang terjadi dalam waktu singkat, dan sebagainya. Sekarang pikirkan. Satu individu bisa meracuni pikiran jutaan orang. Generasi baru tumbuh dengan menerima pelajaran sains sebagai propaganda ateisme. Dalam dunia seperti itu, apakah semua bisa dihentikan hanya dengan menghilangkan satu orang? Menurutku tidak. Yang jauh lebih penting daripada Dajjal itu sendiri adalah Dajjalisme, yaitu ideologi yang ditinggalkannya. Sosok Dajjal itu sendiri bisa saja mati karena virus sederhana atau penyakit biasa. Namun, bagaimana cara menghapus ideologi yang mendunia, lalu meyakinkan jutaan orang agar menerima kebenaran?

Tugas berat inilah yang bisa jadi alasan kembalinya seorang nabi besar. Jadi, saat hadis menyebut Nabi Isa AS akan menghancurkan Dajjal, kita tidak bisa menganggapnya sekadar duel antara dua orang. Sebaliknya, ini adalah benturan antara dua gagasan besar. Nabi Isa AS bersama orang-orang beriman akan membawa "pedang berlian Al-Qur'an" dan menghancurkan seluruh ideologi Dajjalisme. Insyaallah, mereka akan mengubur ideologi tersebut sedemikian rupa hingga ia tidak akan bisa hidup kembali. Dengan logika ini, agar perkataan hadis menjadi benar, Dajjal dan Nabi Isa AS tidak harus hidup di periode yang sama.

Mungkin sekarang kamu berpikir, "Tidak adakah yang benar-benar literal dalam hadis tentang akhir zaman? Tentu ada. Misalnya, terbitnya matahari dari barat. Ini akan terjadi persis seperti yang kamu pahami. Dan karena benar-benar literal, pintu tobat akan ditutup begitu hal itu terjadi. Ujian untuk beriman atau tidak didasarkan pada kehendak bebas. Tapi peristiwa ini mustahil untuk diabaikan sampai konsep tentang pilihan itu sendiri menjadi hilang. Ibarat tulisan ‘La ilaha illallah’ yang tertulis di langit dengan bintang-bintang, dan bisa dilihat oleh seluruh dunia dalam waktu yang lama. Pada saat itu, kamu tidak lagi punya pilihan untuk sekadar percaya atau tidak.

Seperti Fir'aun yang mencoba beriman di detik terakhir saat tenggelam di laut. Keimanan pada saat itu tidak lagi berguna. Tulisan "kafir" di dahi Dajjal yang bisa dibaca bahkan oleh orang yang tidak bisa membaca... Ya'juj dan Ma'juj... Kemunculan Dabbatul Ardh dan bagaimana ia mengungkap keimanan sejati setiap orang. Jawaban logis untuk pertanyaan itu, dan banyak hadis menarik lainnya, dijelaskan dalam kumpulan Risalah Nur. Kalau kamu ingin mendalaminya langsung dari sumber aslinya, kamu bisa mengunduh aplikasi My Risale. Aplikasinya gratis dan tanpa iklan. Kami menunggumu di sana. Saat ini, kita melihat orang-orang terbagi jadi dua kelompok ekstrem saat membahas hadis.

Kelompok pertama meragukannya dan berkata bahwa semua ini tak masuk akal. Akhirnya mereka menolak teks tersebut. Bahkan ada sebagian orang yang egonya lebih besar dari imannya sampai menolak seluruh kumpulan hadis. Kelompok kedua memahami hadis tersebut secara sangat literal. Dengan melakukan hal itu, mereka justru membuat pendengarnya makin bingung. Tentu saja, para penentang Islam senang menyoroti riwayat-riwayat ini karena alasan tersebut. Tapi kenyataannya, kurang dari 2% hadis Rasulullah dianggap sulit untuk dipahami. Selebihnya jelas, memberi panduan yang kuat dan hikmah untuk berbagai aspek kehidupan. Tahukah apa yang benar-benar luar biasa?

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada orang lain yang memberikan pelajaran tentang hampir setiap aspek kehidupan seperti Rasulullah SAW. Biasanya, saat seseorang menjadi tokoh besar dalam sejarah, dia hanya dikenal dalam satu bidang, seperti hukum. Tapi di bidang lain, dia belum tentu punya wawasan yang luar biasa. Tak banyak yang bisa diajarkan. Namun, saat membaca kitab hadis, kita menemukan banyak pelajaran dalam banyak bidang. Misalnya hukum, perdagangan, ekonomi, kehidupan keluarga, cara membesarkan anak, hubungan dengan keluarga dan tetangga, kebersihan dan kesehatan, moral, perkembangan spiritual, sampai bagaimana mengendalikan nafsu. Bahkan kecintaan terhadap hewan juga dibahas.

Dan kalau kamu benar-benar membaca kitab-kitab hadis, kamu akan menemukan jauh lebih banyak topik daripada itu. Jadi hanya karena kita belum mampu memahami kedalaman suatu hal memotongnya begitu saja dan menolaknya bukanlah sikap yang rasional. Apalagi kalau kita melihat betapa hati-hati dan terpercaya hadis-hadis ini dipelihara selama berabad-abad. Bahkan, hadis melalui proses verifikasi berlapis yang belum ada tandingannya dalam sejarah. Hadis tidak dianggap sahih sebelum melewati tingkat pemeriksaan ketat ini. 1. Rantai periwayatan yang bersambung: Kita harus mengetahui setiap perawi, dalam rantai tersebut, siapa yang meriwayatkannya dari siapa, hingga sampai kepada Rasulullah SAW. 2.

