Atheist Muslim Debate At The University! - HE COULDN'T ANSWER!
Diterbitkan pada
Aku seorang ateis. Dulu aku Muslim, lalu... Aku yakin hanya serangkaian kebetulan yang menciptakan manusia. Dulu aku bukan Islam KTP seperti banyak Muslim sekarang. Aku sholat. Aku membaca Al-Qur'an. Aku belajar bahasa Arab agar fasih membaca Al-Qur'an. Begitupun pemikiranku nggak kaku. Aku nggak keras kepala. Kalau ada penjelasan rasional dan jawaban memuaskan, Aku akan kembali menjadi seorang Muslim. Kamu lagi apa? Kamu kuliah di METU juga? Ya, aku jurusan Psikologi di METU. Topik kita hari ini adalah agama. Bisa cerita sedikit tentang agamamu? Ya, aku seorang ateis, namun 2-3 tahun lalu agamaku Islam. Bukan Islam KTP seperti banyak Muslim sekarang. Aku sholat. Aku membaca Al-Qur'an.
Aku belajar bahasa Arab agar fasih membaca Al-Qur'an. Aku membaca terjemahan Al-Qur'an, aku juga berpuasa. Jadi aku mengamalkan ajaran Islam. Tapi kemudian ada hal-hal yang kupikir nggak cocok sehingga keyakinanku luntur. Aku juga menonton video dialogmu dengan ateis, mereka bilang mereka juga ateis tapi nggak bisa berargumen. Nggak tau ya... Mungkin mereka beda proses menjadi ateisnya mungkin mereka menjadi ateis tanpa mengkaji. Jadi, mereka nggak bisa berargumen. Ateisme mereka jadi terlihat nggak logis, karena argumen mereka nggak kuat. Mereka seolah menjadi ateis agar dipandang keren. Kamu bilang kami ngomong sama ateis yang nggak mengkaji. Iya. Aku pikir mereka nggak punya hasil kajian.
Jadi kamu punya hasil kajian? Aku mengkaji sendiri. Aku mencoba menjawab pertanyaanku sendiri. Begitupun pemikiranku nggak kaku. Aku nggak keras kepala. Kalau ada orang yang bisa menjawab pertanyaanku dengan logis, kenapa nggak aku beragama lagi? Jadi, kamu mau bukti yang rasional. Coba kamu berikan bukti ketiadaan Allah? Atau bukti ketiadaan-Nya? Aku nggak bisa bilang, pasti nggak ada pencipta. Sebenarnya, aku agnostik tentang Tuhan, tapi aku pikir agama itu memang nggak ada. Oke, mari kita bahas Pencipta terlebih dulu. Contohnya, kalau kutanya, "Berapa mahasiswa di kampus ini?" Kamu bilang "Aku nggak tau." Kalau ada bukti, atau dokumen tentang jumlah mahasiswa, kita jadi tau. Benar kan?
Ya. Kalau aku memberikan bukti keberadaan Pencipta, dengan rasional, logis dan jelas, "yang tidak diketahui" jadi diketahui kan? Iya, tapi aku nggak bisa langsung setuju. Aku perlu mengkaji lagi, tapi... Aku akan memberikanmu bukti. Oke, aku mendengar. Kalau masuk akal, kamu bisa memutuskan sekarang. Baiklah, lanjutkan. Bayangkan kita berada di depan Masjid Selimiye. Ini satu bukti konkrit ya. Kita di depan Masjid Selimiye dan kita ingin tahu proses pembangunannya. Ada 4 pilihan. Pertama, kita bisa bilang, ada sekelompok orang buta, tuli, dan bodoh, mereka saling bersepakat membangun masjid ini.
Atau kedua: Batu bata saling setuju satu sama lain dan berkata, "Tunggu apa lagi, ayo kita bangun masjid." Jadi para batu bata pun membangun masjid. Atau ketiga: Aku melihat ada desain arsitektur masjid yang menggambarkan pembangunannya. Lalu aku bilang desain itu yang membangun masjid ini. Yang keempat: Ada arsitek, seperti Mimar Sinan. Dia jenius, membangun masjid ini dengan ilmu, kehendak, dan kekuasaannya. Yang mana yang kamu pilih? Aku pilih Mimar Sinan sebagai pembuat. Oke, tapi manusia itu kan strukturnya lebih kompleks dan teratur dibanding masjid... Benar nggak? Iya, benar. Ketika aku melihat manusia dengan rasional dan logis, aku bertanya hal yang sama.
