Towards Eternity
Kembali ke blog

“Aku Mempertanyakan Dewa-Dewa Hindu” - Hanya dengan Satu Surah Membawanya ke Islam

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Aku tumbuh sebagai seorang Hindu. Agar terhubung dengan Tuhan, kamu harus berdoa melalui arca-arca ini. Arca-arca ini sangat besar. Dengan visual penuh warna dan mencolok. Tapi yang mengejutkanku saat aku tiba di rumah tempat ia berada. Mereka bilang, "Inilah Tuhanmu." Usianya mungkin baru, delapan atau sembilan tahun. Lebih muda dariku. Ada orang bernama Sai Baba. Saat bersama para pengikutnya, dia mengibaskan jarinya seperti ini lalu abu muncul seperti sulap dari tangannya. Dia juga memuntahkan telur emas. Kakak perempuanku berkata, "Temanku mengajakku ke acara ini." Tentang Islam. Saat tiba di sana, aku sungguh terkejut. Kulitku, sekujur tubuhku merinding sampai ke tulang.

Aku belum pernah mendengar hal seperti itu. Lalu aku mulai membaca, tentu saja, Al-Qur'an, saat kubaca empat ayat itu, rasanya seperti cahaya di depanku menyala di dalam pikiranku. Aku pun berkata, "Ya ampun." Tentu saja itu berdampak pada orang tuaku. Mereka berpikir, "Bagaimana bisa kamu biarkan anakmu menjadi musuh, yaitu Muslim?" Aku masih emosional jika mengingatnya. + Assalamu'alaikum, Saudara Salahuddin Patel, terima kasih sudah hadir. Kami sangat senang kamu hadir di Towards Eternity. Aku ingin mulai dengan pertanyaan, siapa Salahuddin Patel? Bisa ceritakan sedikit tentang hidupmu? - Alhamdulillah. Assalamu'alaikum, namaku Salahuddin Patel, aku berasal dari London, Inggris.

Aku dibesarkan di London. Aku tumbuh sebagai seorang Hindu. Orang tuaku berasal dari India, ibuku dibesarkan di Uganda. Jadi aku tumbuh di era 1980-an. Era yang sangat menarik. Lama-kelamaan aku menyadari ada hal-hal yang tidak masuk akal dan saat itu masa-masa kuliah, di mana aku memeluk Islam. + Bagaimana kehidupan beragamamu dulu? Apa yang kamu yakini? - Aku tumbuh sebagai Hindu, dan layaknya orang-orang, kamu mengikuti tradisi keluargamu, tanpa mempertanyakannya. Kamu yakin itu benar. Ayahku mengajak kami sekeluarga ke kuil. Arca-arca itu sangat besar. Tingginya mungkin sekitar 3 sampai 4 meter, jadi kami harus mendongak melihatnya. Dengan visual penuh warna dan mencolok.

Bayangkan saja saat aku masih kecil, jujur, aku sangat ketakutan. Kalian melihat arca-arca itu yang begitu mencolok. Banyak yang berwarna biru, dan orang-orang percaya bahwa arca ini bisa menjelma ke dalam wujud fisik. Agar terhubung dengan Tuhan, kamu harus berdoa melalui arca-arca ini. Kamu tak mempertanyakannya. Kamu hanya melihatnya sebagai tradisi leluhur dan nenek moyang kita. + Apa yang membuatmu mulai mempertanyakan keyakinanmu? - Mungkin saat aku masih SMA, aku menonton Mahabharata, acara di televisi itu. Aku mulai mempertanyakan gagasan-gagasan itu. Semuanya terasa tidak masuk akal. Sebab secara logis dan rasional, ada hal-hal yang tidak sesuai.

Misalnya Tuhan menjadi manusia yang memiliki keterbatasan. Tuhan yang tidak mengetahui segalanya. Tuhan yang membutuhkan bantuan Tuhan lain untuk berwujud. Konsep Tuhan yang harus datang ke dunia, Tuhan berada di dalam dunia, sekaligus di luar dunia. Suatu hari aku di rumah bersama saudara laki-lakiku, lalu orang tuaku berkata, "Ayo, kita akan mengunjungi seseorang yang suci." Tapi yang sungguh mengejutkanku adalah saat tiba di rumah itu. Rumah biasa saja, tetapi dipenuhi gambar seorang gadis muda berpakaian putih yang sedang duduk. Bayangkan saja, ada gambar-gambar besar gadis itu terpajang di seluruh rumah. Lalu kami dibawa ke sebuah ruangan khusus tempat ia duduk.

