Detik-detik Akhir Rasulullah! Bilal Tidak Bisa Menyelesaikan Adzan… | Episode Terakhir - Wahai Rasul
Diterbitkan pada
Setiap nabi diberi satu doa yang pasti dikabulkan. Dan setiap nabi menggunakannya semasa hidup. Misalnya, Nabi Sulaiman AS berdoa, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi." Dan Allah memberinya kerajaan tiada tanding. Adapun Nabi Zakaria AS khawatir dengan kerabat yang akan menggantikannya. Ia sangat tua dan istrinya tidak bisa memiliki anak. Maka ia gunakan doa itu untuk memohon pada Allah agar memberinya keturunan. Allah pun memberinya Nabi Yahya AS. Namun Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka beliau tidak memakai doanya di dunia ini.
Karena di hatinya, sebelum kebutuhan dan perjuangannya sendiri, ada umatnya. Ada kita. Maka beliau menyimpan doanya. Beliau tidak memakainya untuk dirinya atau keluarganya, atau untuk meringankan kesulitan yang dialaminya. Beliau berkata, "Aku menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku pada hari kiamat." Beliau menyimpan doa itu agar dapat memohon ampunan untuk kita di hari kiamat. Memohon pada Rabb-Nya dengan berkata, "Umatku, umatku," dan menyelamatkan kita di Hari Pengadilan. Beliau tak memakai doa itu di dunia. Alih-alih meminta kenyamanan bagi dirinya, beliau ingin menyelamatkan kehidupan abadi kita. Begitulah rahmat dan cinta beliau untuk umatnya.
Kini beliau merasa hari-hari terakhirnya tiba. Segera beliau akan berbicara kepada para sahabat, umatnya, dan seluruh manusia dalam khutbahnya. Yang kita kenal sebagai Khotbah Perpisahan. Mari kembali ke momen itu untuk mendengar kata-kata beliau. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam tepercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Salah satu rukun Islam, Haji, diwajibkan pada tahun ke-9 hijrah. Pada tahun ke-10, Rasulullah ﷺ mulai bersiap menunaikan haji. Beliau juga memerintahkan kaum Muslim Madinah dan kabilah sekitar untuk bersiap.
Ribuan Muslim berkumpul di Madinah siap untuk berangkat. Mereka sangat gembira karena mereka akan menunaikan haji pertama bersama Rasulullah ﷺ. Namun mereka tidak tahu bahwa ini adalah haji terakhir Rasulullah SAW. Pada 25 Dzulqa'dah, kafilah 40.000 orang salat Zuhur lalu berangkat, dipimpin Rasulullah ﷺ. Sebelum memulai haji, beliau berdoa, "Ya Allah, karuniakan haji tanpa riya dan tanpa mencari pujian." Mereka membawa 100 unta untuk kurban. Setelah sekitar 10 hari perjalanan, mereka tiba di Makkah pada 4 Dzulhijjah. Para Muslim yang ingin berhaji dari Yaman dan daerah lain bergabung, jumlahnya mencapai lebih dari 100.000. Sungguh peristiwa yang menyentuh hati.
Sepuluh tahun lalu, Rasulullah ﷺ dipaksa meninggalkan Makkah hanya bersama Abu Bakar di sisinya. Kini beliau kembali ke Makkah bersama puluhan ribu Muslim. Ini bukan hasil perang, bukan pula hasil pedang. Ini bukan tentang pedang. Ini tentang menaklukkan hati. Rasulullah ﷺ merasa tenang. Beliau siap menunaikan ibadah haji. Pada 8 Dzulhijjah, beliau ke Mina. Pada hari ke-9 beliau ke Arafah. Sore itu di tengah lembah Arafah, beliau menyampaikan Khutbah Perpisahan. Beliau berkata, "Wahai manusia." Perhatikan, beliau tak berkata, "Wahai umat Muslim," karena seruan ini bukan hanya untuk yang hadir di Arafah saat itu. Tapi untuk setiap manusia yang lahir hingga Hari Kiamat.
Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, beliau berbicara pada lebih 100.000 orang. Dan melalui mereka, kepada seluruh generasi setelahnya. Beliau memulai khutbah dengan kata-kata: "Segala puji dan syukur hanya bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah. Dia Maha Esa. Tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang setara dengan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Wahai manusia, dengarkanlah aku yang akan menjelaskan kepada kalian semua, karena aku tak tahu apakah aku akan bertemu dengan kalian setelah tahunku ini, di tempat ku berdiri ini. Wahai manusia, sebagaimana sucinya hari kalian ini, bulan ini, dan negeri ini, Makkah, maka darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian juga suci. Semuanya terlindungi dari keburukan. Wahai para sahabat, esok kalian akan bertemu Tuhan kalian. Dan kalian pasti akan ditanya tentang semua yang telah kalian lakukan. Janganlah kembali pada kekafiran sesudahku, hingga sebagian dari kalian memenggal kepala yang lain. Yang hadir hendaklah menyampaikan ucapanku kepada yang tidak hadir.
Bisa jadi yang menerimanya lebih memahami daripada yang mendengar di sini sekarang." Lalu pertama-tama, beliau berbicara tentang riba. Beliau berkata, "Wahai sahabatku, barangsiapa yang memiliki amanah, hendaknya ia menunaikannya pada orang yang memberinya amanat. Ketahuilah, semua bentuk riba telah dihapuskan. Ini adalah perintah Allah. dan riba yang aku mulai hapuskan adalah riba pamanku Abbas Bin Abdul Muthalib. Namun pokok harta yang kalian berikan tetap milik kalian. Jangan menzalimi dan jangan dizalimi." Lalu beliau berbicara tentang hak-hak perempuan. "Wahai manusia, aku wasiatkan agar kalian menghormati hak-hak perempuan dan bertakwa pada Allah dalam memperlakukan mereka.
Kalian mengambil mereka sebagai amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan hubungan dengan mereka dengan janji atas nama Allah. Mereka memiliki hak atas kalian sebagaimana kalian atas mereka." Beliau menyampaikan kata-kata yang menghapus rasisme. "Wahai manusia, Tuhan kalian satu. Ayah kalian satu. Kalian semua berasal dari Adam, Dan Adam diciptakan dari tanah. Orang Arab tidak lebih mulia dari non-Arab. Dan non-Arab tidak lebih mulia dari Arab. Yang berkulit putih tidak lebih mulia dari yang berkulit hitam, dan yang berkulit hitam tidak lebih mulia dari yang berkulit putih. Kemuliaan didapat hanya dengan bertakwa kepada Allah.
Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." Beliau membahas masalah yang akan dihadapi manusia selama berabad-abad, serta memberikan solusi yang sangat dibutuhkan dunia. Lalu beliau meninggalkan sebuah amanah. "Rasulullah ﷺ bersabda, wahai orang beriman, aku tinggalkan bagi kalian dua perkara. Selama kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat. Yaitu Kitab Allah, Al-Qur'an, dan Sunnah Nabi-Nya." Terakhir, beliau bertanya pada para sahabat, "Wahai manusia, kalian akan ditanya tentangku.
Maka apa yang akan kalian katakan?" "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberi nasihat." Mendengar itu, Rasulullah ﷺ mengangkat jari telunjuknya ke langit dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!" Bahkan 14 abad kemudian, jika kesaksian kami diterima, kami pun bersaksi bahwa engkau telah menunaikan amanahmu, wahai Rasulullah ﷺ. Saat itu sudah menjelang sore. Malam mulai mendekat. Rasulullah ﷺ berada di atas untanya, Qaswa. Tiba-tiba wajah beliau berubah, dan butiran keringat mengalir di dahinya. Para sahabat tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu.
Beberapa saat kemudian, saat keadaan itu berlalu, Rasulullah ﷺ membacakan ayat yang baru turun. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." Tiba-tiba, terdengar tangisan keras. Itu adalah Abu Bakar. Air matanya mengalir terus-menerus. Saat semua orang merasa gembira mendengar ayat ini, apa yang membuatnya menangis? Ia menyadari bahwa ayat ini sesungguhnya adalah perpisahan. Ketika Allah berfirman, "Aku sempurnakan agamamu untukmu," itu berarti misi Rasulullah telah selesai. Dan waktu perpisahan telah dekat. Saat itu, hanya Abu Bakar yang memahami ini. Mungkin Allah sedang mempersiapkannya.
untuk perpisahan yang berat ini. Karena wafatnya Rasulullah ﷺ akan mengguncang para sahabat. Saat itu terjadi, harus ada seseorang yang tetap tegar, menenangkan mereka, dan membimbing mereka. Dan benar saja, pada hari itu, Abu Bakar berdiri tegar seperti gunung. Dua tahun telah berlalu sejak Fathu Makkah. Lalu apa yang terjadi selama dua tahun itu? Mari kita ringkas. Sebagai jantungnya Jazirah Arab, Makkah telah menjadi pusat tauhid, yakni mengesakan Allah. Perubahan besar ini membuka jalan bagi kabilah lain untuk memeluk Islam. "Muhammad adalah Rasul Allah." Dengan demikian, tahun yang dikenal Al-Wufud (Tahun Delegasi) pun dimulai. Kabilah dari seluruh Arab datang dan memeluk Islam.
Orang-orang dari Yaman, kabilah Sulaym, Muzaynah, Juhaynah, Hawazin, dan bahkan penduduk Thaif datang dan memeluk Islam. Ingat doa Rasulullah ﷺ untuk penduduk Thaif? Doa itu kini terkabul. Pada tahun itu, lebih dari 60 delegasi datang. Tidak lama setelah Makkah ditaklukkan, penguasa dan rakyat Oman juga memeluk Islam. Pemimpin lain yang menjadi Muslim adalah penguasa Bahrain. Bersamanya, pemimpin agama kaum Zoroastrian juga memeluk Islam. Sementara sebagian orang Zoroastrian di Bahrain menjadi Muslim, yang lain memilih tetap dalam agama mereka. Hari-hari yang diberitakan di Surah An-Nasr akhirnya tiba.
