Mengapa Islam di Antara 4.300 Agama? Teknik Cemerlang Descartes - Towards Eternity
Diterbitkan pada
Ada 2,3 miliar umat Kristen, 2 miliar umat Islam, 1,1 miliar umat Hindu, 500 juta umat Buddha, dan 15 juta umat Yahudi di dunia. Dan total ada sebanyak 4.300 agama di dunia. Kalau begitu, beberapa orang mungkin bertanya, "Mengapa aku harus pilih Islam dari sekian banyak agama?" Bagaimana kita tahu Islam adalah agama yang tepat? Apakah bisa kita buktikan secara rasional? Kita akan jawab dengan teknik yang sangat menarik dikembangkan oleh filsuf Descartes. Teknik ini disebut 'Skeptisisme Cartesian'. Singkatnya dia mengatakan semisal kamu punya sekeranjang penuh berisi apel. Kamu masukkan tanganmu ke dalam keranjang dan mengambil apel yang bagus.
Lalu kamu masukkan lagi tanganmu, namun kali ini kamu mendapat apel busuk, jangan lanjut mengambil apel satu per satu untuk membuang yang busuk. Jangan repot-repot memeriksa mana yang bagus dan mana yang busuk. Sebaliknya, kosongkan seluruh keranjang lalu masukkan kembali ke dalam keranjang apel-apel yang bagus. Mari kita terapkan teknik ini pada persoalan tadi. Lagi pula, apa mungkin kita periksa satu per satu 4.300 agama? Aku rasa tidak. Lalu, mari kita lihat petunjuk di alam semesta menggunakan akal dan logika. Kita tentukan syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam agama yang benar dengan menggunakan ini.
Petunjuk ini memberi kita jawaban dari pertanyaan, "Mengapa Islam?" Sekarang, ketika membangun sebuah gedung, pertama kamu buat fondasinya, kan? Ada tahapan yang harus dilalui. Dalam persoalan ini, kita perlu eliminasi tahap demi tahap dimulai dari fondasinya. Oleh karena itu, tahapan kita adalah, Apakah Tuhan itu ada? Apakah agama diperlukan? Dan jika agama diperlukan, apakah harus ada Kitab Suci dan Rasul? Pertama, mari kita perhatikan fondasi bangunannya. Yakni pertanyaan tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak. Kamu mungkin memikirkan banyak metode berbeda untuk membuktikannya. Namun kali ini, kita cari jawaban pertanyaan tadi melalui alam semesta yang kita semua lihat.
Sekarang, dengarkan baik-baik agar mengerti contoh yang akan aku jelaskan. Menurut ilmu fisika, jika terjadi suatu tindakan, maka harus ada kekuatan yang mampu melakukan tindakan tersebut. Artinya, apa pun yang aku lihat sebagai pelaku tindakan, harus punya kekuatan yang cukup untuk melakukan tindakan tersebut. Contohnya, jika aku lihat seorang bayi menarik pesawat, aku akan mencari pelaku lain dari tindakan tersebut karena bayi tak mungkin bisa melakukannya. Aku akan berpikir ada sistem mekanis yang menggerakkan pesawat, dan lainnya.
Meski mataku melihat bayi yang menarik pesawat, pikiranku akan segera berpendapat, "Bayi tidak punya kekuatan yang cukup untuk menarik pesawat." Aku akan mulai mencari pelaku sesungguhnya yang mampu melakukannya dibalik bayi itu. Dan itu masuk akal, kan? Sama seperti contoh ini, ketika kita lihat alam semesta misalnya kita lihat sapi sebagai pelaku dari tindakan memproduksi susu. Sapi itu tidak tahu asam amino dalam susu yang dihasilkannya, dia juga tidak tahu kebutuhan tubuh manusia yang akan meminumnya. Tapi mampu menghasilkan susu yang dibutuhkan. Terlebih lagi, produksinya dengan mengonsumsi sesuatu yang sepertinya tidak ada hubungannya. Rumput.
JIka kita lihat contoh lainnya, kita lihat lebah beracun sebagai pelaku dari tindakan membuat madu yang paling manis. Lebah tidak tahu mineral yang ada di dalamnya saat memproduksinya. Atau tubuh lebah, sel-selnya, tidak tahu kebutuhan tubuh manusia yang akan memakan madu ini. Namun mampu menghasilkan madu yang bahkan bisa digunakan sebagai sarana pengobatan. Kemudian kita perhatikan contoh lainnya. Kita lihat pohon sebagai pelaku tindakan menghasilkan buah yang segar, manis, dan berwarna-warni dari tanah yang kering, tidak berasa, dan gelap. Tapi benih pohon ini tidak tahu rasa yang aku suka. Tidak tahu aroma yang aku suka. Tidak tahu bentuk yang aku suka. Tidak tahu kebutuhan tubuhku.
