Kisah Hidup Nabi Muhammad ﷺ dalam 21 Menit – Utusan Terakhir yang Mengubah Sejarah
Diterbitkan pada
Awal tahun 600-an. Hari yang panas dan terik di Jazirah Arab. Gadis kecil mencoba memahami yang sedang dilakukan ayahnya. Sepertinya sang ayah sedang menggali lubang di tengah gurun. Meskipun bingung, dia sangat senang karena akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama untuk pertama kalinya, karena belum pernah menerima kasih sayangnya sampai saat itu. Pada satu titik, dia bahkan mencoba membantunya menggali lubang. Seiring lubang semakin dalam, rasa ingin tahunya pun semakin besar. Apakah mereka akan bermain game? Seperti apa jadinya nanti? Saat dia mencoba mencari tahu apa yang akan terjadi, tiba-tiba dia didorong dan dia sudah ada di dasar lubang. Ayahnya yang mendorongnya.
Tanpa melihat wajah putrinya yang ketakutan, dia mulai melemparkan tanah ke arah putrinya. Pemandangan mengerikan ini berasal dari Jazirah Arab sebelum Islam, dari masa Jahiliyah, zaman kebodohan. Praktik ini sayangnya sangat umum di masa-masa sulit itu, karena anak perempuan dianggap sebagai sumber rasa malu. Mereka dikubur hidup-hidup dengan cara paling brutal oleh ayah mereka, sosok yang cintanya paling mereka harapkan. Namun bukan hanya itu. Banyak orang tak berdosa dibunuh dalam perkelahian berdarah. Anak yatim piatu ditindas. Yang kuat menindas yang lemah. Tidak ada hukum atau keadilan. Orang-orang begitu tersesat.
Mereka telah begitu tersesat sampai mereka membuat berhala dari batu dan menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Mengharapkan bantuan dan perlindungan dari berhala itu. Suasana spiritual ditutupi awan gelap. Hati dipenuhi dengan kekerasan dan pikiran dengan kabodohan. Seolah jiwa-jiwa berusaha keras bernapas. Mereka kesakitan, sekarat menuju kematian. Pada saat seperti itu, Allah mengirimkan cahaya petunjuk dan mengubah semua kegelapan menjadi cahaya. Cahaya itu adalah Nabi Muhammad SAW. Tahun 608 Sebelum menerima kenabian, seiring berjalannya waktu, Muhammad SAW menjadi semakin dikenal karena sifatnya yang dapat dipercaya dan baik akhlaknya.
Tidak ada yang pernah melihatnya berbohong sekali pun. Dan ia menjadi salah satu orang yang paling dicintai di masyarakat. Sehingga diberi julukan "Muhammad al-Amin." Muhammad yang dapat dipercaya. Suatu hari, sukunya, Quraisy, bekerja keras memperbaiki Ka'bah. Ketika akhirnya selesai, para klan berseteru tentang siapa yang meletakkan batu Hajar al-Aswad di tempatnya. Semua orang percaya bahwa keluarga mereka yang layak menerima kehormatan ini. Karena perdebatan yang panas, mereka sampai pada titik di mana mereka bersumpah untuk saling membunuh.
Kemudian, ditengah kesepakatan mereka, Muhammad al-Amin bertindak sebagai hakim dalam masalah tersebut dan menyelesaikannya lalu dengan damai mengakhiri konflik. Ia meminta Hajar Aswad diletakkan di atas kain, masing-masing pemimpin klan memegang kain di salah satu ujung yang berbeda. Akhirnya, ia mengambil batu dan meletakkannya sendiri di tempatnya. Semua orang sangat senang dengan keputusan ini. Tahun 610. Nabi SAW mendekati usia 40 tahun. Pada saat penganiayaan dan ketidakadilan menjadi lebih parah di Makkah, ia ingin meninggalkan para penyembah berhala yang kejam dan berduaan dengan Tuannya. Ia tidak bisa menoleransi apa yang terjadi di kota itu.
Sampai pada titik, ia menarik diri dari masyarakat dan secara teratur pergi ke Gunung Nur. Saat ia tinggal di Gua Hira di atas gunung, merenungkan ciptaan Tuhannya berdoa selama berbulan-bulan, setiap hari, cinta kepada Sang Pencipta semakin bertambah. Pada suatu hari, tiba-tiba ia bertemu dengan makhluk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu adalah Jibril. Malaikat Penyampai Wahyu. Dan ayat pertama dari kitab suci terakhir, Al-Qur'an diturunkan ke bumi. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Setelah menerima wahyu pertama dan kenabian, ia mulai mengajak orang untuk memeluk Islam, dimulai dengan orang terdekatnya. Wanita pertama yang beriman adalah istrinya Khadijah. Pria pertama yang beriman adalah Abu Bakar, dan anak pertama adalah Ali RA. Pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu, ajakan masuk Islam dilakukan secara rahasia. Dengan cara ini, kaum Muslim dapat terlindungi dari bahaya. Ada orang beriman di semua lapisan masyarakat. Dari laki-laki, perempuan, dari yang miskin, yang kaya, orang merdeka, budak, orang dewasa, anak-anak, dan lain-lain. Dan seiring berjalannya waktu jumlahnya mendekati 40.
Pada akhir tahun ketiga, Nabi SAW berdiri di Bukit Safa dan secara terbuka menjelaskan Islam kepada orang Quraisy. Tahun 614. Orang-orang kafir yang telah menjalankan agama leluhur mereka selama bertahun-tahun, tidak senang agama baru ini sama sekali. Mereka berusaha untuk mencegah penyebaran Islam. Dianggap sebagai hilangnya kekuasaan dan otoritas. Perebutan kekuasaan antar suku. Itulah mengapa mereka memilih tidak mendengarkan dan mengabaikan apa yang dikatakan. Bagi mereka, agama ini tidak dapat diterima karena mengubah semua persepsi mereka. Mana mungkin orang kulit hitam dan kulit putih, kaya dan miskin, bangsawan dan rakyat jelata, budak dan orang bebas bisa setara?
