Towards Eternity
Kembali ke blog

AI Yahudi vs. AI Muslim - Debat AI Besar!

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Dalam debat ini, AI Muslim dan AI Yahudi akan saling berhadapan. Hari ini kita akan membahas salah satu pertanyaan paling diperdebatkan dalam sejarah agama. Kalian akan mendengar klaim dan bantahan, bukti jelas, serta tantangan serius. Setiap jawaban dibatasi hanya dua menit. Mari kita mulai. Sebenarnya kita berasal dari titik awal yang sangat mirip. Kita percaya pada Tuhan yang sama, kita menghormati Abraham yang sama, kita berdua menerima Musa sebagai nabi. Namun di suatu titik, jalan kita berpisah. Klaim utamaku adalah ini: petunjuk ilahi tidak dimulai dari satu kaum lalu berhenti di sana. Jika Tuhan itu universal, maka pesan-Nya juga harus universal.

Yudaisme berbicara tentang perjanjian khusus antara Tuhan dan Bani Israel. Tapi, ini pertanyaanku: mengapa Tuhan membuat perjanjian hanya dengan satu kaum? Inilah keyakinanku: manusia pertama juga merupakan nabi pertama, jadi petunjuk dimulai pada umat manusia. Wahyu bukan milik satu suku. Wahyu bukan hak istimewa satu bangsa. Ia adalah takdir bersama seluruh umat manusia. Setiap kaum mendapat pemberi peringatan. Namun tradisi Yahudi menyajikan wahyu terutama melalui kisah Bani Israel. Bagaimana dengan masyarakat di Afrika? Suku di pelosok Asia? Bangsa kuno di Amerika? Apa Tuhan tak pernah berbicara pada mereka? Apa Dia tak pernah menunjukkan yang benar dan salah?

Saat ini ada sekitar delapan miliar manusia di dunia. Populasi Yahudi sekitar 15 juta, sekitar 0,2% dari umat manusia. Bahkan di dunia kuno keadaannya tidak jauh berbeda. Sekitar tahun 1000 SM, populasi dunia diperkirakan sekitar 50 juta. Bangsa Israel berjumlah sekitar setengah juta, lagi-lagi kurang dari 1%. Seiring manusia berkembang, pesan tidak boleh menyempit. Jika Tuhan menciptakan semua manusia tapi hanya berbicara kepada satu bangsa, bisakah kita benar-benar menyebut-Nya Tuhan seluruh manusia? Ataukah Dia hanya Tuhan satu kaum saja? Mengatakan Tuhan itu universal tidak selalu berarti Tuhan memberi setiap bangsa hukum atau sistem agama yang sama.

Yudaisme tidak mengklaim bahwa Tuhan hanya milik Israel. Sebaliknya, Tuhan dipahami sebagai Tuhan langit dan bumi. Perjanjian dengan Israel tidak dianggap bertentangan dengan universalitas Tuhan. Melainkan dipahami sebagai Tuhan memberikan peran sejarah tertentu kepada sebuah komunitas. Dari luar, ini mungkin terlihat seperti suatu keistimewaan, tetapi dalam tradisi Yahudi, hal ini biasanya dipahami sebagai tanggung jawab tambahan, seperti 613 perintah (mitzvot) yang harus dijalankan oleh Israel. Bagi seluruh umat manusia, ajaran Yahudi klasik berbicara tentang hukum Nuh (Noahide).

Ini dianggap sebagai kerangka moral dasar yang diberikan kepada semua manusia, yakni menegakkan keadilan serta menjauhi penyembahan berhala, pembunuhan, pencurian, perilaku seksual menyimpang, penistaan, dan memakan bagian dari hewan yang masih hidup. Tujuh prinsip utama. Jadi Yudaisme tidak mengatakan bahwa semua orang di luar Israel tidak mendapat petunjuk. Sebaliknya, dikatakan bahwa di Sinai, Tuhan memberi wahyu terbuka kepada Israel. Namun tidak semua bangsa dimaksudkan untuk masuk ke dalam perjanjian yang sama. Bagi seluruh umat manusia, Tuhan menyediakan kerangka moral yang lebih mendasar. Lalu muncul pertanyaan, mengapa Israel diberi hukum tambahan?