Manusia memiliki sekitar seratus triliun sel. Di dalam setiap sel, ada delapan ratus unsur yang bernama mitokondria. Dan ada 10 ribu partikel bernama ribosom. Setiap sel terbentuk sistematis dalam struktur yang menakjubkan. Menurut profesor biologi Michael Denton: "Setiap sel seperti kota New York." Berapa banyak sel dalam tubuh kita? Ada 100 triliun sel seperti kota New York. Ketika melihat struktur sekompleks itu, Aku bertanya bagaimana ia terbentuk. Terus, sel dan tubuh manusia tidak hanya terbentuk sekali seperti masjid. Tubuh manusia terbentuk ulang setiap detik, kan? Iya, benar. Setiap detik, 10,000 sel darah merah tercipta, dan 50 juta sel terbentuk kembali.
Di dalam otak kita, bukankah 10/16 proses terjadi setiap detik? Iya, benar. Aku melihat struktur sekompleks ini, sehinggga bertanya proses terbentuknya. Seperti masjid tadi, ada empat pilihan bagaimana tubuh manusia terbentuk. 1-Alam yang buta, tuli, dan bodoh bersepakat membuat manusia. Tapi nggak logis kan. Kenapa? Kalau buta, tuli, dan bodoh, bagaimana bisa bersepakat untuk terus membentuk manusia. Tadi, kita bilang masjid aja nggak mungkin begitu, apalagi manusia, kan? Iya, benar nggak bisa. Atau pilihan kedua: Atom yang membentuk tubuh manusia di antara mereka sendiri. Mereka bilang begini: "Tunggu apa lagi? Ayo kita bentuk manusia ini." Dan mereka terus membentuknya setiap detik.
Kan nggak masuk akal juga. Kenapa? Tadi kita bilang, batu bata nggak mungkin bersatu untuk membuat masjid. Jadi, atom tanpa nyawa juga nggak mungkin bersatu membentuk manusia. Walaupun tadi dianggap bisa. Atau pilihan ketiga: Kita bilang desain masjid bukan pembangun masjid karena ia hanyalah sekumpulan kertas. Jadi, DNA juga nggak bisa menciptakan manusia. Karena DNA itu seperti sekumpulan kertas, bukan penulisnya. Jadi kita nggak bisa bilang DNAlah pembentuk manusia. Persis desain tadi juga nggak bisa membentuk apa-apa. Atau pilihan keempat: Kita bilang, ya, ada arsitek. Yang menciptakan manusia setiap detik, dari sejak awal.
Ada entitas berpengetahuan yang memiliki kehendak, kekuasaan, kehidupan. Seperti Mimar Sinan membangun masjid, Pencipta alam semesta membuat manusia dan Dia adalah arsitek yang terus menciptakan. Maka aku tanya lagi. Kalau kita terima arsiteklah pembangunnya, bukankah kita harus menerima manusia juga ada Penciptanya. Yang tidak hanya menciptakan kita tapi jutaan dan milyaran manusia lain dari dulu. Bukankah kesimpulannya ada Pencipta yang terus merancang dan membentuk manusia? Belum tentu. Aku pikir penciptaan bisa terjadi karena kebetulan. Aku pikir serangkaian kebetulanlah yang menciptakan manusia. Jadi, aku menolak ide bahwa manusia harus ada Penciptanya.
5 orang per detik, 350,000 orang per hari, bukan hanya manusia, semua makhluk hidup, mungkin jutaan makhluk hidup diciptakan setiap hari. Siapa yang kamu kira dapat terus menciptakan semua ini? Entitas apa yang melakukan hal ini? Setiap detik... DNAku melakukannya. Tapi tadi kita udah bilang bahwa desain nggak bisa menciptakan bangunan. Kita bilang arsiteklah yang menciptakan bangunan sesuai desain. Jadi, DNA juga nggak bisa menciptakan. Yang bisa hanya arsitek yang menciptakan dan membentuk manusia sesuai desain DNA. Kamu juga nggak setuju hal ini tadi. Iya, DNA tidak melakukan hal ini, DNA tidak menciptakan manusia. Ada DNA di setiap sel kita, dalam inti tubuh kita.
