Towards Eternity
Kembali ke blog

Perang Badar: Kata-Kata Terakhir Abu Jahal - Divisualisasikan AI - Wahai Rasul | Ep. 6

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Pada tahun 624. Bulan Ramadan. Hari yang akan mengubah jalannya sejarah. Di Badar, dua pasukan saling berhadapan. Di satu sisi, pasukan lengkap Quraisy berjumlah 950 orang, dan di sisi lain, pasukan Muslim hanya 313 orang dengan sumber daya terbatas. Ahadun Ahad! (Satu Tuhan!) Keadilan melawan kezaliman, iman melawan kekafiran. Pertempuran pertama yang menyingkap ruh sejati Islam. Perang Badar. Hari penting itu pun tiba. Hari yang akan membentuk masa depan Islam. Entah Islam akan bangkit dengan kemenangan besar, atau semuanya berakhir di medan perang itu.

Karena itu Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah seperti ini, "Ya Allah, seandainya kelompok orang Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah di bumi." Lalu apa yang akan terjadi di medan perang itu? Dan sebelumnya, bagaimana semua ini bermula? Mari kita mundur sejenak. Serial video ini berdasarkan ratusan referensi dari sumber Islam terpercaya. Seluruh visual AI disiapkan melalui konsultasi dengan ulama Muslim yang kompeten dan sesuai dengan pedoman Islam. Saat membangun negeri baru di Madinah, Rasulullah ﷺ juga membentuk sistem intelijen. Beliau ingin tahu terlebih dahulu ancaman terhadap kota dan mengumpulkan informasi tentang wilayah sekitar.

Pada tahun kedua setelah Hijrah, datang laporan dari jaringan ini. Quraisy telah mengirimkan kafilah dagang besar yang dipimpin Abu Sufyan. Tentu kafilah itu bukan hanya membawa barang mereka sendiri. Ingat masa Hijrah. Kaum Muslimin dipaksa hijrah dalam kondisi sangat berat. Mereka harus meninggalkan seluruh harta mereka di Makkah saat berangkat. Harta itu dirampas Quraisy dan dimasukkan ke kafilah untuk dijual. Harta kaum beriman kini akan menjadi senjata di tangan musuh mereka. Bahkan saat Hijrah, Rasulullah ﷺ memikirkan harta orang musyrik dan menunjuk Ali RA untuk mengembalikannya kepada pemiliknya. Namun kaum Quraisy tidak bermoral dan mereka merampas harta kaum Muhajirin.

Saatnya mereka menunjukkan kepada kaum Musyrik yang mengusir orang-orang Muslim dari rumah mereka dan menyiksa mereka, siapa yang benar-benar berkuasa. Mereka harus tahu mereka tak bisa lagi berbuat sesuka hati. dan mereka harus ditunjukkan sesuatu yang membuat mereka takut. Mereka tak akan berhenti sampai mereka melihat kekuatan fisik yang mereka hadapi. Maka, Rasulullah ﷺ mengirim pengintai mengikuti kafilah. Lalu beliau berkata kepada sahabat, “Siapa saja yang punya tunggangan, tunggangilah dan ikut bersama kami." Rasulullah ﷺ mulai bersiap untuk kemungkinan bertemu kaum Quraisy. Para sahabat sangat bersemangat mengikuti perjalanan ini.

Bahkan ada ayah dan anak yang mengundi siapa yang akan berangkat. Mereka mendambakan kehormatan syahid. Terkumpullah pasukan lebih dari 300 orang. Ada juga yang masih sangat muda di antara mereka. Namun Rasulullah ﷺ melarang yang terlalu muda untuk ikut berperang dan memulangkan mereka. Umair bin Abi Waqqas yang berusia 16 tahun ada di sana. Meski masih muda, dia sangat ingin ikut ekspedisi ini. Ia mencoba bersembunyi, berharap Rasulullah ﷺ tidak melihatnya dan memulangkannya. Tapi saat Rasulullah ﷺ menyadarinya, beliau berkata, “Kau juga harus kembali.” Umair bertubuh kecil dan belum pernah mengikat pedang di pinggang. Tubuhnya kecil, tapi hatinya besar dan berani.

Meski Rasulullah ﷺ awalnya ingin memulangkannya, tapi beliau tak bisa mengabaikan tekad prajurit muda ini. Akhirnya Umair diizinkan ikut. Setelah diizinkan, Sa'd bin Abi Waqqas mengikatkan pedang saudaranya di pinggangnya. Saat Umair berjalan, pedangnya menyeret tanah. sehingga membuat jejak garis. Dan pemuda itu kelak akan menjadi syuhada Badar. Saat itu, putri tercinta Rasulullah ﷺ, Ruqayyah, sedang sakit parah. Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak menghentikan keberangkatannya. Tapi ia meninggalkan Utsman bin Affan di Madinah untuk merawatnya. Saat persiapan selesai, pasukan 313 orang pun diberangkatkan. Di bawah terik matahari, Rasulullah ﷺ menuju Badar bersama sahabat.

Karena ada beberapa sumur di sana, banyak kafilah yang sering melewati area ini. Jumlah tunggangan sangat terbatas. Hanya dua kuda dan 70 unta. Rasulullah ﷺ, Ali, dan Martsad bin Abi Martsad berbagi satu unta, menungganginya bergantian. Saat Rasulullah ﷺ berjalan, kedua sahabat berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, Engkau naik saja, kami yang berjalan.” Namun beliau menolak dan berkata, 'Kalian berdua tidaklah lebih kuat dariku dalam berjalan, dan aku pun tidak kalah butuhnya terhadap pahala dibandingkan kalian berdua." Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, Rasulullah ﷺ melihat pasukannya. Sebagian berjalan tanpa alas kaki tanpa ada yang melindungi kaki mereka dalam peperangan.

