Towards Eternity
Kembali ke blog

"Aku Meninggalkan Kedokteran Demi Islam" — Kisah Belum Pernah Terungkap di Balik Towards Eternity

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Hari terburuk dalam hidupku. 21 Juni 2017. Pagi itu, aku menerima kabar paling menyakitkan dalam hidupku. Dalam sekejap, duniaku runtuh. Jam 6 pagi, ponselku berdering. Ternyata kakak perempuanku. Dengan suara panik dia bilang, "Ibu sulit bernapas, cepat datang ke rumah sakit," lalu ditutup. Aku sangat terkejut. Mengingat Ibu masuk rumah sakit karena gula darahnya naik, harusnya besok sudah boleh pulang. Saat aku menjenguknya semalam, semua tampak baik-baik saja. Aku langsung bergegas keluar rumah dan masuk ke mobil. Begitu sampai di rumah sakit, aku melihat ada petugas keamanan berdiri di depan kamar ibuku. Di sanalah aku sadar situasinya sangat gawat. Para dokter pasti tahu ini.

Petugas keamanan berjaga di depan pintu saat tindakan CPR sedang dilakukan di dalam. Saat itu, aku tahu rasanya saat lutut terasa lemas. Biasanya, sebagai seorang dokter medis, akulah yang melakukan tindakan darurat seperti itu. Tapi kali ini, tidak ada yang bisa kulakukan selain berdoa. Beberapa menit kemudian, dokternya keluar. Raut wajahnya menjelaskan semuanya. Dia bilang pelan, "Kami sudah berusaha, tapi maafkan kami." Aku kehilangan ibuku. Seluruh duniaku hancur berantakan. Selama berminggu-minggu, rasanya hampa sekali. Tapi aku juga merasakan kesabaran yang Allah berikan kepadaku. Rasanya di sini, sangat nyata. Dia menjaga hatiku agar tidak hancur. Alhamdulillah.

Saat itu usiaku 35 tahun. Dulu, aku salat mungkin hanya dua atau tiga kali sehari, tidak begitu menikmati karier sebagai dokter, dan menghabiskan waktu luang main Assassin's Creed di PlayStation, menonton bola, lalu lanjut berjam-jam menonton ulasan pertandingannya. Singkatnya, hidupku tanpa arah dan kehilangan tujuan. Aku seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa kompas. Aku terlalu lama terbuai dalam tidur, hingga ujian yang datang silih berganti pun belum cukup untuk menyadarkanku. Namun kemudian, di saat yang tak disangka, Allah mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku. Inilah beliau. Melalui kehilangan yang menyakitkan itu, Allah menyadarkanku kembali.

Dia tidak hanya menyadarkanku, tapi juga membuatku terjaga selama malam-malam setelahnya. Kita tahu bagaimana sebuah benih harus terkubur dan membusuk sebelum akhirnya tumbuh menjadi pohon. Hari itu, saat aku dan kembaranku memasukkan ibu ke liang lahat dengan tangan kami sendiri, terbujur kaku dibalut kain kafan, aku merasa seolah-olah ikut terkubur bersamanya. Dan aku pun mulai membusuk. Namun di balik perpisahan mendadak dengan orang yang paling kucintai ini, ternyata menjadi awal tumbuhnya sebuah pohon dari garis keturunannya, dan menjadikanku bagian dari sebuah gerakan yang menyentuh hati jutaan orang. Ibuku sangat mencintai Al-Qur'an.

Beliau selalu membacanya dan membagikan maknanya kepada orang-orang sekitar. Hari itu, saat kami memakamkannya, aku berkata dalam hati, "Ibu, insyaallah Ibu selamat. Dengan semua bekal yang Ibu siapkan, insyaallah Ibu akan berada di jannah." Dan di momen itulah, aku berjanji. "Aku tidak akan membiarkan panji Al-Qur'an yang sangat Ibu perjuangkan ini, jatuh tergeletak di tanah. Insyaallah, aku yang akan melanjutkannya." Beliau berjuang keras mendidik agama kami. Jadi aku berpikir, "Aku harus melanjutkan warisan ini." Maka, aku kembali ke Al-Qur'an setelah 20 tahun lamanya. Aku mulai membacanya lagi dan lagi. Dan kali ini, aku mencoba benar-benar memahaminya.

