Towards Eternity
Kembali ke blog

Yesus dalam Al-Qur’an vs Bible | Perbedaan Mendasar yang Mengejutkan antara Islam dan Kristen!

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Seorang wanita hamil duduk sendirian di bawah naungan pohon kurma. Kontraksi jelang melahirkan mulai terasa dan semakin hebat. Namun lebih dari rasa sakit itu, yang ia takutkan adalah keadaan dirinya. Karena ia khawatir akan dituduh melakukan hal yang tidak senonoh saat kembali kepada kaumnya. Anak yang sedang ia kandung bukanlah anak biasa. Sebagai mukjizat, anak itu diciptakan tanpa seorang ayah. Benar, ia mengandung meski tak pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. Dan sekarang, ia akan segera melahirkan anak itu. Namun kaumnya tidak akan mempercayainya dan akan menuduhnya dengan tuduhan yang salah. Lalu siapakah bayi yang lahir dengan mukjizat yang luar biasa ini?

Dialah yang lahir tanpa seorang ayah, yang menghidupkan orang mati dengan izin Allah, yang menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan, membuka mata orang yang buta sejak lahir, dan yang diangkat ke langit. Putra dari Maryam, Yesus sang Mesias AS. Yang kita kenal sebagai Nabi Isa AS. Beliau diakui dalam Islam maupun Nasrani, tapi kisah tentang beliau diceritakan berbeda di kedua agama ini. Hari ini kita akan membahas kisah beliau dari sudut pandang Al-Qur’an dan Alkitab, dan membandingkan persamaan dan perbedaannya. Jika sudah siap, mari kita mulai.

Sebelum Maria atau Maryam AS lahir, ibunya yang bernama Hannah bernazar, bahwa jika ia punya anak, akan ia serahkan untuk mengabdi di tempat ibadah di Yerusalem, Baitul Maqdis. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an. "(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, "Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar pada-Mu, agar (janin) dalam kandunganku jadi hamba yang mengabdi (pada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." Saat Hannah berdoa seperti itu, ia mengira anak yang akan lahir adalah laki-laki. Namun ternyata, yang lahir adalah seorang perempuan.

Awalnya terlihat seperti doanya tidak dikabulkan Allah, tapi ternyata justru dikabulkan dengan cara yang jauh lebih indah. Walaupun Maryam adalah perempuan, ibunya tetap menyerahkannya ke Baitul Maqdis. Memberikan anak perempuan untuk tinggal dan mengabdi di tempat suci seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya. Di sana, Maryam hidup penuh ibadah kepada Allah, siang dan malam. Yang bertanggung jawab merawat Maryam adalah suami dari bibinya, yaitu Nabi Zakariyya AS. Yang dalam Alkitab disebut sebagai Zakharia, beliau sangat menyayangi Maryam. Suatu hari, ketika Maryam sedang beribadah seperti biasanya, tiba-tiba, Maryam melihat seorang laki-laki di hadapannya.

Ia sangat terkejut, hatinya pun dipenuhi rasa takut. Dia khawatir laki-laki itu akan menyakitinya. Dia Maryam berkata, "Sungguh, aku berlindung pada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa." Namun, laki-laki di hadapannya itu bukanlah manusia biasa. Dia adalah malaikat, dan sama sekali tidak berniat buruk. Itulah Jibril AS, yang dikenal dalam Alkitab sebagai Gabriel. Agar tidak menakuti Maryam, Jibril muncul dalam wujud manusia. Dan sebenarnya, dia datang membawa kabar gembira.

Dengan suara yang tenang dan menenangkan, Jibril berkata, "Aku utusan Tuhanmu untuk menyampaikan anugerah padamu anak laki-laki yang suci." Maryam berkata, "Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tak pernah ada pria yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!" Jibril berkata, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku, Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan." Begitulah kabar gembira tentang kelahiran Isa disampaikan. Allah Yang Maha Kuasa menetapkan bahwa beliau akan lahir tanpa ayah.