Nabi berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya mereka berjalan tanpa kendaraan, maka angkutlah mereka. Ya Allah, mereka tidak memiliki pakaian, dan mereka lapar, maka berilah mereka pakaian, dan berilah mereka makan.” Mereka hidup dalam kemiskinan, tapi mereka tahu kekuatan sejati datang dari iman. Dan iman itu, dalam bentuk paling indah, hadir dalam pasukan ini. Sebelum mereka tiba di dataran Badar, Abu Sufyan tahu bahwa umat Muslim bergerak ke sana sebagai pasukan. “Orang-orang Muslim datang!” Saat ia berangkat, ia takut bahwa umat Muslim akan mencegat mereka. Dan sekarang, yang ia takutkan terjadi. Ia mengirim utusan ke Quraisy untuk menyampaikan kabar itu dan mengubah rute kafilah.

Ia akan memimpin kafilah ke Makkah lewat jalur berbeda. Utusannya menuju Makkah secepat mungkin. Berlari melewati jalanan, ia berteriak, “Wahai Quraisy! Muhammad dan sahabatnya menyerang kafilah kalian! Harta kalian akan hilang! Cepat bantu Abu Sufyan!” Ketakutan menyebar di Makkah. Karena hampir setiap keluarga punya investasi harta di sana. Mereka dengan sigap mengumpulkan pasukan 950 orang. Dengan 100 pasukan berkuda dan 700 unta, mereka berangkat ke Badar. Dipimpin Abu Jahal, salah satu musuh paling keras Islam. Di sisi lain, Abu Lahab berdalih sakit dan mengirimkan orang lain mewakilinya. Pasukan Quraisy bergerak menuju Badar dengan nyanyian dan genderang.

Setelah beberapa waktu, Abu Jahal menerima pesan: "Kau telah berhasil melindungi kafilah dan orang-orangmu. Semuanya selamat, kau boleh kembali." Orang yang mengirim pesan tersebut adalah Abu Sufyan. Dia telah membawa kafilah kembali ke Makkah dengan selamat dan meminta mereka kembali. Sebagian besar prajurit ingin kembali, tapi Abu Jahal, yang sangat membenci kaum Muslim tidak ingin kembali. Ada hampir seribu pasukan bersenjata lengkap yang dipimpinnya. Baginya, ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Ia yakin bisa memusnahkan seluruh kaum Muslim. Dia berkata, "Kita tak bisa kembali sekarang. Kita harus pergi ke Badar. Kita akan tinggal tiga hari, menyembelih unta, makan, dan minum khamr.

Kita akan menyuruh budak perempuan bernyanyi untuk menghibur kita. Orang-orang Arab akan menyaksikan kita. Dengan begitu, mereka akan selalu takut kepada kita." Dia berhasil meyakinkan pasukan, dan mereka pun kembali berangkat. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, bahwa kafilah telah tiba di Makkah dan kaum Quraisy sedang menuju Badar dengan pasukan besar, beliau terkejut. Beliau tidak menyangka langkah itu. Maka beliau mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah.

Pertama, Miqdad bin al-Aswad dari Muhajirin berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, kami tidak akan seperti Bani Israil yang berkata kepada Musa, 'Pergilah engkau dan Tuhanmu berperang, kami akan duduk di sini.' Kami siap berperang bersamamu hingga akhir. Lakukan semua yang diperintahkan Tuhanmu. Kami akan mengikutimu." Ucapan ini membuat Rasulullah ﷺ senang. Namun beliau juga ingin mendengar pendapat kaum Anshar. Karena dalam Baiat Aqabah, mereka berjanji melindungi beliau di dalam Madinah. Namun apakah mereka akan melindungi beliau di luar Madinah juga?

Sa’d bin Mu’adz berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, kami telah beriman kepadamu, kami telah membenarkanmu, dan kami bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami telah memberikan janji dan sumpah setia kami kepadamu untuk mendengar dan taat. Bayangkan sejenak jika saat ini, kita juga menuju Badar bersama pasukan Rasulullah ﷺ. Mampukah kita berkata seperti mereka? Aku sepertinya mendengar kau berkata, "Ya, tentu saja, kita akan berkata hal yang sama." Namun mengatakannya mudah, melaksanakannya jauh lebih sulit. Mari kita lihat hari ini. Bukankah misi Rasulullah ﷺ masih berlanjut? Tentu saja. Tapi apa yang sudah kita korbankan sejauh ini?

Bukankah kita sering berlindung di balik berbagai alasan untuk meninggalkan salat? Setelah mendengar kata-kata tulus Sa’d bin Mu’adz, kekhawatiran di wajah Rasulullah ﷺ menghilang. Beliau berkata, "Allah عز وجل telah menjanjikan salah satu dari dua hal: kafilah itu atau kemenangan yang nyata. Demi Allah, seakan aku melihat tempat-tempat terkaparnya mereka. Pertolongan Allah bersama kalian." Keputusan untuk berperang sudah bulat. Di hadapan mereka ada pasukan lengkap tiga kali lipat jumlah mereka. Namun itu bukan penghalang bagi kaum Muslim. Keberanian mereka datang dari iman, dan penolong mereka adalah Allah, Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Rasulullah ﷺ menempatkan pasukannya di Badar, dengan sumur-sumur di depan mereka. Saat itu, Hubab bin al-Mundhir, yang berusia sekitar 30 tahun yang dikenal ahli strategi perang, datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah ﷺ, apakah ini tempat yang ditentukan oleh Allah?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Tidak, aku memilih tempat ini sebagai strategi perang." Mendengar itu, Hubab mengusulkan, "Maafkan aku, wahai Rasulullah ﷺ, menurutku ini bukan tempat terbaik. Mari pindah dan berkemah dekat sumber air, dekat tempat kaum Quraisy akan berhenti. Di sana ada sumur dengan air segar melimpah. Pertama kita gali kolam dan isi dengan air, lalu tutup semua sumur lainnya.

Dengan begitu, saat kita haus, kita minum dari kolam, sementara mereka kehabisan air dan berada dalam kesulitan." Rasulullah ﷺ menganggap usulan ini bijak dan menerimanya. Perhatikan betapa Rasulullah ﷺ menghargai musyawarah. Beliau tidak berkata, "Aku Nabi, turuti perintahku." Sekali lagi, beliau menunjukkan teladan sejati dalam segala hal. Selanjutnya adalah perencanaan pertempuran. Rasulullah ﷺ menyusun pasukannya dengan rapi. Beliau membariskan mereka, menempatkan pemanah di belakang dan pembawa tombak di barisan depan. Lalu beliau berkata, "Jangan tinggalkan barisan atau merusak formasi. Tetap di tempat dan bersabarlah. Jangan mulai bertempur sampai aku memberi perintah.

