Towards Eternity
Kembali ke blog

Calon Pendeta Masuk Islam! – “Aku Menantang Al-Qur’an!”

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Masa kecilku sangat traumatis. Untuk balas dendam pada ibuku, ibu tiriku menyiksaku. Secara fisik, mental, aku disiksa. Aku mau menelepon. Jadi, kami pergi ke telepon umum di kota kecil ini, di tempat terpencil. Ada pemuda yang sedang menggunakannya. Aku minta dia berhenti telepon, “Hei, aku mau menelepon.” Tapi dia bilang, “Tidak.” Dia mengatakan hal yang membuatku kesal. Jadi aku memukulnya cukup parah. Akhirnya aku ditangkap. Aku dihukum tujuh tahun penjara. Saat menunggu persidangan, aku memutuskan masuk Islam. Butuh waktu tiga tahun sembilan bulan untuk belajar Islam. Setiap hari, sepanjang hari. Itu saja yang kulakukan.

Aku menjadi imam kulit putih pertama di Departemen Pemasyarakatan Carolina Selatan, yang membuatku hampir terbunuh. Aku aktif di komunitas itu. Tapi ada seseorang. Dia muncul di belakangku dan menikamku dengan pisau rakitan. Pisau itu menembus tulang rusukku dan hampir kena jantungku, hanya meleset tiga milimeter. Kamu bilang kamu memaafkan orang yang menikammu. Apa kamu juga memaafkan ibu tirimu? Ya, tapi… + Assalamu'alaikum Yusha Evans. Terima kasih telah menerima undangan kami. Senang sekali kamu bisa hadir. Aku ingin mulai dengan siapa Yusha Evans? Bisa kamu ceritakan tentang hidupmu? - Siapa Yusha Evans? Aku juga sering bertanya pada diri sendiri.

Aku lahir dan tumbuh di Greenville, Carolina Selatan. Dibesarkan secara Kristen, tumbuh di gereja. Aku ingin jadi pendeta pemuda, pendeta Kristen, dan mulai mencari agama lain, tapi tidak menemukannya. Akhirnya aku terjerumus di kehidupan jalanan. Aku masuk Islam saat umur 18 tahun. Sejak itu, tujuan hidupku adalah membantu orang sebanyak mungkin untuk memahami Islam. Aku memulai Liga Video Gamers saat pandemi. Liga Gamers Muslim. Aku main video game dengan anakku, dan aku sudah main sejak kecil. Aku suka membuat mobil balap, mobil muscle. Jadi, aku mencoba jadi orang yang serba bisa sambil tetap sadar bahwa aku manusia, seperti kita semua. + Bagaimana kehidupan beragamamu dulu?

Apa yang kamu yakini? - Sebelum Islam, aku dibesarkan sebagai Kristen Metodis. Versi Kristen yang sangat formal. Bukan seperti yang kamu bayangkan. Jika kamu pergi ke gereja, banyak teriakan, lompatan, dan jeritan. Ini lebih formal, mirip Misa Katolik. Itulah yang membuatku ingin jadi bagian pelayanan Kristen. Tapi saat 16 tahun, aku lebih condong ke Pentakosta. Waktu kecil, aku percaya apa yang diajarkan padaku, yaitu percaya pada Trinitas. Aku percaya Alkitab itu firman Tuhan tanpa kesalahan, firman Tuhan tanpa cela. Seperti umat Muslim percaya pada Al-Qur’an. Itulah keyakinanku saat tumbuh besar.

Yang juga membuatku meninggalkan Kekristenan saat aku mulai belajar Alkitab dan sadar bukan itu yang diajarkan Alkitab. Alkitab tidak mengajarkan Trinitas. Yesus tidak mengajarkan Trinitas. Alkitab bukan kitab yang tanpa cela. Kitab ini penuh dengan kesalahan. Masa-masa antara meninggalkan Kekristenan dan masuk Islam, aku sempat menyerah pada agama. Aku percaya Tuhan itu ada, tapi aku jadi agnostik. Aku jadi agnostik deis. Aku tidak berpikir Tuhan itu tidak ada, karena aku melihat sekelilingku. Kakekku selalu mengajarkan bahwa tidak ada lukisan tanpa pelukis, ya kan? Jadi, keberadaan ini tidak mungkin ada tanpa penyebab keberadaannya.