Bagaimana semua ini bisa disebut saudara? Untuk menghargai anak perempuan, memperlakukan perempuan sebagai manusia, memberi mereka hak untuk bersuara, dan berpendapat. Untuk mengatakan "Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Konsep-konsep ini sangat asing bagi mereka pada saat itu. Mereka berkata, dari mana agama baru ini berasal? Karena mereka melihat Islam sebagai agama para budak dan orang miskin, mereka semakin meningkatkan penindasan. Mereka mencoba segala macam cara menjauhkan orang-orang dari iman mereka. Mereka menghina, memukul, menyiksa mereka.
Umat Islam mendapat siksaan yang paling kejam hanya karena mereka berkata, "Allah adalah Tuhanku, dan tidak ada Tuhan selain Allah." Tahun 616. Akibat penindasan terhadap mereka, 101 orang Muslim bermigrasi ke Abisinia agar mereka dapat beragama dengan damai. Sebelum mereka, 19 Muslim telah pergi ke sana, namun Nabi SAW dan beberapa sahabatnya tetap tinggal di Makkah. Raja Abisinia, Najasyi, berkata bahwa Alkitab dan Taurat telah memberitahukan kedatangan Nabi Muhammad. Kemudian dia berjanji kepada umat Muslim untuk hidup damai di negaranya. Meskipun mengalami penindasan, jumlah umat Islam terus bertambah.
Dua orang yang ditakuti semua orang Makkah juga bergabung dengan orang beriman dan menjadi Muslim. Hamza dan Umar RA. Hal ini meningkatkan kekuatan dan keberanian umat beriman. Untuk pertama kalinya bersama-sama, umat Islam turun ke jalan secara terbuka menyatakan Islam. Ini adalah tanda bahwa keseimbangan mulai bergeser. Tahun 617. Seiring bertambahnya jumlah umat Islam, kemarahan para penyembah berhala bertambah. Kaum Quraisy mencoba segala cara untuk membuat Nabi dan para pengikutnya menyerah. Dia menolak mentah-mentah semua tawaran agar menyerah, seperti, kami akan menjadikanmu orang terkaya, kami akan menjadikanmu pemimpin, dan sebagainya.
Kebohongan dan berbagai ejekan tidak dapat membuat Nabi patah semangat maupun orang-orang di sekitarnya. Karena gagal mengalahkan secara intelektual, mereka memilih kekerasan terhadap Muslim. Dan ketika itu juga tidak berhasil, Mereka memulai boikot yang kejam terhadap keluarga putra-putra Hasyim, termasuk Nabi Muhammad. Tak akan menjual atau membeli apa pun dari mereka. Bahkan akan mencegah mereka yang ingin menjual apa pun kepada Muslim, atau mencoba membantu dengan cara apa pun. Tanpa membedakan muda atau tua, anak-anak, wanita, dan orang sakit, mereka membiarkan mereka lapar, haus, dan terisolasi, agar kaum Muslim menyerah. Tahun 619. Boikot itu sangat kejam dan melelahkan.
Sering kali, Muslimin tidak mendapat makanan apa pun berhari-hari dalam kelaparan. Mereka bahkan harus memakan kulit binatang dan kulit pohon untuk bertahan hidup. Ketika orang-orang melihat bahwa Nabi menolak semua materi yang ditawarkan, tapi hanya menderita demi kepentingannya, mereka tidak dapat menyangkal ketulusannya dan mulai percaya kepadanya. Apa yang dapat menghalangi kebenaran yang menerangi dan memuaskan jiwa, hati, dan pikiran? Setelah tiga tahun yang panjang, boikot itu berakhir. Ini menjadi kelegaan bagi seluruh Muslim serta bagi Nabi SAW. Namun pada tahun yang sama ia kehilangan dua pendukung pentingnya yang telah berdiri di sampingnya dalam setiap kesulitannya.
Pamannya Abu Thalib dan istrinya tercinta Khadijah. Itulah sebabnya tahun ini disebut Tahun Kesedihan. Tahun 620. Meskipun dalam kesedihan, Nabi kita SAW, tahu bahwa dunia ini penuh ujian. Dan dia tak henti melakukan tugasnya, bahkan untuk sesaat. Terserah kepada Allah memberikan keimanan dan petunjuk kepada umatnya. Jadi, ia berfokus langsung pada bagiannya. Itu adalah menyampaikan pesan. Dia pergi ke salah satu kota terbesar di wilayah itu, Taif, bersama Zaid, untuk mengajak orang masuk Islam. Namun atas perintah para pemimpin mereka, masyarakat Taif mulai melempari mereka batu.
Sepanjang 2,5 kilometer, jarak yang ditempuh lebih dari 3000 langkah, mereka dilempari batu dengan kejam, diludahi, dan dihina. Dari Taif, tempat ia pergi untuk menyelamatkan kehidupan abadi penduduknya, Nabi Muhammad kembali ke Makkah, dengan tubuh penuh darah dan luka. Setelah melalui kesedihan demi kesedihan, Allah menganugerahkan berkah yang besar kepada Nabi kita SAW dan mengangkatnya ke Mi'raj. Dengan Mi'raj, Allah menunjukkan bahwa Dia menyayangi utusan-Nya dengan cara yang unik dan memberinya salah satu hadiah terbesar. Salat lima waktu. Teguh dalam perjuangannya menyampaikan risalah, Rasulullah terus mengunjungi tenda-tenda selama musim haji.