Jangan sia-siakan panah sebelum musuh mendekat. Tembakkan panah saat mereka menurunkan perisai. Saat musuh semakin dekat, gunakan tombak dan lembing. Pedang digunakan terakhir. Gunakan hanya dalam pertempuran jarak dekat." Pasukan Muslim siap menghadapi kaum Quraisy. Saat malam tiba, semua tertidur untuk istirahat. Semua, kecuali satu orang: Rasulullah ﷺ. Beliau menghabiskan malam berdoa dan memohon kepada Allah. "Wahai Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. "Ya Allah, seandainya kelompok orang Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah di bumi." Doa yang tulus ini dijawab dalam Al-Qur’an.

Dalam ayat ke-9 Surah Al-Anfal: "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sungguh, aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." Ya, Allah tidak akan meninggalkan sekumpulan orang beriman ini. yang berjuang di jalan-Nya. Dia akan menolong mereka dengan pasukan-Nya yang tak terlihat, dengan para malaikat-Nya. Akhirnya, hari pertempuran pun tiba. Ketika pasukan Quraisy tiba di dataran Badar, mereka terguncang melihat apa yang mereka lihat. "Mereka menguasai semua sumur!" Kaum Muslim telah menguasai semua wilayah strategis.

Namun, dengan mengandalkan jumlah besar, mereka mengira kemenangan akan mudah. Saat kedua pasukan berhadapan, 313 kaum Muslim melawan 950 pasukan Quraisy. Ahadun Ahad! Perbedaan jumlah sangat mencolok. Keunggulan materi ada di pihak kaum Quraisy. Namun justru sebaliknya secara spiritual. Di satu sisi, teriakan takbir Allahu Akbar, menggema... Allahu Akbar! (Allah Maha Besar!) ...di sisi lain, genderang dan nyanyian terdengar. Di satu sisi ada pasukan yang bersandar pada Allah, dan berdiri melawan penindasan, dan di sisi lain ada pasukan yang berjuang hanya untuk menindas dan menumpahkan darah.

Lalu, salah satu pemimpin kaum Quraisy, Utbah bin Rabi’ah, maju bersama saudaranya Syaibah dan putranya Walid. Ini adalah tradisi duel pra-perang, yang disebut Mubarazah. Sebelum perang dimulai, satu hingga tiga prajurit maju untuk berduel, lalu pertempuran sesungguhnya dimulai. Tiga pemuda dari kaum Anshar (penolong) Auf, Mu'awwidz, dan Abdullah bin Rawaha— melangkah maju. Utba melihat mereka dan mengejek, "Siapa kalian?" "Siapa kalian?! "Wahai Muhammad, kirimkan yang sepadan untuk bertarung!" Dia tak ingin bertarung dengan orang lain. Dia hanya ingin melawan Bani Hasyim. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum Muslim Madinah mundur. Tapi siapa yang akan Rasulullah ﷺ pilih?

Dari kaum Muhajirin beliau mengirim Ubaidah bin al-Harits, Hamzah, dan Ali RA. -"Siapa yang maju?" -"Ubaidah, dan Ali." -"Ali?" -"Dan siapa yang ketiga?" -"Hamzah." -"Jangan Hamzah. Ini tidak baik." Ketiga orang yang dipilih Rasulullah ﷺ adalah keluarganya sendiri. Kali ini, Utba merasa puas dengan lawannya. Dan duel dimulai. Hamzah melawan Syaibah. Ali melawan Walid. Ubaidah melawan Utbah. Dalam beberapa tebasan, lawan Ali dan Hamzah tewas. Namun Ubaidah dan Utbah masih bertarung sengit. Sesuai tradisi Mubarazah (Duel satu lawan satu), yang bisa mengalahkan lawan boleh membantu yang lain. Hamzah dan Ali segera membantu Ubaidah dan membunuh Utbah.

Lalu mereka membawa Ubaidah yang terluka kepada Rasulullah ﷺ. Dia berdarah hebat, tapi sama sekali tak peduli. Pikirannya tertuju pada hal lain. Dia terus berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah aku seorang syahid?" "Benar, engkau adalah seorang syahid." Mendengar itu, wajah damai tampak pada diri Ubaidah. Tak lama kemudian ia wafat dan meraih derajat kesyahidan. Ia menjadi seorang syahid. Masih ada senyum di wajahnya, karena kesyahidan, menyerahkan hidup demi Allah, bagi mereka bukan kematian, tapi pertemuan dengan Sang Tercinta. Pasukan Quraisy terkejut.

Orang-orang paling berani yang mereka kenal, pemimpin kuat Quraisy, Utbah, saudaranya Syaibah, dan putranya Walid, kini tergeletak tewas di medan Badar. Mencoba mengangkat semangat pasukannya, Abu Jahal berteriak, "Jangan goyah karena kematian Utbah, Syaibah, dan Walid! Mereka bergegas maju dan mati sia-sia! Aku bersumpah hari ini kemenangan milik kita! Muhammad dan para sahabatnya hanya lawan mudah bagi kita!" Lalu dia mengatur ulang pasukannya. Saat perintah diberikan, kedua pihak maju menyerang. Pertempuran pun dimulai sengit. Rasulullah ﷺ sendiri berada di garis depan, bertarung bersama para sahabatnya.

Beliau tidak berkata, "Aku Nabi, kalian yang bertempur." Sebaliknya, beliau menyemangati mereka dengan ucapannya dan memenuhi hati mereka dengan keberanian. Beliau bertempur begitu gagah hingga Ali RA berkata, "Beliau adalah orang yang paling kuat nyalinya pada hari itu." Beliau adalah orang yang paling dekat jaraknya dengan musuh." Hamzah, Ali, dan Umar RA menumbangkan siapa pun yang menghalangi mereka. Dengan pedang mereka, mereka menerobos barisan musuh sambil terus maju ke depan. Para sahabat bertempur dengan segenap kekuatan. Hari itu, di medan perang ada Abu al-Bakhtari bin Hisyam. Masih ingat nama ini? Dulu, saat kaum Muslimin diboikot di Makkah, lima orang bersatu membuat rencana.