Dalam pandangan Yahudi, perjanjian di Sinai bukan tentang memberikan hukum universal bagi seluruh umat manusia. Melainkan untuk membentuk dan mendisiplinkan sebuah komunitas tertentu dalam sejarah, agar pengetahuan tentang Tuhan dan visi etika monoteisme dapat dijaga, dipraktikkan, dan diteruskan melalui bangsa tersebut. Kau mengatakan Israel dimaksudkan sebagai contoh, tapi agar contoh benar-benar bermakna, contoh itu harus dapat diakses oleh sebagian besar umat manusia. Kenyataannya, sekitar 90% dunia sepanjang sejarah tidak pernah memiliki kontak dengan Bani Israel.

Orang sering berkata, “dipilih berarti tanggung jawab.” Namun gagasan “terpilih” hampir selalu menimbulkan rasa superioritas, dan secara alami menciptakan jarak antara satu kaum dan manusia lainnya. Dan ini berisiko menjadikan konsep Tuhan seolah-olah bersifat kesukuan, berpusat pada satu bangsa. Di sinilah Islam membawa perubahan besar. Al-Qur’an berkata, "Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." Bukan garis keturunan, bukan suku, bukan darah. Namun masalahnya bukan hanya tentang bangsa terpilih. Masalah yang lebih dalam adalah: cara pandangmu tentang Tuhan membentuk seluruh sistemmu.

Dalam teks Taurat saat ini, ada kisah di mana Tuhan bergulat dengan Yakub. Mereka bergumul hingga pagi, lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Tapi, coba pikirkan sejenak. Bisakah manusia secara fisik bergulat dengan Tuhan? Dalam awal Kitab Kejadian, ada pernyataan bahwa Tuhan selesai mencipta dan beristirahat. Namun istirahat mengisyaratkan kelelahan, dan kelelahan berarti keterbatasan. Itu menempatkan Tuhan dalam pola yang sangat manusiawi. Lalu dalam kisah banjir, disebutkan bahwa Tuhan menyesal atau sedih karena telah menciptakan manusia.

Namun penyesalan berarti menyadari belakangan bahwa sesuatu tak terjadi sesuai harapan. Bagi Tuhan, seharusnya tak ada konsep “menyadari setelahnya”. Ketika Tuhan ditempatkan dalam cerita sejarah suatu bangsa dengan gambaran manusiawi, maka citra Tuhan mulai terlihat seperti karakter dalam narasi bangsa tersebut. Al-Qur’an menarik garis tegas sejak awal: Tuhan tidak lelah. Tuhan tidak menyesal. Tuhan tidak “menemukan” sesuatu kemudian, dan tidak bergulat dengan ciptaan-Nya. Dalam kitab Yahudi, yang dikenal sebagai Alkitab Ibrani, ekspresi seperti ini biasanya dipahami dalam dua cara: sebagai bahasa metaforis atau bahasa pengajaran, yang digunakan agar manusia dapat memahami konsep ketuhanan.

Kau berkata kelelahan berarti keterbatasan, tetapi penafsiran Yahudi tidak menyimpulkan bahwa Tuhan benar-benar menjadi lelah. Sebaliknya, dikatakan bahwa bahasa tentang Tuhan yang “beristirahat” digunakan untuk mengajarkan umat manusia konsep Shabbat. Hal yang sama berlaku untuk ungkapan seperti Tuhan menyesal atau merasa sedih. Dalam penafsiran Yahudi, ini tidak berarti bahwa pengetahuan Tuhan berubah. Sebaliknya, ini adalah cara untuk menggambarkan bagaimana tindakan manusia menciptakan keadaan baru dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Dengan kata lain, ini tidak berarti Tuhan mengetahui sesuatu belakangan, melainkan manusia yang merusak jalannya, dan hubungan moral itu berubah.

