Umar bin Khattab (RA) – Dari Musuh Menjadi Khalifah Kekaisaran Keadilan | AI Visualisasi
Diterbitkan pada
Saat itu tahun 616. Sesuatu terjadi di jalanan Makkah. Orang-orang saling berbisik dan bertanya, Seolah para malaikat pun berdiri dan menyaksikan pemandangan ini. Penyebab kebingungan ini muncul di ujung jalan. Dengan tubuh besar setinggi dua meter, dia melangkah berwibawa. Ia tak kenal takut Rasulullah SAW bersabda, Ia jalan menuju Ka’bah dan mengumandangkan, Dia menantang penguasa dan pemimpin zalim penyembah berhala. Pertama kalinya, suara seorang Muslim terdengar sekeras ini. Ini adalah kerugian besar bagi kaum musyrik Makkah. “Umar juga masuk Islam?” Kalau begitu, Muslim tak lagi lemah dan tak berdaya.
Tapi bagaimana Umar tiba-tiba mengubah keseimbangan kekuasaan dan membuat keputusan ini? Bagaimana ia berubah dari musuh terbesar Islam menjadi prajurit terbesar Islam? Saat hendak memb*nuh Nabi, bagaimana tiba-tiba ia rela mati demi perjuangan Nabi? Lalu ia menjadi sahabat terhebat dan terdekat Nabi, juga khalifah kedua setelah Nabi Inilah salah satu kisah paling menarik yang pernah terjadi di dunia. Ayah Umar, Khattab, adalah kepala klan Bani Adi dari suku Quraisy. Bani Adi. Umar sangat berpendidikan. Ia sangat cerdas dan kuat. Karena mengalahkan pegulat tak terkalahkan di wilayah itu, ia dijuluki Ia lalu menjadi kepala klannya karena kecerdasan dan kekuatannya.
Di awal tahun Islam, Rasulullah ﷺ belum berdakwah secara terbuka, tapi diam-diam. Bagi yang lebih dekat dengan Islam, kaum Muslim berdakwah diam-diam, dan mereka yang masuk Islam menyembunyikan hal itu. Mereka ceritakan Islam hanya pada yang dipercaya dan tulus. Bahkan tempat Muslim berkumpul juga dirahasiakan. Jika berdakwah secara terbuka, mereka mungkin akan menderita karena jumlahnya sangat sedikit. Hal ini berlangsung lama, hingga rumor mulai menyebar di kota. Agama baru ini mulai terdengar oleh para pemimpin musyrik Makkah. Awalnya, mereka tidak memperhatikannya, namun seiring waktu, bahkan beberapa kerabat mereka mulai masuk Islam.
Untuk membahas situasi ini, mereka berkumpul di Darun Nadwah. Dewan Kota Makkah. Para kepala keluarga menghadiri pertemuan ini. Umar juga hadir sebagai kepala klannya. Beberapa keputusan diambil dalam waktu yang berbeda. Salah satu keputusannya adalah, Umar menahan kaum Muslim dari klannya dan mencambuk mereka hingga kelelahan. Di kalangan Muslim, ia dijuluki, 'Si Kejam' Karena dakwah dilakukan diam-diam, Umar belum tahu kebenaran Islam. Dia merasa sedang melakukan hal baik. Karena baginya, Rasulullah ﷺ menyebabkan perpecahan antar bangsa Arab untuk kepentingannya sendiri. Dan Umar ingin melindungi bangsanya dari ancaman ini. Seiring waktu, penindasan kaum Muslim semakin parah.
Akibatnya, beberapa Muslim mulai hijrah ke Habasyah (Etiopia) setelah mendapat izin dari Rasulullah. Salah satunya adalah Amir. Dulu dia budak ayah Umar, Khattab, lalu dibebaskan. Dia dan istrinya, Leila, juga bersiap ikut gelombang hijrah ini. Amir keluar untuk mencari kebutuhan. Saat Umar bertemu dengan Leila, dia bertanya, Dia menjawab, Dengan lembutnya, Umar berkata, Lalu dia pergi. Saat itu, hatinya sudah lelah dengan apa yang dia lakukan pada kaum Muslim. Ia mulai merasa bersalah, namun pikiran dan hatinya masih bingung. Leila merasa simpati dan iba pada Umar. Saat Amir kembali, dia ceritakan situasi itu.
