Perang Khandaq: Yahudi Madinah Mengkhianati Nabi! - Divisualisasikan AI - Wahai Rasul | Ep. 8
Diterbitkan pada
Awan debu di ufuk menjadi tanda adanya badai mendekat. Di bawah komando balas dendam Abu Sufyan, pasukan besar 10.000 prajurit dari seluruh Jazirah Arab telah tiba di pinggiran Madinah. "Dengan 10.000 pasukan, akan kami buat mereka menyesal telah dilahirkan!" Kaum musyrikin membara dengan rasa dendam. Tapi yang mereka lihat di depan mereka membuat mereka terpaku. Satu-satunya jalan pasukan menuju kota terhalang parit yang panjangnya sekitar 6 kilometer. Parit itu sangat lebar dan dalam, seakan tak mungkin dilintasi. Keyakinan akan mendapatkan kemenangan yang mudah berubah menjadi ketakutan dan keraguan.
Menghadapi taktik perlawanan ini, musuh merasa kebingungan, karena belum pernah melihat hal seperti ini seumur hidup mereka. Tapi, bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana kaum Muslimin menyusun rencana untuk melawan pasukan sebesar ini? Dan yang terpenting, apa yang akan terjadi? Pengkhianatan, rencana rahasia, dan mukjizat. Mari kita saksikan kisah epik Perang Khandaq. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam tepercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Bani Nadhir kaum Yahudi diusir dari Madinah karena pengkhianatan mereka. Sebagian pergi ke Syam (Levant/Syria), lainnya ke Khaibar.
Khaibar memiliki populasi Yahudi terbesar dibandingkan daerah lain saat itu. Karena jumlah besar itu, mereka saling menyemangati berperang. Keyakinan itu mendorong mereka merencanakan balas dendam pada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Tapi tentu saja, ini bukan sesuatu yang bisa mereka lakukan sendiri. Lalu, mereka mengirim 19 orang membujuk kaum Quraisy dan kabilah Arab lain untuk berperang melawan Rasulullah ﷺ. Pertama mereka mendatangi Quraisy, lalu suku Ghathafan dan Bani Sulaim, serta banyak kabilah Arab lainnya. Karena itu perang ini juga disebut perang Ahzab, Perang Sekutu, karena banyak kabilah, besar dan kecil, saling bersatu melawan kaum Muslimin.
Sesuai rencana, tujuan pertama utusan adalah Makkah. Ingat akhir Perang Uhud? Abu Sufyan menantang Rasulullah ﷺ untuk bertemu lagi di Badar setahun kemudian. Rasulullah ﷺ menerimanya, dan tahun berikutnya berangkat bersama pasukannya ke Badar. Namun tak seorang pun ada di sana. Kaum Quraisy tak berani menghadapinya. Mereka mengalami kekalahan telak di Badar, dan sejak itu, Abu Sufyan membara dengan keinginan balas dendam. "Selamat datang. Kalian yang menolong kami melawan Muhammad adalah yang paling kami cinta." Islam terus berkembang, dan Quraisy sadar bahwa mereka tak mampu lagi melawannya sendirian. Maka mereka tak punya pilihan lain kecuali menerima tawaran itu.
Abu Sufyan ingin melihat apakah utusan Yahudi memang sungguh-sungguh dan serius akan hal ini. Ia pun menguji mereka, dan mendapati mereka lebih bersemangat darinya. Ia berkata, "Wahai kaum Yahudi, tentang perselisihan kami dengan Muhammad. Agama siapa lebih baik? Agama kami atau agamanya?" "Jika harus jujur di hadapan Allah, kalian lebih dekat pada kebenaran daripada dia." Padahal jauh di dalam hati, mereka tahu kenyataannya adalah sebaliknya. Namun, karena haus balas dendam, mereka tak ragu berdusta. Utusan Yahudi membuat perjanjian dengan Quraisy dan mendapat sekutu pertama. Namun itu belum cukup.
Agar mendapatkan lebih banyak dukungan, mereka mendatangi Ghathafan, yang tinggal antara Makkah dan Najd. Tak butuh waktu lama untuk meyakinkan mereka. Tak lama, Bani Sulaim pun ikut bergabung dengan mereka. Bukan hanya utusan Yahudi, kaum Quraisy juga giat membujuk suku-suku lain. Lalu mereka mendapat dukungan suku Ahabisy dan suku-suku sekutunya. Dengan semua kekuatan itu, pasukan mereka mencapai hampir 4000 orang. Setelah mendapat dukungan dari suku-suku sekitar Madinah, Bani Nadhir dan Quraisy akhirnya mengumpulkan 10.000 orang. "Dengan pasukan 10.000 orang, akan kita buat mereka menyesal dilahirkan!" Di saat itu, pesan tiba kepada Rasulullah ﷺ dari kabilah Khuza'ah. "Dia datang!
Abu Sufyan memimpin pasukan besar datang ke sini!" -"Berapa banyak?" -"Ribuan." "Kau lihat sendiri?" "Aku lewati pengintai mereka di lembah, cepat sekali." Rasulullah ﷺ segera mengumpulkan sahabat untuk bermusyawarah. Semua menyampaikan pendapat. Hingga muncul satu usulan yang mengubah segalanya. "Wahai Rasulullah ﷺ, di Persia, jika kami takut adanya serangan kavaleri, kami menggali parit mengelilingi kota sebagai perlindungan." Yang berbicara adalah Salman Al-Farisi, seorang sahabat dari Persia. Rasulullah ﷺ dan para sahabat belum pernah mendengar taktik itu. Rasulullah ﷺ merasa ide itu bagus dan menyetujuinya.
Mereka akan menggali parit yang lebar dan dalam, yang bahkan kuda tak bisa melompatinya. Sebelum itu, Rasulullah ﷺ menentukan lokasi penggalian parit. Satu sisi Madinah ada lahan luas dipenuhi batuan vulkanik. Di sisi lain, dipenuhi oleh kebun kurma. Pasukan tak bisa melewatinya. Di selatan berdiri gunung besar, membuat jalan masuk dari segala arah mustahil untuk dilalui. Seakan Allah telah menempatkan Madinah dalam perlindungan alami. Tinggal satu sisi yang masih terbuka. Di situlah lokasi parit panjang akan digali untuk menutup jalan musuh menuju kota. Tapi waktu mereka kurang dari 10 hari untuk menyelesaikannya. Semua orang mulai menggali sekuat tenaga.
Dan Rasulullah ﷺ yang memimpin langsung. Dengan cangkul dan sekop di tangan, beliau bekerja bersama sahabat, seraya terus menyemangati mereka. Meski panas dan lapar, mereka menggali seharian tanpa henti. Terkadang para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, beristirahatlah. Cukup kami saja yang bekerja. Engkau tak perlu bersusah payah." Beliau bisa saja tidak bekerja. Bagaimanapun, beliau Rasulullah ﷺ, dan tak ada yang akan keberatan. Namun beliaulah yang berkata, "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." Baginya, duduk dan melihat lebih berat daripada bekerja. Beliau tahu rahmat dan berkah Allah datang lewat kesulitan. Karena itu, beliau bekerja lebih keras dari siapa pun.
Tahun itu, Arabia dilanda kekeringan dan kelaparan parah. Banyak kaum Muslim mengikat batu di perut untuk menahan lapar. Dengan itu, mereka mencoba meredakan nyeri dengan rasa kenyang palsu. Merasa putus asa, sekelompok sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan penderitaan mereka. Namun saat melihat keadaan di hadapan mereka, kata-kata mereka tercekat. Sebab saat Rasulullah ﷺ membuka ikatan di perutnya, bukan satu, tapi dua batu jatuh. "Apakah engkau juga mengikat batu di perut? Karena lapar?" Beliau menanggung kesulitan yang sama, bahkan lebih berat dari mereka. Suatu hari, Jabir bin Abdullah RA melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan itu dan tak sanggup lagi.
Ia pulang dan berkata pada istrinya: “Aku melihat Rasulullah ﷺ tampak sangat lemah karena lapar. Orang lain pasti sudah pingsan dalam keadaan selemah itu. Adakah makanan di rumah?" Istrinya menjawab, "Demi Allah, kita tidak punya apapun selain kambing kecil ini dan sedikit gandum." Jabir menyembelih kambing itu, istrinya menggiling gandum jadi tepung. Daging dimasukkan ke periuk dan dimasak di tungku tanah liat. Saat Jabir hendak pergi mengundang Rasulullah ﷺ, istrinya berkata: "Tolong jangan membuatku dalam kesulitan di hadapan beliau." Maksudnya, jangan mengundang terlalu banyak orang, karena makanan yang mereka siapkan hanya cukup untuk beberapa orang.
Jabir mendatangi Rasulullah ﷺ dan memberitahunya bahwa mereka ada sedikit makanan. Ia meminta beliau datang bersama beberapa sahabat. Rasulullah ﷺ berkata sesuatu yang tak ia duga. Beliau memanggil semua sahabat yang sedang menggali parit dan berseru: "Saudara kita telah menyiapkan makanan untuk kalian." Apa yang ditakutkan istri Jabir kini benar terjadi. Makanannya hanya cukup untuk beberapa orang, namun kini seluruh pasukan sahabat akan datang. Saat Jabir pulang dan menceritakan, apa yang terjadi, istrinya bertanya: "Apakah Rasulullah ﷺ bertanya berapa banyak makanan kita?" "Ya." "Kalau begitu, tak mengapa." Ia yakin Rasulullah ﷺ mengetahui sesuatu yang tak mereka tahu.
Jabir pun bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Saat Rasulullah ﷺ tiba, beliau berdoa memohon berkah atas daging dan roti itu. Lalu beliau memanggil sahabat masuk, sepuluh orang sekali masuk. Beliau mengambil roti dari tungku dengan tangannya sendiri, meletakkan sepotong daging di atasnya, dan memberikannya sendiri kepada tiap sahabat. Mereka pun mulai merasakan kenyang. Namun daging dan roti itu tidak berkurang sedikit pun. Tetap seperti semula. Jabir dan istrinya takjub melihatnya. Tentang hari itu, Jabir berkata: "Demi Allah, seribu orang datang dan makan hingga kenyang. Namun periuk kami tetap mendidih dan roti terus dibuat dari adonan." Seribu orang menyaksikan mukjizat ini.
Dan saat kisah ini diceritakan berulang-ulang, tak satu pun dari mereka mengingkarinya. Pikirkanlah, bagaimana mungkin kaum yang hidup demi kebenaran akan menceritakan sesuatu yang tak pernah terjadi? Mungkinkah mereka semua, ma'adzallah, sepakat berdusta? Bagi para sahabat, mukjizat ini nyata adanya. Sering kali Allah memberi berkah melalui tangan Rasul-Nya ﷺ. Dalam Perang Badar dan Perang Tabuk, juga saat walimah, dan saat masa paceklik, mukjizat seperti ini terjadi berulang kali. Kadang disaksikan 180 orang, kadang 400, bahkan pernah 1.500 orang. Saat Rasulullah ﷺ dan para sahabat menggali parit, mereka menemukan batu besar yang sangat keras.
Seberapa pun keras usaha mereka, batu itu tak pecah. Mereka pun langsung melapor kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ datang dan mengambil kapak milik Salman Al-Farisi. Lalu beliau berkata, "Bismillah," dan memukul batu itu dengan keras. Dengan satu pukulan, sepertiga batu itu hancur. Beliau berseru: "Allahu Akbar! (Allah Maha Besar). Aku telah diberi kunci-kunci menuju Syam. Demi Allah, kini kulihat istana-istananya yang merah." Beliau memukul kedua kali, sepertiga lagi hancur. Beliau kembali berseru: "Allahu Akbar! Aku diberi kunci Persia. Demi Allah, kulihat istana putih Madain." Pada pukulan ketiga, beliau berseru: "Allahu Akbar! Aku diberi kunci Yaman.
Demi Allah, kulihat gerbang-gerbang Sana'a saat ini." Dengan pukulan terakhir itu, batu pun hancur total. Saat orang beriman mendengar kabar gembira ini, iman mereka semakin kuat. Bagaimana dengan kaum munafik? Bagaimana reaksi mereka? Dengan nada mengejek, mereka berkata: "Bagaimana bisa ia menjanjikan harta Kisra dan Kaisar, sedang kita tak aman bahkan untuk buang hajat?" Mereka hendak mematahkan semangat orang-orang di sekitar mereka. Pikirkanlah. Saat janji itu disampaikan, Madinah dikepung suku-suku musuh yang bersatu untuk membunuh seluruh kaum Muslimin. Kaum beriman bahkan belum sepenuhnya mengalahkan Quraisy. Mereka harus menggali parit untuk bertahan. Mereka lapar, haus, dan letih.
Namun yang benar-benar memberi janji itu adalah Allah, Tuhan langit dan bumi. Dan setiap kata yang Rasulullah ﷺ ucapkan adalah kebenaran. Dan satu per satu, kemenangan yang dijanjikan itu terwujud, dalam waktu yang singkat, di masa kekhalifahan Umar dan Utsman RA. Parit yang membuat pasukan musyrik tertegun itu selesai hanya dalam enam hari. Lebarnya sekitar 9 meter, sepanjang lima orang pria. Kedalamannya sekitar setengah dari itu. Begitu lebar hingga penunggang kuda paling mahir pun tak mampu melompatinya. Sepanjang hampir 6 kilometer, hanya satu bagian sempit yang bisa dilalui satu penunggang. "Kurasa mereka datang." Pasukan 10.000 kaum musyrikin dipimpin Abu Sufyan telah tiba.
