Towards Eternity
Kembali ke blog

Tidak Ada yang Bisa Tetap Agnostik Setelah Menonton Ini

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Mungkin, video ini tak ada yang mengunggahnya ke YouTube. Kita tak tahu siapa pengunggahnya. Terdengar tak logis, kan? Fakta kamu menonton video ini membuktikan bahwa pasti ada yang mengunggahnya. Jadi tak perlu diragukan lagi. Hanya karena tak bisa lihat pengunggahnya, apakah berarti dia tidak ada? Atau apakah kita tak dapat mengetahui keberadaannya? Tentu saja tidak. Hal yang sama berlaku untuk alam semesta. Setelah diciptakan seperti video ini, bagaimana mungkin ada yang bilang, "Kita tak tahu pasti apakah Tuhan memang ada."? Itu juga tidak masuk akal. Adanya pencipta bukan sekadar keyakinan. Itu harus kita terima berdasarkan bukti, nalar, dan logika.

Kaum agnostik berkata, "Kita takkan pernah tahu apakah Tuhan ada." Tapi inilah hal yang aneh. Mereka tak hanya menonton video, mereka justru ada di dalamnya. Sesuatu itu hanya ada, atau tak ada. Kita semua tahu tak ada pilihan di tengah-tengah. Jadi saat seseorang berkata, "Aku di tengah-tengah," sebenarnya mereka condong, mungkin tanpa sadar, ke arah penyangkalan, ke arah ateisme. Dalam logika, ini disebut 'Hukum tiada jalan tengah'. Artinya sesuatu itu A atau bukan A. Sesuatu itu hitam atau bukan hitam. Tidak ada pilihan ketiga. Begitu pula, sesuatu itu ada atau tidak ada. Jadi filsafat agnostik tidak valid dalam logika dasar.

Mengetahui Tuhan itu ada bukan seperti memecahkan soal matematika rumit. Itu kebenaran yang tertanam dalam diri kita, dalam sifat dasar penciptaan kita. Ada penelitian menarik oleh Profesor Justin L. Barrett dari Universitas Oxford. Barrett dan 57 akademisi lain meneliti di 20 negara berbeda. Mereka temukan bahwa anak usia tiga tahun secara alami percaya pada kekuatan supranatural, sang pencipta. "Anak-anak sekitar usia 3 tahun memandang semua agen supernatural dalam konteks budaya mereka dengan cara yang hampir sama, meski orang dewasa tak menganggap mereka begitu pintar. Tapi anak-anak memandang mereka sebagai sosok yang sangat pintar, serba tahu segalanya.

Ada kecenderungan alami pada anak tentang adanya Tuhan, Pencipta, yang Maha Kuasa, Maha tahu, dan kekal." Percaya pada pencipta bukanlah konsep yang dipelajari kemudian. Itu adalah kecenderungan alami yang sudah jadi bagian fitrah kita. Masih ada penelitian lain tentang topik ini. Pikirkan seperti ini, Jika kamu jalan di pantai lalu lihat gambar hati di pasir dengan dua huruf di dalamnya dan tulisan "Aku mencintaimu", pasti kamu berpikir, "Ada seseorang yang menyatakan cinta." Bagaimana jika ada yang bilang, "Apakah ada yang membuat ini? Mungkin tak ada yang menulisnya."? Bagaimana reaksimu? Apa kamu akan menganggapnya serius?

Atau jika kita menemukan garpu berusia ribuan tahun dalam penggalian arkeologi, kita langsung tahu pasti itu dibuat oleh makhluk berakal. Kita tak akan mengira garpu ini tercipta karena alam atau kebetulan. Pasti ada yang membuatnya dengan sengaja. Dan niat itu berasal dari pikiran yang sadar. Namun bukankah dunia kita, manusia, sistem, dan makhluk hidup jauh lebih kompleks dari garpu? Lalu mengapa kita ragu mengaitkannya dengan Pencipta yang berpengetahuan? Atau bayangkan kamu mendengar hasil pertandingan sepak bola. Skor akhirnya 1-0. Lalu ada yang bertanya, "Siapa yang mencetak gol?" "Kita tak tahu adakah yang mencetak gol karena tak melihat pelakunya." Apa tanggapanmu?

Jika skornya 1-0, tak masuk akal mempertanyakan ada tidaknya gol. Golnya nyata, hasilnya ada di papan skor. Pasti ada yang mencetaknya, bukan? Hal yang sama berlaku untuk alam semesta. Alam semesta itu ada, nyata keberadaannya. Ini seperti perubahan dari ketiadaan menjadi ada. Golnya sudah terjadi. Alam semesta telah tercipta. Lalu bagaimana mungkin ada yang bilang, "Kita tak tahu ada yang membuatnya atau tidak"? Agnostisisme ada beberapa jenis, ada yang kuat, ada yang lemah. Tapi kita tak perlu membahas detailnya sekarang. Kita fokus saja ke masalah utamanya. Dalam Risalah Nur, ada penjelasan logis yang kuat. Karena alam semesta ini ada, pasti ada penjelasannya.