Meskipun hanya benih sederhana tanpa rasa atau aroma, mampu menghasilkan ratusan buah dengan rasa yang cocok di lidahku, dengan aroma yang cocok di hidungku, dengan keindahan yang menarik di mataku, dan manfaat bagi tubuhku. Pada saat ini, pikiranku langsung aktif dan mengatakan padaku para pelaku ini yang tampaknya melakukan semua ini tidak punya keterampilan yang diperlukan untuk tindakan tersebut. Maksudku, sangat menarik. Hal-hal tersebut memberikan orang lain sesuatu yang tidak mereka miliki. Tapi biasanya, itu tidak mungkin. Mari kita pikirkan contoh seperti ini. Misalkan kain di tanganku ini adalah tirai, dan kamu tidak melihatku.
Tirai ini mengambil pulpen dan menulis puisi, dan menggambar di sini. Semua akan bilang pulpen itu rupanya digerakkan oleh kain itu. Namun secara logis kita harusnya berpikir bahwa ada kekuatan di balik kain itu, di balik penyebab yang terlihat. Sama seperti dalam contoh ini, semua tindakan yang tadi dijelaskan menunjukkan adanya Pencipta yang mengendalikan semuanya di belakang layar. Jika kita bisa memahami sepenuhnya contoh-contoh tadi, barulah kita bisa melihat dengan mata batin kita bahwa ada Pencipta, Dia yang mengenal kita, yang bertindak di balik tirai, dan membuat semua ini terjadi sesuai kebutuhan kita.
Sekarang, setelah tahap pertama sudah jelas, agama-agama seperti Buddha, Jainisme, dan keyakinan filosofis seperti Ateisme, Agnostisisme, Naturalisme, dan Skeptisisme dapat dieliminasi. Karena harus ada Pencipta apa pun sebutan-Nya. Sekarang, menuju ke tahap kedua. Di sini kita akan menggunakan metode perbandingan dengan ilmu logika. Kira-kira seperti ini. Saat kita perhatikan di sekitar kita, kondisi berikut selalu ada di mana pun. Jika ada sebuah karya, sebuah produk, di hadapan kita, yang paling tahu tentu adalah orang yang membuatnya. Lalu, ketika ada yang akan membahasnya, orang yang paling layak bicara adalah orang yang membuatnya.
Contohnya, ketika aku membeli ponsel, ada buku panduannya, kan? Dengan menyertakannya, perusahaan pembuatnya berkata kepadaku, "Kami yang membuat ponsel ini. Maka secara logika, kami yang paling tahu, sampai ke detail terkecil. Dan dengan menyertakan panduan ini, kami menunjukkan faktanya." Bahkan produk sederhana pun punya. Kemudian, pikiran kita bertanya, ketika ada panduan bahkan dalam karya sederhana, apakah mungkin Sang Pencipta alam semesta, yang menciptakan manusia dan mengirimnya ke dunia tidak mengirimkan panduan pengguna yang dapat memandu mereka? Sepanjang sejarah, seluruh umat manusia menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa aku? Dari mana asalku? Ke mana aku akan pergi?
Apa tujuanku dalam hidup ini? Apakah mungkin Sang Pencipta memberiku akal sehingga aku bisa bertanya-tanya, tapi tidak memberiku pesan yang berisi jawabannya? Tentu saja Dia tidak akan membiarkan kita tersesat, tanpa informasi. Dia akan sampaikan, beri tahu kita tentang kehendak-Nya, dan kirim buku panduan yang menunjukkan jalannya. Maka kita mengerti agama yang kita cari harus berdasarkan buku. Harus memiliki panduan. Dan dengan tahap kedua, kita mengeliminasi agama seperti Shintoisme, atau kepercayaan seperti Ietsisme, Panteisme, dan Nihilisme. Lalu, jika aku bertanya padamu, Menurutmu apakah buku saja sudah cukup? Di sekolah kita diberikan buku. Apakah sudah cukup?
Bukankah kita juga perlu guru untuk mengajarkannya? Bahkan, kita perlu guru yang tidak hanya mengajarkan buku itu, tapi juga mengumpulkan siswa di kelas dan membuat mereka tertarik pada buku itu. Meskipun ada siswa yang tidak mau mendengarkan. Kurang lebihnya kamu pasti sudah paham yang aku maksud dengan analogi ini. Seperti guru yang menjelaskan bukunya dengan memberikan contoh dan narasi, mengatur ketertiban di kelas, agama yang kita cari juga membutuhkan pemimpin pengarah, seorang Utusan Tuhan. Kita juga bisa berpikir seperti ini: Di setiap bidang, ada ilmu teoritis dan ada penerapan praktiknya. Teks yang tertulis di buku adalah ilmu teoritis.
Jadi diperlukan seseorang untuk menunjukkannya menjadi tindakan, diterapkan dalam situasi kehidupan nyata. Ketika ada yang bertanya, "Bagaimana agar cara hidupku sesuai dengan tujuan hidupku? Sesuai dengan pedoman hidupku?" Dia perlu mengikuti teladan yang menunjukkan cara melakukannya sehingga dia juga bisa melakukannya sendiri. Jadi, jika kita kembali ke contoh guru tadi, tidak hanya cukup tahu teori-teori matematika. Penting untuk melihat dan mempelajari cara menggunakan dan menerapkannya. Tidakkah menurutmu lebih masuk akal adanya Rasul sebagai pemimpin? Bahkan ada contoh serupa di dunia hewan.
