Towards Eternity
Kembali ke blog

10.000 Pasukan Muslim Masuk Makkah Setelah 21 Tahun! - Visual AI - Wahai Rasul | Ep. 10

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Panglima utama Quraisy, Khalid bin Walid. Sang jenius Quraisy, Amr bin Ash. Dan penjaga kunci Ka'bah, Utsman bin Thalhah. Ketiganya berangkat dari tempat yang berbeda, namun jalan mempertemukan mereka di daerah bernama Haddah. Mereka semua memiliki satu kesamaan: kebencian terhadap Islam. Ingatlah Khalid bin Walid. Di Uhud, tempat Hamzah dan Mush'ab bin Umair syahid, dialah yang paling bertanggung jawab atas kekalahan pasukan Muslim. Ia memimpin pasukan kaum musyrik melawan kaum Muslimin. Ingat Amr bin Ash? Saat para sahabat hijrah ke Abyssinia (Ethiopia), dialah yang mengejar mereka dan melakukan segala cara untuk membawa mereka kembali.

Ia menggunakan kecerdikan politiknya melawan kaum Muslimin. Ia berkata, "Bahkan jika seluruh Quraisy masuk Islam, aku rasa aku takkan pernah melakukannya." Adapun Utsman bin Thalhah, ia kehilangan ayah, paman, dan empat saudaranya, satu demi satu, di Perang Uhud. Mereka bertempur di pihak Quraisy. Namun kini, waktu telah lama berlalu. Pikiran dan perasaan mereka telah banyak berubah, dan kepribadian mereka sudah matang. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam tepercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Semua peristiwa yang mereka alami telah membuat mereka lelah.

Di Makkah, Khalid dan Utsman sepakat untuk bertemu di sini. Tapi Amr tak mengetahui rencana mereka berdua. Allah mempertemukan jalan mereka di sini. Lalu, apa tujuan perjalanan mereka? Amr bertanya, "Ke mana engkau pergi, wahai Khalid?" "Wahai Amr, jalan yang benar kini telah sangat jelas. Aku tidak ragu bahwa Muhammad ﷺ adalah seorang Nabi. Menurutku, tak ada gunanya membuang waktu. Aku akan pergi ke Madinah untuk masuk Islam." Amr menarik napas lega, karena niatnya juga sama. Ia berkata, "Demi Allah, aku berada di jalan ini...

untuk tujuan yang sama." Ketiganya sedang dalam perjalanan menuju Rasulullah ﷺ, meninggalkan semua niat buruk mereka, dengan penyesalan dan rasa malu atas perbuatan mereka dahulu. Ketika Rasulullah ﷺ melihat mereka dari jauh, beliau tersenyum dan berkata pada orang di sekitarnya, "Makkah telah mengirimkan orang-orang terbaiknya." Mereka segera masuk menghadap Rasulullah ﷺ. Bayangkan, hingga saat itu mereka telah banyak menyakiti kaum Muslimin. Namun Rasulullah ﷺ tak mempertanyakan dan tak mengungkit masa lalu mereka. Begitulah akhlak mulia beliau. Jika orang di hadapannya merasa menyesal, beliau tidak akan mempermalukan kesalahan mereka.

Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan kehidupan abadi mereka. Pertama, Khalid mengulurkan tangan dan berkata, Wahai Rasulullah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah." Ia merasa malu. "Wahai Rasulullah ﷺ, aku pernah memerangimu. Engkau mengetahuinya. Aku mohon agar engkau berdoa agar Allah mengampuni dosaku." Kata-kata Rasulullah ﷺ menenangkan hati Khalid. Memang, kata-kata beliau selalu menenangkan.

Beliau bersabda, "Wahai Khalid, Islam menghapus apa yang telah lalu." Kemudian beliau mengangkat tangan dan berdoa: "Ya Allah, ampunilah Khalid bin al-Walid atas segala usaha yang ia lakukan untuk menghalangi manusia dari jalan-Mu." Khalid merasa beban besar terangkat dari pundaknya. Sejak saat itu, ia menggunakan kekuatan dan kejeniusan berperangnya untuk kejayaan dan penyebaran Islam. Karena keberanian yang ditunjukkannya, Rasulullah ﷺ memberinya gelar "Saifullah", yang berarti Pedang Allah. Lalu Amr bin Ash mengulurkan tangannya dan memohon hal yang sama seperti Khalid. Rasulullah ﷺ juga memohon doa yang sama untuk Amr. Akhirnya ia menemukan ketenangan yang ia cari selama bertahun-tahun.

Kemudian Rasulullah ﷺ menunjuknya memimpin pasukan Muslim dalam banyak pertempuran dan Allah memberi banyak kemenangan melalui dirinya. Sang jenius Quraisy kini mengabdi untuk Islam. Kemenangan terbesarnya kelak adalah penaklukan Mesir. Allah membawa Islam ke negeri itu melalui dirinya. Karena itu, ia dikenang sebagai penakluk Mesir. Terakhir, Utsman bin Thalhah mengulurkan tangannya, dan dia juga memeluk Islam. Maka, tiga tokoh penting bergabung memeluk Islam di hari yang sama di hadapan Rasulullah ﷺ. Ingat apa yang Allah firmankan dalam Surah Al-Fath?

"...Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Perjanjian Hudaibiyah berhasil meredakan senjata kebencian terhadap Islam dan meruntuhkan dinding penghalang di hati manusia. Rasulullah ﷺ berkata, “Kaum Quraisy telah menerima bahwa kalian akan dibiarkan datang ke Baitullah dan thawaf dengan aman. Dan kalian akan aman saat pergi dan kembali. Dengan cara itu, mereka akan melihat kalian dan mengenal Islam dari kalian. Allah akan memberi kalian kemenangan atas mereka dan mengembalikan kalian dengan selamat dan mendapat pahala. Inilah kemenangan yang terbesar.” Dan memang itulah yang terjadi. Sembilan belas tahun telah berlalu sejak awal masa kenabian sampai terjadinya Perjanjian Hudaibiyah.