Contohnya, DNA otot jantung menginstruksikan jantung berdetak, dan jantung pun berdetak. Apa buktinya, apa bukti bahwa ia pemberi instruksi? Karena DNA hanyalah desain. Tidak ada kemampuan menginstruksikan. DNA hanyalah sistem berisi informasi. Kamu mungkin sudah belajar biologi. Apapun yang kamu bilang, sel kita yang menerima dan melakukan instruksi itu. Tidak, tidak melakukan. Siapa yang membuat sel ini melakukan instruksi? Memang ada prosesnya. Tapi siapa yang melaksanakannya? Aku bertanya tentang pelaksana ini. Kamu bilang bukan DNA. Jadi siapa? Oke, katakanlah kita bertemu. Perlukah Pencipta agar kita bertemu seperti sekarang? Maksudku begini.
Pencipta tidak diperlukan keberadaanNya di sini. Kamu harus ingat ini. Kamu harus bilang: "Oke baiklah. Kalau bukan DNA, siapa?" Aku bilang baiklah, kita diskusikan lebih lanjut. Aku udah memberikan kamu ciri-ciri siapa yang dimaksud. Katakanlah kita bilang kita nggak tau. Kita tuntaskan dulu. Kita bilang harus ada sesuatu dengan ciri-ciri ini. Tanpa pengetahuan, sesuatu itu nggak bisa melakukan hal ini. Ia harus berpengetahuan. Kalau nggak berkehendak dan nggak bisa memutuskan, tentu nggak bisa melakukan apapun. Ia harus memiliki kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaannya harus berkelanjutan sehingga ia harus punya kehidupan. Karena, benda mati nggak bisa melakukan apapun.
Dan sesuatu tanpa ciri-ciri ini nggak bisa menciptakan manusia. Dan ini baru manusia ya contohnya. Aku bilang DNA nggak bisa membuat manusia terus menerus. Karena harus ada sesuatu dengan ciri-ciri di atas. Aku melihat alam. Apakah alam nggak bernyawa? Memang nggak bernyawa. Apakah alam berpengetahuan? Tidak. Ia buta, tuli, dan bodoh. Ingat contoh pertama tadi. Kita bilang masjid nggak bisa tercipta begitu saja. Jadi siapa yang menciptakan peristiwa yang terjadi setiap hari ini? Kalau bukan DNA, harus ada jawaban lain. Harus ada sesuatu yang lain. Kita anggaplah sesuatu itu "x" sekarang. Kita biarkan sebagai pertanyaan. Tapi harus ada sesuatu dengan empat ciri, harus ada sesuatu.
Tadi kita bilang tiga dari empat pilihan nggak mungkin. Kita menyimpulkan bersama-sama. Hanya ada satu pilihan tersisa. Oke, katakanlah benar. Katakanlah manusia harus ada penciptanya... Oke, haruskah penciptaan Tuhan seperti yang digambarkan Islam? Contohnya, bayi. Seorang bayi meninggal, lalu apa yang terjadi? Dia nggak berdosa. Tapi dia masuk surga. Jadi apa bedanya antara bayi nggak berdosa yang ke surga, dan guru saya yang memberikan nilai A karena nggak ada lagi kertas ujian? Kan, kita harus menyelesaikan ujian. Baru bisa dinilai lulus atau gagal. Jadi, kalau ada peserta ujian yang datang dan mendengar: "Nggak ada lagi kertas ujian bagimu.
Ujianmu sudah berakhir.” Dan dia langsung lulus. Apakah hal ini adil? Di mana adilnya? Kita harus membahas hal ini dulu. Karena agar tercapai keadilan, kita harus melakukan sesuatu terlebih dulu. Contohnya, kamu membeli hp. Oke? Kamu beli hp dari toko. Kalau hpnya rusak, kamu bisa melapor ke Pelayanan Konsumen, atau pengadilan karena kamu udah membeli hp itu. Benar kan? Ya. Kenapa? Karena kamu udah membelinya. Tapi katakanlah ada orang ke sini dan melihat kita berdiskusi. Dia bilang "Diskusi kamu seru sekali." Lalu dia memberikanmu 2 mobil sebagai hadiah. Memberikanku 5 villa. Bisakah kamu tanya "Saudaraku, kenapa sih" "Kenapa memberikanku 2 mobil sedangkan dia 5 villa. Nggak adil jadinya.