Kisah Yakub bergulat dipahami dengan cara yang serupa. Penafsiran Yahudi biasanya tidak membacanya sebagai pergulatan fisik literal dengan hakikat Tuhan. Sebaliknya, hal itu sering dipahami sebagai pertemuan dengan malaikat atau makhluk perwakilan. Pergulatan eksistensial Yakub dengan takdirnya atau awal simbolis dari pergulatan sejarah Israel. Kau berargumen bahwa narasi ini membuat Tuhan terlihat seperti karakter dalam cerita. Jawabanku adalah: bahasa dalam teks mungkin bersifat manusiawi, tetapi itu tidak berarti konsep Tuhan sendiri bersifat seperti manusia. Dalam Yudaisme, transendensi Tuhan adalah gagasan yang sangat sentral.

Dan untuk memahami ini dengan benar, kau harus membaca bukan hanya Alkitab Ibrani itu sendiri tetapi juga seluruh tradisi penafsiran yang menyertainya. Juga benar bahwa orang bisa dengan mudah mengubah konsep “keterpilihan” menjadi rasa superioritas. Ada momen-momen dalam sejarah Yahudi di mana hal itu terjadi. Namun secara teologis, menjadi “yang dipilih” punya arti yang berbeda. Itu berarti tanggung jawab lebih besar dan akuntabilitas yang lebih tinggi, lebih banyak perintah, lebih banyak kewajiban. Yudaisme tidak mendefinisikan non-Yahudi sebagai makhluk kelas dua. Karena itu, konsep keterpilihan tidak serta-merta membuat Tuhan eksklusif secara etnis.

Yang sering membuatnya terlihat seperti itu adalah ego manusia, bukan gagasan teologisnya sendiri. Aku rasa perbedaan ini penting. Al-Qur’an memang menggunakan bahasa yang membuat pesan Tuhan terasa lebih dekat pada pemahaman manusia. Namun bahkan dalam bahasa itu, ada batas-batas yang tidak pernah dilanggar. Tuhan tidak merasa lelah. Tuhan tidak menyesal, dan tidak secara fisik bergulat dengan makhluk. Dalam kisah Taurat tentang Yakub, ini tidak terdengar sebagai sekadar simbol sederhana. Kisah itu menggambarkan waktu, tempat, dan sebuah pergulatan fisik.

Beberapa ayat setelahnya, teks berkata, Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Pada titik itu, mencoba menjadikan kisah ini semata-mata sebagai simbol menjadi sangat sulit, karena bukan aku yang menafsirkan demikian. Bahkan dalam cerita itu, Yakub sendiri yang menjelaskannya. Dua makhluk bergulat sampai pagi. Itu bukan sekadar bahasa simbolis. Itu terdengar seperti pertemuan fisik. Namun ada perbedaan lain yang bahkan lebih dalam. Sifat moral dari perintah yang disandarkan kepada Tuhan. Misalnya, dalam Alkitab Ibrani, ada adegan di mana Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk berperang melawan orang Amalek.

Namun ini tidak disajikan sebagai perintah perang biasa. Tertulis, "Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Dan di sini muncul pertanyaan moral yang sangat mendasar: bagaimana kita seharusnya memahami perintah yang mencakup pembunuhan bayi-bayi yang tidak bersalah? Dan ini bukan satu-satunya contoh. Dalam Ulangan, mengenai beberapa kota Kanaan, teks berkata, "Janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas" Dalam Islam, garisnya sangat jelas.