Amir sangat terkejut dan bertanya, "Kamu berharap Umar masuk Islam?’’ Amir bilang, Begitulah Umar dikenal karena perilakunya selama ini. Namun hatinya yang sekeras batu mulai melunak. Lelila melihat kepedulian dalam diri Umar. Kepedulian ini muncul karena suatu peristiwa khusus. Ini salah satunya. Suatu malam, Umar bertemu Rasulullah di dekat Ka’bah. Beliau sedang salat. Penasaran dengan yang beliau baca, Umar mendekatinya diam-diam. Nabi sedang membaca Surah Al-Haqqah. Saat Umar mendengarnya, dia merasa sangat kagum dan terpukau dengan ayat Al-Qur’an. Tapi tidak mungkin ia masuk Islam begitu saja. Dia berpikir, Tepat pada saat itu, Nabi membacakan ayat ke-41, Umar terkejut.
Dia merenung, Nabi melanjutkan ayat berikutnya, Umar tercengang. Seolah-olah setiap ayat menjawabnya dengan tepat. Dia berusaha memahami apa yang terjadi. Peristiwa ini sangat mengguncangnya. Benih-benih iman mulai tumbuh di hatinya. Dia pulang dalam kondisi itu. Cahaya Islam mulai menyebar dan berkembang secara diam-diam di Makkah. Namun di saat yang sama, ketegangan juga semakin meningkat. Meski Umar terkesan dengan Al-Qur’an yang ia dengar, dia masih berpikir bahwa Rasulullah memecah belah keluarga dan membuat saudara saling bermusuhan. Karena itu, dendam dan kebenciannya pada Rasulullah tetap sama. Meski begitu, Rasulullah ﷺ tetap terus berdoa meminta petunjuk-Nya.
Dia berkata, Sesaat setelah doa ini diucapkan oleh Rasulullah, Allah SWT menyampaikan alasan di balik salah satu kisah petunjuk terindah di dunia. Keesokan paginya setelah doa itu dipanjatkan, pertemuan lain diadakan di Darun Nadwah. Karena takut terlibat konflik dan menghadapi balas dendam dari kaum Nabi, Amr bin Hisyam, alias Abu Jahal, mengajukan tawaran, Seseorang dalam pertemuan itu berdiri dan menerima tawaran dengan mengambil risiko dari perseteruan berdarah. Dia adalah Umar. Dia berpikir, ini sudah berlangsung terlalu lama dan segera keluar mengambil pedangnya. Nama kedua orang ini ada dalam doa Rasulullah pada malam sebelumnya.
Namun, salah satu dari mereka menawarkan hadiah untuknya, dan yang satu hendak mencari dan membunuhnya. Jika dipikirkan, ini adalah misi bu*uh diri bagi Umar. Karena keluarga Nabi pasti akan balas dendam dan membunuhnya juga. Dia juga sadar akan hal ini, meskipun dia masih muda, kuat, kaya, dan dihormati, dia bersiap untuk mengorbankan dirinya. Dia siap mati, namun Allah tidak menyia-nyiakannya. Dia diberikan kehidupan di jalan menuju kematian. Dia mengangkat pedangnya dan segera keluar dari rumahnya untuk membunuh target. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan kerabatnya, Nu’aim. Nu’aim bertanya, Umar menjawab, Mendengar ini, Nu’aim yang telah masuk Islam diam-diam, menjadi cemas.
Dia berseru, Umar berkata bahwa setelah membunuhnya, dia akan menyerahkan diri. Nu’aim melakukan apa saja untuk melindungi Rasulullah dari Umar. Dia harus mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya. Lalu dia berkata, Umar terdiam selama beberapa detik. Lalu dengan darah mendidih di tubuhnya, dia langsung berbalik arah dan berlari ke rumah saudarinya. Sementara itu, Khabbab bin Aratt sedang mengajarkan Surah Taha pada saudari Umar, Fatimah dan suaminya, Said bin Zayd. Saat Khabbab mendengar suara Umar dari luar, dia bersembunyi di dalam rumah. Umar masuk dengan marah. Saat saudarinya melihatnya dengan wajah geram, ia langsung sembunyikan lembar Al-Qur’an yang sedang dipegangnya.
