Towards Eternity
Kembali ke blog

Kawannya Memperingatkan "Dia Akan Menjadikanmu Ateis"! - Ateisme vs Islam

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

- Apa agamamu? + Apateisme... Juga dikenal sebagai ateisme pragmatis. Orang lain merasa perlu ada agama, aku nggak peduli. Kepada siapa Tuhan ingin membuktikan kekuasaanNya? Dia tahu apa yang akan terjadi. Kenapa kita diciptakanNya? Jadi, kalau ada Pencipta, bagaimana Dia tercipta? Bagaimana Dia bisa tercipta dari ketiadaan? Aku pikir Dia nggak bisa menciptakan semesta dari ketiadaan. Nggak mungkin bisa. -Perkataanmu membuktikan keberadaan Tuhan. Dia ada, maka Dia menciptakan apapun selainNya. + Kamu nggak bisa membuktikan kitab ini belum diubah setelah 1400 tahun. + Asyhadu Alla Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah - Nggak apa-apa kan, kalau diunggah ke YouTube?

+ Nggak apa-apa, unggahlah di manapun. - Apa agamamu? + Apateisme... juga dikenal sebagai ateisme pragmatis. Secara umum, orang lain merasa perlu ada agama, tapi aku nggak peduli. Waktu SMA aku mulai banyak mengkaji. Pertama, aku condong kepada agnotisisme karena ketidakpastian, aku nggak bisa memastikan. Aku nggak bisa bilang ada Pencipta atau nggak. Kalaupun aku percaya Dia ada, nggak bisa kubuktikan. Makanya aku berusaha mengkaji lebih lanjut. Pertama, aku baca buku. Pertanyaan yang kuingat di benakku adalah: "Dari awal hingga akhir, Sang Pencipta mengetahui bagaimana dan kapan segalanya terjadi. Lalu kenapa Dia menciptakan kita kalau Dia sudah tahu segalanya?" Aku coba berpikir.

Aku juga bertanya kepada ulama yang kukenal. Mereka menjawab, tapi tidak memuaskanku, jadi aku berpikir: "Mungkinkah ada yang salah?" - Apa yang terjadi? Pikiranmu berubah. + Itu titik awalku. Lalu, pertanyaan lain muncul, aku berpikir: "Memusingkan dan membuat hidup sulit". - Baiklah, aku sungguh-sungguh bertanya ya. + Silahkan. - Apa yang dapat mengubah pikiranmu dan kembali ke Islam? + Begini saja, aku sudah berpikir seperti ini selama dua tahun, dan aku nggak yakin ada yang bisa mengubah pikiranku. Yang aku penasaran adalah apakah penjelasanmu logis atau nggak. Kalau penjelasanmu logis, aku akan berpikir ulang. - Baiklah, ayo mulai. Kita lihat secara logis. + Oke.

- Takdir sering disalahpahami. Ia juga sering didiskusikan. Kita bisa berpikir seperti ini: takdir adalah pengetahuan Allah, jadi Allah mengetahui sesuatu; mengetahui semua yang terjadi pada masa lalu, kini, dan yang akan datang, sebagai takdir. Kamu bilang: "Ya, kalau Tuhan tahu segalanya, kenapa Dia menciptakan kita?" Kita mengelirukan pengetahuan Allah dengan tindakanNya. Warna matahari berbeda-beda, kan? Katakanlah satu kuning dan satu merah. Seperti itu juga, ada nama Allah Al-Alim, ada juga nama Al-Qadir. Nama al-Alim berasal dari mengetahui. Takdir ada dalam nama ini. Jadi Allah mengetahui segalanya. Tindakan, penciptaan, datang dari nama Al-Qadir, dan nama Al-Khaliq.

Karakteristiknya berbeda. Bagaimana kita menjadi keliru soal takdir? Ketika konsep "pengetahuan Allah" dan "tindakan Allah" dicampuradukkan, seperti warna kuning dan merah matahari... Kalau dilihat keduanya sebagai dua karakteristik berbeda, nggak akan ada masalah. Kita juga bisa bilang: pengetahuan tergantung yang diketahui. Pengetahuanku tergantung peristiwa yang terjadi. Contohnya, waktu terbit matahari itu spesifik, kan? Katakanlah 7:30. Waktu ini ada juga di kalender. Pertanyaannya: apakah matahari terbit pada waktu itu karena 7:30 tertulis di kalender atau apakah 7:30 tertulis di kalender karena matahari terbit pada waktu itu? Waktu terbit diketahui melalui sains, lalu dituliskan.