Aku akan ke pengadilan untuk menggugat." Apa yang akan dikatakan hakim kepadamu? Sama kasusnya, manusia juga nggak bisa menggugat. Karena manusia nggak memberikan sesuatu sebagai balasan. Tapi dia pasti menerima banyak rahmat Tuhan di bumi, lalu kemudian bisa masuk surga. Jadi logikanya karena dia nggak memberi apapun sebagai balasan, konsep keadilan jadi nggak berlaku. Kalau kamu nanya: "Kenapa dia yang ke surga? Padahal aku yang berusaha." Kutanya padamu, buka jaketmu dan pakai terbalik. Dan kalau kubilang , "Ubah warna jaket ini" kamu patuhi nggak? Masuk akal nggak. Nggak. Kenapa? Karena jaket itu milikmu, suka-suka kamu mau ngapain aja.
Serupa, bumi, surga, dan akhirat adalah milik Allah. Sang Pemilik bisa berbuat sesuka hati kepada yang dimilikinya. Contohnya, Dia bisa membuat tumbuhan di bumi atau langsung di surga. Bagaimana kita bisa menolak? Nggak bisa. Kenapa nggak bisa? Ada mawar di sini, Dia bisa menanam mawar di sana juga. Seperti bayi tadi... Bayangkan mawar kecil, contohnya. Dia bisa membawa mawar ke sini, dan setelah orang senang melihatnya. Dia bisa membawa mawar itu langsung ke surga. Aku nggak bisa menolak. Kenapa? Karena nggak ada kaitannya denganku. Karena Allah bilang dalam ayat... Kita bilang kita akan berdiskusi tentang Islam.
Allah bilang dalam Surah Maryam: "...dan dia akan datang kepada Kami seorang diri..." seorang diri. Jadi, secara individu. Dengan kata lain, semua orang akan ditanya secara individu. Contohnya, apapun ciri yang kamu miliki, Allah akan bertanya tentangnya. Dia akan bertanya tentang apa yang diberikanNya padaku. Serupa, tindakan kita membuat kita bertanggung jawab atas ciri kita sendiri. Begitu juga bayi itu. Apakah bayi itu tetap di bumi, atau langsung ke surga, nggak ada hubungannya dengan keadilan padaku. Dan kita tahu Allah menciptakan setiap manusia secara individu. Apapun yang diberikannya secara individu, akan dimintanya kembali dengan adil. Kira-kira begitulah konsep keadilannya.
Kalaupun ada sesuatu dalam Islam yang nggak rasional bagi kita. Fakta bahwa ada yang nggak rasional bukan berarti bukti kesalahan. Kenapa? Katakanlah kita hidup pada zaman Mehmed Sang Penakluk, oke? Pada zaman Mehmet Sang Penakluk, ada cap Usmaniyah di mana-mana. Cap pertanda Sultan Usmaniyah. Dan dia memerintahkan: "Nggak ada yang boleh keluar rumah selama 5 tahun." Masuk akal nggak? Nggak. Nggak masuk akal. Rasional nggak jadinya kalau kubilang; "Mehmet Sang Penakluk itu sebenarnya nggak ada." Bisakah disimpulkan seperti itu? Nggak bisa. Untuk contoh kedua, bisakah kubilang; Ada pertanda Usmaniyah di mana-mana, nggak rasional bagiku. Lalu, bisakah kubilang, kekuasaan Usmaniyah nggak ada?
Nggak bisa. Kenapa? Karena ada pertanda Usmaniyah di mana-mana. Jadi kita akan bertanya; Kenapa Mehmet Sang Penakluk melakukan sesuatu? Kenapa Dia mengatur seperti itu? Itu seharusnya pertanyaannya. Serupa dengan peraturan Allah dalam Islam. Jika kamu bilang: "Aturan Islam ini nggak masuk akal bagiku." Kesimpulan bahwa ‘Kalau ada aturan itu, maka nggak ada Tuhan’ nggak logis. Bahwa aku nggak suka aturan Allah bukan bukti Islam itu salah, dalam Islam ada seperangkat aturan, Kenapa? Karena ada pertanda di mana-mana. Contohnya, ada ayat dalam Surah Rum yang membahas masa depan. Bunyinya: Ada perang antara Yunani dan Persia. Dan Yunani pada waktu itu kalah.
Sementara Yunani dianggap sudah benar-benar kalah, kemudian mereka menang dan mengalahkan Persia. Jadi ayatnya membahas masa depan, peristiwa yang terjadi 9 tahun kemudian. Dan aku bilang ini pertanda bagiku. Bagaimana manusia bisa meramal masa depan? Karena manusia nggak bisa meramal masa depan, pemilik pertanda ini juga adalah pemilik Islam. Artinya pertanda yang tidak logis bukan bukti kesalahan Islam, atau bukti kesalahan Allah. Jadi, bukankah lebih logis mencari tahu dari dalam Dengan menerima Islam dan mencari jawaban dari dalam Islam?" Maksudku... Hal-hal ini harus dipertimbangkan. Tidak bisa diputuskan cepat dengan akal manusia. Kamu bilang kamu akan mempertimbangkannya.