Sebagai dokter, ada beberapa hal yang terus mengusik pikiranku. Selama enam tahun di fakultas kedokteran, pendidikan yang kuterima sepenuhnya materialistis. Saat mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan imanku, aku menemukan video wawancara jalanan oleh Bestami di kanal Turki 'Towards Eternity'. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku berpikir, "Bagaimana orang semuda ini bisa begitu percaya diri, berwawasan luas, dan berpegang teguh pada imannya?" Pikirku, "Aku harus menemui orang-orang ini dan menanyakan semua pertanyaanku." Dan suatu hari, aku mendatangi pusat kegiatan mereka. Aku disambut dengan sangat hangat dan tulus.

Seiring waktu rutin mengikuti halakah mingguan dan membaca tafsir Risalah Nur, aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku. Alhamdulillah. Cahaya iman perlahan tumbuh di dalam diriku. Aku bisa merasakan kemanisannya. Alhamdulillah. Setelah beberapa lama, aku pun ingin berbuat sesuatu untuk Islam. Namun, sekadar keinginan saja tidak cukup. Bagaimanapun, aku ayah dari dua anak. Aku harus menafkahi keluargaku. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah memberiku kehormatan untuk mengabdi pada Al-Qur'an. Tak lama kemudian, Allah mengabulkan doa hamba-Nya. Dia membukakan jalan pendapatan pasif yang memberiku kebebasan finansial. Aku tidak perlu lagi bekerja demi mencari nafkah.

Aku bisa mendedikasikan seluruh waktuku untuk berkhidmat pada Al-Qur'an. Sesaat setelah itu, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai dokter. Maka aku memutuskan untuk pergi menemui Saudara Fatih, pendiri kanal 'Towards Eternity'. Kujelaskan situasiku dan kusampaikan keinginanku untuk mengabdi pada agama. Dan alhamdulillah, aku menjadi bagian dari tim yang sangat tulus ini. Ada potensi yang luar biasa di dalam tim ini. Namun, ada satu masalah. Selain Saudara Fatih, tak ada seorang pun di tim ini yang fasih berbahasa Inggris. Ternyata ada alasan mengapa dulu aku begitu giat belajar bahasa Inggris, meskipun sebenarnya belum membutuhkannya dan hal itu sangat jarang terjadi di Turki.

Kini, aku menjalankan salah satu peran paling penting di kanal bahasa Inggris. Alhamdulillah. Aku juga menjadi salah satu presenter utama di kanal ini. Rasanya kedua belah pihak sama-sama berdoa, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui tindakan. Dan di titik itulah, Allah mempertemukan jalan kami. Saat itulah aku menyadari sesuatu. Bediuzzaman Said Nursi adalah ulama yang memperjuangkan Islam bersama para muridnya di tengah kondisi yang sangat sulit di Turki.

Suatu hari, beliau membagikan sebuah renungan mendalam pada mereka, "Saat kamu mencermati kembali hidupmu, kamu akan melihat bahwa takdir telah mempersiapkanmu untuk menjadi dirimu yang sekarang, langkah demi langkah, tanpa pernah kamu sadari. Sepanjang hidupmu, takdir membentukmu menjadi versi dirimu yang sekarang untuk kelak mengabdi pada Al-Qur'an.

Setiap kesulitan, setiap titik balik, dan setiap ujian adalah bagian dari sebuah cobaan suci, menyiapkanmu menjadi pembela kebenaran." Maka, kembalinya aku pada agama setelah kehilangan ibu, menuju ke tempat yang tepat untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku, bahkan sistem pendidikan materialistis di kedokteran yang sempat menanamkan keraguan, saat tak perlu bekerja lagi, semuanya adalah jalan yang menuntunku ke tempat yang seharusnya. Ada alasan mengapa aku tidak pernah merasa benar-benar puas dengan profesiku dulu. Ada alasan mengapa aku mendapatkan istri yang mendampingiku sepanjang perjalanan spiritual ini.