Jadi, aku selalu percaya pada Tuhan, tapi aku berpendapat bahwa Tuhan menciptakan dunia dan membiarkannya begitu saja. Dia menciptakan semuanya tapi tidak punya dampak. Dia membiarkannya. Ya, hanya menciptakan dan membiarkannya. Aku mulai agak kecewa dengan Tuhan, sedikit marah pada-Nya. Karena aku mencari-Mu, tapi Kau tidak mau ditemukan. Jadi, aku mulai masuk ke kehidupan jalanan, mendengarkan musik rap. Aku terjerumus dalam musik hip hop saat itu. Aku terjebak dalam gaya hidup rap. Gaya hidup hip hop. Aku mulai bermasalah di sekolah. Aku bahkan ditangkap pada masa itu. + Kenapa kamu ditangkap? - Kebodohanku, semuanya karena kebodohanku. Aku tertangkap karena amarahku.

Aku jadi remaja pemarah karena trauma penyiksaan saat kecil. Orang tuaku bercerai sejak kecil. Ibuku meninggalkanku saat aku umur tiga bulan, menghilang dari hidupku selama enam tahun berikutnya. Aku bertemu Ibu lagi saat umur enam tahun. Jadi aku dibesarkan oleh Ayah, dan Ayah menikah lagi. Dan ibu tiriku itu musuh ibuku sejak SMA. Ibu tiriku tuli, dan ibuku… Mereka semua sekolah di SMA yang sama. Ibuku sering mengejek ibu tiriku karena tuli. Untuk balas dendam pada ibuku, ibu tiriku menyiksaku. Secara fisik, mental, aku disiksa. Aku hanya bisa merasakan amarah. Jadi, aku tidak bisa merasakan emosi lain selain marah. Jadi, aku sangat marah. Saat itu aku juga sudah sabuk hitam.

Ya, aku sabuk hitam. Aku sudah punya sabuk hitam bela diri pertamaku saat itu. Suatu malam, kami ada di kota kecil di Carolina Selatan bernama Pickens, dan aku mabuk. Jadi, kami pergi ke telepon umum di kota kecil ini, di tempat terpencil. Ada pemuda yang sedang menggunakannya. Aku minta dia berhenti telepon, “Hei, aku mau menelepon. Kamu bisa telepon balik lagi nanti. Aku perlu pakai telepon itu sekarang.” Tapi dia bilang, “Tidak.” Dia mengatakan hal yang membuatku kesal dan marah. Jadi aku memukulnya cukup parah. + Towards Eternity membutuhkan dukunganmu. Kami organisasi non profit yang bertujuan menyebarkan pesan Islam ke seluruh dunia dalam sepuluh bahasa.

Dengan dukunganmu, kamu bisa membantu orang masuk Islam, meninggalkan yang haram, mulai salat, memakai hijab, belajar membaca Al-Qur’an, dan sebagainya. Dan jadilah bagian dari semua amal kebaikan ini, InsyaAllah. Mari berdonasi melalui Towards Eternity dan jangan lewatkan kesempatan emas ini. - Jadi aku memukulnya cukup parah. Karena melepaskan amarah yang terpendam begitu lama, semuanya langsung tumpah keluar. Aku memukulnya hingga masuk rumah sakit. Aku akhirnya ditangkap. + Bagaimana kamu bisa keluar dari penjara? - Tidak. + Lalu apa yang terjadi? Bagaimana kamu keluar dari… - Aku keluar dari penjara dengan jaminan. Karena itu kota kecil. Cuma ada dua hakim di sana.

Pemuda itu anak salah satu hakim. Mereka menuduhku dengan percobaan pembunuhan. Itu tuduhan yang sangat serius. Menuduhku dengan percobaan pembunuhan. Jadi, aku menjalani sidang, karena tidak mungkin aku setuju dengan tuduhan itu. Aku pergi ke pengadilan pada Februari 1999. Dan aku beruntung, Alhamdulillah. Nenekku mengirim pengacara untukku. Mereka berhasil mengurangi tuduhannya. Meski aku belum pernah bermasalah. Ini insiden pertamaku. Tapi mereka ingin menunjukkan sesuatu karena dia anak hakim di kota kecil. Mereka menurunkan tuduhan dari percobaan pembunuhan ke penyerangan dan pemukulan dengan tingkat kekerasan tinggi. Mereka menjatuhkanku hukuman tujuh tahun penjara.