Aku ingat mereka berkata, "Inilah Tuhanmu." Usianya mungkin baru 8 atau 9 tahun. Ia lebih muda dariku. Mereka berkata, "Kita harus meminta berkah darinya, kita harus berdoa kepadanya." Orang tuaku sangat serius soal itu. Tapi saat itu aku berpikir, "Ini sebenarnya apa?" Kenapa aku harus berdoa pada gadis kecil ini? Tapi kamu tidak mempertanyakannya, karena itu orang tuamu. Kamu menuruti perintah mereka, kamu menganggapnya benar. Ia seorang gadis muda, lebih muda dariku, manusia biasa sepertiku, tapi mereka berkata, "Dialah penciptamu." Kami harus meminta berkah kepadanya, kami harus menyembahnya, kami harus bersujud kepadanya.

Saat itu aku berpikir, "Ini jelas salah." Contoh lain, mungkin sebagian orang mengenal seseorang bernama Sai Baba. Dia adalah guru spiritual India. Dia sangat terkenal, dengan jutaan pengikut di India. Kami dulu memiliki fotonya. Foto dirinya mengenakan pakaian keagamaan, ia juga mengenakan kalung bunga di lehernya, dan kami menyimpannya, bersama arca dan fotonya. Orang tuaku menyembahnya. Salah satu hal yang biasa dia lakukan di hadapan para pengikutnya, dia mengibaskan jarinya, lalu abu langsung muncul seperti sulap dari tangannya. Lalu mereka menganggapnya sebagai sebuah berkah. Ia juga memiliki pertunjukan lain, yaitu memuntahkan telur emas.

Bayangkan ada sebuah nampan logam, lalu dia membaca sesuatu, semacam mantra, dan para penonton melihatnya, kemudian dia pura-pura memuntahkan sesuatu, dan tiba-tiba sebuah telur emas keluar. Untuk trik abu itu, dia menyembunyikan gumpalan abu kecil di sela-sela jarinya. Jadi saat dia menggerakkan tangannya, dia sebenarnya sedang meremukkannya. Begitu juga dengan telur itu, entah disembunyikan di lengan bajunya atau di tempat lain, tetapi saat dia memuntahkannya, terlihat seolah keluar dari mulutnya, padahal hanya trik tangannya. Jadi, dalam Hinduisme ada banyak praktik semacam ini, di mana orang memakai teknik-teknik untuk menipu orang banyak.

Aku akhirnya menyadari bahwa semua itu tidak masuk akal, tapi pasti ada sesuatu. Jadi dalam ibadahku, saat berbicara tentang berdoa pada Tuhan, aku hanya berbicara kepada Tuhan dalam bahasaku sendiri, bahasa Inggris. Aku hanya berkata, "Tuhan, aku butuh bantuan" "Tolong ampuni aku atas hal ini." Aku percaya bahwa hal ini bersifat fitrah, sudah tertanam dalam diri kita semua. Dan aku hanya terhubung dengan fitrah itu. + Bagaimana perjalananmu menuju Islam dimulai? - Aku pernah pergi bersama teman-temanku, sebelum menjadi Muslim, ke masjid untuk salat Jumat. Aku ingat memasuki masjid dan melihat saf demi saf, aku melihat praktik ibadah ini sangat berbeda dari Hinduisme.

Terutama saat bersujud, kamu letakkan kedua tanganmu di tanah dan wajahmu menyentuh lantai, itu tanda ketundukan yang sesungguhnya. Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Karena aku pernah ke gereja, aku pernah ke kuil, bahkan pernah melihat kuil Buddha, dan biasanya selalu ada gambar atau patung yang disembah. Tapi saat masuk ke masjid, benar-benar tidak ada apa pun. Semuanya sangat sederhana, hanya ada mimbar di depan, tempat imam berdiri. Sangat bersih, sederhana, dan minimalis, dan di sanalah kita menghadap Tuhan. Terasa aneh karena tidak ada patung, tapi pada saat yang sama itu meneguhkan keyakinanku. Ada rasa tenang, dan tidak ada yang meminta uang.

Tak ada yang berkata, "Kamu harus membayar sesuatu kepada para dewa ini." Kamu tak harus mempersembahkan makanan agar ibadahmu diterima. Dan itu adalah hal yang indah. Aku mulai mempelajari agama ini. Awalnya aku mengira ini agama orang Pakistan. Lalu aku bertemu orang yang beragam. Orang Arab, Afrika, Asia, dan Turki. Aku berteman dengan orang Turki sejak kecil. Aku ingat kaum Muslim sangat ramah, sangat dermawan, sangat bersih, dan aku merasa dekat dengan mereka. Lalu kusadari, memang begitulah kita seharusnya. Dalam Islam ada pemahaman tentang Tuhan Yang Maha Esa, tidak diciptakan dan bersifat abadi. Sedangkan dalam Hinduisme, ada banyak sekali dewa. Tuhan menjelma dalam ciptaan.

