Mualaf Mantan Sikh Ungkap Perjalanan Spiritualnya - "Dari Penderitaan ke Hidayah Islam"
Diterbitkan pada
Kadang aku berpikir, mengapa aku masih Muslim, kau tahu? Karena kadang kamu mengalami begitu banyak ujian. Kadang aku ingin membenturkan kepalaku ke dinding agar bisa tidur. Aku bercerai. Itu sangat mengerikan, sangat sulit. Sejujurnya, di depan kamera, kadang aku ingin menyakiti diri sendiri. Aku ingat saat di kamar mandi, aku menatap wajahku, aku membencinya, dan ingin menyakiti diriku sendiri. Hidupku penuh kesulitan tanpa keluargaku karena kami sangat dekat, dan aku menyayangi mereka. Ini selalu terjadi. Berapa lama aku akan melakukan ini? Berapa lama aku akan mencari orang lain untuk menyelamatkanku?
Ketika Allah berfirman, "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu." + Assalamu'alaikum Saudari Haniya Adam. Terima kasih telah menerima undangan kami. Senang sekali kamu hadir bersama kami. Aku ingin mulai dengan siapa Haniya Adam? Bisakah kamu ceritakan secara singkat tentang kehidupanmu? - Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aku ibu dari tiga anak. Alhamdulillah Aku dibesarkan sebagai seorang Sikh. Orang tuaku orang India, lahir dan besar di Inggris. Masa kecil yang menakjubkan. Alhamdulillah, orang tua yang sangat penyayang. Aku masuk Islam sekitar usia 24, 25. Kejutan besar bagi keluargaku, kejutan besar.
Alhamdulillah aku bekerja di Masjid Green Lane dan organisasi Muslim mana pun yang bisa kubantu. + Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Apa yang kamu yakini? - Saat aku tumbuh dewasa, orang tuaku mengajari agama Sikh, yang sebenarnya sangat aku sukai. Aku pernah datang ke Kuil Emas, Amritsar, aku menyukainya. Aku pernah ke Hemkund Sahib yang sebenarnya adalah ashram Hindu. Aku sangat menikmatinya. Sejak muda aku selalu merasa membutuhkan Tuhan. Aku merasa lebih bahagia dan puas saat pergi ke tempat-tempat ini. Jadi orang tuaku, Alhamdulillah, menanamkan nilai agama padaku. Mereka mengajarkan moral, etika, kerja keras, pendidikan, dan kejujuran. Mereka membesarkanku dengan sangat baik.
Dan saat aku kuliah, aku menjalani gaya hidup sekuler. Aku tidak menjalankan praktik agama. Ada sisi spiritual, tapi aku tidak mempraktikkan agama apa pun. Jujur, aku minum alkohol. Memakai baju sesukaku, itu hal normal bagiku. Tidak ada yang salah dengan itu. Ini gaya hidup normal bagiku. Jadi, sebelum aku masuk Islam, begitulah kehidupanku. + Bagaimana pertama kali kamu mengetahui tentang Islam? Apakah kamu memiliki prasangka tentang Islam? - Ya, aku sedikit Islamofobia. Ada banyak kejadian. Irak dan sebagainya. Dulu aku takut saat mendengar kata 'Allahu Akbar'. Digunakan untuk menakutiku. Dulu kupikir semua pria Muslim sangat keras. Memukul istri mereka dan sebagainya.
Ada isu terkait usia Aisyah RA. Ada banyak stereotip. Dulu aku pikir wanita Muslim tertekan. Mengapa mereka harus mengenakan hijab? Ini tidak benar. Ada banyak isu. + Bagaimana perjalananmu menuju Islam dimulai? Apa hal tentang Islam yang membuatmu terkesan? - Lucunya, dengan semua stereotip tentang wanita Muslim, hal pertama yang aku lihat dari Islam itu tentang perempuan dalam Islam. Aku mendengarkan banyak diskusi, banyak membaca di internet. Ada buku berjudul 'The Great Women of Islam' karya Darussalam, yang benar-benar luar biasa. Di kepalaku, perempuan tertindas. Lalu aku mulai membaca tentang Islam dan sadar, tidak, masyarakatlah yang menindas perempuan. Dan Islam itu maju.
Bahkan sangat maju sampai kurasa masyarakat masih berjuang untuk mengejarnya. Dan Insyallah akan kembali lebih kuat. Karena dengan semua masalah yang kita hadapi sekarang, dengan peran dan identitas gender, kurasa Islam punya semua jawabannya. Mungkin sudah saatnya kita mengejar ketertinggalan, karena Islam membebaskan perempuan dalam banyak hal. Wanita ditempatkan di sini, sebenarnya. Jika masyarakat paham itu, mereka akan sadar bahwa, Subhanallah, Islam memberi banyak hak pada wanita. Hak yang belum pernah ada sebelumnya di negara ini, di negara-negara Muslim. Nabi Muhammad SAW mengajari kita untuk menghormati perempuan. Contohnya dengan memberi wanita mahar.
Dulu wanita harus memberikan uang pada laki-laki. Sekarang laki-laki yang memberikan mahar pada wanita. Itu sangatlah penting untuk orang-orang yang dulu sedih saat melahirkan anak perempuan. Sampai mereka harus membunuhnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang mengasuh dua anak perempuan hingga dewasa, maka aku dan dia akan masuk surga seperti ini." Juga terkait hal-hal kecil. Jika seorang wanita bertengkar, berdebat, berteriak padamu, tetaplah diam. Itu yang Nabi lakukan. Tetap diam. Umar bin Khattab belajar. Dia ingin sekali menjawab saat berdebat dengan wanita, namun beliau belajar, tetap diam. Tidak apa-apa. Biarkan mereka meluapkan emosinya.
Membiarkan wanita meluapkan emosinya. Subhanallah, agama mana yang mengajarkan seperti itu? Ada banyak contoh, tapi pasti video ini akan sangat panjang. + Jadi kamu terkesan dengan status perempuan dalam Islam. Lalu apa lagi? - Saat aku kuliah, jujur aku hidup dengan cukup bebas. Artinya, saat kamu merasa bebas, kamu pergi keluar, clubbing, berdansa, minum alkohol, semua hal itu, dan yang kamu cari hanyalah kesenangan semata, atau kamu mencari validasi dari orang lain bahwa, "Kamu keren." atau "Aku menyukaimu." di mana sebagai wanita, kamu selalu ingin mendapat validasi dari orang lain. Sedangkan yang aku temukan dalam Islam, kamu tidak membutuhkannya. Kamu tidak butuh validasi orang lain.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa yang paling penting itu bagaimana Allah menerima kita. Saat kamu belajar mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW, kamu merasakan kepuasan itu. Kamu tidak perlu bergantung pada pria. Itulah berkah dari Allah dan kalian bersama-sama seperti ini, bukan seperti ini. Hidup bersama seperti ini. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa Dia menciptakan pria dan wanita setara tapi berbeda. Hal ini luar biasa. Hal ini mengajarkanku bahwa saat Allah SWT memerintahkan untuk menutup aurat sebagai wanita, memakai hijab, itu karena kita diciptakan berbeda.