+ Lalu kapan kamu mulai mempertanyakan keyakinanmu? - Saat musim panas 1996. Pada musim panas 1996, aku baca Alkitab dari awal hingga akhir. Aku juga belajar ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan diri masuk ke Bob Jones University, perguruan tinggi Alkitab terkenal di kota asalku, Greenville, Carolina Selatan. Sangat terkenal di seluruh dunia. Fokus studi yang akan aku ambil adalah kritik tekstual, yaitu mempelajari dokumen-dokumen Alkitab tertua dan lainnya. Jadi, menggali Alkitab lebih dalam membuatku memahami bahwa itu bukan… bahkan dari perspektif akademis, itu bukan kitab yang sempurna. Kitab itu ditulis oleh pria dan wanita dan diteruskan.

Dan saat kitab itu diteruskan, banyak hal yang terjadi. Aku menyimpulkan bahwa Alkitab bukanlah firman Tuhan, bukan kitab yang sempurna. Aku sampaikan ini pada seorang profesor di Bob Jones University saat itu. Aku berbicara dengannya dan bertanya satu hal. Pertanyaan yang logis. Aku bilang, “Apakah Tuhan itu sempurna?” Dia bilang, “Ya.” Aku bilang, “Oke, jika Tuhan sempurna, maka secara otomatis segala sesuatu yang berasal dari Tuhan seharusnya juga sempurna, ya kan?” Dia bilang, “Ya.” Aku bilang, “Apakah Alkitab itu sempurna?” Dia bilang, “Tidak.” Jika Tuhan itu sempurna dan punya sebuah kitab, maka kitab itu juga harus sempurna. Jika tidak sempurna, itu bukan berasal dari Tuhan.

Mungkin ada bagian dari kitab itu yang berasal dari Tuhan, tapi ada juga yang berasal dari manusia. Dan jika kita tidak bisa membedakannya, maka kitab itu tidak bisa jadi dasar dari imanmu. Itu masuk akal. Jadi, itulah masalahku. Perjalananku menuju Islam dimulai saat aku meninggalkan Kristen. Tentu, itu pemicunya. Jika tidak, semua ini tidak akan terjadi. Itu terjadi saat aku belajar agama lain. Tapi aku ingin bukti. Aku sampai pada titik dalam hidupku di mana aku lelah dibohongi. Aku percaya jika Tuhan memiliki agama, agama itu pasti punya bukti. Akan ada bukti yang nyata, fisik, berwujud. Karena kakekku mengajarkanku... Dia sudah meninggal.

Tapi aku ingat dia bilang, “Jika seseorang memberitahumu suatu kebenaran, mintalah bukti, karena kebenaran selalu disertai bukti.” Jadi aku bertanya pada semua agama lain, Yahudi, Hindu, Buddha, Taoisme, apapun itu. Semuanya menurutku punya informasi yang kontradiktif. Bagiku, Tuhan harus… Tidak hanya harus ada bukti, Tuhan harus logis, itu harus sederhana Dan harus ada bukti, dan bukti itu harus sempurna. Aku tidak akan menerima apapun yang kurang sempurna pada titik itu. + Jadi, kamu diperkenalkan dengan Islam oleh temanmu? - Aku diperkenalkan dengan Islam oleh... Sebenarnya bukan teman. Dia lebih seperti kenalan. Kebetulan dia seorang Muslim. Sebelumnya aku tidak tahu dia Muslim.

Suatu hari kami berdiskusi tentang agama di rumahnya dan dia bilang dia Muslim, yang mengejutkanku, karena dia seorang Afro-Amerika. Aku pikir semua Muslim itu orang Arab. Tapi dia mengajakku untuk salat Jumat. Jadi, pada Desember 1998 aku pergi ke masjid di kota asalku. Aku mendengarkan khotbah Jumat. Khotbah yang indah. Indah. Aku tidak akan bohong. Tentang pengampunan Allah. Tapi itu belum cukup meyakinkanku. Karena aku juga sudah mendengar banyak khotbah Kristen yang indah. Jadi aku bertanya pada imam setelah salat, “Apakah agama Anda punya bukti?” Dia bilang, “Ya." Jadi dia membawaku ke kantornya dan memberiku Al-Qur’an.