Saat kami menikah 15 tahun lalu, kami berdua tak tahu pasti mengapa kami saling memilih satu sama lain. Namun selama ini, takdir secara perlahan sedang menyusun potongan teka-teki itu. 40 tahun lalu, saat Allah mempersiapkan hari-hari ini lewat rencana-Nya yang sempurna, ayahku tak tahu mengapa beliau memilih untuk berinvestasi daripada hidup dalam kemewahan. Subhanallah. Sungguh mengagumkan cara takdir bekerja. Ternyata, Allah sedang mempersiapkanku untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan.

Dia membentukku menjadi bagian dari tim inti sebuah platform yang kini memproduksi konten dalam 13 bahasa, dengan 2,8 juta pelanggan di kanal Inggris, 1,17 juta di bahasa Arab, 700 ribu di bahasa Urdu, dan 400 ribu di bahasa Rusia. Dan aku tidak sendirian. Setiap orang dari 40 anggota tim inti kami memiliki cerita yang serupa. Hidup kami masing-masing telah dibentuk melalui berbagai jalan yang berbeda agar kami bisa melakukan tugas yang kami jalankan sekarang. Dan pada akhirnya, semua jalan kami bertemu di titik yang sama. Dari sana, melalui kabel internet yang tertanam di bawah tanah, dakwah kami tersebar ke seluruh dunia.

Satu kabel menjangkau Rusia, kabel lain masuk ke rumah-rumah di Jepang. Lewat ponsel genggamnya, kami menjangkau seorang pemuda Muslim di Kanada. Ia hampir menjadi ateis, dan kini ia kembali memperkuat imannya. Ujung kabel lainnya kini berada di rumah seorang pemuda di Aljazair yang baru saja memutuskan untuk meninggalkan hubungan haramnya. Tahukah kalian mengapa aku membagikan semua ini? Karena orang di video ini, yang berjalan menuju takdirnya, bukan hanya aku semata. Dia mewakili setiap orang yang ingin mendedikasikan apa pun yang mereka bisa untuk Islam.

Jika kamu juga memperhatikan lebih dekat titik-titik balik dalam hidupmu sendiri, kamu akan mulai melihat jejak dari rencana suci Allah dalam banyak hal yang telah terjadi padamu. Dan sadarilah dengan penuh takjub dan syukur bahwa Allah telah mempersiapkanmu, langkah demi langkah, menjadi pribadi yang digariskan kelak. Saudara-saudariku yang hatinya bergetar demi Islam, pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri? Mengapa kamu menonton video Islami? Ada alasan untuk hal itu dari sudut pandang takdir. Mengapa kamu begitu peduli dengan masa depan Islam? Bukankah cukup hanya dengan salat lima waktu, membaca Al-Qur'an, dan menjadi Muslim biasa? Sekarang semuanya menjadi lebih jelas, ya kan?

Mengapa keluargamu begitu taat mendidik agamamu? Cobaan menyakitkan yang kamu lalui, yang sempat menghancurkan hatimu itu, ternyata Penciptamu sedang menggunakannya untuk menempa jiwamu. Satu video yang menyentuh hatimu dan mengubah hidupmu, atau pengalaman spiritual saat kamu merasa sangat dekat dengan Allah, dalam kisahmu, tanpa disadari, semuanya sedang mempersiapkanmu untuk sesuatu. Jadi kenyataannya, tidak ada seorang pun dalam cerita ini yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun takdir telah merintis jalannya, semenjak 70, atau bahkan 100 tahun yang lalu.

Itulah mengapa saat kamu melihat kembali masa lalumu, luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan semua ini dan ucapkan: "Subhanallah, ya Rabb, ternyata Engkau telah menyiapkanku untuk mengabdi pada agama ini sejak awal." Segala sesuatu dimulai dengan sebuah kisah. Dan kisah kanal kami bermula sekitar 20 tahun yang lalu. Di sinilah semuanya berawal. Segelintir mahasiswa yang bingung mencari jawaban berkumpul dan menyewa apartemen seluas 150 meter persegi. Hanya sebuah tempat kecil dan sederhana di mana mereka mulai mengadakan diskusi yang mendalam. Mereka tidak memiliki peralatan mewah, hanya kamera murah dan tripod ringkih yang hampir tidak bisa berdiri tegak.