Lalu setelah Hudaibiyah, hanya satu tahun berselang. Luar biasanya, dalam kurun satu tahun itu, jumlah orang yang masuk Islam jauh lebih banyak dibanding sembilan belas tahun sebelumnya. Itulah mengapa Al-Qur’an menyebut Hudaibiyah sebagai "Fathan Mubina", "kemenangan yang nyata", meskipun pada awalnya terlihat seperti sebuah kekalahan. Dengan Penaklukan Khaibar, konflik dengan suku-suku Yahudi pun berakhir. Dengan Hudaibiyah, sebuah kemenangan spiritual tercapai, dan kaum Muslimin menunjukkan kekuatan mereka kepada suku Arab sekitar. Namun, masalah paling mendasar masih belum terselesaikan. Ka'bah dibangun dengan satu tujuan, yaitu menyembah Allah semata.

Tapi kini, bagian dalam dan sekitarnya dipenuhi oleh berhala. Berbagai perbuatan dosa dan keji terjadi di sekitarnya. Dengan kondisi itu, bagaimana bisa tempat itu masih menjadi simbol Tauhid (Keesaan Allah)? Masalah ini harus diselesaikan. Ka'bah harus menjadi milik Islam, dan berhala di sekitarnya harus disingkirkan. Tapi bagaimana caranya? Perjanjian damai sepuluh tahun telah dibuat dengan penduduk Makkah. Namun Allah adalah Musabbib al-Asbab, Yang menciptakan dan mengatur sebab sesuai kehendak-Nya, serta menolong hamba-Nya dengan mendatangkan sebab yang dibutuhkan. Kini waktunya semakin dekat bagi doa-doa untuk pembebasan Ka'bah untuk dikabulkan.

Tidak lama setelah ini, Allah menciptakan sebab untuk hal ini. Justru Quraisy sendiri yang akan melanggar perjanjian itu. Sebuah utusan dari suku Khuza'ah, yang merupakan sekutu Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang ke Madinah. Menurut salah satu syarat Perjanjian Hudaibiyah, suku-suku Arab lainnya bebas bersekutu dengan semua pihak yang mereka mau. Dan Khuza'ah memilih berpihak kepada Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Pemimpin utusan itu, Amr, merasa sangat sedih. Ia menjelaskan alasan kedatangan mereka. "Wahai Rasulullah, Quraisy tidak menepati janji mereka. Mereka melanggar perjanjian terkuat yang mereka buat denganmu." "Suatu malam mereka tiba-tiba menyerang kami.

Kami sedang tidak siap dan mereka membunuh orang-orang kami sementara sebagian sedang rukuk dan sebagian sedang sujud. Tolonglah kami." Dengan demikian, Perjanjian Hudaibiyah terang-terangan dilanggar. Quraisy mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk berbicara dengan Rasulullah ﷺ. Abu Sufyan terlebih dahulu menemui Rasulullah ﷺ dan meminta perjanjian diperbarui. Namun ia tidak mendapat jawaban apa pun dari Rasulullah ﷺ. Lalu ia mendatangi Abu Bakar RA berharap hubungan keluarga dapat membantunya. Namun usaha itu juga sia-sia. Kali ini ia pergi kepada Umar RA dan memohon, "Usahakan agar perjanjian diperbarui.

Damaikan kami." Umar menjawab dengan marah, "Jadi kalian melanggar perjanjian?" "Jika masih ada yang tersisa darinya, semoga Allah segera menghancurkannya." Aku takkan pernah menemui Rasulullah ﷺ untuk ikut campur demi dirimu. Demi Allah, jika aku hanya bisa menemukan seekor semut kecil, aku tetap akan memerangi kalian dengannya." Abu Sufyan meninggalkannya dan menemui Utsman RA. Namun hasilnya tetap sama. Sebagai harapan terakhir, ia menemui Ali RA, tapi ia juga tidak mendapat dukungan darinya. Apakah kalian memperhatikan? Hudaibiyah tidak memberi keuntungan sedikit pun bagi Quraisy. Padahal sebelumnya mereka begitu yakin. Pada akhirnya, semua itu justru memudahkan kaum Muslimin.

Berkurangnya musuh membuat mereka lebih mudah fokus menghadapi ancaman lain. Di saat yang sama, hal itu juga membuat Makkah perlahan menjadi tanah Islam. Dan ketika semua tujuan ini telah tercapai, Allah menghendaki perjanjian itu dilanggar. Beginilah Allah memberi kemudahan pada mereka yang berjuang di jalan-Nya, di waktu yang paling tak terduga, dari tempat yang paling tak terduga, dan dengan cara yang paling tak terduga. Manusia sering melihat peristiwa itu sebagai sesuatu yang buruk. Namun dari sudut pandang Qadar (takdir) Allah, terdapat banyak hikmah tersembunyi di baliknya. Apakah kalian ingat kata-kata ini?

“Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling aku cintai. Demi Allah, seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu.” Itulah kata-kata yang diucapkan Rasulullah ﷺ ketika beliau menoleh ke Makkah untuk terakhir kalinya sebelum hijrah. Setiap gunung dan batu di Makkah menjadi saksi kata-kata itu. Dan kini, delapan tahun telah berlalu sejak perpisahan itu. Makkah telah menunggu hari ketika akhirnya dapat kembali bersatu dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Merindukan mereka, melebihi kerinduannya pada siapa pun sebelumnya. Dan akhirnya, hari yang diberkahi itu semakin dekat. Makkah akan dibebaskan.