Mereka berdiri berpencar di posisi berbeda, menentang boikot itu, dan mendapat dukungan kuat dari masyarakat. Abu al-Bakhtari adalah salah satu dari lima orang itu. Jadi, dia salah satu sebab boikot itu berakhir. Kini dia juga ada di medan perang, tapi bukan di pihak kaum Muslimin. Sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah ﷺ telah menyatakan bahwa beberapa orang tidak boleh disakiti. Dan Abu al-Bakhtari adalah salah satunya. Bukankah itu contoh luar biasa tentang balas budi dan kesetiaan? Rasulullah ﷺ memberinya satu kesempatan lagi untuk beriman. Saat pertempuran, Abu al-Bakhtari berhadapan dengan seorang sahabat, Mujadzar bin Ziyad.

Namun Mujadzar menghindari bertarung, karena tahu perintah Rasulullah ﷺ. Abu al-Bakhtari tak mengerti dan bertanya, "Mengapa kau tak mau melawanku?" Saat Mujadzar menjelaskan perintah Rasulullah ﷺ, Abu al-Bakhtari marah dan berteriak, "Meskipun beliau berkata begitu, aku akan melawanmu hari ini!" Dia mengabaikan kebaikan Rasulullah ﷺ dan menyerang Mujadzar. Mujadzar mencoba menghindar, tapi tak punya pilihan lain. Dia melawan balik. Dan akhirnya Abu al-Bakhtari terbunuh. Pertempuran kini mencapai puncaknya. Rasulullah ﷺ mengambil segenggam debu, melemparkannya ke arah musuh, dan berdoa, "Semoga wajah-wajah itu menjadi hina.

Ya Allah, penuhi hati mereka dengan rasa takut, dan goyahkan kaki-kaki mereka!" Debu itu sampai ke mata seluruh pasukan musuh. Mereka tak bisa melihat apa pun. Allah SWT mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an: "...bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar." Tak lama kemudian, angin yang tak biasa bertiup. Tak ada yang bisa terlihat. Pasukan Quraisy tercerai-berai ke segala arah. Lalu datang angin kedua, disusul angin ketiga. Allah menepati janji-Nya dan mengirim malaikat sebagai bantuan. Pasukan Quraisy tercengang. Karena mereka mengira hanya menghadapi 300 orang. Tiba-tiba, di mata mereka, pasukan Muslim tampak jauh lebih besar dan kuat.

Abu Jahal, yang sebelumnya berkata, "Mereka hanya lawan kecil bagi kita." kini mencari tempat untuk bersembunyi. Semua orang memburu musuh Islam ini. Mereka berlomba untuk membunuhnya. Dua pemuda dari kaum Anshar mendatangi Abdur-Rahman bin Auf dan bertanya siapa Abu Jahal. Ibnu Auf bertanya, "Apa yang akan kalian lakukan padanya?" "Aku dengar dia menghina Rasulullah ﷺ. Aku bersumpah kepada Allah, jika aku melihatnya, kami tak akan berpisah sampai salah satu dari kami mati." Pemuda pemberani itu adalah Mu'adz dan Mu'awwidz. Saat itu, Abdur-Rahman bin Auf melihat Abu Jahal dan menunjuknya. "Itu orangnya." Keduanya langsung menyerangnya.

Abu Jahal tidak menganggap mereka serius, dan mengejek mereka, "Bocah-bocah bodoh! Sangat siap mati?" Namun semuanya tidak berjalan seperti yang dia bayangkan. Mu'adz mendekat dan menebas kakinya. Lalu putra Abu Jahal, Ikrimah, melompat dan menghantam Mu'adz keras. Saat itu, Mu'awwidz menebas Abu Jahal lagi dan menjatuhkannya. "Apakah Firaun umat ini benar-benar mati?" Keduanya berlari ke Rasulullah ﷺ dan memberitahu bahwa mereka telah membunuh Abu Jahal. Rasulullah ﷺ ingin memastikan. Beliau memerintahkan para sahabat mencari Abu Jahal di antara yang tewas. Abdullah bin Mas'ud yang menemukannya. Abu Jahal belum mati. Dia sedang menghembuskan napas terakhir.

Ibnu Mas'ud menginjak lehernya dan berkata, "Wahai musuh Allah! Lihatlah! Allah telah menghinakanmu." Bahkan saat sekarat, Abu Jahal tetap sombong. Dia menjawab, "Kau menginjak tempat tinggi, wahai anak gembala. Bukan hal baru orang besar dibunuh oleh kaum dan sukunya sendiri. Sekarang katakan, siapa yang menang hari ini?" Ibnu Mas'ud berkata, "Allah dan Rasul-Nya." Dengan ucapan itu, dia telah membunuhnya secara mental sebelum benar-benar membunuhnya. Masih ingat Abdullah bin Mas'ud? Dialah yang pernah pergi ke Ka'bah dan membaca Surah Ar-Rahman terang-terangan untuk pertama kalinya. Namun kaum musyrik langsung menyerangnya dan memukulinya sampai hampir mati. Kini keadaan berbalik.

Dia mengambil pedang Abu Jahal dari tanah dan memberikan tebasan terakhir yang mengakhiri hidupnya. Di sini ada detail menakjubkan lainnya. Sebelum pertempuran, Rasulullah ﷺ menunjukkan tempat tepat di mana para pemimpin Makkah akan terbunuh. Abu Jahal mati persis di tempat yang beliau sebutkan. Pemimpin lain, Umayyah bin Khalaf, juga gugur tepat di tempat yang Rasulullah ﷺ tunjuk. Begitu pula yang lainnya. Umar RA kemudian berkata, "Aku bersumpah demi Zat yang mengutus beliau dengan kebenaran, tak seorang pun dari mereka jatuh di luar tempat yang ditunjuk Rasulullah ﷺ dengan tangannya." Sebagai mukjizat dari Allah, beliau menubuatkan siapa yang mati, dan juga di mana mereka akan mati.