Mereka menghadapi strategi perang yang belum pernah dilihat. Itu menjadi kekecewaan besar bagi mereka. "Berhenti! Hentikan kuda kalian!" "Apa ini? Apa yang terjadi?" "Berhenti! Hentikan kuda kalian!" Mereka mengira akan mudah masuk Madinah, menumpahkan darah di jalan, dan memburu Muslim satu per satu. -"Berhenti! Kubilang berhenti!" -"Ada apa?" Namun Abu Sufyan tak berniat mundur. Setelah bersiap, mereka mulai menembakkan hujan panah dari seberang parit. Panah berdesing di udara dengan desing menakutkan saat jatuh ke arah kaum Muslimin. Namun parit itu menjadi penghalang yang jauh lebih berat dari dugaan. Seberapa pun keras usaha mereka, mereka tak mampu menyeberanginya.
Ingat, ada bagian parit yang tidak terlalu lebar. Sebagian mencoba lewat sana, namun mereka ditebas sebelum berhasil menyeberang. Tetapi Amr bin Abdi Wudd berhasil melintas. Ia termasuk pejuang paling terkenal dan ditakuti di Arabia. Tertutup zirah dari kepala ke kaki, ia menarik kudanya dan berhenti tepat di hadapan pasukan Muslim. "Siapa yang mau melawanku?" Ali RA berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah, izinkan aku melawannya." Melihat tekad Ali, beliau berdoa, "Ya Allah, tolonglah dia." Ali RA maju ke medan perang. "Lihat, Ali... Ali maju." "Zulfiqar." "Siapa kau?" "Aku Ali, putra Abu Thalib." "Aku tak ingin menumpahkan darahmu.
Ayahmu dahulu sahabatku." "Demi Allah, aku ingin menumpahkan darahmu." Amr pun murka. Ia mengeluarkan pedangnya dan menaiki kudanya. Namun Ali berkata: "Bagaimana aku melawanmu saat aku berdiri sedang kau di atas kuda? Turun dan hadapilah aku!" Amr pun turun dan berdiri di hadapan Ali. "Ayo! Tunjukkan kemampuanmu." Ali memberinya dua pilihan: "Masuk Islam atau mundur." Namun Amr menolak keduanya. Duel dimulai saat Amr menyerang lebih dulu. Ali menahannya dengan perisai. Namun pedang menembus perisai dan melukai kepalanya. Debu membumbung tinggi menyelimuti keduanya, hingga tak seorang pun tahu apa yang terjadi di dalamnya. Selama beberapa saat, tak ada yang tahu hasilnya.
Hingga terdengar suara. "Allahu Akbar!" (Allah Maha Besar). Kepala Amr telah terpenggal. Suara itu berasal dari Ali RA. Saat Rasulullah ﷺ dan para sahabat mendengar takbir itu, mereka tahu Ali telah mengalahkannya. Mereka pun ikut berseru, "Allahu Akbar!" Dua atau tiga orang lagi menyeberang parit untuk menyerang Ali. Namun karena takut mati, mereka mundur. Musuh tak mendapat hasil apa-apa dari serangan mereka. Mereka memutuskan tetap bertahan dalam kepungan. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Beberapa hari, kedua pihak saling memanah satu sama lain dari jauh. Namun itu hanya membuat pertempuran menjadi semakin lama. Semakin lama berlangsung, semakin buruk bagi kaum Quraisy.
Karena cuaca menjadi semakin keras setiap harinya. Siang hari sangat terik, dan malam hari sangat dingin. Rasulullah ﷺ mengirim sekitar 500 sahabat ke Madinah untuk mengamankan kota. Dalam dinginnya malam, beliau berjaga di bagian parit yang paling sempit, karena khawatir musuh mencoba menyeberang. Aisyah RA berkata, saat Rasulullah ﷺ pulang, beliau menggigil kedinginan. Karena tanaman sekitar kota telah dipanen, hewan pasukan musuh tak punya pakan. "Tak ada pakan tersisa. Bekal kita terlalu sedikit." Jika begini terus, hewan mereka akan mati satu per satu. Karena mengira perang hanya sehari dua hari dan mereka bisa menang, mereka hanya membawa sedikit makanan.
Jika terus begini, mereka takkan bertahan lama. Abu Sufyan menyadari keadaan itu. Ia memerintahkan pasukannya untuk menghujankan panah lebih sering. Teramat banyak hingga kaum Muslimin sulit bergerak. Pasukan berkuda kaum Quraisy mendekat dari seberang kaum Muslim dan mulai memanah mereka. Serangannya begitu terus-menerus hingga Muslimin bertahan tanpa henti sampai matahari terbenam. Karena itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat tak sempat menunaikan Ashar tepat waktu.
Rasulullah begitu marah hingga mendoakan pasukan kaum musyrikin: "Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kubur mereka dengan api karena mereka telah menyibukkan kita dari salat Ashar!" Lalu beliau mengqadha salat itu, begitu pula para sahabat. Rasulullah tak pernah mendoakan buruk kaum yang melemparinya di Tha'if. Namun begitu besar pentingnya salat, hingga beliau berdoa demikian atas mereka yang menghalanginya. Pertempuran di parit masih sangat sengit. Namun pasukan musyrik bukan satu-satunya ancaman. Sesuatu yang Rasulullah ﷺ takutkan sejak awal kini benar-benar terjadi. Ingat Piagam Madinah yang dibuat setelah Hijrah?
Menurut perjanjian itu, suku-suku Madinah berjanji membela kota bersama-sama jika kota diserang. Tapi Bani Quraizhah melanggar janji itu. Parahnya lagi, mereka membantu musuh dan melakukan pengkhianatan besar. "Bani Quraizhah... melanggar janji. Benteng-benteng... dua ancaman. Kita sudah tahu itu. Sudah jelas mereka akan melanggar perjanjian." Mereka tinggal di benteng kokoh di bagian selatan Madinah. Dari sana, mereka merencanakan serangan terhadap kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ segera mengutus Sa’d bin Mu’adz dan beberapa sahabat lain untuk berbicara dengan mereka dan mencoba menghalangi keputusan itu. Namun kaum Yahudi itu tak menunjukkan tanda ingin berubah.
Mereka bertekad membinasakan kaum Muslimin. Kini bukan hanya panah dari luar yang datang, tetapi pasukan Yahudi dari selatan juga menekan kaum Muslimin. Yahudi Quraizhah tinggal di Madinah, di dalam kota. Artinya kaum Muslimin terkepung dari dua arah. Dan untuk membuat keadaan memburuk, orang-orang munafik kembali menebar fitnah dan berkata: "Allah dan Rasul-Nya tak menjanjikan apa pun selain janji palsu." Allah menggambarkan hari itu dalam Surah Al-Ahzab. "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.
Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat." Segalanya tampak berbalik melawan kaum Muslimin. Namun pada saat itulah Allah membuka jalan keluar. Sebuah peluang yang bisa mengubah jalannya perang. Nu’aim bin Mas’ud, pemimpin kabilah Asyja dari Ghathafan, telah masuk Islam namun belum memberitahu siapa pun. Ia diam-diam mendatangi Rasulullah ﷺ menyatakan iman. Usai bersyahadat dan menjadi seorang Muslim, ia berkata, "Wahai Rasulullah... Jika ada yang bisa kulakukan, perintahkanlah aku." Orang yang baru merasakan manisnya iman tak mungkin hanya berdiam diri. Ketika Rasulullah ﷺ melihat tekadnya, beliau menjadikannya peluang.
Beliau berkata, "Kembalilah ke pihak musuh dan lakukan apa pun untuk memecah belah mereka." Nu’aim memahami sepenuhnya apa yang diminta darinya. Nu’aim diam-diam menyusup ke tiga kelompok musuh, seolah ia belum memeluk Islam. Ia mendatangi Bani Quraizhah dan menanamkan keraguan. "Jika kaum Quraisy dan Ghathafan gagal mengalahkan kaum Muslimin, mereka akan pulang dan meninggalkan kalian. Dan Muhammad ﷺ akan dengan mudah menghukum kalian. Jika kalian tak ingin itu terjadi, mintalah kaum Quraisy dan Ghathafan memberi beberapa orang sebagai sandera.
Agar mereka tak mengkhianati kalian, karena takkan mungkin mereka mengorbankan orang sendiri." Setelah itu, Nu’aim mendatangi Quraisy dan berkata: "Bani Quraizhah menyesali keputusan menyerang kaum Muslimin, dan telah membuat perjanjian rahasia dengan mereka. Mereka berjanji kepada kaum Muslimin, sebagai tebusan pelanggaran perjanjian, akan menangkap 70 orang Quraisy untuk diserahkan dan dihukum mati. Jadi jika orang Yahudi meminta orang kalian sebagai sandera, jangan pernah menyetujuinya." Lalu ia mendatangi Ghathafan dan memperingatkan hal yang sama. Jika Yahudi meminta sandera, jangan serahkan siapa pun. Karena Nu’aim berasal dari Ghathafan, tak seorang pun mencurigainya.
Dan mereka langsung menerima nasihatnya. Sesuai ucapan Nu’aim, Bani Quraizhah meminta Quraisy dan Ghathafan menyerahkan sandera demi menjamin keamanan mereka. Kini kaum musyrik yakin bahwa Nu’aim berkata benar. Dan tentu saja mereka menolak menyerahkan siapa pun. Setelahnya, Abu Sufyan berkata tentang hari itu, "Jika mereka meminta seekor anak kambing pun, aku tak akan memberikannya." Maka rencana itu pun berhasil. Persekutuan berubah menjadi kecurigaan. Pengepungan berlangsung lama, dan persatuan mereka mulai runtuh. Baik kaum Muslimin maupun pasukan musuh sudah kelelahan. Lapar, haus, dan dingin mendorong keduanya ke batas kemampuan. Namun ada satu perbedaan di antara mereka.
Kaum Muslimin mengambil kekuatan dari Allah, Tuhan langit dan bumi, Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kaum musyrikin bergantung pada berhala tak bernyawa, batu-batu yang tak punya daya apa pun. Rasulullah ﷺ ingin mengetahui apa yang dilakukan pasukan musuh dan apa rencana mereka. Malam itu, beliau mengutus seseorang ke perkemahan mereka. Beliau meminta sekelompok kecil kaum Muslim yang berdiri menjaganya: "Siapa yang akan membawakan berita tentang mereka, dan Allah menjadikannya temanku pada Hari Kiamat?" Mungkin kau berpikir, suatu kehormatan! Siapa yang tak menginginkannya? Namun malam itu begitu berat hingga tak seorang pun menjawab.
Hudzaifah bin Al-Yaman, yang hadir malam itu, berkata: "Kami membungkus diri dengan kain seadanya, berusaha tetap bertahan karena dingin yang membeku, lapar, dan kengerian malam. Aku belum pernah melihat malam segelap ini atau angin sekeras itu. Begitu gelap hingga kami tak bisa melihat ujung jari sendiri. Dan angin mengaum seperti petir." Ketika tak ada yang menjawab, Rasulullah ﷺ memanggil Hudzaifah. "Pergilah dan bawakan kabar tentang musuh." Hudzaifah tak tahu harus bagaimana. Bagaimana mungkin ia pergi di malam sedingin itu? Lalu Rasulullah ﷺ mendoakannya.
Ya Allah, jagalah dia dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, dan dari bawahnya." Hudzaifah berkata, "Saat itu juga rasa takutku hilang. Dan rasa dingin pun lenyap." Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: "Hudzaifah, sampai kau kembali, jangan lakukan apa pun yang membuat mereka curiga, Jangan lepaskan panah, jangan lemparkan batu, dan jangan ayunkan tombak atau senjata." Hudzaifah pun diam-diam menyusup ke perkemahan Quraisy. Di sana ia melihat Abu Sufyan, pemimpin kaum Quraisy, menghangatkan diri di dekat api. Hudzaifah berada di belakangnya. Busur dan panahnya siap. Pemimpin mereka tepat di depannya. Dengan satu anak panah, ia bisa memberi pukulan besar.
Namun ia teringat pesan Rasulullah ﷺ dan menahan diri. Di balik itu ada ketetapan Ilahi. Allah menjaga hamba-Nya yang kelak diberi hidayah agar tak mati dalam kekafiran. Hudzaifah lalu menyatu di tengah kerumunan mereka. Abu Sufyan hendak mengumumkan keputusan penting. Namun ia merasa ragu. Karena terlalu gelap untuk mengenal wajah, ia mengambil langkah waspada. "Pegang lengan orang di sampingmu dan tanyakan namanya." Hudzaifah hampir tertangkap. Tapi Allah memberi ilham ke dalam hatinya.
Saat yang lain hanya memegang orang di sebelahnya, ia langsung memegang lengan kedua pria yang berada di kanan dan kirinya, lalu bertanya tegas: "Siapa kau?" Mereka menyebutkan nama, dan tak ada yang menyadarinya. "Wahai kaumku! Angin kencang ini telah menghancurkan segala yang kita punya. Kuda dan unta kita mulai mati. Berkemaslah dan segera pergi! Aku telah memutuskan untuk mundur." Hudzaifah memperoleh informasi dan segera kembali. Ia masih tak merasakan dingin. Namun begitu ia tiba di sisi Rasulullah ﷺ, rasa dingin itu kembali. Ia mendapati Rasulullah ﷺ sedang salat dengan khusyuk. Saat beliau menerima kabar gembira itu, Rasulullah ﷺ merasa sangat lega. Akhirnya musuh bersiap mundur.
Pada suatu malam, Allah mengirim angin sangat kencang hingga pasir gurun beterbangan dan tenda-tenda kaum musyrik terkoyak. Badai meniup pasir ke wajah mereka, kuda dan unta pun panik, berlarian ke segala arah. Segalanya menjadi kacau balau. Pasukan musuh tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dalam derita dan panik, mereka mundur dan lari tanpa menoleh lagi. Surah Al-Ahzab menggambarkan momen itu: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu.
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Pengepungan berakhir, dan musuh pun terusir. Namun para pengkhianat Muslim masih berada di Madinah. Pengkhianatan mereka tak bisa diabaikan. Rasulullah ﷺ baru kembali dari parit dan belum melepas baju perangnya saat tiba-tiba malaikat Jibril AS muncul di hadapannya. Ia berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?” Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, benar." Jibril berkata, "Demi Allah, kami belum meletakkan senjata kami. Keluarlah menuju mereka." Pertempuran belum usai. Target berikutnya jelas: Bani Quraizhah. Kaum Yahudi tahu pengkhianatan mereka takkan dibiarkan tanpa hukuman.