Tahun-tahun kerinduan akan berakhir, dan kaum Muslimin Makkah akan kembali ke rumah mereka. Rasulullah ﷺ segera mulai mempersiapkan sebuah ekspedisi besar. Tapi beliau tidak memberi tahu siapa pun ke mana mereka akan pergi. Menjaga kerahasiaan sangatlah penting. Jika kaum musyrik Makkah tidak dalam kondisi siap, kota itu bisa dikuasai tanpa pertumpahan darah dan kemenangan besar dapat diraih. Keinginan beliau adalah memasuki kota suci ini tanpa peperangan sama sekali. Karena itu, beliau melakukan semua persiapan dengan sangat hati-hati dan dengan sangat rahasia. Ketika semuanya telah siap, pasukan besar berjumlah sepuluh ribu orang berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ, menunggu perintah beliau.

Ini adalah pasukan terbesar yang pernah dikumpulkan kaum Muslim hingga hari itu. Kini mereka siap berangkat. Doa-doa paling tulus ada di lisan dan hati mereka. Saatnya telah tiba untuk menghadapi orang-orang yang menyiksa mereka selama 21 tahun dan merampas rumah serta harta mereka. Merekalah yang memperlakukan Rasulullah ﷺ dengan berbagai kekejaman selama bertahun-tahun. Lalu, apa yang akan mereka lakukan hari itu? Dan yang lebih penting, bagaimana Rasulullah ﷺ akan memperlakukan mereka? Banyak adegan mengharukan yang akan membuat kita semakin mencintai dan mengagumi Rasulullah ﷺ menanti di bagian selanjutnya episode ini.

Saat itu bulan Ramadan, dan Rasulullah ﷺ berdoa: “Ya Allah, tahanlah mata-mata dan pengintai dari Quraisy tentang kami, agar kami dapat datang secara tiba-tiba di negeri mereka.” Sejak perjalanan dimulai, beliau terus merahasiakan tujuan mereka. Tujuannya adalah mengejutkan Makkah. Beliau ingin kemenangan tanpa perang. Tapi, meski segala upaya dilakukan untuk menjaga rahasia, seseorang yang membawa kabar telah berangkat. Seorang wanita dari suku Muzaynah sedang menuju Makkah. Saat rencana Rasulullah ﷺ hampir saja terbongkar, beliau diberi tahu melalui wahyu.

Beliau segera memanggil Ali, Zubair bin Awwam, dan Miqdad bin Aswad RA lalu memerintahkan: “Pergilah kalian hingga tiba di Raudhah Khakh. Di sana ada seorang wanita sedang dalam perjalanan yang membawa sebuah surat. Ambillah surat itu darinya.” Tiga sahabat itu segera menuju Kebun Khakh dan menemukan wanita itu. Mereka bertanya, "Di mana surat yang kau bawa?" "Aku tak membawa surat." Ali tahu ia sedang berbohong. Lalu ia berkata, "Rasulullah ﷺ tidak pernah berdusta." Ia memperingatkannya dengan tegas agar menyerahkan surat itu dan mengancam akan menggeledah jika tak ia serahkan. Akhirnya wanita itu mengeluarkan surat yang disembunyikan di kepangan rambutnya.

Surat itu dikirim oleh salah satu sahabat, Hatib bin Abi Balta'ah. Ia seorang Muhajirin yang ikut dalam Perang Badar dan pernah diutus sebagai utusan kepada penguasa Mesir, Muqauqis. Para sahabat pun terkejut. Mereka tidak memahaminya. Rasulullah ﷺ memanggil Hatib dan menanyakan mengapa ia menulis surat itu. Keluarga Hatib berada di Makkah, dan karena ia bukan dari Quraisy, tak ada yang melindungi mereka. Ia ingin memberi kebaikan pada Quraisy agar saat Makkah dikepung, mereka takkan menyakiti keluarganya. Ia menjelaskan keadaan itu dan berkata, "Aku tidak melakukan ini karena meninggalkan agamaku, atau memilih kufur setelah Islam.

Demi Allah, aku tetap beriman pada Allah dan Rasul-Nya." Setelah mendengarnya, Rasulullah ﷺ berkata pada para sahabat, "Hatib berkata benar. Maka jangan katakan selain yang baik tentangnya." Dan beliau memaafkannya. Waktu pun berlalu. Perjalanan itu tetap dirahasiakan sepenuhnya, dan mereka terus bergerak maju. Penduduk Makkah belum mendengar sedikit pun kabar ini. Akhirnya pasukan berkemah di Marr az-Zahran. Saat itu malam hari. Kegelapan menyelimuti lembah. Yang terdengar hanya siulan angin. Tiba-tiba api dinyalakan di mana-mana. Rasulullah ﷺ ingin menunjukkan kedatangan pasukan pada penduduk Makkah melalui api-api itu.

Cahaya Islam yang dulu ingin mereka padamkan kini mengepung Makkah sepenuhnya. Mereka menunggu agama ini menjadi lemah dan kaum beriman berkurang. Mereka mencoba segalanya, selama bertahun-tahun, namun semua usaha itu gagal. Sungguh pemandangan yang sangat agung! Rasulullah ﷺ secara khusus memerintahkan para sahabat menyalakan jauh lebih banyak api dari yang diperlukan. Dengan begitu, pasukan akan tampak jauh lebih besar dan kaum musyrik akan kehilangan keberanian mereka. Namun apa yang terjadi di Makkah? Saat melihat pemandangan itu, mereka ketakutan. Mereka saling memandang dengan cemas. Tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Namun satu hal sangat jelas.

