Towards Eternity
Kembali ke blog

Tips Pernikahan Terbaik yang Wajib Kamu Tahu – Temukan Pasangan Hidupmu!

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Perlukah jatuh cinta untuk menikah? Bagaimana kita tahu siapa orang yang tepat untuk kita? Pertama, pahami diri Anda sendiri. Selalu kita sampaikan pada orang-orang, "Maukah Anda menikahi diri Anda sendiri?" Itu pertanyaannya. Saya mencintai seseorang dan kami berniat untuk menikah. Tetapi dia punya beberapa kebiasaan buruk. Apakah dia akan menjadi lebih baik setelah menikah? Jika seseorang punya riwayat kebiasaan buruk, pernikahan tidak akan memperbaiki orang seperti itu. Ini bukan seperti sakelar di mana Anda, Anda menikah, MasyaAllah, Anda menjadi saleh. Apa pertanyaan paling menarik dan aneh yang pernah Anda terima tentang kencan atau pernikahan? Saya pikir, wow!

+ Assalamu'alaikum, Syeikh Yasir Birjah. Terima kasih telah menerima undangan kami. Kami sangat senang Anda hadir bersama kami. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang pernikahan hari ini. - Tentu saja. + Semoga pertanyaan-pertanyaan kami cukup menantang untuk Anda. - Bismillah, saya tidak sabar. Tanyakan saja. + Baiklah, jadi berpacaran itu dilarang dalam Islam. Kita tahu itu, oke, tetapi umumnya orang bertanya Saya rasa saya tidak dapat menemukan orang yang cocok dengan cara lain. Lagipula, siapa yang bisa menjamin seseorang yang dikenalkan pada saya oleh orang lain akan benar-benar jadi orang paling cocok yang dapat saya temukan?

- Menurut saya, sebenarnya ada salah satu kesalahpahaman terbesar tentang berpacaran, bahwa berpacaran akan menghasilkan pilihan yang berhasil dan pernikahan yang berhasil. Di sini, di Amerika, setidaknya di Amerika, orang-orang sekarang mendefinisikan pacaran sebagai latihan untuk perceraian. Karena mereka menyadari bahwa pacaran tidak selalu menjamin Anda akan memilih seseorang yang akan bertahan untuk Anda dan bersama Anda dalam hubungan itu. Hal ini benar-benar jadi sebuah industri. Hal ini lebih menghasilkan uang daripada hal lainnya. Jadi, ada banyak situs tentang kencan dan budaya kencan dan semacamnya.

Banyak promosi untuk itu, tetapi itu tidak serta merta menjamin Anda akan menemukan seseorang yang cocok untuk Anda nikahi. Kalau tidak, jika berpacaran berhasil di Amerika, mengapa kita masih kesulitan menikahkan orang dan menjaga pernikahan mereka? Karena tingkat pernikahan di sana sangat rendah dan tingkat perceraian sangat tinggi. Jadi berpacaran itu sendiri belum tentu menjamin Anda akan menemukan orang yang tepat. Jadi, apa cara yang tepat untuk menemukan seseorang? Terus terang, tidak peduli seberapa keras kita mencoba, cara terbaik adalah dari mulut ke mulut.

Orang-orang biasanya kenal seseorang, yang kenal orang lain, yang bisa memperkenalkan mereka, dan mereka pun bisa saling terhubung. Kemudian setelah mereka mengenal seseorang, maka mereka mulai, tentu saja, melakukan wawancara resmi, berbicara langsung, mengobrol, dan seterusnya. Dan akhirnya, semoga dengan melakukan itu, Anda akan dapat menemukan orang yang cocok untuk Anda nikahi. + Apa pertanyaan paling menarik dan aneh yang pernah Anda terima tentang kencan atau pernikahan? - Saya pikir, wow! Ada banyak hal yang dicari orang. Salah satu hal paling ikonik yang ditanyakan adalah mereka mencari orang yang sempurna.

Jadi saat mereka datang pada saya, mereka berkata, "Bisakah Anda membantu menemukan seseorang untuk saya?" Saya bilang, "Tentu." Jadi salah satu lelucon untuk orang-orang itu adalah, saat mereka datang pada saya dan bertanya "Bisakah Anda membantu menemukan istri atau perempuan?" Saya bilang, "Seperti apa yang Anda cari?" Jadi orang ini memberi saya daftar kriteria yang panjang. Mereka bilang, "Yang paling cantik, religius, dia ini, dia itu." Mereka memberi daftar tuntutan yang sempurna. Lalu dia bertanya pada saya, "Apa pendapat Anda tentang ini?" "Ini luar biasa. Jika Anda menemukan seseorang seperti ini, beri tahu saya.

Saya ingin menikahinya, karena menurut saya mereka tidak ada dalam kenyataan." Tidak ada yang sempurna. Anda mungkin menemukan seseorang yang keluarganya luar biasa, namun sayangnya sebagai individu mungkin bukan pasangan yang tepat untuk Anda. Anda mungkin menemukan seseorang yang MasyaAllah dalam hal akhlak dan sopan santunnya mengagumkan. Namun dalam hal pendidikan, status sosial ekonominya, mungkin bukan yang terbaik untuk Anda. Jadi tidak ada yang sempurna. Jadi, sayangnya, orang-orang mengejar ilusi. Persepsi mereka tentang hal itu, jika saya menemukan orang yang sempurna, belahan jiwa, hidup saya akan sempurna, akan menakjubkan. Namun, itu tidak benar.