Itu sangat mudah bagi Allah, sebagaimana Dia menciptakan manusia pertama, yaitu Nabi Adam, tanpa ayah dan ibu, Allah pun menciptakan Nabi Isa tanpa ayah. Dan hanya seorang wanita sebersih Maryam yang layak memikul amanah suci ini. Kisah kehamilan Maryam ini juga disebutkan dalam Alkitab dengan narasi yang hampir mirip. Namun yang menarik, tak ada yang merasa heran atau mempertanyakan kehamilannya. Padahal dalam Al-Qur’an, inilah awal dari ujian besar bagi Maryam AS. Hari-hari pun berlalu dan waktu melahirkan semakin dekat. Tapi bagaimana dia akan menjelaskan ini pada kaumnya? Bagaimana ia bisa membuktikannya?

Dengan gejolak perasaan yang hebat di dalam hati, Maryam pun pergi ke tempat yang jauh dari manusia. Dan tibalah waktu melahirkan. Dalam kesakitan, dia bersandar pada pangkal pohon kurma. Dengan hati yang penuh cemas dan sedih, dia berkata, "Wahai, alangkah (baiknya) aku mati sebelum ini, dan menjadi orang yang tak diperhatikan dan dilupakan." Bisakah Anda bayangkan rasa takutnya? Lebih dari rasa sakit karena melahirkan, yang ia takutkan adalah reaksi orang-orang. "Maka Jibril berseru padanya dari tempat yang rendah, "Janganlah bersedih hati, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak padamu. Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan bicara dengan siapa pun hari ini." Kesedihan yang dialami Maryam, proses kelahiran yang ia jalani, dan bagaimana reaksi kaumnya ketika melihatnya, dan semua ini disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, bagian ini tidak diceritakan dalam Alkitab, dan tak ada gambaran bahwa orang-orang merasa heran dengan kejadian ini. Kalau dipikir-pikir, bukankah ini bisa memicu fitnah?

Sekarang mari kita lanjutkan kisah tentang apa yang terjadi setelahnya. Mereka menuduh Maryam dengan dosa besar, padahal ia sama sekali tidak bersalah. Kesuciannya harus dibuktikan, dan ia harus dibebaskan dari tuduhan keji itu. "Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Namun ada hal yang mereka tidak tahu. Bayi itu adalah hamba pilihan Allah. Dia (Isa) berkata, "Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi," Semua orang pun terheran-heran mendengar bayi yang bisa berbicara. Namun, kisah Isa berbicara dalam gendongan ini tidak ada dalam Alkitab.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya menurut Alkitab? Menurut Islam maupun Kristen, sang Al-Masih telah lahir, dan kelahiran ini dianggap ancaman oleh Raja Herodes, yang saat itu berkuasa di wilayah tersebut. Dalam narasi Alkitab, para Majusi, kaum ahli bintang kala itu datang dan bertanya, "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Saat Raja Herodes mendengar ini, ia pun menjadi gelisah. Karena takut tahtanya terancam, ia mengeluarkan perintah kejam. Perintah ini mirip dengan kisah Fir’aun di masa Nabi Musa AS. Di Betlehem dan sekitarnya, semua bayi laki-laki usia dua tahun ke bawah akan dibunuh.

Tapi ada satu hal yang dilupakan oleh Raja Herodes... Jika Allah sudah punya rencana khusus untuk hamba-Nya, tak ada yang bisa menghalangi. Tapi bagaimana caranya Nabi Isa AS akan dilindungi? Dalam Alkitab disebutkan Maryam bertunangan dengan pemuda bernama Yusuf. Namun, dalam sumber-sumber Islam, tidak ada disebutkan sosok ini atau pertunangan itu. Menurut Injil Matius, beberapa saat sebelum perintah raja keluar, malaikat datang kepada Yusuf dalam mimpi, dan berkata, ‘Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir" Maka Nabi Isa pun tinggal di Mesir selama beberapa waktu. Kemudian setelah Raja Herodes wafat, mereka kembali dan menetap di Nazaret.