Ya, aku selalu berpikir tentang agama dan aku akan terus berpikir. Video-videomu telah mengubah dan memperkaya pikiranku. Memberikanku arah. Aku akan berpikir dan menganalisa dari berbagai sisi. Aku senang sekali.
Aku belajar bahasa Arab agar fasih membaca Al-Qur'an. Aku membaca terjemahan Al-Qur'an, aku juga berpuasa. Jadi aku mengamalkan ajaran Islam. Tapi kemudian ada hal-hal yang kupikir nggak cocok sehingga keyakinanku luntur. Aku juga menonton video dialogmu dengan ateis, mereka bilang mereka juga ateis tapi nggak bisa berargumen. Nggak tau ya... Mungkin mereka beda proses menjadi ateisnya mungkin mereka menjadi ateis tanpa mengkaji. Jadi, mereka nggak bisa berargumen. Ateisme mereka jadi terlihat nggak logis, karena argumen mereka nggak kuat. Mereka seolah menjadi ateis agar dipandang keren. Kamu bilang kami ngomong sama ateis yang nggak mengkaji. Iya. Aku pikir mereka nggak punya hasil kajian.
Jadi kamu punya hasil kajian? Aku mengkaji sendiri. Aku mencoba menjawab pertanyaanku sendiri. Begitupun pemikiranku nggak kaku. Aku nggak keras kepala. Kalau ada orang yang bisa menjawab pertanyaanku dengan logis, kenapa nggak aku beragama lagi? Jadi, kamu mau bukti yang rasional. Coba kamu berikan bukti ketiadaan Allah? Atau bukti ketiadaan-Nya? Aku nggak bisa bilang, pasti nggak ada pencipta. Sebenarnya, aku agnostik tentang Tuhan, tapi aku pikir agama itu memang nggak ada. Oke, mari kita bahas Pencipta terlebih dulu. Contohnya, kalau kutanya, "Berapa mahasiswa di kampus ini?" Kamu bilang "Aku nggak tau." Kalau ada bukti, atau dokumen tentang jumlah mahasiswa, kita jadi tau. Benar kan?
Ya. Kalau aku memberikan bukti keberadaan Pencipta, dengan rasional, logis dan jelas, "yang tidak diketahui" jadi diketahui kan? Iya, tapi aku nggak bisa langsung setuju. Aku perlu mengkaji lagi, tapi... Aku akan memberikanmu bukti. Oke, aku mendengar. Kalau masuk akal, kamu bisa memutuskan sekarang. Baiklah, lanjutkan. Bayangkan kita berada di depan Masjid Selimiye. Ini satu bukti konkrit ya. Kita di depan Masjid Selimiye dan kita ingin tahu proses pembangunannya. Ada 4 pilihan. Pertama, kita bisa bilang, ada sekelompok orang buta, tuli, dan bodoh, mereka saling bersepakat membangun masjid ini.
Atau kedua: Batu bata saling setuju satu sama lain dan berkata, "Tunggu apa lagi, ayo kita bangun masjid." Jadi para batu bata pun membangun masjid. Atau ketiga: Aku melihat ada desain arsitektur masjid yang menggambarkan pembangunannya. Lalu aku bilang desain itu yang membangun masjid ini. Yang keempat: Ada arsitek, seperti Mimar Sinan. Dia jenius, membangun masjid ini dengan ilmu, kehendak, dan kekuasaannya. Yang mana yang kamu pilih? Aku pilih Mimar Sinan sebagai pembuat. Oke, tapi manusia itu kan strukturnya lebih kompleks dan teratur dibanding masjid... Benar nggak? Iya, benar. Ketika aku melihat manusia dengan rasional dan logis, aku bertanya hal yang sama.
Manusia memiliki sekitar seratus triliun sel. Di dalam setiap sel, ada delapan ratus unsur yang bernama mitokondria. Dan ada 10 ribu partikel bernama ribosom. Setiap sel terbentuk sistematis dalam struktur yang menakjubkan. Menurut profesor biologi Michael Denton: "Setiap sel seperti kota New York." Berapa banyak sel dalam tubuh kita? Ada 100 triliun sel seperti kota New York. Ketika melihat struktur sekompleks itu, Aku bertanya bagaimana ia terbentuk. Terus, sel dan tubuh manusia tidak hanya terbentuk sekali seperti masjid. Tubuh manusia terbentuk ulang setiap detik, kan? Iya, benar. Setiap detik, 10,000 sel darah merah tercipta, dan 50 juta sel terbentuk kembali.