Misalnya, ketika kita perhatikan sarang lebah, kita lihat koloni yang hidup sebagai sebuah komunitas dan melakukan tujuan bersama. Ratu lebah ditunjuk sebagai pemimpin koloni itu. Atau, jika kita perhatikan koloni semut yang melakukan tujuan bersama, kita akan lihat ratu semut sebagai pemimpinnya. Apakah mungkin bagi Allah yang tidak membiarkan koloni ini tanpa pemimpin, pembimbing, kemudian membiarkan manusia tanpa panduan? Kita bicara tentang manusia. Makhluk hidup yang paling berharga jauh melampaui semut dan lebah. Allah telah menciptakan ratusan rasa untuk lidah mungil manusia. Apakah mungkin Dia membiarkan umat manusia mengembara tanpa tujuan?
Apakah mungkin Dia tidak memberi petunjuk dengan mengirimkan seorang utusan? Jika kita sudah memahami contoh ini secara menyeluruh, dengan tahap ketiga ini kita mengeliminasi agama seperti Hinduisme, Caodaisme, kepercayaan Druze, yang tidak beriman kepada utusan mana pun. Aku juga ingin menegaskan bahwa agama yang kita cari perlu menyebutkan mukjizat para utusan tersebut. Di awal tadi kita sebut ada 4300 agama di dunia. Ketika kita terapkan ketiga kriteria ini dan memilah semua agama dan keyakinan filosofis yang sumbernya bisa kita akses, yang tersisa hanyalah tiga agama. Kristen, Yahudi, dan Islam. Semua memiliki konsep Pencipta, kitab, dan utusan. Sekarang, aku ingin kamu perhatikan ini.
Kenyataan bahwa ketiga agama tersebut telah melewati semua tahapan tadi menunjukkan fondasi mereka didasarkan pada kebenaran. Ketika kita perhatikan Yahudi, kita perhatikan tokoh utamanya adalah Musa. Dan dalam Kristen, tokoh utamanya adalah Yesus, Alaihis Salam. Meskipun ajaran kedua Nabi besar ini sekarang rusak pada dua agama ini, yang dari awal mereka bawa adalah kebenaran. Ciri umum kedua agama ini adalah mereka tidak menerima Nabi Muhammad SAW sebagai Utusan sejati. Namun Islam menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir, lalu Yesus dan Musa juga adalah utusan-Nya.
Berdasarkan kenyataan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa jika kita bisa membuktikan Nabi Muhammad SAW adalah utusan yang sesungguhnya, maka Islam akan terbukti sebagai satu-satunya agama yang benar, dan Musa AS serta Yesus AS datang menyampaikan pesan yang sama dari Allah SWT. Yaa, pada saat inilah banyak bukti yang muncul di benak kita. Salah satu bukti yang paling penting adalah kehidupan beliau, bayangkan, beliau hidup di antara umatnya selama 40 tahun sebelum kenabiannya. Selama 23 tahun hidupnya sebagai Rasul, beliau berada di garis depan di antara orang yang sama. Dan setiap tindakan beliau diperhatikan. Kita akan melihat apakah orang tersebut pembohong atau tidak.
Logikanya, kita tahu orang-orang yang dekat dalam pangkat dan kedudukan bisa saling meniru. Namun semakin rendah kedudukan seseorang dari orang lain, semakin sulit untuk menirunya. Misalnya, pikirkan tentang Ibnu Sina, juga dikenal sebagai Avicenna di Barat. Seorang jenius kedokteran yang bukunya telah diajarkan di universitas di seluruh dunia selama berabad-abad. Menurutmu seberapa bagus orang yang bodoh bisa meniru dan berpura-pura menjadi Avicenna? Jika dia pergi ke suatu kota dan berkata, "Aku Avicenna," berapa banyak orang yang akan percaya padanya? Setelah beberapa waktu, orang-orang yang bersamanya akan menyadari bahwa dia pembohong dari sikap dan tindakannya, yaa kan?
Seorang penipu yang miskin tidak bisa meniru Sultan. Dalam waktu singkat, segala tentang dia akan menunjukkan bahwa dia penipu. Katakanlah dia bisa menirunya. Tapi sampai kapan dia bisa terus menipu orang? Setelah beberapa saat, kebohongannya akan terungkap entah bagaimana caranya. Mari kita mengambil perbandingan logis ini dan menerapkannya pada Nabi Muhammad SAW. Agama yang beliau bawa mengatakan berikut tentang beliau, "Dia adalah manusia yang Allah jadikan Rasul di antara banyak manusia. Utusan Allah yang terakhir yang telah dikirimkan kepada seluruh umat manusia. Manusia yang paling unggul dan paling bermoral." Sekarang, ada dua kemungkinan di sini.