Mereka berkata, "Demi Allah, Muhammad akan mencari kita." Mereka berlindung di benteng-benteng kuat. Merasa aman di balik tembok, mereka melontarkan hinaan berat kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tak berniat menyerah. Mereka bergantung pada janji yang diberikan kaum munafik Madinah. Kaum munafik diam-diam mengirim pesan: "Jangan tinggalkan Madinah. Kami akan membantu kalian." Tapi ada satu hal yang dilupakan kaum Yahudi. Kaum munafik tak pernah menepati janji. Saat itu, dua pria di antara mereka tiba-tiba berseru, "Inilah orang yang dahulu disebutkan oleh Ibnu Hayyaban. Jangan perangi dia." Siapakah mereka ini? Dan siapa Ibnu Hayyaban yang dimaksud? Apa yang ia nubuatkan?
Ibnu Hayyaban adalah ulama Yahudi yang datang ke Madinah sebelum kenabian Rasulullah ﷺ. Ia berkata, "Datangnya Nabi sudah dekat. Dan inilah tempat hijrahnya nanti." Jauh sebelum misi Nabi dimulai, ia telah memberi tahu Bani Nadhir tentang beliau. Lalu ia wafat di sana. Saat ia berkata demikian, dua bersaudara, Usaid dan Tsa'labah juga ada di sana dan mendengarnya dengan jelas. Dan kini, mereka mengabaikan seruan dua bersaudara itu. Bani Quraizhah terjebak dalam benteng mereka. Bantuan kaum munafik yang dinanti tak kunjung datang. Akhirnya mereka sadar kepungan takkan berhenti. Dengan putus asa, mereka minta berunding dengan Rasulullah ﷺ.
"Demi Tuhan, kami takkan menyerah kecuali syarat kami dipenuhi!" Namun jawabannya tegas. "Tidak. Kalian harus menyerah dan terima keputusanku tanpa syarat." Sadar tak ada pilihan lain, kaum Yahudi itu akhirnya menyerah. Bani Quraizhah telah melakukan banyak kejahatan. Pertama, mereka melanggar perjanjian dan bersekutu dengan musuh. Selain itu, alih-alih meminta maaf, mereka menghina Rasulullah ﷺ. Meski penuh pengkhianatan, Rasulullah ﷺ memperlakukan mereka dengan cara tak tertandingi. Beliau memerintahkan agar hukuman dilakukan murni karena Allah, bukan karena marah atau balas dendam. Sebab dalam syariat Islam, hukuman tak boleh dicampuri emosi pribadi.
Mungkin terdengar mengejutkan, saat mereka akan dieksekusi, beliau memerintahkan mereka diberi makan, minum, dan susu. Hari itu sangat panas, dan beliau tak ingin eksekusi dilakukan dalam terik itu. Beliau berkata, "Jangan kalian gabungkan kepada mereka panas matahari dan panas pedang." Subhanallah (Maha Suci Allah). Perang Khandaq menjadi titik balik bagi kaum Muslimin. Tiga kabilah Yahudi telah terusir dari Madinah, dan kaum musyrik tak lagi jadi ancaman. Rasulullah ﷺ berkata: "Setelah peperangan ini, kita akan menyerang mereka, dan mereka takkan menyerang kita." Dan itulah yang terjadi.
Kaum musyrik takkan mampu bangkit kembali, sedang kaum Muslimin kian hari semakin kuat di seluruh Jazirah Arab. Pada tahun kelima Hijrah, Rasulullah ﷺ menerima kabar bahwa suku Bani Musthaliq telah menganggap kekuatan Madinah sebagai ancaman dan berencana menyerang. Begitu Rasulullah ﷺ mendengar kabar itu, beliau mengumpulkan sekitar 700 sahabat. Setelah matahari terbit, mereka tiba di lokasi perkemahan Bani Musthaliq. Kabilah itu sama sekali tak siap. Rasulullah ﷺ mengatur formasi pasukan, dan dengan serangan mendadak, ancaman itu pun dilenyapkan. Musuh telah dikalahkan. Namun musuh yang lebih berbahaya ada di dalam pasukan. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, masalah besar muncul.
Di tengah semua itu ada pemimpin munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Jika ia tinggal di Madinah saat Rasulullah ﷺ pergi, ia bisa saja menimbulkan kekacauan. Karena itu Rasulullah ﷺ membawanya dalam perjalanan. Saat bersama kaum Muslimin, ia memuji dan mendukung Rasulullah ﷺ. Namun saat sendirian dengan teman dekatnya, ia mencela Islam dan mengejek kaum beriman.
Tentang dia dan yang serupa dengannya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok." Setiap Jumat, ia datang ke Masjid Nabawi dan duduk bersama kaum Muslimin. Ia mendengarkan khutbah Rasulullah ﷺ, dan setelah selesai, ia berdiri lalu berseru: "Wahai manusia! Tolonglah Rasul ini yang Allah utus di tengah kalian! Melaluinya, Allah memuliakan kalian, menjadikan kalian unggul dan menang. Maka dengarkanlah, hormati, dan taatilah beliau." Ia melakukan itu setiap Jumat.
Hingga saat di Uhud, ia menarik 300 orang keluar dari pasukan. Biasanya saat dipanggil untuk berperang, ia tak akan ikut. Ia selalu mencari alasan untuk tetap tinggal. Namun kali ini ia ikut, karena tak melihat bahaya besar dan mengincar harta rampasan. Sekaligus mencari peluang menebar masalah dan perpecahan di antara kaum Muslimin yang kian hari semakin kuat. Dan kesempatan itu datang dua kali. Apa peristiwa pertama itu? Dalam perjalanan pulang, pasukan Muslim berkemah dekat sumur. Mereka bergantian mengambil air. Namun perselisihan kecil jadi peluang bagi kaum munafik.
Saat Jahjah bin Mas'ud dari kaum Muhajirin dan Sinan bin Wabar dari kaum Anshar mengambil air dari sumur yang sama, terjadi pertengkaran di antara mereka. Keadaan memanas, dan Jahjah maju dengan marah ke arah Sinan. Melihat itu, Sinan berseru: "Wahai Muhajirin! Di mana kalian? Tolonglah aku!" Sekejap, Ansar dan Muhajirin yang dahulu menjadi contoh persaudaraan erat, kini saling berhadapan. Pemimpin munafik, Abdullah bin Ubay, melihat peluang sempurna untuk menebar fitnah, dan memanfaatkannya sepenuhnya. "Wahai Anshar, Muhajirin meraih kekuatan dan kemuliaan karena kalian, tapi kini mereka memperlakukan kalian dengan sombong dan hina. Kalian menyambut mereka dan memberi mereka tempat tinggal.
Berbagi harta dan makanan dengan mereka. Kalian sendiri penyebab kehinaan yang kalian rasakan. Demi Allah, jika kembali ke Madinah, yang mulia akan mengusir yang hina." Ia menyinggung Rasulullah ﷺ dan Muhajirin, ma'adzallah. Ucapan provokatif itu memperkeruh suasana. Saat Rasulullah ﷺ mendengar kejadian itu, beliau segera menemui para sahabat. Beliau berkata tegas, "Apa seruan jahiliah ini?" Setelah melihat Anshar dan Muhajirin terlibat konflik karena hal kecil, beliau berkata: "Tinggalkan seruan jahiliah itu, karena ia busuk." Beliau memperingatkan keras karena penyebab semua ini adalah kesombongan suku, rasisme, dan perasaan lebih kaya.
Tapi dalam Islam, kemuliaan berasal dari takwa kepada Allah; yaitu sadar kepada-Nya, menjauhi dosa, dan menaati perintah-Nya. Ucapan Rasulullah ﷺ itu sangat menyentuh hati para sahabat. Sinan pun memaafkan Jahjah. Orang-orang yang tetap menyombongkan sukunya dengan cara ini, Rasulullah ﷺ kemudian berkata: "Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyyah (fanatisme kelompok), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena 'ashabiyyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena 'ashabiyyah." Setelah peristiwa itu, Rasulullah ﷺ membuat keputusan tak biasa. Di terik siang hari, beliau memerintahkan pasukan Muslim bergerak ke Madinah.
Sebelumnya mereka tak pernah berangkat di panas seterik itu. Namun ada hikmah di balik perintah itu. Beliau ingin para sahabat tak membahas ucapan Abdullah bin Ubay. Mereka berangkat sore hari, dan tak berhenti hingga fajar menyingsing. Mereka sangat letih dan kurang tidur hingga sulit berdiri. Mereka terhenti, dan langsung tertidur lelap. Dengan begitu pikiran mereka teralihkan, dan masalah berhasil dicegah agar tak semakin besar. Dari peristiwa ini, Rasulullah ﷺ memberi pelajaran sepanjang masa. Seorang Muslim perlu terus menyibukkan diri. Jangan bermalas-malasan. Karena berdiam diri dan bermalas-malasan membuka pintu ke kenikmatan haram dan akhirnya perbuatan dosa.
Apakah pemimpin munafik itu berhenti setelah peristiwa ini? Tentu tidak. Ia masih mencari peluang menebar fitnah. Sekejap, ia menemukan peluang kedua. Kali ini ia berani memfitnah keluarga Rasulullah ﷺ sendiri. Saat pasukan kembali menuju Madinah, terlihat dua orang berusaha menyusul mereka. Satu menunggang unta, dan satu lagi berjalan di sebelah memegang talinya. Yang di atas unta adalah ibunda Aisyah RA. Dan yang menuntunnya Shafwan bin Mu'aththal. Abdullah bin Ubay memutarbalikkan kejadian itu dan melontarkan tuduhan keji atas istri Rasulullah ﷺ yang suci dan terhormat.
"Demi Allah, ia tidak bersih darinya, dan ia pun tak bersih darinya." Ia menyiratkan, Ma'adzallah, telah terjadi sesuatu di antara mereka. Dengan ucapan itu, ia memulai fitnah besar. Tuduhan keji itu menyebar cepat di tengah pasukan. Dari satu orang ke yang lain. Lalu, bagaimana kebenaran sesungguhnya? Mari kembali ke awalnya. Setiap Rasulullah ﷺ bepergian, beliau mengajak salah satu istrinya pergi bersamanya. Kali ini yang ikut adalah ibunda Aisyah RA. Saat pasukan beristirahat, Aisyah menjauh dari pasukan untuk suatu keperluan. Saat ia kembali, mereka bersiap berangkat. Namun saat itu, ia sadar kalungnya hilang.
Mengira bahwa pasukan takkan pergi tanpa dirinya, lalu kembali mencarinya di tempat semula dia berada. Tapi butuh waktu untuk menemukannya. Saat itu, pasukan sudah berangkat, tanpa sadar bahwa ia tertinggal. Dulu, demi menjaga privasi, wanita bepergian di dalam tempat tertutup, semacam tenda di atas punggung unta yang disebut haudaj. Karena tubuh Aisyah RA ringan, sahabat yang mengangkat haudaj tak sadar ia tak di dalam. Mereka pun berangkat. Saat ibunda Aisyah kembali, pasukan sudah berangkat. Karena berbahaya berjalan sendirian di gurun, ia memutuskan tetap di tempatnya. Ia berpikir, "Mereka akan sadar aku tertinggal dan akan kembali." Beberapa waktu kemudian, ia tertidur.
Saat ia tidur, seseorang mendekat perlahan. Ia adalah Shafwan bin Mu'aththal. Shafwan bertugas mengumpulkan barang yang tertinggal. Ia selalu berada di belakang untuk mengambil barang yang terjatuh dan tertinggal dan membawanya ke perkemahan. Hari itu pun ia memeriksa area yang ditinggalkan pasukan, dan melihat seseorang tertidur di tanah. Saat sadar bahwa itu adalah Aisyah, ia berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mendengar suaranya, Aisyah RA terbangun. Tanpa berkata apa pun, Shafwan mendudukkan untanya, lalu menyingkir agar ia dapat naik dengan terjaga kehormatannya.
Ia memegang tali unta dan mulai menuntunnya ke arah pasukan. Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya menyusul pasukan. Saat Abdullah bin Ubay melihat itu, ia melihatnya sebagai peluang untuk menyakiti Rasulullah ﷺ dan dakwah beliau. Fitnah itu menyebar dari mulut ke mulut. Tak lama, seluruh Madinah diguncang olehnya. Sedihnya, tiga sahabat utama pun ikut mempercayai fitnah itu dan mulai membicarakannya. Saat fitnah menyebar di seluruh Madinah, ibunda Aisyah tak tahu apa yang terjadi. Karena tepat sejak kembali dari perjalanan, ia jatuh sakit parah dan harus terbaring lama. Karena tak tahu kabar itu, ia tak bisa membantah tuduhan itu atau membela diri.
Jelas bahwa ini adalah ujian lain dari Allah. Seperti yang terjadi di Perang Uhud. Ingat kekacauan saat kaum musyrik berteriak: "Aku telah membunuh Muhammad!" "Aku telah membunuh Muhammad!" "Aku telah membunuh Muhammad!" Padahal Rasulullah ﷺ jatuh ke dalam lubang. Saat itu sahabat diuji untuk melihat siapa yang tetap teguh di medan perang, dan siapa yang mundur. Kini ujiannya berbeda. Ini tentang siapa yang ikut serta menyebarkan kabar yang mereka sendiri tidak lihat, dan siapa yang menjauhinya. Allah menjaga Aisyah RA dari mengetahui kabar itu. Seiring waktu, mereka yang berkata "Jika tak ada bukti, itu hanyalah fitnah," dan siapa yang membantu menyebarkannya terungkap satu per satu.