Di dalam otak kita, bukankah 10/16 proses terjadi setiap detik? Iya, benar. Aku melihat struktur sekompleks ini, sehinggga bertanya proses terbentuknya. Seperti masjid tadi, ada empat pilihan bagaimana tubuh manusia terbentuk. 1-Alam yang buta, tuli, dan bodoh bersepakat membuat manusia. Tapi nggak logis kan. Kenapa? Kalau buta, tuli, dan bodoh, bagaimana bisa bersepakat untuk terus membentuk manusia. Tadi, kita bilang masjid aja nggak mungkin begitu, apalagi manusia, kan? Iya, benar nggak bisa. Atau pilihan kedua: Atom yang membentuk tubuh manusia di antara mereka sendiri. Mereka bilang begini: "Tunggu apa lagi? Ayo kita bentuk manusia ini." Dan mereka terus membentuknya setiap detik.
Kan nggak masuk akal juga. Kenapa? Tadi kita bilang, batu bata nggak mungkin bersatu untuk membuat masjid. Jadi, atom tanpa nyawa juga nggak mungkin bersatu membentuk manusia. Walaupun tadi dianggap bisa. Atau pilihan ketiga: Kita bilang desain masjid bukan pembangun masjid karena ia hanyalah sekumpulan kertas. Jadi, DNA juga nggak bisa menciptakan manusia. Karena DNA itu seperti sekumpulan kertas, bukan penulisnya. Jadi kita nggak bisa bilang DNAlah pembentuk manusia. Persis desain tadi juga nggak bisa membentuk apa-apa. Atau pilihan keempat: Kita bilang, ya, ada arsitek. Yang menciptakan manusia setiap detik, dari sejak awal.
Ada entitas berpengetahuan yang memiliki kehendak, kekuasaan, kehidupan. Seperti Mimar Sinan membangun masjid, Pencipta alam semesta membuat manusia dan Dia adalah arsitek yang terus menciptakan. Maka aku tanya lagi. Kalau kita terima arsiteklah pembangunnya, bukankah kita harus menerima manusia juga ada Penciptanya. Yang tidak hanya menciptakan kita tapi jutaan dan milyaran manusia lain dari dulu. Bukankah kesimpulannya ada Pencipta yang terus merancang dan membentuk manusia? Belum tentu. Aku pikir penciptaan bisa terjadi karena kebetulan. Aku pikir serangkaian kebetulanlah yang menciptakan manusia. Jadi, aku menolak ide bahwa manusia harus ada Penciptanya.
5 orang per detik, 350,000 orang per hari, bukan hanya manusia, semua makhluk hidup, mungkin jutaan makhluk hidup diciptakan setiap hari. Siapa yang kamu kira dapat terus menciptakan semua ini? Entitas apa yang melakukan hal ini? Setiap detik... DNAku melakukannya. Tapi tadi kita udah bilang bahwa desain nggak bisa menciptakan bangunan. Kita bilang arsiteklah yang menciptakan bangunan sesuai desain. Jadi, DNA juga nggak bisa menciptakan. Yang bisa hanya arsitek yang menciptakan dan membentuk manusia sesuai desain DNA. Kamu juga nggak setuju hal ini tadi. Iya, DNA tidak melakukan hal ini, DNA tidak menciptakan manusia. Ada DNA di setiap sel kita, dalam inti tubuh kita.
Contohnya, DNA otot jantung menginstruksikan jantung berdetak, dan jantung pun berdetak. Apa buktinya, apa bukti bahwa ia pemberi instruksi? Karena DNA hanyalah desain. Tidak ada kemampuan menginstruksikan. DNA hanyalah sistem berisi informasi. Kamu mungkin sudah belajar biologi. Apapun yang kamu bilang, sel kita yang menerima dan melakukan instruksi itu. Tidak, tidak melakukan. Siapa yang membuat sel ini melakukan instruksi? Memang ada prosesnya. Tapi siapa yang melaksanakannya? Aku bertanya tentang pelaksana ini. Kamu bilang bukan DNA. Jadi siapa? Oke, katakanlah kita bertemu. Perlukah Pencipta agar kita bertemu seperti sekarang? Maksudku begini.