Antara memang benar seperti itu adanya, atau beliau seorang pembohong. Tapi kamu harus ingat yang menyatakan beliau sebagai pembohong tidak bisa menerima beliau sebagai pembohong biasa. Tapi harus menerima beliau sebagai pembohong terbesar dalam sejarah karena berbohong tentang berada di posisi yang begitu tinggi. Kamu harus menerima beliau sebagai seseorang yang tidak menerima Tuhan, tidak takut akan mendapat hukuman-Nya, dan berbohong atas nama Allah. Misal benar seperti itu, mungkinkah beliau bisa bertahan selama 23 tahun? Mungkin ada yang berpendapat bahwa Rasul SAW hanya berhubungan dengan beberapa orang. Tapi sama sekali tidak benar.
Semasa hidup beliau sebagai rasul, orang-orang di sekitar, ribuan orang, telah mengamati setiap aspek diri beliau satu per satu. Kita tahu dengan tangan mana beliau makan, beliau melangkahkan kaki mana ketika memasuki suatu tempat, sampai ke urutan beliau memotong kuku. Maksudku, mereka memerhatikan beliau dengan saksama tidak ada orang lain dalam sejarah yang telah diperhatikan sedemikian mendalam. Apakah menurutmu jika mereka melihat adanya keanehan, kekurangan apa pun, mereka akan bertahan di sisi beliau dan menanggung semua kesulitan ini? Tentu saja tidak. Selain itu, yang mengamati beliau bukan hanya orang-orang yang beriman. Orang-orang yang mengingkari beliau juga memerhatikannya.
Beliau termasuk di antara mereka sebelum menjadi Rasul, bukan hanya setelahnya. Beliau lahir dan besar di antara mereka. Beliau bukan orang luar. Mereka tahu segalanya tentang beliau. Mereka begitu mempercayai beliau sebelum beliau menjadi seorang Rasul, mereka memberinya julukan, "Al-Amin," yang artinya "Dapat Dipercaya." Semua orang setuju bahwa beliau tidak akan pernah berbohong dan tahu betapa beliau sangat bermoral. Mereka begitu yakin, bahkan mereka yang menjadi musuh beliau setelah menjadi Rasul, masih mempercayakan harta bendanya kepada beliau. Mereka tidak menemukan cacat pada diri beliau baik sebelum maupun sesudah menjadi Rasul.
Yang bisa mereka lakukan hanya memfitnah beliau dengan menyebutnya sebagai penyihir, pesulap, itu saja. Jika seseorang berbohong beliau pasti ingin mendapat keuntungan, yaa kan? Namun tidak ada keuntungan apa pun yang beliau dapatkan. Malah sebaliknya, banyak kesulitan yang beliau hadapi. Beliau puasa selama berhari-hari. Terkadang beliau puasa tanpa sahur dan berbuka karena kemiskinan. Aisyah RA berkata, "Terkadang tidak ada makanan yang dimasak di rumah beliau selama dua bulan. Beliau makan kurma." Beliau berdoa, salat berjam-jam di malam hari. Apa itu salat Tahajud? Bukankah bangun dari tidur di sepertiga malam terakhir dan salat? Bagi umat Islam ini sunah, opsional.
Namun bagi Rasul SAW itu fardu, wajib. Mengapa beliau memaksakan diri begitu keras pada malam hari ketika tidak ada orang yang melihat? Hanya untuk berbohong? Beliau mengamalkan agama yang dibawanya selama 23 tahun lebih baik dari siapa pun, beribadah lebih dari siapa pun, berhati-hati agar tidak melakukan dosa lebih dari siapa pun. Bisakah pembohong terbaik di dunia punya sedikit saja sifat-sifat seperti ini? Di mana keuntungan dari semua ini? Apakah beliau melakukan ini demi status, uang, wanita? Semua ini ditawarkan oleh pihak lawan, dan beliau selalu memberikan jawaban yang sama.
"Seandainya kamu letakkan Matahari di tangan kananku, dan Bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan dakwah ini." Maksud ucapan beliau, "Perjuanganku bukan untuk keuntungan duniawi. Seandainya kamu memberiku bukan hanya itu, tapi seluruh dunia, bahkan Bulan dan Matahari, aku tidak akan menyerah." Beliau menerima ancaman pembunuhan sepanjang hidupnya. Beliau berulang kali menjadi sasaran upaya pembunuhan yang gagal. Tak satu pun dari mereka berhasil. Dan beliau meninggal di tempat tidurnya. Mengapa beliau mau menghadapi semua ini? Hanya demi kebohongan? Mengapa beliau tahan dilempari batu, menjadi sasaran cacian dan hinaan? Banyak sekali bukti dari kenabian beliau.