Hal ini bertentangan dengan Islam. Lalu ada Kekristenan dengan konsep Tritunggal, yang diklaim sebagai monoteisme, tapi aku melihat hal yang sama. Seperti yang kukatakan, dalam Hinduisme ada konsep Trimurti, versi Tritunggal dalam agama Hindu. Dan hal yang sama, mereka mengatakan semuanya menuju satu Tuhan. Yang menarik, saat kupelajari mitologi Yunani Kuno, Persia, dan Babilonia, semuanya memiliki konsep Tritunggal. Seolah-olah konsep itu diwariskan dari zaman ke zaman. Jadi bagiku, apa pun yang diyakini orang-orang itu, pasti ada satu kebenaran universal. Lalu aku mempelajari teologi dasar Islam, dan aku terkejut. Pemahaman bahwa Tuhan itu Esa, bukan bagian dari ciptaan, dan Maha Kuasa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menemukan agama yang sesuai dengan apa yang kuanggap benar. Kemudian aku membaca Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ikhlas. Saat kubaca empat ayat itu, rasanya seperti ada cahaya yang menyala dalam pikiranku. Firman yang berbunyi, "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa." Ya, aku percaya pada satu Tuhan. Yang Maha Kekal, abadi, dan tidak butuh siapa pun. Tentu saja, jika Tuhan itu ada, Dia pasti seperti itu, bukan ciptaan, dan tak butuh siapa pun. "Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan." Artinya Dia tidak memiliki orang tua, dan tidak memiliki anak.

Aku berasal dari tradisi yang mengenal dewa, dewa kecil, putra sang dewa, putri sang dewa, yang tak kuyakini. Di sini Tuhan adalah Sang Pencipta, tanpa orang tua dan tanpa anak. Ya. Lalu ayat terakhir, "...serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." Artinya apa pun yang kita bayangkan sebagai Tuhan, itu bukan Tuhan, karena Tuhan berada di luar ciptaan. Bukan bagian dari ciptaan. Semua yang kita bayangkan berasal dari apa yang kita lihat. Dan aku berkata, "Ya ampun." Dari itulah awal mula aku merasa bahwa ini benar-benar masuk akal. Lalu aku mulai membaca buku-buku teologi dan Al-Qur'an.

Aku ingat suatu hal yang menarik, pada saat yang sama, semakin dekat kepada Islam, semakin banyak pula yang mereka jelaskan. Aku melihat bagaimana mereka beribadah, dan bagaimana mereka salat berbaris dalam satu saf, menyembah Allah. Hingga akhirnya setelah lulus, aku harus mengambil keputusan, apa yang akan kulakukan sekarang. Aku sampai pada titik berpikir, "Tidak, jika aku tidak melakukannya, aku akan menjalani hidup dalam kebohongan." Dan aku tidak bisa begitu. Aku harus mengambil keputusan ini. Lalu aku memutuskan, dan beri tahu temanku. Saat aku sampaikan, mereka terkejut. Aku tak tahu apa pun tentang Islam, tentang tata cara ibadah atau dasar-dasar teologinya.

Aku hanya tahu bahwa ini adalah kebenaran. Aku harus mengambil langkah. Inilah Tuhan, ini agama Allah, inilah kebenaran, inilah jalan yang benar. + Bagaimana perasaanmu saat bersyahadat? Bisakah ceritakan tentang hari itu? - Saat mengingat hari itu, aku ingat merasa sangat gugup. Dan aku ingat aku mengucapkan syahadat, dan banyak orang juga mengatakan hal yang sama, rasanya seperti beban yang sangat besar terangkat dari pundakmu. Tubuhmu terasa ringan. Setelah mengucapkannya, semua temanku memelukku, terasa sangat mengharukan. Aku merasa bersih, ringan, dekat dengan Allah, dan dipenuhi ketenangan. + Bagaimana reaksi orang tuamu saat kamu memeluk Islam?

- Saat memutuskan menjadi mualaf, tentu semuanya harus kupikirkan dengan matang. Tapi aku sadar aku tak bisa hidup dalam kebohongan. Lalu kusadari, aku harus memberi tahu orang tuaku. Saat kuberitahu, mereka merasa tidak senang. Mereka kecewa. Ibuku sangat marah, sedangkan ayahku benar-benar tidak memahaminya. Karena sekarang kamu dianggap sebagai kambing hitam keluarga. Lalu kabar itu menyebar, terutama di komunitas kecil seperti Hindu. Tentu saja hal itu berdampak pada orang tuaku. "Bagaimana bisa kamu biarkan anakmu menjadi musuh, yaitu Muslim?" Tapi aku tetap melanjutkan perjalananku.