Sebagaimana ayat itu menggambarkan, manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Dan ke wilayah kaum Muslim baru ini, para sahabat diutus sebagai gubernur atau utusan. Para sahabat ini menjadi hakim dan mengajarkan agama kepada masyarakat. "...dan janganlah kalian berpecah-belah." Mereka juga bertanggung jawab mengatur urusan zakat. Ingat tiga hal yang Rasulullah ﷺ perjuangkan saat fondasi negara sedang dibangun di Madinah? Kebodohan... kemiskinan... dan konflik. Para gubernur ini sebenarnya menerapkan perjuangan yang sama.
Mereka membantu masyarakat mempelajari agama, dan karena Islam bukan hanya tentang ibadah, melainkan petunjuk setiap aspek kehidupan, mereka sebenarnya sedang melawan kebodohan. Melalui peran mereka sebagai hakim, dengan memberi keputusan yang adil dan menyebarkan akhlak Islam, mereka melawan konflik dan perpecahan. Dan dengan mengelola urusan zakat, mereka secara langsung melawan kemiskinan. Setiap tahun, suku-suku diajarkan tentang zakat, salah satu dari lima rukun Islam. Kemudian zakat diambil dari mereka yang hartanya telah mencapai batas minimum yang disebut nisab. Para petugas kemudian menyalurkan pembayaran zakat tersebut pada yang membutuhkan di daerah itu.
Sistem ini memiliki dampak besar sehingga dalam beberapa tahun saja, orang yang dahulu menerima zakat bisa sampai pada titik mereka mampu memberi zakat. Bahkan, hanya beberapa tahun kemudian, Muadz bin Jabal mengumpulkan zakat, namun ia tak bisa menemukan satu pun orang yang membutuhkan di Yaman, ia harus mengirimkan zakat tersebut ke pusat kekhalifahan untuk dibagikan di tempat lain. Bayangkan itu. Kalian pergi untuk memberi sedekah, tapi tak ada yang membutuhkannya di kotamu. Terdengar seperti mimpi, bukan? Itulah sistem yang dijanjikan Islam. Pada masa Rasulullah ﷺ dan Khulafaur Rasyidin, kaum Muslim tidak diminta membayar pajak selain zakat.
Dan jika seorang Muslim tak mampu membayar zakat, tak ada yang diambil darinya. Namun dari komunitas Yahudi, Kristen, dan Zoroastrian, dipungut pajak yang disebut jizyah. Sebagai imbalannya, mereka tidak harus ikut berperang saat perang terjadi. Jiwa dan harta mereka dilindungi, dan mereka dapat menikmati layanan negara tanpa diskriminasi. Bahkan, pada masa kekhalifahan Ali RA beliau diperlakukan setara di pengadilan dengan seorang pria Kristen. Padahal beliau adalah kepala negara. Dan pria Kristen itu tidak dizalimi sedikit pun. Namun, kau tak akan pernah melihat tingkat keadilan seperti ini di negara lain, seperti Bizantium atau Sasaniyah.
Dan jumlah jizyah yang diwajibkan bukanlah jumlah yang akan memberatkan orang lain. Bahkan orang-orang yang hidup di bawah kekuasaan Bizantium dan Sasaniyah telah dipaksa membayar pajak besar selama bertahun-tahun. "Ini adalah sisa terakhir benihku. Anak-anakku kelaparan sementara lumbungmu penuh. Tuhan pasti akan mengirimkan kami seorang penyelamat!" Namun ketika wilayah mereka berada dalam pemerintahan Islam, mereka lega akan pajak yang lebih ringan. Selain itu, perempuan, orang tua, orang yang sakit berat, dan para pemimpin agama tidak dibebankan pajak. Selain wilayah yang ditaklukkan, beberapa kerajaan juga menerima kekuasaan kaum Muslim dan setuju membayar jizyah setiap tahun.
Misalnya, selama ekspedisi Tabuk, raja Kindah, penguasa Ayla, penduduk Jarba dan Adhruh diajak memeluk Islam. Namun mereka tidak menerima. Maka, dengan membayar jizyah tahunan, perjanjian damai dibuat dengan mereka. "Atas perintah Rasulullah ﷺ, sekarang kalian harus membayar jizyah." Pada saat itu, pengeluaran negara ditutupi dengan tiga cara: jizyah, rampasan perang, dan pendapatan dari sedekah, wakaf. Dan hanya dalam dua tahun setelah penaklukan Makkah, keamanan dan kendali kuat telah berhasil ditegakkan. Sistem yang kokoh telah terbentuk. Di sisi lain, atas perintah Rasulullah ﷺ, berhala dan kuil berhala dihancurkan di seluruh wilayah. Penyembahan berhala di Arab sepenuhnya dilenyapkan.
Semua perubahan besar ini terjadi hanya dalam 23 tahun. Dalam masyarakat Jahiliyah, di mana perubahan seperti ini hampir mustahil terjadi. Dengan kehendak Allah, Rasulullah ﷺ mengubah arang menjadi berlian. Dan para sahabat yang beliau didik adalah orang-orang yang menjadi guru dan teladan bagi dunia di berbagai bidang. Rasulullah ﷺ sedang menunaikan Haji Wada (haji perpisahan). Beliau telah menyelesaikan seluruh tahapan satu per satu. Ketika tiba waktu penyembelihan, beliau menyembelih 63 ekor unta. Satu untuk setiap tahun hidupnya. Dan beliau melakukannya dengan tangannya sendiri. Bagi seseorang seusia beliau, menyembelih 63 unta dalam sehari bukanlah hal yang mudah.
Hal itu menunjukkan bahwa beliau masih kuat dan sehat. Meski usia beliau semakin lanjut, tak terlihat tanda kelemahan. Kemudian beliau mencukur rambutnya. Haji pun selesai. Beliau dan para sahabat kembali ke Madinah. Saat itu tahun ke-11 setelah hijrah. Rasulullah ﷺ jatuh sakit menderita demam. Penyakit itu semakin parah setiap harinya. Setiap tahun di bulan Ramadan, malaikat Jibril datang, dan bersama Rasulullah ﷺ, mereka membaca seluruh ayat Al-Qur'an yang telah turun sampai saat itu. Namun pada tahun itu, mereka menyelesaikan bacaan dua kali. Itu adalah tanda jelas bahwa tahun itu berbeda. Pada masa itu, beliau sering mengunjungi makam.
Rasulullah ﷺ pergi ke pemakaman Al-Baqi dan berkata, "Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai tempat tinggal kaum mukminin. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan kepada kalian. Dan kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah para penghuni Baqi al-Gharqad." Setelah beberapa saat, beliau berkata, "Aku sangat ingin melihat saudara-saudaraku." "Wahai Rasulullah ﷺ, Bukankah kami adalah saudara-saudaramu?" Beliau menjawab, “Kalian adalah para sahabatku.
Sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang berikutnya.” Dan aku akan sampai di Haudh (telaga) sebelum kalian, sebuah telaga yang dipenuhi air dari Al-Kautsar (sungai di surga)." Ya, beliau sedang berbicara tentang kita. Beliau menyebut kita "saudaraku". Yaitu mereka yang akan beriman padanya dan mengikuti jalannya tanpa pernah melihatnya. "Kami beriman padamu tanpa pernah melihatmu wahai Rasulullah ﷺ. Kami mencintaimu tanpa pernah melihatmu, wahai kekasih Allah. Kami mungkin tidak pantas disebut saudaramu, tapi kami amat mencintaimu." Kini beliau memasuki 13 hari terakhirnya. Itulah hari-hari terakhir dari kehidupan beliau yang mulia.
Penyakitnya semakin parah, dan tubuhnya menjadi sangat lemah. Beliau merasakan kesakitan yang hebat. Semua orang tahu betapa serius keadaan ini. Para sahabat sangat bersedih. Beliau datang untuk menyelamatkan mereka agar tak menjadi yatim secara spiritual. Dan sekarang, apakah mereka harus hidup tanpanya? Menjadi yatim sekali lagi? Jika beliau pergi, kepada siapa mereka mengadu? Ucapan siapa yang akan menyejukkan pikiran dan jiwa mereka? Namun dunia ini sementara. Dan setiap manusia hanyalah tamu di sini. Cepat atau lambat, malaikat maut akan mengetuk pintu setiap orang. Setiap jiwa akan merasakan kematian. Bahkan di hari-hari terakhirnya, beliau masih memikirkan umatnya.
Dalam doa dan air matanya, umatnya selalu ada. Beliau menangisi mereka. Pada suatu saat, Jibril AS datang dan bertanya kenapa beliau menangis. Beliau menjawab, "Umatku, wahai Jibril, umatku. Aku mengkhawatirkan mereka." Jibril pergi dan kali ini kembali membawa kabar gembira. Allah berfirman, "Pergilah menemui Muhammad, lalu katakan, "Kami akan membuatmu rida terkait umatmu dan Kami tak akan membuatmu sedih." Pada hari-hari sulit ini, beliau ingin tinggal di tempat ternyamannya, yaitu di rumah ibu kita Aisyah RA. Setiap malam, beliau biasanya tinggal bergiliran di rumah istri-istrinya. Bahkan dalam keadaan seperti itu, beliau tetap menjaga keadilan.
Beliau menanyakan dahulu giliran siapa saat itu, lalu pergi ke rumah ibu kita Maimunah. Tapi para istri beliau memahami keinginannya. Maka mereka berkumpul dan memberikan izin agar Rasulullah ﷺ tinggal di rumah Aisyah. Tersisa lima hari lagi. Beliau tahu bahwa waktunya di dunia akan berakhir. Dengan bantuan Ali RA, beliau pergi ke masjid dan meminta para sahabat berkumpul. Rasulullah ﷺ menghadap sahabat dan berkata: "Allah telah memberi pilihan pada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah" Tiba-tiba seseorang mulai menangis. Sekali lagi, itu adalah sahabat setianya, Abu Bakar As-Siddiq.
