Towards Eternity
Kembali ke blog

“Ditikam Teman & Ditinggal Mati!” – Dari Kriminal Menuju Islam | Kisah Haru Akhi Ayman

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Aku pulang kerja, lalu melihat seorang teman. Namun beberapa menit kemudian, saat aku berjalan pergi, ia menikam punggungku. Dan pisaunya keluar dari perutku. Aku berbalik untuk mencoba melawannya, tapi aku lemah karena kehilangan banyak darah. Saat aku dibawa ke rumah sakit, dia berkata, "Kami mencoba menyelamatkan nyawamu. Tapi kamu tidak tertolong. Kami coba pakai alat kejut jantung. Clear, kamu tetap tak merespons." Lalu dokter melihat jam, dan berkata, "Waktu kematian." Wallahi dia menutupi kepalaku dengan kain. Tepat sebelum dia meninggalkan ruangan, mesinnya berbunyi kembali. Bip, bip, bip. Aku berada di penjara. Aku ingat melihat ibuku datang ke penjara.

Aku bilang pada ibuku, "Ibu takkan melihatku lagi." "Apa maksudmu, Ayman? Aku ibumu. Jangan batalkan kunjunganku!" Aku ingat hari itu, aku mendapat telepon dari saudariku. Dan dia bilang, "Ayman, Ibu sedang tidak sehat!" Aku menerima telepon dari saudaraku. "Ayman, aku hanya akan mengatakan ini sekali..." Beberapa detik kemudian, aku... Aku tak bisa mengendalikan diriku! + Assalamu'alaikum, Akhi Ayman. - Wa'alaikumsalam. + Terima kasih banyak telah hadir bersama kami di Towards Eternity. -Aku menghargainya. Kami sangat senang menyambutmu di sini. Aku ingin memulai dengan bertanya, siapa Akhi Ayman? bisa kau ceritakan secara singkat tentang hidupmu?

- Jadi, aku berasal dari Irak, menjalani hidup yang sulit karena peristiwa 9/11. Setelah itu, terjerumus ke dunia kriminal, masuk penjara, keluar, ditikam, tapi masih ada harapan bagiku. Lalu aku mengubah jalan hidupku, dan kembali kepada Allah. Sekarang, aku hanya ingin memotivasi anak muda agar hidup lebih baik. Aku sangat baik pada orang tuaku. Aku salat lima waktu, itu bukan masalah. Aku menghormati orang tuaku. Orang tuaku mencintaiku, dan semoga masih begitu. Tetapi urusan jalanan, kau harus menghadapinya sendiri. Dan ini jalanan London. Aku dirundung karena tak bisa berbahasa Inggris, diserang karena peristiwa 9/11.

Dan dalam prosesnya, sekitar usia 14 atau 15 tahun, masalah mulai muncul. Dan itu masalah yang serius. Bukan kejahatan kecil. Yang ada hanyalah kekerasan terus-menerus. Seiring waktu berlalu, kami terlibat dalam berbagai situasi, tentu kalian sudah tahu apa yang terjadi pada 11 September. Jadi, aku dan saudara-saudaraku tak pernah menjadi anggota geng. Kami bukan orang yang tampil ke luar sana demi ketenaran atau berusaha mencari nama. Aku berasal dari daerah di mana setiap wilayah, setiap blok, setiap kompleks perumahan memiliki anggota geng yang dikenal, dan kami berada di tengah-tengahnya. Orang lain datang menyerang kami padahal kami tak punya masalah dengan mereka.

Pertarungan demi pertarungan. Setiap hari adalah pertarungan. Kadang kau tak tahu dari mana musuh akan datang. Jadi kami membela diri. Dalam prosesnya, kami mendapat masalah dengan polisi, kami masuk penjara, dan belajar dari kejadian itu. + Bisa bawa kami ke momen saat kamu berkata, "Tunggu dulu, apa yang sedang kulakukan?" ke hari saat hidupmu mulai berubah? - Aku ingat saat berada di penjara sekitar dua tahun, lebih dari dua tahun, sekitar masa itu. Aku ingat melihat ibuku datang ke penjara. Saat itu sekitar setahun aku dipenjara. Jadi aku belum bertemu ibuku. Aku hanya berbicara lewat telepon.