Yang kusadari, selama beberapa tahun, meski sudah bersyahadat dan merasa bahagia, aku tahu ini adalah kebenaran, tapi masih ada yang kurang. Aku belum melaksanakan salat lima waktu. Lalu Allah mengirimkan sebuah tanda kepadaku. Sungguh luar biasa. Aku masih terharu saat mengingatnya. Karena sebagai seorang mualaf, kamu sendirian. Maaf, aku tak bermaksud menangis. Sekitar tahun 2008–2009, aku mulai menonton lebih banyak video, dan menuntut lebih banyak ilmu, lalu Allah mengirimkan tanda yang luar biasa. Adik perempuanku 10 tahun lebih muda dariku. Saat itu dia masih seorang Hindu yang taat.

Suatu hari dia berkata, "Teman-temanku mengajakku ke sebuah acara." "Acara itu tentang Islam." Aku menjawab, "Baiklah, kita lihat saja." Format acaranya seperti ini, hari Jumat ada sesi pengenalan gratis, lalu program utamanya berlangsung pada Sabtu dan Minggu. Biasanya diadakan di hotel terkenal. Saat tiba di sana, aku sungguh terkejut. Aku belum pernah melihat hal seperti ini. Aku ingat syekhnya membacakan ayat-ayat Al-Qur'an secara langsung. Rasanya seperti kulitku, sekujur tubuhku merinding sampai ke tulang. Aku belum pernah mendengar yang seperti ini.

Lalu aku berpikir, "Inilah sebenarnya ajaran agama ini." Hari Jumat pun berakhir, dan aku berpikir, "Ini luar biasa indah." Ini luar biasa, ada ratusan orang, aku tak pernah melihat kajian seperti ini. Aku belum mendaftar, tapi adikku sudah. Aku berkata kepadanya, "Dengar." Aku merasa sangat percaya diri. "Kalau ada pertanyaan, langsung saja tanya kepada syekh." "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." "Kamu juga ditemani temanmu," Karena temannya, orang Somalia menjadi relawan di sana. Begitulah dia mendapat undangan ke program itu. Aku masih ingat jelas hari Sabtu itu. Aku menjalani kegiatan biasa bersama teman-temanku, bersenang-senang seperti orang-orang pada hari Sabtu.

Lalu malam harinya, adikku mengirim pesan, "Hai, aku ingin memberi tahu bahwa aku banyak bertanya.. selama program ini, dan aku memutuskan untuk mengucapkan syahadat." Benar-benar di luar dugaan. Syekh itu... dia ceritakan padaku. Dia mengatakan bahwa dia hadir pada hari Jumat, dan melihat semua orang di depannya, para pria di depan, para wanita di belakang, sementara syekh bersiap menyampaikan materi, lalu dia memperhatikan bagian perempuan, ada seorang wanita yang tak mengenakan hijab. Kemudian sesi tanya jawab dimulai. Dia kembali memperhatikan perempuan yang tidak berhijab itu, dan perempuan itu mulai bertanya. Sangat jelas baginya bahwa adikku bukan seorang Muslim.

Lalu dia mulai berdakwah karena dia seorang da'i. Lalu Syekh mulai bertanya pada adikku. Karena dia melakukannya dengan cara yang sangat cerdas, sampailah pada titik di mana dia berkata pada adikku, "Kalau semua ini masuk akal bagimu, dan kamu tak punya pertanyaan lagi, mengapa tidak mempertimbangkan untuk memeluk Islam?" Kurang lebih seperti itu. Dan adikku bilang dia tak punya jawaban lagi. Akhirnya, di hadapan semua perempuan itu, dia mengucapkan syahadat. Yang lebih mengejutkanku, aku ingat bahwa dia sedang praktik mengajar, begitu masuk Islam, dia langsung mengenakan hijab dan abaya.

Aku ingat saat dia bercerita, dia tiba di sekolah, semua murid bertanya, "Bu, Bu, ada apa dengan Ibu?" Karena dia berubah. "Apa Ibu dipaksa menjadi Muslim?" Dia menjawab, "Tidak. Aku sendiri yang memilih masuk Islam." Rekan-rekan Muslimnya ada di sana dan tentu rekan-rekan kerjanya merasa amat bahagia sekaligus terkejut. Bagiku, itulah jawabannya. Aku memohon pada Allah, dan jawabannya adalah adikku. Dia sungguh gigih. Seperti yang kukatakan, para perempuan ini lebih baik daripada para pria. Dia langsung mengamalkan Islam dengan sungguh-sungguh. Itu tentu sangat membantuku. Dia juga bilang bahwa saat aku bersyahadat dan menjadi Muslim, dampaknya luar biasa baginya.