Setiap hari, ratusan ribu makhluk hidup terus tercipta di depan mata kita. Ini hanya bisa dijelaskan dengan empat cara, Pertama, atom yang menciptakan dan terus menciptakan semuanya. Kedua, segala sesuatu terjadi dengan sendirinya. Ketiga, hukum alam yang menciptakan semua ini. Atau keempat, Sang Pencipta yang menciptakan segalanya dan terus berkarya. Jika kita buktikan tiga yang pertama mustahil, maka yang keempat pasti benar. Mari kita jabarkan. Atom tidak mungkin jawabannya karena atom sendiri baru muncul belakangan. Bagaimana mungkin materi menyusun dirinya sendiri jika ia belum ada? Atom itu benda mati, tak punya akal, kesadaran, atau keinginan.

Atom tak punya ilmu atau kekuatan untuk bikin sistem sempurna. Atom tak bisa menciptakan kehidupan karena atom sendiri tidak hidup, dan tak dapat mengatur harmoni alam semesta. Jadi atom mustahil menjadi pencipta. Kedua, tidak mungkin segala sesuatu terjadi dengan sendirinya. karena sesuatu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Bayangkan, bisakah seorang ibu melahirkan dirinya sendiri? Tentu saja tidak. Seperti yang telah kita bahas, agar sesuatu itu ada, sesuatu itu harus sudah ada lebih dulu. Namun materi tidak abadi, ia berubah. Sesuatu yang berubah tidaklah tak terbatas. Terlebih lagi, saat kita melihat atom, ia lemah, buta, tak memiliki kesadaran, dan tak memiliki kehidupan.

Jadi harus ada makhluk abadi, punya kehendak dan kekuatan, tidak berubah, abadi, penuh pengetahuan, Yang menciptakannya dari ketiadaan dan mengendalikannya. Hukum alam tak dapat melakukan hal ini sendiri, karena hukum alam bukanlah sesuatu yang fisik. Itu hanya sebutan yang kita gunakan untuk menjelaskan pola perilaku materi. Berhenti di lampu merah adalah sebuah aturan, tapi aturan itu sendiri tak memiliki kekuatan untuk menghentikan mobil. Aturan tak dapat menghukum siapa pun atau menjaga ketertiban dengan sendirinya. Aturan tak berjalan sendiri, aturan ditegakkan. Dengan cara yang sama, hukum alam tak dapat melakukan apa pun kecuali ada kemauan sadar di baliknya.

Pada akhirnya, jelas bahwa tiga pilihan pertama tidak mungkin. Keberadaan Allah adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal oleh pikiran. Menariknya, kaum agnostik sering berkata, "Kita tak bisa mengetahuinya." Tapi anehnya, mereka biasanya baik-baik saja dengan menerima salah satu dari tiga pilihan pertama tadi, atom, peluang, atau hukum alam. Nah, bagi yang ingin memahami lebih dalam lagi tentang permasalahan ini, mari kita cermati lebih dekat klaim utama agnostisisme. Ada tiga klaim utama dalam pemikiran agnostik. Klaim pertama filsafat agnostik adalah ini: Pikiran manusia tak cukup mampu untuk mengetahui penciptanya, jadi keberadaannya tak dapat diketahui. Tapi kenapa?

Siapa yang memutuskan ini? Ada perbedaan antara mengetahui bahwa Tuhan itu ada dengan memahami sepenuhnya sifat-sifat-Nya yang tak terbatas. Pikiran kita yang terbatas tak bisa pahami yang tak terbatas sepenuhnya, tapi bukan berarti kita tak bisa tahu bahwa Dia ada. Contohnya, kita mungkin tak sepenuhnya pahami listrik, tapi kita tak pernah ragukan keberadaannya karena kita lihat pengaruhnya, cahayanya, dan kekuatannya, dan kita tahu pasti ada sumber di balik ini. Ada tiga tingkat keberadaan: wajib (yang harus ada), mumkin (yang mungkin ada), dan mumtani' (yang mustahil ada). Keberadaan Allah adalah keharusan secara logika, dan itulah yang disebut wajib al-wujud, harus ada. Coba pikirkan.