Dia berteriak pada saudarinya dan bertanya, Saudara iparnya menjawab, Kemarahan Umar semakin meningkat. Dia memegang lehernya dan membantingnya ke tanah. Dia berteriak, “Jadi, apa yang aku dengar itu benar, kalian telah masuk agama Muhammad?” Saat Fatimah ingin selamatkan suaminya, dia jatuh ke tanah karena tamparan keras. Mulut Fatimah berdarah. Fatimah tidak bisa menahan diri dan dengan berani menantangnya. Umar terhenti sejenak dan mulai mempertanyakan apa yang telah dia lakukan. Dia terkejut dengan keberanian saudarinya dan penasaran apa yang membuatnya begitu kuat. Darah di wajah Fatimah menimbulkan rasa empati dalam dirinya.
Dia berbalik pada Fatimah dan berkata, Apakah doa Nabi akan dikabulkan? Berharap Umar dapat petunjuk, Fatimah berkata, Dan Umar melakukan apa yang diperintahkan. Lalu saudarinya memberi lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an lalu Umar mulai membaca dari awal Surah Taha. Saat dia membaca, hati yang keras dan marah di wajahnya perlahan menghilang. Dia berbalik pada saudarinya dan iparnya lalu berkata, Mereka berdua saling memandang dengan penuh kegembiraan dan kekaguman. Umar tak lagi berhati keras untuk menolak kata-kata ini. Hatinya menyerah.
Mendengar semua ini, Dengan semangat Khabbab lompat keluar dari persembunyiannya dan berteriak, Umar menoleh padanya dan berkata, Saat Khabbab memberitahu lokasi Rasulullah dekat dengan Safa, Umar pun berangkat. Dengan setiap langkah yang diambil, kegembiraan yang dalam di hatinya semakin bertambah. Dia dipenuhi dengan kebahagiaan. Umar belum mengeluarkan pedangnya, karena yang ada di pikirannya saat itu hanyalah menuju Rasulullah secepatnya dan mengucapkan syahadat. Akhirnya Umar tiba dan mengetuk pintu. Saat para sahabat melihatnya membawa pedang, mereka terkejut. Mereka memberitahu Rasulullah dan beliau membiarkannya masuk.
Saat Rasulullah ﷺ melihat Umar, dia segera memegang tali pedangnya dan berkata, Dipenuhi dengan kegembiraan karena petunjuk. Umar mengucapkan syahadat dan menjadi Muslim. Semua yang menyaksikan peristiwa ini dipenuhi dengan semangat dan keyakinan. Karena Umar ditakuti oleh para musuh Umar. Namun Umar sudah menjadi Muslim, berarti tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Para sahabat mulai bersorak takbir bersama-sama. Allahu Akbar! Suara takbir itu begitu keras hingga terdengar di jalanan Makkah.
Umar kembali pada Rasulullah dan bertanya, Rasulullah ﷺ menjawab: “Ya!” Lalu Umar berkata, Lalu Rasulullah ﷺ mengizinkan Muslim untuk keluar dari tempat persembunyian dan menyebarkan Islam secara terbuka. Rasulullah ﷺ di depan, Umar di kanan beliau dan Hamzah di kiri beliau, dan seluruh kaum Muslimin mengikuti dari belakang. Setiap umat Muslim mulai berbaris menuju Ka’bah. Ini cara mereka menampakkan diri pada seluruh kota dan Quraisy. Semua orang berkumpul di sekitar mereka dengan penuh keheranan. Pada saat itu, para pemimpin Quraisy memahami bahwa angin kini berhembus ke arah sebaliknya.
Salah satu sahabat yang paling terkenal, Abdullah Ibn Mas’ud, menggambarkan Umar seperti, Terdapat perbedaan besar antara Umar yang belum Muslim satu jam lalu, dan Umar yang baru masuk Islam satu jam kemudian. Dari sosok kejam yang menyiksa orang-orang, menjadi seseorang yang bahkan tidak akan menyakiti seekor lalat. Dengan cahaya petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, cahaya yang tersembunyi di dalam dirinya mulai bersinar. Hari itu, benih iman ditanamkan di dalam hati Umar. Dan dari benih itu, Allah menumbuhkan pohon besar yang penuh dengan nurani dan keadilan.