Dan aku bilang, “Apa ini?” Dia bilang, “Ini Firman Tuhan.” Aku bilang, “Ya, aku pernah dengar itu. Aku sudah dengar itu beberapa kali.” Aku bilang, “Biar aku cari tahu sendiri. Aku bawa pulang, aku baca, lihat apa yang terjadi.” Jadi aku mulai membaca Al-Qur’an. Aku membuka surah pertama. Al-Fatihah terdengar sangat mirip dengan doa bapa kami. Tapi surah kedua, ayat kedua yang membuatku benar-benar ingin membaca Al-Qur’an. Dikatakan, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya.” Jadi, aku ingin membuktikan ayat itu salah, karena aku tidak percaya umat Muslim memiliki agama yang benar. Dan aku melihat tantangan lain di surah Al-Baqarah. “Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an)...

...maka buatlah satu surah semisal dengannya..." Kamu tahu maksudku? Atau “Jika kitab ini dari selain Tuhan, kamu akan menemukan pertentangan.” Jadi ada tantangan di awal kitab ini, dan tidak ada… Tidak ada teks agama di planet ini yang seperti itu. Kitab ini dimulai dengan tantangan pada pembaca bahwa tidak ada pertentangan, tidak ada kesalahan. Cobalah, buktikan. Dan aku mengambil tantangan itu dengan serius. Jadi aku menghabiskan seluruh akhir pekan membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir, dari Jumat malam sampai Minggu. Saat aku selesai pada hari Minggu, aku menjadi Muslim. Bahkan saat membaca pertama itu, ya, aku belum…

Bahkan para ulama Al-Qur’an tidak bisa mencakup semuanya, dan aku membacanya dalam Bahasa Inggris. Ada sesuatu tentang buku itu yang, aku merasakan, ini yang benar. Karena kitab ini membicarakan semua nabi, tapi tidak membahas omong kosong dalam Alkitab tentang para nabi, kamu tahu? Ada banyak cerita gila tentang para nabi dalam Alkitab. Kitab ini membicarakan Tuhan Yang Esa. Kitab ini membicarakan Yesus dan pesannya dan apa yang dia ajarkan. Ini sama seperti yang ada dalam Alkitab. Itu begitu sederhana. Ada bagian yang aku kurang paham, tapi banyak hal yang cukup jelas. Tuhan itu Esa dan Dia yang pantas disembah. Ini yang aku percayai dari Alkitab.

Aku terus mencoba memberitahu orang-orang saat aku mempelajari Kekristenan bahwa dalam Perjanjian Lama, Tuhan bilang bahwa Dia itu Esa. Al-Qur’an mengatakan hal yang sama. Lalu saat aku sampai di bagian akhir, “Katakanlah, Dia adalah Allah, Yang Maha Esa.” Inilah kitab yang benar. Inilah yang seharusnya ada di sana. Jadi hari Senin aku kembali dan jadi seorang Muslim. Lalu pada hari Jumat, aku bersyahadat di depan publik pada bulan Desember 1998. + Bagaimana perasaanmu saat bersyahadat? - Itu bukan sebuah perasaan yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti, itu bukan… Sulit untuk dijelaskan. Rasanya seperti mencoba menjelaskan kelahiran anak pertamamu. Seperti...

itu tidak ada Tidak ada kata-kata yang pas untuk itu. Lebih seperti, aku menemukan tempatku. Paham maksudku? Hatiku merasa, lubang yang sudah lama ada di jiwaku, lubang itu akhirnya terisi. Karena sebelumnya, aku mencoba mengisinya dengan banyak hal lain. Kekristenan sempat ada di sana, dan, ya, jalanan, pesta, atau apa pun. Aku jelaskan pada orang-orang, coba mengisi, setiap orang punya lubang di jiwanya tanpa Islam, karena itu fitrah kita. Dan aku coba memberitahu orang-orang bahwa jika kamu mencoba mengisi lubang itu dengan selain Islam, seperti pergi ke pantai dan mencoba mengisi lautan dengan pasir. Sebanyak apapun kamu menumpuknya, kamu tidak akan bisa mengisinya.