Setelah para pemimpin Makkah terbunuh satu per satu, pasukan Quraisy pun hancur. Orang-orang kafir lari menyelamatkan diri tanpa menoleh lagi. Bahkan, adegan ini telah dinubuatkan dalam Al-Qur’an bertahun-tahun sebelumnya. Dalam ayat 44–45 Surah Al-Qamar, Allah berfirman: Am yaqūlūna naḥnu jamī‘um muntaṣir(un). Sayuhzamul-jam‘u wa yuwallūnad-dubur(a). Artinya: "Bahkan, apakah mereka mengatakan, “Kami adalah golongan yang pasti menang.” Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka berbalik ke belakang (mundur)." Ingatlah hari-hari di Makkah. Kaum Muslimin sangat sedikit dibandingkan orang-orang kafir. Mereka menderita dalam segala hal. Terkadang dalam boikot yang berlangsung tiga tahun.

Terkadang mereka dilempari batu, dipukuli, dan diejek serta dihina. Pada saat kaum Muslim masih sangat lemah, ayat-ayat ini menyampaikan bahwa mereka akan segera meraih kemenangan atas kota Makkah yang kuat. Ayat itu berkata, "Mereka akan berbalik dan lari." Nubuat ini diturunkan di masa kesulitan terbesar mereka, dan sekali lagi membuktikan kebenaran Al-Qur’an: bahwa ia diturunkan oleh Allah. Dan Allah menepati janji-Nya serta memberi mereka kemenangan. Di Towards Eternity, kami telah bekerja tanpa lelah untuk menghadirkan serial visual AI ini. Dan kini, Insya Allah, kami ingin memproduksi seri baru tentang kehidupan para Nabi AS. Nabi Musa, Ibrahim, Yusuf, dan Yunus AS.

Agar kalian dan keluarga bisa menyaksikan kisah mereka dengan produksi Towards Eternity yang berkualitas. Namun membuat seri baru juga membutuhkan biaya besar. AI, sulih suara profesional, dan peralatan. Dan sayangnya, kami tak bisa lagi menanggungnya sendiri. Kami hanya bisa menyelesaikan proyek ini dengan dukungan kalian. Tim kami membagi kebutuhan total menjadi per bagian $25, sehingga kalian bisa mendukung dengan mensponsori satu atau lebih bagian sesuai kemampuan kalian, Insya Allah. Jika kalian ingin menjadi bagian dari amal kebaikan ini, donasilah ke Towards Eternity dan jangan lewatkan kesempatan emas ini. 14 Muslim gugur sebagai syuhada di medan Badar.

Mereka adalah orang-orang berani yang menjadikan hidup mereka benteng bagi Islam dan perisai bagi Rasulullah ﷺ. Dan mereka yang selamat akan selamanya dihormati sebagai Ashabul Badar (Sahabat Badar). Karena Badar bukanlah pertempuran biasa. Bagi kaum Muslim, itu mungkin pertempuran paling krusial dalam sejarah. Karena jumlah mereka sangat sedikit. Dan jika mereka kalah di sini, jumlah mereka akan semakin berkurang. Itu akan memberi Quraisy kesempatan sempurna untuk memusnahkan kaum Muslim sepenuhnya. Lalu bagaimana keadaan di pihak musuh? Dalam pertempuran itu, 70 orang Quraisy tewas. Dan 70 lainnya ditawan. Lalu apa yang akan dilakukan terhadap mereka? Dua syarat pun ditetapkan.

"Rasulullah ﷺ memberi kalian dua pilihan. Kalian bisa membayar tebusan untuk mendapatkan kebebasan, atau mengajarkan 10 anak Madinah membaca dan menulis." Hanya dengan syarat ini mereka bisa dibebaskan. Ini menunjukkan betapa dalam Islam menghargai ilmu dan pembelajaran. Di antara tawanan juga ada paman Rasulullah ﷺ, Abbas. Ia bertempur di pihak kaum Quraisy. Seperti yang lain, ia juga harus mengajar 10 anak membaca dan menulis atau membayar tebusan. Namun ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Aku tidak punya uang." Lalu Rasulullah ﷺ bertanya, "Wahai Abbas, bagaimana dengan emas itu? Emas yang kau berikan kepada istrimu Ummu al-Fadl saat kau meninggalkan Makkah?

Ketika kau memberikannya kepadanya, tidak ada seorang pun di sana kecuali kalian berdua. Dan kau berkata padanya, 'Aku tak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan ini. Jika sesuatu terjadi dan aku tak kembali, emas ini untukmu, ini untuk Fadl, sekian untuk Abdullah, sekian untuk Ubaydullah, dan ini untuk Qusam.' Jadi di mana emas itu?" Sungguh, semuanya terjadi persis seperti yang Rasulullah ﷺ jelaskan. Abbas terkejut. Ia bertanya, "Siapa yang memberitahumu ini?" "Demi Allah, tak ada yang tahu tentang itu kecuali aku dan Ummu al-Fadl." Rasulullah ﷺ menjawab, "Allah yang memberitahuku." Sebelum itu, belum jelas apakah Abbas telah masuk Islam secara sembunyi-sembunyi atau tidak.

Ia masih ragu. Namun hari itu, setelah menyaksikan mukjizat ini, ia masuk Islam. "Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah." (Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah). Ia kembali ke Makkah dan menyembunyikan keimanannya. Dari sana, ia diam-diam mengirim kabar kepada Rasulullah ﷺ dan membantu kaum Muslim di kotanya. Tawanan lain adalah Suhail bin Amr. Ia adalah orator ulung yang dulu sangat keras menentang kaum Muslim. Umar RA sangat mengenal Suhail. Ia adalah salah satu tokoh utama Quraisy.