Itu ujian yang sangat berat, yang hanya wanita seteguh Aisyah RA mampu menanggungnya. Ibunda kita masih belum tahu. Namun ia mulai melihat perubahan pada sikap Rasulullah ﷺ. Beliau tak lagi menunjukkan cinta dan kasih seperti dulu. Beliau bahkan tak menyebut namanya. Saat beliau ingin tahu keadaan Aisyah, beliau bertanya pada ibunya, "Bagaimana keadaan pasienmu?" Sikap itu terasa amat berat di hati Aisyah RA. Ia tak mengerti mengapa Rasulullah ﷺ bersikap demikian. Sekitar 20 hari kemudian, ia akhirnya cukup pulih untuk bangkit dan pergi ke luar bersama ibu Misthah bin Utsatsah. Saat mendengar kabar tentang dirinya, ia sangat kaget, gemetar, jatuh, dan pingsan.
Hari-hari berikutnya, ia menangis hingga kondisinya makin memburuk. Setiba di rumah orang tuanya, ia berkata: "Ibuku terkasih, apa yang orang katakan tentangku? Mengapa tak kau beri tahu aku?" Ia pun menangis tersedu. Ibunya berusaha menenangkannya. Saat itu, Abu Bakar RA sedang membaca Al-Qur'an di atap rumah. Mendengar tangisan putrinya, ia turun, duduk di sampingnya dan menenangkannya. Hatinya yakin penuh akan kesucian putrinya. Namun rumah itu dipenuhi dengan kesedihan mendalam karena fitnah keji itu. Ini salah satu ujian terberat yang bisa dialami seorang wanita. Walau ia membela diri, semua orang sudah mendengar fitnah itu. Sebagian orang bahkan mempercayainya.
Padahal tak seorang pun melihat dengan mata sendiri. Mereka hanya ikut mengulang ucapan orang lain. Dari luar, tampak hanya sekadar kata-kata. Terlihat seperti hal kecil. Tapi kenyataannya, beratnya, dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah sangatlah besar. Peristiwa ini menunjukkan betapa bahayanya lisan. Dan mengapa menuduh seseorang berzina termasuk dalam tujuh dosa besar. Hanya dengan satu kata, ketenangan banyak keluarga bisa hancur. Bahkan tidak ada sedikit pun tanda bahwa Aisyah RA bersalah. Namun orang-orang munafik tidak mau berhenti berbicara. Hari-hari itu terasa lebih berat bagi Aisyah RA daripada apa pun yang pernah ia alami.
"Air mataku tak berhenti, dan aku pun tidak bisa tidur. Aku terus menangis hingga aku merasa hatiku seakan pecah karena tangisan." Melihat keadaannya seperti itu, seorang wanita Anshar datang dan meminta izin untuk menemaninya dan menangis bersamanya. Ketika Aisyah mengizinkan, mereka pun menangis bersama. Sementara itu, Abdullah bin Ubay, orang yang memulai fitnah ini dan menyebabkan semua penderitaan ini, merasa senang dengan keadaan tersebut. Ia telah mencapai apa yang diinginkannya. Ia telah mengguncang kaum Muslimin dengan kebohongan yang keji. Ke mana pun ia pergi, ia terus membicarakannya, melakukan segala cara yang ia bisa untuk semakin menyebarkannya.
Rasulullah ﷺ sangat mengetahui bahwa Aisyah tercintanya sama sekali tidak bersalah atas tuduhan tersebut. Namun melihat fitnah yang kejam dan penuh tipu daya itu menyebar begitu cepat di tengah masyarakat sangat membebani hatinya. Dan di hari-hari yang menyakitkan itu, beliau tidak dapat membela ibu kita Aisyah tanpa adanya bukti. Seandainya beliau melakukannya, orang-orang munafik akan menuduhnya berpihak kepada istrinya karena cinta dan kasih sayangnya. Dan itu tidaklah sesuai dengan rasa keadilan seorang Nabi. Dan orang-orang yang mengaku Muslim itu tidaklah sedikit jumlahnya. Maka Rasulullah ﷺ tak punya pilihan selain menunggu. Beliau menunggu wahyu dari Allah.
Namun sebagai bagian dari ujian ilahi ini, wahyu itu tidak datang selama satu bulan penuh. Bukankah penantian panjang ini sekali lagi membuktikan bahwa beliau sungguh seorang Nabi? Bahwa wahyu itu datang kepadanya hanya dari Allah? Jika Rasulullah ﷺ berbicara dari hawa nafsunya sendiri, jika, ma'adzallah, beliau mengada-adakan ayat-ayat Al-Qur’an, apakah beliau akan membiarkan dirinya mengalami kesulitan seperti itu selama sebulan penuh? Lupakan 30 hari, beliau bisa saja mengarang satu ayat dalam 30 menit dan langsung mengakhiri perkara itu. Ma'adzallah. Meski dalam kesedihan mendalam, beliau menunggu dengan sabar datangnya wahyu. Rasulullah ﷺ pergi ke rumah orang tua Aisyah.
Beliau melihat istrinya dan berkata: “Wahai Aisyah, telah sampai kepadaku berita begini dan begitu tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah, maka Allah akan membebaskanmu dari tuduhan itu. Namun jika engkau telah melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya." "Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar berita itu hingga tertanam dalam hati kalian dan kalian menganggapnya benar. Jika aku katakan bahwa aku tidak bersalah, dan Allah tahu aku tidak bersalah, kalian tidak akan mempercayaiku. Namun jika aku mengakui sesuatu padahal Allah tahu aku tidak bersalah, kalian akan mempercayaiku.
Aku tidak menemukan perumpamaan bagiku dan bagi kalian kecuali seperti perkataan ayah Nabi Yusuf saat ia berkata, 'maka hanya bersabar itulah yang terbaik bagiku.' Dan kepada Allah saja tempat memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." Dan itulah yang benar-benar ia lakukan. Ia tetap bersabar, dan dengan air mata di matanya, ia menghadap Allah dan memohon pertolongan-Nya. Aisyah RA baru saja selesai berbicara ketika keadaan yang berbeda tiba-tiba menyelimuti Rasulullah ﷺ. Butiran keringat mulai menetes dari dahi beliau yang mulia. Itu adalah tanda bahwa hari-hari panjang penantian akhirnya telah berakhir. Pesan Allah, wahyu, sedang diturunkan.
Tapi ibu kita Aisyah sama sekali tak khawatir. Ia yakin bahwa Allah akan menampakkan keadilan-Nya dan bahwa ketidakbersalahannya segera akan menjadi jelas bagi semua orang. Ketika keadaan menerima wahyu itu akhirnya diangkat dari Rasulullah ﷺ, senyuman lebar tampak di wajah beliau yang mulia. Beliau melihat Aisyah dan berkata: "Wahai Aisyah, Allah telah menyatakan ketidakbersalahanmu!" Dalam ayat-ayat yang diturunkan itu, Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya.
Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)." Kesedihan yang memenuhi rumah itu selama berhari-hari akhirnya hilang. Rasulullah ﷺ, Aisyah, dan kedua orang tuanya semuanya menarik napas lega. Setelah sebulan penuh kesulitan dan penantian, ayat-ayat itu akhirnya menegaskan ketidakbersalahan Aisyah. Dan dengan itu, fitnah yang telah menyebar di seluruh Madinah akhirnya berakhir. "Kebenaran akhirnya terungkap. Aku yakin Aisyah sekarang bahagia dan tenang.
Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)." Setelah ayat yang membebaskan Aisyah RA dari tuduhan tersebut, dan menyebutkan hukuman bagi orang yang memulainya, ayat-ayat lain pun diturunkan. Kali ini, tentang orang-orang yang menyebarkan fitnah itu. "(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu perkara besar." Karena fitnah itu adalah dosa, pelanggaran terhadap kehormatan dan hak seseorang, mereka harus menghadapi hukumannya.
Tiga sahabat yang telah mempercayai dan mengulang rumor itu, dan dengan demikian tanpa sengaja membantu penyebarannya, dipanggil menghadap Rasulullah ﷺ. "Rasulullah ﷺ memanggil kalian." Mereka berjalan masuk perlahan, dengan hati yang penuh penyesalan. Rasulullah ﷺ tidak menunjukkan kemarahan dan dendam pada mereka. Tapi hukuman bagi fitnah, dan bagi orang yang ikut serta di dalamnya, telah jelas dalam Islam. Mereka menerima 80 kali cambukan dengan tongkat di depan umum. Hukuman ini menjadi pelajaran penting bukan hanya bagi mereka, tetapi bagi seluruh penduduk Madinah. Orang-orang yang menyaksikan hukuman itu takkan lagi berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Bukan hanya untuk peristiwa ini, tapi juga untuk kejahatan-kejahatan besar, Islam menetapkan aturan dan hukuman yang jelas untuk mencegah orang melakukannya. Tujuan utamanya adalah pencegahan. Dan sebagai hasilnya, tingkat kejahatan tetap sangat rendah. Namun selain itu, melalui aturan dan hukuman ini, Allah sebenarnya melindungi hamba-hamba-Nya dari sesuatu yang jauh lebih buruk: hukuman di akhirat. Dan ketika hukum-hukum ini diterapkan, tak ada yang diperlakukan tidak adil. Semua orang sama. Tidak ada keistimewaan bagi yang kuat atas yang lemah, yang kaya atas yang miskin, atau yang merdeka atas budak. Sebagai contoh, pernah terjadi kasus pencurian di Madinah.
Dan sekelompok orang dari Bani Makhzum mencoba memberi syafaat bagi seorang wanita yang telah mencuri, dan meminta Rasulullah ﷺ agar tidak melaksanakan hukuman tersebut. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar hal ini, beliau sangat marah. Beliau berdiri dan berkhutbah: “Wahai manusia! Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah apabila orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya.” Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Lalu bagaimana dengan Abdullah bin Ubay? Orang yang menyebabkan semua kekacauan itu.
Apakah dia tidak dihukum? Dan perbuatannya itu tak hanya terbatas pada satu kejadian ini. Ingat Perang Uhud? Dengan tipu dayanya, ia menyebabkan sekitar 300 pasukan dari tentara Muslim berbalik pulang sebelum perang dimulai. Ia diam-diam bekerja sama dengan kaum musyrik dan Yahudi, selalu berencana melawan kaum Muslim. Ia menyebar fitnah di antara orang-orang beriman, berusaha merusak ikatan persaudaraan di antara mereka. Rasulullah ﷺ tentu saja mengetahui semua yang dilakukan pemimpin munafik ini. Namun beliau memilih bersabar dan tetap diam. Suatu hari, Umar RA sampai pada titik ia tak lagi sanggup menoleransi fitnah yang ditimbulkan Abdullah bin Ubay.
Maka ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, izinkan aku memenggal kepala orang munafik ini!" Namun jawaban Rasulullah ﷺ menunjukkan hikmah di balik kesabaran beliau. Beliau bersabda, "Biarkan dia. Jika tidak, orang-orang akan berkata Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri." Jika kalian ingat, sebelum hijrah Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Ubay hampir saja menjadi raja Madinah. Ia bahkan telah membuat mahkotanya. Dia amat dihormati di tengah masyarakat. Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa masih banyak orang yang mempercayai Ibnu Ubay. Ia menyembunyikan kemunafikannya dengan sangat licik hingga banyak yang mengira ia Muslim yang tulus. Seseorang yang bisa mereka andalkan.
Jika Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mengeksekusinya, rumor bisa saja menyebar bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya. Suku-suku yang sedang berniat untuk menjadi Muslim bisa menjadi takut dan berkata, "Kapan saja ia mau, ia bisa membunuh kita juga." Maka untuk mencegah hal tersebut, Rasulullah ﷺ memilih bersabar. Bertahun-tahun kemudian, beliau akan melihat buah dari keputusan itu, empat tahun setelah peristiwa fitnah tersebut. Pada tahun ke-9 setelah Hijrah, Abdullah bin Ubay jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Putranya, Abdullah, adalah seorang Muslim yang saleh dan tulus.
Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku bajumu agar aku dapat mengkafani ayahku dengan baju itu." Kemudian ia meminta kepada Rasulullah ﷺ untuk memimpin salat jenazah dan mendoakan ampunan bagi ayahnya. Bisa bayangkan betapa beratnya hal itu bagi seorang anak? Ayahnya adalah salah satu musuh terbesar Islam sejak hari pertama Rasulullah ﷺ menginjakkan kaki di Madinah. Namun yang benar-benar luar biasa adalah bahwa Rasulullah ﷺ tidak menolaknya. Beliau memberikan bajunya sebagai kafan Abdullah bin Ubay. Saat beliau diberi tahu bahwa semuanya telah siap untuk pemakaman, beliau berangkat dan memimpin salat jenazah.
Beliau bahkan berjalan hingga ke kuburannya. Para sahabat merasa heran. Mengapa Rasulullah ﷺ memimpin salat jenazah seorang pria yang sepanjang hidupnya bersekongkol melawan Islam? Mengapa ia menunjukkan kebaikan pada orang yang berusaha mencelakai kaum Muslimin di setiap kesempatan? Pasti ada alasan, hikmah yang mendalam di baliknya. Dan memang benar ada. "Wahai Rasulullah ﷺ, mengapa engkau memberinya baju yang sedang engkau kenakan?" Ketika ditanya tentang hal itu, Rasulullah ﷺ berkata: "Bajuku dan salatku tak akan menyelamatkannya dari hukuman Allah.
Namun aku berharap dengan hal ini, seribu orang dari kaumnya akan memeluk Islam." Memang, perbuatan itu berdampak besar bagi orang-orang di sekitar Abdullah bin Ubay. Menurut sebagian riwayat, karena kesabaran dan kasih sayang Rasulullah ﷺ pada hari itu, sekitar 1.000 orang menerima Islam dengan hati yang tulus. Subhanallah. Selama bertahun-tahun, kaum Muslim rindu mengunjungi Ka’bah. Dan kini, waktunya akhirnya tiba. "Kita akhirnya akan pergi ke Makkah?" "Ya." Perjalanan ini akan dimulai karena sebuah mimpi yang dilihat Rasulullah ﷺ. Tapi perjalanan ini akan berakhir dengan cara yang tak pernah disangka siapa pun.