Ia berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu." Rasulullah ﷺ memandang Abu Bakar dan berkata, "Di antara semua orang, yang paling banyak berjasa kepadaku, baik dengan persahabatan maupun hartanya, adalah Abu Bakar. Jika aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat terdekat) di dunia ini, itu adalah Abu Bakar. Tapi aku tidak bisa mengambil khalil karena Allah telah menjadikanku sebagai khalil-Nya. Yang mengikat kita adalah persaudaraan dan cinta dalam Islam." Kemudian beliau berkata, "Semua pintu masjid harus ditutup kecuali pintu Abu Bakar." Perintah itu pun dilaksanakan.
Dengan mengatakan "tutup semua pintu ke masjid kecuali pintu Abu Bakar", sebenarnya beliau memberi makna yang lebih dalam. Seakan beliau berkata, "Mungkin sebagian dari kalian ingin memikul tanggung jawab umat ini. Tapi aku menutup semua pintu lainnya untuk urusan itu. Dan aku ingin Abu Bakar diberi kedudukan itu." Demam Rasulullah ﷺ terus meningkat, dan penyakitnya semakin parah. Saat para sahabat menjenguknya dan melihat kondisi beliau, mereka sangat bersedih. Rasulullah ﷺ pernah berkata, "Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Dan sungguh, salah seorang dari mereka benar-benar merasa gembira saat menerima ujian sebagaimana kalian merasa gembira saat menerima nikmat.
Kemudian beliau menambahkan, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya bersamanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya." Rasulullah ﷺ sudah tidak memiliki kekuatan untuk pergi ke masjid. Sebelumnya, dengan bantuan pamannya, Abbas, Ali, dan keponakannya Fadl, beliau masih bisa pergi ke sana dan memimpin salat. Tapi kini, beliau terbaring di kasur untuk waktu yang lama, dan hanya sesekali beliau bisa membuka matanya.
Suatu saat, beliau bertanya, "Apakah orang-orang sudah salat?" "Belum, mereka menunggumu, wahai Rasulullah ﷺ." Beliau lalu berkata, "Minta Abu Bakar untuk memimpin salat." "Wahai Rasulullah ﷺ, ayahku Abu Bakar adalah pria berhati lembut. Jika ia menggantikanmu, ia takkan mampu menahan air matanya. Dan mereka pun akan ikut menangis bersamanya. Bisakah engkau menunjuk orang lain?" Rasulullah ﷺ mengulangi perintahnya, "Suruhlah Abu Bakar mengimami orang-orang untuk salat." Dengan demikian, Abu Bakar pun maju sebagai imam dan mulai memimpin salat Zuhur. Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ tiba-tiba merasa cukup kuat untuk bangun dari tempat tidurnya.
Dibantu orang-orang di sekitarnya, beliau datang ke masjid. Ketika Abu Bakar melihat beliau, ia ingin mundur. Rasulullah memberi isyarat agar ia tetap di tempatnya, dan duduk di sebelah kirinya. Namun Abu Bakar mundur dan mengikuti beliau. Inilah salat terakhir yang dipimpin Rasulullah ﷺ bagi para sahabatnya. Setelah itu, Abu Bakar yang memimpin salat. Hari itu adalah hari ke-13 beliau sakit, pagi hari Senin. Beliau pertama kali membuka mata di dunia ini pada hari Senin, dan sekarang juga hari Senin. Namun kali ini, perpisahan yang berat sudah dekat. Abu Bakar sedang memimpin para sahabat dalam salat Subuh.
Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya sejenak, dan melalui jendela kamarnya, beliau melihat para sahabat berdiri dalam barisan lurus, bahu berdampingan. Saat itu, beliau merasa amat bahagia. Mereka adalah para sahabatnya, yang demi mereka beliau menanggung banyak kesulitan. Betapa berbeda mereka dibanding masa Jahiliyah 23 tahun sebelumnya. Mereka semua telah kembali pada Tuhan mereka, menerima Islam, dan mengorbankan hidup serta harta demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Betapa bahagianya melihat mereka seperti itu. Itulah terakhir kalinya Rasulullah ﷺ melihat para sahabatnya seperti itu. Rasa perpisahan akan segera jatuh ke dalam hati mereka seperti bara. Pertemuan mereka berikutnya hanya di surga.
Pada suatu saat, Rasulullah ﷺ memanggil putri tercintanya, Fatimah, untuk datang ke sisinya. Ia adalah satu-satunya anak beliau yang masih hidup. dan dalam akhlaknya, cara berjalan, dan banyak hal lainnya, ia sangat mirip dengan ayahnya. Rasulullah ﷺ mendudukkannya di sebelah kirinya dan membisikkan sesuatu padanya. Fatimah tiba-tiba diliputi kesedihan. Air mata mulai mengalir dari matanya. Suaranya bergetar. Lalu Rasulullah ﷺ membisikkan sesuatu lagi kepadanya. Dan kali ini, ia mulai tersenyum. Lalu, saat Aisyah bertanya yang Rasulullah ﷺ katakan kepadanya, Fatimah berkata, "Pertama beliau berkata bahwa beliau akan segera pergi dari dunia ini dan meninggalkanku, maka aku menangis.
Lalu beliau berkata bahwa di antara keluarganya, akulah yang pertama akan menyusulnya, dan karena itulah aku tersenyum." Dan itulah yang benar-benar terjadi. Enam bulan setelah wafat ayahnya, ia pun wafat saat usianya masih dua puluhan. Merasakan penderitaan Nabi di dalam hatinya sendiri, Fatimah tidak sanggup lagi menahannya. Ia memeluk ayah tercintanya dan menangis tersedu. "Ayahku... betapa berat penderitaanmu." Tangisan itu sama seperti bertahun-tahun sebelumnya, ketika kaum musyrik menaruh isi perut unta di punggung beliau. Namun kini, masa penderitaan beliau akan berakhir. Rasulullah ﷺ memandang putrinya dan berkata, "Wahai Fatimah, ayahmu takkan menderita lagi setelah hari ini.
Sesuatu yang tak akan melewatkan siapa pun hingga Hari Kiamat, yaitu kematian, kini telah datang kepada ayahmu." Rasulullah kini berada di jalan yang tidak ada jalan kembali. Nabi kita ﷺ, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang tak pernah berhenti berjuang demi umatnya, yang menanggung segala kesulitan untuk menyampaikan Islam, yang kehidupannya menjadi teladan terbaik bagi seluruh manusia, kini terbaring di ranjang kematiannya. Ya, selama beberapa hari ini kita membahas kehidupannya yang penuh berkah. Beliau lahir sebagai yatim. Beliau kehilangan ibunya ketika masih sangat kecil. Dan hidup beliau penuh dengan kesulitan dan ujian.
Beliau menerima wahyu pertama saat sedang menyendiri dan merenung di Gua Hira. Awalnya beliau tidak memahami apa yang sedang terjadi, maka beliau langsung menemui orang pertama yang selalu beliau tuju, Khadijah. Beliau berkata, "Selimuti aku, selimuti aku." Beliau telah diberi misi kenabian. Dan dari situlah perjuangan beliau yang akan berlangsung 23 tahun dimulai. Pada tahun-tahun awal, beliau menghadapi berbagai penindasan. "Inilah yang terjadi pada mereka yang mengikuti Muhammad." Saat para sahabatnya menderita, beliau turut merasakan penderitaan itu. Kaum musyrik menyiksa mereka dengan siksaan tak terbayangkan agar mereka meninggalkan Islam.
Selama tiga tahun penuh, beliau dan keluarganya, bersama para kerabatnya, dibuat hidup dalam pemboikotan. Mereka diputus dari masyarakat, dibiarkan lapar dan haus, tapi beliau tak pernah meninggalkan misinya. Dan ketika masa itu berakhir, saat keadaan mulai sedikit membaik, beliau kehilangan orang-orang tercintanya. Pertama, beliau kehilangan pamannya Abu Thalib, orang yang selalu melindunginya. Lalu beliau kehilangan Khadijah tercinta, yang selalu berada di sisinya. Lalu beliau pergi ke Thaif, berharap mereka mau mendengar, tapi mereka melemparinya dengan batu. Jika beliau menghendaki, Allah bisa saja membinasakan penduduk Thaif. Tapi beliau tidak memintanya.
Beliau adalah Nabi penuh rahmat. Beliau berkata, “Aku yakin dari mereka akan lahir generasi yang menyembah Allah semata.” Sekali lagi, beliau memikirkan umatnya. Sekali lagi, beliau memilih rahmat. Meski menghadapi semua kesulitan ini, beliau tidak pernah menyerah. Beliau melakukan hijrah ke Madinah untuk menyebarkan Islam. Di sana, beliau bekerja tanpa lelah menegakkan agama Allah. Beliau membangun peradaban baru, dan dari sana Islam tersebar luas. Dalam Perang Uhud, beliau kehilangan pamannya, Hamzah, yang selalu berdiri di sisinya seperti gunung. Dan beliau kehilangan beberapa sahabat terdekatnya. Kehilangan ini sangat berat baginya.
Namun dalam setiap kesulitan, Rasulullah ﷺ mengambil kekuatan dari Allah dan tak pernah berhenti menyampaikan risalah-Nya. Beliau memimpin banyak ekspedisi militer, dan dengan izin Allah beliau meraih kemenangan. Melalui itu, banyak kabilah mengenal Islam dan memeluknya. Rasulullah ﷺ telah menunaikan misinya. Akhirnya beliau melaksanakan Haji Wada. dan menyampaikan Khotbah Perpisahan. Memberikan nasihat terakhir dan pengingat bagi seluruh manusia, bagi para sahabat, dan bagi umatnya. Ya, beliau telah menunaikan misinya dengan sebaik-baiknya. Dan kini waktunya telah tiba untuk pergi menuju alam yang kekal. Hari sudah lewat setengahnya, dan matahari akan terbenam.