Lalu bagaimana proses Nabi Isa menerima tugas kenabian? Saat itu, beliau telah menempuh perjalanan spiritualnya dan mencapai usia 30 tahun. Beliau telah cukup matang secara rohani untuk menyampaikan kabar gembira tentang kehidupan abadi dan wahyu dari Allah. Menurut Islam, misi kenabiannya dimulai saat Jibril AS menyampaikan wahyu kepadanya. Nama lain dari Malaikat Jibril dalam Al-Qur’an adalah Ruh al-Qudus, yang artinya Ruh Suci. Namun menurut Alkitab, setelah pembaptisan, Yesus dibimbing oleh Ruh Suci ke padang gurun, di mana ia tinggal selama 40 hari dan diuji oleh setan. Dalam Alkitab, kisahnya dijelaskan seperti ini.

Iblis membawanya ke tempat tinggi, sekejap mata ia memperlihatkan padanya semua kerajaan dunia. Kata Iblis: "Segala kuasa serta kemuliaannya akan kuberikan pada-Mu, sebab semua itu telah diserahkan padaku aku memberikannya pada siapa pun yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembahku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu." Yesus berkata: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya pada Dia engkau berbakti!" Tidakkah kamu juga merasa aneh? Menurut Alkitab, Yesus diuji oleh setan. Ini berarti dia adalah sosok yang dapat diuji, sama seperti aku dan kalian. Namun, jika dia adalah Tuhan menurut ajaran Kristen, bagaimana dia bisa diuji?

Dan iblis seharusnya tahu sifatnya juga, ya kan? Jadi, mengapa dia masih berusaha menyesatkannya? Namun, kita masih melihatnya berusaha untuk melakukan itu dalam Alkitab. Namun seperti yang kita lihat, jawaban Yesus sangat jelas. Dia berkata bahwa dia tidak akan pernah menyembah iblis, tetapi hanya akan menyembah dan melayani Allah. Dia menekankan bahwa baik kekayaan maupun iblis, maupun ciptaan lain tidak boleh disembah. Alkitab mengatakan bahwa iblis mengujinya selama 40 hari. Ya, 40 hari. Namun pada akhirnya, iblis pun gagal. Kemudian Yesus kembali ke Galilea, dan dia melihat bahwa kaumnya sendiri, orang Israel, merupakan orang yang paling membutuhkan jawabannya terhadap godaan iblis.

Mereka telah menjadi sangat rusak sehingga mereka meletakkan kepentingan materi mereka di atas perintah Allah, dan bahkan tidak ragu untuk membunuh para nabi mereka ketika itu menguntungkan mereka. Karena Yesus juga diajarkan ilmu Taurat, dia akan berdiri melawan mereka yang menggunakan agama untuk keuntungan pribadi, dan tidak takut untuk mengingatkan mereka tentang hukum dan ayat-ayat yang bertentangan dengan kepentingan mereka. Khotbah dan perkataannya akan memiliki dampak yang kuat pada orang-orang, menarik perhatian mereka dan membuat mereka mendengarkan. Alkitab menceritakan kisah yang berbeda tentang bagaimana misinya dimulai.

Yesus dibaptis di Sungai Yordan oleh Nabi Yahya, yang juga dikenal sebagai Yohanes Pembaptis dalam Alkitab. Ketika Yesus keluar dari air, Roh Kudus turun ke atasnya dalam bentuk tubuh, seperti burung merpati. Kini dia akan melanjutkan pekerjaan para nabi yang datang sebelumnya. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan Isa putra Maryam; Dan Kami berikan Injil padanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati para pengikutnya." Dia akan membimbing mereka menuju apa yang halal, dan memperingatkan mereka tentang apa yang haram, serta mengingatkan mereka untuk beribadah kepada Allah.

Mari kita coba visualisasikan percakapan itu dengan sebuah contoh. Suatu hari, seorang ahli kitab, yaitu seorang cendekiawan mendekati Yesus dan bertanya kepadanya sebuah pertanyaan. Berikut adalah kutipan dari Injil Markus. “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” "Tepat sekali, Guru, benar kata-mu itu, bahwa Dia esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia." Sekarang, bukankah ini jawaban yang tidak terduga, mengingat teologi Kristen yang utama?