"Kalau begitu, kalian akan tetap di sini sebagai tawanan kami!" Dan kaum Muslim mendapati diri mereka menerima sebuah perjanjian yang sebenarnya tak ingin mereka terima. Perjanjian seperti apa itu? Dan apa yang terjadi dalam perjalanan yang luar biasa itu? Kita akan melihat semuanya di episode berikutnya, Insya Allah. Nantikan terus.
Menghadapi taktik perlawanan ini, musuh merasa kebingungan, karena belum pernah melihat hal seperti ini seumur hidup mereka. Tapi, bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana kaum Muslimin menyusun rencana untuk melawan pasukan sebesar ini? Dan yang terpenting, apa yang akan terjadi? Pengkhianatan, rencana rahasia, dan mukjizat. Mari kita saksikan kisah epik Perang Khandaq. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam tepercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Bani Nadhir kaum Yahudi diusir dari Madinah karena pengkhianatan mereka. Sebagian pergi ke Syam (Levant/Syria), lainnya ke Khaibar.
Khaibar memiliki populasi Yahudi terbesar dibandingkan daerah lain saat itu. Karena jumlah besar itu, mereka saling menyemangati berperang. Keyakinan itu mendorong mereka merencanakan balas dendam pada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Tapi tentu saja, ini bukan sesuatu yang bisa mereka lakukan sendiri. Lalu, mereka mengirim 19 orang membujuk kaum Quraisy dan kabilah Arab lain untuk berperang melawan Rasulullah ﷺ. Pertama mereka mendatangi Quraisy, lalu suku Ghathafan dan Bani Sulaim, serta banyak kabilah Arab lainnya. Karena itu perang ini juga disebut perang Ahzab, Perang Sekutu, karena banyak kabilah, besar dan kecil, saling bersatu melawan kaum Muslimin.
Sesuai rencana, tujuan pertama utusan adalah Makkah. Ingat akhir Perang Uhud? Abu Sufyan menantang Rasulullah ﷺ untuk bertemu lagi di Badar setahun kemudian. Rasulullah ﷺ menerimanya, dan tahun berikutnya berangkat bersama pasukannya ke Badar. Namun tak seorang pun ada di sana. Kaum Quraisy tak berani menghadapinya. Mereka mengalami kekalahan telak di Badar, dan sejak itu, Abu Sufyan membara dengan keinginan balas dendam. "Selamat datang. Kalian yang menolong kami melawan Muhammad adalah yang paling kami cinta." Islam terus berkembang, dan Quraisy sadar bahwa mereka tak mampu lagi melawannya sendirian. Maka mereka tak punya pilihan lain kecuali menerima tawaran itu.
Abu Sufyan ingin melihat apakah utusan Yahudi memang sungguh-sungguh dan serius akan hal ini. Ia pun menguji mereka, dan mendapati mereka lebih bersemangat darinya. Ia berkata, "Wahai kaum Yahudi, tentang perselisihan kami dengan Muhammad. Agama siapa lebih baik? Agama kami atau agamanya?" "Jika harus jujur di hadapan Allah, kalian lebih dekat pada kebenaran daripada dia." Padahal jauh di dalam hati, mereka tahu kenyataannya adalah sebaliknya. Namun, karena haus balas dendam, mereka tak ragu berdusta. Utusan Yahudi membuat perjanjian dengan Quraisy dan mendapat sekutu pertama. Namun itu belum cukup.
Agar mendapatkan lebih banyak dukungan, mereka mendatangi Ghathafan, yang tinggal antara Makkah dan Najd. Tak butuh waktu lama untuk meyakinkan mereka. Tak lama, Bani Sulaim pun ikut bergabung dengan mereka. Bukan hanya utusan Yahudi, kaum Quraisy juga giat membujuk suku-suku lain. Lalu mereka mendapat dukungan suku Ahabisy dan suku-suku sekutunya. Dengan semua kekuatan itu, pasukan mereka mencapai hampir 4000 orang. Setelah mendapat dukungan dari suku-suku sekitar Madinah, Bani Nadhir dan Quraisy akhirnya mengumpulkan 10.000 orang. "Dengan pasukan 10.000 orang, akan kita buat mereka menyesal dilahirkan!" Di saat itu, pesan tiba kepada Rasulullah ﷺ dari kabilah Khuza'ah. "Dia datang!
Abu Sufyan memimpin pasukan besar datang ke sini!" -"Berapa banyak?" -"Ribuan." "Kau lihat sendiri?" "Aku lewati pengintai mereka di lembah, cepat sekali." Rasulullah ﷺ segera mengumpulkan sahabat untuk bermusyawarah. Semua menyampaikan pendapat. Hingga muncul satu usulan yang mengubah segalanya. "Wahai Rasulullah ﷺ, di Persia, jika kami takut adanya serangan kavaleri, kami menggali parit mengelilingi kota sebagai perlindungan." Yang berbicara adalah Salman Al-Farisi, seorang sahabat dari Persia. Rasulullah ﷺ dan para sahabat belum pernah mendengar taktik itu. Rasulullah ﷺ merasa ide itu bagus dan menyetujuinya.
Mereka akan menggali parit yang lebar dan dalam, yang bahkan kuda tak bisa melompatinya. Sebelum itu, Rasulullah ﷺ menentukan lokasi penggalian parit. Satu sisi Madinah ada lahan luas dipenuhi batuan vulkanik. Di sisi lain, dipenuhi oleh kebun kurma. Pasukan tak bisa melewatinya. Di selatan berdiri gunung besar, membuat jalan masuk dari segala arah mustahil untuk dilalui. Seakan Allah telah menempatkan Madinah dalam perlindungan alami. Tinggal satu sisi yang masih terbuka. Di situlah lokasi parit panjang akan digali untuk menutup jalan musuh menuju kota. Tapi waktu mereka kurang dari 10 hari untuk menyelesaikannya. Semua orang mulai menggali sekuat tenaga.
Dan Rasulullah ﷺ yang memimpin langsung. Dengan cangkul dan sekop di tangan, beliau bekerja bersama sahabat, seraya terus menyemangati mereka. Meski panas dan lapar, mereka menggali seharian tanpa henti. Terkadang para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, beristirahatlah. Cukup kami saja yang bekerja. Engkau tak perlu bersusah payah." Beliau bisa saja tidak bekerja. Bagaimanapun, beliau Rasulullah ﷺ, dan tak ada yang akan keberatan. Namun beliaulah yang berkata, "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." Baginya, duduk dan melihat lebih berat daripada bekerja. Beliau tahu rahmat dan berkah Allah datang lewat kesulitan. Karena itu, beliau bekerja lebih keras dari siapa pun.
Tahun itu, Arabia dilanda kekeringan dan kelaparan parah. Banyak kaum Muslim mengikat batu di perut untuk menahan lapar. Dengan itu, mereka mencoba meredakan nyeri dengan rasa kenyang palsu. Merasa putus asa, sekelompok sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan penderitaan mereka. Namun saat melihat keadaan di hadapan mereka, kata-kata mereka tercekat. Sebab saat Rasulullah ﷺ membuka ikatan di perutnya, bukan satu, tapi dua batu jatuh. "Apakah engkau juga mengikat batu di perut? Karena lapar?" Beliau menanggung kesulitan yang sama, bahkan lebih berat dari mereka. Suatu hari, Jabir bin Abdullah RA melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan itu dan tak sanggup lagi.
Ia pulang dan berkata pada istrinya: “Aku melihat Rasulullah ﷺ tampak sangat lemah karena lapar. Orang lain pasti sudah pingsan dalam keadaan selemah itu. Adakah makanan di rumah?" Istrinya menjawab, "Demi Allah, kita tidak punya apapun selain kambing kecil ini dan sedikit gandum." Jabir menyembelih kambing itu, istrinya menggiling gandum jadi tepung. Daging dimasukkan ke periuk dan dimasak di tungku tanah liat. Saat Jabir hendak pergi mengundang Rasulullah ﷺ, istrinya berkata: "Tolong jangan membuatku dalam kesulitan di hadapan beliau." Maksudnya, jangan mengundang terlalu banyak orang, karena makanan yang mereka siapkan hanya cukup untuk beberapa orang.
Jabir mendatangi Rasulullah ﷺ dan memberitahunya bahwa mereka ada sedikit makanan. Ia meminta beliau datang bersama beberapa sahabat. Rasulullah ﷺ berkata sesuatu yang tak ia duga. Beliau memanggil semua sahabat yang sedang menggali parit dan berseru: "Saudara kita telah menyiapkan makanan untuk kalian." Apa yang ditakutkan istri Jabir kini benar terjadi. Makanannya hanya cukup untuk beberapa orang, namun kini seluruh pasukan sahabat akan datang. Saat Jabir pulang dan menceritakan, apa yang terjadi, istrinya bertanya: "Apakah Rasulullah ﷺ bertanya berapa banyak makanan kita?" "Ya." "Kalau begitu, tak mengapa." Ia yakin Rasulullah ﷺ mengetahui sesuatu yang tak mereka tahu.
Jabir pun bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Saat Rasulullah ﷺ tiba, beliau berdoa memohon berkah atas daging dan roti itu. Lalu beliau memanggil sahabat masuk, sepuluh orang sekali masuk. Beliau mengambil roti dari tungku dengan tangannya sendiri, meletakkan sepotong daging di atasnya, dan memberikannya sendiri kepada tiap sahabat. Mereka pun mulai merasakan kenyang. Namun daging dan roti itu tidak berkurang sedikit pun. Tetap seperti semula. Jabir dan istrinya takjub melihatnya. Tentang hari itu, Jabir berkata: "Demi Allah, seribu orang datang dan makan hingga kenyang. Namun periuk kami tetap mendidih dan roti terus dibuat dari adonan." Seribu orang menyaksikan mukjizat ini.
Dan saat kisah ini diceritakan berulang-ulang, tak satu pun dari mereka mengingkarinya. Pikirkanlah, bagaimana mungkin kaum yang hidup demi kebenaran akan menceritakan sesuatu yang tak pernah terjadi? Mungkinkah mereka semua, ma'adzallah, sepakat berdusta? Bagi para sahabat, mukjizat ini nyata adanya. Sering kali Allah memberi berkah melalui tangan Rasul-Nya ﷺ. Dalam Perang Badar dan Perang Tabuk, juga saat walimah, dan saat masa paceklik, mukjizat seperti ini terjadi berulang kali. Kadang disaksikan 180 orang, kadang 400, bahkan pernah 1.500 orang. Saat Rasulullah ﷺ dan para sahabat menggali parit, mereka menemukan batu besar yang sangat keras.
Seberapa pun keras usaha mereka, batu itu tak pecah. Mereka pun langsung melapor kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ datang dan mengambil kapak milik Salman Al-Farisi. Lalu beliau berkata, "Bismillah," dan memukul batu itu dengan keras. Dengan satu pukulan, sepertiga batu itu hancur. Beliau berseru: "Allahu Akbar! (Allah Maha Besar). Aku telah diberi kunci-kunci menuju Syam. Demi Allah, kini kulihat istana-istananya yang merah." Beliau memukul kedua kali, sepertiga lagi hancur. Beliau kembali berseru: "Allahu Akbar! Aku diberi kunci Persia. Demi Allah, kulihat istana putih Madain." Pada pukulan ketiga, beliau berseru: "Allahu Akbar! Aku diberi kunci Yaman.
Demi Allah, kulihat gerbang-gerbang Sana'a saat ini." Dengan pukulan terakhir itu, batu pun hancur total. Saat orang beriman mendengar kabar gembira ini, iman mereka semakin kuat. Bagaimana dengan kaum munafik? Bagaimana reaksi mereka? Dengan nada mengejek, mereka berkata: "Bagaimana bisa ia menjanjikan harta Kisra dan Kaisar, sedang kita tak aman bahkan untuk buang hajat?" Mereka hendak mematahkan semangat orang-orang di sekitar mereka. Pikirkanlah. Saat janji itu disampaikan, Madinah dikepung suku-suku musuh yang bersatu untuk membunuh seluruh kaum Muslimin. Kaum beriman bahkan belum sepenuhnya mengalahkan Quraisy. Mereka harus menggali parit untuk bertahan. Mereka lapar, haus, dan letih.
Namun yang benar-benar memberi janji itu adalah Allah, Tuhan langit dan bumi. Dan setiap kata yang Rasulullah ﷺ ucapkan adalah kebenaran. Dan satu per satu, kemenangan yang dijanjikan itu terwujud, dalam waktu yang singkat, di masa kekhalifahan Umar dan Utsman RA. Parit yang membuat pasukan musyrik tertegun itu selesai hanya dalam enam hari. Lebarnya sekitar 9 meter, sepanjang lima orang pria. Kedalamannya sekitar setengah dari itu. Begitu lebar hingga penunggang kuda paling mahir pun tak mampu melompatinya. Sepanjang hampir 6 kilometer, hanya satu bagian sempit yang bisa dilalui satu penunggang. "Kurasa mereka datang." Pasukan 10.000 kaum musyrikin dipimpin Abu Sufyan telah tiba.
Mereka menghadapi strategi perang yang belum pernah dilihat. Itu menjadi kekecewaan besar bagi mereka. "Berhenti! Hentikan kuda kalian!" "Apa ini? Apa yang terjadi?" "Berhenti! Hentikan kuda kalian!" Mereka mengira akan mudah masuk Madinah, menumpahkan darah di jalan, dan memburu Muslim satu per satu. -"Berhenti! Kubilang berhenti!" -"Ada apa?" Namun Abu Sufyan tak berniat mundur. Setelah bersiap, mereka mulai menembakkan hujan panah dari seberang parit. Panah berdesing di udara dengan desing menakutkan saat jatuh ke arah kaum Muslimin. Namun parit itu menjadi penghalang yang jauh lebih berat dari dugaan. Seberapa pun keras usaha mereka, mereka tak mampu menyeberanginya.