Jadi, kubilang: "Pengetahuan tergantung yang diketahui". Informasi waktu tergantung kejadiannya. Seperti contoh itu, pengetahuan Allah tentang perbuatan kita nggak berarti Dia mengintervensi. Kita sudah berbuat, dan karena perbuatan kita, Allah menetapkannya sebagai takdir kita. Maksudku, Dia tahu. + Bro, aku setuju yang kamu bilang itu logis. Bisa dimengerti. Tapi kenapa Dia menciptakan ketika Dia sudah tahu? Dia sudah tahu apa yang akan terjadi, semua sudah diketahui. Untuk apa penciptaan? - Jadi, pertanyaanmu: "Kenapa Allah menciptakan kita?" Penciptaan oleh Allah mencerminkan sifatnya, yaitu, perwujudan sifatnya. Contohnya, katakanlah kamu sangat pemurah. Itu karakteristik mu.

Kamu datang dan bilang: "Aku mau mentraktir kamu" lalu aku ikat tanganmu sehingga kamu nggak bisa jadi pemurah. Masuk akal kah? + Nggak masuk akal. - Memang nggak. Serupa, karakteristik Allah adalah kemaha pemurahanNya. Jika kamu lihat nama Al-Jawad atau nama lain, Al-Rahim atau Al-Hakim, Hakim Tertinggi itu karakteristik yang paling logis dan paling bermanfaat dari tindakanNya. Apa nama sifat lain? Al-Jawad. Kemurahan Allah nggak terbatas. Allah ingin mengadakan manusia dari ketiadaan, memunculkannya, menciptakannya, dan menunjukkan betapa Maha Pemurahnya Allah dengan karuniaNya. Dia memberikan rahmatNya dalam kehidupan abadi, juga dalam kehidupan singkat di bumi.

Sifatnya yang pemurah meniscayakan hal ini. Tadi kita bilang, nggak bijak mencegah kedermawanan seseorang, dan nggak masuk akal karena sifat kepemurahan harus ditunjukkan. Allah mengadakan kita dari ketiadaan karena nama sifatnya yang Maha Pemurah. Allah bisa saja nggak menciptakan kita, itu pilihanNya, jadi kenapa kita diciptakanNya? Karena, "Allah melakukan hal yang paling logis dan bermanfaat dari segala kemungkinan". Artinya Dia memilih mengadakan manusia dari ketiadaan, sebagai hal yang paling logis dan bermanfaat karena banyak alasan yang merupakan turunan dari sifat-sifatNya. + Baiklah, aku ingin bertanya. Kepada siapa Allah ingin membuktikan diriNya?

Hanya Dia yang tahu sifatnya ketika hanya Dia yang ada. - Yang menakjubkan di sini, kamu tahu? Karena, contohnya, kita ingin membuktikan diri kita kepada orang lain, kan? Contohnya, katakanlah kamu lebih ganteng dari aku. Kamu lebih pemurah dari aku. + Ini bisa memuaskan ego juga. - Mungkin saja, tapi itu untuk manusia. + Ya. - Kenapa? Karena kita sama, kita manusia, kita bisa berkonflik antara satu sama lain. Tapi Allah tidak, Dia sendirian. Dia tak terikat ruang dan materi. Artinya pembuktian diriNya karena ego tidak berlaku bagiNya. Nggak ada yang setara denganNya untuk pembuktian seperti itu. + Dia berada di puncak, menurut agama. Nggak ada yang melebihiNya.

- Nggak ada yang menyerupaiNya. + Ya. - Seperti kita yang arogan dan sombong di depan kamera, atau tas... Akan terlihat konyol. Seperti itu, konsep ego nggak berlaku bagiNya. Yang kita lihat adalah karakteristiknya terwujud. Contonya, kita lihat cinta ibu kepada bayinya, dia membelai rambut bayi ini ketika tidur. Apakah perbuatan ibu itu karena kebutuhannya, atau karena kecintaannya kepada bayinya? + Karena kecintaannya kepada bayinya. Jadi, Allah tidak menciptakan kita karena kebutuhanNya. Dia menciptakan kita karena kecintaanNya. - Siapa yang membuat ibu tersebut merasa cinta? Sumber kecintaan adalah Allah sendiri. Jadi bukan kebutuhan.