Aku tidak menyadarinya, padahal dia juga sedang memikirkannya. Dan tentu Allah-lah yang memberi petunjuk. Pada bulan Desember, adikku datang padaku, karena itu musim liburan, dia bilang, "Aku diundang ke sebuah program." "Program ini untuk para mualaf, mengajarkan dasar-dasar Islam." "Menurutmu, apa kita ikut?" Aku menjawab, "Kenapa tidak? Kita lihat saja. Lagi pula kita sedang tidak ada kegiatan. Apa ruginya?" Kami pun mengikuti program mualaf itu. Di sana aku bertemu mualaf lainnya. Mereka menjalani perjalanan yang sama. Aku bertemu mantan penganut Sikh, Aku bertemu mantan penganut Kristen, dan juga mantan penganut Buddha keturunan Tionghoa.

Rasanya Allah membimbingku, dan Allah adalah sebaik-baik Perencana. Saat itu memang itulah yang kubutuhkan. Lalu aku mulai aktif dalam kegiatan di iERA. + Jika kamu berkesempatan untuk berdoa untuk seseorang dan pasti dikabulkan, apa dan siapa yang akan kamu doakan? - Tanpa ragu sedikit pun, kurasa semua mualaf akan menjawab hal yang sama. Yaitu, untuk kedua orang tua mereka. Itulah hal tersulit bagi seorang mualaf. Membayangkan bahwa orang tua yang telah membesarkanmu belum mendapat hidayah. Jadi... + Apa yang paling mengesankan bagimu tentang Nabi Muhammad SAW? - Orang sering lupa bahwa Nabi Muhammad SAW tumbuh di lingkungan yang dipenuhi berhala. Ada 360 berhala di Ka'bah.

Beliau datang untuk menyucikannya. Beliau diutus membawa risalah tauhid yang murni di tengah masyarakat musyrik yang aslinya mereka dulu bertauhid. Aku merasa sangat terhubung dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau membersihkan tanah itu, menghapus penyembahan berhala, dan aku menyukainya karena bisa memahami kisah itu. + Jadi, apa inti ajaran Hinduisme? - Ya, inti ajaran Hinduisme cukup berbeda. Ini adalah agama politeistik. Artinya bahwa mereka meyakini banyak dewa. Lalu kamu mulai menyadari ada hal-hal yang membingungkan. Karena dewa yang mana sebenarnya harus kusembah? Dan jika ada banyak dewa, bagaimana mereka mengatur tatanan dan semua itu?

Dalam pandangan tentang hidup dan mati, dalam agama Hindu ada konsep reinkarnasi, jadi kamu terlahir kembali ke dunia, bereinkarnasi sesuai kehidupan yang telah dijalani. Jika hidupmu baik, kamu akan terlahir dalam wujud lebih tinggi. Misalnya kamu adalah seekor tikus, jika dulu kamu tikus yang baik, mungkin kamu akan naik kelas jadi beruang. Begitu juga sebagai manusia, jika hidupmu dulu buruk, kamu seorang penjahat, menzalimi orang lain, maka kamu akan terlahir kembali dalam wujud lebih rendah. Misalnya menjadi kecoak, jelas itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Begitulah seluruh siklus hidup dan mati dalam Hindu. Dan tentu ini juga berlaku bagi manusia.

Misalnya, jika kamu melihat seseorang lahir dengan disabilitas, dengan keterbatasan atau kelainan fisik, orang sering memperlakukannya dengan buruk. Karena menurut pemahaman teologi mereka, orang ini di kehidupan sebelumnya adalah orang jahat. Akibatnya timbul penindasan, ketidakadilan, mereka tidak dipandang sebagai orang baik di masyarakat, sehingga mereka tersisih, padahal kita tahu ini tidak benar karena mereka orang-orang yang tak bersalah, mereka sudah memiliki ujian yang harus mereka hadapi. Dan seperti yang kukatakan, dalam sistem kasta, ada kelompok yang disebut kaum buangan, dan mereka benar-benar dimarjinalkan hingga dijauhi masyarakat, mereka tak dapat keuntungan yang sama.

Bayangkan kamu terlahir dalam kondisi itu, kamu tak akan pernah bisa keluar. Lalu ada juga gagasan antropomorfisme, yaitu saat kamu melihat berhala-berhala itu, yang mencolok adalah wujudnya berupa manusia, secara penampilan. Gagasan antropomorfisme ini mengatakan bahwa Tuhan akan turun dalam wujud manusia atau hewan, untuk menegakkan keadilan. Salah satu contohnya adalah Ganesha. Dia adalah dewa bertubuh manusia tetapi berkepala gajah. Dan ada kisah di balik itu. Menurut kisah itu, suatu hari dua dewa menikah, lalu salah satunya, sang ayah harus pergi mengasingkan diri beberapa waktu. Dia tidak tahu bahwa istrinya sedang hamil.