Pencipta tidak diperlukan keberadaanNya di sini. Kamu harus ingat ini. Kamu harus bilang: "Oke baiklah. Kalau bukan DNA, siapa?" Aku bilang baiklah, kita diskusikan lebih lanjut. Aku udah memberikan kamu ciri-ciri siapa yang dimaksud. Katakanlah kita bilang kita nggak tau. Kita tuntaskan dulu. Kita bilang harus ada sesuatu dengan ciri-ciri ini. Tanpa pengetahuan, sesuatu itu nggak bisa melakukan hal ini. Ia harus berpengetahuan. Kalau nggak berkehendak dan nggak bisa memutuskan, tentu nggak bisa melakukan apapun. Ia harus memiliki kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaannya harus berkelanjutan sehingga ia harus punya kehidupan. Karena, benda mati nggak bisa melakukan apapun.
Dan sesuatu tanpa ciri-ciri ini nggak bisa menciptakan manusia. Dan ini baru manusia ya contohnya. Aku bilang DNA nggak bisa membuat manusia terus menerus. Karena harus ada sesuatu dengan ciri-ciri di atas. Aku melihat alam. Apakah alam nggak bernyawa? Memang nggak bernyawa. Apakah alam berpengetahuan? Tidak. Ia buta, tuli, dan bodoh. Ingat contoh pertama tadi. Kita bilang masjid nggak bisa tercipta begitu saja. Jadi siapa yang menciptakan peristiwa yang terjadi setiap hari ini? Kalau bukan DNA, harus ada jawaban lain. Harus ada sesuatu yang lain. Kita anggaplah sesuatu itu "x" sekarang. Kita biarkan sebagai pertanyaan. Tapi harus ada sesuatu dengan empat ciri, harus ada sesuatu.
Tadi kita bilang tiga dari empat pilihan nggak mungkin. Kita menyimpulkan bersama-sama. Hanya ada satu pilihan tersisa. Oke, katakanlah benar. Katakanlah manusia harus ada penciptanya... Oke, haruskah penciptaan Tuhan seperti yang digambarkan Islam? Contohnya, bayi. Seorang bayi meninggal, lalu apa yang terjadi? Dia nggak berdosa. Tapi dia masuk surga. Jadi apa bedanya antara bayi nggak berdosa yang ke surga, dan guru saya yang memberikan nilai A karena nggak ada lagi kertas ujian? Kan, kita harus menyelesaikan ujian. Baru bisa dinilai lulus atau gagal. Jadi, kalau ada peserta ujian yang datang dan mendengar: "Nggak ada lagi kertas ujian bagimu.
Ujianmu sudah berakhir.” Dan dia langsung lulus. Apakah hal ini adil? Di mana adilnya? Kita harus membahas hal ini dulu. Karena agar tercapai keadilan, kita harus melakukan sesuatu terlebih dulu. Contohnya, kamu membeli hp. Oke? Kamu beli hp dari toko. Kalau hpnya rusak, kamu bisa melapor ke Pelayanan Konsumen, atau pengadilan karena kamu udah membeli hp itu. Benar kan? Ya. Kenapa? Karena kamu udah membelinya. Tapi katakanlah ada orang ke sini dan melihat kita berdiskusi. Dia bilang "Diskusi kamu seru sekali." Lalu dia memberikanmu 2 mobil sebagai hadiah. Memberikanku 5 villa. Bisakah kamu tanya "Saudaraku, kenapa sih" "Kenapa memberikanku 2 mobil sedangkan dia 5 villa. Nggak adil jadinya.
Aku akan ke pengadilan untuk menggugat." Apa yang akan dikatakan hakim kepadamu? Sama kasusnya, manusia juga nggak bisa menggugat. Karena manusia nggak memberikan sesuatu sebagai balasan. Tapi dia pasti menerima banyak rahmat Tuhan di bumi, lalu kemudian bisa masuk surga. Jadi logikanya karena dia nggak memberi apapun sebagai balasan, konsep keadilan jadi nggak berlaku. Kalau kamu nanya: "Kenapa dia yang ke surga? Padahal aku yang berusaha." Kutanya padamu, buka jaketmu dan pakai terbalik. Dan kalau kubilang , "Ubah warna jaket ini" kamu patuhi nggak? Masuk akal nggak. Nggak. Kenapa? Karena jaket itu milikmu, suka-suka kamu mau ngapain aja.