Aku mungkin ingin terlihat menarik, terlihat cantik, namun Allah telah menciptakan pria berbeda, di mana dia akan melihatmu dan berpikir, "Oh, aku bisa mendekatinya." "Aku bisa melakukan ini, atau aku bisa mengatakan ini." Jadi Allah berkata, "Lindungi dirimu". "Tutupi dirimu." Namun pria tetap punya hasrat itu. Karena saat sudah halal, kamu akan menikmatinya. Karena jika tidak ada hasrat itu, kamu akan mengeluh. + Apa hal utama yang meyakinkanmu bahwa Islam itu 100% benar? Apa hal utama yang meyakinkanmu bahwa Islam itu 100% benar? - Pergi ke Masjid Green Lane.
Aku ingat saat pertama kali masuk ke masjid dan aku melihat wanita yang menutupi kepala hingga ujung kaki dengan warna hitam, sangat longgar. Dan, lucunya kita berbicara tentang Harry Potter, tapi mereka mengingatkanku pada adegan Harry Potter, di Hogwarts di mana mereka semua memakai jubah. Itu hal pertama yang aku pikirkan. Dan kemudian aku berpikir, wah, mereka telah memilih menjadi seperti itu. Aku ingin merasa percaya diri seperti itu karena aku berjalan dengan rok miniku. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berjalan seperti itu. Bukan hanya itu, mereka sangat ramah, dan sangat penuh kasih, sangat baik, sangat mendukung. Dan, kamu tak tahu...
Kadang, kita menyulitkan diri kita sendiri, saat kita tidak berkomunikasi dengan orang lain. Aku tidak pernah berbicara dengan wanita Muslim bercadar. Bahkan, aku belum pernah berbicara dengan wanita Muslim satu pun. Jadi itu pertemuan pertamaku. Mereka tersenyum. Kita selalu berprasangka buruk. Begitu banyak stereotip. Kami berpikir bahwa wanita bercadar tidak tersenyum. Jadi ada para wanita itu, mereka tersenyum, tertawa, bercanda. Dan aku pikir, mereka normal, mereka manusia, mereka bukan sosok hitam melayang-layang. Mereka manusia dan mereka wanita hebat. + Bagaimana kamu bersyahadat dan apa yang kamu rasakan? - Jadi kunjunganku berikutnya ke masjid itu adalah saat aku bersyahadat. Ya.
Alhamdulillah Ada sekitar 60, 70 orang di sana. Orang-orang terdekatku saat itu, yang mendampingiku bersyahadat, masih berhubungan dekat sekarang, Alhamdulillah. Jadi momen bersyahadat itu sangat luar biasa. Aku gemetar, tapi merasa sangat nyaman. Saat aku mandi besar setelah bersyahadat, dan aku sungguh merasa ini kehidupan baru bagiku. Ini awal yang baru, Allah SWT membersihkan segalanya, dan memberimu pahala dari kebaikan yang kamu lakukan. Rasanya sangat nyaman, dan aku siap untuk menjadi wanita Muslim. Aku mulai membaca, membaca, membaca, dan... + Bagaimana reaksi keluarga dan orang-orang di sekitarmu saat kamu masuk Islam? - Itu sangat, sangat sulit.
Tetapi dalam kesulitan itu ada kemudahan di saat yang sama. Aku tidak menyadarinya, karena kami benar-benar berhenti berhubungan. Aku tidak punya pilihan selain mengandalkan Allah karena pernikahanku akhirnya menjadi sangat sulit. Mempunyai anak juga menjadi kesulitan tersendiri. Setiap titik dalam hidupku rasanya sulit tanpa keluargaku karena aku sangat dekat dengan mereka, dan aku sangat mencintai mereka. Ada saat-saat di mana aku ingin memukul kepalaku ke dinding agar aku bisa tidur, karena ketika kamu terluka, kamu tak bisa beristirahat dan kamu banyak pikiran di kepalamu yang terus berulang. Segala sesuatu yang aku lihat, aku melihat ibu dan ayahku dulu, keluargaku, semuanya.
Jika aku pergi ke supermarket, aku akan ingat pergi ke supermarket dengan ayahku di akhir pekan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Jika aku mendengar lagu di Asda, aku ingat menari dengan adikku. Saat aku melihat sebuah program di TV, aku ingat menontonnya bersama kakakku. Semuanya. Jika aku mengalami kesulitan dalam rumah tanggaku, aku ingin lari ke keluargaku, aku tidak bisa. Aku hanya akan keluar dan duduk di mobil sendirian. Jadi itu benar-benar sulit, sangat sulit menjalani hidup tanpa keluargamu. Ini sangat sulit. Masih sulit hingga sekarang.
Sebagai Muslim, kita tahu dan memahami kisah para sahabat yang juga harus melakukan hal yang sama pada keluarga mereka dan meninggalkan keluarga mereka. Kami memahami bahwa Nabi Muhammad SAW harus memberi tahu paman-pamannya bahwa, "Dengar, aku akan hidup dengan cara yang berbeda." Yang kita pelajari adalah bahwa mereka itu manusia biasa dan mereka berhak atas perasaan mereka. Dan sekarang aku tidak menahan apa pun terhadap mereka. Harus aku akui bahwa ibuku masih menjadi panutanku. Dia masih orang yang kucintai lebih dari siapa pun di dunia ini. Sama seperti Nabi Muhammad SAW mencintai pamannya yang bukan Muslim, dan menangis untuk pamannya dan melakukan segalanya untuknya.
Aku merasakan hal yang pada ibuku. Dia adalah wanita yang luar biasa. Dia berhak atas perasaannya. Aku menyakitinya dan aku akan meminta maaf sampai hari aku mati untuk ibuku karena menyakitinya. Sebagai gantinya aku membuat doa untuk mereka. Aku sangat mencintai mereka. Kamu harus tahu bahwa mereka manusia yang baik. Penyesalanku adalah bahwa aku menyebabkan air mata, air mata orang tuaku. Aku pikir ada saat-saat di mana aku mencoba membela Islam dan mencoba membela keputusanku, dan aku mungkin berbicara tentang ibuku, dan mungkin aku berteriak pada satu titik, bahwa aku menyesal.
Karena Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa kamu harus menghormati orang tuamu entah mereka Muslim atau bukan. Kadang aku berpikir, kenapa aku masih Muslim? Karena kamu melalui begitu banyak ujian. Seperti yang aku katakan, selalu ada pikiran itu di benakku bahwa keluargaku ada di sana. Mereka berjarak satu jam dariku. Mengapa aku masih hidup seperti ini? Ketika aku berjuang sendiri, ketika aku berjuang dengan anak-anak atau secara finansial dan lainnya. Kenapa aku masih di sini? Dan itulah yang membuatku terus berjalan. Karena, hanya sebagai contoh, aku bercerai. Itu sangat, sangat mengerikan, sangat sulit.
Dan pada saat itu aku sendirian, dan aku jujur saja sangat berjuang untuk tetap hidup. Aku tidak tahu apakah aku ingin hidup. Ada begitu banyak masalah yang aku hadapi saat itu. Saat itu aku pergi menemui bibiku. Aku tidak merencanakannya. Itu terjadi begitu saja. Aku baru saja muncul di depan pintunya. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, seseorang dari keluargaku menunjukkan cinta padaku. Dia luar biasa. Dia membuatkanku teh. Dia duduk bersamaku dan dia berkata, "Apakah kamu baik-baik saja ?" Itu saja, "Apakah kamu baik-baik saja?" Selalu saja terjadi. Itu bibiku.