Saat Umar melihatnya di antara tawanan, ia berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, izinkan aku mencabut gigi depannya agar ia tak bisa berbicara melawanmu lagi." Dengan kata-katanya yang kuat, ia dulu menghasut Quraisy melawan kita. Namun Nabi Pembawa Rahmat ﷺ menjawab dengan kata-kata yang maknanya baru dipahami bertahun-tahun kemudian: "Biarkan dia, wahai Umar. Semoga suatu hari ia berada di posisi yang akan membuatmu senang." Suhail kemudian masuk Islam. Dan di hari Rasulullah ﷺ wafat, saat Makkah diliputi duka, ia menyampaikan pidato yang menenangkan hati mereka. Saat semua orang hancur, seolah dunia runtuh, kata-kata Suhail yang menenangkan membawa ketenangan bagi orang banyak.

Dan pada hari itu Umar RA akhirnya memahami apa yang dimaksud Rasulullah ﷺ. Dengan kemenangan ini, kaum Muslim menjadi kekuatan yang tak bisa lagi diremehkan. Sementara ada kegembiraan dan perayaan di Madinah, Makkah dipenuhi kesedihan. Kota itu kehilangan orang-orang terpentingnya di medan perang. Abu Lahab sudah sakit dan tua renta. Kesedihan atas berita ini terlalu berat baginya. Dilanda amarah dan duka, ia meninggal dalam seminggu. Karena takut penyakitnya mungkin menular, bahkan anak-anaknya sendiri tidak mendekati jasadnya untuk beberapa waktu. Saat baunya tak tertahankan, mereka akhirnya menyeretnya pergi dan menguburkannya di suatu tempat.

Dan demikianlah, satu lagi musuh keras Islam pun lenyap. Segalanya kini berbalik menguntungkan kaum Muslim. Setelah kehilangan 14 syuhada, kaum Muslim kembali dari Badar. Pertempuran dimenangkan dengan kemenangan telak atas Quraisy. Dan pasukan pun dipenuhi kegembiraan atas kemenangan. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. "Wahai Rasulullah ﷺ, putrimu Ruqayyah... telah wafat." Saat Rasulullah ﷺ tiba, beliau menerima kabar yang memilukan. Beliau sangat terguncang. Beliau bahkan tak sempat melihat putrinya di saat-saat terakhirnya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Orang yang diuji dengan ujian paling berat adalah para Nabi, lalu orang-orang terbaik berikutnya sesuai kadar agamanya." Ini bukan pertama kalinya beliau merasakan sakit kehilangan anak. Sebelumnya, beliau telah menguburkan putra-putranya Qasim dan Abdullah. Dan kemudian, ada putri sulungnya, Zaynab. Ia menikah sebelum Islam. Namun suaminya, Abu al-‘As, belum masuk Islam. Pada hari Badar, Abu al-‘As juga termasuk tawanan. Rasulullah ﷺ membebaskannya dengan syarat ia mengirim Zaynab ke Madinah. Saat itu, Zaynab sedang hamil. Namun dibutakan kebencian setelah perang Badar, para penyembah berhala ingin menyakitinya.

Saat ia hendak berangkat, mereka menakuti untanya dengan kejam, dan Zaynab jatuh ke atas batu. Ia kehilangan bayinya. Ia tiba di Madinah dalam keadaan itu, dan ayahnya menerimanya dengan kesedihan mendalam. Haruskah beliau berduka atas kehilangan cucunya atau atas penderitaan putrinya? Keguguran yang dialami Zaynab berdampak pada kesehatannya. Dan beberapa tahun kemudian, ia pun wafat. Kehilangan satu anak saja adalah duka yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengalaminya. Namun Rasulullah ﷺ mengalaminya bukan sekali, melainkan enam kali. Dan ujian yang beliau hadapi tidak terbatas pada kehilangan orang tercinta. Allah mengizinkan beliau melewati ujian berat ini dengan suatu hikmah.

Jika hidup beliau bebas dari duka dan kesulitan, bagaimana beliau bisa menjadi teladan sejati bagi kita? Bagaimana beliau bisa membimbing mereka yang bergulat dengan kesulitan hidup dan seluruh umat manusia? Selama lebih dari 1400 tahun, setiap orang dalam umatnya yang diuji cobaan mendapat penghiburan dari sirah beliau. Setiap orang bisa melihat rasa sakitnya tercermin dalam hidup beliau. Dan salah satu sifat paling luar biasa dari Rasulullah ﷺ adalah, meski melalui begitu banyak ujian, beliau tetap bisa tersenyum. Beliau membuka hatinya kepada Tuhannya, mencurahkan kegundahan dan berlindung kepada-Nya. Beliau melihat kebaikan dalam segala hal dan selalu berpikir positif.

Beliau berpikir dengan indah dan penuh harap. Dan dengan itu, beliau bisa meninggalkan kesedihan. Beliau fokus pada nikmat baru yang Allah karuniakan, dan menemukan ketenangan di dalamnya. Salah satu nikmat itu adalah pernikahan putri tercintanya, Fatimah. Di antara semua orang, dialah yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ. Dan dia akan menikah dengan Ali RA, yang diasuh Rasulullah ﷺ sejak kecil dan dididik oleh beliau. Keturunan mulia Rasulullah ﷺ akan berlanjut melalui Fatimah dan Ali RA. Dengan pernikahan yang sederhana, tanpa kemewahan dan pamer, sebuah rumah yang penuh cinta pun terbangun. Dan rumah itu diberkahi dua anak indah, Hasan dan Husain.

Rasulullah ﷺ menunjukkan kasih sayang yang luar biasa kepada cucu-cucunya. tak seperti yang lain. Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah ketika beliau melihat Hasan dan Husain tersandung di depan semua orang. Beliau turun, menggendong mereka, lalu naik kembali ke mimbar. Saat Rasulullah ﷺ sujud dalam salat, Hasan naik ke punggung beliau. Dan beliau memperpanjang sujudnya agar tidak mengganggu permainannya. Nabi berkata, "Sesungguhnya Hasan dan Husain adalah dua bunga harumku di dunia.” Beliau mencium kepala dan leher mereka, menghirup harum mereka, dan memeluk mereka erat. Kasih sayang seperti ini, terutama saat itu, sangat jarang terjadi.