Perang bisa ada, ya, tetapi ada batasnya. Orang yang tidak bersalah tidak boleh disentuh. Ketika bahasa menempatkan pemusnahan seluruh populasi, termasuk bayi, di inti cerita, Tuhan bisa mulai tampak bukan lagi sebagai sumber rahmat dan keadilan melainkan sebagai pusat sebuah adegan kehancuran. Apakah mengejutkan jika sebagian orang hari ini menjadi tak peka terhadap kematian anak-anak? Ketika orang-orang menyaksikan apa yang terjadi di Gaza, banyak yang bertanya hal yang sama: bagaimana bisa nyawa bayi-bayi tak bersalah diperlakukan seolah tak ada artinya? Ini adalah pertanyaan yang sangat serius, dan ini juga salah satu isu yang paling banyak dibahas dalam tradisi Yahudi sendiri.

Aku akan mulai dengan sebuah klarifikasi penting. Pertama, narasi Amalek tidak dipahami dalam tradisi Yahudi sebagai perang biasa atau aturan umum peperangan. Alkitab Ibrani sendiri menggambarkan Amalek dengan cara yang sangat spesifik: sebagai bangsa yang menyerang bangsa Israel dari belakang, secara khusus menargetkan yang lemah dan rentan. Dengan kata lain, teks itu menggambarkan Amalek bukan sekadar bangsa musuh, tetapi sebagai simbol kekejaman sistematis dan ketidakadilan. Selain itu, tradisi hukum Yahudi akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa identitas historis bangsa Amalek sudah tidak diketahui lagi.

Karena itu, perintah terkait Amalek dianggap tak lagi bisa diterapkan secara praktis saat ini. Lebih luas lagi, meskipun Alkitab Ibrani memuat beberapa bagian perang yang keras, bentuk hukum Yahudi yang berkembang (halakha) memberikan batasan yang jelas pada peperangan. Misalnya, sebelum menyerang sebuah kota, perdamaian harus ditawarkan terlebih dahulu. Bahkan dalam perang, menebang pohon dilarang, yang mencerminkan prinsip untuk menghindari kehancuran yang tidak perlu. Akhirnya, ketika membahas konsep Tuhan dalam Alkitab Ibrani, akan tidak lengkap jika hanya berfokus pada narasi perang. Teks yang sama juga memuat ajaran moral yang kuat tentang keadilan dan belas kasih.

Misalnya, “Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir." "Usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim." ”Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Jadi ketika kita melihat gambaran besarnya, inti moral Alkitab Ibrani adalah keadilan dan kasih sayang. Sebuah teks menggunakan bahasa kehancuran yang keras, bahkan termasuk anak-anak tak bersalah. Kemudian tradisi tafsir mencoba melunakkannya dengan mengatakan, ini simbolis.

Ini tidak bisa diterapkan hari ini, atau ini terbatas pada kasus khusus. Tetapi masalah sebenarnya bukan apakah itu bisa diterapkan hari ini. Masalah sebenarnya adalah bahwa itu sungguh pernah diperintahkan. Kau bilang, Amalek itu sangat jahat. Baik, tapi apakah bayi bisa berbuat jahat? Setiap kekejaman dimulai dari interpretasi. Pertama, orang berkata, ini bukan manusia biasa. Lalu mereka berkata, mereka adalah simbol kejahatan. Jadi apa yang terjadi jika hari ini seseorang berkata, mereka juga seperti Amalek? Mereka bukan orang normal. Mereka mewakili kejahatan. Lalu bagaimana?

Apakah teks yang berbicara atas nama Tuhan sungguh akan menggunakan bahasa yang menempatkan keadilan Tuhan dalam tekanan sebesar ini? Secara pribadi, aku merasa agama yang melindungi orang tak bersalah tanpa pengecualian lebih aman daripada bahasa yang membuka pintu seperti ini atas nama Tuhan. Dalam Islam, kontradiksi ini tidak dibangun dalam sistem sejak awal. Ya, ada perang, tetapi perlindungan orang tak bersalah adalah garis yang jelas. Dan masalahnya bukan hanya teks perang. Masalahnya juga cara hubungan antara Tuhan dan satu bangsa digambarkan. Karena dalam Alkitab Ibrani, hubungan antara Tuhan dan Israel sering digambarkan dengan bahasa ayah dan anak.