Dan akhirnya sekelompok pemuda dari Madinah menerima Islam di Aqaba. Tahun 621. Mush'ab bin Umair, salah satu sahabat terkemuka Nabi SAW, diutus ke Madinah sebagai guru Al-Qur'an. Kehadirannya menegakkan dasar-dasar Islam di sana dan banyak orang mulai mengucapkan Syahadat. Era baru akan segera dimulai. Tahun 622. Tidak mungkin lagi untuk menjalankan ajaran Islam di Makkah. Penindasan menjadi tak tertahankan. Oleh karena itu, umat Islam mulai bermigrasi ke Madinah dalam kelompok-kelompok terpisah. Namun, Nabi SAW akan bermigrasi terakhir. Karena sebagai seorang pemimpin, ia harus memastikan bahwa setiap orang tiba di Madinah dengan selamat. Jadi ia tetap tinggal di Makkah.
Melihat potensi ancaman saat kaum Muslim menjadi kaum yang kuat di Madinah, orang-orang kafir mengambil keputusan. Mereka sepakat harus menyelesaikan masalah ini untuk selamanya dengan membunuh Nabi SAW. Nabi, bersama Abu Bakar, secara diam-diam berangkat hijrah dan berlindung di Gua Tsur untuk bersembunyi dari orang-orang kafir. Sebagai mukjizat, Allah mengutus dua hewan. Seekor laba-laba dengan cepat membuat jaring, dan seekor burung membuat sarang untuk menutup pintu masuk gua. Karena mengira tidak mungkin ada orang di dalam, orang-orang kafir itu berbalik. Selama Hijrah, dia beberapa kali hampir mati. Namun, Tuhannya melindunginya.
Kemudian Allah menyebutkan kenyataan ini dalam Al-Qur'an dan berkata, "Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia." Dan ini memang terjadi. Bertahan hidup dari berbagai upaya pembunuhan sepanjang hidupnya, pada akhirnya dia meninggal di tempat tidurnya. Ketika ia keluar dari Gua Tsur, di mana ia secara ajaib dilindungi oleh Allah, ia dengan sedih menatap Makkah dan berkata, "Demi Allah, engkau adalah negeri terbaik milik Allah dan negeri Allah yang paling aku sayangi. Demi Allah, kalau aku tidak diusir darimu, aku tidak akan pernah pergi," dan melanjutkan perjalanannya. Era Makkah kini telah berakhir, dan era Madinah telah dimulai. Tanggal ini dianggap sebagai awal kalender Hijriah.
Dia berkata, "Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan pernah berhenti membela Islam sampai Allah membuat Islam menang atau aku mati membelanya." Tahun 623. Setelah Hijrah, dengan konstitusi pertama yang tertulis dalam sejarah, Konstitusi Madinah, Negara Islam dibentuk. Tahun 624. Islam mulai dijalankan dan dipraktikkan secara penuh di Madinah. Selama periode ini, pertempuran pertama Islam melawan orang-orang kafir Makkah, Pertempuran Badar terjadi. Dibandingkan dengan musuh, tentara Muslim jauh lebih lemah dalam hal peralatan. Dan jumlah mereka juga jauh lebih sedikit.
Hanya 313 Muslim yang berperang melawan tentara Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Pada akhir pertempuran, 70 orang kafir, termasuk banyak pemimpin terkemuka Quraisy seperti Abu Jahal terbunuh dan 14 orang Muslim syahid. Ini menandai kemenangan pertama Islam. Dan sejak saat itu, tidak akan ada yang sama lagi. Pada periode awal Madinah, ibadah wajib juga terus dilakukan. Puasa diwajibkan. Idul Fitri pertama pun dirayakan. Kemudian datanglah keberkahan lain. Idul Adha pertama. Setelah itu, zakat menjadi kewajiban. Dengan kata lain, perintah-perintah dasar Islam mulai ditetapkan satu per satu.
Pada tahun-tahun pertama, keyakinan akan keberadaan Allah dan keesaan-Nya, akhirat, keyakinan akan surga dan neraka, dan tujuan penciptaan manusia telah mengakar kuat di hati umat Islam. Dan sekarang hukum-hukum dan ibadah-ibadah mulai dipraktikkan. Tahun 625. Perang Uhud terjadi. Ini adalah pertempuran yang melibatkan kaum Muslim 700 orang dan 3000 orang kaum kafir. Pada awalnya, kaum Muslim menghancurkan musuh. Namun ketika para pemanah meninggalkan posisi mereka, mengira pertempuran telah berakhir, orang-orang kafir membalas serangan dan kaum Muslim kalah perang. 70 Muslim terbunuh dan lebih dari 20 orang kafir terbunuh.
Singa Allah, Hamza, yang telah berjuang keras demi Islam, juga termasuk di antara para syuhada. Selain dibunuh, tubuhnya dimutilasi karena perasaan dendam. Tahun 626. Anggur mengalir seperti sungai di jalan-jalan Madinah. Itu karena minum alkohol baru saja diharamkan. Semua orang menumpahkan anggur dari rumah mereka ke jalan. Meskipun itu adalah salah satu dari tiga minuman pokok dalam masyarakat itu, ini menjadi pemandangan tepat setelah ayat larangan alkohol.
Ketika tak mungkin menghilangkan kebiasaan seperti merokok dari komunitas kecil, fakta bahwa seluruh populasi Muslim seketika meninggalkan anggur, menunjukkan keajaiban kekuatan Al-Qur'an dalam hati dan pikiran, dan bahwa sumbernya hanya bisa dari Allah. Tahun 627. Dalam Perang Ahzab, juga dikenal dengan Pertempuran Parit, Umat Muslim berperang melawan kaum kafir yang datang bersamaan dari seluruh tanah Arab di bawah pimpinan kaum Quraisy. Dengan pasukan sekitar 12.000 orang, mereka datang ke Madinah memusnahkan semua kaum Muslim, termasuk orang tua, wanita, dan anak-anak. Dengan taktik perang yang berbeda, umat Muslim menggali parit di sekitar Madinah untuk mempertahankan kota.