Malam ini adalah awal perubahan besar. Abu Sufyan pun keluar di kegelapan malam. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Bersama dua temannya, ia mengamati sekitar untuk diam-diam mengumpulkan informasi dan kembali. Ia tidak ingin terlihat. Tapi mungkinkah bersembunyi dari Allah yang melihat segala sesuatu? Rasulullah ﷺ memberi tahu para sahabatnya. Beliau meminta mereka tetap waspada dan berkata bahwa mereka pasti akan bertemu Abu Sufyan. Dan memang itulah yang terjadi. Abbas melihat Abu Sufyan dan segera memberinya perlindungan. Ia menempatkannya di atas bagal di belakangnya lalu membawanya kepada Rasulullah ﷺ.

Ketika dua sahabat Abu Sufyan juga dibawa ke dalam tenda, Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka tentang keadaan di Makkah. Mereka berada di tenda itu hingga larut malam. Rasulullah ﷺ mengajak mereka masuk Islam. Dan di sana juga, dua sahabat Abu Sufyan bersyahadat. Namun Abu Sufyan masih ragu. Ia meminta waktu untuk berpikir. Lalu mereka semua kembali ke tenda mereka. Abu Sufyan akan menemui Rasulullah ﷺ lagi esok pagi. Apa yang akan terjadi besok? Apa yang akan berubah? Para sahabat memiliki satu pertanyaan di benak mereka. Akankah Abu Sufyan akhirnya memeluk Islam? Untuk saat ini, tak ada yang tahu. Ketika pagi tiba, Abbas membawa Abu Sufyan kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ menatapnya dan bertanya, "Wahai Abu Sufyan, belumkah tiba waktunya bagimu untuk mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Abu Sufyan menjawab, "Tapi apa yang harus kulakukan dengan semua berhala ini? Bagaimana aku meninggalkan Lat dan Uzza?" Umar sedang menunggu di belakang tenda. Ketika mendengar itu, ia marah dan berkata, "Bersyukurlah kau berada di dalam tenda. Jika kau di luar, kau takkan bisa mengatakan itu." Abu Sufyan menjawab, "Wahai Umar, sungguh memalukan. Engkau keras seperti ayahmu. Lagipula wahai putra Khattab, aku bukan datang untukmu. Aku datang untuk sepupuku.

Aku akan berbicara dengannya, biarkan kami berbicara." Lalu ia menoleh kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Betapa penyantun, mulia, dan baiknya engkau serta dalam menjaga hubungan keluargamu. Tak ada yang lebih baik darimu." Lalu ia terdiam sejenak, berpikir dalam-dalam. Akhirnya ia tak tahan untuk mengakui dan berkata, "Demi Allah, aku yakin tiada tuhan selain Allah. Karena jika benar ada tuhan lain selain Allah, pasti ia sudah menolongku, melindungiku dari bahaya, dan memberiku manfaat." Percakapan itu berlanjut beberapa saat. Akhirnya Abu Sufyan mengucapkan syahadat dan menjadi seorang Muslim. Pada saat itu, ia membuka lembaran baru hidupnya.

Sebuah babak baru telah dimulai dalam hidupnya. Namun usianya telah lebih dari 60 tahun. Butuh waktu hingga iman benar-benar tertanam di hatinya. Rasulullah ﷺ kemudian berkata kepada Abbas, "Wahai Abbas, tahanlah Abu Sufyan di mulut lembah, di celah gunung tempat kuda-kuda berdesakan, agar ia dapat melihat keagungan pasukan Allah." Ini sebenarnya langkah pencegahan. Jika Abu Sufyan langsung kembali ke Makkah, kaum musyrik mungkin akan mengubah pikirannya. Namun saat ia melihat besarnya pasukan, ia akan memahami betapa lemahnya kaum Quraisy. Ia lalu memberi tahu para penyembah berhala bahwa tiada guna melawan pasukan ini, dan membuat mereka enggan melawan balik.

Abbas RA melaksanakan perintah Rasulullah ﷺ, dan Abu Sufyan menyaksikan pasukan Muslim dengan takjub. Ia berkata, "Wahai Abbas, hingga hari ini aku tak pernah melihat pasukan seperti ini." Kemudian ia segera pergi memperingatkan kaum musyrik. Ia berseru, "Wahai kaum Quraisy! Muhammad telah datang! Ia datang ke pintu kalian dengan pasukan yang sangat besar yang tak mampu kalian lawan." Lalu ia berteriak sekeras-kerasnya, "Siapa pun yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman! Siapa pun yang masuk ke rumahnya sendiri dan menutup pintunya, dia aman! Siapa pun yang berlindung di Masjidil Haram, maka dia aman!" Banyak kaum musyrik tidak bisa menahan kemarahan.

Bahkan istri Abu Sufyan, Hind, mulai mencacinya. Ikrimah, putra Abu Jahal, dan Safwan bin Umayyah mencoba memprovokasi orang-orang. Tapi tidak ada yang memperhatikan. Semua orang berpencar mencari perlindungan. Rasulullah ﷺ membagi pasukan menjadi lima divisi utama. Dan beliau memberi perintah yang sama kepada tiap pemimpin: "Jangan memerangi siapa pun kecuali jika kalian diserang atau dilawan." Akhirnya saat yang lama dinanti pun tiba. Setelah bertahun-tahun berpisah, pasukan Muslim memasuki Makkah. Rasulullah ﷺ berada di atas unta beliau, Qaswa, dengan kepala tertunduk dan rendah hati. Beliau menundukkan kepala mulianya begitu rendah hingga dahinya hampir menyentuh punggung untanya.