Hanya bibir beliau yang bergerak. “Ya Allah, jadikan aku bersama Ar-Rafiq Al-A'la.” “Ya Allah, Ar-Rafiq Al-A'la.” Dengan kata lain, beliau berkata, “Bawalah aku kepada Sahabat Yang Tertinggi.” Beliau juga terus mengulang, “Salat… salat…” mengingatkan mereka agar menjaga salat. Selama berabad-abad, bumi menanti kedatangannya. Dan sekarang, para malaikat langit sedang menunggu. Di samping beliau ada semangkuk air. Beliau mencelupkan tangannya dan mengusap wajahnya sambil berkata, “La ilaha illallah (Tiada tuhan selain Allah).” Lalu beliau menunjuk ke atas ke arah langit sambil mengulang, “Ya Allah, Ar-Rafiq Al-A'la. Beliau wafat pada usia 63 tahun.
Fatimah mengeluarkan air mata dan mulai menangis keras. Ketika istri-istri Nabi juga mulai menangis, para sahabat pun memahami apa yang telah terjadi. Ali berdiri di sana seakan berubah menjadi batu. Matanya penuh air mata. Utsman terdiam. Seolah lidahnya kelu. Namun Umar RA merasa sangat terpukul oleh peristiwa yang menggetarkan itu. “Rasulullah tidak wafat! Beliau masih hidup! Beliau hanya pingsan, seperti yang pernah terjadi pada Musa. Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, akan kupenggal dengan pedangku.” Pada saat itu, Abu Bakar berada di rumahnya di Sunh. Ketika mendengar kabar itu, ia segera bergegas datang.
Tanpa melihat siapa pun, ia langsung masuk ke kamar dan membuka penutup wajah Nabi. Ia mencium kening beliau dan menangis. “Betapa indah engkau dalam kematian, sebagaimana engkau indah dalam kehidupan, wahai Rasulullah.” Kemudian ia menutup kembali wajah beliau dan melangkah ke luar. Di depannya ada kerumunan sahabat yang tidak tahu harus berbuat apa. Semua menangis, diliputi duka dan keterkejutan. Ia juga telah mendengar perkataan Umar. “Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat.
Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Allah berfirman, “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur." Ayat ini sebenarnya turun pada hari Perang Uhud, setelah tersebar kabar palsu dari kaum musyrik bahwa Muhammad telah terbunuh. Walaupun para sahabat telah membacanya ratusan bahkan ribuan kali, dalam saat duka itu, seakan-akan mereka melupakannya.
Namun dengan satu ayat itu, Abu Bakar menenangkan hati semua orang. Setelah mendengar kata-kata itu, para sahabat mulai menenangkan diri, meskipun hanya sedikit. Mereka akhirnya menerima bahwa Rasulullah telah pergi dari dunia ini. Umar pun akhirnya sadar dan berhenti bersikeras bahwa Rasulullah belum tiada. Lalu Umar berkata, “Seolah-olah aku mendengar ayat itu untuk pertama kalinya.” Ya, belum pernah dalam sejarahnya Madinah merasakan kebahagiaan seperti pada hari tibanya Rasulullah ﷺ. Dan kini, kota itu mengalami kesedihan terdalamnya. Air mata mengalir dari mata mereka, dan duka serta kesedihan mengalir dari hati mereka. Tapi kesedihan tak akan menyelesaikan apa pun.
Apa yang harus kita lakukan sekarang? Seorang khalifah harus dipilih. Seseorang yang akan memimpin kaum Muslimin dan melanjutkan penerapan hukum Islam. Ia harus menjadi tempat berlindung bagi seluruh umat. Seseorang yang menghabiskan siang dan malamnya untuk keperluan Islam. Maka para sahabat berkumpul. Orang yang paling layak memikul tanggung jawab besar ini adalah Abu Bakar. Ia termasuk orang pertama yang beriman di Makkah. Ia adalah sahabat Nabi dalam hijrah, salah satu dari dua orang di dalam gua. Dan selama sakit, Rasulullah ﷺ memberi tanda yang jelas kepadanya. Beliau memerintahkan semua pintu yang menuju masjid untuk ditutup, dan hanya pintu Abu Bakar yang dibiarkan terbuka.
Beliau juga menunjuknya memimpin salat. Beliau memberinya peran imam, yang berarti kepemimpinan. Salat adalah salah satu rukun Islam, bukan? Dan dari puluhan sahabat, beliau memilih Abu Bakar memimpin salat bagi seluruh kaum Muslimin. Abu Bakar tidak pernah ragu mengorbankan segalanya untuk Islam dan kaum Muslimin. Bahkan tak sehari pun ia ragu. Ketika pasukan perlu dipersiapkan, ia membuat pengorbanan yang tak tertandingi. Ia membawa semua yang dimilikinya.
Rasulullah bertanya, “Apa yang kau tinggalkan bagi keluargamu, wahai Abu Bakar?” “Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” Pagi setelah peristiwa Mi'raj, ketika kaum musyrik mengejek Rasulullah, dan pada hari-hari tersulit, dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq, Abu Bakar selalu berada di sisi beliau. Karena semua alasan ini, dialah yang paling layak menjadi khalifah setelah Rasulullah ﷺ. Dan itulah yang terjadi. Setelah para sahabat berkumpul dan saling bermusyawarah, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah pertama Islam. Keesokan harinya, waktu Zuhur tiba. Seluruh Madinah, yang masih berduka, memenuhi masjid untuk salat. Seperti biasa, Bilal mulai mengumandangkan azan.
Namun ketika sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah," tenggorokannya tercekat. Suaranya bergetar, dan ia tidak mampu melanjutkan. Ia harusnya memanggil orang-orang untuk salat, untuk mengajak mereka. Namun ia tidak sanggup. Ia tak mampu melanjutkan, dan akhirnya menangis. Semua orang ikut menangis. Bilal bahkan tak sanggup membayangkan Madinah tanpa Rasulullah ﷺ. Ia tak mampu lagi mengumandangkan azan. Ia tak ingin lagi tinggal di kota yang setiap sudutnya mengingatkannya kepada Rasulullah. Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Syam. Jasad mulia Rasulullah ﷺ dimandikan oleh Ali RA.
Saat memandikannya, tersebar harum seperti kasturi, aroma yang belum pernah tercium sebelumnya. Pada hari Selasa sebelum siang, proses memandikan dan mengafani selesai. Para sahabat datang dan menyalatkan jenazah beliau. Rasulullah ﷺ pernah berkata, "Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut." Maka atas perintah Abu Bakar, beliau dimakamkan di kamar Aisyah, di tempat beliau wafat. Beliau pernah bersabda, "Kami para nabi tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah." Bahkan baju perang beliau masih tergadai dengan pria Yahudi untuk jaminan jelai.
Bagi seseorang yang bahkan tak mengenal beliau, pemandangan ini saja sudah cukup. Namun meski begitu, beliau tetap meninggalkan warisan bagi kita. Dua warisan: Al-Qur'an dan Sunah. Beliau menunaikan tugasnya dengan sempurna. Sekarang giliran kita. Beliau mempercayakan panji itu kepada kita. Dan kini tanggung jawab kita mengangkatnya kembali dan membawanya ke seluruh dunia. Ini bukan waktunya kita hanya duduk di rumah. Panji yang dipercayakan kepada kita menunggu kita untuk melangkah. Panji itu merindukan hari-hari saat ia berkibar tinggi. Dunia sedang menantikan pesan ini. Menantikan langkah keluar dari kegelapan zaman Jahiliyah dan menuju cahaya iman, cahaya Al-Qur'an.
Umat manusia sedang sakit secara spiritual. Jiwa mereka menderita, tapi mereka tak menemukan jalan keluar. Saat obatnya ada di tangan kita, berapa lama lagi kita diam dan menunggu? Bukankah sudah saatnya perjalanan kita dimulai? Engkau hidup untuk umatmu, wahai Rasulullah. Lalu untuk apa kita hidup? Engkau menghabiskan malam tanpa tidur untuk menyelamatkan umatmu, sementara kita hanya memikirkan diri sendiri. Engkau tidak pernah menyerah meski menghadapi ujian terberat. Namun, kita tersesat hanya karena kesulitan kecil. Dan engkau masih merindukan kami. Engkau memanggil kami "saudara-saudariku". Tapi, apa kita layak menyandang nama itu?
Cukupkah menyatakan aku mencintaimu untuk menjadi bagian dari umatmu? Ataukah itu berarti menghidupkan sunahmu, dan benar-benar menerapkannya dalam kehidupan kita? Kini waktunya untuk bangkit. Sebagai umat yang kau tangisi, saatnya memantaskan diri untukmu. Wahai Rasulullah. Kami berjanji berpegang teguh pada jalanmu, perjuanganmu, dan warisanmu. Hari ini, kami akan membuat perubahan. Hari ini, kami akan mulai hidup sesuai teladanmu. Hari ini, kami akan melangkah menjadi saudara yang engkau rindukan. Dan untukmu, saudaraku, saudariku, yang sedang menonton video ini.
Jika kalian ingin menguatkan iman dan memperdalam ilmu, kami telah menyiapkan puluhan video edukasi untuk kalian di channel Toward Eternity kami. Bahkan dengan usaha kecil yang konsisten, kalian bisa membuat kemajuan besar, Insya Allah. Jika kalian berkata, "Aku ingin belajar Islam dari awal," kami memiliki aplikasi bernama Step Islam. Dengan aplikasi salat gratis kami, kalian dapat menjadikan lima waktu salat sebagai bagian tetap di hidup kalian. Jika kalian belum bisa membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab, kami telah mengembangkan aplikasi bernama Lamalif Quran. Dan jika kalian ingin memahami makna Al-Qur'an lebih dalam, kalian bisa mengunduh Aplikasi Membaca Tafsir kami, My Risale.