Lalu ibuku datang ke penjara, dan aku ingat melihatnya memakai hijab, abaya (jubah), seperti wanita salihah, wanita yang takut kepada Allah. Aku ingat melihatnya sedang begini, dan dia sedang digeledah. Mereka sedang memeriksanya. Pada saat itu, saat aku melihat ibuku, lalu dia datang menemuiku, aku tak bisa memeluknya, tak bisa menciumnya, karena ada kaca pemisah. Aku bahkan tak bisa mencium aroma ibuku. Dan aku ingat melihat ibuku menangis. Di situlah... di situlah aku berubah, itulah titik balik dalam hidupku saat aku berkata pada diriku, "Saat aku keluar dari penjara, aku akan buat orang tuaku bangga. Aku akan mendapatkan pekerjaan. Aku akan menjadi anak yang baik.

Aku akan membuat orang tuaku bangga. Aku akan mendapatkan pekerjaan, aku akan bekerja, aku akan memberi mereka uang, dan aku akan menekuni studi Islamku secara serius." Aku berkata kepada ibuku, "Jangan datang dan menemuiku lagi. Aku tak sanggup melihatmu seperti ini, datang dan melihatku." Aku masih ingat wajahnya saat berkata, ibuku berkata, "Apa maksudmu, Ayman? Aku ibumu. Jangan batalkan kunjunganku. Aku akan datang, aku akan datang." Aku berkata, "Tidak, Bu." Setiap kali dia akan berkunjung, aku membatalkannya. Lalu setelah Ibu pergi, aku kembali ke ruanganku, selku, dan mulai menangis kepada Allah. "Ampuni aku, Ya Rabb. Ampuni aku. Ampuni aku karena membuat orang tuaku sedih.

Aku mohon ampun karena tidak menaati-Mu. Aku mohon ampun karena telah main hakim sendiri. Mohon ampun karena aku balas dendam. Mohon ampun karena mengikuti hawa nafsuku." Aku seorang anak, aku merindukan ibuku. Aku merindukan pelukannya, aku merindukan makanannya, ciumannya, aku merindukan... Bagaimana aku mengatakannya? Aku merindukannya berjalan melewati kamarku dan berkata, "Ayman, selamat malam." Paham maksudku? Saat itu aku berada di dalam sel. Aku berwudu lagi, aku salat dua rakaat, dan aku berkata, "Aku bertobat ya Rabb, aku memohon ampunan-Mu, ampuni aku." Aku mohon ampun atas mereka yang kusakiti. Yang paling penting, karena aku menyakiti orang tuaku.

Mereka tak pantas datang menjengukku di penjara. Mereka mendidikku menjadi anak yang baik. Hanya saja aku tak tahu cara berkata 'tidak'." Kadang saat berbicara dengan Allah, kau tak perlu berkata apa pun. Doa hening yang kau panjatkan pada Allah justru jadi yang paling lantang. Dan itulah keadaanku saat itu, doa hening itulah yang kau panjatkan antara dirimu dan Allah yang menjadi paling lantang. Karena kau tak perlu berkata apa pun. Allah tahu isi hatimu. Hari saat akhirnya aku dibebaskan, aku ingat bahwa kakak laki-lakiku datang menjemputku. Saat kakakku datang untuk menjemputku, ibuku tidak tahu, ayah dan ibuku tidak tahu.