Tapi yang paling penting, kehidupan beliau, cara beliau berperilaku, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kenabian beliau. Seperti yang kita katakan di awal, antara beliau mengatakan yang sebenarnya, atau beliau seorang pembohong. Jika kita ditanya, "Apakah orang seperti itu pembohong, ataukah yang menyebut orang ini pembohong pembohong yang sesungguhnya?" Apa pertanyaan seperti ini perlu dijawab? Ketika kita perhatikan semua ini, kita mencapai kebenaran yang selama ini kita cari sepanjang hidup kita. Yakni Sang Pencipta yang kita cari adalah Allah SWT. Kitab yang kita cari adalah Al-Qur'an. Dan rasul yang kita cari adalah Nabi Muhammad SAW. Ingat pertanyaan kita tadi di awal.
Mengapa Islam, dari 4300 agama? Inilah alasannya.
Lalu kamu masukkan lagi tanganmu, namun kali ini kamu mendapat apel busuk, jangan lanjut mengambil apel satu per satu untuk membuang yang busuk. Jangan repot-repot memeriksa mana yang bagus dan mana yang busuk. Sebaliknya, kosongkan seluruh keranjang lalu masukkan kembali ke dalam keranjang apel-apel yang bagus. Mari kita terapkan teknik ini pada persoalan tadi. Lagi pula, apa mungkin kita periksa satu per satu 4.300 agama? Aku rasa tidak. Lalu, mari kita lihat petunjuk di alam semesta menggunakan akal dan logika. Kita tentukan syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam agama yang benar dengan menggunakan ini.
Petunjuk ini memberi kita jawaban dari pertanyaan, "Mengapa Islam?" Sekarang, ketika membangun sebuah gedung, pertama kamu buat fondasinya, kan? Ada tahapan yang harus dilalui. Dalam persoalan ini, kita perlu eliminasi tahap demi tahap dimulai dari fondasinya. Oleh karena itu, tahapan kita adalah, Apakah Tuhan itu ada? Apakah agama diperlukan? Dan jika agama diperlukan, apakah harus ada Kitab Suci dan Rasul? Pertama, mari kita perhatikan fondasi bangunannya. Yakni pertanyaan tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak. Kamu mungkin memikirkan banyak metode berbeda untuk membuktikannya. Namun kali ini, kita cari jawaban pertanyaan tadi melalui alam semesta yang kita semua lihat.
Sekarang, dengarkan baik-baik agar mengerti contoh yang akan aku jelaskan. Menurut ilmu fisika, jika terjadi suatu tindakan, maka harus ada kekuatan yang mampu melakukan tindakan tersebut. Artinya, apa pun yang aku lihat sebagai pelaku tindakan, harus punya kekuatan yang cukup untuk melakukan tindakan tersebut. Contohnya, jika aku lihat seorang bayi menarik pesawat, aku akan mencari pelaku lain dari tindakan tersebut karena bayi tak mungkin bisa melakukannya. Aku akan berpikir ada sistem mekanis yang menggerakkan pesawat, dan lainnya.
Meski mataku melihat bayi yang menarik pesawat, pikiranku akan segera berpendapat, "Bayi tidak punya kekuatan yang cukup untuk menarik pesawat." Aku akan mulai mencari pelaku sesungguhnya yang mampu melakukannya dibalik bayi itu. Dan itu masuk akal, kan? Sama seperti contoh ini, ketika kita lihat alam semesta misalnya kita lihat sapi sebagai pelaku dari tindakan memproduksi susu. Sapi itu tidak tahu asam amino dalam susu yang dihasilkannya, dia juga tidak tahu kebutuhan tubuh manusia yang akan meminumnya. Tapi mampu menghasilkan susu yang dibutuhkan. Terlebih lagi, produksinya dengan mengonsumsi sesuatu yang sepertinya tidak ada hubungannya. Rumput.
JIka kita lihat contoh lainnya, kita lihat lebah beracun sebagai pelaku dari tindakan membuat madu yang paling manis. Lebah tidak tahu mineral yang ada di dalamnya saat memproduksinya. Atau tubuh lebah, sel-selnya, tidak tahu kebutuhan tubuh manusia yang akan memakan madu ini. Namun mampu menghasilkan madu yang bahkan bisa digunakan sebagai sarana pengobatan. Kemudian kita perhatikan contoh lainnya. Kita lihat pohon sebagai pelaku tindakan menghasilkan buah yang segar, manis, dan berwarna-warni dari tanah yang kering, tidak berasa, dan gelap. Tapi benih pohon ini tidak tahu rasa yang aku suka. Tidak tahu aroma yang aku suka. Tidak tahu bentuk yang aku suka. Tidak tahu kebutuhan tubuhku.
Meskipun hanya benih sederhana tanpa rasa atau aroma, mampu menghasilkan ratusan buah dengan rasa yang cocok di lidahku, dengan aroma yang cocok di hidungku, dengan keindahan yang menarik di mataku, dan manfaat bagi tubuhku. Pada saat ini, pikiranku langsung aktif dan mengatakan padaku para pelaku ini yang tampaknya melakukan semua ini tidak punya keterampilan yang diperlukan untuk tindakan tersebut. Maksudku, sangat menarik. Hal-hal tersebut memberikan orang lain sesuatu yang tidak mereka miliki. Tapi biasanya, itu tidak mungkin. Mari kita pikirkan contoh seperti ini. Misalkan kain di tanganku ini adalah tirai, dan kamu tidak melihatku.