Itulah pertama kalinya anggota keluarga bertanya kepadaku, "Apakah kamu baik-baik saja?" Dan dia berkata, "Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu punya rencana?" Karena aku tidak punya apa-apa. Yang aku miliki hanyalah ketiga anakku dan demi Allah, aku tidak ingin meninggalkan rumahnya. Dan aku duduk di sana dan berpikir, "Ya ampun, bagaimana jika aku menyembunyikan keislamanku? Apakah keislamanku hanya ada di hatiku?" Tapi bagaimana jika aku pulang saja? Karena mereka mencintaiku dan aku ingin tinggal. Aku tidak ingin meninggalkan rumahnya. Aku ingin tinggal di rumahnya. Aku ingin menyerahkan segalanya. Bukan imanku. Kupikir aku bisa menyembunyikan itu.
Aku bisa salat di lantai atas saat tidak ada yang melihat. Dan aku ingin pulang. Qadarallah, nenekku, yang tidak pernah melihatku selama sepuluh tahun, sangat, sangat tua. Dia keluar dari kamar dan dia melihatku. Dan bibiku berkata padaku, "Cepat pergilah, lari keluar rumah, karena kalau dia melihatmu... Dia sangat tua, kita tidak tahu apa yang akan terjadi." Bibi memaksaku untuk lari keluar rumah, pintu belakang, gerbang belakang, lari. Dan aku harus lari keluar rumah. Tidak ada perpisahan, apapun. Aku berlari keluar rumah. Aku masuk ke mobilku. Reaksi pertamaku adalah, aku perlu menelepon seseorang karena aku hanya ingin tinggal di rumah sekarang. Aku ingin kembali ke keluargaku.
Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya siapa-siapa. Dan hal pertama yang ku lakukan, aku menelepon teman yang paling saleh yang aku punya. Dan dia tidak menjawab. Karena aku membutuhkannya untuk memberitahuku, "Tenang, sayang. Semuanya baik-baik saja." Dan aku menelepon teman kedua, karena bacaan Al-Qur'annya indah aku merasa perlu mendengar Al-Qur'an. Dia tidak menjawab. Dan kemudian aku berpikir, berapa lama aku akan melakukan ini? Berapa lama aku akan mencari orang lain untuk menyelamatkanku? Ketika Allah berfirman, "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu." Kamu terhubung langsung dengan Allah. Jadi aku duduk di dalam mobil dan membaca Ayat Kursi. Aku membaca 3 Surah Qul.
Dan aku memohon kepada Allah, tetaplah bersamaku. Aku memohon kepada Allah SWT pada saat itu, jaga imanku, jaga imanku. Apa pun yang terjadi padaku tidak masalah. Izinkan aku mati sebagai Muslim. Jadi aku melakukannya. Dan aku pikir itu momen penting lainnya di mana aku tahu aku Muslim. Karena setan akan datang kepadamu berkali - kali dan pertanyakan... Membuatmu mempertanyakan Islammu. Apakah aku Muslim? Untuk siapa aku menjadi Muslim? Apakah aku Muslim? Apa yang aku sukai dari Islam? Karena setan akan datang kepadamu ketika kamu benar-benar lemah dan rendah. Setan datang kepadamu. Jadi selama 9, 10 tahun mempelajari iman, momen itu yang paling penting.
Itulah salah satu yang aku sampaikan pada anakku yang belum memahami. Mereka tidak merasakan sisi spiritual Islam karena masih kecil dan hidup itu sangat hebat. Aku berkata pada mereka, masih belajar, karena kamu tidak tahu saat kamu akan jatuh atau segala sesuatu yang kamu pelajari, dan kamu tidak tahu mengapa kamu belajar itu, akan kembali padamu dan itu akan menyelamatkanmu, menyelamatkan hidupmu. Jadi ketika ibumu memberitahumu, "Pergi ke madrasah ," ketika ibumu memberitahumu, "Ayo pergi mengaji, sekarang." Dan untuk para mualaf, belajarlah. Kamu tidak bisa menjadi Muslim begitu saja. "Oh, aku percaya pada Allah ." Tidak. Pergi dan pelajari. Pelajari agama ini dengan sungguh-sungguh.
Pelajari setiap hari, meskipun hanya sedikit. Karena ketika kamu jatuh, setan akan mendatangimu dan mencoba membawamu pergi. Lalu semua yang kamu pelajari, tiba-tiba akan menyelamatkanmu. Dan itu menyelamatkanku hari itu. Ada contoh lainnya. Jujur saja aku katakan, ada saat-saat di mana aku ingin menyakiti diri sendiri. Contohnya, aku ingat berada di kamar mandi aku menatap wajahku, dan aku membencinya, dan aku ingin menyakiti diriku sendiri. Hal terburuk berada di kamar mandi adalah kamu bahkan tidak bisa bilang, "Audzubillahiminasyaitonirojim." Jangan ke pergi ke kamar mandi saat kamu merasa sedih.
Namun, lalu aku mendengar suara di kepalaku seperti berkata, "Lihat ke luar jendela!" Dan melihat ke luar jendela, dan aku melihat langit. Aku berlari ke bawah. Aku membuka pintuku. Aku pergi ke kebun, dan aku menatap langit, dan aku melihat ke langit, karena aku ingat ayat dalam Al-Qur'an... kurasa ada dalam Al-Qur'an. Atau mungkin dalam hadis, Allah SWT berfirman bahwa "Bagi mereka yang percaya, mereka hanya perlu melihat ke langit, dan itu pertanda bagi mereka." Dan aku berlutut dan memohon kepada Allah, "Ya Allah, peliharalah aku di surga." Ini adalah kebebasan. Ini adalah kepuasan. Di mana kamu tidak perlu bergantung pada orang lain. Kamu tidak membutuhkan orang lain.
Kamu membutuhkan Allah SWT dalam hidupmu. Itulah yang aku lakukan. Jadi aku tidak menyakiti diriku sendiri karena aku punya Allah. + Lalu selama 14 tahun hidup sebagai Muslim, di momen apa kamu sangat membutuhkan keluargamu tapi kamu tidak bisa? - Kesulitan dalam pernikahan. Aku butuh ayahku. Aku butuh perlindungannya. Aku butuh keamanannya. Setiap wanita membutuhkan setidaknya seorang saudara laki-laki, seperti yang aku butuhkan, seperti, saudara laki - laki aku pada waktu itu. itulah yang paling aku rindukan. Keamanan, perlindungan mahram di setiap titik dalam hidupmu. Lihat, istilah seperti... "Oh, wanita tidak membutuhkan pria." Ayolah. Tentu saja kamu butuh.