Aku keluar dari penjara, langsung ke kantor pembebasan bersyarat untuk tanda tangan. Lalu dari sana aku langsung pulang. Mereka baru pulang dari salat Jumat. Mereka sudah selesai. Dan saat mereka pulang, aku berkata, "Kejutan!" Lalu ibu dan ayahku mulai menangis, kami saling berpelukan, dan ibuku memasak makanan, dan... ah, luar biasa. Dan aku ingat makan bamia (okra) dan dolma (daun anggur dengan isian). Wah, itu benar-benar nikmat. + Jadi, bisa ceritakan hari saat kau diserang? Sepertinya ada penusukan. - Jadi, ada dua kejadian saat aku ditusuk. Kejadian pertama sekitar Mei 2014.

Saat baru keluar dari penjara, aku hendak pergi ke dokter gigi, aku bertemu orang yang pernah bermasalah denganku. Dia anggota geng. Namun saat kereta datang, dan dia meninggalkan stasiun, karena dia pergi naik kereta, dia memberi pisau pada seseorang, dan orang itu menusuk kakiku. Itu penusukan pertamaku. Penusukan kedua, beberapa bulan kemudian di bulan Agustus, oleh temanku. Aku pulang kerja, aku melihat seorang teman. Aku berjalan menghampirinya secara langsung. Saat aku melihatnya, kami berbincang. Beberapa menit kemudian, setelah aku berjalan pergi, dia menikam punggungku. Dan pisaunya keluar dari perutku. Jadi itu pisau yang besar.

Dia menusukku, lalu aku berbalik untuk melawannya, tetapi aku lemah karena kehilangan banyak darah. Dan pisaunya, bilahnya besar, dan ada gerigi kecil. Jadi saat masuk ke dalam, ia masuk dengan mudah, tapi saat ditarik keluar, karena gerigi itu, organ tubuhmu pun terikut isi perutmu ikut terbawa. Lalu dia melarikan diri, dan aku pergi ke sebuah toko lalu berkata, "Tolong panggil ambulans, aku ditusuk." lalu aku jatuh ke lantai. Saat aku tiba di rumah sakit, dan sebelum dokter mengoperasiku, dia berkata, "Saat kami mengira kondisimu baik-baik saja," dia berkata, "Jantungmu berhenti. Jadi kami membawamu ke ruang operasi. Kami mencoba menyelamatkan nyawamu. Tapi kamu tidak tertolong.

Kami coba pakai alat kejut jantung. Clear, kamu tetap tidak merespons." Lalu dokter melihat jam dan berkata, "Waktu kematian." Wallahi, dia menutupi kepalaku dengan kain. Dan dia hendak keluar dari ruangan untuk memberi tahu ibuku, ayahku, saudara-saudaraku, teman-temanku, bahwa Ayman telah meninggal. Tepat sebelum dia keluar dari ruangan, mesinnya berbunyi kembali. Bip, bip, bip. -Subhanallah. Ini adalah rahmat dari Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa mesin-mesin di dunia ini, di kehidupan dunia ini, tidak bisa menghidupkanmu kembali. Allah-lah yang menghidupkanmu kembali. Dan dokter ini bukan Muslim, bukan Kristen, dia tidak percaya Tuhan. Namun kejadian ini membuka matanya.

Dia berkata, "Selama 40 tahun menjadi dokter, aku belum pernah melihat hal seperti ini." Mereka menjemput ibuku, adik perempuanku, dan mereka datang ke rumah sakit. Setelah operasi selama 18 jam, aku menggunakan alat bantu hidup selama sembilan hari. Saat aku sadar, aku merasa panik. Aku ingat saat aku terbangun dan berkata kepada dokter, aku bilang ke perawat, "Tolong panggil dokter, dia lupa sesuatu di perutku! Apa yang sedang kalian lakukan?" Lalu mereka berkata kepadaku, "Ayman, untuk sementara waktu, kau akan hidup dengan alat ini, untuk sementara waktu, dan nanti kita lihat apakah semuanya akan kembali normal seperti semula." Kini aku hidup dengan sebuah kantong di perutku.