Beberapa tahun kemudian, bahkan sekitar satu dekade, dia kembali, dan mencoba memasuki rumah, lalu putranya yang tak dikenalnya berusaha menghalangi karena ia tak mengenali pria itu yang merupakan ayahnya, dia tak boleh memasuki rumah. Lalu terjadilah perkelahian, yang selanjutnya terjadi adalah dewa itu memenggal kepala anak laki-laki itu. Tentu saja ibunya lari keluar dan berkata, "Apa yang telah kamu lakukan? Itu putra kita." Kemudian dewa itu, untuk menyelamatkan putranya, ia mencari hewan terdekat, yang kebetulan adalah seekor gajah, dan memakai kepalanya untuk menghidupkan putranya. Bagiku, itulah salah satu masalahnya.

Jadi, misalnya saat melihat Jake, dia mengenakan semacam kostum, lalu dia bisa berkomunikasi dengan avatar biru itu, hampir seperti Tuhan turun dalam wujud avatar manusia, turun ke dunia untuk menegakkan keadilan. Jadi aku mulai bergumul dengan konsep-konsep ini sejak kecil. Semua ideologi yang membentuk dasar agama Hindu itu, lama-kelamaan tidak masuk akal, dan terasa tidak benar. Misalnya gagasan adanya banyak dewa. Lalu siapa yang berkuasa? Siapa Tuhan yang utama? Apa yang membuat satu dewa lebih berkuasa atau lebih mengetahui daripada yang lainnya? Yang kedua adalah antropomorfisme dan avatar, yakni Tuhan menjadi manusia. Gagasan bahwa Tuhan menjadi bagian dari ciptaan.

Saat aku mulai memikirkannya, rasanya seperti seorang tukang kayu yang membuat mebel, seperti sebuah meja, dia merancangnya, membuatnya, dan dia pula yang merakitnya, tapi dia tidak bisa menjadi meja. Karena hakikat seorang tukang kayu berbeda dengan hakikat meja maupun kursi. Jadi dia tak mungkin menjadi bagian dari perabot itu. Begitu pula jika berbicara tentang Tuhan, Tuhan adalah Sang Pencipta yang berada di luar ciptaan. Dia menciptakan segalanya, bukan menjadi bagian dari ciptaannya. + Apa perbedaan yang kamu lihat saat membandingkan kitab Hindu dengan Al-Qur'an? - Pertama, jika berbicara tentang Al-Qur'an, pesan yang dikandungnya sangat jelas.

Pesannya sangat sederhana dan sangat jelas. Yaitu hanya ada satu Tuhan, Dia bukan bagian dari ciptaan, dan Dia adalah Pencipta serta Pemelihara segala sesuatu. Dia telah menyampaikan petunjuk kepada umat manusia melalui para nabi dan wahyu. Untuk membimbing kita, menunjukkan kebenaran, bahwa hidup ini adalah ujian, untuk terhubung kembali pada Sang Pencipta, yang nanti kita akan kembali pada-Nya dan menjalani hidup yang baik. Sama seperti pembuat telepon genggam, kamu memerlukan buku petunjuk agar tahu cara terbaik menggunakannya. Begitu pula sebagai manusia, kita memerlukan pedoman dari Sang Pencipta untuk memahami kehidupan.

Begitulah aku memandang Al-Qur'an, isinya runtut, jelas, dan sangat masuk akal. Namun selain itu, ketika melihat kitab-kitab Hindu, memang ada banyak ajaran baik, banyak nilai luhur, tetapi Al-Qur'an, kita tahu ia berasal dari masa tertentu, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan kita tahu selama 23 tahun masa wahyu, Al-Qur'an tetap terjaga. Karena penjagaannya bukan hanya melalui tulisan, tetapi juga melalui tradisi lisan yang masih ada hingga kini. Jutaan orang telah menghafal seluruh isi Al-Qur'an di luar kepala, dan kamu bisa melihat perwujudannya. Artinya Al-Qur'an telah dijaga, dan Allah menyebutkannya dalam Al-Qur'an, bahwa Kami adalah penjaganya, Kami akan menjaganya.