Strategi brilian ini berhasil dan kaum kafir tak bisa melewati parit. Akhirnya mereka harus mundur dan perang dimenangkan oleh kaum Muslim. Tahun 628. Telah begitu lama umat Muslim merindukan Ka'bah di Makkah dan sangat ingin melakukan umrah. Karenanya, mereka bersama-sama berangkat ke Makkah. Namun, kaum Quraisy ingin mencegah hal ini, sehingga sebuah perjanjian ditandatangani di antara mereka. Perjanjian Hudaibiyyah. Ini sebenarnya adalah titik puncaknya. Karena meskipun syarat-syarat perjanjian tampaknya berpihak kepada orang-orang kafir, nyatanya hal itu menyebabkan kekalahan mereka pada akhirnya. Umat Islam tidak akan dapat mengunjungi Ka'bah tahun itu, tetapi setahun kemudian.
Juga, akan ada gencatan senjata di antara mereka selama sepuluh tahun. Memanfaatkan tidak adanya konflik dengan kaum Quraisy, Nabi Muhammad SAW terus menyebarkan pesannya kepada lebih banyak suku dan lebih banyak bangsa. Surat undangan untuk masuk Islam dikirim kepada para penguasa negara tetangga, dimulai dari Bizantium dan Kekaisaran Sasaniyah. Karena Islam bukanlah agama yang diturunkan hanya untuk suatu masyarakat atau bangsa tertentu, tetapi untuk seluruh dunia dan semua bangsa. Tahun 629. Setelah perjanjian itu, prasangka buruk kaum Quraisy dan sikap keras kepala terhadap Islam perlahan mulai menghilang. Hati dan pikiran semakin terbuka terhadap Islam.
Dengan kata lain, pedang perang diturunkan dan pedang berlian spiritual Islam menaklukkan pikiran dan hati. Khalid bin Walid, seorang jenius militer dari suku Quraisy tidak bisa tetap peduli terhadap kebenaran ini dan memutuskan untuk menjadi Muslim. Selama periode ini, Pertempuran Mu'tah melawan Bizantium terjadi. Ketika tiga panglima besar seperti Zaid, Ja'far, dan Abdullah bin Rawaha syahid, satu demi satu, Khalid bin Walid mengambil alih. Dan dengan taktik jeniusnya, tentara Muslim berhasil menyerang tentara Bizantium yang jumlahnya lebih banyak berkali-kali lipat. Setelah Bizantium menderita kerugian besar, kedua belah pihak mundur. Ini adalah perang pertama antara Muslim dan Bizantium.
Tahun 630. Dua tahun setelah ditandatangani, Perjanjian Hudaibiyyah dilanggar oleh orang-orang kafir. Setelah bertahun-tahun terpisah, Kerinduan terhadap Ka'bah dan Makkah semakin meningkat. Dan sekaranglah waktu mengakhirinya. Bersama umat Islam dengan hati penuh keimanan di belakangnya, Nabi SAW memulai persiapannya menaklukan Makkah. Tentara Muslim, yang telah bertambah dari satu menjadi ribuan dan kini jumlahnya melebihi 10.000 orang, memasuki Makkah dengan penuh kegembiraan dan semangat. Ini adalah penaklukan terindah yang pernah disaksikan dunia. Karena Makkah ditaklukkan dengan damai tanpa perang. Kemudian, Nabi SAW menyatakan ampunannya, dan mengatakan bahwa semua orang diampuni.
Ini adalah rahmat dan kebesaran yang tak tertandingi dalam sejarah dunia. Bahkan memaafkan mereka yang membunuh dan memotong tubuh pamannya, Hamza, Wahsyi, yang telah membunuh Hamza, kemudian menerima Islam dan menjadi Wahsyi RA. Artinya, setiap Muslim akan berdoa untuknya, berkata, "Semoga Allah meridainya." Hind, yang memerintahkan Hamza untuk dibunuh dan mengunyah hatinya menjadi seorang Sahabat. Mereka yang pernah menganiaya Rasulullah dengan segala cara, yang pernah menghinanya, yang pernah menjadi musuh bebuyutannya, yang pernah senang menyakitinya, sekarang telah diampuni dan dibebaskan. Setelah itu, satu demi satu suku mulai memeluk Islam.
Delegasi dikirim ke sekitar 70 suku dan semuanya menjadi Muslim. Negeri-negeri yang dikuasai Islam secara bertahap menjadi semakin luas. Tahun 632. Kita berada di fase terakhir. Nabi kita SAW meninggalkan Madinah untuk melaksanakan haji perpisahan. Berdiri di hadapan hampir 100.000 umat Muslim, dia menyampaikan Khotbah Perpisahan. Untuk sesaat, anda bayangkan diri anda di sana dan dengarkan. Dalam satu bagian khotbahnya, beliau mengucapkan kata-kata ini. "Hai, Manusia! Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Orang Arab tidak memiliki keunggulan atas orang non-Arab begitu pula orang non-Arab tidak memiliki keunggulan atas orang Arab.
Begitu pula, orang kulit putih tidak memiliki keunggulan atas orang kulit hitam, begitu pula orang kulit hitam tidak memiliki keunggulan atas orang kulit putih, kecuali dengan Taqwa (kesadaran akan Allah) dan amal saleh. Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya." Usianya kini 63 tahun. Penyakitnya selama beberapa hari, semakin parah dan rasa sakitnya makin terasa. Sudah waktu baginya untuk bertemu Tuhannya. Kerinduannya pun berakhir. beliau meninggalkan dunia ini dan masuk ke alam keabadian. Dan bertemu dengan Sahabatnya, Yang Maha Kuasa.
ٱلرَّفِيقِ ٱلْأَعْلَ Dalam waktu singkat, hanya 23 tahun, Nabi SAW membawa perubahan yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Setelahnya, sang ayah yang telah mengubur putrinya hidup-hidup menjadi takut menyakiti seekor lalat pun. Mereka yang dulu saling menghunus pedang menjadi rela mengorbankan hidup mereka demi satu sama lain. Bangsa yang memiliki adat istiadat jahat mengakar kuat yang dulunya identik dengan kata "Jahiliyah", kebodohan, kini telah lenyap sama sekali, dan seakan-akan bangsa yang baru datang menggantikan mereka. Moralitas dan karakter membaik hingga ke tingkat yang akan menjadi contoh bagi generasi mendatang dan bagi seluruh umat manusia.