Sampai-sampai pada masa kekhalifahan beliau, ia diberikan julukan dan tidak hanya manusia, bahkan hewan pun akan terlindungi dari ketidakadilan.
Tapi bagaimana Umar tiba-tiba mengubah keseimbangan kekuasaan dan membuat keputusan ini? Bagaimana ia berubah dari musuh terbesar Islam menjadi prajurit terbesar Islam? Saat hendak memb*nuh Nabi, bagaimana tiba-tiba ia rela mati demi perjuangan Nabi? Lalu ia menjadi sahabat terhebat dan terdekat Nabi, juga khalifah kedua setelah Nabi Inilah salah satu kisah paling menarik yang pernah terjadi di dunia. Ayah Umar, Khattab, adalah kepala klan Bani Adi dari suku Quraisy. Bani Adi. Umar sangat berpendidikan. Ia sangat cerdas dan kuat. Karena mengalahkan pegulat tak terkalahkan di wilayah itu, ia dijuluki Ia lalu menjadi kepala klannya karena kecerdasan dan kekuatannya.
Di awal tahun Islam, Rasulullah ﷺ belum berdakwah secara terbuka, tapi diam-diam. Bagi yang lebih dekat dengan Islam, kaum Muslim berdakwah diam-diam, dan mereka yang masuk Islam menyembunyikan hal itu. Mereka ceritakan Islam hanya pada yang dipercaya dan tulus. Bahkan tempat Muslim berkumpul juga dirahasiakan. Jika berdakwah secara terbuka, mereka mungkin akan menderita karena jumlahnya sangat sedikit. Hal ini berlangsung lama, hingga rumor mulai menyebar di kota. Agama baru ini mulai terdengar oleh para pemimpin musyrik Makkah. Awalnya, mereka tidak memperhatikannya, namun seiring waktu, bahkan beberapa kerabat mereka mulai masuk Islam.
Untuk membahas situasi ini, mereka berkumpul di Darun Nadwah. Dewan Kota Makkah. Para kepala keluarga menghadiri pertemuan ini. Umar juga hadir sebagai kepala klannya. Beberapa keputusan diambil dalam waktu yang berbeda. Salah satu keputusannya adalah, Umar menahan kaum Muslim dari klannya dan mencambuk mereka hingga kelelahan. Di kalangan Muslim, ia dijuluki, 'Si Kejam' Karena dakwah dilakukan diam-diam, Umar belum tahu kebenaran Islam. Dia merasa sedang melakukan hal baik. Karena baginya, Rasulullah ﷺ menyebabkan perpecahan antar bangsa Arab untuk kepentingannya sendiri. Dan Umar ingin melindungi bangsanya dari ancaman ini. Seiring waktu, penindasan kaum Muslim semakin parah.
Akibatnya, beberapa Muslim mulai hijrah ke Habasyah (Etiopia) setelah mendapat izin dari Rasulullah. Salah satunya adalah Amir. Dulu dia budak ayah Umar, Khattab, lalu dibebaskan. Dia dan istrinya, Leila, juga bersiap ikut gelombang hijrah ini. Amir keluar untuk mencari kebutuhan. Saat Umar bertemu dengan Leila, dia bertanya, Dia menjawab, Dengan lembutnya, Umar berkata, Lalu dia pergi. Saat itu, hatinya sudah lelah dengan apa yang dia lakukan pada kaum Muslim. Ia mulai merasa bersalah, namun pikiran dan hatinya masih bingung. Leila merasa simpati dan iba pada Umar. Saat Amir kembali, dia ceritakan situasi itu.