Namun mereka punya hal yang jauh lebih berharga, yaitu niat yang tulus dan murni. Lalu, apa tema utama atau fokus penting dari 'Towards Eternity'? Pertama dan terpenting, kanal ini membuktikan rukun iman dan menawarkan jawaban berbasis bukti yang meyakinkan atas pertanyaan-pertanyaan sulit dan membingungkan yang dihadapi masyarakat saat ini. Selain memperkuat keimanan umat Islam, kami juga bertujuan memadamkan api spiritual yang menyerang keyakinan saat ini. Dan di saat yang sama, kami memperkenalkan Islam kepada audiens non-Muslim melalui argumen rasional dan bukti yang meyakinkan. Karena orang-orang saat ini tidak begitu tertarik dengan "apa". Mereka bertanya "mengapa".

"Mengapa Islam?" Dan dalam memberikan jawaban ini, salah satu sumber inspirasi terbesar kami adalah koleksi tafsir Al-Qur'an Risalah Nur. Kedua, kami fokus menggunakan teknik yang membuat pesan ini viral. Dengan kata lain, kami mencoba membalut kebenaran dengan kemasan viral. Melalui penulisan naskah, penceritaan, gaya pengeditan, presentasi, apa pun alat yang kami miliki, kami gunakan agar kontennya viral. Karena jika kamu sekadar berkata, "Hei, aku punya ilmu Islam, ayo dengarkan," algoritma tidak akan berkata, "Tentu, silakan." Itulah tepatnya alasan kami kini membalut kebenaran dengan kemasan viral. Pernahkah kamu melihat salah satu video balon kami?

Mungkin tampak sederhana, tapi video itu benar-benar mengubah kanal kami. Berkat video-video itu, kami mampu menarik perhatian ribuan anak muda. Hingga hari ini, video balon itu telah ditonton lebih dari 100 juta kali. Inilah bahasa-bahasa yang saat ini kami gunakan untuk memproduksi konten dan menjalankan kanal. Menurut data Looker Studio, kami bahkan punya penonton di Greenland. Faktanya, dalam bahasa Inggris, video kami telah ditonton di setiap negara di dunia kecuali satu. Yaitu Korea Utara. Dan ini adalah jumlah tayangan kami dalam bahasa Rusia. Jadi di negara-negara ini, ada orang-orang berbahasa Rusia yang menonton konten kami dalam bahasa tersebut. Tahukah kamu kata diaspora?

Itu merujuk pada komunitas yang tinggal di luar tanah air mereka yang mempertahankan bahasa ibu mereka dan meneruskannya ke generasi berikutnya. Jadi saat kami memasuki suatu negara, kami tidak hanya membawa satu bahasa, kami membawa 13. Begitulah cara kami mampu menjangkau orang-orang dari berbagai bahasa dan latar belakang yang berbeda. Sebenarnya, salah satu motivasi utama kami datang dari sesuatu yang kami dengar di video MrBeast. Dia berkata, "Jika kamu memproduksi konten dalam 15 bahasa lisan teratas di dunia, kamu bisa menjangkau 90% dari populasi global." Ide itu sangat menginspirasi kami. Mari kita jujur, dunia ini sangat luas.

Dan dalam hal berbagi pesan Islam kepada seluruh umat manusia, kita masih tertinggal jauh. Kenyataannya, ada jutaan orang di luar sana, orang-orang dengan hati tulus dan pikiran terbuka, yang menunggu untuk mendengar pesan ini. Setelah Piala Dunia Qatar, kami berkesempatan bertemu dengan Saudara Adnan Rashid, yang aktif melakukan dakwah sepanjang acara tersebut. Saat dia bercerita tentang respons orang Amerika Latin ketika mereka mendengar tentang Islam untuk pertama kalinya, dia menggunakan ungkapan kuat yang benar-benar mengguncang kami. Dia berkata, "Kita telah mengabaikan masyarakat Amerika Latin. Ini tamparan keras bagi kami.

Ada lebih dari 400 juta penutur bahasa Spanyol di dunia, namun jumlah konten Islami dalam bahasa ini sangatlah rendah. Saat kami mengerjakan dubbing bahasa Spanyol, hal yang sangat menarik terjadi. Aku akan ceritakan padamu. Awalnya, kami tidak bisa menemukan pengisi suara Muslim untuk kanal Spanyol kami. Jadi kami menyewa seorang pengisi suara Kristen bernama Pedro. Dia merekam beberapa video pertama, dan kami puas dengan hasil kerjanya. Lalu dia mengisi 10, 15, 20 video, dan perlahan dia mulai terkesan dengan kontennya. Karena dia terus terpapar pada naskah yang membahas tentang kontradiksi dalam agama Kristen dan bukti kebenaran Islam. Lalu suatu hari, dia mengirimi kami pesan.