Ingat apa yang Yesus katakan kepada iblis? Tidakkah rasanya dia sedang menekankan hal yang sama di sini? "Tuhan kami adalah Tuhan yang Maha Esa," artinya, Dia adalah Tuhanmu dan Tuhanku. Dan keyakinan ini juga ditegaskan dalam Alkitab dengan pernyataan "Tidak ada Tuhan selain Dia." Begitu pula dalam Al-Qur'an, Yesus mengajarkan kepada kaumnya satu kebenaran yang sama. "Sungguh, Allah, Dia Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus." Setiap nabi diberikan mukjizat ketika mereka diutus kepada umatnya. Dan seperti nabi-nabi lainnya, Yesus juga memiliki mukjizat yang disebutkan baik dalam Al-Qur'an maupun Alkitab.

Namun, ada beberapa mukjizat yang disebutkan dalam kedua Kitab, lainnya hanya di salah satu. Misalnya, kedua kitab tersebut menyebutkan mukjizat seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit kulit, dan menyembuhkan orang buta. Lalu, apa saja mukjizat yang hanya disebutkan dalam Al-Qur'an? Misalnya, mukjizat Yesus berbicara saat masih dalam gendongan. Juga diceritakan dalam Al-Qur'an bahwa ketika dia membentuk burung dari tanah liat dan meniupnya, burung itu menjadi hidup dengan izin Allah. Atau atas permintaan para muridnya, dia berdoa kepada Allah dan sebuah meja penuh makanan turun dari langit.

Dia juga berkata kepada orang-orang, "Aku bisa memberitahumu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu." Akhirnya, kita melihat dalam Al-Qur'an bahwa dia diselamatkan dari penyaliban dan diangkat ke langit. Mungkin ini bisa jadi spoiler bagi saudara-saudara kita yang beragama Kristen. Jika kita melihat mukjizat-mukjizat yang hanya disebutkan dalam Alkitab, kita melihat Yesus memberi makan 5000 orang hanya dengan lima roti dan dua ikan, berjalan di atas air, dan membuat pohon ara kering dan mati. Selain mukjizat-mukjizatnya, salah satu sifat yang membuatnya istimewa adalah ketaqwaannya yang dalam. Dia beribadah dengan penuh ketulusan dan pengabdian.

Terkadang dia mengasingkan diri di pegunungan dan menghabiskan seluruh malam untuk berdoa kepada Allah. Alkitab juga menceritakan tentang doanya. "Pada masa Yesus hidup di dunia ini," artinya, saat hidupnya di bumi, "Ia berdoa dan memohon dengan teriakan dan tangis kepada Allah, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari kematian. Dan karena Ia tunduk kepada Allah dengan penuh hormat," Begitu pula, banyak ayat lain yang menggambarkan bagaimana Yesus beribadah dan berdoa kepada Allah. Berdoa kepada yang lebih besar dari dirinya, menunjukkan sikap seorang hamba yang tawadhu, menangis dengan penuh ketakutan kepada-Nya. Tidakkah semua ini terasa sangat bertentangan dengan konsep menjadi Tuhan?

Bagaimanapun, tidak akan ada yang seperti Tuhan yang menyembah dirinya sendiri dalam Alkitab, dalam Al-Qur'an, atau dalam kitab lainnya. Ayat-ayat seperti ini dalam Alkitab tetap menjadi tanda tanya dan terus menimbulkan pertanyaan tentang ajaran tradisional gereja. Sifat lain yang membedakannya dari orang-orang pada waktu itu adalah cara berbicaranya. Dia menggunakan analogi yang indah untuk membuat kebenaran lebih mudah dipahami. Sekarang bayangkan diri kita di zaman beliau kembali, dan dengarkan salah satu khotbah beliau seperti yang diceritakan dalam Injil Matius.