Ketika kehilangan orang-orang dalam hidupmu, maka kamu akan menyadari, aku membutuhkan seorang pria dalam hidupku. Ibuku, yang sangat aku rindukan, ketika aku mempunyai anak. Aku merindukannya, ketika aku mulai bekerja juga, karena ibuku itu wanita yang kuat. Aku ingin belajar darinya, tapi Alhamdulillah aku punya kenangan yang benar-benar baik dan aku menghabiskan banyak waktu dengan ibuku ketika dia menjadi ibu yang kuat. Alhamdulillah, aku belajar banyak darinya. Aku menjalani hidup dengan ajaran orang tuaku karena itu tidak bertentangan dengan Islam, jadi kenapa tidak? Untuk para mualaf di luar sana, aku pikir penting untuk mengakui bahwa kalian bisa mencintai keluargamu.
Nabi Muhammad SAW mencintai pamannya. Bagiku, aku akan mengatakan pada orang tuaku bahwa aku mencintaimu, aku menghormatimu. Aku masih menjadi bagian darimu. Darahmu ada di dalam diriku. Ajaranmu masih ada dalam diriku. Aku tidak menolak semua yang kalian ajarkan padaku. Tidak mungkin. Kalian adalah panutanku. Kalian segalanya bagiku Dan aku akan melakukan apa saja untuk duduk bersamamu lagi. Aku ingin bersamamu lagi. Satu-satunya hal yang tidak bisa kulakukan mengutamakanmu lebih dari Allah. + Pernahkah kamu mengalami peristiwa luar biasa di mana kamu merasa bahwa kamu memiliki hubungan khusus dengan Allah? - Aku sudah menjelaskan begitu banyak kesulitan dalam hidupku.
Izinkan aku memberi tahu rahmat yang Allah berikan kepadaku. Alhamdulillah Ada dua momen. Ada momen saat aku berjuang, ya kan? Banyak momen saat aku berjuang. Subhanallah. Kau tahu, seseorang berkata padaku, "Dengar, ketika kamu sedang berjuang, temui anak-anakmu saat mereka sedang tidur dan hanya lihat mereka tidur." Jadi aku melakukannya. Saat itu, sekali lagi, aku hampir menyerah dalam hidup. Di mana membenci diri sendiri dan berpikir bahwa aku adalah beban bagi orang-orang. Lalu aku pergi ke kamar putriku dulu, dan dia berusia sekitar 11 tahun saat itu, tapi dia masih, ketika dia tidur, dia masih terlihat seperti putriku yang berusia lima tahun. Subhanallah. Putriku. Ini anakku.
Allah SWT telah memberiku seorang putri. Allah SWT menaruh jiwa di dunia ini melalui diriku. Dan aku pergi ke kamar putraku, dan mereka tertidur lelap. Dan aku berpikir lagi, ayat-ayat dari Surah Al-Mulk "...(Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur." Aku berpikir, bagaimana aku bisa mengeluh? Bagaimana aku membenci diri sendiri ketika Allah SWT telah memberiku rahmat sedemikian rupa, ketiga anakku. Dan pada saat itu aku merasa begitu dekat dengan Allah karena aku menghargai Allah SWT. Aku sangat bersyukur kepada-Nya dan itu membuatku merasa lebih dekat dengan-Nya. + Apa yang paling membuatmu terkesan pada Rasulullah SAW? - Sifatnya, selalu karena sifatnya.
Sifatnya, perlakuannya terhadap wanita terutama. Perlakuannya terhadap wanita ketika beliau tidak mau berbicara dengan ayah-ayah yang tidak mau mencium putrinya. Fakta bahwa beliau mengizinkan istri-istrinya memiliki emosi, memiliki perasaan dan menghadapinya dengan cara terbaik. Fakta bahwa beliau tidak pergi ke undangan makan malam karena istrinya Aisyah tidak diundang. Semuanya, kelembutannya, sifat adilnya saat berurusan dengan istri-istrinya, kelembutannya di rumah dan kemudian kekuatannya di medan perang. Kerentanannya saat berada di Taif, saat beliau pergi meminta bantuan. Dan sebaliknya, lihat apa yang terjadi padanya. Fakta bahwa beliau bisa menangis.
Para pria sekarang berpikir, "Kita tidak boleh menangis. Kita harus kuat." Tidak, beliau menangis. Saat berbicara tentang gender, dan apa itu pria, apa itu wanita. lihatlah Nabi Muhammad SAW. Saat ini aku sedang membaca biografinya tulisan dari Yasir Qadhi dan setiap paragraf, aku belajar sesuatu. Buku yang luar biasa. Aku memberitahu semua orang untuk membacanya. Semuanya, dari titik di ranjang kematiannya, Aisyah RA mengeluh tentang sakit kepalanya, dia mengeluh tentang sakit kepalanya, dan Nabi membuat lelucon dan berkata, "Bagaimana dengan sakit kepalaku? Aku sekarat, kau tahu?" Dan Subhanallah, semua yang beliau lalui, bisa kita contoh agar menjadi lebih baik dan sampai ke Jannah.
Itu semua adalah pengorbanannya bersama keluarganya, dengan kekayaannya, semua ujian yang beliau lalui. Untuk apa? Untuk kami. + Apa tujuan hidupmu sebelum dan sesudah menjadi Muslim? - Astaga, tujuanku adalah pulang. Aku ingin pulang pada Allah. Pulang. Aku ingin pulang. Dan aku ingin Allah SWT memberikan keluargaku saat aku di sana. Dan hanya itulah tujuanku. Ya Allah, berikan keluargaku. Semua ini hanya duniawi. Itulah yang aku katakan pada diriku sepanjang waktu. Semuanya duniawi. Duniawi. Kamu tidak berada di dalamnya selamanya. Aku ingin pulang.
+ Terakhir, apa yang ingin kamu katakan kepada orang-orang yang menontonmu, yang hatinya semakin dekat dengan Islam, tapi takut dengan reaksi kerabat atau lingkungan mereka? - Ingatlah tujuan akhirmu. Tujuan akhirmu adalah... Bahkan jika imanmu sangat kecil seperti atom, bahkan jika kamu merasakannya sedikit, tujuan akhirmu adalah mencapai Surga. Jika kau benar-benar percaya itu, kau tahu, bahwa ada Tuhan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mempelajarinya sendiri. Pertahankan bagian kecil yang kamu miliki dan pelajari. Jangan biarkan setan datang dan mengambil sedikit yang kamu miliki dan mengambilnya, karena setan akan berusaha sangat keras di tahap awal.
Setan akan datang padamu dengan mencoba menarikmu kembali. Jadi belajar, pelajari sendiri. Buat tujuan hidupmu sendiri. Lihat target di kepalamu. Kadang ada suara-suara di kepalaku. Ada percakapan di kepalaku di mana ada suara negatif dan kemudian ada suara positif, dan itulah yang harus kamu lakukan. Kamu harus mengatakannya dengan lantang. "Ya Allah, aku butuh pertolongan-Mu." "Bimbing aku di Shiratal Mustaqim." Jika kamu punya pertanyaan, "Haruskah ini, haruskah itu, karena reaksi keluargaku?" Ketahuilah bahwa kamu akan mati sendirian. Kamu tahu keluargamu tidak akan berada di sana untukmu ketika kamu dibangkitkan pada hari kiamat.