Di sini ada sebuah kantong, yang pada dasarnya berarti aku tidak bisa buang air besar lewat toilet. Dan aku juga merasakan sakit. Aku terus-menerus kesakitan. Setiap saat. Bahkan sekarang pun aku kesakitan. Namun karena tubuhku sudah terbiasa, aku tahu cara mengendalikannya dengan tidak menunjukkan perasaanku. Karena itu aku sering bercanda, sering tertawa, sering saling meledek. Itu membantuku melupakan rasa sakit. Setelah penusukan itu, beberapa waktu kemudian aku diculik. Aku dibawa oleh beberapa musuhku. Dan penyiksaan, serta rasa sakit yang mereka lakukan padaku menyebabkan sebagian besar isi perutku harus diangkat, termasuk ususku juga diangkat.

Itulah mengapa dokter bilang, "Kini kau akan hidup dengan ini selamanya." Dan dalam proses itu, dokter berkata aku tak akan bisa punya anak, karena kerusakan yang mereka sebabkan. Jadi Allah mengujiku. Tapi aku meninggalkannya. Wallahi. Wallahi aku mengenal mereka. Aku tahu cara membalas mereka. Aku tahu tempat tinggal mereka. Aku tahu ke mana mereka biasa pergi, aku tahu... Subhanallah, bahkan mobil ibu mereka kendarai! Tapi aku serahkan pada Allah. Dia temanku. Kita sekolah di tempat yang sama. Sejujurnya, sebesar apa pun aku membencinya, aku ingin menyakitinya, dan balas dendam, padahal balas dendam bukan ajaran Islam.

Tapi misalnya, jika Allah memberinya hidayah Islam, aku akan memeluk dan menciumnya. Aku akan mencintainya seperti saudaraku sendiri, karena Islam mengajarkan kita untuk mengesampingkan perbedaan. Aku punya beberapa musuh, tapi sekarang mereka jadi temanku. Mereka saudaraku. Kenapa? Karena, "Asyhadu an la ilaaha illallah!" Agama menempatkanmu di atas segalanya. Kami tidak peduli darahmu, kami tidak peduli warna kulitmu. Entah kau hitam, putih, biru, hijau, apa pun itu. Kita adalah Muslim, dan Islam menyatukan kita. Aku kenal seseorang, kami dulu pernah ingin saling membunuh. Saat dia menjadi Muslim, dia menghubungiku.

Wallahil'adzim, dia menghubungiku, "Assalamu'alaikum Ayman, sekadar memberi tahu, aku sekarang Muslim. Akan menyenangkan jika bisa bertemu." Dalam pikiranku, "Orang ini pembohong. Orang pertama yang menusukku dulu mengaku menjadi Muslim. Apa yang sebenarnya dia bicarakan?" Tapi sekarang kami berteman baik. + Bisakah kau menceritakan bagaimana hari-hari terakhir ibumu dan wafatnya, jika berkenan? - Aku ingat itu tahun 2022. Ibuku dan dua saudara laki-lakiku, mereka menghabiskan waktu di Madinah, lalu pergi ke Makkah. Aku ingat hari itu mendapat telepon dari saudara perempuanku. Dan saudara perempuanku berkata, "Ayman, Ibu sedang tidak sehat.

Tolong doakan." Aku bilang, "Dengar, aku akan mengisi kajian sebentar lagi, untuk menyampaikan khotbah, nanti aku hubungi lagi. Tapi aku akan berdoa." Jadi saat aku sedang berkhotbah, sedang menyampaikan kajian, aku menerima telepon dari saudaraku. Lalu istriku meneleponku. Lalu saudara perempuanku meneleponku. Lalu kakak perempuanku meneleponku. Semuanya meneleponku. Seolah pikiranku tahu, tapi hatiku tidak mau menerimanya. Seolah mereka menelepon untuk memberitahuku. Ibuku pergi ke Makkah, dia sedang melaksanakan umrah, dan dia meninggal saat menjalankan umrahnya. Lalu aku ingat menjawab telepon dari saudaraku yang sedang bersamanya. Saat aku menjawabnya, aku mengira itu kabar baik.