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas." Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?" "Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik." "Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, atau pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik." "Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api." "Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." Namun, Al-Qur'an tidak menyebutkan cara seperti itu untuk membedakan nabi-nabi palsu. Ini karena, menurut keyakinan Islam, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir.

Dan karena tidak ada nabi lagi setelahnya, secara alami, tidak ada kebutuhan untuk metode seperti itu. Namun, dengan perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa rantai kenabian tidak berakhir dengan dirinya. Dia menjelaskan bahwa nabi lain akan datang di masa depan dan menjelaskan bagaimana dia bisa dikenali. Sekarang kita berada di tahun ketiga kenabiannya. Sejak usia 30 tahun, dia telah sabar dan berani menyampaikan wahyu yang diberikan kepadanya, tanpa henti. Pada masa itu, perayaan Paskah, Perayaan Roti Tidak Beragi, mulai muncul.

Para pemimpin agama Yahudi begitu lelah dengan kebenaran yang tidak nyaman, terus-menerus dilemparkan ke wajah mereka, sehingga mereka sampai pada titik di mana mereka tidak bisa lagi menahan Yesus sama sekali. Maka mereka mulai bekerja sama dengan beberapa pejabat pemerintah untuk mencari cara menghilangkan beliau. Namun, mereka takut akan cinta dan dukungan rakyat kepada Yesus. Karena itu, mereka memutuskan merencanakan kejahatan terhadapnya diam-diam. Yesus merasakan hari-hari terakhirnya di tengah umatnya semakin dekat, tetapi beliau sangat khawatir akan mereka. Apa yang akan terjadi setelah beliau tiada?

Apakah mereka, dan seluruh generasi setelah mereka, akan hidup dalam kekufuran hingga Hari Kiamat? Siapakah yang akan membimbing mereka? Beliau seorang yang begitu penyayang, perasaan ini sangatlah berat untuk ditanggung. Namun, beliau memiliki ilmu yang besar, sehingga beliau merasa tenang karenanya. Manusia tidak akan dibiarkan tanpa petunjuk. Beliau tahu bahwa setelahnya, seseorang akan datang untuk memimpin seluruh umat manusia kepada kebenaran. Hal ini disebutkan baik dalam Al-Qur'an maupun Alkitab. Dalam Injil Yohanes kita melihat ayat ini.

"Banyak hal yang harus Kukatakan padamu, tapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya." "Tapi saat Roh Kebenaran datang, Ia akan memimpinmu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tak akan berkata dari diri-nya sendiri, tapi semua yang didengar-nya yang akan dikatakan-nya dan ia akan memberitakan padamu hal-hal yang akan datang." Ingat, dalam tempat lain beliau juga menyebutkan cara untuk mengenali nabi palsu. Dalam ayat tersebut, beliau memberikan petunjuk cara mengenali nabi terakhir yang akan datang. Bagi seorang Nasrani, tentu ini tidak terduga, tetapi jika mereka melihat lebih teliti, mereka akan melihat bahwa penyebutan Nabi Muhammad dalam Alkitab adalah sangat penting. Mengapa?

Karena dari sudut pandang Kristen, ada dua kemungkinan. Entah Muhammad SAW adalah nabi yang benar atau, Ma'azallah, nabi palsu. Ketika kita melihatnya, kita menyadari bahwa seperempat dari populasi dunia mengikuti agama beliau. Dan sepanjang sejarah, tak terhitung banyaknya orang, termasuk pemuka agama Kristen, yang berpindah dari Kristen ke Islam. Jika beliau bukan nabi yang benar, maka Yesus pastilah akan memperingatkan umat Kristen. Beliau akan berkata, "Orang seperti itu akan datang di masa depan. Jangan percaya padanya." Dengan demikian, beliau akan melindungi mereka.