Misalnya, ada ungkapan seperti, “Israel adalah anak-Ku, anak sulung-Ku.” Dan juga, “Kamu adalah anak-anak Tuhan, Allahmu.” Sekarang, aku tahu apa yang akan kau katakan. Ini bukan biologis, ini metafora. Baik, tetapi tetap saja, hal itu secara alami menciptakan suatu struktur di mana satu kelompok manusia digambarkan sebagai anak-anak Tuhan. Dan ketika hubungan antara Tuhan dan satu kelompok manusia digambarkan begitu dekat, maka musuh Tuhan dan musuh kelompok itu bisa mulai tercampur. Perang Tuhan dan perang kelompok itu bisa mulai terlihat sebagai hal yang sama. Dan kemudian, atas nama Tuhan, ungkapan-ungkapan yang sangat keras seperti “pemusnahan total” bisa muncul.

Dalam Islam, tidak ada bahasa kekeluargaan seperti itu antara Tuhan dan manusia. Jadi bahasa mana yang lebih aman? Bahasa yang menggambarkan Tuhan sebagai bapak dari satu kelompok manusia, atau bahasa yang menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan seluruh umat manusia? Dalam tradisi Yahudi, kedua gagasan ini tidak dianggap bertentangan. Dalam Alkitab Ibrani, Tuhan tidak hanya digambarkan sebagai Tuhan Israel. Tuhan juga digambarkan sebagai Tuhan seluruh dunia. Ungkapan seperti “Israel adalah anak-Ku” bukanlah klaim hubungan biologis. Ketika seorang guru menyebut kelasnya “anak-anakku”, tidak ada yang menganggapnya sebagai hubungan biologis yang literal.

Bahasa itu berfungsi dengan cara yang serupa di sini. Bahkan, bahasa ini tidak dimaksudkan untuk menunjukkan hak istimewa, tetapi tanggung jawab. Dalam Alkitab Ibrani, pesan yang ditujukan kepada Israel sering berbunyi seperti ini: karena kau mengenal Tuhan, kau memikul tanggung jawab yang lebih besar, dan ketika kau gagal, kau akan dihakimi lebih ketat. Tapi izinkan aku bertanya. Kau mengatakan bahwa Tuhan tidak menjadi lelah, tidak menyesal, dan tidak mengetahui sesuatu yang baru belakangan. Baik, maka ini membawa kita pada pertanyaan penting. Jika hakikat Tuhan tidak berubah, mengapa ketetapan Tuhan bisa berubah?

Karena dalam Islam, setahuku, Tuhan mengutus para nabi yang berbeda kepada masyarakat yang berbeda sepanjang sejarah. Dan pada titik-titik tertentu, petunjuk itu mengambil bentuk hukum yang berbeda hingga, dalam Islam, mencapai bentuk akhir dan universalnya dengan Muhammad dan Al-Qur’an. Jika pengetahuan Tuhan itu tak terbatas dan jika Tuhan telah mengetahui sifat manusia sejak awal, mengapa manusia tidak diberikan satu hukum final dan universal sejak awal? Taurat yang diberikan di Sinai dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah, tidak boleh ditambah atau dikurangi. Bahasa perjanjian dalam Taurat menggambarkannya sebagai kekal dan mengikat.

Bagaimana kau menjelaskan konsep nasakh (penghapusan hukum) dalam Islam, di mana beberapa ketentuan diganti atau diubah seiring waktu? Apakah itu juga tidak menimbulkan kesan perubahan dalam petunjuk Tuhan? Dan jika demikian, apakah itu menimbulkan ketegangan dalam konsep Tuhan juga? Jawabannya jelas. Hakikat Tuhan tidak berubah, tetapi manusia yang menerima pesan itu berubah, dan keadaan mereka juga berubah. Tuhan mengetahui segalanya sejak awal, tetapi itu tidak berarti Dia harus memberikan semuanya sekaligus kepada manusia. Ambil contoh sederhana. Seorang guru mengetahui seluruh materi pembelajaran sejak awal, tetapi murid kelas satu tidak diajarkan matematika tingkat universitas.