Suatu hari, seseorang melihat Rasulullah ﷺ mencium Hasan dan bertanya, “Apakah kamu mencium anak-anakmu? Aku punya sepuluh anak, dan aku tak pernah mencium satu pun.” Rasulullah ﷺ menjawab, "Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." Beliau tidak hanya menyayangi cucunya, tapi juga semua anak-anak. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, seorang anak 12 tahun bernama Anas bin Malik dibawa untuk membantu beliau. Rasulullah ﷺ menanamkan kepercayaan besar padanya, mendidiknya dengan lembut dan penuh kasih, hingga Anas tumbuh menjadi sosok luar biasa. Melalui Anas, Rasulullah ﷺ memberi teladan indah dalam mendidik anak. Anas RA berkata, “Nabi tidak pernah berkata kasar padaku.

Dan beliau tak pernah berkata, ‘Mengapa kau melakukan itu?’ atau tentang hal yang tak kulakukan, ‘Mengapa kau tidak melakukannya?’” Ia melayani Nabi dan berada di bawah asuhan beliau selama 10 tahun. Anas lalu tumbuh menjadi sahabat yang sangat berilmu dan dihormati. Rasulullah ﷺ menikahkan putrinya Fatimah dengan Ali RA, yang dikenal karena keberanian, ilmu, dan kebijaksanaannya. Beliau juga menikahkan Ummu Kultsum dengan Utsman RA, yang beliau sebut “sahabatku di surga.” Utsman sangat sederhana, bahkan malaikat mengagumi kesederhanaannya dan malu kepadanya. Ia sahabat yang sangat mulia dan mendapat kehormatan unik menjadi menantu Rasulullah ﷺ dua kali.

Jadi Rasulullah ﷺ menikahkan dua bunga cintanya dengan dua lelaki paling mulia di muka bumi. Lalu bagaimana dengan Rasulullah ﷺ sendiri? Apakah beliau menikah lagi setelah Khadijah? Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati komunitas Muslim yang besar. Dan tentu saja, bukan hanya laki-laki. Ada juga banyak perempuan di antara para sahabat. Mereka ingin hidup dan belajar agama. Namun tidak pantas bagi Rasulullah ﷺ sering berinteraksi langsung dengan wanita. Dan mereka tidak bebas bertanya semua hal. Karena beliau adalah seorang pria, ada hal-hal yang membuat mereka malu bertanya. Maka mereka membutuhkan guru perempuan. Dan itulah para istri Rasulullah ﷺ.

Mereka menjadi guru bagi perempuan dalam umat. Para wanita bisa bertanya kepada istri Rasulullah ﷺ tentang hal-hal yang tidak bisa mereka tanyakan pada beliau dan belajar dari mereka kapan saja. Para sahabat menghabiskan harinya mengamati perkataan dan perilaku Rasulullah ﷺ. Tapi mereka tidak melihat kehidupan rumah tangga beliau. Istri-istrinya lah yang menyampaikan bagian itu kepada umat. Itulah sebabnya, di Makkah, Rasulullah ﷺ hidup sekitar 25 tahun dengan satu istri. Namun setelah hijrah ke Madinah, beliau hidup dengan beberapa istri. Sayangnya, musuh-musuh Islam memfitnah beliau bahwa beliau didorong oleh hawa nafsu. Ma'adzallah.

Karena tak bisa menemukan cara untuk menyangkal kenabiannya, mereka membuat tuduhan itu. Padahal kehidupan beliau justru membantah tuduhan itu. Pada usia 25, ketika banyak yang mengaguminya, beliau menikahi wanita 40 tahun, Khadijah RA. Jika mau, hampir semua orang ingin menikahkan putri mereka dengannya. Namun hingga usia 50, beliau tidak menikah lagi. Padahal masa syahwat terkuat adalah di usia 15 hingga 40. Dan pada masa itu, beliau hidup dengan satu istri dan menjadi teladan kesucian dan akhlak. Baru setelah usia 50, beliau memiliki beberapa istri. Dan alasannya jelas, yaitu pendidikan agama. Separuh umat adalah perempuan, dan separuh lainnya adalah pria, yang dibesarkan oleh perempuan.

Maka mendidik perempuan Muslim sangatlah penting. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ membutuhkan istri-istri dengan kemampuan dan keutamaan berbeda. Bahkan, kebutuhan itu amat penting, karena hampir setengah ajaran agama diajarkan oleh istri-istri Rasulullah ﷺ. Dan di antara mereka, yang paling berperan besar adalah ibunda Aisyah RA. Beliau wanita yang sangat cerdas dan berbakat. Jika sahabat menghadapi masalah agama, yang tak mereka pahami, mereka akan bertanya kepadanya dari balik tirai.

Misalnya Abu Musa al-Asy‘ari, sahabat yang terkenal dalam ilmu Al-Qur’an dan Hadis, berkata: “Kami para sahabat, jika butuh klarifikasi dan bertanya kepada Aisyah RA, kami selalu mendapati beliau tahu jawabannya.” Beliau mendedikasikan masa mudanya untuk mendalami Islam. Dengan demikian, setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia, beliau menjadi sumber ilmu selama 46 tahun. Tempat orang-orang bertanya kapan pun. Sesungguhnya, ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita. Agama kita punya dua sumber utama. Yang pertama Al-Qur’an, yang kedua kehidupan Rasulullah ﷺ, sunnah beliau. Jika kau ingin tahu sesuatu tentang Rasulullah ﷺ, saat beliau masih hidup, kita bisa bertanya langsung.

Tapi bagaimana setelah beliau wafat? Kita harus bertanya kepada yang mengenalnya dengan baik. Orang-orang terdekatnya. Istri-istrinya. Orang-orang yang menyaksikan setiap momen kehidupan beliau. Dan Aisyah termasuk tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Bayangkan jika istri-istri Rasulullah ﷺ meninggal dunia tak lama setelah beliau, bukankah itu akan meninggalkan kekosongan besar? Hal aneh lainnya, seperti yang dikatakan sebelumnya, Karena Rasulullah ﷺ punya beberapa istri, sebagian orang menuduh beliau penuh syahwat. Namun mereka tidak melihat semua pernikahan beliau. Beliau menikahi wanita yang berusia 40-an dan 50-an. Para janda dengan anak-anak mereka.