Beliau tahu kemenangan ini milik Allah, dan beliau menegaskannya pada semua orang. Seperti setiap momen hidupnya, beliau memberi teladan terindah di saat ini juga. Beliau memasuki Makkah dengan kemuliaan dan wibawa. Di satu sisi beliau memuji dan bersyukur kepada Allah, di sisi lain, beliau membaca Surah Al-Fath, (Kemenangan), Surah yang menyampaikan kabar gembira atas penaklukan ini. Wajah-wajah tersenyum dan hati menjadi tenang. Makkah akhirnya menjadi negeri Islam. Kerinduan kini telah berakhir. Kezaliman, hinaan, dan penindasan yang dialami Muslim telah berlalu. Kini, yang menang adalah kaum Muslim. Rasulullah ﷺ berjalan di jalan-jalan Makkah. Setiap jalan, setiap sudut penuh kenangan.

Di suatu tempat, beliau teringat tatapan ejekan orang-orang. Di tempat lain, seakan hinaan dan ucapan kasar mereka masih terngiang di telinganya. Sebagian bahkan memanggilnya dengan sebutan yang buruk: pendusta, gila, tukang sihir, ma'adzallah. Mereka pernah melempar isi perut unta ke punggungnya. Beliau juga mengalami boikot dan kelaparan selama tiga tahun. Bertahun-tahun beliau terus mengajak orang yang sama kepada Islam, orang-orang yang menolaknya berulang kali. Setiap jalan penuh dengan kenangan. Mereka memaksanya meninggalkan kotanya sendiri. Namun sekarang, bagaimana beliau kembali dengan pasukan sebesar ini? Bagaimana beliau menaklukkan hati begitu banyak orang? Beliau terus maju.

Lalu tampaklah itu. Ka'bah berdiri di hadapan mereka dengan segala keagungannya. Rasulullah ﷺ mengumandangkan takbir, dan dengan satu suara, seluruh kaum Muslimin berseru, "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" (Allah Maha Besar!), hingga Makkah bergetar. Ingat hari saat Islam pertama kali diumumkan di Makkah? Takbir dari 40 Muslim di Darul Arqam seperti sebutir benih. Dan benih itu bertunas dan tumbuh. Kini, benih itu menggema sebagai takbir 10.000 orang. "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Tapi ada sesuatu yang menyakitkan terlihat. Ka'bah dikelilingi 360 berhala. Dengan tongkat di tangannya, Rasulullah ﷺ mulai menyentuh berhala satu per satu, seraya membaca ayat ini A‘ūdzu billāh.

Wa qul jā'al-ḥaqqu wa zahaqal-bāṭil(u), innal-bāṭila kāna zahūqā(n). Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap." Setiap berhala yang disentuhnya jatuh ke tanah. Kaum Quraisy bahkan menaruh berhala di dalam Ka'bah, namun kini, tak ada lagi yang tersisa. Waktu salat Zuhur telah tiba. Atas perintah Rasulullah ﷺ, Bilal naik ke atap Ka'bah dan mulai mengumandangkan azan. Bilal yang dahulu diseret di jalanan dengan tali di lehernya, yang mereka siksa agar meninggalkan imannya, dan dipandang hina sebagai budak, kini berdiri di atas Ka'bah mengumandangkan azan dengan suara lantang. "Allahu Akbar!

Allahu Akbar!" Menyatakan kemenangan Islam, suaranya menyeruak di seluruh Makkah. Kaum musyrik yang bersembunyi di rumah mereka merasa terpukul. Di Towards Eternity, kami telah bekerja tanpa lelah untuk menghadirkan serial visual AI ini. Kini, insya Allah, kami berencana memproduksi serial terbaru tentang kisah hidup para Nabi AS. Mulai dari Nabi Musa, Ibrahim, Yusuf, hingga Nabi Yunus AS. Agar kalian dan keluarga dapat menyaksikan kisah mereka dengan kualitas produksi khas Towards Eternity. Namun, pembuatan seri baru ini membutuhkan biaya yang besar. Mulai dari biaya AI, pengisi suara profesional, hingga peralatan. Sayangnya, kami tidak bisa menanggung semuanya sendirian.

Proyek ini hanya bisa terwujud dengan bantuan kalian. Tim kami telah membagi total kebutuhan menjadi senilai $25 per bagian. Kalian bisa ikut mendukung dengan mensponsori satu atau lebih bagian sesuai dengan kemampuan kalian, insya Allah. Jika kalian ingin menjadi bagian dari amal jariah ini, mari berdonasi ke Towards Eternity dan jangan lewatkan kesempatan emas ini. Saat itu beberapa pemimpin Quraisy, Abu Sufyan, Attab bin Asid, dan Harits bin Hisyam, sedang berbincang. Attab berkata dengan kesal, “Betapa beruntungnya ayahku Asid. Allah memuliakannya dengan tidak membiarkannya melihat hari ini.

Apakah Muhammad tak menemukan orang lain untuk azan selain orang ini?” Abu Sufyan berkata, “Aku takut mengatakan sesuatu. Walau tidak ada yang mendengar, pasir dan batu di bawah kaki kita akan memberitahunya, dan dia akan tahu." Tak lama kemudian, mereka melihat Rasulullah ﷺ. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Rasulullah ﷺ mengatakan kepada mereka persis apa yang mereka bicarakan. Mereka pun terkejut. Bagaimana beliau mengetahui pembicaraan rahasia itu? Hari itu, dua tokoh penting kaum Quraisy, Attab dan Harits, juga menjadi Muslim. Coba bayangkan. Hingga hari itu mereka sangat memusuhi Islam. Mereka hidup seperti itu bertahun-tahun.