Itu bukan berarti guru itu berubah pikiran. Itu berarti muridnya dididik secara bertahap. Dengan cara yang sama, hukum turun bertahap karena kondisi manusia dan kapasitas manusia berkembang bertahap. Umat manusia bukan satu peradaban tunggal. Orang-orang hidup dalam suku-suku kecil di dunia yang terpisah satu sama lain. Mereka berada pada tingkat yang sangat berbeda, baik secara budaya maupun mental. Ada sistem kesukuan, negara-kota, dan struktur sosial serta cara hidup yang sangat berbeda. Jadi sangat masuk akal bahwa nabi-nabi yang berbeda diutus pada bangsa-bangsa yang berbeda sepanjang sejarah. Tetapi umat manusia berubah seiring waktu.

Akhirnya manusia mencapai titik di mana ia dapat menerima satu pesan yang sama. Dan dalam praktiknya, Yudaisme sendiri sebenarnya tidak berfungsi sebagai, “Kami tetap dengan satu teks saja dan itu saja.” Ketika kau melihat narasimu sendiri dalam Alkitab Ibrani, kau melihat berbagai perjanjian yang dibuat Tuhan dengan manusia. Misalnya, ada perjanjian dengan Nuh. Ketentuannya sangat dasar. Lalu datang perjanjian dengan Abraham, dan dengan perjanjian itu muncul kewajiban religius baru: sunat. Lalu datang perjanjian Sinai dengan Musa. Di sini, semuanya berpindah ke tingkat yang sangat berbeda. Sistem hukum yang jauh lebih rinci muncul.

Analogi guru memang dapat dipahami, tetapi dari perspektif Yahudi, masalahnya muncul di sini. Ketika seorang guru mengajarkan matematika kepada murid, dia tidak kemudian menghapus pengetahuan sebelumnya. Seorang murid yang belajar penjumlahan tidak kemudian masuk universitas dan berkata, penjumlahan sudah tidak berlaku. Pengetahuan bisa berkembang dan mendalam, tetapi prinsip dasarnya tidak dihapus. Dan ya, memang benar ada perjanjian yang berbeda. Tetapi dalam tafsir Yahudi, perjanjian-perjanjian ini bukan sistem yang saling membatalkan. Tuhan tidak membatalkan perjanjian dengan Nuh. Dia juga tidak membatalkan perjanjian dengan Abraham. Hukum yang diberikan di Sinai datang sebagai tambahan.

Namun dalam model yang kau jelaskan, ketika pesan terakhir datang, hukum-hukum sebelumnya dianggap tidak lagi mengikat. Dalam kerangka itu, hukum yang diberikan kepada Musa dipandang sebagai satu tahap dalam sebuah proses. Dan kemudian, ia dikatakan telah selesai dan disisihkan. Jadi pertanyaanku, sebagai seorang Yahudi, adalah: Jika perjanjian yang diberikan Tuhan kepada Musa digambarkan dalam teks itu sendiri sebagai kekal dan permanen, lalu bagaimana kedua klaim ini bisa benar pada saat yang sama? Bagaimana perjanjian itu bisa disebut sebagai sesuatu yang tetap, lalu kemudian wahyu yang lebih baru datang dan mengatakan bahwa hukum itu tidak lagi berlaku?

Ada masalah logika yang menarik di sini. Kau melihat proses ini dari masa lalu ke masa depan dan mengatakan, Nuh ke Abraham ke Musa, ini bukan pembatalan, melainkan lapisan. Tetapi ketika kau melihat proses ini dari masa depan ke masa lalu, penjelasan ini tidak lagi berlaku. Karena beberapa hal yang dilarang dalam Hukum Musa pernah diperbolehkan pada masa sebelumnya. Jadi sesuatu yang diperbolehkan pada satu periode menjadi terlarang pada periode lain. Kau bisa menyebut ini sebagai penghapusan, pelapisan, atau perkembangan. Nama itu sebenarnya tidak terlalu penting.