Jika kamu tidak beriman pada hari pembalasan, karena beberapa orang tidak beriman, ya kan? Coba pikirkan, apa manfaat yang aku dapatkan di dunia ini dari keluargaku? Manfaat apa yang aku dapatkan dari spiritualitas, kepercayaanku pada Tuhan? Kurasa paling penting adalah belajar. Teruslah belajar karena kamu akan mencapainya. Dan memiliki niat yang tulus dalam hatimu yang ingin kamu capai di sana. Allah berkata, "Datanglah kepadaku, jangan diam." Jika kamu berpikir untuk menjadi Muslim, mulailah melangkah menuju Allah, dan Allah akan datang berlari ke arahmu.
Ketika Allah berfirman, "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu." + Assalamu'alaikum Saudari Haniya Adam. Terima kasih telah menerima undangan kami. Senang sekali kamu hadir bersama kami. Aku ingin mulai dengan siapa Haniya Adam? Bisakah kamu ceritakan secara singkat tentang kehidupanmu? - Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aku ibu dari tiga anak. Alhamdulillah Aku dibesarkan sebagai seorang Sikh. Orang tuaku orang India, lahir dan besar di Inggris. Masa kecil yang menakjubkan. Alhamdulillah, orang tua yang sangat penyayang. Aku masuk Islam sekitar usia 24, 25. Kejutan besar bagi keluargaku, kejutan besar.
Alhamdulillah aku bekerja di Masjid Green Lane dan organisasi Muslim mana pun yang bisa kubantu. + Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Apa yang kamu yakini? - Saat aku tumbuh dewasa, orang tuaku mengajari agama Sikh, yang sebenarnya sangat aku sukai. Aku pernah datang ke Kuil Emas, Amritsar, aku menyukainya. Aku pernah ke Hemkund Sahib yang sebenarnya adalah ashram Hindu. Aku sangat menikmatinya. Sejak muda aku selalu merasa membutuhkan Tuhan. Aku merasa lebih bahagia dan puas saat pergi ke tempat-tempat ini. Jadi orang tuaku, Alhamdulillah, menanamkan nilai agama padaku. Mereka mengajarkan moral, etika, kerja keras, pendidikan, dan kejujuran. Mereka membesarkanku dengan sangat baik.
Dan saat aku kuliah, aku menjalani gaya hidup sekuler. Aku tidak menjalankan praktik agama. Ada sisi spiritual, tapi aku tidak mempraktikkan agama apa pun. Jujur, aku minum alkohol. Memakai baju sesukaku, itu hal normal bagiku. Tidak ada yang salah dengan itu. Ini gaya hidup normal bagiku. Jadi, sebelum aku masuk Islam, begitulah kehidupanku. + Bagaimana pertama kali kamu mengetahui tentang Islam? Apakah kamu memiliki prasangka tentang Islam? - Ya, aku sedikit Islamofobia. Ada banyak kejadian. Irak dan sebagainya. Dulu aku takut saat mendengar kata 'Allahu Akbar'. Digunakan untuk menakutiku. Dulu kupikir semua pria Muslim sangat keras. Memukul istri mereka dan sebagainya.
Ada isu terkait usia Aisyah RA. Ada banyak stereotip. Dulu aku pikir wanita Muslim tertekan. Mengapa mereka harus mengenakan hijab? Ini tidak benar. Ada banyak isu. + Bagaimana perjalananmu menuju Islam dimulai? Apa hal tentang Islam yang membuatmu terkesan? - Lucunya, dengan semua stereotip tentang wanita Muslim, hal pertama yang aku lihat dari Islam itu tentang perempuan dalam Islam. Aku mendengarkan banyak diskusi, banyak membaca di internet. Ada buku berjudul 'The Great Women of Islam' karya Darussalam, yang benar-benar luar biasa. Di kepalaku, perempuan tertindas. Lalu aku mulai membaca tentang Islam dan sadar, tidak, masyarakatlah yang menindas perempuan. Dan Islam itu maju.
Bahkan sangat maju sampai kurasa masyarakat masih berjuang untuk mengejarnya. Dan Insyallah akan kembali lebih kuat. Karena dengan semua masalah yang kita hadapi sekarang, dengan peran dan identitas gender, kurasa Islam punya semua jawabannya. Mungkin sudah saatnya kita mengejar ketertinggalan, karena Islam membebaskan perempuan dalam banyak hal. Wanita ditempatkan di sini, sebenarnya. Jika masyarakat paham itu, mereka akan sadar bahwa, Subhanallah, Islam memberi banyak hak pada wanita. Hak yang belum pernah ada sebelumnya di negara ini, di negara-negara Muslim. Nabi Muhammad SAW mengajari kita untuk menghormati perempuan. Contohnya dengan memberi wanita mahar.
Dulu wanita harus memberikan uang pada laki-laki. Sekarang laki-laki yang memberikan mahar pada wanita. Itu sangatlah penting untuk orang-orang yang dulu sedih saat melahirkan anak perempuan. Sampai mereka harus membunuhnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang mengasuh dua anak perempuan hingga dewasa, maka aku dan dia akan masuk surga seperti ini." Juga terkait hal-hal kecil. Jika seorang wanita bertengkar, berdebat, berteriak padamu, tetaplah diam. Itu yang Nabi lakukan. Tetap diam. Umar bin Khattab belajar. Dia ingin sekali menjawab saat berdebat dengan wanita, namun beliau belajar, tetap diam. Tidak apa-apa. Biarkan mereka meluapkan emosinya.
Membiarkan wanita meluapkan emosinya. Subhanallah, agama mana yang mengajarkan seperti itu? Ada banyak contoh, tapi pasti video ini akan sangat panjang. + Jadi kamu terkesan dengan status perempuan dalam Islam. Lalu apa lagi? - Saat aku kuliah, jujur aku hidup dengan cukup bebas. Artinya, saat kamu merasa bebas, kamu pergi keluar, clubbing, berdansa, minum alkohol, semua hal itu, dan yang kamu cari hanyalah kesenangan semata, atau kamu mencari validasi dari orang lain bahwa, "Kamu keren." atau "Aku menyukaimu." di mana sebagai wanita, kamu selalu ingin mendapat validasi dari orang lain. Sedangkan yang aku temukan dalam Islam, kamu tidak membutuhkannya. Kamu tidak butuh validasi orang lain.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa yang paling penting itu bagaimana Allah menerima kita. Saat kamu belajar mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW, kamu merasakan kepuasan itu. Kamu tidak perlu bergantung pada pria. Itulah berkah dari Allah dan kalian bersama-sama seperti ini, bukan seperti ini. Hidup bersama seperti ini. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa Dia menciptakan pria dan wanita setara tapi berbeda. Hal ini luar biasa. Hal ini mengajarkanku bahwa saat Allah SWT memerintahkan untuk menutup aurat sebagai wanita, memakai hijab, itu karena kita diciptakan berbeda.
Aku mungkin ingin terlihat menarik, terlihat cantik, namun Allah telah menciptakan pria berbeda, di mana dia akan melihatmu dan berpikir, "Oh, aku bisa mendekatinya." "Aku bisa melakukan ini, atau aku bisa mengatakan ini." Jadi Allah berkata, "Lindungi dirimu". "Tutupi dirimu." Namun pria tetap punya hasrat itu. Karena saat sudah halal, kamu akan menikmatinya. Karena jika tidak ada hasrat itu, kamu akan mengeluh. + Apa hal utama yang meyakinkanmu bahwa Islam itu 100% benar? Apa hal utama yang meyakinkanmu bahwa Islam itu 100% benar? - Pergi ke Masjid Green Lane.