Tirai ini mengambil pulpen dan menulis puisi, dan menggambar di sini. Semua akan bilang pulpen itu rupanya digerakkan oleh kain itu. Namun secara logis kita harusnya berpikir bahwa ada kekuatan di balik kain itu, di balik penyebab yang terlihat. Sama seperti dalam contoh ini, semua tindakan yang tadi dijelaskan menunjukkan adanya Pencipta yang mengendalikan semuanya di belakang layar. Jika kita bisa memahami sepenuhnya contoh-contoh tadi, barulah kita bisa melihat dengan mata batin kita bahwa ada Pencipta, Dia yang mengenal kita, yang bertindak di balik tirai, dan membuat semua ini terjadi sesuai kebutuhan kita.
Sekarang, setelah tahap pertama sudah jelas, agama-agama seperti Buddha, Jainisme, dan keyakinan filosofis seperti Ateisme, Agnostisisme, Naturalisme, dan Skeptisisme dapat dieliminasi. Karena harus ada Pencipta apa pun sebutan-Nya. Sekarang, menuju ke tahap kedua. Di sini kita akan menggunakan metode perbandingan dengan ilmu logika. Kira-kira seperti ini. Saat kita perhatikan di sekitar kita, kondisi berikut selalu ada di mana pun. Jika ada sebuah karya, sebuah produk, di hadapan kita, yang paling tahu tentu adalah orang yang membuatnya. Lalu, ketika ada yang akan membahasnya, orang yang paling layak bicara adalah orang yang membuatnya.
Contohnya, ketika aku membeli ponsel, ada buku panduannya, kan? Dengan menyertakannya, perusahaan pembuatnya berkata kepadaku, "Kami yang membuat ponsel ini. Maka secara logika, kami yang paling tahu, sampai ke detail terkecil. Dan dengan menyertakan panduan ini, kami menunjukkan faktanya." Bahkan produk sederhana pun punya. Kemudian, pikiran kita bertanya, ketika ada panduan bahkan dalam karya sederhana, apakah mungkin Sang Pencipta alam semesta, yang menciptakan manusia dan mengirimnya ke dunia tidak mengirimkan panduan pengguna yang dapat memandu mereka? Sepanjang sejarah, seluruh umat manusia menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa aku? Dari mana asalku? Ke mana aku akan pergi?
Apa tujuanku dalam hidup ini? Apakah mungkin Sang Pencipta memberiku akal sehingga aku bisa bertanya-tanya, tapi tidak memberiku pesan yang berisi jawabannya? Tentu saja Dia tidak akan membiarkan kita tersesat, tanpa informasi. Dia akan sampaikan, beri tahu kita tentang kehendak-Nya, dan kirim buku panduan yang menunjukkan jalannya. Maka kita mengerti agama yang kita cari harus berdasarkan buku. Harus memiliki panduan. Dan dengan tahap kedua, kita mengeliminasi agama seperti Shintoisme, atau kepercayaan seperti Ietsisme, Panteisme, dan Nihilisme. Lalu, jika aku bertanya padamu, Menurutmu apakah buku saja sudah cukup? Di sekolah kita diberikan buku. Apakah sudah cukup?
Bukankah kita juga perlu guru untuk mengajarkannya? Bahkan, kita perlu guru yang tidak hanya mengajarkan buku itu, tapi juga mengumpulkan siswa di kelas dan membuat mereka tertarik pada buku itu. Meskipun ada siswa yang tidak mau mendengarkan. Kurang lebihnya kamu pasti sudah paham yang aku maksud dengan analogi ini. Seperti guru yang menjelaskan bukunya dengan memberikan contoh dan narasi, mengatur ketertiban di kelas, agama yang kita cari juga membutuhkan pemimpin pengarah, seorang Utusan Tuhan. Kita juga bisa berpikir seperti ini: Di setiap bidang, ada ilmu teoritis dan ada penerapan praktiknya. Teks yang tertulis di buku adalah ilmu teoritis.
Jadi diperlukan seseorang untuk menunjukkannya menjadi tindakan, diterapkan dalam situasi kehidupan nyata. Ketika ada yang bertanya, "Bagaimana agar cara hidupku sesuai dengan tujuan hidupku? Sesuai dengan pedoman hidupku?" Dia perlu mengikuti teladan yang menunjukkan cara melakukannya sehingga dia juga bisa melakukannya sendiri. Jadi, jika kita kembali ke contoh guru tadi, tidak hanya cukup tahu teori-teori matematika. Penting untuk melihat dan mempelajari cara menggunakan dan menerapkannya. Tidakkah menurutmu lebih masuk akal adanya Rasul sebagai pemimpin? Bahkan ada contoh serupa di dunia hewan.