Hanya bisa diisi dengan kembali ke sifat sejatimu, yaitu menyembah Tuhan saja. Aku merasa di rumah. Aku merasa damai. Semua amarah, semua kekacauan yang ada di pikiranku menjadi tenang, seperti menutup lubang itu. + Bagaimana reaksi orang-orang di sekitarmu? - Aku tidak memberi tahu banyak orang. Itulah masalahnya. Teman-temanku saat itu, aku menjauh dari mereka karena mereka tidak membantuku. Mereka bersamaku malam itu saat aku memukuli pemuda itu, dan mereka semua melaporkanku. Saat polisi datang, mereka melaporkanku. Jadi, aku menjauhi mereka saat itu. Nenekku dan ayahku, aku tidak memberitahu mereka aku menjadi Muslim pada awalnya. Aku mulai memperbaiki hidupku.

Setelah sekitar sebulan, nenekku melihat ada yang berbeda. Dia bilang, “Ada yang berubah. Kamu tidak seperti dulu…" Sekarang aku lebih baik, sopan, membantu lebih banyak, mencoba melakukan hal benar. Dia bilang, “Apa yang berubah?” Aku bilang aku sudah menjadi Muslim. Dia bilang, “Aku tidak begitu setuju, tapi jika itu membuatmu seperti ini, tetaplah seperti itu.” Dan ayahku bilang, “Kamu sudah dewasa, bisa membuat keputusan sendiri. Hiduplah dengan keputusanmu.” Aku menjadi Muslim selama 25 tahun. Aku masih ngobrol dengan ayahku. Aku berdakwah pada Ayah selama 25 tahun. Dia belum menerima Islam. Semoga Allah memberinya petunjuk. Tapi Ayah sangat senang aku jadi Muslim.

Ayah bilang, “Islam menjadikanmu versi terbaikmu.” Dia sangat bangga memberi tahu orang-orang, “Anakku Muslim, dia pergi keliling dunia membantu orang. Dia terlibat dalam kegiatan amal. Dia pergi ke kamp pengungsi.” Setiap aku khotbah di tempat asalku, sudah dua kali kulakukan, Ayah selalu duduk di baris pertama. Ayah datang dan duduk di depan. Itulah yang aku katakan pada Muslim baru. Bukan hanya berlari-lari memberi tahu orang bahwa kamu menjadi Muslim. Tunjukkan bahwa kamu adalah Muslim. Itulah perbedaannya. + Pernahkah kamu mengalami peristiwa di mana kamu merasa memiliki hubungan khusus dengan Allah? - Saat aku keluar dari penjara, salah satu syaratnya adalah aku harus tetap bekerja.

Jika aku dipecat karena hal yang kulakukan, akan dianggap melanggar masa percobaan dan aku harus kembali ke penjara selama dua tahun. Jadi, saat keluar dari penjara, aku bekerja di bidang konstruksi. Pada Jumat pertama, aku bilang bosku bahwa saat semua orang makan siang… Ada waktu makan siang selama satu jam. Aku bilang, “Daripada makan siang, aku akan pergi…" Itu sekitar tiga mil dari tempat kerja. Aku bilang, "Aku akan pergi salat Jumat." Karena mereka tahu aku Muslim dan sering melihatku salat di tempat kerja. Aku bilang, “Aku akan pergi salat Jumat.” Dan dia bilang, “Kamu tidak diizinkan untuk meninggalkan tempat kerja.” Aku bilang, “Itu bukan… Aku sebenarnya tidak meminta izin.

Aku memberitahu apa yang akan kulakukan.” Dia bilang, “Jika pergi, kamu dipecat, dianggap mengundurkan diri.” Jadi aku punya pilihan untuk tetap di pekerjaan dan melanggar perintah Allah atau salat Jumat. Dan aku bilang, "Aku menghabiskan empat tahun di penjara belajar agama untuk melakukan hal benar. Aku akan melakukan hal yang benar." Jadi aku pergi. Aku bilang, “Baik, lakukan pekerjaanmu, aku pergi.” Jadi, aku pergi salat Jumat. Dan aku banyak berdoa saat salat Jumat itu, “Ya Allah, aku datang ke sini untuk taat kepada-Mu. Jadi, bantu aku di sini.” Setelah salat Jumat, seorang pemuda mendekatiku.