Jadi, Alhamdulillah. Saudaraku meneleponku. Kenapa dia menelepon lewat video call? Mungkin untuk memperlihatkan ibuku, kan? Aku ingat melihat saudaraku. Saudaraku berkata, "Ayman, aku hanya akan mengatakannya sekali... Ibu kita... telah kembali kepada Allah." Lalu dia menutup telepon. Ini terjadi saat sebuah kajian, dan direkam. Aku ingat, kurasa... Aku bersyukur video lengkapnya tidak dirilis karena beberapa detik kemudian aku... bagaimana ya... aku tak bisa mengendalikan diriku. Alhamdulillah, tetapi... Dia wanita yang luar biasa. Pertama kali berada di Makkah. Pertama kali melaksanakan umrah. Pertama kali. Selama berada di Makkah dan Madinah, aku tidak berbicara dengannya.

Tetapi sehari, sehari sebelum dia pulang... sehari sebelum dia pulang, dia mengirim pesan suara kepadaku. "Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh" Dia berkata, "Ayman, aku akan segera pulang, berikan ukuran bajumu, agar bisa aku bawa pulang." Itulah hal terakhir yang dikatakannya padaku. Ah, ya Rabb. Alhamdulillah. Delapan bulan, sembilan bulan setelah wafatnya, aku ingat dia datang dalam mimpiku, dan berkata, "Apakah kau sudah melupakanku, Ayman?" Dan aku berusaha mendekat, tetapi setiap kali aku mendekat, dia semakin jauh, jauh, jauh, dan aku tak bisa melihat wajahnya. Wajahnya hanya berupa cahaya. Aku tak bisa melihat wajahnya.

Aku berusaha berlari ke arahnya, namun dia terus menjauh. Kau tahu itu mengingatkanku pada apa? Bahwa terkadang aku lupa mendoakannya. Itulah sebabnya dia datang dalam mimpiku, "Ayman, apakah kau melupakanku?" -Subhanallah. Wallahi, akan datang waktu saat kau berharap mendapat telepon dari ayahmu, telepon dari ibumu, hanya untuk menjawab, "Ya, Bu. Ya, Ayah, ada apa? Ke mana Ayah ingin aku pergi? Ayah ingin dibelikan apa? Toko mana yang Ibu ingin aku datangi? Katakan saja apa yang Ibu mau. Aku akan melakukannya." Lihat, aku tak lagi mendapat telepon itu. Ibuku sudah tiada. Hormati, hormatilah orang tua kalian.

Di Al-Qur'an disebutkan bahwa kalian bahkan tak boleh mengucapkan kata "ah" kepada orang tua kalian. + Aku dengar kau menikah di usia cukup muda. Bagaimana kau bertemu pasanganmu, dan seperti apa perjalanan itu bagimu? - Menikahi istriku dan bisa keluar dari budaya tempat kami hidup, kami berasal dari latar belakang Kurdi Irak. Mereka ingin kalian menikah dengan sesama kelompok sendiri. Jadi aku menikah dengan seseorang yang sangat berbeda dariku. Aku tidak membuat kedua orang tuaku senang, salah satunya. Karena mereka hanya ingin aku bahagia. Yang satu lagi tidak menerimanya, tapi ini bukan untuk mereka. Aku melakukan semuanya sesuai syariat Islam. Kalian tak bisa melarangku.