Jika seri ini sampai kepada kalian, Allah ingin kalian mengubah sesuatu dalam hidup kalian. Jadi, apakah kita tidak akan mengambil satu langkah menuju Dirinya sebagai balasannya? Wahai Rasulullah. Semoga Allah jadikan kami umat yang layak untukmu. Salawat dan salam atasmu. Wahai yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wahai Rasulullah ﷺ.
Karena di hatinya, sebelum kebutuhan dan perjuangannya sendiri, ada umatnya. Ada kita. Maka beliau menyimpan doanya. Beliau tidak memakainya untuk dirinya atau keluarganya, atau untuk meringankan kesulitan yang dialaminya. Beliau berkata, "Aku menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku pada hari kiamat." Beliau menyimpan doa itu agar dapat memohon ampunan untuk kita di hari kiamat. Memohon pada Rabb-Nya dengan berkata, "Umatku, umatku," dan menyelamatkan kita di Hari Pengadilan. Beliau tak memakai doa itu di dunia. Alih-alih meminta kenyamanan bagi dirinya, beliau ingin menyelamatkan kehidupan abadi kita. Begitulah rahmat dan cinta beliau untuk umatnya.
Kini beliau merasa hari-hari terakhirnya tiba. Segera beliau akan berbicara kepada para sahabat, umatnya, dan seluruh manusia dalam khutbahnya. Yang kita kenal sebagai Khotbah Perpisahan. Mari kembali ke momen itu untuk mendengar kata-kata beliau. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam tepercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Salah satu rukun Islam, Haji, diwajibkan pada tahun ke-9 hijrah. Pada tahun ke-10, Rasulullah ﷺ mulai bersiap menunaikan haji. Beliau juga memerintahkan kaum Muslim Madinah dan kabilah sekitar untuk bersiap.
Ribuan Muslim berkumpul di Madinah siap untuk berangkat. Mereka sangat gembira karena mereka akan menunaikan haji pertama bersama Rasulullah ﷺ. Namun mereka tidak tahu bahwa ini adalah haji terakhir Rasulullah SAW. Pada 25 Dzulqa'dah, kafilah 40.000 orang salat Zuhur lalu berangkat, dipimpin Rasulullah ﷺ. Sebelum memulai haji, beliau berdoa, "Ya Allah, karuniakan haji tanpa riya dan tanpa mencari pujian." Mereka membawa 100 unta untuk kurban. Setelah sekitar 10 hari perjalanan, mereka tiba di Makkah pada 4 Dzulhijjah. Para Muslim yang ingin berhaji dari Yaman dan daerah lain bergabung, jumlahnya mencapai lebih dari 100.000. Sungguh peristiwa yang menyentuh hati.
Sepuluh tahun lalu, Rasulullah ﷺ dipaksa meninggalkan Makkah hanya bersama Abu Bakar di sisinya. Kini beliau kembali ke Makkah bersama puluhan ribu Muslim. Ini bukan hasil perang, bukan pula hasil pedang. Ini bukan tentang pedang. Ini tentang menaklukkan hati. Rasulullah ﷺ merasa tenang. Beliau siap menunaikan ibadah haji. Pada 8 Dzulhijjah, beliau ke Mina. Pada hari ke-9 beliau ke Arafah. Sore itu di tengah lembah Arafah, beliau menyampaikan Khutbah Perpisahan. Beliau berkata, "Wahai manusia." Perhatikan, beliau tak berkata, "Wahai umat Muslim," karena seruan ini bukan hanya untuk yang hadir di Arafah saat itu. Tapi untuk setiap manusia yang lahir hingga Hari Kiamat.
Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, beliau berbicara pada lebih 100.000 orang. Dan melalui mereka, kepada seluruh generasi setelahnya. Beliau memulai khutbah dengan kata-kata: "Segala puji dan syukur hanya bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah. Dia Maha Esa. Tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang setara dengan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Wahai manusia, dengarkanlah aku yang akan menjelaskan kepada kalian semua, karena aku tak tahu apakah aku akan bertemu dengan kalian setelah tahunku ini, di tempat ku berdiri ini. Wahai manusia, sebagaimana sucinya hari kalian ini, bulan ini, dan negeri ini, Makkah, maka darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian juga suci. Semuanya terlindungi dari keburukan. Wahai para sahabat, esok kalian akan bertemu Tuhan kalian. Dan kalian pasti akan ditanya tentang semua yang telah kalian lakukan. Janganlah kembali pada kekafiran sesudahku, hingga sebagian dari kalian memenggal kepala yang lain. Yang hadir hendaklah menyampaikan ucapanku kepada yang tidak hadir.
Bisa jadi yang menerimanya lebih memahami daripada yang mendengar di sini sekarang." Lalu pertama-tama, beliau berbicara tentang riba. Beliau berkata, "Wahai sahabatku, barangsiapa yang memiliki amanah, hendaknya ia menunaikannya pada orang yang memberinya amanat. Ketahuilah, semua bentuk riba telah dihapuskan. Ini adalah perintah Allah. dan riba yang aku mulai hapuskan adalah riba pamanku Abbas Bin Abdul Muthalib. Namun pokok harta yang kalian berikan tetap milik kalian. Jangan menzalimi dan jangan dizalimi." Lalu beliau berbicara tentang hak-hak perempuan. "Wahai manusia, aku wasiatkan agar kalian menghormati hak-hak perempuan dan bertakwa pada Allah dalam memperlakukan mereka.
Kalian mengambil mereka sebagai amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan hubungan dengan mereka dengan janji atas nama Allah. Mereka memiliki hak atas kalian sebagaimana kalian atas mereka." Beliau menyampaikan kata-kata yang menghapus rasisme. "Wahai manusia, Tuhan kalian satu. Ayah kalian satu. Kalian semua berasal dari Adam, Dan Adam diciptakan dari tanah. Orang Arab tidak lebih mulia dari non-Arab. Dan non-Arab tidak lebih mulia dari Arab. Yang berkulit putih tidak lebih mulia dari yang berkulit hitam, dan yang berkulit hitam tidak lebih mulia dari yang berkulit putih. Kemuliaan didapat hanya dengan bertakwa kepada Allah.
Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." Beliau membahas masalah yang akan dihadapi manusia selama berabad-abad, serta memberikan solusi yang sangat dibutuhkan dunia. Lalu beliau meninggalkan sebuah amanah. "Rasulullah ﷺ bersabda, wahai orang beriman, aku tinggalkan bagi kalian dua perkara. Selama kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat. Yaitu Kitab Allah, Al-Qur'an, dan Sunnah Nabi-Nya." Terakhir, beliau bertanya pada para sahabat, "Wahai manusia, kalian akan ditanya tentangku.
Maka apa yang akan kalian katakan?" "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberi nasihat." Mendengar itu, Rasulullah ﷺ mengangkat jari telunjuknya ke langit dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!" Bahkan 14 abad kemudian, jika kesaksian kami diterima, kami pun bersaksi bahwa engkau telah menunaikan amanahmu, wahai Rasulullah ﷺ. Saat itu sudah menjelang sore. Malam mulai mendekat. Rasulullah ﷺ berada di atas untanya, Qaswa. Tiba-tiba wajah beliau berubah, dan butiran keringat mengalir di dahinya. Para sahabat tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu.
Beberapa saat kemudian, saat keadaan itu berlalu, Rasulullah ﷺ membacakan ayat yang baru turun. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." Tiba-tiba, terdengar tangisan keras. Itu adalah Abu Bakar. Air matanya mengalir terus-menerus. Saat semua orang merasa gembira mendengar ayat ini, apa yang membuatnya menangis? Ia menyadari bahwa ayat ini sesungguhnya adalah perpisahan. Ketika Allah berfirman, "Aku sempurnakan agamamu untukmu," itu berarti misi Rasulullah telah selesai. Dan waktu perpisahan telah dekat. Saat itu, hanya Abu Bakar yang memahami ini. Mungkin Allah sedang mempersiapkannya.
untuk perpisahan yang berat ini. Karena wafatnya Rasulullah ﷺ akan mengguncang para sahabat. Saat itu terjadi, harus ada seseorang yang tetap tegar, menenangkan mereka, dan membimbing mereka. Dan benar saja, pada hari itu, Abu Bakar berdiri tegar seperti gunung. Dua tahun telah berlalu sejak Fathu Makkah. Lalu apa yang terjadi selama dua tahun itu? Mari kita ringkas. Sebagai jantungnya Jazirah Arab, Makkah telah menjadi pusat tauhid, yakni mengesakan Allah. Perubahan besar ini membuka jalan bagi kabilah lain untuk memeluk Islam. "Muhammad adalah Rasul Allah." Dengan demikian, tahun yang dikenal Al-Wufud (Tahun Delegasi) pun dimulai. Kabilah dari seluruh Arab datang dan memeluk Islam.
Orang-orang dari Yaman, kabilah Sulaym, Muzaynah, Juhaynah, Hawazin, dan bahkan penduduk Thaif datang dan memeluk Islam. Ingat doa Rasulullah ﷺ untuk penduduk Thaif? Doa itu kini terkabul. Pada tahun itu, lebih dari 60 delegasi datang. Tidak lama setelah Makkah ditaklukkan, penguasa dan rakyat Oman juga memeluk Islam. Pemimpin lain yang menjadi Muslim adalah penguasa Bahrain. Bersamanya, pemimpin agama kaum Zoroastrian juga memeluk Islam. Sementara sebagian orang Zoroastrian di Bahrain menjadi Muslim, yang lain memilih tetap dalam agama mereka. Hari-hari yang diberitakan di Surah An-Nasr akhirnya tiba.