Dia datang dan berkata, “Apakah kamu punya pekerjaan?” Aku bilang, “Ya, aku bekerja sampai hari ini. Aku sebenarnya keluar dari tempat kerja dan mengundurkan diri untuk ke sini.” Dia bilang, ayahnya, seorang imam… Dia bilang, “Ayahku datang dan bertanya maukah kamu bekerja di toko pizzanya?” Aku bilang, “Tentu, aku butuh pekerjaan.” Jadi dia memberi pekerjaan mulai hari itu, mendapatkan uang dua kali lipat daripada di tempat konstruksi. Waktu aku meninggalkan pekerjaan hingga dapat kerjaan baru hanya dua jam.

Saat melakukan hal tulus karena Allah, يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا "...niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya." Jadi, melakukan hal benar kadang menakutkan, tapi itu salah satu malam terindah yang aku ingat dalam hidupku. + Apa yang paling mengesankan bagimu tentang Nabi SAW? - Cinta yang beliau miliki untuk umatnya. Sungguh, tidak bisa digambarkan berapa besar cinta beliau untuk umat ini. Setiap Nabi diberikan satu doa yang bisa mereka panjatkan untuk meminta apapun yang mereka mau. Dan doa itu akan dikabulkan. Apa saja. Rasulullah SAW punya banyak kesempatan di mana beliau butuh doa itu. Pamannya, Abu Talib, meninggal tanpa memeluk Islam. Sebelum Perang Badar.

Perang Uhud, Perang Khandaq, saat Madinah… Ada begitu banyak waktu di mana beliau sangat butuh doa itu. Beliau bilang, “Tidak, aku menyimpannya.” Dan untuk siapa beliau menyimpannya? Untuk kita. Kita. Nabi bilang, “Aku menyimpannya untuk kalian.” Pada Hari Kiamat, Allah akan meminta beliau untuk maju dan beliau akan sujud. Kita tahu cerita terkenal ini. Beliau akan ada di sana entah berapa lama. Dan Allah akan berkata padanya, “Bangunlah, dan mintalah kepada-Ku, karena engkau telah menahan doa ini.” Allah tahu beliau masih menyimpannya. “Engkau telah menahan doa ini. Jadi sekarang, apa yang engkau inginkan?” Ada banyak hal yang bisa beliau minta. Tapi apa yang akan beliau katakan?

Ummati ummati. Beliau akan memohon untuk kita. Jadi, inilah tingkat perhatian dan kepedulian terhadap umat ini, tidak hanya sahabatnya, tapi kita semua. Beliau sangat mencintai kita hingga rela menanggung semua penderitaan yang beliau alami, tanpa pernah memanfaatkan doa itu. Karena beliau tahu suatu hari nanti kita akan membutuhkannya. + Banyak orang yang ingin memeluk Islam, namun mereka khawatir. Mereka bilang, “Haruskah kutinggalkan budayaku jika masuk Islam, pakai baju orang Arab, apakah harus berjanggut? Atau bisakah jadi Muslim Amerika dengan budayaku, tanpa meninggalkan budayaku?” - Kamu tidak perlu menghapus identitasmu, budayamu untuk menjadi Muslim.

Kamu hanya perlu menghilangkan bagian budaya itu yang bertentangan dengan Islam. Jadi, tidak masalah mempertahankan identitas orang Amerika. Tidak masalah pakai celana, kemeja, jas, dasi, apapun. Tidak ada yang salah denganku. Kamu boleh mempertahankan identitasmu. Jika kamu pergi ke Afrika, kamu akan melihat budaya Muslim di Afrika. Itu sangat berbeda. Sama halnya di Asia Selatan, misalnya, Indonesia, Singapura, Malaysia. Mereka mempertahankan budaya mereka, tetapi Islam memperkaya budaya tersebut. Tapi tidak perlu menjadi orang Arab atau orang Pakistan. Jadilah siapa pun yang kamu inginkan.

+ Jadi ada orang Kristen yang berkata, “Aku merasakan spiritualitas dan terhubung dengan Tuhan saat berdoa. Aku tidak butuh hal baru lainnya.” Apa yang ingin kamu sampaikan pada mereka? - Spiritualitas bisa menipu. Karena spiritualitas itu adalah perasaan. Itulah yang dikejar oleh orang Kristen. Mereka mengejar spiritualitas itu. Namun perasaan itu tidak akan bertahan. Hubungan seperti itu tidak bisa dibuktikan. Karena banyak orang merasakannya dengan berbagai cara. Orang Hindu merasakannya juga. Dukun merasakannya saat melakukan sihir. Pemakai narkoba merasakannya juga. Peminum alkohol merasakannya juga. Mereka semua mengejar perasaan itu. Islam tidak mengejar perasaan itu.