Aku ingat saat pertama kali masuk ke masjid dan aku melihat wanita yang menutupi kepala hingga ujung kaki dengan warna hitam, sangat longgar. Dan, lucunya kita berbicara tentang Harry Potter, tapi mereka mengingatkanku pada adegan Harry Potter, di Hogwarts di mana mereka semua memakai jubah. Itu hal pertama yang aku pikirkan. Dan kemudian aku berpikir, wah, mereka telah memilih menjadi seperti itu. Aku ingin merasa percaya diri seperti itu karena aku berjalan dengan rok miniku. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berjalan seperti itu. Bukan hanya itu, mereka sangat ramah, dan sangat penuh kasih, sangat baik, sangat mendukung. Dan, kamu tak tahu...
Kadang, kita menyulitkan diri kita sendiri, saat kita tidak berkomunikasi dengan orang lain. Aku tidak pernah berbicara dengan wanita Muslim bercadar. Bahkan, aku belum pernah berbicara dengan wanita Muslim satu pun. Jadi itu pertemuan pertamaku. Mereka tersenyum. Kita selalu berprasangka buruk. Begitu banyak stereotip. Kami berpikir bahwa wanita bercadar tidak tersenyum. Jadi ada para wanita itu, mereka tersenyum, tertawa, bercanda. Dan aku pikir, mereka normal, mereka manusia, mereka bukan sosok hitam melayang-layang. Mereka manusia dan mereka wanita hebat. + Bagaimana kamu bersyahadat dan apa yang kamu rasakan? - Jadi kunjunganku berikutnya ke masjid itu adalah saat aku bersyahadat. Ya.
Alhamdulillah Ada sekitar 60, 70 orang di sana. Orang-orang terdekatku saat itu, yang mendampingiku bersyahadat, masih berhubungan dekat sekarang, Alhamdulillah. Jadi momen bersyahadat itu sangat luar biasa. Aku gemetar, tapi merasa sangat nyaman. Saat aku mandi besar setelah bersyahadat, dan aku sungguh merasa ini kehidupan baru bagiku. Ini awal yang baru, Allah SWT membersihkan segalanya, dan memberimu pahala dari kebaikan yang kamu lakukan. Rasanya sangat nyaman, dan aku siap untuk menjadi wanita Muslim. Aku mulai membaca, membaca, membaca, dan... + Bagaimana reaksi keluarga dan orang-orang di sekitarmu saat kamu masuk Islam? - Itu sangat, sangat sulit.
Tetapi dalam kesulitan itu ada kemudahan di saat yang sama. Aku tidak menyadarinya, karena kami benar-benar berhenti berhubungan. Aku tidak punya pilihan selain mengandalkan Allah karena pernikahanku akhirnya menjadi sangat sulit. Mempunyai anak juga menjadi kesulitan tersendiri. Setiap titik dalam hidupku rasanya sulit tanpa keluargaku karena aku sangat dekat dengan mereka, dan aku sangat mencintai mereka. Ada saat-saat di mana aku ingin memukul kepalaku ke dinding agar aku bisa tidur, karena ketika kamu terluka, kamu tak bisa beristirahat dan kamu banyak pikiran di kepalamu yang terus berulang. Segala sesuatu yang aku lihat, aku melihat ibu dan ayahku dulu, keluargaku, semuanya.
Jika aku pergi ke supermarket, aku akan ingat pergi ke supermarket dengan ayahku di akhir pekan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Jika aku mendengar lagu di Asda, aku ingat menari dengan adikku. Saat aku melihat sebuah program di TV, aku ingat menontonnya bersama kakakku. Semuanya. Jika aku mengalami kesulitan dalam rumah tanggaku, aku ingin lari ke keluargaku, aku tidak bisa. Aku hanya akan keluar dan duduk di mobil sendirian. Jadi itu benar-benar sulit, sangat sulit menjalani hidup tanpa keluargamu. Ini sangat sulit. Masih sulit hingga sekarang.
Sebagai Muslim, kita tahu dan memahami kisah para sahabat yang juga harus melakukan hal yang sama pada keluarga mereka dan meninggalkan keluarga mereka. Kami memahami bahwa Nabi Muhammad SAW harus memberi tahu paman-pamannya bahwa, "Dengar, aku akan hidup dengan cara yang berbeda." Yang kita pelajari adalah bahwa mereka itu manusia biasa dan mereka berhak atas perasaan mereka. Dan sekarang aku tidak menahan apa pun terhadap mereka. Harus aku akui bahwa ibuku masih menjadi panutanku. Dia masih orang yang kucintai lebih dari siapa pun di dunia ini. Sama seperti Nabi Muhammad SAW mencintai pamannya yang bukan Muslim, dan menangis untuk pamannya dan melakukan segalanya untuknya.
Aku merasakan hal yang pada ibuku. Dia adalah wanita yang luar biasa. Dia berhak atas perasaannya. Aku menyakitinya dan aku akan meminta maaf sampai hari aku mati untuk ibuku karena menyakitinya. Sebagai gantinya aku membuat doa untuk mereka. Aku sangat mencintai mereka. Kamu harus tahu bahwa mereka manusia yang baik. Penyesalanku adalah bahwa aku menyebabkan air mata, air mata orang tuaku. Aku pikir ada saat-saat di mana aku mencoba membela Islam dan mencoba membela keputusanku, dan aku mungkin berbicara tentang ibuku, dan mungkin aku berteriak pada satu titik, bahwa aku menyesal.
Karena Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa kamu harus menghormati orang tuamu entah mereka Muslim atau bukan. Kadang aku berpikir, kenapa aku masih Muslim? Karena kamu melalui begitu banyak ujian. Seperti yang aku katakan, selalu ada pikiran itu di benakku bahwa keluargaku ada di sana. Mereka berjarak satu jam dariku. Mengapa aku masih hidup seperti ini? Ketika aku berjuang sendiri, ketika aku berjuang dengan anak-anak atau secara finansial dan lainnya. Kenapa aku masih di sini? Dan itulah yang membuatku terus berjalan. Karena, hanya sebagai contoh, aku bercerai. Itu sangat, sangat mengerikan, sangat sulit.
Dan pada saat itu aku sendirian, dan aku jujur saja sangat berjuang untuk tetap hidup. Aku tidak tahu apakah aku ingin hidup. Ada begitu banyak masalah yang aku hadapi saat itu. Saat itu aku pergi menemui bibiku. Aku tidak merencanakannya. Itu terjadi begitu saja. Aku baru saja muncul di depan pintunya. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, seseorang dari keluargaku menunjukkan cinta padaku. Dia luar biasa. Dia membuatkanku teh. Dia duduk bersamaku dan dia berkata, "Apakah kamu baik-baik saja ?" Itu saja, "Apakah kamu baik-baik saja?" Selalu saja terjadi. Itu bibiku.