Misalnya, ketika kita perhatikan sarang lebah, kita lihat koloni yang hidup sebagai sebuah komunitas dan melakukan tujuan bersama. Ratu lebah ditunjuk sebagai pemimpin koloni itu. Atau, jika kita perhatikan koloni semut yang melakukan tujuan bersama, kita akan lihat ratu semut sebagai pemimpinnya. Apakah mungkin bagi Allah yang tidak membiarkan koloni ini tanpa pemimpin, pembimbing, kemudian membiarkan manusia tanpa panduan? Kita bicara tentang manusia. Makhluk hidup yang paling berharga jauh melampaui semut dan lebah. Allah telah menciptakan ratusan rasa untuk lidah mungil manusia. Apakah mungkin Dia membiarkan umat manusia mengembara tanpa tujuan?
Apakah mungkin Dia tidak memberi petunjuk dengan mengirimkan seorang utusan? Jika kita sudah memahami contoh ini secara menyeluruh, dengan tahap ketiga ini kita mengeliminasi agama seperti Hinduisme, Caodaisme, kepercayaan Druze, yang tidak beriman kepada utusan mana pun. Aku juga ingin menegaskan bahwa agama yang kita cari perlu menyebutkan mukjizat para utusan tersebut. Di awal tadi kita sebut ada 4300 agama di dunia. Ketika kita terapkan ketiga kriteria ini dan memilah semua agama dan keyakinan filosofis yang sumbernya bisa kita akses, yang tersisa hanyalah tiga agama. Kristen, Yahudi, dan Islam. Semua memiliki konsep Pencipta, kitab, dan utusan. Sekarang, aku ingin kamu perhatikan ini.
Kenyataan bahwa ketiga agama tersebut telah melewati semua tahapan tadi menunjukkan fondasi mereka didasarkan pada kebenaran. Ketika kita perhatikan Yahudi, kita perhatikan tokoh utamanya adalah Musa. Dan dalam Kristen, tokoh utamanya adalah Yesus, Alaihis Salam. Meskipun ajaran kedua Nabi besar ini sekarang rusak pada dua agama ini, yang dari awal mereka bawa adalah kebenaran. Ciri umum kedua agama ini adalah mereka tidak menerima Nabi Muhammad SAW sebagai Utusan sejati. Namun Islam menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir, lalu Yesus dan Musa juga adalah utusan-Nya.
Berdasarkan kenyataan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa jika kita bisa membuktikan Nabi Muhammad SAW adalah utusan yang sesungguhnya, maka Islam akan terbukti sebagai satu-satunya agama yang benar, dan Musa AS serta Yesus AS datang menyampaikan pesan yang sama dari Allah SWT. Yaa, pada saat inilah banyak bukti yang muncul di benak kita. Salah satu bukti yang paling penting adalah kehidupan beliau, bayangkan, beliau hidup di antara umatnya selama 40 tahun sebelum kenabiannya. Selama 23 tahun hidupnya sebagai Rasul, beliau berada di garis depan di antara orang yang sama. Dan setiap tindakan beliau diperhatikan. Kita akan melihat apakah orang tersebut pembohong atau tidak.
Logikanya, kita tahu orang-orang yang dekat dalam pangkat dan kedudukan bisa saling meniru. Namun semakin rendah kedudukan seseorang dari orang lain, semakin sulit untuk menirunya. Misalnya, pikirkan tentang Ibnu Sina, juga dikenal sebagai Avicenna di Barat. Seorang jenius kedokteran yang bukunya telah diajarkan di universitas di seluruh dunia selama berabad-abad. Menurutmu seberapa bagus orang yang bodoh bisa meniru dan berpura-pura menjadi Avicenna? Jika dia pergi ke suatu kota dan berkata, "Aku Avicenna," berapa banyak orang yang akan percaya padanya? Setelah beberapa waktu, orang-orang yang bersamanya akan menyadari bahwa dia pembohong dari sikap dan tindakannya, yaa kan?
Seorang penipu yang miskin tidak bisa meniru Sultan. Dalam waktu singkat, segala tentang dia akan menunjukkan bahwa dia penipu. Katakanlah dia bisa menirunya. Tapi sampai kapan dia bisa terus menipu orang? Setelah beberapa saat, kebohongannya akan terungkap entah bagaimana caranya. Mari kita mengambil perbandingan logis ini dan menerapkannya pada Nabi Muhammad SAW. Agama yang beliau bawa mengatakan berikut tentang beliau, "Dia adalah manusia yang Allah jadikan Rasul di antara banyak manusia. Utusan Allah yang terakhir yang telah dikirimkan kepada seluruh umat manusia. Manusia yang paling unggul dan paling bermoral." Sekarang, ada dua kemungkinan di sini.
Antara memang benar seperti itu adanya, atau beliau seorang pembohong. Tapi kamu harus ingat yang menyatakan beliau sebagai pembohong tidak bisa menerima beliau sebagai pembohong biasa. Tapi harus menerima beliau sebagai pembohong terbesar dalam sejarah karena berbohong tentang berada di posisi yang begitu tinggi. Kamu harus menerima beliau sebagai seseorang yang tidak menerima Tuhan, tidak takut akan mendapat hukuman-Nya, dan berbohong atas nama Allah. Misal benar seperti itu, mungkinkah beliau bisa bertahan selama 23 tahun? Mungkin ada yang berpendapat bahwa Rasul SAW hanya berhubungan dengan beberapa orang. Tapi sama sekali tidak benar.