Sebagaimana ayat itu menggambarkan, manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Dan ke wilayah kaum Muslim baru ini, para sahabat diutus sebagai gubernur atau utusan. Para sahabat ini menjadi hakim dan mengajarkan agama kepada masyarakat. "...dan janganlah kalian berpecah-belah." Mereka juga bertanggung jawab mengatur urusan zakat. Ingat tiga hal yang Rasulullah ﷺ perjuangkan saat fondasi negara sedang dibangun di Madinah? Kebodohan... kemiskinan... dan konflik. Para gubernur ini sebenarnya menerapkan perjuangan yang sama.
Mereka membantu masyarakat mempelajari agama, dan karena Islam bukan hanya tentang ibadah, melainkan petunjuk setiap aspek kehidupan, mereka sebenarnya sedang melawan kebodohan. Melalui peran mereka sebagai hakim, dengan memberi keputusan yang adil dan menyebarkan akhlak Islam, mereka melawan konflik dan perpecahan. Dan dengan mengelola urusan zakat, mereka secara langsung melawan kemiskinan. Setiap tahun, suku-suku diajarkan tentang zakat, salah satu dari lima rukun Islam. Kemudian zakat diambil dari mereka yang hartanya telah mencapai batas minimum yang disebut nisab. Para petugas kemudian menyalurkan pembayaran zakat tersebut pada yang membutuhkan di daerah itu.
Sistem ini memiliki dampak besar sehingga dalam beberapa tahun saja, orang yang dahulu menerima zakat bisa sampai pada titik mereka mampu memberi zakat. Bahkan, hanya beberapa tahun kemudian, Muadz bin Jabal mengumpulkan zakat, namun ia tak bisa menemukan satu pun orang yang membutuhkan di Yaman, ia harus mengirimkan zakat tersebut ke pusat kekhalifahan untuk dibagikan di tempat lain. Bayangkan itu. Kalian pergi untuk memberi sedekah, tapi tak ada yang membutuhkannya di kotamu. Terdengar seperti mimpi, bukan? Itulah sistem yang dijanjikan Islam. Pada masa Rasulullah ﷺ dan Khulafaur Rasyidin, kaum Muslim tidak diminta membayar pajak selain zakat.
Dan jika seorang Muslim tak mampu membayar zakat, tak ada yang diambil darinya. Namun dari komunitas Yahudi, Kristen, dan Zoroastrian, dipungut pajak yang disebut jizyah. Sebagai imbalannya, mereka tidak harus ikut berperang saat perang terjadi. Jiwa dan harta mereka dilindungi, dan mereka dapat menikmati layanan negara tanpa diskriminasi. Bahkan, pada masa kekhalifahan Ali RA beliau diperlakukan setara di pengadilan dengan seorang pria Kristen. Padahal beliau adalah kepala negara. Dan pria Kristen itu tidak dizalimi sedikit pun. Namun, kau tak akan pernah melihat tingkat keadilan seperti ini di negara lain, seperti Bizantium atau Sasaniyah.
Dan jumlah jizyah yang diwajibkan bukanlah jumlah yang akan memberatkan orang lain. Bahkan orang-orang yang hidup di bawah kekuasaan Bizantium dan Sasaniyah telah dipaksa membayar pajak besar selama bertahun-tahun. "Ini adalah sisa terakhir benihku. Anak-anakku kelaparan sementara lumbungmu penuh. Tuhan pasti akan mengirimkan kami seorang penyelamat!" Namun ketika wilayah mereka berada dalam pemerintahan Islam, mereka lega akan pajak yang lebih ringan. Selain itu, perempuan, orang tua, orang yang sakit berat, dan para pemimpin agama tidak dibebankan pajak. Selain wilayah yang ditaklukkan, beberapa kerajaan juga menerima kekuasaan kaum Muslim dan setuju membayar jizyah setiap tahun.
Misalnya, selama ekspedisi Tabuk, raja Kindah, penguasa Ayla, penduduk Jarba dan Adhruh diajak memeluk Islam. Namun mereka tidak menerima. Maka, dengan membayar jizyah tahunan, perjanjian damai dibuat dengan mereka. "Atas perintah Rasulullah ﷺ, sekarang kalian harus membayar jizyah." Pada saat itu, pengeluaran negara ditutupi dengan tiga cara: jizyah, rampasan perang, dan pendapatan dari sedekah, wakaf. Dan hanya dalam dua tahun setelah penaklukan Makkah, keamanan dan kendali kuat telah berhasil ditegakkan. Sistem yang kokoh telah terbentuk. Di sisi lain, atas perintah Rasulullah ﷺ, berhala dan kuil berhala dihancurkan di seluruh wilayah. Penyembahan berhala di Arab sepenuhnya dilenyapkan.
Semua perubahan besar ini terjadi hanya dalam 23 tahun. Dalam masyarakat Jahiliyah, di mana perubahan seperti ini hampir mustahil terjadi. Dengan kehendak Allah, Rasulullah ﷺ mengubah arang menjadi berlian. Dan para sahabat yang beliau didik adalah orang-orang yang menjadi guru dan teladan bagi dunia di berbagai bidang. Rasulullah ﷺ sedang menunaikan Haji Wada (haji perpisahan). Beliau telah menyelesaikan seluruh tahapan satu per satu. Ketika tiba waktu penyembelihan, beliau menyembelih 63 ekor unta. Satu untuk setiap tahun hidupnya. Dan beliau melakukannya dengan tangannya sendiri. Bagi seseorang seusia beliau, menyembelih 63 unta dalam sehari bukanlah hal yang mudah.
Hal itu menunjukkan bahwa beliau masih kuat dan sehat. Meski usia beliau semakin lanjut, tak terlihat tanda kelemahan. Kemudian beliau mencukur rambutnya. Haji pun selesai. Beliau dan para sahabat kembali ke Madinah. Saat itu tahun ke-11 setelah hijrah. Rasulullah ﷺ jatuh sakit menderita demam. Penyakit itu semakin parah setiap harinya. Setiap tahun di bulan Ramadan, malaikat Jibril datang, dan bersama Rasulullah ﷺ, mereka membaca seluruh ayat Al-Qur'an yang telah turun sampai saat itu. Namun pada tahun itu, mereka menyelesaikan bacaan dua kali. Itu adalah tanda jelas bahwa tahun itu berbeda. Pada masa itu, beliau sering mengunjungi makam.
Rasulullah ﷺ pergi ke pemakaman Al-Baqi dan berkata, "Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai tempat tinggal kaum mukminin. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan kepada kalian. Dan kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah para penghuni Baqi al-Gharqad." Setelah beberapa saat, beliau berkata, "Aku sangat ingin melihat saudara-saudaraku." "Wahai Rasulullah ﷺ, Bukankah kami adalah saudara-saudaramu?" Beliau menjawab, “Kalian adalah para sahabatku.
Sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang berikutnya.” Dan aku akan sampai di Haudh (telaga) sebelum kalian, sebuah telaga yang dipenuhi air dari Al-Kautsar (sungai di surga)." Ya, beliau sedang berbicara tentang kita. Beliau menyebut kita "saudaraku". Yaitu mereka yang akan beriman padanya dan mengikuti jalannya tanpa pernah melihatnya. "Kami beriman padamu tanpa pernah melihatmu wahai Rasulullah ﷺ. Kami mencintaimu tanpa pernah melihatmu, wahai kekasih Allah. Kami mungkin tidak pantas disebut saudaramu, tapi kami amat mencintaimu." Kini beliau memasuki 13 hari terakhirnya. Itulah hari-hari terakhir dari kehidupan beliau yang mulia.
Penyakitnya semakin parah, dan tubuhnya menjadi sangat lemah. Beliau merasakan kesakitan yang hebat. Semua orang tahu betapa serius keadaan ini. Para sahabat sangat bersedih. Beliau datang untuk menyelamatkan mereka agar tak menjadi yatim secara spiritual. Dan sekarang, apakah mereka harus hidup tanpanya? Menjadi yatim sekali lagi? Jika beliau pergi, kepada siapa mereka mengadu? Ucapan siapa yang akan menyejukkan pikiran dan jiwa mereka? Namun dunia ini sementara. Dan setiap manusia hanyalah tamu di sini. Cepat atau lambat, malaikat maut akan mengetuk pintu setiap orang. Setiap jiwa akan merasakan kematian. Bahkan di hari-hari terakhirnya, beliau masih memikirkan umatnya.
Dalam doa dan air matanya, umatnya selalu ada. Beliau menangisi mereka. Pada suatu saat, Jibril AS datang dan bertanya kenapa beliau menangis. Beliau menjawab, "Umatku, wahai Jibril, umatku. Aku mengkhawatirkan mereka." Jibril pergi dan kali ini kembali membawa kabar gembira. Allah berfirman, "Pergilah menemui Muhammad, lalu katakan, "Kami akan membuatmu rida terkait umatmu dan Kami tak akan membuatmu sedih." Pada hari-hari sulit ini, beliau ingin tinggal di tempat ternyamannya, yaitu di rumah ibu kita Aisyah RA. Setiap malam, beliau biasanya tinggal bergiliran di rumah istri-istrinya. Bahkan dalam keadaan seperti itu, beliau tetap menjaga keadilan.
Beliau menanyakan dahulu giliran siapa saat itu, lalu pergi ke rumah ibu kita Maimunah. Tapi para istri beliau memahami keinginannya. Maka mereka berkumpul dan memberikan izin agar Rasulullah ﷺ tinggal di rumah Aisyah. Tersisa lima hari lagi. Beliau tahu bahwa waktunya di dunia akan berakhir. Dengan bantuan Ali RA, beliau pergi ke masjid dan meminta para sahabat berkumpul. Rasulullah ﷺ menghadap sahabat dan berkata: "Allah telah memberi pilihan pada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah" Tiba-tiba seseorang mulai menangis. Sekali lagi, itu adalah sahabat setianya, Abu Bakar As-Siddiq.