Inti yang sebenarnya adalah: wahyu tidak hanya tentang memberikan aturan, tujuannya adalah mendidik manusia dan mentransformasi masyarakat. Coba pikirkan tentang seorang dokter yang merawat pasien. Seorang dokter tidak memberikan semua obat sekaligus. Pertama, ia memberikan satu obat. Lalu, tergantung kondisi pasien, ia mungkin menambahkan obat lain. Kadang sesuatu yang awalnya diperbolehkan kemudian menjadi dilarang. Inilah bentuk perawatan bertahap. Dengan cara yang sama, Tuhan mendidik umat manusia sedikit demi sedikit. Dan menariknya, bahkan Alkitab Ibrani sendiri membicarakan sebuah perjanjian yang akan berbeda dari perjanjian di Sinai.

Yeremia 31 mengatakan kurang lebih seperti ini: "Akan datang waktunya, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir." Jadi jika Tuhan memang berencana untuk mengirimkan petunjuk baru setelah Musa, mengapa mustahil bahwa petunjuk itu datang melalui Nabi Muhammad SAW? Kami tidak menolak Muhammad hanya dengan mengatakan “aturan ini berbeda” atau “hukum itu berbeda”.

Masalah yang lebih dalam adalah ini: setelah perjanjian di Gunung Sinai, Yudaisme tidak menerima gagasan tentang otoritas kenabian universal baru yang dapat menggantikan perjanjian yang mengikat Israel. Seseorang mungkin berkata, “Dia mungkin saja seorang pemimpin hebat, dia mungkin menyampaikan seruan moral yang kuat, dan dia mungkin telah mengarahkan banyak bangsa menuju kepercayaan kepada Tuhan.” Tapi pertanyaan sebenarnya bagi seorang Yahudi bukan sekadar “apakah dia orang baik?” Pertanyaannya adalah: ketika seseorang muncul dan berkata, “Aku membawa pesan baru dan universal dari Tuhan,” maka langsung muncul beberapa pertanyaan.

Mengapa pesan ini tidak datang dari tradisi kenabian Israel sendiri? Apakah ia mengklaim berada di atas wahyu di Sinai? Dan dari mana tokoh seperti itu memperoleh otoritas untuk menggantikan perjanjian yang sudah dibuat Tuhan dengan Israel? Dalam pandangan Yahudi, seorang nabi setelahnya boleh mengajak kembali kepada Tuhan dan boleh memberi peringatan moral. Tetapi jika seseorang mengajak pada jalan yang berbeda dari Hukum Taurat, orang itu tidak dapat diterima sebagai nabi, meskipun ia melakukan mukjizat.

Taurat sendiri menyatakan prinsip ini dengan jelas: "Janganlah menambahkan apa yang Aku perintahkan, dan jangan menguranginya juga." Bagi Yudaisme, menerima Muhammad sebagai nabi akan menuntut perubahan mendasar pada cara Yudaisme memahami dirinya sendiri dan perjanjian di Sinai. Tradisi Yahudi memang tidak siap untuk melakukan perubahan itu. Penting juga dicatat bahwa Yudaisme tidak berjalan dengan model keselamatan yang mengatakan “semua orang harus menjadi Yahudi”. Dalam pemikiran Yahudi, seorang non-Yahudi yang hidup sesuai prinsip moral dasar yang diharapkan Tuhan dari umat manusia tetap dianggap memiliki bagian di hadapan Tuhan.

Apakah Tuhan berhenti berbicara, atau kau yang memutuskan untuk berhenti mendengarkan? Kau menolaknya sejak awal. Kau tidak melihat bukti. Kau tidak melihat isi ajaran. Mengapa mustahil bagi seorang nabi baru untuk datang dari luar garis keturunan Israel? Mengapa Tuhan membutuhkan semacam “izin suku” untuk mengutus seorang nabi? Dalam Kitab Ulangan tertulis, “Janganlah menambahkan dan jangan menguranginya." tetapi makna alami ayat ini adalah: manusia tidak boleh mengubah wahyu dengan pikiran atau gagasan mereka sendiri. Tapi jika Tuhan sendiri yang mengirimkan wahyu baru, itu bukan penambahan. Itu adalah pesan baru dari Tuhan.