Kalian harus memberi alasan secara Islam mengapa aku tidak boleh menikahi orang ini. Jadi Alhamdulillah, aku menikah. Aku menganggap itu sebagai sesuatu yang, Insya Allah, akan menjadi bentuk sedekah bagiku dengan merawat seorang anak yang bukan anak kandungku. Jadi, memiliki seorang anak yang katanya tidak mungkin kumiliki, dan Allah membukakan jalan bagiku dengan seorang wanita yang punya anak... Rasanya seperti, "Ya Allah, Engkau memilih ini untukku." Engkau memilih ini untukku. Aku akan menerimanya. Itu saja. Dan aku membutuhkannya. Aku butuh keluarga. Dan Allah memberikannya kepadaku. Tahap awalnya sangat sulit, aku tak akan berbohong, sebagai ayah sambung.

Dan aku tak suka istilah "ayah sambung". Aku lebih suka istilah, "Ayah yang mau mengambil tanggung jawab." Bukan "ayah sambung", mengerti maksudku? Aku melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan pria lain, dan aku mensyukurinya. Itu membuatku bahagia. + Keputusan terburuk yang pernah dibuat Akhi Ayman? - Masuk penjara. Itu sesuatu yang sangat kusesali. - Dan keputusan terbaik? + Yang terbaik adalah menikah. Menikah. Alhamdulillah. + Komentar terbaik dan terburuk yang pernah diterima Akhi Ayman? - Aku ingat ada seorang pria, dia datang menemuiku di sebuah kafe.

Dia datang memelukku, lalu berkata kepadaku, "Saudaraku, sekadar memberi tahu, putriku yang berusia 12 tahun mengenakan hijab karena dirimu." Dan itu membuatku sangat bahagia. Lalu dia berkata, "Tapi itu bukan alasan utamanya." Maksudnya seperti, "Bukan, bukan cuma itu." Dia berkata, "Karena putriku, istriku juga mulai memakai hijab." + Subhanallah. - Aku berada di sini bukan untuk memberi hidayah pada siapa pun, hidayah datang dari Allah. Aku hanya di sini untuk mengatakan, "Lakukan dasar-dasar Islam, dan pasrahkan selebihnya kepada Allah." + Apa hal yang paling disukai Akhi Ayman? - Bermain sepak bola. + Bermain sepak bola. Sepak bola, sepak bola. Bukan sepak bola Amerika, tapi...

- Tidak, tidak, football. Mereka menyebutnya soccer, tapi kami menyebutnya football. Sepak bola, itu saja. + Apa hal terakhir yang kau cari di Google? - Hal terakhir yang kucari? Akan kuberitahu. + Ya, silakan. - Akan kutunjukkan sekarang. Biar kucek. + Silakan cek. - Kau pasti akan menyukainya. + Apa? Trabzon? - Turki. +Turki. - Itu yang terakhir kali kucari. Aku hanya berpikir, "Tempat yang indah." Itu yang terakhir. Aku mencarinya di Google, masih ada. + Jadi kau akan berkunjung, Insya Allah. - Aku suka alam. Aku suka pemandangan hijau. Jadi saat melihat tempat ini, Turki, aku berkata, "Oh, tempat ini indah.

Aku harus pergi ke sana." + Apa momen lucu saat kau merasa sangat malu, sehingga tak pernah bisa kau lupakan? Dalam arti yang positif. - Aku pernah tampil di TV, di BBC, bertahun-tahun lalu. Aku sedang membuat sebuah dokumenter di dalam rumah sakit. Dan aku berdiri seperti ini di depan semua orang, dan tak ada yang menjabat tanganku. Dan itu adalah momen yang sangat memalukan bagiku, hingga bahkan sang juru kamera menggeser kamera untuk menghindariku, tapi dia tidak ingin menyorotku. Dia tidak ingin menunjukkannya kepada dunia. Jadi aku hanya berdiri seperti ini, dan juru kamera itu memperhatikanku, dan... bagiku, itu adalah momen paling memalukan.