Singkat kata, Rasulullah SAW mengubah bara hitam menjadi berlian cemerlang, dan cahaya yang ia tanam di hati pun bersemi, berkembang, tumbuh semakin besar, dan telah sampai kepada kita sampai hari ini. Semoga kedamaian dan berkah abadi menyertainya. Amin.
Tanpa melihat wajah putrinya yang ketakutan, dia mulai melemparkan tanah ke arah putrinya. Pemandangan mengerikan ini berasal dari Jazirah Arab sebelum Islam, dari masa Jahiliyah, zaman kebodohan. Praktik ini sayangnya sangat umum di masa-masa sulit itu, karena anak perempuan dianggap sebagai sumber rasa malu. Mereka dikubur hidup-hidup dengan cara paling brutal oleh ayah mereka, sosok yang cintanya paling mereka harapkan. Namun bukan hanya itu. Banyak orang tak berdosa dibunuh dalam perkelahian berdarah. Anak yatim piatu ditindas. Yang kuat menindas yang lemah. Tidak ada hukum atau keadilan. Orang-orang begitu tersesat.
Mereka telah begitu tersesat sampai mereka membuat berhala dari batu dan menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Mengharapkan bantuan dan perlindungan dari berhala itu. Suasana spiritual ditutupi awan gelap. Hati dipenuhi dengan kekerasan dan pikiran dengan kabodohan. Seolah jiwa-jiwa berusaha keras bernapas. Mereka kesakitan, sekarat menuju kematian. Pada saat seperti itu, Allah mengirimkan cahaya petunjuk dan mengubah semua kegelapan menjadi cahaya. Cahaya itu adalah Nabi Muhammad SAW. Tahun 608 Sebelum menerima kenabian, seiring berjalannya waktu, Muhammad SAW menjadi semakin dikenal karena sifatnya yang dapat dipercaya dan baik akhlaknya.
Tidak ada yang pernah melihatnya berbohong sekali pun. Dan ia menjadi salah satu orang yang paling dicintai di masyarakat. Sehingga diberi julukan "Muhammad al-Amin." Muhammad yang dapat dipercaya. Suatu hari, sukunya, Quraisy, bekerja keras memperbaiki Ka'bah. Ketika akhirnya selesai, para klan berseteru tentang siapa yang meletakkan batu Hajar al-Aswad di tempatnya. Semua orang percaya bahwa keluarga mereka yang layak menerima kehormatan ini. Karena perdebatan yang panas, mereka sampai pada titik di mana mereka bersumpah untuk saling membunuh.
Kemudian, ditengah kesepakatan mereka, Muhammad al-Amin bertindak sebagai hakim dalam masalah tersebut dan menyelesaikannya lalu dengan damai mengakhiri konflik. Ia meminta Hajar Aswad diletakkan di atas kain, masing-masing pemimpin klan memegang kain di salah satu ujung yang berbeda. Akhirnya, ia mengambil batu dan meletakkannya sendiri di tempatnya. Semua orang sangat senang dengan keputusan ini. Tahun 610. Nabi SAW mendekati usia 40 tahun. Pada saat penganiayaan dan ketidakadilan menjadi lebih parah di Makkah, ia ingin meninggalkan para penyembah berhala yang kejam dan berduaan dengan Tuannya. Ia tidak bisa menoleransi apa yang terjadi di kota itu.
Sampai pada titik, ia menarik diri dari masyarakat dan secara teratur pergi ke Gunung Nur. Saat ia tinggal di Gua Hira di atas gunung, merenungkan ciptaan Tuhannya berdoa selama berbulan-bulan, setiap hari, cinta kepada Sang Pencipta semakin bertambah. Pada suatu hari, tiba-tiba ia bertemu dengan makhluk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu adalah Jibril. Malaikat Penyampai Wahyu. Dan ayat pertama dari kitab suci terakhir, Al-Qur'an diturunkan ke bumi. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Setelah menerima wahyu pertama dan kenabian, ia mulai mengajak orang untuk memeluk Islam, dimulai dengan orang terdekatnya. Wanita pertama yang beriman adalah istrinya Khadijah. Pria pertama yang beriman adalah Abu Bakar, dan anak pertama adalah Ali RA. Pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu, ajakan masuk Islam dilakukan secara rahasia. Dengan cara ini, kaum Muslim dapat terlindungi dari bahaya. Ada orang beriman di semua lapisan masyarakat. Dari laki-laki, perempuan, dari yang miskin, yang kaya, orang merdeka, budak, orang dewasa, anak-anak, dan lain-lain. Dan seiring berjalannya waktu jumlahnya mendekati 40.
Pada akhir tahun ketiga, Nabi SAW berdiri di Bukit Safa dan secara terbuka menjelaskan Islam kepada orang Quraisy. Tahun 614. Orang-orang kafir yang telah menjalankan agama leluhur mereka selama bertahun-tahun, tidak senang agama baru ini sama sekali. Mereka berusaha untuk mencegah penyebaran Islam. Dianggap sebagai hilangnya kekuasaan dan otoritas. Perebutan kekuasaan antar suku. Itulah mengapa mereka memilih tidak mendengarkan dan mengabaikan apa yang dikatakan. Bagi mereka, agama ini tidak dapat diterima karena mengubah semua persepsi mereka. Mana mungkin orang kulit hitam dan kulit putih, kaya dan miskin, bangsawan dan rakyat jelata, budak dan orang bebas bisa setara?
Bagaimana semua ini bisa disebut saudara? Untuk menghargai anak perempuan, memperlakukan perempuan sebagai manusia, memberi mereka hak untuk bersuara, dan berpendapat. Untuk mengatakan "Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Konsep-konsep ini sangat asing bagi mereka pada saat itu. Mereka berkata, dari mana agama baru ini berasal? Karena mereka melihat Islam sebagai agama para budak dan orang miskin, mereka semakin meningkatkan penindasan. Mereka mencoba segala macam cara menjauhkan orang-orang dari iman mereka. Mereka menghina, memukul, menyiksa mereka.