Ingat, ada bagian parit yang tidak terlalu lebar. Sebagian mencoba lewat sana, namun mereka ditebas sebelum berhasil menyeberang. Tetapi Amr bin Abdi Wudd berhasil melintas. Ia termasuk pejuang paling terkenal dan ditakuti di Arabia. Tertutup zirah dari kepala ke kaki, ia menarik kudanya dan berhenti tepat di hadapan pasukan Muslim. "Siapa yang mau melawanku?" Ali RA berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah, izinkan aku melawannya." Melihat tekad Ali, beliau berdoa, "Ya Allah, tolonglah dia." Ali RA maju ke medan perang. "Lihat, Ali... Ali maju." "Zulfiqar." "Siapa kau?" "Aku Ali, putra Abu Thalib." "Aku tak ingin menumpahkan darahmu.
Ayahmu dahulu sahabatku." "Demi Allah, aku ingin menumpahkan darahmu." Amr pun murka. Ia mengeluarkan pedangnya dan menaiki kudanya. Namun Ali berkata: "Bagaimana aku melawanmu saat aku berdiri sedang kau di atas kuda? Turun dan hadapilah aku!" Amr pun turun dan berdiri di hadapan Ali. "Ayo! Tunjukkan kemampuanmu." Ali memberinya dua pilihan: "Masuk Islam atau mundur." Namun Amr menolak keduanya. Duel dimulai saat Amr menyerang lebih dulu. Ali menahannya dengan perisai. Namun pedang menembus perisai dan melukai kepalanya. Debu membumbung tinggi menyelimuti keduanya, hingga tak seorang pun tahu apa yang terjadi di dalamnya. Selama beberapa saat, tak ada yang tahu hasilnya.
Hingga terdengar suara. "Allahu Akbar!" (Allah Maha Besar). Kepala Amr telah terpenggal. Suara itu berasal dari Ali RA. Saat Rasulullah ﷺ dan para sahabat mendengar takbir itu, mereka tahu Ali telah mengalahkannya. Mereka pun ikut berseru, "Allahu Akbar!" Dua atau tiga orang lagi menyeberang parit untuk menyerang Ali. Namun karena takut mati, mereka mundur. Musuh tak mendapat hasil apa-apa dari serangan mereka. Mereka memutuskan tetap bertahan dalam kepungan. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Beberapa hari, kedua pihak saling memanah satu sama lain dari jauh. Namun itu hanya membuat pertempuran menjadi semakin lama. Semakin lama berlangsung, semakin buruk bagi kaum Quraisy.
Karena cuaca menjadi semakin keras setiap harinya. Siang hari sangat terik, dan malam hari sangat dingin. Rasulullah ﷺ mengirim sekitar 500 sahabat ke Madinah untuk mengamankan kota. Dalam dinginnya malam, beliau berjaga di bagian parit yang paling sempit, karena khawatir musuh mencoba menyeberang. Aisyah RA berkata, saat Rasulullah ﷺ pulang, beliau menggigil kedinginan. Karena tanaman sekitar kota telah dipanen, hewan pasukan musuh tak punya pakan. "Tak ada pakan tersisa. Bekal kita terlalu sedikit." Jika begini terus, hewan mereka akan mati satu per satu. Karena mengira perang hanya sehari dua hari dan mereka bisa menang, mereka hanya membawa sedikit makanan.
Jika terus begini, mereka takkan bertahan lama. Abu Sufyan menyadari keadaan itu. Ia memerintahkan pasukannya untuk menghujankan panah lebih sering. Teramat banyak hingga kaum Muslimin sulit bergerak. Pasukan berkuda kaum Quraisy mendekat dari seberang kaum Muslim dan mulai memanah mereka. Serangannya begitu terus-menerus hingga Muslimin bertahan tanpa henti sampai matahari terbenam. Karena itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat tak sempat menunaikan Ashar tepat waktu.
Rasulullah begitu marah hingga mendoakan pasukan kaum musyrikin: "Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kubur mereka dengan api karena mereka telah menyibukkan kita dari salat Ashar!" Lalu beliau mengqadha salat itu, begitu pula para sahabat. Rasulullah tak pernah mendoakan buruk kaum yang melemparinya di Tha'if. Namun begitu besar pentingnya salat, hingga beliau berdoa demikian atas mereka yang menghalanginya. Pertempuran di parit masih sangat sengit. Namun pasukan musyrik bukan satu-satunya ancaman. Sesuatu yang Rasulullah ﷺ takutkan sejak awal kini benar-benar terjadi. Ingat Piagam Madinah yang dibuat setelah Hijrah?
Menurut perjanjian itu, suku-suku Madinah berjanji membela kota bersama-sama jika kota diserang. Tapi Bani Quraizhah melanggar janji itu. Parahnya lagi, mereka membantu musuh dan melakukan pengkhianatan besar. "Bani Quraizhah... melanggar janji. Benteng-benteng... dua ancaman. Kita sudah tahu itu. Sudah jelas mereka akan melanggar perjanjian." Mereka tinggal di benteng kokoh di bagian selatan Madinah. Dari sana, mereka merencanakan serangan terhadap kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ segera mengutus Sa’d bin Mu’adz dan beberapa sahabat lain untuk berbicara dengan mereka dan mencoba menghalangi keputusan itu. Namun kaum Yahudi itu tak menunjukkan tanda ingin berubah.
Mereka bertekad membinasakan kaum Muslimin. Kini bukan hanya panah dari luar yang datang, tetapi pasukan Yahudi dari selatan juga menekan kaum Muslimin. Yahudi Quraizhah tinggal di Madinah, di dalam kota. Artinya kaum Muslimin terkepung dari dua arah. Dan untuk membuat keadaan memburuk, orang-orang munafik kembali menebar fitnah dan berkata: "Allah dan Rasul-Nya tak menjanjikan apa pun selain janji palsu." Allah menggambarkan hari itu dalam Surah Al-Ahzab. "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.
Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat." Segalanya tampak berbalik melawan kaum Muslimin. Namun pada saat itulah Allah membuka jalan keluar. Sebuah peluang yang bisa mengubah jalannya perang. Nu’aim bin Mas’ud, pemimpin kabilah Asyja dari Ghathafan, telah masuk Islam namun belum memberitahu siapa pun. Ia diam-diam mendatangi Rasulullah ﷺ menyatakan iman. Usai bersyahadat dan menjadi seorang Muslim, ia berkata, "Wahai Rasulullah... Jika ada yang bisa kulakukan, perintahkanlah aku." Orang yang baru merasakan manisnya iman tak mungkin hanya berdiam diri. Ketika Rasulullah ﷺ melihat tekadnya, beliau menjadikannya peluang.
Beliau berkata, "Kembalilah ke pihak musuh dan lakukan apa pun untuk memecah belah mereka." Nu’aim memahami sepenuhnya apa yang diminta darinya. Nu’aim diam-diam menyusup ke tiga kelompok musuh, seolah ia belum memeluk Islam. Ia mendatangi Bani Quraizhah dan menanamkan keraguan. "Jika kaum Quraisy dan Ghathafan gagal mengalahkan kaum Muslimin, mereka akan pulang dan meninggalkan kalian. Dan Muhammad ﷺ akan dengan mudah menghukum kalian. Jika kalian tak ingin itu terjadi, mintalah kaum Quraisy dan Ghathafan memberi beberapa orang sebagai sandera.
Agar mereka tak mengkhianati kalian, karena takkan mungkin mereka mengorbankan orang sendiri." Setelah itu, Nu’aim mendatangi Quraisy dan berkata: "Bani Quraizhah menyesali keputusan menyerang kaum Muslimin, dan telah membuat perjanjian rahasia dengan mereka. Mereka berjanji kepada kaum Muslimin, sebagai tebusan pelanggaran perjanjian, akan menangkap 70 orang Quraisy untuk diserahkan dan dihukum mati. Jadi jika orang Yahudi meminta orang kalian sebagai sandera, jangan pernah menyetujuinya." Lalu ia mendatangi Ghathafan dan memperingatkan hal yang sama. Jika Yahudi meminta sandera, jangan serahkan siapa pun. Karena Nu’aim berasal dari Ghathafan, tak seorang pun mencurigainya.
Dan mereka langsung menerima nasihatnya. Sesuai ucapan Nu’aim, Bani Quraizhah meminta Quraisy dan Ghathafan menyerahkan sandera demi menjamin keamanan mereka. Kini kaum musyrik yakin bahwa Nu’aim berkata benar. Dan tentu saja mereka menolak menyerahkan siapa pun. Setelahnya, Abu Sufyan berkata tentang hari itu, "Jika mereka meminta seekor anak kambing pun, aku tak akan memberikannya." Maka rencana itu pun berhasil. Persekutuan berubah menjadi kecurigaan. Pengepungan berlangsung lama, dan persatuan mereka mulai runtuh. Baik kaum Muslimin maupun pasukan musuh sudah kelelahan. Lapar, haus, dan dingin mendorong keduanya ke batas kemampuan. Namun ada satu perbedaan di antara mereka.
Kaum Muslimin mengambil kekuatan dari Allah, Tuhan langit dan bumi, Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kaum musyrikin bergantung pada berhala tak bernyawa, batu-batu yang tak punya daya apa pun. Rasulullah ﷺ ingin mengetahui apa yang dilakukan pasukan musuh dan apa rencana mereka. Malam itu, beliau mengutus seseorang ke perkemahan mereka. Beliau meminta sekelompok kecil kaum Muslim yang berdiri menjaganya: "Siapa yang akan membawakan berita tentang mereka, dan Allah menjadikannya temanku pada Hari Kiamat?" Mungkin kau berpikir, suatu kehormatan! Siapa yang tak menginginkannya? Namun malam itu begitu berat hingga tak seorang pun menjawab.
Hudzaifah bin Al-Yaman, yang hadir malam itu, berkata: "Kami membungkus diri dengan kain seadanya, berusaha tetap bertahan karena dingin yang membeku, lapar, dan kengerian malam. Aku belum pernah melihat malam segelap ini atau angin sekeras itu. Begitu gelap hingga kami tak bisa melihat ujung jari sendiri. Dan angin mengaum seperti petir." Ketika tak ada yang menjawab, Rasulullah ﷺ memanggil Hudzaifah. "Pergilah dan bawakan kabar tentang musuh." Hudzaifah tak tahu harus bagaimana. Bagaimana mungkin ia pergi di malam sedingin itu? Lalu Rasulullah ﷺ mendoakannya.
Ya Allah, jagalah dia dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, dan dari bawahnya." Hudzaifah berkata, "Saat itu juga rasa takutku hilang. Dan rasa dingin pun lenyap." Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: "Hudzaifah, sampai kau kembali, jangan lakukan apa pun yang membuat mereka curiga, Jangan lepaskan panah, jangan lemparkan batu, dan jangan ayunkan tombak atau senjata." Hudzaifah pun diam-diam menyusup ke perkemahan Quraisy. Di sana ia melihat Abu Sufyan, pemimpin kaum Quraisy, menghangatkan diri di dekat api. Hudzaifah berada di belakangnya. Busur dan panahnya siap. Pemimpin mereka tepat di depannya. Dengan satu anak panah, ia bisa memberi pukulan besar.
Namun ia teringat pesan Rasulullah ﷺ dan menahan diri. Di balik itu ada ketetapan Ilahi. Allah menjaga hamba-Nya yang kelak diberi hidayah agar tak mati dalam kekafiran. Hudzaifah lalu menyatu di tengah kerumunan mereka. Abu Sufyan hendak mengumumkan keputusan penting. Namun ia merasa ragu. Karena terlalu gelap untuk mengenal wajah, ia mengambil langkah waspada. "Pegang lengan orang di sampingmu dan tanyakan namanya." Hudzaifah hampir tertangkap. Tapi Allah memberi ilham ke dalam hatinya.
Saat yang lain hanya memegang orang di sebelahnya, ia langsung memegang lengan kedua pria yang berada di kanan dan kirinya, lalu bertanya tegas: "Siapa kau?" Mereka menyebutkan nama, dan tak ada yang menyadarinya. "Wahai kaumku! Angin kencang ini telah menghancurkan segala yang kita punya. Kuda dan unta kita mulai mati. Berkemaslah dan segera pergi! Aku telah memutuskan untuk mundur." Hudzaifah memperoleh informasi dan segera kembali. Ia masih tak merasakan dingin. Namun begitu ia tiba di sisi Rasulullah ﷺ, rasa dingin itu kembali. Ia mendapati Rasulullah ﷺ sedang salat dengan khusyuk. Saat beliau menerima kabar gembira itu, Rasulullah ﷺ merasa sangat lega. Akhirnya musuh bersiap mundur.
Pada suatu malam, Allah mengirim angin sangat kencang hingga pasir gurun beterbangan dan tenda-tenda kaum musyrik terkoyak. Badai meniup pasir ke wajah mereka, kuda dan unta pun panik, berlarian ke segala arah. Segalanya menjadi kacau balau. Pasukan musuh tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dalam derita dan panik, mereka mundur dan lari tanpa menoleh lagi. Surah Al-Ahzab menggambarkan momen itu: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu.
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Pengepungan berakhir, dan musuh pun terusir. Namun para pengkhianat Muslim masih berada di Madinah. Pengkhianatan mereka tak bisa diabaikan. Rasulullah ﷺ baru kembali dari parit dan belum melepas baju perangnya saat tiba-tiba malaikat Jibril AS muncul di hadapannya. Ia berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?” Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, benar." Jibril berkata, "Demi Allah, kami belum meletakkan senjata kami. Keluarlah menuju mereka." Pertempuran belum usai. Target berikutnya jelas: Bani Quraizhah. Kaum Yahudi tahu pengkhianatan mereka takkan dibiarkan tanpa hukuman.
