Terlahir muslim vs Terlahir non-muslim. Adil kah?
Diterbitkan pada
Bukankah tidak adil jadinya? Kalau begitu, apa salahnya orang yang lahir dalam keluarga non-Muslim? Sepintas, mungkin terlihat rugi bagi orang yang hidup di luar negara Muslim. Tapi, kalau hal ini kita dalami, (kita bisa mengetahui bahwa bukan begitu pemahamannya). Mari kita diskusikan bersama. Ada banyak contoh. Misalnya, (banyak dari kalian tahu kisah dari Nabi Musa (as)). Beliau tinggal di rumah Firaun, seorang tiran yang mengaku dirinya tuhan, (dan tumbuh besar di tengah-tengah orang yang tidak beriman). Tapi, akhirnya, Musa (as) menjadi nabi. Lihat juga Nabi Ibrahim (as), hidup dalam kegelapan, di tengah suku penyembah berhala, termasuk ayahnya.
Tapi, akhirnya (tidak peduli seberapa jauh jarak kedua nabi ini). dari wilayah orang-orang beriman mereka tetap mendapatkan hidayah. mari kita lihat lagi, Asiyah, yang menemukan Tuhan walaupun bersuamikan Firaun, (dan beriman sesuai pilihan dan kehendaknya). (jadi bayangkan : bahkan seorang istri Firaun bisa beriman dalam lingkungan seperti itu). Kita lihat yang sebaliknya. Abu Lahab, paman Nabi Muhammad (SAW), salah seorang yang paling dekat dengan Nabi, walaupun sangat dekat dengan sumber hidayah. Kelihatannya dia yang paling beruntung, tapi dia membuktikan bahwa iman tidak terkait dengan tempat tinggal tertentu.
Artinya orang yang tinggal di negara non-Muslim pun bisa mendapatkan hidayah lewat usaha mereka, (sementara orang yang tinggal di negara Muslim mungkin tidak). Kita bisa melihat (bahwa banyak orang Kristen atau tidak beriman yang sudah melakukan sedikit riset). (sementara Muslim yang belum melakukan riset apapun, melakukan sebaliknya menjauhi Islam karena membatasi diri kepada taqlid (peniruan). Jadi, seperti dinyatakan Al-Qur'an, orang harus menggunakan akal Dengan cara ini, insya Allah, pintu-pintu iman akan terbuka. Manusia itu sifatnya ingin tahu. Hal-hal kecil sekalipun dipikirkan.
Bagaimana manusia dengan sifat ini tidak bertanya-tanya tentang hal yang paling penting, seperti "Dari mana asalku? Siapa yang mengirimku ke sini? Kemana aku akan pergi?" Katakanlah kamu di atas pesawat. Posisi kursimu di baris tengah. Kamu melihat ke barisan depan, dan secara berkala orang diambil dari baris paling depan dan dibuang dari pesawat, lalu digantikan dengan orang baru. Sebentar lagi giliranku yang dibuang. Bukankah kamu akan mencari jawaban, ingin penjelasan dari seseorang? Kamu terus saja bermain dengan komputer di depanmu. Makanan sebentar lagi dihidangkan dan kamu bisa memilih makanan sesuai seleramu. Duduk saja dengan nyaman." dan fokus kepada peristiwa yang terjadi.
Dunia ini seperti pesawat berkecepatan tinggi. kita membuka mata dan menemukan diri di pesawat bumi. Tapi, jiwa kita begitu menikmati banyak hal Namun, kita begitu tenggelam dalam hal yang menyenangkan jiwa) seperti permainan komputer, film dan serial TV yang menyita waktu (sehingga kita tidak sadar bahwa kita sedang berada di pesawat). Kita tidak melihat orang mati setiap hari dan orang yang lahir menggantikan mereka. Kita hanya fokus pada kesenangan dunia. Disitulah kesalahan kita. Menghabiskan waktu dengan hal-hal yang membius kita, menahan akal kita dari mengkaji hal yang berbeda.
Walaupun kita melakukan riset terhadap pekerjaan yang kita inginkan di masa depan, atau membaca artikel tentang diet kita, (sayangnya, kita tidak peduli apa yang harus dilakukan sebelumnya). Namun, keingintahuan adalah sumber ilmu. Orang berilmu akan menggunakan akal untuk mencari kebenaran. Kalau begitu, yang menjadi masalah utama adalah niat dan tujuan manusia, tapi fakta bahwa manusia terus hidup, dengan mengutamakan kesenangan sementara dan hiburan yang menggoda, dan mengabaikan akal, sayangnya menghalangi keingintahuan. Tentunya, orang seperti ini tidak bisa menemukan kebenaran. Hal lain yang mungkin disalahtafsirkan tapi penting memahami bahwa status iman ditentukan diakhir.