Bisakah kita lihat gambar di TV jika tidak ada listrik? Jika sumber utamanya hilang, maka segalanya ikut hilang. Bukan hanya runtuh, tapi bahkan tak pernah ada. Tuhan adalah sumber utama segalanya, dan tanpa Dia, kita tak bisa bicara tentang apa pun. Ada asap, pasti ada api. Ada bayangan, pasti ada cahaya. Kalau ada surat, pasti ada penulisnya. Kalau ada seni, pasti ada senimannya. Proses terciptanya alam semesta ini pasti ada yang melakukannya, yaitu Allah. Dalam Risalah Nur ada pernyataan penting: "Sebuah sifat tak mungkin ada tanpa sesuatu yang ia gambarkan." Artinya, jika ada suatu sifat, pasti ada pemilik sifat itu.

Contohnya, kalau kamu lihat pantulan cahaya di laut, kamu harus bisa jelaskan sumbernya. Antara kamu akui ada matahari di atas yang memantulkan cahaya, atau kamu terima setiap tetes air punya matahari sendiri-sendiri. Itulah sebabnya orang yang awalnya bilang "Kita tak tahu apakah Tuhan ada", akhirnya menganggap setiap atom sebagai tuhan. Tapi sifat-sifat yang terpancar di alam semesta seperti kehidupan, kasih sayang, kebijaksanaan, kemurahan hati, dan lainnya pastilah milik satu Tuhan. Klaim kedua dari filsafat agnostik adalah: Hanya yang bisa diamati fisik atau diuji secara ilmiah yang bisa diketahui. Tapi kenapa? Siapa yang buat aturan ini?

Mengapa pengetahuan harus dari pengamatan ilmiah saja? Kita tak bisa bilang sesuatu tak ada hanya karena tak terlihat. Itu sama saja menyangkal kebenaran dengan membatasi diri pada apa yang kita tetapkan. Dulu orang Eropa percaya semua angsa berwarna putih sampai ditemukan angsa hitam di Australia. Membatasi diri hanya pada yang terlihat oleh mata lalu membuat klaim universal bahwa sesuatu tidak ada adalah kesalahan dalam berpikir. Ketiadaan tidak bisa dibuktikan, dan itulah sebabnya menyangkal Sang Pencipta sejak awal adalah filsafat tanpa bukti, hanya klaim kosong. Lagipula, Tuhan bukan makhluk non-fisik. Jadi untuk apa kita berharap bisa mengamati-Nya dalam sebuah eksperimen?

Kita juga percaya banyak hal yang tak terlihat. Contohnya, siapa yang pernah lihat gravitasi secara langsung? Tapi kita lihat dampaknya, rasakan hasilnya, dan terima keberadaannya tanpa ragu. Jiwa kita, perasaan, karakter, pikiran, keadilan, hukum, moral, persaudaraan, cinta, kebaikan, kasih sayang, kedermawanan, kecemburuan semua itu bukan benda fisik. Tapi semua orang terima dan mengamalkannya. Dengan banyaknya kebenaran yang tak terlihat ini, apakah logis kalau kita hanya percaya yang terlihat? Padahal logika itu sendiri juga tak terlihat. Ada dua jenis pengetahuan: yang terbukti sendiri dan yang deduktif.

Contohnya, apa kamu butuh bukti untuk tahu bahwa kamu ada, bahwa kamu lapar, haus, sedih, atau senang? Tentu tidak. Ini hal yang kita ketahui secara internal, tanpa butuh bukti apa pun. Kita tak butuh bukti ilmiah untuk segala hal. Pengetahuan intuitif adalah panduan alami sejak lahir, manusia secara alami tahu kebenaran tertentu. Contohnya prinsip moral. Jelas salah jika menyakiti orang tanpa alasan. Kita tahu ini secara intuitif. Atau makan daging manusia itu salah dan menjijikkan. Intuisi ini tertanam dalam diri kita. Pengetahuan logis. Sesuatu tak bisa benar dan salah sekaligus. Keseluruhan selalu lebih besar dari bagian-bagiannya. Kita tahu ini lewat intuisi langsung.

Pengetahuan matematika. Misalnya, 5 lebih besar dari 1. Pengetahuan sejarah. Kita tahu masa lalu itu ada dan pernah terjadi. Jadi kita tak selalu butuh bukti ilmiah, kan? Masih banyak contoh seperti ini. Manusia tak hanya belajar dari dunia luar tapi juga dari dunia batinnya. Dengan cara sama, kita juga bisa tahu keberadaan Pencipta. Mengapa ini mustahil? Lagipula, sains bisa berubah. Sains bisa saja keliru dan terus berubah. Sebagai contoh, dulu sains bilang atom tak bisa terbagi, ternyata bisa. Dulu dikatakan alam semesta statis, ternyata kita temukan ia punya awal dan terus mengembang.