Sedangkan pada Weda atau Upanishad, kita tidak melihat itu. Aku bahkan tidak mengenal satu orang pun yang menghafalnya. Apalagi kitab-kitab lainnya. Ini adalah mukjizat, tanda. Dan seperti yang kamu katakan, saat kita menelaah Al-Qur'an, lalu menggali lebih dalam, seperti kata Hamza Tzortzis, makna-maknanya yang berlapis dan berbagai tandanya, semuanya adalah tanda. Saat seseorang berkata, "Aku sedang mencari Tuhan," Allah telah menaruh tanda-tanda di sekeliling kita, kita hanya tinggal melihatnya. Karena itu aku selalu berkata, saat menyampaikan dakwah Islam, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah memberi seseorang Al-Qur'an.

Jika orang itu tulus, dia akan memahami bahwa itu adalah firman Allah. + Benarkah mereka menyembah sapi dan tidak makan daging? mengapa begitu? - Ya, dalam agama Hindu, sapi dianggap sebagai simbol suci. Karena mereka percaya sapi itu suci, karena memberi kehidupan dan menghasilkan susu. Mereka tak makan sapi karena dianggap suci. Jadi mereka tak makan daging. Mereka juga memanfaatkan limbah sapi, yakni berupa kotorannya, untuk membangun rumah dan sebagai bahan bakar. Karena itu mereka melihat banyak manfaat dari sapi, sehingga kedudukannya diangkat, bahkan dalam teologi mereka ada konsep ibu sapi, dan kita tahu sosok ibu sangat dihormati.

Bahkan sebagian paham ekstrem meyakini bahwa sapi adalah manifestasi Tuhan. Dan kamu melihat itu. Karena itu mereka melakukan ritual keagamaan terhadap sapi. Jika seseorang berbuat sesuatu terhadap sapi, mereka menganggapnya sebagai serangan terhadap mereka dan komunitas mereka. Sebagian besar umat Hindu adalah vegetarian. Jika kamu melihat ajaran Hindu yang ketat, kebanyakan mereka memang vegetarian. Namun ada juga yang makan ayam atau daging kambing. Jadi, aku tumbuh tanpa pernah makan daging sapi. Ibuku memang masih membelikan kami ayam dan daging domba, tapi ada suatu masa ketika beliau memutuskan untuk menjadi lebih religius, sehingga kami tak lagi makan daging.

Tapi aku ingat, saat masih kecil aku sering memberontak. Kami diam-diam pergi membeli cheeseburger, - tanpa memberi tahu mereka... + Jadi kamu makan daging? - Aku memakannya meski bertentangan dengan tradisi kami, tapi tidak di rumah. Tidak sopan jika makan daging sapi di rumah. Tapi jika dipikirkan secara keseluruhan, bagiku hal itu tidak masuk akal, karena pada akhirnya, sapi sama seperti makhluk lainnya, sama-sama ciptaan Tuhan. Memang benar, sapi memberi banyak manfaat, tapi bukan berarti sapi bersifat suci atau ilahi dalam bentuk apa pun. + Sungai Gangga yang dianggap sakral, + apakah sungai itu bermakna tertentu atau - Ya apa pendapatmu tentang hal itu?

- Sungai Gangga dipandang sebagai sungai suci di India, tempat orang-orang melakukan berbagai ritual dengan harapan memperoleh berkah. Aku tahu orang tua dan keluargaku sering membicarakan Sungai Gangga, Mereka pergi ke sana untuk mandi, seolah-olah melakukan penyucian secara spiritual dengan berendam di sungai tersebut. Mereka pun membawa abu jenazah kesana. Dalam tradisi Hindu, ketika seseorang meninggal dunia, seperti yang kusebutkan sebelumnya tentang reinkarnasi, jika di Islam jenazah dikubur, mereka melakukan kremasi, pada dasarnya kremasi adalah membakar jenazah. Jenazah dibakar hingga menjadi abu, kemudian abu itu disimpan di dalam guci, lalu dihanyutkan ke Sungai Gangga.

Pada dasarnya mereka meyakini bahwa manusia kembali menjadi bagian dari alam ciptaan. + Apakah umat hindu beribadah setiap minggu, atau setiap hari? - Pada umumnya, kebanyakan umat Hindu jika berbicara tentang praktik ibadahnya, mereka memiliki tempat ibadah dalam rumah, yang disebut Puja Ghar. Di sana terdapat susunan arca-arca dewa, dan setiap hari mereka melakukan ibadah, menyembah dewa-dewa, misalnya pada pagi hari, mempersembahkan makanan agar makanan itu diberkahi. Dalam Islam, kita berdoa seperti ini, tapi kamu mungkin melihat simbol ini dalam Hindu, yang merupakan tanda penghormatan, dan juga tanda ibadah. Mereka melakukan gestur itu di hadapan arca-arca tersebut, seperti memohon.