Mereka bahkan kehilangan beberapa kerabat saat memerangi umat Muslim. Tapi kini, saat ditanya mengapa mereka mengganti agama mereka, jawaban mereka sederhana: “Kami menyaksikan mukjizat Rasulullah ﷺ.” Sepanjang sejarah Sirah, (biografi Nabi), banyak orang yang dahulu memusuhi Islam namun memeluk Islam setelah melihat mukjizat. Apakah mungkin mukjizat yang mereka lihat adalah kebohongan? Apakah mereka akan mengganti agama, tujuan hidup, dan seluruh pola pikir untuk sesuatu yang tak pernah terjadi? Tentu tidak. Mukjizat itu nyata. Mukjizat itu benar.

Adapun orang ketiga dalam pertemuan itu, Abu Sufyan berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, segala puji bagi Allah, aku tak berkata apa pun.” Kini Rasulullah ﷺ ingin memasuki Ka'bah yang dirindukannya. Beliau mengirim pesan pada Utsman bin Thalhah agar membawa kuncinya. Selama bertahun-tahun, keluarganya bertanggung jawab menjaga kunci itu. Kini Utsman mengira tugas itu tak akan lagi jadi tugas keluarganya. Di sisi lain, paman Nabi, Abbas, amat berharap mendapat kehormatan ini. Saat Utsman membawa kuncinya, Rasulullah ﷺ bertanya, "Bukankah yang kukatakan padamu dahulu telah menjadi kenyataan?" Apa yang beliau maksud? Apa yang pernah terjadi?

Pada masa awal Islam, Rasulullah ﷺ pernah mengajak Utsman masuk Islam, tapi ia tolak. “Engkau meninggalkan agama kaummu dan membawa agama baru.” Lalu Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Utsman, aku harap akan datang hari saat kau melihatku di kedudukan di mana aku bisa menaruh kunci ini di mana pun, dan memberinya pada siapa pun yang kuinginkan.” Utsman mengingat itu dengan jelas. Ia berkata, “Ya.” Artinya, apa yang Rasulullah ﷺ katakan telah terjadi. Lalu ia menambahkan, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Ia memang layak menjaga kunci itu. Ia menjalankan tugas ini bertahun-tahun. Ia sungguh pantas mendapat amanah itu. Semua orang bertanya-tanya, siapa yang akan mendapat kunci itu?

Lalu Rasulullah ﷺ membacakan ayat ini: "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil." Kemudian beliau berkata, “Wahai Utsman, ambillah kuncimu. Hari ini adalah hari kebaikan dan menepati janji.” Lalu beliau memasuki Ka'bah. Beliau menutup pintu dan berada di dalam sendirian. Saat beliau keluar, kerumunan besar menunggunya. Kaum Quraisy menunggu dengan gelisah untuk mendengar keputusan beliau atas mereka. Rasulullah ﷺ memandang mereka dalam diam sejenak. Apa yang akan beliau lakukan? Akankah beliau menghina dan mempermalukan mereka seperti mereka dulu menghina beliau?

Akankah beliau melemparkan isi perut unta seperti yang mereka lakukan dahulu? Akankah beliau menebar duri di jalanan dan membuat mereka berjalan di atasnya? Akankah beliau memboikot dan membuat mereka kelaparan? Akankah beliau mengusir mereka dari rumah mereka? Akankah beliau memerintahkan agar mereka dibunuh? Rasulullah ﷺ memuji dan bersyukur kepada Allah lalu memulai Khutbah Penaklukan.

Setelah selesai, beliau bertanya, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa yang akan kulakukan sekarang?” Mereka menjawab, “Engkau saudara yang mulia dan putra dari saudara yang mulia.” Kami hanya berharap kebaikan.” Rasulullah ﷺ, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, berkata, “Keadaanku terhadap kalian seperti Yusuf kepada saudara-saudaranya. Aku berkata kepada kalian sebagaimana Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." Pergilah, kalian semua bebas.” Bayangkanlah peristiwa itu. Inilah pengampunan yang tiada bandingnya dalam sejarah.

Meski beliau memiliki kekuasaan penuh dan hak untuk menghukum mereka, beliau memilih memaafkan mereka. Bukankah ini bentuk pengampunan yang paling mulia? Bukankah kebaikan terbesar adalah membalas keburukan dengan kebaikan? Keangkuhan Quraisy kini benar-benar runtuh. Mata mereka yang dahulu buta terhadap kebenaran akhirnya mulai melihat. Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ naik ke bukit Shafa. Inilah tempat bertahun-tahun lalu beliau pertama kali secara terbuka menyatakan kenabiannya. Ingat? Saat itu beliau tidak mendapat jawaban yang diharapkan dari siapa pun. Sebaliknya, beliau dihina oleh pamannya sendiri di hadapan semua orang. Namun kini kaum Quraisy datang berbondong-bondong untuk beriman.

Setelah para pria, para wanita pun datang berbondong-bondong untuk masuk Islam. Di antara mereka ada Hind, istri Abu Sufyan. Ia menutup wajahnya agar tidak dikenali dan bergabung dengan para wanita. Ia dipenuhi penyesalan mendalam atas apa yang telah ia lakukan kepada Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin di masa lalu. Pikirannya yang penuh rasa bersalah merobek hati dan jiwanya. Namun ia masih berharap. Ia berharap pada kasih sayang Nabi yang penuh kasih. Ketika Rasulullah ﷺ ucapkan bahwa Hind telah masuk Islam, beliau tak menyimpan dendam padanya. Terlepas kesalahannya di masa lalu, beliau memaafkannya dan menerima baiatnya. Nama Hind mengingatkan kita pada nama lain: Wahsyi.

Ia adalah seorang budak yang merdeka sebagai imbalan membunuh Hamzah RA, paman tercinta Rasulullah ﷺ. Ia bahkan memotong hati Hamzah dan membawanya kepada Hind. Karena gembira, Hind memberinya semua perhiasannya. Wahsyi memperoleh kebebasan hari itu, tapi Makkah tak pernah memperlakukannya seperti orang merdeka. Di mata mereka ia tetap sama seperti dulu. Bagaimana bisa ia berharap dihargai oleh kaum yang terjebak dalam kekufuran? Atau apa arti penghormatan mereka? Ia tak pernah bebas dari penjara hati nuraninya. Penaklukan Makkah justru membuat beban ini semakin berat. Bagaimana ia bisa tinggal di tengah kaum Muslim setelah membunuh paman Rasulullah ﷺ?