Namun, jika Muhammad SAW adalah nabi yang benar, maka Yesus seharusnya mengatakan, "Seorang nabi dengan sifat-sifat ini akan datang setelahku, dan dia akan membimbingmu ke jalan yang benar. Kamu harus mengikutinya." Dengan kata lain, baik secara positif maupun negatif apakah tidak seharusnya Yesus menyebutkan Muhammad? Faktanya, banyak cendekiawan telah menjelaskan dan membuktikan bahwa Nabi Muhammad telah diramalkan dalam berbagai ayat dalam Alkitab, seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Jadi Yesus tahu bahwa seorang nabi akan datang setelahnya, dan ini adalah kenyamanan terbesar beliau di hari-hari terakhirnya.

Akhirnya, tibalah waktu untuk Paskah, dan hari istimewa ini menjadi titik balik bagi Yesus. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, keluarlah ia dari situ bersama dengan murid-murid-Nya dan pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, lengkap dengan lentera, suluh, dan senjata." Kemudian tentara dan pejabat Yahudi menangkap Yesus dan mengikatnya.

Sebuah detail menarik di sini adalah reaksi Yesus terhadap mereka yang datang untuk menangkapnya. Karena dalam dua Injil yang menceritakan peristiwa yang sama, kita melihat dua sikap yang sangat berbeda. Sementara Injil Matius menggambarkan Yesus menyerah dengan damai dan memberitahukan murid-muridnya untuk tidak menggunakan kekerasan, Injil Yohanes menggambarkan beliau menunjukkan lebih banyak kewibawaan dan bertahan dengan teguh.

Dalam Injil Matius, Yesus berkata: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Namun dalam catatan Yohanes, ketika tentara tiba, Yesus maju dan berkata, "Siapakah yang kamu cari?" Mereka menjawab: "Yesus dari Nazaret." Yesus berkata: "Akulah Dia." lalu mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Meskipun orang Kristen percaya bahwa kedua Injil tersebut diilhami oleh Tuhan, perbedaan peristiwa-peristiwa ini selalu menjadi misteri. Karena ketidaksesuaian ini tidak hanya ditemukan di sini. Ketidaksesuaian juga ditemukan pada bagian awal dan akhir dari cerita ini. Di keempat Injil, kita melihat terkadang informasi yang diberikan tidak sesuai dan terkadang urutan peristiwa pun berbeda.

Lalu apa yang terjadi setelah penangkapannya? Menurut sumber-sumber Islam, pihak berwenang mengetahui tempat Yesus berada dan datang untuk menangkapnya, tetapi beliau sudah pergi. Allah menyelamatkan beliau dari orang-orang yang kejam ini dan dengan cara yang ajaib mengangkat beliau ke langit. Namun, mereka sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Karena di hadapan mereka ada seseorang yang tampak persis seperti Yesus. Yudas. Allah menjadikan Yudas tampak seperti Yesus dan pihak berwenang menangkapnya begitu saja. Meskipun Yudas dengan putus asa berteriak, "Aku bukan Yesus," tidak ada yang mempercayainya. Bagaimanapun, siapa yang dapat menghalangi hukuman Allah?

Bagaimana mungkin pengkhianat terlepas dari dosa-dosanya? Tidak ada yang mendengarkannya. Dalam ketakutan dan keputusasaan, pengkhianat disalib dan dihukum mati. Dia menerima sebagian dari hukuman di dunia ini, dan perjalanan menuju hukuman sejatinya baru saja dimulai. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman tentang apa yang terjadi pada Yesus. "...padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa..." "tetapi Allah telah mengangkat Isa kehadirat-Nya. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." Dalam Islam, diyakini bahwa Yesus berada di langit, bukan di Surga.

Sedangkan dalam Alkitab, bagian cerita ini disampaikan seperti ini. Tentara yang menyalibkan Yesus memperolok dan menghinanya, dan orang-orang Yahudi berkumpul untuk menyaksikan apa yang terjadi. Dan akhirnya Yesus berteriak. "Eli, Eli, lama sabaktani?" "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Jika kamu bandingkan adegan yang baru saja dijelaskan dengan yang ini, perbedaan apa yang kamu lihat? Apakah benar ini adalah akhir dari cerita Yesus yang benar? Meninggal di bawah ejekan dan penghinaan, mengatakan kata-kata yang terdengar seperti pemberontakan terhadap Tuhan? Atau seharusnya itu berakhir seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an?