Jadi kita tidak tahu siapa yang akhirnya akan beriman. Muslim yang berpura-pura beriman, yang tidak mengenal Allah, tidak meningkatkan iman melalui kajian dan pembuktian, Karena mereka yakin iman mereka sudah cukup, Jadi, seperti non-Muslim yang harus melakukan riset dan memahami keyakinan mereka dengan fakta dan bukti, begitu juga para Muslim. konsep 'umat zaman Peralihan' itu penting. Ketika berpikir tentang zaman Peralihan ini, kebanyakan kita berpikir tentang periode antara Nabi kita (SAW) (dan agama yang dibawa oleh Nabi Isa (AS)). Namun, istilah ini digunakan bagi siapapun atau periode manapun tanpa hidayah dari seorang nabi.
Imam Ghazali membuat klasifikasi (berdasarkan keadaan orang-orang setelah kehadiran Nabi kita (SAW).) Setelah kehadiran Nabi kita (SAW), orang yang kafir dibagi menjadi tiga kategori: pertama orang yang belum mendengar seruan Nabi kita (SAW) dan tidak sadar tentangnya. Kelompok ini termasuk ahli surga. Kedua: mereka mendengar tentang nabi kita (SAW) seruannya, mukjizat yang dilakukannya, dan akhlaknya, tapi mereka menolak beriman. Ketiga: kelompok di antara yang pertama dan kedua. Walaupun mereka telah mendengar tentang Nabi kita (SAW), Orang-orang ini tahu Nabi (SAW) sejak kecil, lalu menjadi nabi palsu, yang bernama Muhammad. Mereka hanya mendengar hal-hal negatif tentang Nabi kita (SAW).
Walaupun Imam Ghazali tidak mengatakan dengan pasti tentang orang-orang dalam kelompok ini, dia berkata, "Menurutku, kondisi mereka serupa dengan kelompok pertama, yaitu, orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang Nabi." Karena mereka mendengar nama Nabi kita beserta ciri-cirinya yang berlawanan. Hal ini tidak mendorong mereka untuk berpikir kritis untuk mengkaji hal yang sebenarnya. Ketika kita melihat semesta, kita bisa melihat kasih Allah yang begitu rinci. Kebutuhan setiap makhluk dipenuhi dengan kasih dan sayang.
Ya, berbagai kebutuhan terus terpenuhi dengan cara yang Kalau begitu, Dia memahami situasi setiap orang, terutama orang-orang yang paling dikasihi-Nya, terkait hal-hal penting yaitu iman. Dia akan, tanpa keraguan, mengasihi mereka dengan adil. Kalau begitu, kita harus mengingat hal ini, mengingat kemurahan Allah. Bisakah Allah kejam terhadap orang-orang yang kamu kasihi? Bisakah kita berasumsi bahwa Allah, yang begitu pengasih sehingga memberikanmu perasaan kasih, tidak mengasihi mereka? Allah juga adil, penting mengingat hal ini. Harusnya tidak ada keraguan bahwa Dia akan menilai secara adil di mahkamah akhirat untuk kasus mereka.
Menurut informasi ini, jika setiap orang diuji sesuai kemampuan mereka dan diminta bertanggung jawab, kita harus tanyakan pada diri sendiri: Seberapa jauh aku bisa memenuhi tuntutan yang dibebankan padaku?"
Tapi, akhirnya (tidak peduli seberapa jauh jarak kedua nabi ini). dari wilayah orang-orang beriman mereka tetap mendapatkan hidayah. mari kita lihat lagi, Asiyah, yang menemukan Tuhan walaupun bersuamikan Firaun, (dan beriman sesuai pilihan dan kehendaknya). (jadi bayangkan : bahkan seorang istri Firaun bisa beriman dalam lingkungan seperti itu). Kita lihat yang sebaliknya. Abu Lahab, paman Nabi Muhammad (SAW), salah seorang yang paling dekat dengan Nabi, walaupun sangat dekat dengan sumber hidayah. Kelihatannya dia yang paling beruntung, tapi dia membuktikan bahwa iman tidak terkait dengan tempat tinggal tertentu.
Artinya orang yang tinggal di negara non-Muslim pun bisa mendapatkan hidayah lewat usaha mereka, (sementara orang yang tinggal di negara Muslim mungkin tidak). Kita bisa melihat (bahwa banyak orang Kristen atau tidak beriman yang sudah melakukan sedikit riset). (sementara Muslim yang belum melakukan riset apapun, melakukan sebaliknya menjauhi Islam karena membatasi diri kepada taqlid (peniruan). Jadi, seperti dinyatakan Al-Qur'an, orang harus menggunakan akal Dengan cara ini, insya Allah, pintu-pintu iman akan terbuka. Manusia itu sifatnya ingin tahu. Hal-hal kecil sekalipun dipikirkan.
Bagaimana manusia dengan sifat ini tidak bertanya-tanya tentang hal yang paling penting, seperti "Dari mana asalku? Siapa yang mengirimku ke sini? Kemana aku akan pergi?" Katakanlah kamu di atas pesawat. Posisi kursimu di baris tengah. Kamu melihat ke barisan depan, dan secara berkala orang diambil dari baris paling depan dan dibuang dari pesawat, lalu digantikan dengan orang baru. Sebentar lagi giliranku yang dibuang. Bukankah kamu akan mencari jawaban, ingin penjelasan dari seseorang? Kamu terus saja bermain dengan komputer di depanmu. Makanan sebentar lagi dihidangkan dan kamu bisa memilih makanan sesuai seleramu. Duduk saja dengan nyaman." dan fokus kepada peristiwa yang terjadi.