Semasa hidup beliau sebagai rasul, orang-orang di sekitar, ribuan orang, telah mengamati setiap aspek diri beliau satu per satu. Kita tahu dengan tangan mana beliau makan, beliau melangkahkan kaki mana ketika memasuki suatu tempat, sampai ke urutan beliau memotong kuku. Maksudku, mereka memerhatikan beliau dengan saksama tidak ada orang lain dalam sejarah yang telah diperhatikan sedemikian mendalam. Apakah menurutmu jika mereka melihat adanya keanehan, kekurangan apa pun, mereka akan bertahan di sisi beliau dan menanggung semua kesulitan ini? Tentu saja tidak. Selain itu, yang mengamati beliau bukan hanya orang-orang yang beriman. Orang-orang yang mengingkari beliau juga memerhatikannya.
Beliau termasuk di antara mereka sebelum menjadi Rasul, bukan hanya setelahnya. Beliau lahir dan besar di antara mereka. Beliau bukan orang luar. Mereka tahu segalanya tentang beliau. Mereka begitu mempercayai beliau sebelum beliau menjadi seorang Rasul, mereka memberinya julukan, "Al-Amin," yang artinya "Dapat Dipercaya." Semua orang setuju bahwa beliau tidak akan pernah berbohong dan tahu betapa beliau sangat bermoral. Mereka begitu yakin, bahkan mereka yang menjadi musuh beliau setelah menjadi Rasul, masih mempercayakan harta bendanya kepada beliau. Mereka tidak menemukan cacat pada diri beliau baik sebelum maupun sesudah menjadi Rasul.
Yang bisa mereka lakukan hanya memfitnah beliau dengan menyebutnya sebagai penyihir, pesulap, itu saja. Jika seseorang berbohong beliau pasti ingin mendapat keuntungan, yaa kan? Namun tidak ada keuntungan apa pun yang beliau dapatkan. Malah sebaliknya, banyak kesulitan yang beliau hadapi. Beliau puasa selama berhari-hari. Terkadang beliau puasa tanpa sahur dan berbuka karena kemiskinan. Aisyah RA berkata, "Terkadang tidak ada makanan yang dimasak di rumah beliau selama dua bulan. Beliau makan kurma." Beliau berdoa, salat berjam-jam di malam hari. Apa itu salat Tahajud? Bukankah bangun dari tidur di sepertiga malam terakhir dan salat? Bagi umat Islam ini sunah, opsional.
Namun bagi Rasul SAW itu fardu, wajib. Mengapa beliau memaksakan diri begitu keras pada malam hari ketika tidak ada orang yang melihat? Hanya untuk berbohong? Beliau mengamalkan agama yang dibawanya selama 23 tahun lebih baik dari siapa pun, beribadah lebih dari siapa pun, berhati-hati agar tidak melakukan dosa lebih dari siapa pun. Bisakah pembohong terbaik di dunia punya sedikit saja sifat-sifat seperti ini? Di mana keuntungan dari semua ini? Apakah beliau melakukan ini demi status, uang, wanita? Semua ini ditawarkan oleh pihak lawan, dan beliau selalu memberikan jawaban yang sama.
"Seandainya kamu letakkan Matahari di tangan kananku, dan Bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan dakwah ini." Maksud ucapan beliau, "Perjuanganku bukan untuk keuntungan duniawi. Seandainya kamu memberiku bukan hanya itu, tapi seluruh dunia, bahkan Bulan dan Matahari, aku tidak akan menyerah." Beliau menerima ancaman pembunuhan sepanjang hidupnya. Beliau berulang kali menjadi sasaran upaya pembunuhan yang gagal. Tak satu pun dari mereka berhasil. Dan beliau meninggal di tempat tidurnya. Mengapa beliau mau menghadapi semua ini? Hanya demi kebohongan? Mengapa beliau tahan dilempari batu, menjadi sasaran cacian dan hinaan? Banyak sekali bukti dari kenabian beliau.
Tapi yang paling penting, kehidupan beliau, cara beliau berperilaku, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kenabian beliau. Seperti yang kita katakan di awal, antara beliau mengatakan yang sebenarnya, atau beliau seorang pembohong. Jika kita ditanya, "Apakah orang seperti itu pembohong, ataukah yang menyebut orang ini pembohong pembohong yang sesungguhnya?" Apa pertanyaan seperti ini perlu dijawab? Ketika kita perhatikan semua ini, kita mencapai kebenaran yang selama ini kita cari sepanjang hidup kita. Yakni Sang Pencipta yang kita cari adalah Allah SWT. Kitab yang kita cari adalah Al-Qur'an. Dan rasul yang kita cari adalah Nabi Muhammad SAW. Ingat pertanyaan kita tadi di awal.
Mengapa Islam, dari 4300 agama? Inilah alasannya.