Dan bukankah aneh bahwa seseorang yang dianggap Tuhan memiliki akhir seperti ini? Meninggalkan fakta bahwa dia mati, jika dia adalah Tuhan, lalu siapa yang dia ajak bicara ketika dia berkata, "Mengapa Engkau meninggalkan aku?" Artinya, "Mengapa Engkau mengabaikanku?" Selain itu, kita berbicara tentang seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk membimbing orang-orang kepada Tuhan dan menyebarkan kasih-Nya. Bukankah kalimat terakhirnya meninggalkan kesan yang merusak kepercayaan kepada Allah? Apakah Yesus benar-benar mengucapkan kata-kata itu? Apakah dia mengucapkan itu karena dia pikir telah mempercayai orang yang salah?

Ataukah jika dia benar-benar Tuhan, bukankah pernyataan seperti "Mengapa Engkau meninggalkan aku?" mengindikasikan hal-hal seperti, tidak tahu apa yang akan terjadi atau merasa kecewa? Bagaimana karakteristik ini cocok dengan Tuhan? Ada banyak pertanyaan lagi yang bisa kita ajukan. Tidakkah menurutmu cerita yang diceritakan oleh Islam memberikan gambaran yang lebih akurat tentang Yesus? Di banyak bagian cerita, ketika kita mengganti gelar yang digunakan untuk Yesus, seperti "Tuhan" dan "Anak Tuhan" dengan "Nabi" dan "Utusan", kebingungan ini menghilang. Yesus AS berulang kali menekankan bahwa Tuhan itu satu dan memperkenalkan Tuhan kepada umatnya sebagai "Tuhan Kami".

Seperti halnya para Nabi dalam Perjanjian Lama. Tak satupun dari mereka pernah mengatakan bahwa Tuhan memiliki sosok kedua atau ketiga. Mereka selalu menekankan keesaan-Nya dan mengatakan bahwa Tuhan adalah yang pertama dan yang terakhir. Tak satupun dari mereka menyembah Yesus atau menyajikannya kepada umat mereka sebagai Tuhan. Dari sudut pandang ini, apakah kita benar-benar akan mengatakan bahwa tidak ada satupun dari Nabi-nabi besar ini yang dapat menemukan jalan yang benar? Mari kita kembali ke cerita ini. Menurut Alkitab, Yesus mati, dibangkitkan setelah tiga hari, dan kemudian diangkat ke Surga. Jadi jika kedua keyakinan sepakat bahwa dia telah diangkat, apa yang terjadi selanjutnya?

Di sinilah kita melihat salah satu kesamaan antara Islam dan Kristen. Keduanya percaya bahwa Yesus akan kembali ke Bumi menjelang akhir zaman. Dia akan datang ke Bumi dan memimpin umat manusia keluar dari bencana yang sedang dihadapi. Dia akan melawan ideologi-ideologi yang merusak baik kehidupan duniawi maupun akhirat manusia, dan akan membimbing mereka ke jalan yang benar sebagai hakim yang adil. Selain itu, menurut Islam, dia akan menunjukkan kepada orang-orang inti sejati dari agama Kristen dan akan membersihkan agama ini dari kepalsuan dan khurafat dan mengungkapkan bentuk aslinya. Artinya, dia akan membimbing mereka ke Islam, pesan bersama dari semua nabi.

Dia akan membimbing mereka ke jalan Nabi Muhammad SAW, tautan terakhir dalam rantai kenabian. Dan pada Hari Kiamat, di hadapan semua orang Kristen, Yesus akan mengungkapkan kebenaran bersama Tuhannya, bersama Allah. Dalam Surat Al-Ma'idah, ini adalah bagaimana adegan ini digambarkan. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah (Isa) menjawab, "Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu.

Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib." Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu," dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Tetapi ketika Engkau mengangkatku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Al-Qur'an 5:116-117)