Allah SWT dalam Al-Qur'an berfirman, لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡ كَبَدٍؕ‏ ٤ "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." yang berarti Anda akan selalu diuji dan dicoba dan berjuang. Dan pernikahan yang direncanakan seharusnya juga menjadi bagian dari ujian. Sekarang bagaimana membuatnya indah atau sebaliknya, itu tugas Anda. Jadi ya, saat mereka bertanya, mereka mengajukan pertanyaan yang tidak realistis, dan mereka mengajukan tuntutan yang tidak realistis tentang orang yang ingin mereka nikahi. Dengar, orang-orang bertanya, Biasanya mereka mencari apa yang saya sebut... Contoh yang sempurna, atau bisa dibilang contoh yang paling tepat.

Saya bilang, "Jangan mencari yang sempurna, carilah yang tepat." Bedanya adalah, kesempurnaan itu hal yang, yang abstrak, teoritis. Anda menemukannya di atas kertas dalam hal tingkat pendidikan mereka, usia mereka, visi mereka, kepribadian mereka. Semua ini indah di atas kertas. Namun, jika menyangkut hidup bersama dan kebersamaan, itu hal yang berbeda. Jadi, jangan mencari orang yang sempurna, carilah orang yang tepat. Karena orang yang tepat akan menjadi orang yang sempurna untuk Anda. + Jadi, bagaimana kita tahu siapa orang yang tepat untuk kita? - Pertama, pahami diri Anda sendiri. Selalu kita sampaikan pada orang-orang, maukah Anda menikahi diri Anda sendiri? Itu pertanyaannya.

+ Pertanyaan bagus - Artinya bayangkan diri Anda menjadi lawan jenis Anda, apakah Anda akan menikahi orang itu atau tidak? Jika Anda bilang tidak, maka kepercayaan diri Anda bermasalah. Anda tidak yakin dengan diri sendiri. Jadi, apa artinya itu? Saya tanya "Apa yang Anda cari?" Katanya, "Saya ingin yang religius." Saya tanya, "Seberapa religius yang Anda cari?" Apakah Anda akan menikahi seseorang yang kurang religius dari Anda, atau seseorang yang lebih religius? Mereka bilang, "Saya ingin seseorang yang lebih religius." Saya bertanya, "Kenapa?" "Saya ingin mereka bantu saya jadi Muslim yang lebih baik, jadi orang yang lebih baik." Ya kan?

Saya bilang, "Oke, jika Anda berada di level ini, dan Anda cari seseorang yang ada di atas Anda, orang yang berada di atas Anda ini, ke mana mereka akan mencari? Mereka pasti mencari di atas diri mereka. Sebagai hasilnya, Anda tidak akan pernah menikah karena selalu menunggu orang yang lebih tinggi derajatnya untuk menerima Anda. Jadi, apa yang harus kita katakan? Yang terbaik adalah cari seseorang yang ada di level yang sama. Seseorang yang ada di level yang sama dengan Anda, sehingga Anda dapat tumbuh bersama.

Jika Anda ingin menikahi seseorang yang berada di level ini, maka, kembangkan diri dulu hingga Anda berada di sini, sehingga Anda dapat menarik seseorang yang berada di level yang sama. Itu juga berlaku untuk, misalnya, pendidikan, status sosial ekonomi keluarga dan dirimu sendiri, dan seterusnya. Carilah seseorang yang bisa Anda ajak bicara di level yang sama. Orang itu akan menjadi orang yang tepat untuk Anda. Karena semakin banyak kecocokan di area ini, semakin baik untuk kalian. Sehingga hanya ada sedikit masalah terkait ekspektasi Anda karena sedikitnya perbedaan. + Perlukah jatuh cinta untuk menikah? - Tergantung bagaimana Anda mendefinisikan cinta.

Jika Anda mendefinisikan cinta seperti di TV, saya katakan, bahkan mereka yang disebut aktor dan aktris, mereka menginginkan kehidupan cinta mereka di kehidupan nyata sesempurna di TV. Namun banyak dari selebritas ini di Amerika, misalnya, sayangnya, mereka menikah dan bercerai, mereka menikah dan bercerai. Terkadang mereka bahkan tidak benar-benar menikah sama sekali, dan itu seperti... Jadi meskipun mereka mungkin memberi kalian kisah cinta yang paling sempurna di TV, namun kehidupan nyata mereka sayangnya tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan. Jadi, apa artinya mengatakan cinta? Saya percaya cinta pasti merupakan salah satu elemen penting dari keberhasilan dalam hubungan.

Namun, itu bukan satu-satunya hal. Dan juga cinta... Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum, وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنۡ خَلَقَ لَكُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِكُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡكُنُوۡۤا اِلَيۡهَا "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri..." Mengapa? "agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya..." "dan Dia menjadikan diantaramu..." مَّوَدَّةً وَّرَحۡمَةً ؕ "...rasa kasih dan sayang." rasa iba dan belas kasihan.

اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ‏ ٢١ "Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." Di sini Allah SWT mengatakan pada kita, "Aku menjamin kedamaian dan ketenangan bagimu," yang merupakan hal yang dicari setiap orang dalam suatu hubungan. Jika kamu membawa cinta dan kasih, jika kamu hidup bersama dalam cinta dan kasih." Jadi cinta adalah unsur dari hubungan yang sukses. Tapi apa sebenarnya artinya? Itulah inti persoalannya. Jika Anda bertanya pada orang-orang, tidak ada satu definisi pun tentang cinta. Cinta adalah spektrum dan cinta berubah dalam hubungan.

Terkadang Anda mencintai seseorang karena alasan tertentu, lalu hal itu memudar dan hal-hal baru muncul dalam hubungan. Sekarang Anda punya anak, jadi Anda mencintai mereka karena menjadi orang tua, misalnya, dan seterusnya. Sayangnya, banyak orang menganggap cinta sebagai nilai sentimental, artinya sesuatu yang ada di hati. Dan jika saya memilikinya, kita bisa hidup bersama. Jika tidak, berarti hilang. Jadi hubungannya harus berakhir. Itu tidak benar. Karena banyak hubungan, tidak berjalan atas dasar cinta. Mereka berjalan atas dasar kasih sayang . Suatu kali seorang pria datang kepada Umar bin Khattab RA dan bertanya padanya.

Ia bilang, "Aku rasa aku tidak lagi mencintai istriku." فقال وهل كل البيوت تبنى على المحبة "Menurutmu, apakah semua rumah tangga bertahan hidup atas dasar cinta? Apakah semuanya dibangun atas dasar cinta?" Ya, terkadang kita tidak selalu memiliki gairah yang besar terhadap satu sama lain, tapi kita bersama karena kita masih saling menghormati. Kita masih memiliki rasa iba terhadap satu sama lain. Ada nilai-nilai lain. dan itulah sebabnya orang menikah dengan alasan yang berbeda-beda, tentu saja. Dan terkadang Anda menikahi seseorang tanpa menyadari atau mengetahui Anda akan mencintai orang tersebut.

Namun Subhanallah, karena akhlak dan sopan santun mereka, Anda langsung jatuh cinta kepada mereka. + Seseorang berkata, ada calon yang ingin saya nikahi. Dia memenuhi beberapa kriteria saya, tapi tidak memenuhi kriteria lainnya. Setengah dari diri saya merasa, jika saya menyerah, saya mungkin akan menyesalinya nanti. Di sisi lain saya berpikir, jika saya terus maju dan menikahinya, saya mungkin akan menyesalinya di masa mendatang. Saya berada di antaranya. untuk memutuskan menikahi orang itu, berapa persen dari kriteria yang harus dipenuhi? - Wow, itu sulit. Karena sebenarnya, tidak ada persentase. Tapi seperti yang saya katakan, itu benar-benar tergantung pada keadaan.

Apa yang Anda cari dari seorang pasangan? Anda tahu... Kita pelajari dari hadis Nabi SAW, saat Nabi SAW kembali dari sebuah perjalanan, dan kemudian dia melihat Jabir bin Abdillah RA, dia sedang terburu-buru untuk kembali ke Madinah. Dan Nabi SAW bercanda dengannya. "Untuk apa terburu-buru? Kenapa terburu-buru?" Dia berkata, "Ya Rasulullah, sebelum aku pergi bersamamu, aku menikah. Jadi saya ingin kembali lagi pada istriku." "Aku tidak punya cukup waktu untuk bersamanya.

Jadi saya ingin segera menemui istriku." Maka Nabi SAW berkata kepadanya, "Apakah kamu menikah dengan seseorang yang masih muda, seperti dirimu atau seseorang yang pernah menikah sebelumnya?" Dia berkata, "Tidak, aku menikah dengan seseorang yang pernah menikah sebelumnya." Dan Nabi SAW berkata, "Mengapa bukan orang muda seperti dirimu?" Karena, "Ya Rasulullah, saat ayahku meninggal, ia meninggalkan tujuh adik perempuan, saya laki-laki satu-satunya. Jadi saya butuh seseorang untuk membantuku mengurus adik-adik perempuanku. Aku tidak ingin membawa seorang lagi yang harus kuurus juga." Maka Nabi SAW menyetujui pilihannya dan berdoa untuknya. Apa maksudnya?

Dalam konteks pilihan terbaik bagi Jabir, adalah seseorang seusianya, memiliki pengalaman dalam hidup untuk tumbuh bersama. Namun, keadaannya mengharuskan dia untuk menikah dengan seseorang yang berpengalaman, yang juga dapat membantu mengurus adik-adiknya. Itu pilihan yang tepat untuknya, ya kan? Sekarang, katakanlah 50%, 30%, 20%, saya tidak dapat menyebutkannya. Karena masing-masing memiliki keadaan yang unik. Bagi sebagian orang, alasannya adalah keuangan, bagi yang lain, mungkin keluarga, budaya, ya kan? Semuanya sempurna kecuali bahwa dia bukan dari budaya saya. Dia berasal dari budaya yang berbeda. Itu mungkin masalah besar bagi mereka, ya kan?