Umat Islam mendapat siksaan yang paling kejam hanya karena mereka berkata, "Allah adalah Tuhanku, dan tidak ada Tuhan selain Allah." Tahun 616. Akibat penindasan terhadap mereka, 101 orang Muslim bermigrasi ke Abisinia agar mereka dapat beragama dengan damai. Sebelum mereka, 19 Muslim telah pergi ke sana, namun Nabi SAW dan beberapa sahabatnya tetap tinggal di Makkah. Raja Abisinia, Najasyi, berkata bahwa Alkitab dan Taurat telah memberitahukan kedatangan Nabi Muhammad. Kemudian dia berjanji kepada umat Muslim untuk hidup damai di negaranya. Meskipun mengalami penindasan, jumlah umat Islam terus bertambah.
Dua orang yang ditakuti semua orang Makkah juga bergabung dengan orang beriman dan menjadi Muslim. Hamza dan Umar RA. Hal ini meningkatkan kekuatan dan keberanian umat beriman. Untuk pertama kalinya bersama-sama, umat Islam turun ke jalan secara terbuka menyatakan Islam. Ini adalah tanda bahwa keseimbangan mulai bergeser. Tahun 617. Seiring bertambahnya jumlah umat Islam, kemarahan para penyembah berhala bertambah. Kaum Quraisy mencoba segala cara untuk membuat Nabi dan para pengikutnya menyerah. Dia menolak mentah-mentah semua tawaran agar menyerah, seperti, kami akan menjadikanmu orang terkaya, kami akan menjadikanmu pemimpin, dan sebagainya.
Kebohongan dan berbagai ejekan tidak dapat membuat Nabi patah semangat maupun orang-orang di sekitarnya. Karena gagal mengalahkan secara intelektual, mereka memilih kekerasan terhadap Muslim. Dan ketika itu juga tidak berhasil, Mereka memulai boikot yang kejam terhadap keluarga putra-putra Hasyim, termasuk Nabi Muhammad. Tak akan menjual atau membeli apa pun dari mereka. Bahkan akan mencegah mereka yang ingin menjual apa pun kepada Muslim, atau mencoba membantu dengan cara apa pun. Tanpa membedakan muda atau tua, anak-anak, wanita, dan orang sakit, mereka membiarkan mereka lapar, haus, dan terisolasi, agar kaum Muslim menyerah. Tahun 619. Boikot itu sangat kejam dan melelahkan.
Sering kali, Muslimin tidak mendapat makanan apa pun berhari-hari dalam kelaparan. Mereka bahkan harus memakan kulit binatang dan kulit pohon untuk bertahan hidup. Ketika orang-orang melihat bahwa Nabi menolak semua materi yang ditawarkan, tapi hanya menderita demi kepentingannya, mereka tidak dapat menyangkal ketulusannya dan mulai percaya kepadanya. Apa yang dapat menghalangi kebenaran yang menerangi dan memuaskan jiwa, hati, dan pikiran? Setelah tiga tahun yang panjang, boikot itu berakhir. Ini menjadi kelegaan bagi seluruh Muslim serta bagi Nabi SAW. Namun pada tahun yang sama ia kehilangan dua pendukung pentingnya yang telah berdiri di sampingnya dalam setiap kesulitannya.
Pamannya Abu Thalib dan istrinya tercinta Khadijah. Itulah sebabnya tahun ini disebut Tahun Kesedihan. Tahun 620. Meskipun dalam kesedihan, Nabi kita SAW, tahu bahwa dunia ini penuh ujian. Dan dia tak henti melakukan tugasnya, bahkan untuk sesaat. Terserah kepada Allah memberikan keimanan dan petunjuk kepada umatnya. Jadi, ia berfokus langsung pada bagiannya. Itu adalah menyampaikan pesan. Dia pergi ke salah satu kota terbesar di wilayah itu, Taif, bersama Zaid, untuk mengajak orang masuk Islam. Namun atas perintah para pemimpin mereka, masyarakat Taif mulai melempari mereka batu.
Sepanjang 2,5 kilometer, jarak yang ditempuh lebih dari 3000 langkah, mereka dilempari batu dengan kejam, diludahi, dan dihina. Dari Taif, tempat ia pergi untuk menyelamatkan kehidupan abadi penduduknya, Nabi Muhammad kembali ke Makkah, dengan tubuh penuh darah dan luka. Setelah melalui kesedihan demi kesedihan, Allah menganugerahkan berkah yang besar kepada Nabi kita SAW dan mengangkatnya ke Mi'raj. Dengan Mi'raj, Allah menunjukkan bahwa Dia menyayangi utusan-Nya dengan cara yang unik dan memberinya salah satu hadiah terbesar. Salat lima waktu. Teguh dalam perjuangannya menyampaikan risalah, Rasulullah terus mengunjungi tenda-tenda selama musim haji.
Dan akhirnya sekelompok pemuda dari Madinah menerima Islam di Aqaba. Tahun 621. Mush'ab bin Umair, salah satu sahabat terkemuka Nabi SAW, diutus ke Madinah sebagai guru Al-Qur'an. Kehadirannya menegakkan dasar-dasar Islam di sana dan banyak orang mulai mengucapkan Syahadat. Era baru akan segera dimulai. Tahun 622. Tidak mungkin lagi untuk menjalankan ajaran Islam di Makkah. Penindasan menjadi tak tertahankan. Oleh karena itu, umat Islam mulai bermigrasi ke Madinah dalam kelompok-kelompok terpisah. Namun, Nabi SAW akan bermigrasi terakhir. Karena sebagai seorang pemimpin, ia harus memastikan bahwa setiap orang tiba di Madinah dengan selamat. Jadi ia tetap tinggal di Makkah.