Kejujuran para perawi ('Adalah): Setiap orang dalam rantai tersebut harus dikenal karena kejujurannya, rasa takut pada Allah, dan iman yang teguh, tanpa pernah memiliki riwayat berbohong atau berperilaku buruk. 3. Ingatan yang sempurna (Dhabt): Mereka harus punya ingatan yang kuat atau catatan tertulis yang akurat agar tak lupa atau keliru. 4. Tidak kontradiktif (Syadz): Riwayat tidak boleh bertentangan dengan riwayat dari perawi yang lebih tepercaya atau dikenal. 5. Tidak boleh ada cacat tersembunyi, atau 'Illat. Teks maupun sanad harus bebas dari cacat tersembunyi yang hanya bisa ditemukan oleh para ahli ilmu hadis yang sangat mendalam. Dalam sejarah ada lebih dari 20.000 perawi hadis.

Dan ada catatan yang sangat banyak tentang kehidupan mereka, karakter moral dan kemampuan hafalan. Hampir setiap detail dicatat untuk memastikan kebenaran perkataan mereka. Sejarah jarang menyaksikan sesuatu seperti ini. Pada akhirnya, riwayat-riwayat yang palsu disaring dan disingkirkan. Coba kita gambarkan seperti ini. Kalau Alkitab, yang diterima oleh sekitar 2 miliar umat Kristen, diperiksa menggunakan standar ketat ilmu hadis, Alkitab tidak akan lulus. Sistem tersebut sudah dibangun dengan sangat kuat sejak awal. Selain ratusan orang yang menghafal hadis, ada 52 sahabat yang secara aktif menuliskannya pada masa Rasulullah masih hidup.

Contoh terkenalnya adalah Shahifah As-Sadiqah, kumpulan yang berisi hampir 1.000 hadis yang ditulis langsung oleh sahabat Abdullah bin Amr. Antara tahun 50 sampai 150 Hijriah, 400 ahli ilmu yang berbeda berfokus menghafal dan mencatat riwayat-riwayat ini. Tapi lebih dari itu, bukti terbesar kita adalah karakter para sahabat. Kita menerima perkataan-perkataan ini dari orang-orang yang mengabdikan hidup mereka kepada Allah dan mengorbankan segalanya untuk Rasulullah. Mereka adalah fondasi dari seluruh sistem ini. Mereka tak punya alasan untuk berbohong.

Bahkan, mereka hidup di bawah ancaman berat dari hadis yang sangat terkenal ini: "Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya di neraka." Dengan peringatan yang begitu mengerikan, mereka tentu sangat berhati-hati dengan setiap kata yang mereka sampaikan. Tapi di sini kita perlu menjelaskan satu hal yang sangat penting. Hadis dikatakan dhaif, itu berarti hadis tersebut lemah jika dibandingkan dengan standar sempurna sebuah hadis sahih. Bahkan, lebih bisa dipercaya dibandingkan hampir semua teks yang ditulis sebelum adanya mesin cetak. Nilai sejarahnya tetap sangat kuat. Coba kita ambil contoh hadis terkenal tentang Istanbul.

"Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya." Hadis ini dikategorikan lemah, tapi sejarah mencatat tentang penaklukan itu. Dan status lemah itu tidak mengubah kekuatan nilai sejarahnya. Selama kita tidak sedang membahas pokok keimanan Islam atau menetapkan hukum agama secara ketat, tak ada alasan meremehkan hadis hanya karena statusnya dhaif. Sekarang, kalau kita melihat keseluruhan kecenderungan untuk menolak hadis, kita harus mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana. Kalau kamu menolak hadis, apa yang kamu dapatkan? Tidak ada. Tapi kalau hadis yang kamu tolak ternyata benar, tanggung jawabnya sangat berat.

Selain itu, coba pikirkan akhirat. Bukankah kamu akan merasa sangat malu kalau harus bertemu Rasulullah SAW? Apa yang akan kamu katakan? "Ya, engkau memang sudah mengorbankan seluruh hidupmu untuk kami. Kau pernah dilempari batu, dihina, dan difitnah. Kau berkali-kali menghadapi kematian dan menjalani kondisi yang sangat berat. Tapi jujur saja, perkataanmu sebenarnya tidak terlalu penting bagiku." Bisakah kamu mengatakan itu? Bagaimana bisa kamu menuduh ratusan sahabat sebagai pembohong? Kita tak bisa asal bicara tanpa paham beratnya klaim kita itu.

Dan akhirnya, mari kita tutup dengan sabda Rasulullah SAW sendiri: "Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian bersandar di dipannya lalu datang padanya perintah atau laranganku, lantas ia berkata: 'Kami tidak tahu, apa yang kami dapati dalam Kitabullah (Al-Qur'an) maka itulah yang kami ikuti'.