Meskipun itu hanya 10% dari seluruh kriteria. Tetapi 10% itu lebih berarti bagi mereka daripada 90% -nya secara keseluruhan. + Jadi pertemuan pertama sudah dilalui, tapi saya tidak yakin bagaimana perasaan saya padanya. Haruskah saya jatuh cinta pada pandangan pertama? Saya tidak merasa negatif, tetapi saya tidak bisa mengatakan itu pasti positif. Apa yang harus saya lakukan? - Ini adalah salah satu masalah terbesar yang kita hadapi saat ini dan generasi kita, di antara orang-orang muda. Dan sejujurnya, alasan utamanya adalah karena generasi kita saat ini, mereka menghadapi sesuatu yang tidak tersedia untuk generasi sebelumnya. Itulah yang disebut budaya berkelimpahan.

Artinya, keragamannya ada di mana-mana, dan semakin banyak pilihan yang Anda miliki, semakin kecil kemungkinan Anda akan puas dengan pilihan tersebut. Jadi, mereka jadi bingung. Mereka melihat terlalu banyak, mereka terlalu banyak bicara dengan orang lain. Dan lagi, pola pikir perjudian itu mulai muncul. Mungkin saya harus menunggu sedikit lebih lama. Mungkin yang berikutnya akan sempurna. Mungkin ini, mungkin itu. Jadi, semakin banyak yang Anda lihat, semakin kecil kemungkinan Anda akan merasa puas. Dan semakin kecil kemungkinan Anda akan membuat keputusan. Jadi, saya terus bertanya pada yang lebih muda, "Dengar, ini bukan tentang jatuh cinta pada mereka.

Ini tentang mencapai yang disebut 'zona nyaman' dengan mereka." Apa maksudnya? Saya bicara dengannya, saya bicara dengannya, dan saya merasa nyaman dengan mereka. Apakah Anda mencintainya? Saya tidak tahu apakah saya benar-benar mencintainya, tetapi... Maksudku, ini masih dalam proses. Saya belum tahu banyak, tapi mungkin dalam hubungan, segalanya akan membaik, ya kan? Jadi, ya, ini bukan tentang jatuh cinta padanya. Sungguh jatuh cinta padanya. Ini tentang berpikir, tentang merasa nyaman dengannya. Dan juga merasa nyaman suatu hari nanti bahwa dia akan menjadi ibu dari anak-anakku, misalnya. Atau dia adalah suami, ayah dari anak-anak saya, misalnya.

Jika Anda mencapai zona nyaman itu, saya sarankan Anda melanjutkannya. + Prinsip apa yang harus diikuti dalam pertemuan pranikah, wawancara dengan calon pasangan? - Jadi, saat seorang pemuda, wanita muda, ingin bertemu, mereka ingin mengeksplorasi hubungan untuk pernikahan. Apa yang harus mereka cari? Jelas ada dua, dua lingkaran. Kualitas inti dan kualitas sampingan, atau kualitas pendukung. Jadi, kualitas inti ini disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW. Anda perlu mencari agama dan akhlaknya.

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridai agamanya, hubungannya dengan Allah Sang Pencipta, dan akhlak, hubungannya dengan ciptaan-Nya, yang berarti adat dan etikanya. Jadi, ini adalah dua hal yang penting. Jelas itu adalah kualitas inti. Dan terkadang belakangan ini, adalah sebuah spektrum, sungguh. Bahkan dalam hal religiusitas. Seperti yang kami katakan, Anda tidak mencari seseorang yang jauh di atasmu. Carilah seseorang yang berada di sekitar level Anda dan tumbuh bersama. Dalam hal kualitas lainnya, Anda akan melihat, tentu saja, faktor usia, faktor kecantikan, faktor ras, faktor pekerjaan, faktor pendidikan.

Semua hal ini adalah preferensi. Orang-orang, mereka menempatkannya dalam prioritas tertentu. Bagi sebagian orang, hal itu sangat penting. Bagi sebagian orang lain, hal itu tidak terlalu penting. Namun, dua hal terpenting yang perlu Anda upayakan dan gali adalah agama dan akhlak. Itulah hal pertama. Hal kedua, yang perlu diperhatikan orang agar memiliki kecocokan, Anda harus menemukan kecocokan dalam hal kepribadian. Jadi, apakah Anda seorang introvert atau ekstrovert? Apakah Anda suka berada di sekitar orang atau tidak? Apakah Anda aktif? Apakah Anda memiliki gaya hidup aktif, atau Anda hanya suka tinggal di rumah dan membaca buku, misalnya. Pelajari aspek kepribadiannya.

Juga mulailah menjelajahi visinya. Maksudnya, bagaimana menurut Anda pernikahan itu? Bagaimana Anda melihat peran Anda sebagai seorang suami, sebagai seorang istri? Apa peran Anda di masa depan? Misalnya, Anda punya anak. Anda perlu tahu apa rencananya. Apakah kita sepaham atau kita mengambil rute yang berbeda di masa depan? Tanyakan kepada mereka tentang, mungkin dalam hal pengelolaan uang mereka, apa tujuan keuangan mereka, misalnya, dalam hubungan tersebut? Apakah mereka percaya pada penganggaran, atau apakah mereka ingin menghabiskan uang sebanyak yang mereka inginkan, dan seterusnya.