Dia bilang, "Aku mulai merasakan kedekatan dengan Islam. Mungkinkah kita menjadwalkan panggilan telepon? Ada beberapa pertanyaan di benakku." Dan mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya. -"Asyhadu (Aku bersaksi) -"Asyhadu (Aku bersaksi) -an la (bahwa tidak ada) -an la (bahwa tidak ada) -ilaha (Tuhan) -ilaha (Tuhan) -illa (selain) -illa (selain) -Allah. -Allah. -Wa asyhadu (Dan aku bersaksi) -Wa asyhadu (Dan aku bersaksi) -anna (bahwa) -anna (bahwa) -Muhammadan (Muhammad) -Muhammadan (Muhammad) -abduhu (adalah hamba-Nya) -abduhu (adalah hamba-Nya) -wa rasuluhu (dan utusan-Nya)." -wa rasuluhu (dan utusan-Nya)." "Sekali lagi selamat, saudaraku.

Kamu punya dua miliar saudara dan saudari di seluruh dunia. Semua dosamu telah diampuni, dan jika insyaallah kamu meninggal dalam iman ini, kamu akan masuk surga abadi. Jadi bagaimana perasaanmu?" "Aku merasa luar biasa, aku merasa sangat, sangat antusias, aku emosional saat ini dan aku tidak tahu... Terima kasih banyak." "Dengan senang hati, saudaraku. Jadi kamu ambil langkah kecil saja, jangan terburu-buru. Jika kamu punya pertanyaan, bantuan, motivasi, apa pun yang kamu butuhkan, kami selalu ada untukmu, saudaraku. Kamu tahu, Allah memberimu hadiah hidayah ini. Tolong lindungi itu sebaik yang kamu bisa." "Baik, saudaraku, terima kasih banyak.

Kemarin aku mengisi suaramu untuk wawancara Joram." "Oh sempurna! Luar biasa." "Itu suatu kehormatan Aku sangat senang mendengar berita ini, alhamdulillah. Ini sangat memotivasi kami. Insyaallah kita akan segera bertemu, secara langsung insyaallah. Kamu tinggal di mana? Di Spanyol? Argentina?" -"Argentina! Aku tinggal di Argentina." -"Jauh sekali." Ini hanyalah satu contoh. Ada begitu banyak bangsa dan bahasa yang sangat terabaikan di luar sana. Dan kenyataannya, kami tidak bisa melakukan ini sendirian. Dan itulah tepatnya mengapa kami ingin membuat video ini. Kami berharap mungkin kami bisa menginspirasi seseorang.

Alhamdulillah, baru-baru ini kami mengalami perkembangan yang memberi kami banyak harapan untuk masa depan. YouTube memberi kami akses ke sesuatu yang saat ini hanya dimiliki sedikit kanal di dunia. Fitur audio multi-track. Kamu mungkin pernah melihatnya di video MrBeast. Saat kamu menonton dari negara tertentu, video secara otomatis diputar dalam bahasa negara tersebut. Fitur ini masih dalam tahap uji coba, dan kami juga penasaran ingin melihat apa yang bisa kami lakukan dengannya. Jadi kami mengujinya pada salah satu video kami. Bersamaan dengan videonya, kami mengunggah 13 trek audio terpisah, masing-masing dalam bahasa yang berbeda. Dan inilah hasilnya. Tugas kita adalah berusaha.

Hasil akhirnya ada di tangan Allah. Dalam satu sisi, kami melihat diri kami berhasil. Alhamdulillah. Namun di saat yang sama, kami merasa masih banyak yang belum berhasil kami lakukan. Insyaallah, kita semua akan meninggalkan dunia ini dengan iman di hati. Tapi ada delapan miliar manusia di Bumi ini. Jika kita hanya membuat konten untuk dua miliar umat Islam, jika kita hanya fokus melindungi diri kita sendiri, maka kita akan dimintai pertanggungjawaban atas enam miliar sisanya. Coba pikirkan. Setiap kali kamu menghitung 1, 2, 3... enam orang meninggalkan dunia ini. Ada yang meninggal dengan iman, tapi ada yang tidak. Mereka memasuki jalan yang tak bisa kembali.