Itulah pertama kalinya anggota keluarga bertanya kepadaku, "Apakah kamu baik-baik saja?" Dan dia berkata, "Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu punya rencana?" Karena aku tidak punya apa-apa. Yang aku miliki hanyalah ketiga anakku dan demi Allah, aku tidak ingin meninggalkan rumahnya. Dan aku duduk di sana dan berpikir, "Ya ampun, bagaimana jika aku menyembunyikan keislamanku? Apakah keislamanku hanya ada di hatiku?" Tapi bagaimana jika aku pulang saja? Karena mereka mencintaiku dan aku ingin tinggal. Aku tidak ingin meninggalkan rumahnya. Aku ingin tinggal di rumahnya. Aku ingin menyerahkan segalanya. Bukan imanku. Kupikir aku bisa menyembunyikan itu.
Aku bisa salat di lantai atas saat tidak ada yang melihat. Dan aku ingin pulang. Qadarallah, nenekku, yang tidak pernah melihatku selama sepuluh tahun, sangat, sangat tua. Dia keluar dari kamar dan dia melihatku. Dan bibiku berkata padaku, "Cepat pergilah, lari keluar rumah, karena kalau dia melihatmu... Dia sangat tua, kita tidak tahu apa yang akan terjadi." Bibi memaksaku untuk lari keluar rumah, pintu belakang, gerbang belakang, lari. Dan aku harus lari keluar rumah. Tidak ada perpisahan, apapun. Aku berlari keluar rumah. Aku masuk ke mobilku. Reaksi pertamaku adalah, aku perlu menelepon seseorang karena aku hanya ingin tinggal di rumah sekarang. Aku ingin kembali ke keluargaku.
Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya siapa-siapa. Dan hal pertama yang ku lakukan, aku menelepon teman yang paling saleh yang aku punya. Dan dia tidak menjawab. Karena aku membutuhkannya untuk memberitahuku, "Tenang, sayang. Semuanya baik-baik saja." Dan aku menelepon teman kedua, karena bacaan Al-Qur'annya indah aku merasa perlu mendengar Al-Qur'an. Dia tidak menjawab. Dan kemudian aku berpikir, berapa lama aku akan melakukan ini? Berapa lama aku akan mencari orang lain untuk menyelamatkanku? Ketika Allah berfirman, "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu." Kamu terhubung langsung dengan Allah. Jadi aku duduk di dalam mobil dan membaca Ayat Kursi. Aku membaca 3 Surah Qul.
Dan aku memohon kepada Allah, tetaplah bersamaku. Aku memohon kepada Allah SWT pada saat itu, jaga imanku, jaga imanku. Apa pun yang terjadi padaku tidak masalah. Izinkan aku mati sebagai Muslim. Jadi aku melakukannya. Dan aku pikir itu momen penting lainnya di mana aku tahu aku Muslim. Karena setan akan datang kepadamu berkali - kali dan pertanyakan... Membuatmu mempertanyakan Islammu. Apakah aku Muslim? Untuk siapa aku menjadi Muslim? Apakah aku Muslim? Apa yang aku sukai dari Islam? Karena setan akan datang kepadamu ketika kamu benar-benar lemah dan rendah. Setan datang kepadamu. Jadi selama 9, 10 tahun mempelajari iman, momen itu yang paling penting.
Itulah salah satu yang aku sampaikan pada anakku yang belum memahami. Mereka tidak merasakan sisi spiritual Islam karena masih kecil dan hidup itu sangat hebat. Aku berkata pada mereka, masih belajar, karena kamu tidak tahu saat kamu akan jatuh atau segala sesuatu yang kamu pelajari, dan kamu tidak tahu mengapa kamu belajar itu, akan kembali padamu dan itu akan menyelamatkanmu, menyelamatkan hidupmu. Jadi ketika ibumu memberitahumu, "Pergi ke madrasah ," ketika ibumu memberitahumu, "Ayo pergi mengaji, sekarang." Dan untuk para mualaf, belajarlah. Kamu tidak bisa menjadi Muslim begitu saja. "Oh, aku percaya pada Allah ." Tidak. Pergi dan pelajari. Pelajari agama ini dengan sungguh-sungguh.
Pelajari setiap hari, meskipun hanya sedikit. Karena ketika kamu jatuh, setan akan mendatangimu dan mencoba membawamu pergi. Lalu semua yang kamu pelajari, tiba-tiba akan menyelamatkanmu. Dan itu menyelamatkanku hari itu. Ada contoh lainnya. Jujur saja aku katakan, ada saat-saat di mana aku ingin menyakiti diri sendiri. Contohnya, aku ingat berada di kamar mandi aku menatap wajahku, dan aku membencinya, dan aku ingin menyakiti diriku sendiri. Hal terburuk berada di kamar mandi adalah kamu bahkan tidak bisa bilang, "Audzubillahiminasyaitonirojim." Jangan ke pergi ke kamar mandi saat kamu merasa sedih.
Namun, lalu aku mendengar suara di kepalaku seperti berkata, "Lihat ke luar jendela!" Dan melihat ke luar jendela, dan aku melihat langit. Aku berlari ke bawah. Aku membuka pintuku. Aku pergi ke kebun, dan aku menatap langit, dan aku melihat ke langit, karena aku ingat ayat dalam Al-Qur'an... kurasa ada dalam Al-Qur'an. Atau mungkin dalam hadis, Allah SWT berfirman bahwa "Bagi mereka yang percaya, mereka hanya perlu melihat ke langit, dan itu pertanda bagi mereka." Dan aku berlutut dan memohon kepada Allah, "Ya Allah, peliharalah aku di surga." Ini adalah kebebasan. Ini adalah kepuasan. Di mana kamu tidak perlu bergantung pada orang lain. Kamu tidak membutuhkan orang lain.
Kamu membutuhkan Allah SWT dalam hidupmu. Itulah yang aku lakukan. Jadi aku tidak menyakiti diriku sendiri karena aku punya Allah. + Lalu selama 14 tahun hidup sebagai Muslim, di momen apa kamu sangat membutuhkan keluargamu tapi kamu tidak bisa? - Kesulitan dalam pernikahan. Aku butuh ayahku. Aku butuh perlindungannya. Aku butuh keamanannya. Setiap wanita membutuhkan setidaknya seorang saudara laki-laki, seperti yang aku butuhkan, seperti, saudara laki - laki aku pada waktu itu. itulah yang paling aku rindukan. Keamanan, perlindungan mahram di setiap titik dalam hidupmu. Lihat, istilah seperti... "Oh, wanita tidak membutuhkan pria." Ayolah. Tentu saja kamu butuh.
Ketika kehilangan orang-orang dalam hidupmu, maka kamu akan menyadari, aku membutuhkan seorang pria dalam hidupku. Ibuku, yang sangat aku rindukan, ketika aku mempunyai anak. Aku merindukannya, ketika aku mulai bekerja juga, karena ibuku itu wanita yang kuat. Aku ingin belajar darinya, tapi Alhamdulillah aku punya kenangan yang benar-benar baik dan aku menghabiskan banyak waktu dengan ibuku ketika dia menjadi ibu yang kuat. Alhamdulillah, aku belajar banyak darinya. Aku menjalani hidup dengan ajaran orang tuaku karena itu tidak bertentangan dengan Islam, jadi kenapa tidak? Untuk para mualaf di luar sana, aku pikir penting untuk mengakui bahwa kalian bisa mencintai keluargamu.