Dengan pikiran itu, Wahsyi meninggalkan Makkah. Namun apakah melarikan diri bisa membebaskannya dari masa lalu? Tanpa kembali kepada Allah, bagaimana ia mengubah sesuatu dengan melarikan diri? Ke mana pun ia pergi, beban dosanya tetap mengikutinya. Ia benar-benar hancur oleh beban hati nuraninya. Di tengah semua itu, tiba-tiba seseorang mendatanginya. “Ada rombongan yang akan mendatangi Rasulullah ﷺ untuk masuk Islam. Beliau tidak pernah menyakiti para utusan. Pergilah bersama mereka dan bersaksilah memeluk Islam." Ia mengikuti nasihat itu, kembali ke Makkah, dan memeluk Islam di hadapan Rasulullah ﷺ.

"Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah." Rabb kita memiliki rahmat tak terbatas bagi mereka yang bertobat, maka Allah berjanji mengganti setiap kejahatan yang mereka perbuat dengan kebaikan. Allah juga memberi harapan agar mereka mengganti kebiasaan buruk dengan kebaikan. Kebahagiaan lain terjadi pada Abu Bakar RA. Sejak awal Islam, ia selalu berharap ayahnya merasakan manisnya iman. Ia menggandeng tangannya dan membawanya kepada Rasulullah ﷺ. Nabi merasa kurang nyaman karena rasa hormat, bahwa seorang lelaki tua dibawa kepadanya.

Beliau berkata, “Mengapa tak kau biarkan orang tua ini tetap di rumah, sehingga aku yang datang menemuinya?” Rasulullah ﷺ meletakkan tangan beliau di dada ayahnya, lalu mengusapnya lembut, “Masuklah Islam, wahai Abu Quhafah.” Dan ia pun masuk Islam. "Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah." Namun masih ada sebagian orang yang belum beriman. Mereka lari dari kebenaran, dari cahaya petunjuk. Mari kembali ke hari penaklukan. Hari itu, pasukan Muslim dibagi menjadi lima bagian, dan salah satunya dipimpin oleh Khalid bin Walid. Sementara itu, Ikrimah bin Abu Jahal dan Safwan bin Umayyah mengumpulkan sekelompok pejuang untuk melawan.

Saat pasukan memasuki kota, mereka menyerang pasukan Khalid. Meski Rasulullah ﷺ tak menginginkan pertumpahan darah, kaum musyrik tetap bersikeras untuk berperang. Dalam waktu singkat mereka kehilangan tiga belas orang dan melarikan diri. Ikrimah berhasil melarikan diri dan sampai di pelabuhan. Meski begitu, ia masih berusaha lari dari Tuhannya. Ia naik kapal menuju Abyssinia. Ia ingin meninggalkan semuanya. Namun Tuhannya tidak meninggalkannya. Tiba-tiba, badai besar datang di tengah laut. Angin semakin lama semakin kuat. Kapal mulai berguncang keras. Mereka takut kapal itu akan tenggelam. Saat itu, kapten berseru kepada orang-orang di kapal: "Ikhlaslah! Jujurlah!

Hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita dari badai ini!" Mereka hampir saja tenggelam. Angin sangat kencang, dan langit gelap serta suram. Orang-orang di kapal mulai berdoa dengan tulus hanya kepada Allah, dan menyatakan keesaan-Nya. "Kenapa kalian berdoa seperti ini? Tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah." Ikrimah datang ke sana untuk menolak kebenaran ini. Tapi ucapan mereka amat memengaruhinya. Ia pun berdoa, "Ya Allah, jika kau selamatkan aku dari bahaya ini, aku akan pergi ke Muhammad dan memeluk Islam. Tak lama kemudian badai itu pun mereda. Kemudian, Ikrimah menceritakan peristiwa itu: “Sejak saat itu aku mulai memahami Islam, dan cintanya masuk ke dalam hatiku.

Aku berkata kepada orang-orang di kapal, ‘Bawalah aku kembali. Demi Allah aku akan kembali kepada Muhammad.’” Setelah Ikrimah meninggalkan Makkah, istrinya, Ummu Hakim, masuk Islam. Ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan meminta agar suaminya dimaafkan. Nabi yang penuh rahmat menjamin keamanan Ikrimah. Ummu Hakim segera berangkat bersama budaknya mencari suaminya. Setelah perjalanan panjang, ia menemukannya di pantai Tihamah. Pernikahan yang dahulu menyeret mereka menuju neraka, kini berubah menjadi jalan yang membimbing menuju surga. Dipenuhi rasa malu, Ikrimah tidak tahu bagaimana menghadapi Rasulullah ﷺ. Ia terus memikirkan semua yang pernah ia lakukan terhadap Islam.