Amir sangat terkejut dan bertanya, "Kamu berharap Umar masuk Islam?’’ Amir bilang, Begitulah Umar dikenal karena perilakunya selama ini. Namun hatinya yang sekeras batu mulai melunak. Lelila melihat kepedulian dalam diri Umar. Kepedulian ini muncul karena suatu peristiwa khusus. Ini salah satunya. Suatu malam, Umar bertemu Rasulullah di dekat Ka’bah. Beliau sedang salat. Penasaran dengan yang beliau baca, Umar mendekatinya diam-diam. Nabi sedang membaca Surah Al-Haqqah. Saat Umar mendengarnya, dia merasa sangat kagum dan terpukau dengan ayat Al-Qur’an. Tapi tidak mungkin ia masuk Islam begitu saja. Dia berpikir, Tepat pada saat itu, Nabi membacakan ayat ke-41, Umar terkejut.
Dia merenung, Nabi melanjutkan ayat berikutnya, Umar tercengang. Seolah-olah setiap ayat menjawabnya dengan tepat. Dia berusaha memahami apa yang terjadi. Peristiwa ini sangat mengguncangnya. Benih-benih iman mulai tumbuh di hatinya. Dia pulang dalam kondisi itu. Cahaya Islam mulai menyebar dan berkembang secara diam-diam di Makkah. Namun di saat yang sama, ketegangan juga semakin meningkat. Meski Umar terkesan dengan Al-Qur’an yang ia dengar, dia masih berpikir bahwa Rasulullah memecah belah keluarga dan membuat saudara saling bermusuhan. Karena itu, dendam dan kebenciannya pada Rasulullah tetap sama. Meski begitu, Rasulullah ﷺ tetap terus berdoa meminta petunjuk-Nya.
Dia berkata, Sesaat setelah doa ini diucapkan oleh Rasulullah, Allah SWT menyampaikan alasan di balik salah satu kisah petunjuk terindah di dunia. Keesokan paginya setelah doa itu dipanjatkan, pertemuan lain diadakan di Darun Nadwah. Karena takut terlibat konflik dan menghadapi balas dendam dari kaum Nabi, Amr bin Hisyam, alias Abu Jahal, mengajukan tawaran, Seseorang dalam pertemuan itu berdiri dan menerima tawaran dengan mengambil risiko dari perseteruan berdarah. Dia adalah Umar. Dia berpikir, ini sudah berlangsung terlalu lama dan segera keluar mengambil pedangnya. Nama kedua orang ini ada dalam doa Rasulullah pada malam sebelumnya.
Namun, salah satu dari mereka menawarkan hadiah untuknya, dan yang satu hendak mencari dan membunuhnya. Jika dipikirkan, ini adalah misi bu*uh diri bagi Umar. Karena keluarga Nabi pasti akan balas dendam dan membunuhnya juga. Dia juga sadar akan hal ini, meskipun dia masih muda, kuat, kaya, dan dihormati, dia bersiap untuk mengorbankan dirinya. Dia siap mati, namun Allah tidak menyia-nyiakannya. Dia diberikan kehidupan di jalan menuju kematian. Dia mengangkat pedangnya dan segera keluar dari rumahnya untuk membunuh target. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan kerabatnya, Nu’aim. Nu’aim bertanya, Umar menjawab, Mendengar ini, Nu’aim yang telah masuk Islam diam-diam, menjadi cemas.
Dia berseru, Umar berkata bahwa setelah membunuhnya, dia akan menyerahkan diri. Nu’aim melakukan apa saja untuk melindungi Rasulullah dari Umar. Dia harus mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya. Lalu dia berkata, Umar terdiam selama beberapa detik. Lalu dengan darah mendidih di tubuhnya, dia langsung berbalik arah dan berlari ke rumah saudarinya. Sementara itu, Khabbab bin Aratt sedang mengajarkan Surah Taha pada saudari Umar, Fatimah dan suaminya, Said bin Zayd. Saat Khabbab mendengar suara Umar dari luar, dia bersembunyi di dalam rumah. Umar masuk dengan marah. Saat saudarinya melihatnya dengan wajah geram, ia langsung sembunyikan lembar Al-Qur’an yang sedang dipegangnya.