Melihat potensi ancaman saat kaum Muslim menjadi kaum yang kuat di Madinah, orang-orang kafir mengambil keputusan. Mereka sepakat harus menyelesaikan masalah ini untuk selamanya dengan membunuh Nabi SAW. Nabi, bersama Abu Bakar, secara diam-diam berangkat hijrah dan berlindung di Gua Tsur untuk bersembunyi dari orang-orang kafir. Sebagai mukjizat, Allah mengutus dua hewan. Seekor laba-laba dengan cepat membuat jaring, dan seekor burung membuat sarang untuk menutup pintu masuk gua. Karena mengira tidak mungkin ada orang di dalam, orang-orang kafir itu berbalik. Selama Hijrah, dia beberapa kali hampir mati. Namun, Tuhannya melindunginya.
Kemudian Allah menyebutkan kenyataan ini dalam Al-Qur'an dan berkata, "Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia." Dan ini memang terjadi. Bertahan hidup dari berbagai upaya pembunuhan sepanjang hidupnya, pada akhirnya dia meninggal di tempat tidurnya. Ketika ia keluar dari Gua Tsur, di mana ia secara ajaib dilindungi oleh Allah, ia dengan sedih menatap Makkah dan berkata, "Demi Allah, engkau adalah negeri terbaik milik Allah dan negeri Allah yang paling aku sayangi. Demi Allah, kalau aku tidak diusir darimu, aku tidak akan pernah pergi," dan melanjutkan perjalanannya. Era Makkah kini telah berakhir, dan era Madinah telah dimulai. Tanggal ini dianggap sebagai awal kalender Hijriah.
Dia berkata, "Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan pernah berhenti membela Islam sampai Allah membuat Islam menang atau aku mati membelanya." Tahun 623. Setelah Hijrah, dengan konstitusi pertama yang tertulis dalam sejarah, Konstitusi Madinah, Negara Islam dibentuk. Tahun 624. Islam mulai dijalankan dan dipraktikkan secara penuh di Madinah. Selama periode ini, pertempuran pertama Islam melawan orang-orang kafir Makkah, Pertempuran Badar terjadi. Dibandingkan dengan musuh, tentara Muslim jauh lebih lemah dalam hal peralatan. Dan jumlah mereka juga jauh lebih sedikit.
Hanya 313 Muslim yang berperang melawan tentara Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Pada akhir pertempuran, 70 orang kafir, termasuk banyak pemimpin terkemuka Quraisy seperti Abu Jahal terbunuh dan 14 orang Muslim syahid. Ini menandai kemenangan pertama Islam. Dan sejak saat itu, tidak akan ada yang sama lagi. Pada periode awal Madinah, ibadah wajib juga terus dilakukan. Puasa diwajibkan. Idul Fitri pertama pun dirayakan. Kemudian datanglah keberkahan lain. Idul Adha pertama. Setelah itu, zakat menjadi kewajiban. Dengan kata lain, perintah-perintah dasar Islam mulai ditetapkan satu per satu.
Pada tahun-tahun pertama, keyakinan akan keberadaan Allah dan keesaan-Nya, akhirat, keyakinan akan surga dan neraka, dan tujuan penciptaan manusia telah mengakar kuat di hati umat Islam. Dan sekarang hukum-hukum dan ibadah-ibadah mulai dipraktikkan. Tahun 625. Perang Uhud terjadi. Ini adalah pertempuran yang melibatkan kaum Muslim 700 orang dan 3000 orang kaum kafir. Pada awalnya, kaum Muslim menghancurkan musuh. Namun ketika para pemanah meninggalkan posisi mereka, mengira pertempuran telah berakhir, orang-orang kafir membalas serangan dan kaum Muslim kalah perang. 70 Muslim terbunuh dan lebih dari 20 orang kafir terbunuh.
Singa Allah, Hamza, yang telah berjuang keras demi Islam, juga termasuk di antara para syuhada. Selain dibunuh, tubuhnya dimutilasi karena perasaan dendam. Tahun 626. Anggur mengalir seperti sungai di jalan-jalan Madinah. Itu karena minum alkohol baru saja diharamkan. Semua orang menumpahkan anggur dari rumah mereka ke jalan. Meskipun itu adalah salah satu dari tiga minuman pokok dalam masyarakat itu, ini menjadi pemandangan tepat setelah ayat larangan alkohol.
Ketika tak mungkin menghilangkan kebiasaan seperti merokok dari komunitas kecil, fakta bahwa seluruh populasi Muslim seketika meninggalkan anggur, menunjukkan keajaiban kekuatan Al-Qur'an dalam hati dan pikiran, dan bahwa sumbernya hanya bisa dari Allah. Tahun 627. Dalam Perang Ahzab, juga dikenal dengan Pertempuran Parit, Umat Muslim berperang melawan kaum kafir yang datang bersamaan dari seluruh tanah Arab di bawah pimpinan kaum Quraisy. Dengan pasukan sekitar 12.000 orang, mereka datang ke Madinah memusnahkan semua kaum Muslim, termasuk orang tua, wanita, dan anak-anak. Dengan taktik perang yang berbeda, umat Muslim menggali parit di sekitar Madinah untuk mempertahankan kota.
Strategi brilian ini berhasil dan kaum kafir tak bisa melewati parit. Akhirnya mereka harus mundur dan perang dimenangkan oleh kaum Muslim. Tahun 628. Telah begitu lama umat Muslim merindukan Ka'bah di Makkah dan sangat ingin melakukan umrah. Karenanya, mereka bersama-sama berangkat ke Makkah. Namun, kaum Quraisy ingin mencegah hal ini, sehingga sebuah perjanjian ditandatangani di antara mereka. Perjanjian Hudaibiyyah. Ini sebenarnya adalah titik puncaknya. Karena meskipun syarat-syarat perjanjian tampaknya berpihak kepada orang-orang kafir, nyatanya hal itu menyebabkan kekalahan mereka pada akhirnya. Umat Islam tidak akan dapat mengunjungi Ka'bah tahun itu, tetapi setahun kemudian.