+ Hubungan antara ibu dan anak, makhluk dan Tuhan, nggak sama. - Nggak sama, tapi serupa dari segi kecintaan karena sumber cinta adalah Allah. Agar kita mengetahui Allah itu penyayang, dia menciptakan cinta di dunia. Dia memberikan kita sifat pemurah jadi kita bisa tahu Dia juga pemurah. Dia memberikan kita kemampuan membandingkan. Dari perbandingan ini, kita menemukanNya. Itulah tujuan penciptaan: menemukan pencipta melalui perbandingan. + Bisa jawab 2 pertanyaanku? Pertama keberadaan Tuhan tidak ada waktu awalnya, manusia ada. Maksudku, tidak terhitung waktu yang berlalu baru manusia diciptakan, jadi kenapa manusia diciptakanNya setelah sekian waktu untuk menunjukkan kepemurahanNya?

- Konsep yang kita namakan waktu mulai dari semesta. Apa itu waktu? Kamu mungkin sudah tahu Teori Dentuman Besar. Awal dari ruang dan waktu. Konsep yang kita sebut waktu mulai dari Dentuman Besar. Waktu adalah sistem terkait pergerakan materi yang dimulai dengan penciptaan semesta. Waktu diciptakan bersama semesta, jadi kita harus bilang: Sang Pencipta semesta dan waktu wujud sebelum keduanya ada. Pertanyaannya menjadi tidak relevan karena Dia tidak sama dengan yang diciptakannya, karena Dia adalah pencipta waktu. Sebagaimana pencipta hp nggak mengikuti aturan ciptaannya. Contohnya, ada fitur layar kunci untuk hp itu. Apakah pencipta hp akan mengikuti aturan fitur itu?

Ketika kamu mengunci hpmu, apakah dia juga terkunci? + Nggak. - Nggak, bukan? Karena aturannya hanya berlaku untuk hp. Serupa, Allah menciptakan semesta dan menyertakan konsep seperti ruang dan waktu di dalamnya. Allah ada di luar waktu... Kalau tidak tergantung waktu, konsep seperti menunggu, dalam waktu lama atau sebentar, nggak berlaku. Jadi nggak ada konsep waktu bagi Tuhan. + Kamu tahu, sesuatu tidak bisa ada dari ketiadaan, bro. Contohnya, telapak tanganku, walaupun nggak terlihat apa-apa, ada partikel atom. Kupikir Allah nggak bisa menciptakan semesta dari ketiadaan ketika Dia nggak ada apa-apa. - Faktanya, perkataanmu membuktikan keberadaanNya. + Nggak, lihatlah...

- Karena kamu bilang nggak mungkin ketiadaan ada lebih dulu, yang ada Dia; Dia menciptakan segalanya. Seperti kamu bilang, ada partikel udara di tanganku; partikel ini ada walaupun kita tidak bisa melihatnya. Kita hidup dalam dunia material, tapi Dia yang kita bicarakan bebas dari materi. Dia adalah pencipta materi. Dia berada di luar waktu. Dia adalah pencipta waktu. Dia tidak bergantung pada materi, jadi Dia tidak memerlukan materi. Kamu bilang "Nggak mungkin dari ketiadaan menjadi ada". Betul untuk materi, makanya pernyataan ini membuktikan keberadaan Allah karena materi tidak mungkin muncul sendiri dari ketiadaan. Harus ada kehendak yang memilih untuk menciptakan materi.

+ Katakanlah ada pencipta, oke? Jika pencipta ini bisa menciptakan segalanya, bagaimana pencipta ini tercipta? Bagaimana sesuatu bisa ada dari ketiadaan? - Pertanyaan bagus. Oke, begini penjelasannya: katakanlah segelas air ada di tanganku, oke? Jika aku menumpahkan air kepadamu, kamu jadi basah, kan? Kenapa? Air membuatmu basah, tapi ketika air ditumpahkan ke air, air tidak bertambah basah. Kenapa? Karena air itu sudah basah, tidak bisa menjadi lebih basah. Yang sudah basah tidak terdampak, yang kering baru jadi basah. Hal utama adalah: "Tubuhmu menjadi basah itu sementara", yang terdampak kemudian. Serupa, penciptaan Allah itu unik. Allah menciptakan, Dia menciptakan materi.

Materi ini diciptakan kemudian, sumber materi ini adalah Allah. Jadi, kita katakan yang ada di luar tidak mempengaruhi penciptaan Allah, karena penciptaanNya unik melalui caraNya. Seperti air yang tidak menjadi basah karena air dari luar, keberadaan Allah itu unik; yang di luarNya tidak mempengaruhiNya, karena Dia yang menciptakan. Karena tidak ada konsep seperti "sebelum" dan "sesudah" ketika konsep waktu tidak ada, bertanya tentang masa lalu, seperti "Siapa pencipta Tuhan?" adalah kontradiksi karena tidak ada konsep waktu dan masa lalu. Tentunya, untuk yang tidak berawal dan berakhir, pertanyaan, "Siapa penciptaNya?" tidak berlaku.