Perasaan itu datang dan pergi. Ada kalanya spiritual kita naik dan turun. Nabi SAW berbicara tentang hal ini. Dia berkata iman itu naik dan turun. Kita mencari koneksi yang stabil dengan Allah sebagaimana Dia ingin disembah. Bukan hakku menentukan apakah hubunganku dengan Tuhan itu benar. “Oh, rasanya benar, jadi itu benar.” Tidak… Kita tidak bisa mengatur ketentuannya. Allah yang mengatur ketentuannya. Tuhan yang mengatur ketentuannya. Kita mengikutinya. Jadi kita menyembah-Nya dengan cara yang Dia inginkan untuk disembah, bukan dengan cara kita sendiri. + Jika seorang Kristen bertanya, mengapa kamu meninggalkan Tim Yesus? - Tidak. Aku mengikuti Yesus dengan cara yang benar.

Aku tidak meninggalkan Yesus, aku menemukannya. Aku meninggalkan Paulus. Aku meninggalkan Paulus dan mengikuti Yesus. Karena kata Kristen berarti menjadi seperti Kristus. Kristus itu penyembah Tuhan Yang Maha Esa. Itulah yang aku lakukan sekarang. + Kamu bilang kamu sudah memaafkan orang yang menikammu. Apakah kamu juga memaafkan ibu tirimu? - Ya, tapi… Aku memaafkannya, bukan untuk dia. Aku tulis surat untuknya, karena dia tidak pernah mengakui apa yang dia lakukan padaku. Dia berpura-pura tidak pernah terjadi. Aku dianggap mengada-ada saat kecil. Jadi aku menulis surat untuk memaafkannya. Aku bilang aku tidak memaafkannya untuk dia. Aku memaafkannya untuk diriku sendiri.

Karena dia tidak pantas untuk terus memiliki pengaruh seperti itu. Aku sadar menyimpan kemarahan untuknya, dia sudah tidak menyiksaku lagi. Justru aku yang menyiksa diriku sendiri. Dan itulah yang sering terjadi. Aku melakukan konseling dan pelatihan setiap hari. Tadi sebelum aku ke sini, aku baru saja selesai sesi. Bersama sebagian besar korban trauma yang telah mengalami kekerasan dan hal serupa. Aku bilang, memaafkan itu untuk diri kita, supaya kita bisa maju. Karena dia tidak pantas… Aku rasa dia tidak pantas terus berpengaruh seperti itu dalam hidupku. Aku tidak bisa melanjutkan… Aku tidak bisa menyalahkannya lagi.

Jika aku masih berjuang dengan hal yang kualami waktu kecil, aku tidak bisa menyalahkannya lagi. Itu sudah selesai. Sudah 30 tahun berlalu. Aku sendiri yang melakukannya pada diriku, jadi aku harus melepaskannya. Jadi ya, aku sudah memaafkannya, tapi aku memaafkannya untuk diriku sendiri. Kita memang memaafkan demi Allah. Tentu saja, itu inti dari semuanya. Tapi aku memaafkannya untuk diriku sendiri, karena aku pantas untuk sembuh dari itu. + Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan pada non Muslim di seluruh dunia, jika kamu punya waktu dan kesempatan? - Aku akan bilang, carilah jiwamu sendiri dan sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini ada tujuannya.

Tidak ada di dunia yang tidak memiliki tujuan. Termasuk dirimu sendiri. Kamu di sini karena suatu alasan dan tujuan, dan tujuan itu harus ditemukan. Kamu harus tahu apa tujuanmu, dan tujuan itu adalah untuk menyembah Tuhan yang menciptakanmu. Maka, kamu harus mencari tahu secara mendalam tentang itu. Pastikan bahwa kamu tahu dan percaya apa yang kamu yakini karena suatu alasan. Bukan karena orang tua mengajarkan seperti ini atau karena budaya, atau karena bagaimana kamu dibesarkan. Sistem kepercayaanmu, sistem keyakinan utamamu, harus menjadi faktor penentu berdasarkan informasi yang kamu pilih untuk dianggap faktual.