Mereka berkata, "Demi Allah, Muhammad akan mencari kita." Mereka berlindung di benteng-benteng kuat. Merasa aman di balik tembok, mereka melontarkan hinaan berat kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tak berniat menyerah. Mereka bergantung pada janji yang diberikan kaum munafik Madinah. Kaum munafik diam-diam mengirim pesan: "Jangan tinggalkan Madinah. Kami akan membantu kalian." Tapi ada satu hal yang dilupakan kaum Yahudi. Kaum munafik tak pernah menepati janji. Saat itu, dua pria di antara mereka tiba-tiba berseru, "Inilah orang yang dahulu disebutkan oleh Ibnu Hayyaban. Jangan perangi dia." Siapakah mereka ini? Dan siapa Ibnu Hayyaban yang dimaksud? Apa yang ia nubuatkan?
Ibnu Hayyaban adalah ulama Yahudi yang datang ke Madinah sebelum kenabian Rasulullah ﷺ. Ia berkata, "Datangnya Nabi sudah dekat. Dan inilah tempat hijrahnya nanti." Jauh sebelum misi Nabi dimulai, ia telah memberi tahu Bani Nadhir tentang beliau. Lalu ia wafat di sana. Saat ia berkata demikian, dua bersaudara, Usaid dan Tsa'labah juga ada di sana dan mendengarnya dengan jelas. Dan kini, mereka mengabaikan seruan dua bersaudara itu. Bani Quraizhah terjebak dalam benteng mereka. Bantuan kaum munafik yang dinanti tak kunjung datang. Akhirnya mereka sadar kepungan takkan berhenti. Dengan putus asa, mereka minta berunding dengan Rasulullah ﷺ.
"Demi Tuhan, kami takkan menyerah kecuali syarat kami dipenuhi!" Namun jawabannya tegas. "Tidak. Kalian harus menyerah dan terima keputusanku tanpa syarat." Sadar tak ada pilihan lain, kaum Yahudi itu akhirnya menyerah. Bani Quraizhah telah melakukan banyak kejahatan. Pertama, mereka melanggar perjanjian dan bersekutu dengan musuh. Selain itu, alih-alih meminta maaf, mereka menghina Rasulullah ﷺ. Meski penuh pengkhianatan, Rasulullah ﷺ memperlakukan mereka dengan cara tak tertandingi. Beliau memerintahkan agar hukuman dilakukan murni karena Allah, bukan karena marah atau balas dendam. Sebab dalam syariat Islam, hukuman tak boleh dicampuri emosi pribadi.
Mungkin terdengar mengejutkan, saat mereka akan dieksekusi, beliau memerintahkan mereka diberi makan, minum, dan susu. Hari itu sangat panas, dan beliau tak ingin eksekusi dilakukan dalam terik itu. Beliau berkata, "Jangan kalian gabungkan kepada mereka panas matahari dan panas pedang." Subhanallah (Maha Suci Allah). Perang Khandaq menjadi titik balik bagi kaum Muslimin. Tiga kabilah Yahudi telah terusir dari Madinah, dan kaum musyrik tak lagi jadi ancaman. Rasulullah ﷺ berkata: "Setelah peperangan ini, kita akan menyerang mereka, dan mereka takkan menyerang kita." Dan itulah yang terjadi.
Kaum musyrik takkan mampu bangkit kembali, sedang kaum Muslimin kian hari semakin kuat di seluruh Jazirah Arab. Pada tahun kelima Hijrah, Rasulullah ﷺ menerima kabar bahwa suku Bani Musthaliq telah menganggap kekuatan Madinah sebagai ancaman dan berencana menyerang. Begitu Rasulullah ﷺ mendengar kabar itu, beliau mengumpulkan sekitar 700 sahabat. Setelah matahari terbit, mereka tiba di lokasi perkemahan Bani Musthaliq. Kabilah itu sama sekali tak siap. Rasulullah ﷺ mengatur formasi pasukan, dan dengan serangan mendadak, ancaman itu pun dilenyapkan. Musuh telah dikalahkan. Namun musuh yang lebih berbahaya ada di dalam pasukan. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, masalah besar muncul.
Di tengah semua itu ada pemimpin munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Jika ia tinggal di Madinah saat Rasulullah ﷺ pergi, ia bisa saja menimbulkan kekacauan. Karena itu Rasulullah ﷺ membawanya dalam perjalanan. Saat bersama kaum Muslimin, ia memuji dan mendukung Rasulullah ﷺ. Namun saat sendirian dengan teman dekatnya, ia mencela Islam dan mengejek kaum beriman.
Tentang dia dan yang serupa dengannya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok." Setiap Jumat, ia datang ke Masjid Nabawi dan duduk bersama kaum Muslimin. Ia mendengarkan khutbah Rasulullah ﷺ, dan setelah selesai, ia berdiri lalu berseru: "Wahai manusia! Tolonglah Rasul ini yang Allah utus di tengah kalian! Melaluinya, Allah memuliakan kalian, menjadikan kalian unggul dan menang. Maka dengarkanlah, hormati, dan taatilah beliau." Ia melakukan itu setiap Jumat.
Hingga saat di Uhud, ia menarik 300 orang keluar dari pasukan. Biasanya saat dipanggil untuk berperang, ia tak akan ikut. Ia selalu mencari alasan untuk tetap tinggal. Namun kali ini ia ikut, karena tak melihat bahaya besar dan mengincar harta rampasan. Sekaligus mencari peluang menebar masalah dan perpecahan di antara kaum Muslimin yang kian hari semakin kuat. Dan kesempatan itu datang dua kali. Apa peristiwa pertama itu? Dalam perjalanan pulang, pasukan Muslim berkemah dekat sumur. Mereka bergantian mengambil air. Namun perselisihan kecil jadi peluang bagi kaum munafik.
Saat Jahjah bin Mas'ud dari kaum Muhajirin dan Sinan bin Wabar dari kaum Anshar mengambil air dari sumur yang sama, terjadi pertengkaran di antara mereka. Keadaan memanas, dan Jahjah maju dengan marah ke arah Sinan. Melihat itu, Sinan berseru: "Wahai Muhajirin! Di mana kalian? Tolonglah aku!" Sekejap, Ansar dan Muhajirin yang dahulu menjadi contoh persaudaraan erat, kini saling berhadapan. Pemimpin munafik, Abdullah bin Ubay, melihat peluang sempurna untuk menebar fitnah, dan memanfaatkannya sepenuhnya. "Wahai Anshar, Muhajirin meraih kekuatan dan kemuliaan karena kalian, tapi kini mereka memperlakukan kalian dengan sombong dan hina. Kalian menyambut mereka dan memberi mereka tempat tinggal.
Berbagi harta dan makanan dengan mereka. Kalian sendiri penyebab kehinaan yang kalian rasakan. Demi Allah, jika kembali ke Madinah, yang mulia akan mengusir yang hina." Ia menyinggung Rasulullah ﷺ dan Muhajirin, ma'adzallah. Ucapan provokatif itu memperkeruh suasana. Saat Rasulullah ﷺ mendengar kejadian itu, beliau segera menemui para sahabat. Beliau berkata tegas, "Apa seruan jahiliah ini?" Setelah melihat Anshar dan Muhajirin terlibat konflik karena hal kecil, beliau berkata: "Tinggalkan seruan jahiliah itu, karena ia busuk." Beliau memperingatkan keras karena penyebab semua ini adalah kesombongan suku, rasisme, dan perasaan lebih kaya.
Tapi dalam Islam, kemuliaan berasal dari takwa kepada Allah; yaitu sadar kepada-Nya, menjauhi dosa, dan menaati perintah-Nya. Ucapan Rasulullah ﷺ itu sangat menyentuh hati para sahabat. Sinan pun memaafkan Jahjah. Orang-orang yang tetap menyombongkan sukunya dengan cara ini, Rasulullah ﷺ kemudian berkata: "Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyyah (fanatisme kelompok), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena 'ashabiyyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena 'ashabiyyah." Setelah peristiwa itu, Rasulullah ﷺ membuat keputusan tak biasa. Di terik siang hari, beliau memerintahkan pasukan Muslim bergerak ke Madinah.
Sebelumnya mereka tak pernah berangkat di panas seterik itu. Namun ada hikmah di balik perintah itu. Beliau ingin para sahabat tak membahas ucapan Abdullah bin Ubay. Mereka berangkat sore hari, dan tak berhenti hingga fajar menyingsing. Mereka sangat letih dan kurang tidur hingga sulit berdiri. Mereka terhenti, dan langsung tertidur lelap. Dengan begitu pikiran mereka teralihkan, dan masalah berhasil dicegah agar tak semakin besar. Dari peristiwa ini, Rasulullah ﷺ memberi pelajaran sepanjang masa. Seorang Muslim perlu terus menyibukkan diri. Jangan bermalas-malasan. Karena berdiam diri dan bermalas-malasan membuka pintu ke kenikmatan haram dan akhirnya perbuatan dosa.
Apakah pemimpin munafik itu berhenti setelah peristiwa ini? Tentu tidak. Ia masih mencari peluang menebar fitnah. Sekejap, ia menemukan peluang kedua. Kali ini ia berani memfitnah keluarga Rasulullah ﷺ sendiri. Saat pasukan kembali menuju Madinah, terlihat dua orang berusaha menyusul mereka. Satu menunggang unta, dan satu lagi berjalan di sebelah memegang talinya. Yang di atas unta adalah ibunda Aisyah RA. Dan yang menuntunnya Shafwan bin Mu'aththal. Abdullah bin Ubay memutarbalikkan kejadian itu dan melontarkan tuduhan keji atas istri Rasulullah ﷺ yang suci dan terhormat.
"Demi Allah, ia tidak bersih darinya, dan ia pun tak bersih darinya." Ia menyiratkan, Ma'adzallah, telah terjadi sesuatu di antara mereka. Dengan ucapan itu, ia memulai fitnah besar. Tuduhan keji itu menyebar cepat di tengah pasukan. Dari satu orang ke yang lain. Lalu, bagaimana kebenaran sesungguhnya? Mari kembali ke awalnya. Setiap Rasulullah ﷺ bepergian, beliau mengajak salah satu istrinya pergi bersamanya. Kali ini yang ikut adalah ibunda Aisyah RA. Saat pasukan beristirahat, Aisyah menjauh dari pasukan untuk suatu keperluan. Saat ia kembali, mereka bersiap berangkat. Namun saat itu, ia sadar kalungnya hilang.
Mengira bahwa pasukan takkan pergi tanpa dirinya, lalu kembali mencarinya di tempat semula dia berada. Tapi butuh waktu untuk menemukannya. Saat itu, pasukan sudah berangkat, tanpa sadar bahwa ia tertinggal. Dulu, demi menjaga privasi, wanita bepergian di dalam tempat tertutup, semacam tenda di atas punggung unta yang disebut haudaj. Karena tubuh Aisyah RA ringan, sahabat yang mengangkat haudaj tak sadar ia tak di dalam. Mereka pun berangkat. Saat ibunda Aisyah kembali, pasukan sudah berangkat. Karena berbahaya berjalan sendirian di gurun, ia memutuskan tetap di tempatnya. Ia berpikir, "Mereka akan sadar aku tertinggal dan akan kembali." Beberapa waktu kemudian, ia tertidur.
Saat ia tidur, seseorang mendekat perlahan. Ia adalah Shafwan bin Mu'aththal. Shafwan bertugas mengumpulkan barang yang tertinggal. Ia selalu berada di belakang untuk mengambil barang yang terjatuh dan tertinggal dan membawanya ke perkemahan. Hari itu pun ia memeriksa area yang ditinggalkan pasukan, dan melihat seseorang tertidur di tanah. Saat sadar bahwa itu adalah Aisyah, ia berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mendengar suaranya, Aisyah RA terbangun. Tanpa berkata apa pun, Shafwan mendudukkan untanya, lalu menyingkir agar ia dapat naik dengan terjaga kehormatannya.
Ia memegang tali unta dan mulai menuntunnya ke arah pasukan. Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya menyusul pasukan. Saat Abdullah bin Ubay melihat itu, ia melihatnya sebagai peluang untuk menyakiti Rasulullah ﷺ dan dakwah beliau. Fitnah itu menyebar dari mulut ke mulut. Tak lama, seluruh Madinah diguncang olehnya. Sedihnya, tiga sahabat utama pun ikut mempercayai fitnah itu dan mulai membicarakannya. Saat fitnah menyebar di seluruh Madinah, ibunda Aisyah tak tahu apa yang terjadi. Karena tepat sejak kembali dari perjalanan, ia jatuh sakit parah dan harus terbaring lama. Karena tak tahu kabar itu, ia tak bisa membantah tuduhan itu atau membela diri.
Jelas bahwa ini adalah ujian lain dari Allah. Seperti yang terjadi di Perang Uhud. Ingat kekacauan saat kaum musyrik berteriak: "Aku telah membunuh Muhammad!" "Aku telah membunuh Muhammad!" "Aku telah membunuh Muhammad!" Padahal Rasulullah ﷺ jatuh ke dalam lubang. Saat itu sahabat diuji untuk melihat siapa yang tetap teguh di medan perang, dan siapa yang mundur. Kini ujiannya berbeda. Ini tentang siapa yang ikut serta menyebarkan kabar yang mereka sendiri tidak lihat, dan siapa yang menjauhinya. Allah menjaga Aisyah RA dari mengetahui kabar itu. Seiring waktu, mereka yang berkata "Jika tak ada bukti, itu hanyalah fitnah," dan siapa yang membantu menyebarkannya terungkap satu per satu.
Itu ujian yang sangat berat, yang hanya wanita seteguh Aisyah RA mampu menanggungnya. Ibunda kita masih belum tahu. Namun ia mulai melihat perubahan pada sikap Rasulullah ﷺ. Beliau tak lagi menunjukkan cinta dan kasih seperti dulu. Beliau bahkan tak menyebut namanya. Saat beliau ingin tahu keadaan Aisyah, beliau bertanya pada ibunya, "Bagaimana keadaan pasienmu?" Sikap itu terasa amat berat di hati Aisyah RA. Ia tak mengerti mengapa Rasulullah ﷺ bersikap demikian. Sekitar 20 hari kemudian, ia akhirnya cukup pulih untuk bangkit dan pergi ke luar bersama ibu Misthah bin Utsatsah. Saat mendengar kabar tentang dirinya, ia sangat kaget, gemetar, jatuh, dan pingsan.