Dunia ini seperti pesawat berkecepatan tinggi. kita membuka mata dan menemukan diri di pesawat bumi. Tapi, jiwa kita begitu menikmati banyak hal Namun, kita begitu tenggelam dalam hal yang menyenangkan jiwa) seperti permainan komputer, film dan serial TV yang menyita waktu (sehingga kita tidak sadar bahwa kita sedang berada di pesawat). Kita tidak melihat orang mati setiap hari dan orang yang lahir menggantikan mereka. Kita hanya fokus pada kesenangan dunia. Disitulah kesalahan kita. Menghabiskan waktu dengan hal-hal yang membius kita, menahan akal kita dari mengkaji hal yang berbeda.
Walaupun kita melakukan riset terhadap pekerjaan yang kita inginkan di masa depan, atau membaca artikel tentang diet kita, (sayangnya, kita tidak peduli apa yang harus dilakukan sebelumnya). Namun, keingintahuan adalah sumber ilmu. Orang berilmu akan menggunakan akal untuk mencari kebenaran. Kalau begitu, yang menjadi masalah utama adalah niat dan tujuan manusia, tapi fakta bahwa manusia terus hidup, dengan mengutamakan kesenangan sementara dan hiburan yang menggoda, dan mengabaikan akal, sayangnya menghalangi keingintahuan. Tentunya, orang seperti ini tidak bisa menemukan kebenaran. Hal lain yang mungkin disalahtafsirkan tapi penting memahami bahwa status iman ditentukan diakhir.
Jadi kita tidak tahu siapa yang akhirnya akan beriman. Muslim yang berpura-pura beriman, yang tidak mengenal Allah, tidak meningkatkan iman melalui kajian dan pembuktian, Karena mereka yakin iman mereka sudah cukup, Jadi, seperti non-Muslim yang harus melakukan riset dan memahami keyakinan mereka dengan fakta dan bukti, begitu juga para Muslim. konsep 'umat zaman Peralihan' itu penting. Ketika berpikir tentang zaman Peralihan ini, kebanyakan kita berpikir tentang periode antara Nabi kita (SAW) (dan agama yang dibawa oleh Nabi Isa (AS)). Namun, istilah ini digunakan bagi siapapun atau periode manapun tanpa hidayah dari seorang nabi.
Imam Ghazali membuat klasifikasi (berdasarkan keadaan orang-orang setelah kehadiran Nabi kita (SAW).) Setelah kehadiran Nabi kita (SAW), orang yang kafir dibagi menjadi tiga kategori: pertama orang yang belum mendengar seruan Nabi kita (SAW) dan tidak sadar tentangnya. Kelompok ini termasuk ahli surga. Kedua: mereka mendengar tentang nabi kita (SAW) seruannya, mukjizat yang dilakukannya, dan akhlaknya, tapi mereka menolak beriman. Ketiga: kelompok di antara yang pertama dan kedua. Walaupun mereka telah mendengar tentang Nabi kita (SAW), Orang-orang ini tahu Nabi (SAW) sejak kecil, lalu menjadi nabi palsu, yang bernama Muhammad. Mereka hanya mendengar hal-hal negatif tentang Nabi kita (SAW).
Walaupun Imam Ghazali tidak mengatakan dengan pasti tentang orang-orang dalam kelompok ini, dia berkata, "Menurutku, kondisi mereka serupa dengan kelompok pertama, yaitu, orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang Nabi." Karena mereka mendengar nama Nabi kita beserta ciri-cirinya yang berlawanan. Hal ini tidak mendorong mereka untuk berpikir kritis untuk mengkaji hal yang sebenarnya. Ketika kita melihat semesta, kita bisa melihat kasih Allah yang begitu rinci. Kebutuhan setiap makhluk dipenuhi dengan kasih dan sayang.
Ya, berbagai kebutuhan terus terpenuhi dengan cara yang Kalau begitu, Dia memahami situasi setiap orang, terutama orang-orang yang paling dikasihi-Nya, terkait hal-hal penting yaitu iman. Dia akan, tanpa keraguan, mengasihi mereka dengan adil. Kalau begitu, kita harus mengingat hal ini, mengingat kemurahan Allah. Bisakah Allah kejam terhadap orang-orang yang kamu kasihi? Bisakah kita berasumsi bahwa Allah, yang begitu pengasih sehingga memberikanmu perasaan kasih, tidak mengasihi mereka? Allah juga adil, penting mengingat hal ini. Harusnya tidak ada keraguan bahwa Dia akan menilai secara adil di mahkamah akhirat untuk kasus mereka.
Menurut informasi ini, jika setiap orang diuji sesuai kemampuan mereka dan diminta bertanggung jawab, kita harus tanyakan pada diri sendiri: Seberapa jauh aku bisa memenuhi tuntutan yang dibebankan padaku?"