Pada dasarnya cobalah untuk mengetahui apa pun yang Anda bisa tentang visi mereka, kepribadian mereka, tata krama mereka, akhlak mereka, bagaimana mereka menghadapi kesulitan dan rintangan dan masalah kemarahan dan sebagainya. Semoga Anda menemukan jawaban yang menyenangkan bagi Anda. + Lalu bagaimana dengan aturan yang harus diikuti dalam wawancara? Misalnya, jangan berduaan saja. Perilaku kita harus seperti apa. - Tentu saja, dalam pandangan Islam, Anda perlu menjaga keberkahan dalam hubunganmu sejak awal. Beberapa anak muda, sayangnya melanggar beberapa aturan ini di antara lawan jenis. Jadi, mereka pergi keluar sendirian. Mereka bahkan berkencan dan menghabiskan malam bersama.

Semua hal ini tidak seharusnya terjadi di antara para pelamar, yang ingin menikah, sampai akad nikah mereka selesai. Sebenarnya, kontraknya sudah selesai. Jadi, apa yang harus Anda lakukan dalam kasus ini? Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan melibatkan keluarga sejak awal. Misalnya, saat seseorang tertarik, katakan, "Oke, bicaralah dengan keluarga saya." Sehingga keluarga dapat meminta mereka datang, bicara langsung dengan mereka dan seterusnya. Suatu saat, Alhamdulillah, mereka memiliki pemahaman bersama, lalu, dalam kasus ini mereka mulai bicara lewat telepon atau mungkin setidaknya berkirim pesan singkat untuk lebih mengenal satu sama lain.

Jika mereka ingin bertemu di luar, mereka harus meminta pihak ketiga dari pihak keluarga untuk menemani mereka, jika memungkinkan, tentu saja. Sebisa mungkin hindari hanya berduaan sampai akad nikah mereka selesai. Sekarang pertanyaanya, berapa lama waktu dibutuhkan untuk membuat keputusan? sebelum mereka mulai yakin, "Oke, dialah gadisnya atau dialah prianya." Ini sangat menarik karena orang berpikir Anda butuh waktu lama untuk memutuskan. Namun secara statistik, hanya butuh sepersekian detik untuk memutuskan. Apa maksudnya?

Saat Anda melihat orang itu, di dalam hati Anda, Anda merasakan, "Kau tahu, dialah gadis itu atau dialah pria itu." Atau Anda mungkin berkata dari dalam hatimu tidak senang dengan hal itu. Lalu apa yang Anda lakukan selanjutnya? Anda menghabiskan berjam-jam dalam apa yang disebut 'pembenaran mental'. Saat ini Anda mulai bertanya, dan hati serta pikiran Anda berfokus pada alasan mengapa hati Anda memberi sinyal bahwa itu ide yang buruk atau itu ide yang bagus. Saya bercanda dengan orang-orang.

Saya katakan, "Saat Anda pergi dan membeli sesuatu di toko, kamu membeli karena dorongan emosional atau dorongan rasional?" Semua orang berkata, "Ya, rasional, karena saya butuh ini." Saya bilang, "Tidak, tidak, tidak, tidak. Mengapa Anda memilih ini, bukan yang ini? Bahkan tomat. Mengapa Anda memilih ini, bukan itu? Karena Anda menyukainya terlebih dahulu." Jadi, kita selalu membuat keputusan berdasarkan dorongan emosional. Saya menyukainya, lalu saya menghabiskan sisa waktu untuk meyakinkan diri sendiri. Itulah sebabnya di sini, saat Anda membeli sesuatu, Anda simpan struk pembeliannya. Karena jika Anda berubah pikiran, Anda bisa kembali lagi.

Karena itu adalah ide yang bagus saat Anda memilihnya pertama kali karena Anda menyukainya. Namun kemudian saat Anda bicara kepada diri sendiri tentang hal itu, Anda menyadari itu terlalu mahal, saya rasa saya tidak membutuhkannya, dan kemudian Anda mengembalikannya. Hal yang sama, sayangnya juga terjadi pada hubungan. Anda melihat seseorang, hati Anda terpaku pada sebuah keputusan. Sekarang, Anda berusaha meyakinkan diri sendiri dengan berbagai alasan. Jadi ya, tidak masalah jika Anda bicara sepuluh kali atau 20 kali atau 100 kali atau bertemu 1000 kali sebelum Anda mulai membuat keputusan.

Faktanya, terlalu sering melihat dan bertemu terlalu banyak orang secara statistik justru akan menyebabkan prospek keberhasilan Anda menurun. Karena semakin banyak yang Anda lihat, semakin Anda bingung. Dan Anda mulai terjun ke permainan judi ini. Seolah-olah Anda mulai berpikir, "Dia hampir sempurna, dia hampir sempurna. Mungkin sekali lagi, mungkin saya harus menemui orang lain. Mungkin ini, mungkin itu." Dan kita mengalami apa yang disebut kelumpuhan analisis atau kelumpuhan keputusan. + Oh begitu ya - Semakin banyak pilihan Anda, semakin kecil kemungkinan Anda akan membuat keputusan yang benar atau baik.