Mereka meyakini bahwa arca-arca itu adalah perwujudan representasi Tuhan. Sebagian orang meyakini bahwa arca-arca itu memiliki kekuatan. Yang menarik adalah di dalam Islam, terdapat nama-nama dan sifat-sifat Allah, namun semuanya adalah nama dan sifat dari satu Tuhan. Seolah-olah yang mereka lakukan adalah mereka mengambil sifat-sifat ini, lalu menciptakan arca-arca untuk mewakili sifat tertentu. + Apa pesanmu bagi mereka yang berpikir, "Aku menemukan kedamaian spiritual di agama Hindu, jadi kenapa aku perlu agama lain?" - Bayangkan kita berteman, dan semua yang sedang menonton ini. kita menjadi teman baik. Bayangkan aku adalah seorang miliarder. Dan aku ingin membantumu.

Aku memberikan hadiah sebesar sepuluh juta pound sterling. Saat menerima hadiah 10 juta pound sterling itu, apa yang akan kamu lakukan? Tentu kamu akan mengucapkan terima kasih. Saat seseorang memberimu hadiah. Saat berbicara tentang keberadaan kita, pemahaman kita, nikmat berkah yang kita punya, kemampuan melihat, kemampuan berbicara, dan kemampuan untuk menikmati setiap momen kehidupan, bukanlah sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Kita tidak menentukan warna kulit, jenis kelamin, semua hal itu diberikan pada kita sebagai anugerah. Spiritualitas itu bagian dari anugerah tersebut. Sekarang kembali ke contoh tadi, bayangkan aku memberimu 10 juta pound sterling.

Tapi, bukannya berterima kasih kepadaku, kamu justru berterima kasih pada Lionel Messi. Ya, dia memang pesepak bola yang hebat. Tetapi dia tidak ada hubungannya dengan hadiah 10 juta itu. Begitulah aku memandang agama. Ada banyak agama, ada banyak praktik spiritual. Kita semua sedang berusaha memenuhi kebutuhan spiritual kita, tapi arahnya keliru. Jika kita mencari tahu dan menelaah dari sudut pandang teologi, kita akan menyadari bahwa pasti ada satu kebenaran universal. Saat terhubung dengan kebenaran yang sesungguhnya, yaitu Sang Pencipta, Tuhan Yang Esa, saat itulah kamu akan mengisi rasa kekosongan spiritual itu.

+ Jika kamu berkesempatan berbicara pada seluruh umat Hindu di dunia, apa yang ingin kamu sampaikan? - Kita semua adalah manusia, sama sepertiku dulu, kita mengikuti tradisi keluarga karena tak pernah mempertanyakannya. Tapi jika kita mau menggali lebih dalam, kita akan menyadari bahwa ada begitu banyak tradisi di seluruh dunia, dan di berbagai tempat di dunia ini. Saat mempelajari teologi agama-agama itu, meski mengajarkan hal baik, semuanya tidak mungkin benar secara bersamaan. Tidak mungkin ada banyak Tuhan dan sekaligus hanya ada satu Tuhan. Tidak mungkin Tuhan berada di luar ciptaan sekaligus dan bersifat kekal, sementara satunya berada dalam ciptaan dan sekaligus di luar ciptaan.

Aku tak bermaksud menyerang keyakinan siapa pun. Aku di sini untuk mengajakmu berpikir, dan memahami bahwa pasti ada satu kebenaran universal. Dan aku sampaikan berdasar pemahamanku, Islam adalah kebenaran. Islam mengajarkan bahwa Tuhan Maha Esa dan kekal, tidak memiliki orang tua dan keturunan, tidak membutuhkan siapa pun, tidak termasuk bagian dari ciptaan, melainkan berada di luar ciptaan, melampaui segala yang dapat kita bayangkan, bukan manusia, itulah agama yang benar. Bacalah Al-Qur'an, pelajari isinya. Pelajarilah ajaran dasar Islam. Berbicaralah dengan seorang Muslim. Yakinlah bahwa ini adalah kebenaran, maka Allah akan menuntunmu menuju kebenaran.

+ Apakah kamu baru masuk Islam, tapi bingung harus mulai dari mana? Atau mungkin kamu Muslim sejak lahir, tapi ingin memulai lembaran baru dan belajar Islam dari awal? Karena itulah kami membuat aplikasi Step Islam ini. Aplikasi ini gratis, tanpa iklan, dan mengajarkanmu tentang Islam... dengan jelas dan terstruktur. Kamu akan dengan mudah mempelajari dasar keimanan, istilah-istilah penting dalam Al-Qur'an, serta tugas praktis untuk membangun kebiasaan seumur hidup, sesuai ritme belajarmu. Jangan biarkan setan membuatmu menunda hal ini. Klik link di bawah, download Step Islam, dan ambil langkah pertamamu menuju kebahagiaan abadi hari ini.