Bagaimana mungkin ia bisa dimaafkan? Apalagi ia adalah putra Abu Jahal. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Ketika istrinya mengatakan Rasulullah ﷺ menjamin keamanannya, ia amat terkejut, dan hatinya pun tenang. Setelah beberapa hari perjalanan, mereka mendekati Makkah. Rasulullah ﷺ merasa khawatir akan ada orang-orang yang mungkin menyakiti perasaan Ikrimah. Maka beliau berkata kepada para sahabat: “Ikrimah datang kepada kalian sebagai seorang mukmin dan Muhajirin. Janganlah kalian mencela ayahnya.

karena mencela orang yang sudah mati akan menyakiti orang yang hidup, dan tidak sampai kepada orang yang telah mati.” Ketika Rasulullah ﷺ melihat mereka, dengan gembira beliau segera berdiri dan berjalan menuju mereka. Beliau memeluk Ikrimah dan berkata, “Selamat datang, penunggang kuda Muhajir.” Ikrimah tidak menyangka sambutan yang begitu hangat, tapi ia masih merasa malu dan menundukkan kepalanya. Kemudian mereka duduk dan berbincang. Akhirnya, Ikrimah mengucap syahadat dan menjadi seorang Muslim. "Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah." Kehidupan masa lalunya penuh dosa, dan ia berada dalam kegelapan syirik. Kini ia ingin hatinya merasa tenang.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku mohon agar kau memohonkan ampunan atas segala permusuhan yang kulakukan, tiap langkah yang kuambil melawanmu, setiap keadaan aku menentangmu, dan setiap kata yang kuucapkan di depanmu atau di belakangmu." Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya dan meminta Allah mengampuninya. Beban berat di jiwa Ikrimah akhirnya terangkat. Lalu ia membuat janji ini kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku akan menginfakkan dua kali lipat di jalan Allah dari yang dulu kupakai menjauhkan manusia dari-Nya.

Dan aku akan berperang dua kali lipat di jalan Allah dari yang dulu kulakukan untuk menjauhkan manusia dari-Nya.” Dengan demikian, satu lagi mimpi Rasulullah ﷺ pun terwujud. Nabi pernah bermimpi yang tak bisa beliau pahami. Beliau melihat dirinya di Surga, dan ada sebuah pohon indah. Beliau bertanya, “Milik siapa ini?” Jawabannya sangat tak terduga: “Ini milik Abu Jahal.” Beliau berkata, “Demi Allah, ia takkan pernah masuk Surga.” Namun tidak seperti kita, mimpi para Nabi selalu memiliki makna. Dan pada hari itu, makna mimpi itu menjadi jelas. Pohon itu adalah Ikrimah, putra Abu Jahal. Rasulullah ﷺ juga menjamin keamanan kepada tokoh Quraisy seperti Safwan bin Umayyah dan Suhail bin Amr.

Dan mereka pun masuk Islam serta menghabiskan sisa hidupnya di jalan Islam. Semoga Allah meridai mereka semua. Ada kegembiraan besar di kota itu. Penduduk Makkah merasakan manisnya iman, sesuatu yang mereka cari sepanjang hidup namun tak ditemukan. Dalam suasana spiritual itu, seorang Badui datang kepada Rasulullah ﷺ. Ia gemetar karena bahagia. Rasulullah melihat keadaannya dan berkata, “Tenangkan dirimu. Aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering.” Hari itu dipenuhi teladan kerendahan hati, kasih sayang, dan kesetiaan. Seseorang bisa saja rendah hati, tapi menunjukkannya di puncak kemenangan, itulah hal yang luar biasa.

Seseorang bisa saja penyayang dan pemaaf, namun menampakkan nilai-nilai ini di puncak kekuasaan, itu sesuatu yang istimewa. Bagi Makkah dan seluruh dunia, sebuah era baru telah dimulai. Allah sedang menyempurnakan cahaya-Nya. Namun kaum Muslimin Madinah mulai merasa khawatir. Mereka saling bertanya, “Allah telah memberi Rasul-Nya kemenangan atas tanah kelahirannya. Apakah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya akan tinggal di Makkah sekarang, atau kembali bersama kita?” Mereka sangat ingin tahu, namun belum ada jawabannya. Rasulullah ﷺ menyadari kekhawatiran mereka dan bertanya kepada kaum Anshar apa yang mereka bicarakan.

Mereka menjawab, “Bukan apa-apa, wahai Rasulullah.” Tapi saat beliau mengulang pertanyaan itu beberapa kali dan melihat mereka menghindari jawaban jelas, beliau paham apa yang mereka pikirkan. Lalu beliau berkata, “Aku akan hidup dan wafat bersama kalian.” Sekali lagi, kata-kata ini menunjukkan betapa dalam ikatan mereka. Dengan mata berlinang, kaum Anshar berkumpul dan berkata, “Demi Allah, kami berkata begitu hanya karena cinta kami pada Allah dan rasul-Nya, dan bukan karena alasan lain.” Penaklukan Makkah telah mengubah segalanya. Hari-hari kesulitan telah berlalu, dan perjuangan berubah menjadi kemudahan. Namun di sisi lain, itu juga tanda bahwa sebuah era akan segera berakhir.

Segalanya telah terjadi persis sebagaimana yang telah ditetapkan. Namun di mata Rasulullah ﷺ, bersama kedamaian mendalam, ada juga penantian yang sunyi. Keinginan terbesar beliau kini adalah bertemu Rabb-nya yang Paling Dicinta. Di bumi ini, tempat beliau mencurahkan seluruh jiwa dan raganya untuk menyampaikan risalah Allah bertahun-tahun, sebentar lagi beliau akan berbicara kepada umatnya untuk terakhir kali. Dan kali ini bukan hanya segelintir orang, melainkan lebih dari 100.000 kaum beriman akan menyaksikan momen itu. Lalu apa yang berubah di dunia setelah penaklukan itu? Tatanan politik seperti apa yang terbentuk di Jazirah Arab? Apa yang terjadi di hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ?

Momen haru apa saja yang terjadi? Dan ketika Nabi penuh rahmat ﷺ menghembuskan napas terakhir, apa yang beliau tinggalkan untuk umatnya? Jawaban untuk semua pertanyaan ini dan adanya kabar gembira agung dalam Surah An-Nasr, semuanya akan ada di episode terakhir serial ini. Sampai jumpa.