+ Jadi bagaimana jika emosi Anda mengatakan ya, tetapi penalaran Anda mengatakan tidak? Atau sebaliknya? - Itu membawa kita ke poin yang telah kita sebutkan, mungkin. Sebenarnya ini membawa kita ke hal penting yang perlu dipahami. Yaitu saat seseorang, saat seseorang ingin memilih pasangan, Anda memilih orang yang tepat, bukan orang terbaik atau orang yang sempurna. Jadi apa artinya itu? Jika hati Anda berkata dialah pria itu atau dialah wanita itu, tetapi keadaan mengatakan itu bukan ide yang bagus, karena, lihatlah, Anda tidak punya pekerjaan atau Anda akan mengalami masa sulit mengajukan visanya atau ini atau itu. Orang-orang punya keadaan khusus. Bukan hanya karena saya merasa ingin.

Saya mencintai orang ini. Haruslah sesuai dengan keadaan Anda. Jadi, jika hati Anda mengatakan dialah pria itu, dan dialah gadis itu, tetapi semua alasan yang Anda miliki mengatakan itu bukan ide yang bagus. Coba dengarkan pikiran Anda karena itu mungkin bukan ide yang bagus. Ya, Anda mungkin merasa mencintainya, tapi tidak sesuai dengan keadaan Anda. Jadi, apa yang perlu saya lakukan? Anda perlu mengubah keadaan dengan cara Anda agar hubungan ini dapat terus berlanjut. Jika pikiran mengatakan itu adalah ide yang bagus, tapi hati Anda tidak ada di sana, haruskah saya lakukan ini? Sekarang kembali lagi ke prinsip yang sama.

Jika situasinya tepat, peluang hubungan ini untuk menjadi baik lebih tinggi. Tetapi saya tidak mencintainya, saya tidak mencintainya. Baiklah, tapi setidaknya, apakah menurut Anda dia sesuai? Apakah menurut Anda dia sesuai? Apakah Anda sungguh bisa menerima orang itu dengan ikhlas? Jika Anda merasa seperti itu, semoga keadaan yang tepat akan menumbuhkan api cinta itu untuk Anda. Pada dasarnya itulah intinya. Semuanya tentang keadaan yang tepat. + Keluarga saya tidak menginginkan orang yang ingin saya nikahi, tetapi saya merasa terikat dengan calon pasangan saya. Kurasa kami akan bahagia, tetapi saya tidak ingin menentang siapa pun. Apa yang harus saya lakukan?

+ Menurut saya, menentang keluarga bukanlah ide yang bagus. Anda harus berusaha sebaik mungkin agar mereka menerima, atau setidaknya merasa tak masalah dengan hal itu. Karena orang-orang berpikir begitu Anda menikah, kalian akan hidup, Anda dan pasangan Anda, di surga selamanya. Akan tiba saatnya saat Anda akan mengalami kesulitan dan kesusahan, dan akan membutuhkan bantuan dan keterlibatan keluarga dalam hidup Anda. Jadi, itulah mengapa perlu mendapatkan restu keluarga saat Anda memutuskan melanjutkannya. Kecuali, tentu saja, jika kriteria keluarga saya jauh dari yang saya butuhkan. Misalnya, Alhamdulillah, saya seorang Muslim yang taat. Saya orang yang religius.

Saya ingin seseorang yang juga religius, seseorang yang cukup taat, setidaknya agar kita bisa tumbuh bersama dalam iman kita, dalam agama kita. Tapi keluarga saya, mereka tidak peduli tentang itu. Mereka menginginkan seseorang yang kaya raya, seseorang yang seperti ini, seseorang yang berasal dari keluarga kita, tradisi kita, budaya kita. Jadi ya, itu tergantung. Jika pilihan yang mereka tawarkan kepada Anda jauh dari daftar kriteria Anda, agama dan akhlak, yang berarti iman dan praktik, etiket dan tata krama mereka. Dalam hal itu, ya, saya harus tetap berpegang pada kriteria saya.

Dan saya akan berkata, "Lihat, dengar, kalian, jika kalian tidak akan membawakan seseorang yang memenuhi kriteria utama saya, saya harus membuat pilihan itu." Jadi, pada titik tertentu mereka harus membuat keputusan. Namun, menurut saya, bukanlah ide yang baik bagi orang-orang untuk menikah tanpa restu dari keluarga mereka. Itu akan menghilangkan berkah dari hubungan tersebut. + Saya mencintai seseorang dan kami bermaksud untuk menikah, namun dia memiliki beberapa kebiasaan buruk. Saya khawatir hal itu dapat menyebabkan masalah di masa mendatang, tetapi saya tidak dapat melihat solusi lain selain berdoa agar dia jadi lebih baik. Apakah dia akan jadi lebih baik setelah menikah?

- Sebenarnya, itu tergantung pada kebiasaan apa yang sedang kita bicarakan. Maksud saya, jika seseorang memiliki riwayat buruk kebiasaan buruk, pernikahan tidak memperbaiki seseorang seperti itu. Ini bukan seperti sakelar di mana Anda hanya, Anda menikah, MasyaAllah, Anda menjadi saleh. Anda meninggalkan pernikahan, Anda keluar dari kesalehan. Itu bukan pekerjaan seperti ini. Dan pernikahan tidak akan... Jika orang itu datang dan berjanji pada Anda, "Dengar, saya berjanji saya sudah selesai dengan ini." Seperti, katakanlah merokok, misalnya. Itu kebiasaan buruk, misalnya. Dia tidak suka seseorang yang merokok. Dan dia khawatir jika kami menikah, dia akan meneruskannya.