Hari-hari berikutnya, ia menangis hingga kondisinya makin memburuk. Setiba di rumah orang tuanya, ia berkata: "Ibuku terkasih, apa yang orang katakan tentangku? Mengapa tak kau beri tahu aku?" Ia pun menangis tersedu. Ibunya berusaha menenangkannya. Saat itu, Abu Bakar RA sedang membaca Al-Qur'an di atap rumah. Mendengar tangisan putrinya, ia turun, duduk di sampingnya dan menenangkannya. Hatinya yakin penuh akan kesucian putrinya. Namun rumah itu dipenuhi dengan kesedihan mendalam karena fitnah keji itu. Ini salah satu ujian terberat yang bisa dialami seorang wanita. Walau ia membela diri, semua orang sudah mendengar fitnah itu. Sebagian orang bahkan mempercayainya.
Padahal tak seorang pun melihat dengan mata sendiri. Mereka hanya ikut mengulang ucapan orang lain. Dari luar, tampak hanya sekadar kata-kata. Terlihat seperti hal kecil. Tapi kenyataannya, beratnya, dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah sangatlah besar. Peristiwa ini menunjukkan betapa bahayanya lisan. Dan mengapa menuduh seseorang berzina termasuk dalam tujuh dosa besar. Hanya dengan satu kata, ketenangan banyak keluarga bisa hancur. Bahkan tidak ada sedikit pun tanda bahwa Aisyah RA bersalah. Namun orang-orang munafik tidak mau berhenti berbicara. Hari-hari itu terasa lebih berat bagi Aisyah RA daripada apa pun yang pernah ia alami.
"Air mataku tak berhenti, dan aku pun tidak bisa tidur. Aku terus menangis hingga aku merasa hatiku seakan pecah karena tangisan." Melihat keadaannya seperti itu, seorang wanita Anshar datang dan meminta izin untuk menemaninya dan menangis bersamanya. Ketika Aisyah mengizinkan, mereka pun menangis bersama. Sementara itu, Abdullah bin Ubay, orang yang memulai fitnah ini dan menyebabkan semua penderitaan ini, merasa senang dengan keadaan tersebut. Ia telah mencapai apa yang diinginkannya. Ia telah mengguncang kaum Muslimin dengan kebohongan yang keji. Ke mana pun ia pergi, ia terus membicarakannya, melakukan segala cara yang ia bisa untuk semakin menyebarkannya.
Rasulullah ﷺ sangat mengetahui bahwa Aisyah tercintanya sama sekali tidak bersalah atas tuduhan tersebut. Namun melihat fitnah yang kejam dan penuh tipu daya itu menyebar begitu cepat di tengah masyarakat sangat membebani hatinya. Dan di hari-hari yang menyakitkan itu, beliau tidak dapat membela ibu kita Aisyah tanpa adanya bukti. Seandainya beliau melakukannya, orang-orang munafik akan menuduhnya berpihak kepada istrinya karena cinta dan kasih sayangnya. Dan itu tidaklah sesuai dengan rasa keadilan seorang Nabi. Dan orang-orang yang mengaku Muslim itu tidaklah sedikit jumlahnya. Maka Rasulullah ﷺ tak punya pilihan selain menunggu. Beliau menunggu wahyu dari Allah.
Namun sebagai bagian dari ujian ilahi ini, wahyu itu tidak datang selama satu bulan penuh. Bukankah penantian panjang ini sekali lagi membuktikan bahwa beliau sungguh seorang Nabi? Bahwa wahyu itu datang kepadanya hanya dari Allah? Jika Rasulullah ﷺ berbicara dari hawa nafsunya sendiri, jika, ma'adzallah, beliau mengada-adakan ayat-ayat Al-Qur’an, apakah beliau akan membiarkan dirinya mengalami kesulitan seperti itu selama sebulan penuh? Lupakan 30 hari, beliau bisa saja mengarang satu ayat dalam 30 menit dan langsung mengakhiri perkara itu. Ma'adzallah. Meski dalam kesedihan mendalam, beliau menunggu dengan sabar datangnya wahyu. Rasulullah ﷺ pergi ke rumah orang tua Aisyah.
Beliau melihat istrinya dan berkata: “Wahai Aisyah, telah sampai kepadaku berita begini dan begitu tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah, maka Allah akan membebaskanmu dari tuduhan itu. Namun jika engkau telah melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya." "Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar berita itu hingga tertanam dalam hati kalian dan kalian menganggapnya benar. Jika aku katakan bahwa aku tidak bersalah, dan Allah tahu aku tidak bersalah, kalian tidak akan mempercayaiku. Namun jika aku mengakui sesuatu padahal Allah tahu aku tidak bersalah, kalian akan mempercayaiku.
Aku tidak menemukan perumpamaan bagiku dan bagi kalian kecuali seperti perkataan ayah Nabi Yusuf saat ia berkata, 'maka hanya bersabar itulah yang terbaik bagiku.' Dan kepada Allah saja tempat memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." Dan itulah yang benar-benar ia lakukan. Ia tetap bersabar, dan dengan air mata di matanya, ia menghadap Allah dan memohon pertolongan-Nya. Aisyah RA baru saja selesai berbicara ketika keadaan yang berbeda tiba-tiba menyelimuti Rasulullah ﷺ. Butiran keringat mulai menetes dari dahi beliau yang mulia. Itu adalah tanda bahwa hari-hari panjang penantian akhirnya telah berakhir. Pesan Allah, wahyu, sedang diturunkan.
Tapi ibu kita Aisyah sama sekali tak khawatir. Ia yakin bahwa Allah akan menampakkan keadilan-Nya dan bahwa ketidakbersalahannya segera akan menjadi jelas bagi semua orang. Ketika keadaan menerima wahyu itu akhirnya diangkat dari Rasulullah ﷺ, senyuman lebar tampak di wajah beliau yang mulia. Beliau melihat Aisyah dan berkata: "Wahai Aisyah, Allah telah menyatakan ketidakbersalahanmu!" Dalam ayat-ayat yang diturunkan itu, Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya.
Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)." Kesedihan yang memenuhi rumah itu selama berhari-hari akhirnya hilang. Rasulullah ﷺ, Aisyah, dan kedua orang tuanya semuanya menarik napas lega. Setelah sebulan penuh kesulitan dan penantian, ayat-ayat itu akhirnya menegaskan ketidakbersalahan Aisyah. Dan dengan itu, fitnah yang telah menyebar di seluruh Madinah akhirnya berakhir. "Kebenaran akhirnya terungkap. Aku yakin Aisyah sekarang bahagia dan tenang.
Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)." Setelah ayat yang membebaskan Aisyah RA dari tuduhan tersebut, dan menyebutkan hukuman bagi orang yang memulainya, ayat-ayat lain pun diturunkan. Kali ini, tentang orang-orang yang menyebarkan fitnah itu. "(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu perkara besar." Karena fitnah itu adalah dosa, pelanggaran terhadap kehormatan dan hak seseorang, mereka harus menghadapi hukumannya.
Tiga sahabat yang telah mempercayai dan mengulang rumor itu, dan dengan demikian tanpa sengaja membantu penyebarannya, dipanggil menghadap Rasulullah ﷺ. "Rasulullah ﷺ memanggil kalian." Mereka berjalan masuk perlahan, dengan hati yang penuh penyesalan. Rasulullah ﷺ tidak menunjukkan kemarahan dan dendam pada mereka. Tapi hukuman bagi fitnah, dan bagi orang yang ikut serta di dalamnya, telah jelas dalam Islam. Mereka menerima 80 kali cambukan dengan tongkat di depan umum. Hukuman ini menjadi pelajaran penting bukan hanya bagi mereka, tetapi bagi seluruh penduduk Madinah. Orang-orang yang menyaksikan hukuman itu takkan lagi berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Bukan hanya untuk peristiwa ini, tapi juga untuk kejahatan-kejahatan besar, Islam menetapkan aturan dan hukuman yang jelas untuk mencegah orang melakukannya. Tujuan utamanya adalah pencegahan. Dan sebagai hasilnya, tingkat kejahatan tetap sangat rendah. Namun selain itu, melalui aturan dan hukuman ini, Allah sebenarnya melindungi hamba-hamba-Nya dari sesuatu yang jauh lebih buruk: hukuman di akhirat. Dan ketika hukum-hukum ini diterapkan, tak ada yang diperlakukan tidak adil. Semua orang sama. Tidak ada keistimewaan bagi yang kuat atas yang lemah, yang kaya atas yang miskin, atau yang merdeka atas budak. Sebagai contoh, pernah terjadi kasus pencurian di Madinah.
Dan sekelompok orang dari Bani Makhzum mencoba memberi syafaat bagi seorang wanita yang telah mencuri, dan meminta Rasulullah ﷺ agar tidak melaksanakan hukuman tersebut. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar hal ini, beliau sangat marah. Beliau berdiri dan berkhutbah: “Wahai manusia! Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah apabila orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya.” Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Lalu bagaimana dengan Abdullah bin Ubay? Orang yang menyebabkan semua kekacauan itu.
Apakah dia tidak dihukum? Dan perbuatannya itu tak hanya terbatas pada satu kejadian ini. Ingat Perang Uhud? Dengan tipu dayanya, ia menyebabkan sekitar 300 pasukan dari tentara Muslim berbalik pulang sebelum perang dimulai. Ia diam-diam bekerja sama dengan kaum musyrik dan Yahudi, selalu berencana melawan kaum Muslim. Ia menyebar fitnah di antara orang-orang beriman, berusaha merusak ikatan persaudaraan di antara mereka. Rasulullah ﷺ tentu saja mengetahui semua yang dilakukan pemimpin munafik ini. Namun beliau memilih bersabar dan tetap diam. Suatu hari, Umar RA sampai pada titik ia tak lagi sanggup menoleransi fitnah yang ditimbulkan Abdullah bin Ubay.
Maka ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, izinkan aku memenggal kepala orang munafik ini!" Namun jawaban Rasulullah ﷺ menunjukkan hikmah di balik kesabaran beliau. Beliau bersabda, "Biarkan dia. Jika tidak, orang-orang akan berkata Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri." Jika kalian ingat, sebelum hijrah Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Ubay hampir saja menjadi raja Madinah. Ia bahkan telah membuat mahkotanya. Dia amat dihormati di tengah masyarakat. Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa masih banyak orang yang mempercayai Ibnu Ubay. Ia menyembunyikan kemunafikannya dengan sangat licik hingga banyak yang mengira ia Muslim yang tulus. Seseorang yang bisa mereka andalkan.
Jika Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mengeksekusinya, rumor bisa saja menyebar bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya. Suku-suku yang sedang berniat untuk menjadi Muslim bisa menjadi takut dan berkata, "Kapan saja ia mau, ia bisa membunuh kita juga." Maka untuk mencegah hal tersebut, Rasulullah ﷺ memilih bersabar. Bertahun-tahun kemudian, beliau akan melihat buah dari keputusan itu, empat tahun setelah peristiwa fitnah tersebut. Pada tahun ke-9 setelah Hijrah, Abdullah bin Ubay jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Putranya, Abdullah, adalah seorang Muslim yang saleh dan tulus.
Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku bajumu agar aku dapat mengkafani ayahku dengan baju itu." Kemudian ia meminta kepada Rasulullah ﷺ untuk memimpin salat jenazah dan mendoakan ampunan bagi ayahnya. Bisa bayangkan betapa beratnya hal itu bagi seorang anak? Ayahnya adalah salah satu musuh terbesar Islam sejak hari pertama Rasulullah ﷺ menginjakkan kaki di Madinah. Namun yang benar-benar luar biasa adalah bahwa Rasulullah ﷺ tidak menolaknya. Beliau memberikan bajunya sebagai kafan Abdullah bin Ubay. Saat beliau diberi tahu bahwa semuanya telah siap untuk pemakaman, beliau berangkat dan memimpin salat jenazah.
Beliau bahkan berjalan hingga ke kuburannya. Para sahabat merasa heran. Mengapa Rasulullah ﷺ memimpin salat jenazah seorang pria yang sepanjang hidupnya bersekongkol melawan Islam? Mengapa ia menunjukkan kebaikan pada orang yang berusaha mencelakai kaum Muslimin di setiap kesempatan? Pasti ada alasan, hikmah yang mendalam di baliknya. Dan memang benar ada. "Wahai Rasulullah ﷺ, mengapa engkau memberinya baju yang sedang engkau kenakan?" Ketika ditanya tentang hal itu, Rasulullah ﷺ berkata: "Bajuku dan salatku tak akan menyelamatkannya dari hukuman Allah.
Namun aku berharap dengan hal ini, seribu orang dari kaumnya akan memeluk Islam." Memang, perbuatan itu berdampak besar bagi orang-orang di sekitar Abdullah bin Ubay. Menurut sebagian riwayat, karena kesabaran dan kasih sayang Rasulullah ﷺ pada hari itu, sekitar 1.000 orang menerima Islam dengan hati yang tulus. Subhanallah. Selama bertahun-tahun, kaum Muslim rindu mengunjungi Ka’bah. Dan kini, waktunya akhirnya tiba. "Kita akhirnya akan pergi ke Makkah?" "Ya." Perjalanan ini akan dimulai karena sebuah mimpi yang dilihat Rasulullah ﷺ. Tapi perjalanan ini akan berakhir dengan cara yang tak pernah disangka siapa pun.
"Kalau begitu, kalian akan tetap di sini sebagai tawanan kami!" Dan kaum Muslim mendapati diri mereka menerima sebuah perjanjian yang sebenarnya tak ingin mereka terima. Perjanjian seperti apa itu? Dan apa yang terjadi dalam perjalanan yang luar biasa itu? Kita akan melihat semuanya di episode berikutnya, Insya Allah. Nantikan terus.