Ia berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu." Rasulullah ﷺ memandang Abu Bakar dan berkata, "Di antara semua orang, yang paling banyak berjasa kepadaku, baik dengan persahabatan maupun hartanya, adalah Abu Bakar. Jika aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat terdekat) di dunia ini, itu adalah Abu Bakar. Tapi aku tidak bisa mengambil khalil karena Allah telah menjadikanku sebagai khalil-Nya. Yang mengikat kita adalah persaudaraan dan cinta dalam Islam." Kemudian beliau berkata, "Semua pintu masjid harus ditutup kecuali pintu Abu Bakar." Perintah itu pun dilaksanakan.
Dengan mengatakan "tutup semua pintu ke masjid kecuali pintu Abu Bakar", sebenarnya beliau memberi makna yang lebih dalam. Seakan beliau berkata, "Mungkin sebagian dari kalian ingin memikul tanggung jawab umat ini. Tapi aku menutup semua pintu lainnya untuk urusan itu. Dan aku ingin Abu Bakar diberi kedudukan itu." Demam Rasulullah ﷺ terus meningkat, dan penyakitnya semakin parah. Saat para sahabat menjenguknya dan melihat kondisi beliau, mereka sangat bersedih. Rasulullah ﷺ pernah berkata, "Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Dan sungguh, salah seorang dari mereka benar-benar merasa gembira saat menerima ujian sebagaimana kalian merasa gembira saat menerima nikmat.
Kemudian beliau menambahkan, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya bersamanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya." Rasulullah ﷺ sudah tidak memiliki kekuatan untuk pergi ke masjid. Sebelumnya, dengan bantuan pamannya, Abbas, Ali, dan keponakannya Fadl, beliau masih bisa pergi ke sana dan memimpin salat. Tapi kini, beliau terbaring di kasur untuk waktu yang lama, dan hanya sesekali beliau bisa membuka matanya.
Suatu saat, beliau bertanya, "Apakah orang-orang sudah salat?" "Belum, mereka menunggumu, wahai Rasulullah ﷺ." Beliau lalu berkata, "Minta Abu Bakar untuk memimpin salat." "Wahai Rasulullah ﷺ, ayahku Abu Bakar adalah pria berhati lembut. Jika ia menggantikanmu, ia takkan mampu menahan air matanya. Dan mereka pun akan ikut menangis bersamanya. Bisakah engkau menunjuk orang lain?" Rasulullah ﷺ mengulangi perintahnya, "Suruhlah Abu Bakar mengimami orang-orang untuk salat." Dengan demikian, Abu Bakar pun maju sebagai imam dan mulai memimpin salat Zuhur. Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ tiba-tiba merasa cukup kuat untuk bangun dari tempat tidurnya.
Dibantu orang-orang di sekitarnya, beliau datang ke masjid. Ketika Abu Bakar melihat beliau, ia ingin mundur. Rasulullah memberi isyarat agar ia tetap di tempatnya, dan duduk di sebelah kirinya. Namun Abu Bakar mundur dan mengikuti beliau. Inilah salat terakhir yang dipimpin Rasulullah ﷺ bagi para sahabatnya. Setelah itu, Abu Bakar yang memimpin salat. Hari itu adalah hari ke-13 beliau sakit, pagi hari Senin. Beliau pertama kali membuka mata di dunia ini pada hari Senin, dan sekarang juga hari Senin. Namun kali ini, perpisahan yang berat sudah dekat. Abu Bakar sedang memimpin para sahabat dalam salat Subuh.
Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya sejenak, dan melalui jendela kamarnya, beliau melihat para sahabat berdiri dalam barisan lurus, bahu berdampingan. Saat itu, beliau merasa amat bahagia. Mereka adalah para sahabatnya, yang demi mereka beliau menanggung banyak kesulitan. Betapa berbeda mereka dibanding masa Jahiliyah 23 tahun sebelumnya. Mereka semua telah kembali pada Tuhan mereka, menerima Islam, dan mengorbankan hidup serta harta demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Betapa bahagianya melihat mereka seperti itu. Itulah terakhir kalinya Rasulullah ﷺ melihat para sahabatnya seperti itu. Rasa perpisahan akan segera jatuh ke dalam hati mereka seperti bara. Pertemuan mereka berikutnya hanya di surga.
Pada suatu saat, Rasulullah ﷺ memanggil putri tercintanya, Fatimah, untuk datang ke sisinya. Ia adalah satu-satunya anak beliau yang masih hidup. dan dalam akhlaknya, cara berjalan, dan banyak hal lainnya, ia sangat mirip dengan ayahnya. Rasulullah ﷺ mendudukkannya di sebelah kirinya dan membisikkan sesuatu padanya. Fatimah tiba-tiba diliputi kesedihan. Air mata mulai mengalir dari matanya. Suaranya bergetar. Lalu Rasulullah ﷺ membisikkan sesuatu lagi kepadanya. Dan kali ini, ia mulai tersenyum. Lalu, saat Aisyah bertanya yang Rasulullah ﷺ katakan kepadanya, Fatimah berkata, "Pertama beliau berkata bahwa beliau akan segera pergi dari dunia ini dan meninggalkanku, maka aku menangis.
Lalu beliau berkata bahwa di antara keluarganya, akulah yang pertama akan menyusulnya, dan karena itulah aku tersenyum." Dan itulah yang benar-benar terjadi. Enam bulan setelah wafat ayahnya, ia pun wafat saat usianya masih dua puluhan. Merasakan penderitaan Nabi di dalam hatinya sendiri, Fatimah tidak sanggup lagi menahannya. Ia memeluk ayah tercintanya dan menangis tersedu. "Ayahku... betapa berat penderitaanmu." Tangisan itu sama seperti bertahun-tahun sebelumnya, ketika kaum musyrik menaruh isi perut unta di punggung beliau. Namun kini, masa penderitaan beliau akan berakhir. Rasulullah ﷺ memandang putrinya dan berkata, "Wahai Fatimah, ayahmu takkan menderita lagi setelah hari ini.
Sesuatu yang tak akan melewatkan siapa pun hingga Hari Kiamat, yaitu kematian, kini telah datang kepada ayahmu." Rasulullah kini berada di jalan yang tidak ada jalan kembali. Nabi kita ﷺ, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang tak pernah berhenti berjuang demi umatnya, yang menanggung segala kesulitan untuk menyampaikan Islam, yang kehidupannya menjadi teladan terbaik bagi seluruh manusia, kini terbaring di ranjang kematiannya. Ya, selama beberapa hari ini kita membahas kehidupannya yang penuh berkah. Beliau lahir sebagai yatim. Beliau kehilangan ibunya ketika masih sangat kecil. Dan hidup beliau penuh dengan kesulitan dan ujian.
Beliau menerima wahyu pertama saat sedang menyendiri dan merenung di Gua Hira. Awalnya beliau tidak memahami apa yang sedang terjadi, maka beliau langsung menemui orang pertama yang selalu beliau tuju, Khadijah. Beliau berkata, "Selimuti aku, selimuti aku." Beliau telah diberi misi kenabian. Dan dari situlah perjuangan beliau yang akan berlangsung 23 tahun dimulai. Pada tahun-tahun awal, beliau menghadapi berbagai penindasan. "Inilah yang terjadi pada mereka yang mengikuti Muhammad." Saat para sahabatnya menderita, beliau turut merasakan penderitaan itu. Kaum musyrik menyiksa mereka dengan siksaan tak terbayangkan agar mereka meninggalkan Islam.
Selama tiga tahun penuh, beliau dan keluarganya, bersama para kerabatnya, dibuat hidup dalam pemboikotan. Mereka diputus dari masyarakat, dibiarkan lapar dan haus, tapi beliau tak pernah meninggalkan misinya. Dan ketika masa itu berakhir, saat keadaan mulai sedikit membaik, beliau kehilangan orang-orang tercintanya. Pertama, beliau kehilangan pamannya Abu Thalib, orang yang selalu melindunginya. Lalu beliau kehilangan Khadijah tercinta, yang selalu berada di sisinya. Lalu beliau pergi ke Thaif, berharap mereka mau mendengar, tapi mereka melemparinya dengan batu. Jika beliau menghendaki, Allah bisa saja membinasakan penduduk Thaif. Tapi beliau tidak memintanya.
Beliau adalah Nabi penuh rahmat. Beliau berkata, “Aku yakin dari mereka akan lahir generasi yang menyembah Allah semata.” Sekali lagi, beliau memikirkan umatnya. Sekali lagi, beliau memilih rahmat. Meski menghadapi semua kesulitan ini, beliau tidak pernah menyerah. Beliau melakukan hijrah ke Madinah untuk menyebarkan Islam. Di sana, beliau bekerja tanpa lelah menegakkan agama Allah. Beliau membangun peradaban baru, dan dari sana Islam tersebar luas. Dalam Perang Uhud, beliau kehilangan pamannya, Hamzah, yang selalu berdiri di sisinya seperti gunung. Dan beliau kehilangan beberapa sahabat terdekatnya. Kehilangan ini sangat berat baginya.
Namun dalam setiap kesulitan, Rasulullah ﷺ mengambil kekuatan dari Allah dan tak pernah berhenti menyampaikan risalah-Nya. Beliau memimpin banyak ekspedisi militer, dan dengan izin Allah beliau meraih kemenangan. Melalui itu, banyak kabilah mengenal Islam dan memeluknya. Rasulullah ﷺ telah menunaikan misinya. Akhirnya beliau melaksanakan Haji Wada. dan menyampaikan Khotbah Perpisahan. Memberikan nasihat terakhir dan pengingat bagi seluruh manusia, bagi para sahabat, dan bagi umatnya. Ya, beliau telah menunaikan misinya dengan sebaik-baiknya. Dan kini waktunya telah tiba untuk pergi menuju alam yang kekal. Hari sudah lewat setengahnya, dan matahari akan terbenam.