Dia sampaikan padanya, "Tidak, tidak, jangan khawatir. Saya sebenarnya berusaha sebaik mungkin. saya akan berhenti merokok atau vape dan ini dan itu dan seterusnya." Tetapi tidak ada jaminan. Karena di beberapa budaya, itu adalah hal yang bersifat budaya. Jadi mereka melakukannya di mana pun mereka pergi. Dan sulit baginya untuk berhenti jika di mana pun mereka pergi, mereka juga bergaul dengan budaya yang sama dan seterusnya. Jadi, saya sampaikan bahwa orang tidak akan berubah setelah menikah dengan menghentikan semua kebiasaan ini dan sebagainya. Namun, tidak ada jaminan orang yang baik sayangnya, mungkin tidak akan mengubah kebiasaan buruk setelah menikah juga.

Jadi, haruskah saya menerima orang itu atau tidak? Sekali lagi, itu tergantung pada kebiasaan seperti apa itu. Beberapa kebiasaan sangat adiktif dan hal-hal ini sangat sulit diubah. Beberapa di antaranya bisa jadi haram, dan maka saya akan sarankan jangan jika orang itu tidak berkomitmen pada Allah SWT. Secara individu, saya tidak tahu bagaimana komitmen mereka padamu setelah menikah. Meninggalkannya untuk Anda, misalnya. Jadi, itu tergantung pada kebiasaan apa dan seberapa besar keterlibatan orang tersebut dalam hal itu. + Namun, umumnya hasilnya buruk. Anda tahu, mereka biasanya tidak berhenti. Apakah itu... - Biasanya sulit bagi orang untuk menghentikan kebiasaan.

Mereka mengatakan sebenarnya kebiasaan tidak akan hilang. Kebiasaan hanya bisa diganti. Apa artinya itu? Jika Anda mempraktikkan kebiasaan buruk ini, misalnya, agar Anda terhindar dari melakukan hal ini Anda perlu melakukan sesuatu yang berbeda. Sering kali, beban kebiasaan baru mendorong kebiasaan lama ke bawah. Namun jika berhenti melakukan kebiasaan baru, kebiasaan buruk itu muncul lagi. Jadi, penting untuk mengetahui bahwa orang itu benar-benar berkomitmen pada perubahan itu, terlepas dari apakah mereka menikah dengan Anda atau tidak. + Jadi, bagaimana Syekh Yasir Birjah dulu menikah? Bisakah Anda memberi tahu kami tentang proses Anda? - Menarik karena itu terjadi 26 tahun lalu.

Alhamdulillahhirabbil'alamin. Dan sejujurnya, itu dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Maksudku, di masa lalu, itu sangat sederhana. Saya kerja di Eropa saat itu dan saya bilang pada Ibu saya, "Bu, saya harus kembali, dan mencari pasangan. Bisakah Ibu membantu? Bisakah Ibu carikan seseorang yang bisa Ibu rekomendasikan?" Ibu bilang, "Baiklah, InsyaAllah, saat kamu kembali, Ibu akan siapkan seseorang." Tidak, Ibu ada di Yordania. Jadi, sebenarnya saya ada di Eropa, saya ada di Bosnia, saya bekerja di sana. Saya mengatakan padanya saya harus kembali untuk menikah. Ibu bilang, "Saat kamu kembali, InsyaAllah, Ibu akan siapkan seseorang untukmu." Baiklah. Bismillah.

Jadi saat saya datang, ibu saya punya tiga calon. Subhanallah, kami bicara dengan mereka. dan Allah SWT berkehendak agar saya memilih istri saya yang sekarang, Alhamdulillah. Berapa lama waktu yang kami butuhkan? Sejujurnya, tidak butuh waktu lama untuk memutuskan. Hanya butuh antara 10 hingga 12 hari. Dalam waktu satu bulan kami menikah dan saya mengajukan visa dan kami terbang bersama ke Bosnia. Sekarang sudah 26 tahun dan empat anak. Alhamdulillah. + Jika Anda datang ke dunia ini 1000 kali lagi, apakah Anda lebih suka cara yang sama dengan cara Anda memilih istri Anda? - Tentu saja. Saya tidak akan mengubahnya, sungguh. Terus terang, karena itu cara termudah.

Itu cara yang paling sederhana, saya rasa. Anda tahu, banyak orang, mereka berpikir keberhasilan pernikahan didasarkan pada menikahi, Anda tahu... Anda harus mengenal orang tersebut sebelum Anda menikahinya. Yah, itu terbukti gagal karena kita tahu berpacaran itu sangat umum namun mengecewakan. Anda mengenal orang itu, bukan hanya pikiran dan ide-idenya, Dengan segala hormat, mereka bahkan tidur bersama, artinya tidak ada yang disembunyikan lagi. Dan itu tetap tidak menjamin keberhasilan hubungan. Jadi, saat... Dan itulah hal yang lucu, hal yang paradoks, sebenarnya, adalah saya mengenal banyak orang, mereka tidak ingin menikahi seseorang yang mereka kenal terlalu banyak.