+ Baiklah, bro, aku ingin bertanya: "Injil, Taurat, Mazmur diyakini sudah diubah. - Ya. + Al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad 1400 tahun lalu. Walaupun penyusunannya sangat hati-hati, kamu nggak bisa membuktikan bahwa ia belum diubah setelah 1400 tahun. - Kita perlu membuktikan bahwa Al-Qur'an telah diubah. Kamu mengklaim begitu, kamu harus bisa membuktikan. + Aku nggak berkata "ia telah berubah". Jangan salah, tapi aku nggak berkata "ia belum berubah" juga. - Oke, nggak apa-apa, begini cara kita tahu: fakta bahwa Al-Qur'an itu sama di masjid manapun di negara manapun adalah bukti Al-Qur'an belum diubah.

Ketika aku membaca Al-Qur'an dalam masjid di sini, atau dalam masjid di Inggris, Al-Qur'annya sama, identik kata per kata. Nggak ada satu pun perbedaan. Fakta bahwa semua Al-Qur'an ini sama adalah bukti bahwa ia belum diubah. Jika ada yang mengubah, pasti akan terlihat banyak perbedaan, pertama karena terjadi efek domino, tapi fakta bahwa tidak ada perbedaan adalah bukti ia belum diubah. Lagi pula, bukti kedua adalah sekarang juga ada jutaan hafiz, jutaan... yang menghafal Al-Qur'an dari awal hingga akhir dan banyak orang lain juga berusaha menghafalnya. 1400 tahun kemudian, bahkan sekarang, jutaan orang sudah menghafalnya. Jadi, apa yang ditunjukkan dari penghafalan ini?

Al-Qur'an yang sama telah dihafal dari dulu hingga sekarang. Di Universitas Birmingham di Inggris, mereka menemukan Al-Qur'an. Mereka menguji dengan tes Karbon-14 dan menemukan asalnya dari zaman Usman (ra). + Selama 14, 13 abad, ia dibaca di berbagai tempat. - Persis sama setiap kali, bahkan ketika diterbitkan di Internet. Bahkan jika kita lihat, kita menemukan bahwa Al-Qur'an itu satu dan sama. + Begini bro, kalau dipikir-pikir, ada poin yang logis, tapi ada juga poin yang nggak logis. Melihat kontradiksi ini membuat kita berkata "Apa yang harus kulakukan?" - Apakah pantas berpaling dari agama hanya karena "Aku nggak bisa memahami konsepnya"? Begini caranya: kamu tetap mengkaji dari dalam.

Bayangkan istana dengan 100 pintu dan kamu buka satu pintu. Walaupun ada pintu tertutup, artinya poin yang kamu nggak mengerti, nggak berarti kamu nggak bisa masuk. Hanya satu pintu cukup. Kamu bisa membuka pintu lain dari dalam. Jika ada poin lain yang nggak dipahami, kamu bisa terus berusaha membuka pintu lain dari dalam istana Islam. Aku ulangi, kita lanjutkan pencarian dari dalam istana. + Maksudku bro... Perkataanmu sangat menarik. Begini saja kubilang. Aku akan terus mengkaji. Karena poin-poin yang kamu sampaikan, aku akan terus mengkaji. Terus mencari. Mungkin kamu benar, mungkin nggak, aku nggak tahu pasti sekarang, tapi aku akan terus mengkaji.

- Bisakah kita kaji bersama, dari dalam? + Aku nggak bisa balik beragama. Kalau aku memeluk agama tanpa keinginanku sendiri... - Bukan, bukan, jangan pikir seperti itu karena kamu akan bertahan dengan logikamu. Kamu bilang, "Aku akan mengkaji logika yang masuk akal, tapi dari dalam." Lagi pula, aku nggak melarang kamu lanjut tanpa menggunakan logikamu. Aku bilang, "Logikamu harus dikaji dari dalam". Aku bisa bilang trik setan itu adalah mengkaji logika dari luar. + Jadi mungkin aku bisa coba. - Ayo mengkaji bersama, dan kamu bisa menghubungi kami lagi kapan saja. Aku bilang ayo mengkaji bersama. + Oke. - Oke bro. Bagus, kamu ingat kalimat syahadat? + Ingat.

Asyhadu Alla Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.