Menghadapi kenyataan seperti itu, apa tanggung jawab kita? Sekadar berkata, "Itu bukan masalahku"? Mengapa kita tidak menjangkau orang-orang itu? Mengapa kita hanya memikirkan diri kita sendiri? Mereka tidak kehilangan hal kecil. Mereka kehilangan kehidupan abadi mereka. Jutaan orang menunggu uluran tangan untuk menjangkau mereka. Kotamu sedang kebakaran, tapi mungkin kamu baru saja menutup tirai, berpikir bahwa jika kamu tidak melihatnya, itu tidak terjadi. Jika ada orang tenggelam tepat di depan kita, dan kita punya pelampung di tangan kita, tapi kita tidak melemparkannya, bukankah itu menjadikan kita pembunuh?

Kita memegang di tangan kita obat spiritual seperti Al-Qur'an, sunah, ketakwaan, dan keimanan. Jika kita tidak peduli untuk menyampaikannya meski hanya pada satu orang, jika kita bahkan tidak mendoakannya, bukankah kita akan ikut bertanggung jawab? Dan kamu pun memikul beban ini. Kamu juga peduli akan hal ini. Itulah mengapa video ini hadir di hadapanmu, dan kamu masih menontonnya. Dan itulah sebabnya, saat ini berakhir, kamu akan menetapkan tujuan untuk dirimu sendiri. Entah kecil atau besar, kamu akan mengambil langkah untuk lebih mendalami agamamu, dan kamu akan memanjatkan doa untuk itu. Apakah aku membicarakan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi?

Saudara-saudariku, kondisi dunia tidak menyangkalnya. Sebaliknya, ia menegaskannya. Jika seseorang datang kepadamu di awal 1800-an, saat radio pun belum ada, dan berkata, "Islam suatu hari nanti akan menyebar ke seluruh dunia." Bagaimana reaksimu? Kamu mungkin tak akan membantah, tapi jauh di lubuk hatimu bertanya-tanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Jika mereka bilang, "TV sudah ada sekarang." Kamu akan bilang, "Baiklah. Tapi pesannya masih dikendalikan oleh lembaga penyiaran." Ingatlah kembali bagaimana media konvensional meracuni kita. Lalu datanglah internet. Kamu akan bilang, "Oke, itu masuk akal. Ia bisa menjangkau setiap rumah.

Tapi tetap saja, mereka yang memegang kendali." Lalu datanglah media sosial. Kini harapanmu mulai tumbuh. Dunia ada di Facebook. Mungkin sekarang kita akhirnya bisa melakukan sesuatu. Tapi algoritmanya tidak terlalu bagus. Lalu datanglah algoritma Reels, Shorts, dan TikTok. Ini mengubah segalanya. Sekarang, jumlah pengikut tidak lagi penting sama sekali. Jika kontenmu bagus, jika benar-benar viral, maka meskipun hanya dengan 10 pengikut, videomu bisa menjangkau 20 juta orang. Dan saat itulah aku berkata, "Inilah saatnya. Penghalang itu akhirnya tiada. Islam kini bisa menjangkau seluruh dunia." Tapi tunggu, bagaimana kita memproduksi konten dalam begitu banyak bahasa?

Itu masih menjadi penghalang besar. Dan kemudian datanglah kecerdasan buatan. Kini semuanya pas. Kini teka-tekinya sudah lengkap. Tidak ada lagi yang menghalangi jalan. Pesan ini kini bisa menjangkau setiap rumah, setiap kota kecil, setiap desa, setiap hati. Apa pun yang terjadi pada kami di jalan ini, apa pun yang kami hadapi, bahkan jika kami dilempari batu, kami, kalian semua, akan melanjutkan perjuangan ini hingga napas terakhir kita. Mengapa? Karena selama ini, keyakinan diam-diam menyusun teka-teki itu untukmu. Dengan kata lain, Allah sedang mempersiapkanmu menjadi pribadi yang Dia kehendaki.