Meskipun kita harus mengenal orang tersebut sebelum menikahinya, ya kan? Namun, mengetahui terlalu banyak terkadang menghalangi orang untuk menikahi mereka. Jadi, mereka lebih suka menikahi seseorang yang memiliki unsur kejutan dalam diri mereka. Seperti misalnya, di sini di Amerika, misalnya, MSA, sebuah Perhimpunan Mahasiswa Muslim, kaum muda di perguruan tinggi, misalnya... Mereka dekat untuk waktu yang sangat lama. Namun, jika menyangkut pernikahan, hanya sedikit yang menikah dengan orang dari kelompok yang sama.

Mereka mungkin lebih suka mencari seseorang di negara lain untuk dinikahi daripada menikahi seseorang dari kelompok yang sama tempat mereka menjadi relawan dan tempat mereka bekerja dan seterusnya. Saya tanya mereka, "Mengapa tidak?" Begitulah, kita tahu terlalu banyak tentang satu sama lain. Mereka terlalu dekat. Mereka menjadi terlalu dekat satu sama lain. Itu tidak lagi menarik untuk dinikahi. Jadi itu salah satu kesalahpahaman. Orang-orang berpikir Anda harus mengenal orang tersebut sebelum Anda menikahinya. Yah, Anda harus cukup tahu. Menurut saya, itu wajar. Seperti saya perlu tahu orang ini baik. Orang ini, Alhamdulillah, tingkat religiusitasnya wajar.

Akhlaknya MasyaAllah, reputasinya baik. Misalnya, saya hanya perlu cukup tahu. Namun, apakah ada jaminan orang ini akan sempurna dan sangat bersih seperti yang telah dikatakan kepada Anda? Kami tidak tahu. Maksud saya... Selalu ada unsur kejutan. Bisa jadi positif, bisa jadi negatif. Itu ujian kami. Semoga Allah memudahkan orang-orang yang menjalani ujian ini. + Kami melihat Anda punya beberapa video memasak. Apakah Yasir Birjah masuk ke dapur rumah? Apakah Anda punya hidangan istimewa yang tidak bisa dibuat istri Anda sebaik Anda? - Saya memang sering ke dapur. Saya suka memasak. Saya beri tahu, karena latar belakang saya sebagai orang teknik.

Saya rasa latar belakang teknik ini selalu mengarah ke hal ini. Karena memasak sebenarnya tentang teknik. Rempah-rempah dan rasa yang sempurna, ini dan itu. Jadi saya suka hal-hal itu. Jadi saya suka, sebenarnya. Sesekali saya ikut masak. Saya masuk ke dapur. Khususnya jika istri saya, misalnya, butuh bantuan, tidak bisa memasak hari itu, atau lelah atau sakit dan sebagainya. Jadi, saya suka melakukannya. Jika ada hidangan spesial yang membuat saya terkenal, jika saya bertanya pada anak-anak, mereka akan berkata, "Ayah jago membuat sup dan salad." Pada dasarnya, ini adalah spesialisasi saya.

Saya memasak yang lain, tentu saja, Tetapi mereka berkata, "Sup yang ayah buat sangat enak." Karena saya membuat berbagai macam sup. Saya selalu mencari resep online dan saya menambahkan bahan-bahan saya ke dalamnya, dan itu enak. Salad, juga sama. Saya mencari berbagai resep salad, membuat banyak variasi. Tentu saja, jika istri saya mulai memasak, jelas itu adalah yang terbaik dari semua yang saya lakukan. Tetapi saya punya keahlian sendiri di dapur. + Apa yang akan Anda sarankan pada putri Anda saat ia akan menikah? - Saya akan menasihatinya, seperti... Seperti apa sebenarnya pernikahan itu. Maksudku, dia harus mengerti pernikahan tidaklah semudah itu, tetapi dia dapat membuatnya indah.

Menurut saya, pernikahan lebih seperti potret, gambar, citra. Dan Anda adalah senimannya. Dan dua seniman menggunakan warna yang sama, tetapi mereka harus berkoordinasi dengan baik untuk menghasilkan gambar yang indah. Dalam hal pernikahan, semuanya tentang cinta dan kasih. Anda tidak bisa hanya menganggapnya hanya sekadar cinta. Anda juga harus memiliki kasih, penerimaan maaf, dan fleksibilitas. Terkait pernikahan, itu juga merupakan ujian, artinya itu adalah bagian dari kehidupan ini. Anda tidak akan mendapatkan semua yang Anda inginkan dalam hubungan ini. Selalu ada yang memberi dan menerima. Jadi akan ada beberapa hal yang tidak Anda sukai, dan sesuatu yang Anda sukai. Alhamdulillah.

Jadi secara keseluruhan, ini adalah sebuah perjalanan. Dan Anda harus menerima semua suka duka dalam perjalanan itu. Dan kapan Anda tahu bahwa pernikahan Anda indah? Mungkin 40 atau 50 tahun kemudian, Anda melihat ke belakang dan berkata, "Wow perjalanan kita hebat." Namun di sela-sela itu, Anda hanya akan berfokus pada saat-saat sulit dan penuh kesulitan. + Syekh Yasir Birjah, terima kasih atas jawaban Anda. Kami belajar banyak dari Anda. Semoga Allah membalas semua usaha Anda untuk umat ini. Jazakallah khair. - Terima kasih banyak telah mengundang saya ke sini.