+ Ada banyak orang yang hidupnya berubah total karenamu. Dari yang semua kau ingat, mana yang paling menyentuh emosimu? - Kurasa aku sedang berada di Makkah beberapa tahun lalu. Dan aku ingat berada bersama sekitar 30 atau 40 orang. Dan saat aku keluar dari, saat aku keluar dari hotel menuju Ka'bah, seseorang berkata, "Ayman, Ayman, dia memanggilmu." Lalu ada yang datang, "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum salam." Kemudian di depan semua orang, dia berkata, "Ayman, karena dirimu, aku berhenti mengedarkan narkoba." Dan pada saat itu, hatiku tak mampu menahan air mata yang sudah menggenang di mataku, dan aku langsung menangis. Aku tidak menyebabkan semua itu. Hidayah bukan datang dariku.

Tapi ketika seseorang berkata kepadaku, "Karena aku menonton kisahmu dan melihat bagaimana kau berbicara tentang hidupmu dan tobatmu, itu membuatku berhenti, dan sekarang itulah alasan aku berada di sini." Dia berkata, "Aku mendapat pekerjaan hanya untuk memperoleh uang halal agar bisa membayar perjalanan ini." Hal seperti ini tidak bisa dibuat-buat. Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga keikhlasan kita. Allahumma Aamiin. + Aku ingin kau jujur dan terbuka kepadaku. Jika kau meninggal saat ini juga, apakah kau merasa dirimu lebih dekat ke Neraka atau Surga? - Neraka. Wallahi. Karena aku tidak tahu apakah semua yang kulakukan diterima atau tidak. Dan aku memikirkan hal ini.

Seperti, bagaimana niatku? Apakah niatku benar? Apakah aku melakukan ini untuk manusia, atau aku melakukannya karena Allah? Aku takut. Kita memiliki pergulatan dalam diri kita sendiri. Dan aku tidak tahu ke mana aku akan pergi. Tapi setidaknya aku bisa meninggalkan sesuatu yang membuat orang mengenangku dengan kebaikan, dan mereka bisa mendoakanku. Dan sisanya aku serahkan kepada Allah, karena hanya dengan kasih, rahmat Allah, aku bisa masuk Jannah (surga). Tapi aku takut, aku tidak tahu. + Aku tahu hampir mustahil untuk memilih, tetapi apa satu ayat yang paling menyentuhmu? - Qāla innamā asykū baṡṡī wa ḥuznī ilallāhi. Ayat favoritku.

"Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." Bukan kepada istriku, bukan kepada ibuku, bukan kepada ayahku, bukan kepada anak-anakku, bukan kepada siapa pun, hanya kepada Allah. Dan ini berasal dari Surah Yusuf. Ini adalah ucapan Nabi Yaqub AS setelah kehilangan Nabi Yusuf AS, Ketika ia hendak dibunuh saudaranya dan dikabarkan kematiannya Apa yang beliau katakan? Innamā asykū baṡṡī wa ḥuznī ilallāhi Dan jika kita semua menerapkan ayat ini dalam hidup kita, semuanya akan berubah. Jangan ceritakan masalahmu kepada manusia. Mereka tidak peduli. Mereka senang kau sedang menghadapi masalah, hanya saja mereka tidak mengatakannya.

Kecuali orang yang tulus, orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan menginginkan kebaikan untukmu, dia akan menasihatimu. Yang lain, mereka tidak peduli. Mereka suka melihatmu menderita. Mereka suka melihatmu menghadapi kesulitan. + Apa hal pertama yang akan dilakukan Akhi Ayman jika masuk surga? - Meski aku kehilangan ibuku beberapa tahun lalu, beliau wafat di Makkah, semoga Allah merahmatinya. Dan meski aku merindukannya, ingin melihatnya, dan ingin... tetapi hal pertama yang ingin kulakukan adalah bertemu Nabi Muhammad SAW. Tentu saja setelah Allah.