Juga, akan ada gencatan senjata di antara mereka selama sepuluh tahun. Memanfaatkan tidak adanya konflik dengan kaum Quraisy, Nabi Muhammad SAW terus menyebarkan pesannya kepada lebih banyak suku dan lebih banyak bangsa. Surat undangan untuk masuk Islam dikirim kepada para penguasa negara tetangga, dimulai dari Bizantium dan Kekaisaran Sasaniyah. Karena Islam bukanlah agama yang diturunkan hanya untuk suatu masyarakat atau bangsa tertentu, tetapi untuk seluruh dunia dan semua bangsa. Tahun 629. Setelah perjanjian itu, prasangka buruk kaum Quraisy dan sikap keras kepala terhadap Islam perlahan mulai menghilang. Hati dan pikiran semakin terbuka terhadap Islam.
Dengan kata lain, pedang perang diturunkan dan pedang berlian spiritual Islam menaklukkan pikiran dan hati. Khalid bin Walid, seorang jenius militer dari suku Quraisy tidak bisa tetap peduli terhadap kebenaran ini dan memutuskan untuk menjadi Muslim. Selama periode ini, Pertempuran Mu'tah melawan Bizantium terjadi. Ketika tiga panglima besar seperti Zaid, Ja'far, dan Abdullah bin Rawaha syahid, satu demi satu, Khalid bin Walid mengambil alih. Dan dengan taktik jeniusnya, tentara Muslim berhasil menyerang tentara Bizantium yang jumlahnya lebih banyak berkali-kali lipat. Setelah Bizantium menderita kerugian besar, kedua belah pihak mundur. Ini adalah perang pertama antara Muslim dan Bizantium.
Tahun 630. Dua tahun setelah ditandatangani, Perjanjian Hudaibiyyah dilanggar oleh orang-orang kafir. Setelah bertahun-tahun terpisah, Kerinduan terhadap Ka'bah dan Makkah semakin meningkat. Dan sekaranglah waktu mengakhirinya. Bersama umat Islam dengan hati penuh keimanan di belakangnya, Nabi SAW memulai persiapannya menaklukan Makkah. Tentara Muslim, yang telah bertambah dari satu menjadi ribuan dan kini jumlahnya melebihi 10.000 orang, memasuki Makkah dengan penuh kegembiraan dan semangat. Ini adalah penaklukan terindah yang pernah disaksikan dunia. Karena Makkah ditaklukkan dengan damai tanpa perang. Kemudian, Nabi SAW menyatakan ampunannya, dan mengatakan bahwa semua orang diampuni.
Ini adalah rahmat dan kebesaran yang tak tertandingi dalam sejarah dunia. Bahkan memaafkan mereka yang membunuh dan memotong tubuh pamannya, Hamza, Wahsyi, yang telah membunuh Hamza, kemudian menerima Islam dan menjadi Wahsyi RA. Artinya, setiap Muslim akan berdoa untuknya, berkata, "Semoga Allah meridainya." Hind, yang memerintahkan Hamza untuk dibunuh dan mengunyah hatinya menjadi seorang Sahabat. Mereka yang pernah menganiaya Rasulullah dengan segala cara, yang pernah menghinanya, yang pernah menjadi musuh bebuyutannya, yang pernah senang menyakitinya, sekarang telah diampuni dan dibebaskan. Setelah itu, satu demi satu suku mulai memeluk Islam.
Delegasi dikirim ke sekitar 70 suku dan semuanya menjadi Muslim. Negeri-negeri yang dikuasai Islam secara bertahap menjadi semakin luas. Tahun 632. Kita berada di fase terakhir. Nabi kita SAW meninggalkan Madinah untuk melaksanakan haji perpisahan. Berdiri di hadapan hampir 100.000 umat Muslim, dia menyampaikan Khotbah Perpisahan. Untuk sesaat, anda bayangkan diri anda di sana dan dengarkan. Dalam satu bagian khotbahnya, beliau mengucapkan kata-kata ini. "Hai, Manusia! Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Orang Arab tidak memiliki keunggulan atas orang non-Arab begitu pula orang non-Arab tidak memiliki keunggulan atas orang Arab.
Begitu pula, orang kulit putih tidak memiliki keunggulan atas orang kulit hitam, begitu pula orang kulit hitam tidak memiliki keunggulan atas orang kulit putih, kecuali dengan Taqwa (kesadaran akan Allah) dan amal saleh. Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya." Usianya kini 63 tahun. Penyakitnya selama beberapa hari, semakin parah dan rasa sakitnya makin terasa. Sudah waktu baginya untuk bertemu Tuhannya. Kerinduannya pun berakhir. beliau meninggalkan dunia ini dan masuk ke alam keabadian. Dan bertemu dengan Sahabatnya, Yang Maha Kuasa.
ٱلرَّفِيقِ ٱلْأَعْلَ Dalam waktu singkat, hanya 23 tahun, Nabi SAW membawa perubahan yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Setelahnya, sang ayah yang telah mengubur putrinya hidup-hidup menjadi takut menyakiti seekor lalat pun. Mereka yang dulu saling menghunus pedang menjadi rela mengorbankan hidup mereka demi satu sama lain. Bangsa yang memiliki adat istiadat jahat mengakar kuat yang dulunya identik dengan kata "Jahiliyah", kebodohan, kini telah lenyap sama sekali, dan seakan-akan bangsa yang baru datang menggantikan mereka. Moralitas dan karakter membaik hingga ke tingkat yang akan menjadi contoh bagi generasi mendatang dan bagi seluruh umat manusia.
Singkat kata, Rasulullah SAW mengubah bara hitam menjadi berlian cemerlang, dan cahaya yang ia tanam di hati pun bersemi, berkembang, tumbuh semakin besar, dan telah sampai kepada kita sampai hari ini. Semoga kedamaian dan berkah abadi menyertainya. Amin.