Menyangkal Tuhan berdasarkan sistem yang selalu berubah sama saja mempertaruhkan kehidupan akhirat, sangat tidak logis. Sains sebenarnya upaya memahami cara Allah mengatur alam semesta. Menemukan resep masakan bukan berarti menyangkal adanya koki. Memahami cara kerja alam semesta pun sama. Klaim ketiga agnostik: Kita tak bisa tahu Tuhan ada atau tidak, jadi tak perlu pusingkan agama. Tapi hadapi kenyataan: kematian itu nyata. Itu kepastian yang akan menghampiri setiap orang. Masuk akalkah orang khawatir soal stres kerja tapi abaikan risiko siksaan abadi? Manusia secara alami menginginkan keabadian dan tak ingin berpisah dari orang tercinta.

Bagaimana mungkin kehilangan orang tua atau kekasih bisa dianggap tak berarti? Kalau kita bilang, "Tak perlu cari jawaban atau pelajari Islam. Nikmati saja hidup," kita hanya bohongi diri. Nyatanya, orang tak bisa jalani hidup dengan terus menerus ragu, tak yakin apa pun. Bayangkan, ada asap keluar dari rumahmu, dan ada yang bilang, "Mungkin kebakaran," lalu kau jawab, "Aku tak tahu, mungkin iya mungkin tidak." Atau hujan deras, dan ada yang bilang, "Rumahmu mungkin banjir," lalu kau jawab: "Aku tak tahu, mungkin iya mungkin tidak. Ayo lanjut ngobrol saja." Masuk akalkah jawaban itu? Tentu tidak, dalam situasi seperti itu, orang pasti bertindak dengan jelas.

Sekarang pikirkan, alam semesta tercipta dari ketiadaan. Pasti ada Penciptanya, dan ada Rasul yang kebenarannya teruji sepanjang zaman. Dan ada peringatan tentang kemungkinan neraka abadi. Tapi kemudian kamu dengar, "Aku tak tahu, mungkin iya, mungkin tidak. Aku akan lanjutkan hidupku saja." Sepanjang video ini, kami sajikan banyak bukti rasional. Satu bukti saja sebenarnya sudah cukup, tapi kami jelaskan lebih banyak agar lebih jelas. Faktanya, satu jawaban rasional saja cukup untuk percaya Islam. Kenapa? Contohnya, bayangkan sebuah istana dengan 100 pintu yang jadi tempat berlindung. Tak ada gunanya tinggal di luar. Di luar sana justru ada rasa sakit dan penderitaan.

Kalau cuma satu pintu yang terbuka, apa yang akan kau lakukan? Kamu akan masuk lewat satu pintu itu, kan? Karena itu memberimu keamanan dan perlindungan. Dalam Islam, ada ribuan pintu yang terbuka. Lalu kenapa ada yang tak mau memasukinya? Lebih dari itu, seluruh alam semesta berseru tentang keberadaan Allah. Kamu hanya perlu melihat dengan seksama dan tulus. Keberadaan jiwa kita, dari mana asalnya? Dari atom yang tak punya jiwa? Atau dari hukum yang mengatur alam semesta? Apa sebenarnya hukum-hukum ini? Atau bukti penyesuaian halus alam semesta? Bukankah itu jelas tunjukkan keberadaan Allah?

Selain itu, lewat bukti kebutuhan, bukti kemungkinan dan keterbatasan, bukti kerjasama, bukti tujuan, keajaiban ilmiah dan keajaiban teks dalam Al-Qur’an. keajaiban sejarahnya, dan keajaiban sosialnya meski buta huruf, Rasulullah membawa solusi yang tetap berharga selama berabad-abad. Ini semakin buktikan keberadaan Allah. Secara intelektual, mustahil untuk tetap ragu. Jadi, lebih masuk akalkah sibuk dengan ketidakpastian imajinasi, atau lebih bijaksana melangkah menuju kebenaran, menuju Islam? Hidup adalah perjalanan yang berlalu sekejap. Suatu hari, akan berakhir tiba-tiba.

Saat itu tiba, kamu tak lagi punya kemewahan bilang, "Aku tak tahu." Sekarang, selagi masih bernapas, inilah waktunya berpikir. Ambil langkah. Kalau kehidupan kekal dipertanyakan, Seberapa rasional tetap buta pada kemungkinan terbesar? Bagaimana jika itu nyata? Bagaimana jika Dia yang menciptakanmu sedang menunggumu? Bagaimana jika ada Tuhan yang mengasihimu dan siap mengampunimu? Bantulah dirimu sendiri. Jangan takut menghadapi kebenaran. Agnostisisme ingin buatmu tetap berdiri di ambang pintu. Tapi jika kau ambil langkah itu, kau mungkin akan rasakan arti keberadaanmu yang sebenarnya. Pilihan ada di tanganmu.