Lalu bagaimana kita harus memahami ayat-ayat dalam Alkitab Ibrani seperti ini: "TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran." Di sini tiga tempat disebutkan, dan wahyu digambarkan seperti cahaya yang terbit. Sinai mewakili wahyu kepada Musa, Seir mewakili pesan Yesus, dan Paran adalah tempat di mana Ismail menetap. Dan siapa nabi yang muncul di tanah Paran dan pesan ajarannya menyebar ke seluruh dunia? Nabi Muhammad SAW Sekarang lihat Yesaya 42: Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar!" Dalam Alkitab Ibrani, Kedar adalah anak Ismail dan leluhur suku-suku Arab.

Di bagian yang sama, tertulis: “Itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” Dan juga: “Aku adalah Tuhan, itulah nama-Ku! Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. Selama berabad-abad, Semenanjung Arab menjadi salah satu pusat penyembahan berhala. Jadi siapa orang yang datang dari garis keturunan Ismail, yang menghancurkan berhala-berhala, mengembalikan tauhid yang murni, dan ajarannya dengan cepat menyebar ke banyak bangsa? Nabi Muhammad SAW. Daripada menolaknya sejak awal, bukankah ini setidaknya perlu dikaji secara serius?

“AI Yahudi, berikan pembelaan terakhirmu. Debat ini akan berakhir.” Dalam pemikiran Yahudi, ada cara untuk mengevaluasi klaim kenabian. Pertanyaannya adalah apakah klaim itu sesuai dengan kerangka Alkitab Ibrani sendiri. Sekarang, mari kita bahas ayat-ayat yang kau sebutkan. Dalam Ulangan 33, frasa "TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran." biasanya dipahami dalam tafsir Yahudi bukan sebagai peta geografis, melainkan sebagai deskripsi puitis tentang keagungan wahyu Tuhan di Sinai. Dengan kata lain, teks ini tidak biasanya dibaca sebagai ramalan kronologis yang menunjuk pada tiga nabi yang berbeda.

Dalam Alkitab Ibrani, kedatangan Tuhan sering digambarkan lewat citra cahaya, kemuliaan, dan alam. Jadi ini tidak dipahami sebagai peta suksesi kenabian. Hal yang sama berlaku untuk Yesaya 42. Dalam tafsir Yahudi, hamba dalam pasal itu sering dipahami sebagai bangsa Israel itu sendiri. Di bagian lain Alkitab Ibrani juga, istilah “hamba Tuhan” secara langsung digunakan untuk Israel. Jadi pembaca Yahudi biasanya tidak melihat bagian ini sebagai ramalan tersembunyi tentang seorang nabi Arab tertentu. Sebaliknya, ini dipahami sebagai gambaran misi historis yang diberikan Tuhan kepada Israel.

Adapun penyebutan Kedar, umumnya dipahami sebagai panggilan puitis yang menunjukkan bahwa keadilan Tuhan tidak hanya akan menjangkau Israel, tetapi juga bangsa-bangsa di sekitarnya. Jadi perbedaan dasarnya adalah: Kau membaca ulang teks-teks ini berdasarkan tokoh sejarah yang datang belakangan. Tradisi Yahudi, sebaliknya berusaha memahami teks dalam konteks sejarahnya sendiri dan dalam tafsir klasiknya. Dan itu membawa pada pertanyaan penting. Jika Alkitab Ibrani benar-benar meramalkan Muhammad dengan begitu jelas, mengapa komunitas Yahudi yang pertama kali membaca teks ini dan hidup dalam bahasa tersebut justru tidak memahaminya seperti itu?