Dia berteriak pada saudarinya dan bertanya, Saudara iparnya menjawab, Kemarahan Umar semakin meningkat. Dia memegang lehernya dan membantingnya ke tanah. Dia berteriak, “Jadi, apa yang aku dengar itu benar, kalian telah masuk agama Muhammad?” Saat Fatimah ingin selamatkan suaminya, dia jatuh ke tanah karena tamparan keras. Mulut Fatimah berdarah. Fatimah tidak bisa menahan diri dan dengan berani menantangnya. Umar terhenti sejenak dan mulai mempertanyakan apa yang telah dia lakukan. Dia terkejut dengan keberanian saudarinya dan penasaran apa yang membuatnya begitu kuat. Darah di wajah Fatimah menimbulkan rasa empati dalam dirinya.
Dia berbalik pada Fatimah dan berkata, Apakah doa Nabi akan dikabulkan? Berharap Umar dapat petunjuk, Fatimah berkata, Dan Umar melakukan apa yang diperintahkan. Lalu saudarinya memberi lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an lalu Umar mulai membaca dari awal Surah Taha. Saat dia membaca, hati yang keras dan marah di wajahnya perlahan menghilang. Dia berbalik pada saudarinya dan iparnya lalu berkata, Mereka berdua saling memandang dengan penuh kegembiraan dan kekaguman. Umar tak lagi berhati keras untuk menolak kata-kata ini. Hatinya menyerah.
Mendengar semua ini, Dengan semangat Khabbab lompat keluar dari persembunyiannya dan berteriak, Umar menoleh padanya dan berkata, Saat Khabbab memberitahu lokasi Rasulullah dekat dengan Safa, Umar pun berangkat. Dengan setiap langkah yang diambil, kegembiraan yang dalam di hatinya semakin bertambah. Dia dipenuhi dengan kebahagiaan. Umar belum mengeluarkan pedangnya, karena yang ada di pikirannya saat itu hanyalah menuju Rasulullah secepatnya dan mengucapkan syahadat. Akhirnya Umar tiba dan mengetuk pintu. Saat para sahabat melihatnya membawa pedang, mereka terkejut. Mereka memberitahu Rasulullah dan beliau membiarkannya masuk.
Saat Rasulullah ﷺ melihat Umar, dia segera memegang tali pedangnya dan berkata, Dipenuhi dengan kegembiraan karena petunjuk. Umar mengucapkan syahadat dan menjadi Muslim. Semua yang menyaksikan peristiwa ini dipenuhi dengan semangat dan keyakinan. Karena Umar ditakuti oleh para musuh Umar. Namun Umar sudah menjadi Muslim, berarti tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Para sahabat mulai bersorak takbir bersama-sama. Allahu Akbar! Suara takbir itu begitu keras hingga terdengar di jalanan Makkah.
Umar kembali pada Rasulullah dan bertanya, Rasulullah ﷺ menjawab: “Ya!” Lalu Umar berkata, Lalu Rasulullah ﷺ mengizinkan Muslim untuk keluar dari tempat persembunyian dan menyebarkan Islam secara terbuka. Rasulullah ﷺ di depan, Umar di kanan beliau dan Hamzah di kiri beliau, dan seluruh kaum Muslimin mengikuti dari belakang. Setiap umat Muslim mulai berbaris menuju Ka’bah. Ini cara mereka menampakkan diri pada seluruh kota dan Quraisy. Semua orang berkumpul di sekitar mereka dengan penuh keheranan. Pada saat itu, para pemimpin Quraisy memahami bahwa angin kini berhembus ke arah sebaliknya.
Salah satu sahabat yang paling terkenal, Abdullah Ibn Mas’ud, menggambarkan Umar seperti, Terdapat perbedaan besar antara Umar yang belum Muslim satu jam lalu, dan Umar yang baru masuk Islam satu jam kemudian. Dari sosok kejam yang menyiksa orang-orang, menjadi seseorang yang bahkan tidak akan menyakiti seekor lalat. Dengan cahaya petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, cahaya yang tersembunyi di dalam dirinya mulai bersinar. Hari itu, benih iman ditanamkan di dalam hati Umar. Dan dari benih itu, Allah menumbuhkan pohon besar yang penuh dengan nurani dan keadilan.
Sampai-sampai pada masa kekhalifahan beliau, ia diberikan julukan dan tidak hanya manusia, bahkan hewan pun akan terlindungi dari ketidakadilan.