Hanya bibir beliau yang bergerak. “Ya Allah, jadikan aku bersama Ar-Rafiq Al-A'la.” “Ya Allah, Ar-Rafiq Al-A'la.” Dengan kata lain, beliau berkata, “Bawalah aku kepada Sahabat Yang Tertinggi.” Beliau juga terus mengulang, “Salat… salat…” mengingatkan mereka agar menjaga salat. Selama berabad-abad, bumi menanti kedatangannya. Dan sekarang, para malaikat langit sedang menunggu. Di samping beliau ada semangkuk air. Beliau mencelupkan tangannya dan mengusap wajahnya sambil berkata, “La ilaha illallah (Tiada tuhan selain Allah).” Lalu beliau menunjuk ke atas ke arah langit sambil mengulang, “Ya Allah, Ar-Rafiq Al-A'la. Beliau wafat pada usia 63 tahun.
Fatimah mengeluarkan air mata dan mulai menangis keras. Ketika istri-istri Nabi juga mulai menangis, para sahabat pun memahami apa yang telah terjadi. Ali berdiri di sana seakan berubah menjadi batu. Matanya penuh air mata. Utsman terdiam. Seolah lidahnya kelu. Namun Umar RA merasa sangat terpukul oleh peristiwa yang menggetarkan itu. “Rasulullah tidak wafat! Beliau masih hidup! Beliau hanya pingsan, seperti yang pernah terjadi pada Musa. Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, akan kupenggal dengan pedangku.” Pada saat itu, Abu Bakar berada di rumahnya di Sunh. Ketika mendengar kabar itu, ia segera bergegas datang.
Tanpa melihat siapa pun, ia langsung masuk ke kamar dan membuka penutup wajah Nabi. Ia mencium kening beliau dan menangis. “Betapa indah engkau dalam kematian, sebagaimana engkau indah dalam kehidupan, wahai Rasulullah.” Kemudian ia menutup kembali wajah beliau dan melangkah ke luar. Di depannya ada kerumunan sahabat yang tidak tahu harus berbuat apa. Semua menangis, diliputi duka dan keterkejutan. Ia juga telah mendengar perkataan Umar. “Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat.
Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Allah berfirman, “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur." Ayat ini sebenarnya turun pada hari Perang Uhud, setelah tersebar kabar palsu dari kaum musyrik bahwa Muhammad telah terbunuh. Walaupun para sahabat telah membacanya ratusan bahkan ribuan kali, dalam saat duka itu, seakan-akan mereka melupakannya.
Namun dengan satu ayat itu, Abu Bakar menenangkan hati semua orang. Setelah mendengar kata-kata itu, para sahabat mulai menenangkan diri, meskipun hanya sedikit. Mereka akhirnya menerima bahwa Rasulullah telah pergi dari dunia ini. Umar pun akhirnya sadar dan berhenti bersikeras bahwa Rasulullah belum tiada. Lalu Umar berkata, “Seolah-olah aku mendengar ayat itu untuk pertama kalinya.” Ya, belum pernah dalam sejarahnya Madinah merasakan kebahagiaan seperti pada hari tibanya Rasulullah ﷺ. Dan kini, kota itu mengalami kesedihan terdalamnya. Air mata mengalir dari mata mereka, dan duka serta kesedihan mengalir dari hati mereka. Tapi kesedihan tak akan menyelesaikan apa pun.
Apa yang harus kita lakukan sekarang? Seorang khalifah harus dipilih. Seseorang yang akan memimpin kaum Muslimin dan melanjutkan penerapan hukum Islam. Ia harus menjadi tempat berlindung bagi seluruh umat. Seseorang yang menghabiskan siang dan malamnya untuk keperluan Islam. Maka para sahabat berkumpul. Orang yang paling layak memikul tanggung jawab besar ini adalah Abu Bakar. Ia termasuk orang pertama yang beriman di Makkah. Ia adalah sahabat Nabi dalam hijrah, salah satu dari dua orang di dalam gua. Dan selama sakit, Rasulullah ﷺ memberi tanda yang jelas kepadanya. Beliau memerintahkan semua pintu yang menuju masjid untuk ditutup, dan hanya pintu Abu Bakar yang dibiarkan terbuka.
Beliau juga menunjuknya memimpin salat. Beliau memberinya peran imam, yang berarti kepemimpinan. Salat adalah salah satu rukun Islam, bukan? Dan dari puluhan sahabat, beliau memilih Abu Bakar memimpin salat bagi seluruh kaum Muslimin. Abu Bakar tidak pernah ragu mengorbankan segalanya untuk Islam dan kaum Muslimin. Bahkan tak sehari pun ia ragu. Ketika pasukan perlu dipersiapkan, ia membuat pengorbanan yang tak tertandingi. Ia membawa semua yang dimilikinya.
Rasulullah bertanya, “Apa yang kau tinggalkan bagi keluargamu, wahai Abu Bakar?” “Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” Pagi setelah peristiwa Mi'raj, ketika kaum musyrik mengejek Rasulullah, dan pada hari-hari tersulit, dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq, Abu Bakar selalu berada di sisi beliau. Karena semua alasan ini, dialah yang paling layak menjadi khalifah setelah Rasulullah ﷺ. Dan itulah yang terjadi. Setelah para sahabat berkumpul dan saling bermusyawarah, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah pertama Islam. Keesokan harinya, waktu Zuhur tiba. Seluruh Madinah, yang masih berduka, memenuhi masjid untuk salat. Seperti biasa, Bilal mulai mengumandangkan azan.
Namun ketika sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah," tenggorokannya tercekat. Suaranya bergetar, dan ia tidak mampu melanjutkan. Ia harusnya memanggil orang-orang untuk salat, untuk mengajak mereka. Namun ia tidak sanggup. Ia tak mampu melanjutkan, dan akhirnya menangis. Semua orang ikut menangis. Bilal bahkan tak sanggup membayangkan Madinah tanpa Rasulullah ﷺ. Ia tak mampu lagi mengumandangkan azan. Ia tak ingin lagi tinggal di kota yang setiap sudutnya mengingatkannya kepada Rasulullah. Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Syam. Jasad mulia Rasulullah ﷺ dimandikan oleh Ali RA.
Saat memandikannya, tersebar harum seperti kasturi, aroma yang belum pernah tercium sebelumnya. Pada hari Selasa sebelum siang, proses memandikan dan mengafani selesai. Para sahabat datang dan menyalatkan jenazah beliau. Rasulullah ﷺ pernah berkata, "Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut." Maka atas perintah Abu Bakar, beliau dimakamkan di kamar Aisyah, di tempat beliau wafat. Beliau pernah bersabda, "Kami para nabi tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah." Bahkan baju perang beliau masih tergadai dengan pria Yahudi untuk jaminan jelai.
Bagi seseorang yang bahkan tak mengenal beliau, pemandangan ini saja sudah cukup. Namun meski begitu, beliau tetap meninggalkan warisan bagi kita. Dua warisan: Al-Qur'an dan Sunah. Beliau menunaikan tugasnya dengan sempurna. Sekarang giliran kita. Beliau mempercayakan panji itu kepada kita. Dan kini tanggung jawab kita mengangkatnya kembali dan membawanya ke seluruh dunia. Ini bukan waktunya kita hanya duduk di rumah. Panji yang dipercayakan kepada kita menunggu kita untuk melangkah. Panji itu merindukan hari-hari saat ia berkibar tinggi. Dunia sedang menantikan pesan ini. Menantikan langkah keluar dari kegelapan zaman Jahiliyah dan menuju cahaya iman, cahaya Al-Qur'an.
Umat manusia sedang sakit secara spiritual. Jiwa mereka menderita, tapi mereka tak menemukan jalan keluar. Saat obatnya ada di tangan kita, berapa lama lagi kita diam dan menunggu? Bukankah sudah saatnya perjalanan kita dimulai? Engkau hidup untuk umatmu, wahai Rasulullah. Lalu untuk apa kita hidup? Engkau menghabiskan malam tanpa tidur untuk menyelamatkan umatmu, sementara kita hanya memikirkan diri sendiri. Engkau tidak pernah menyerah meski menghadapi ujian terberat. Namun, kita tersesat hanya karena kesulitan kecil. Dan engkau masih merindukan kami. Engkau memanggil kami "saudara-saudariku". Tapi, apa kita layak menyandang nama itu?
Cukupkah menyatakan aku mencintaimu untuk menjadi bagian dari umatmu? Ataukah itu berarti menghidupkan sunahmu, dan benar-benar menerapkannya dalam kehidupan kita? Kini waktunya untuk bangkit. Sebagai umat yang kau tangisi, saatnya memantaskan diri untukmu. Wahai Rasulullah. Kami berjanji berpegang teguh pada jalanmu, perjuanganmu, dan warisanmu. Hari ini, kami akan membuat perubahan. Hari ini, kami akan mulai hidup sesuai teladanmu. Hari ini, kami akan melangkah menjadi saudara yang engkau rindukan. Dan untukmu, saudaraku, saudariku, yang sedang menonton video ini.
Jika kalian ingin menguatkan iman dan memperdalam ilmu, kami telah menyiapkan puluhan video edukasi untuk kalian di channel Toward Eternity kami. Bahkan dengan usaha kecil yang konsisten, kalian bisa membuat kemajuan besar, Insya Allah. Jika kalian berkata, "Aku ingin belajar Islam dari awal," kami memiliki aplikasi bernama Step Islam. Dengan aplikasi salat gratis kami, kalian dapat menjadikan lima waktu salat sebagai bagian tetap di hidup kalian. Jika kalian belum bisa membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab, kami telah mengembangkan aplikasi bernama Lamalif Quran. Dan jika kalian ingin memahami makna Al-Qur'an lebih dalam, kalian bisa mengunduh Aplikasi Membaca Tafsir kami, My Risale.
Jika seri ini sampai kepada kalian, Allah ingin kalian mengubah sesuatu dalam hidup kalian. Jadi, apakah kita tidak akan mengambil satu langkah menuju Dirinya sebagai balasannya? Wahai Rasulullah. Semoga Allah jadikan kami umat yang layak untukmu. Salawat dan salam atasmu. Wahai yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wahai Rasulullah ﷺ.