Serupa, bumi, surga, dan akhirat adalah milik Allah. Sang Pemilik bisa berbuat sesuka hati kepada yang dimilikinya. Contohnya, Dia bisa membuat tumbuhan di bumi atau langsung di surga. Bagaimana kita bisa menolak? Nggak bisa. Kenapa nggak bisa? Ada mawar di sini, Dia bisa menanam mawar di sana juga. Seperti bayi tadi... Bayangkan mawar kecil, contohnya. Dia bisa membawa mawar ke sini, dan setelah orang senang melihatnya. Dia bisa membawa mawar itu langsung ke surga. Aku nggak bisa menolak. Kenapa? Karena nggak ada kaitannya denganku. Karena Allah bilang dalam ayat... Kita bilang kita akan berdiskusi tentang Islam.
Allah bilang dalam Surah Maryam: "...dan dia akan datang kepada Kami seorang diri..." seorang diri. Jadi, secara individu. Dengan kata lain, semua orang akan ditanya secara individu. Contohnya, apapun ciri yang kamu miliki, Allah akan bertanya tentangnya. Dia akan bertanya tentang apa yang diberikanNya padaku. Serupa, tindakan kita membuat kita bertanggung jawab atas ciri kita sendiri. Begitu juga bayi itu. Apakah bayi itu tetap di bumi, atau langsung ke surga, nggak ada hubungannya dengan keadilan padaku. Dan kita tahu Allah menciptakan setiap manusia secara individu. Apapun yang diberikannya secara individu, akan dimintanya kembali dengan adil. Kira-kira begitulah konsep keadilannya.
Kalaupun ada sesuatu dalam Islam yang nggak rasional bagi kita. Fakta bahwa ada yang nggak rasional bukan berarti bukti kesalahan. Kenapa? Katakanlah kita hidup pada zaman Mehmed Sang Penakluk, oke? Pada zaman Mehmet Sang Penakluk, ada cap Usmaniyah di mana-mana. Cap pertanda Sultan Usmaniyah. Dan dia memerintahkan: "Nggak ada yang boleh keluar rumah selama 5 tahun." Masuk akal nggak? Nggak. Nggak masuk akal. Rasional nggak jadinya kalau kubilang; "Mehmet Sang Penakluk itu sebenarnya nggak ada." Bisakah disimpulkan seperti itu? Nggak bisa. Untuk contoh kedua, bisakah kubilang; Ada pertanda Usmaniyah di mana-mana, nggak rasional bagiku. Lalu, bisakah kubilang, kekuasaan Usmaniyah nggak ada?
Nggak bisa. Kenapa? Karena ada pertanda Usmaniyah di mana-mana. Jadi kita akan bertanya; Kenapa Mehmet Sang Penakluk melakukan sesuatu? Kenapa Dia mengatur seperti itu? Itu seharusnya pertanyaannya. Serupa dengan peraturan Allah dalam Islam. Jika kamu bilang: "Aturan Islam ini nggak masuk akal bagiku." Kesimpulan bahwa ‘Kalau ada aturan itu, maka nggak ada Tuhan’ nggak logis. Bahwa aku nggak suka aturan Allah bukan bukti Islam itu salah, dalam Islam ada seperangkat aturan, Kenapa? Karena ada pertanda di mana-mana. Contohnya, ada ayat dalam Surah Rum yang membahas masa depan. Bunyinya: Ada perang antara Yunani dan Persia. Dan Yunani pada waktu itu kalah.
Sementara Yunani dianggap sudah benar-benar kalah, kemudian mereka menang dan mengalahkan Persia. Jadi ayatnya membahas masa depan, peristiwa yang terjadi 9 tahun kemudian. Dan aku bilang ini pertanda bagiku. Bagaimana manusia bisa meramal masa depan? Karena manusia nggak bisa meramal masa depan, pemilik pertanda ini juga adalah pemilik Islam. Artinya pertanda yang tidak logis bukan bukti kesalahan Islam, atau bukti kesalahan Allah. Jadi, bukankah lebih logis mencari tahu dari dalam Dengan menerima Islam dan mencari jawaban dari dalam Islam?" Maksudku... Hal-hal ini harus dipertimbangkan. Tidak bisa diputuskan cepat dengan akal manusia. Kamu bilang kamu akan mempertimbangkannya.
Ya, aku selalu berpikir tentang agama dan aku akan terus berpikir. Video-videomu telah mengubah dan memperkaya pikiranku. Memberikanku arah. Aku akan berpikir dan menganalisa dari berbagai sisi. Aku senang sekali.