Aku ingin bertemu Nabi dan berterima kasih kepada beliau, aku ingin memeluk beliau dan mencium beliau, dan menunjukkan rasa syukurku, karena berkat beliau aku menjadi Muslim hari ini. Karena jika beliau menyerah, di mana kita semua akan berada hari ini? Tetapi beliau tidak menyerah. "Engkau tidak menyerah. Aku seorang Muslim karena engkau. Aku mengenal Al-Qur'an karena engkau, Al-Qur'an diturunkan kepadamu. Aku mengetahui sunnah tentang cara memperlakukan istriku, cara memperlakukan orang tuaku, cara memperlakukan tetanggaku yang bukan Muslim, karena engkau.

Aku belajar memiliki kasih sayang dalam hati kepada manusia, karena engkau, ya Rasulullah SAW." Dan aku akan berkata, "Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu. Aku minta maaf karena belum berbuat lebih banyak untuk umat." + Seseorang melihatmu di dalam lift. Dia mengenalimu dan bertanya, "Aku sudah memiliki semua yang kubutuhkan dalam hidup, mengapa aku harus membatasi diriku dengan menjadi orang yang religius?" Bagaimana kau akan menjawabnya dalam satu menit? - Kau tak memiliki apa-apa dalam hidupmu jika kau tak memiliki Allah. Allah menyibukkanmu dengan dunia. Kau mengira dirimu memiliki segalanya. Tetapi apa arti segalanya jika kau tidak memiliki Allah?

Allah akan membiarkanmu menikmati hidupmu. Tetapi ketika kau tidak memiliki iman di dalam hatimu, saudaraku, Allah akan membuatmu melupakan dirimu sendiri. Seperti dalam ayat: Wa laa takuunu kalladziina nasullaaha fa-ansaahum anfusahum Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." Dan bagaimana Allah membuatmu melupakan dirimu sendiri? Dengan membuatmu sibuk dengan urusan dunia. "Aku menghasilkan satu juta pound, aku punya mobil ini, aku punya rumah ini, aku punya keluarga ini." Bukan karena Allah, ini semua karena aku. Tidak, tidak, tidak, Allah-lah yang membuatmu berkata begitu Karena kau telah melupakan-Nya.

Maka sungguh Allah membuatmu melupakan dirimu sendiri. + Banyak anak muda yang berkata, "Aku tenggelam dalam dosa, bagaimana aku bisa keluar dari semua ini?" Apa yang ingin kau katakan kepada mereka? + Tidak peduli berapa banyak langkah yang kau ambil untuk menjauh dari Allah, cukup satu langkah untuk berkata, "Ya Rabb, ampunilah aku. Ya Rabb, ampunilah aku." Dengan tulus dari hatimu, Allah akan mengampunimu. Allah akan segera mengampunimu. Jika kau tulus. Dan Dia akan mengampuni semuanya. Setan menghasut bahwa dosamu terlalu banyak hingga Allah tidak akan pernah mengampunimu. Tetapi Allah berfirman, "Selama dosa-dosamu mencapai langit, dan kau bertobat, Aku akan mengampunimu.

Selama ruhmu masih berada di dalam tubuhmu." Tetapi jangan pernah membenarkan sebuah dosa dengan menyebutnya sebagai sebuah "perjalanan". Karena aku tidak bisa meminum alkohol lalu menyebutnya "perjalananmu". Lalu biarkan aku tetap dengan fitnahku (godaan/ujian). Lihatlah, Allah SWT telah memuliakan dan mengangkat derajat wanita. Dan jika kau ingin menghancurkan sebuah masyarakat, biarkanlah para wanita berpakaian terbuka. Dan itulah yang terjadi hari ini. Kesantunan akan memperbaiki masyarakat. Dan laki-laki yang bertakwa akan menundukkan pandangannya dan akan mengingat Allah.

Dan omong-omong, aku selalu mengatakan ini: tanpa para wanita, wanita-wanita salehah dalam umat kita hari ini, umat ini sudah lama hancur, sejak dulu. Doa para ibulah yang membuat kita tetap kuat.