Nabi Muhammad SAW mencintai pamannya. Bagiku, aku akan mengatakan pada orang tuaku bahwa aku mencintaimu, aku menghormatimu. Aku masih menjadi bagian darimu. Darahmu ada di dalam diriku. Ajaranmu masih ada dalam diriku. Aku tidak menolak semua yang kalian ajarkan padaku. Tidak mungkin. Kalian adalah panutanku. Kalian segalanya bagiku Dan aku akan melakukan apa saja untuk duduk bersamamu lagi. Aku ingin bersamamu lagi. Satu-satunya hal yang tidak bisa kulakukan mengutamakanmu lebih dari Allah. + Pernahkah kamu mengalami peristiwa luar biasa di mana kamu merasa bahwa kamu memiliki hubungan khusus dengan Allah? - Aku sudah menjelaskan begitu banyak kesulitan dalam hidupku.
Izinkan aku memberi tahu rahmat yang Allah berikan kepadaku. Alhamdulillah Ada dua momen. Ada momen saat aku berjuang, ya kan? Banyak momen saat aku berjuang. Subhanallah. Kau tahu, seseorang berkata padaku, "Dengar, ketika kamu sedang berjuang, temui anak-anakmu saat mereka sedang tidur dan hanya lihat mereka tidur." Jadi aku melakukannya. Saat itu, sekali lagi, aku hampir menyerah dalam hidup. Di mana membenci diri sendiri dan berpikir bahwa aku adalah beban bagi orang-orang. Lalu aku pergi ke kamar putriku dulu, dan dia berusia sekitar 11 tahun saat itu, tapi dia masih, ketika dia tidur, dia masih terlihat seperti putriku yang berusia lima tahun. Subhanallah. Putriku. Ini anakku.
Allah SWT telah memberiku seorang putri. Allah SWT menaruh jiwa di dunia ini melalui diriku. Dan aku pergi ke kamar putraku, dan mereka tertidur lelap. Dan aku berpikir lagi, ayat-ayat dari Surah Al-Mulk "...(Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur." Aku berpikir, bagaimana aku bisa mengeluh? Bagaimana aku membenci diri sendiri ketika Allah SWT telah memberiku rahmat sedemikian rupa, ketiga anakku. Dan pada saat itu aku merasa begitu dekat dengan Allah karena aku menghargai Allah SWT. Aku sangat bersyukur kepada-Nya dan itu membuatku merasa lebih dekat dengan-Nya. + Apa yang paling membuatmu terkesan pada Rasulullah SAW? - Sifatnya, selalu karena sifatnya.
Sifatnya, perlakuannya terhadap wanita terutama. Perlakuannya terhadap wanita ketika beliau tidak mau berbicara dengan ayah-ayah yang tidak mau mencium putrinya. Fakta bahwa beliau mengizinkan istri-istrinya memiliki emosi, memiliki perasaan dan menghadapinya dengan cara terbaik. Fakta bahwa beliau tidak pergi ke undangan makan malam karena istrinya Aisyah tidak diundang. Semuanya, kelembutannya, sifat adilnya saat berurusan dengan istri-istrinya, kelembutannya di rumah dan kemudian kekuatannya di medan perang. Kerentanannya saat berada di Taif, saat beliau pergi meminta bantuan. Dan sebaliknya, lihat apa yang terjadi padanya. Fakta bahwa beliau bisa menangis.
Para pria sekarang berpikir, "Kita tidak boleh menangis. Kita harus kuat." Tidak, beliau menangis. Saat berbicara tentang gender, dan apa itu pria, apa itu wanita. lihatlah Nabi Muhammad SAW. Saat ini aku sedang membaca biografinya tulisan dari Yasir Qadhi dan setiap paragraf, aku belajar sesuatu. Buku yang luar biasa. Aku memberitahu semua orang untuk membacanya. Semuanya, dari titik di ranjang kematiannya, Aisyah RA mengeluh tentang sakit kepalanya, dia mengeluh tentang sakit kepalanya, dan Nabi membuat lelucon dan berkata, "Bagaimana dengan sakit kepalaku? Aku sekarat, kau tahu?" Dan Subhanallah, semua yang beliau lalui, bisa kita contoh agar menjadi lebih baik dan sampai ke Jannah.
Itu semua adalah pengorbanannya bersama keluarganya, dengan kekayaannya, semua ujian yang beliau lalui. Untuk apa? Untuk kami. + Apa tujuan hidupmu sebelum dan sesudah menjadi Muslim? - Astaga, tujuanku adalah pulang. Aku ingin pulang pada Allah. Pulang. Aku ingin pulang. Dan aku ingin Allah SWT memberikan keluargaku saat aku di sana. Dan hanya itulah tujuanku. Ya Allah, berikan keluargaku. Semua ini hanya duniawi. Itulah yang aku katakan pada diriku sepanjang waktu. Semuanya duniawi. Duniawi. Kamu tidak berada di dalamnya selamanya. Aku ingin pulang.
+ Terakhir, apa yang ingin kamu katakan kepada orang-orang yang menontonmu, yang hatinya semakin dekat dengan Islam, tapi takut dengan reaksi kerabat atau lingkungan mereka? - Ingatlah tujuan akhirmu. Tujuan akhirmu adalah... Bahkan jika imanmu sangat kecil seperti atom, bahkan jika kamu merasakannya sedikit, tujuan akhirmu adalah mencapai Surga. Jika kau benar-benar percaya itu, kau tahu, bahwa ada Tuhan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mempelajarinya sendiri. Pertahankan bagian kecil yang kamu miliki dan pelajari. Jangan biarkan setan datang dan mengambil sedikit yang kamu miliki dan mengambilnya, karena setan akan berusaha sangat keras di tahap awal.
Setan akan datang padamu dengan mencoba menarikmu kembali. Jadi belajar, pelajari sendiri. Buat tujuan hidupmu sendiri. Lihat target di kepalamu. Kadang ada suara-suara di kepalaku. Ada percakapan di kepalaku di mana ada suara negatif dan kemudian ada suara positif, dan itulah yang harus kamu lakukan. Kamu harus mengatakannya dengan lantang. "Ya Allah, aku butuh pertolongan-Mu." "Bimbing aku di Shiratal Mustaqim." Jika kamu punya pertanyaan, "Haruskah ini, haruskah itu, karena reaksi keluargaku?" Ketahuilah bahwa kamu akan mati sendirian. Kamu tahu keluargamu tidak akan berada di sana untukmu ketika kamu dibangkitkan pada hari kiamat.
Jika kamu tidak beriman pada hari pembalasan, karena beberapa orang tidak beriman, ya kan? Coba pikirkan, apa manfaat yang aku dapatkan di dunia ini dari keluargaku? Manfaat apa yang aku dapatkan dari spiritualitas, kepercayaanku pada Tuhan? Kurasa paling penting adalah belajar. Teruslah belajar karena kamu akan mencapainya. Dan memiliki niat yang tulus dalam hatimu yang ingin kamu capai di sana. Allah berkata, "Datanglah kepadaku, jangan diam." Jika kamu berpikir untuk menjadi Muslim, mulailah melangkah menuju Allah, dan Allah akan datang berlari ke arahmu.