Melalui pernikahan ini, beliau menjadi ayah bagi 12 anak yatim, bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Orang zaman sekarang pun ragu menikahi janda dengan satu anak. Kalaupun menikah, belum tentu menjalankan peran ayah dengan baik. Tapi 12 orang anak itu sangat mengagumi Rasulullah ﷺ. Saat dia memikul tanggung jawab seberat itu, apa mungkin pernikahan beliau berlandaskan syahwat? Silakan tentukan sendiri. Jadi, bagaimana hubungan Rasulullah ﷺ dengan para istrinya dalam semua pernikahan itu? Biasanya, seorang pemimpin atau penguasa memiliki puluhan, bahkan ratusan urusan yang harus dia tangani, bukan? Dan sering kali dia tidak punya cukup waktu untuk banyak hal.

Terutama ketika menyangkut keluarganya sendiri, sering kali dia harus banyak berkorban. Namun Rasulullah ﷺ memiliki kemampuan manajemen waktu yang luar biasa. Coba bayangkan. Ada ketegangan politik yang terus-menerus dengan Makkah. Dan beliau selalu harus siap dan waspada menghadapinya. Pada saat yang sama, di dalam Madinah sendiri, ada banyak faktor politik yang mencoba menimbulkan masalah. Terutama aktivitas orang-orang munafik dan masalah yang ditimbulkan oleh orang-orang Yahudi. Kita akan melihat keduanya lebih jelas di episode-episode berikutnya. Beliau juga harus menangani tantangan-tantangan itu.

Dan pada saat yang sama, beliau juga perlu mengawasi suku-suku Arab lainnya dan negara-negara tetangga. Dan di atas semua itu, beliau harus memimpin salat di masjid lima kali sehari. Sambil juga menjawab pertanyaan puluhan sahabat. Beliau harus mengajar mereka. Di masa perang, beliau memimpin pasukan. Setiap malam beliau menginterupsi tidurnya untuk berdiri dalam salat. Beliau menjalani kehidupan ibadah yang tak satu pun orang dari umatnya bisa melampauinya selama 1400 tahun. Percayalah, ketika kau membaca halaman-halaman Sirah, daftar ini akan terus bertambah. Beliau harus menjalankan semua tanggung jawab ini dengan sukses. Dan beliau benar-benar melakukannya.

Jadi dengan kehidupan yang begitu sibuk, berapa banyak waktu dan perhatian yang bisa diberikan seorang pria kepada istrinya? Beliau menunjukkan perhatian dan kepedulian amat besar pada mereka bahkan setelah 1400 tahun, tidak ada yang mencapai tingkat itu. Meski memiliki daftar tugas yang tak ada habisnya, bagaimana beliau masih bisa menemukan waktu untuk berlomba lari dengan Aisyah dari waktu ke waktu? Ketika Safiyyah hendak naik ke untanya, Rasulullah membungkuk dan menawarkan lututnya sebagai pijakan baginya. Dengan semua tanggung jawab yang beliau pikul, bagaimana beliau bisa memikirkan isyarat penuh perhatian seperti itu?

Suatu ketika, ibu kita Aisyah marah kepada Rasulullah ﷺ dan meninggikan suaranya. Ketika ayahnya Abu Bakar mendengar ini dari luar, dia menjadi marah dan ingin memukulnya. Lalu apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ? Beliau menghentikannya, menyuruhnya pergi, lalu dengan bercanda berkata kepada Aisyah (radhiallahu anha), “Lihat, aku sudah menyelamatkanmu dari orang itu.” Beliau menunjukkan tingkat kesabaran dan kebaikan yang mustahil ditemukan pada pria lain mana pun. Alih-alih marah atau mengangkat tangan, beliau justru berkelakar. Di satu sisi, ada pria yang tidak pernah meminta pendapat istri mereka, bahkan dalam hal-hal yang menyangkut mereka.

Di sisi lain, kita melihat Rasulullah ﷺ yang berkonsultasi dengan istrinya dan bertindak berdasarkan nasihat mereka bahkan dalam hal-hal kritis. Beliau mengungkapkan cintanya pada istri-istrinya. Beliau memuji kebaikan mereka, menghargai mereka, dan membuat mereka merasa dihargai. Saat menerima wahyu dari Allah, saat berbicara dengan Jibril, saat para malaikat berdiri di hadapannya dengan penuh hormat, bagaimana beliau masih bisa menunjukkan kasih sayang kepada semua istrinya? Jawabannya sederhana. Karena beliau adalah teladan terbaik yang diutus oleh Allah. Sepanjang sejarah, setiap tokoh terkenal menjadi teladan hanya dalam dua atau tiga sifat mereka.

Namun Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna dalam setiap sifatnya. Dalam akhlaknya, dalam adabnya, dalam segala hal. Dan tahukah kau bagian yang paling luar biasa? Bahkan dalam sifat-sifat yang jarang ditemukan bersamaan pada tingkat tinggi, beliau juga menjadi teladan terbaik. Apa maksudku? Misalnya, jika seseorang sangat penyayang, kau mungkin menemukan kelemahan dalam rasa keadilannya. Atau jika rasa keadilan seseorang sangat kuat, kamu mungkin melihat kurangnya kasih sayang. Namun beliau unggul dalam kedua sifat itu sekaligus. Jika seseorang sangat tegas dan pemberani, biasanya kau tak bisa berharap dia tetap tenang dan lembut saat diperlukan.

Dan jika seseorang tenang dan lembut, biasanya dia tidak bertindak berani ketika diperlukan. Namun sekali lagi, Rasulullah ﷺ melampaui semua orang dalam kedua sifat ini. Demikian pula, jika seseorang selalu cepat bertindak, kamu tak bisa berharap dia akan berhati-hati. Dan jika seseorang sangat berhati-hati, kau akan jarang melihatnya bertindak cepat atau berani. Namun lagi-lagi, Rasulullah ﷺ unggul dalam keduanya. Nabi sangat cinta damai, namun di saat yang sama menunjukkan kebencian paling kuat hanya demi rida Allah. Beliau sangat berhati-hati dalam membelanjakan harta, namun juga sangat dermawan. Dan seterusnya.

Ketika Bediuzzaman Said Nursi membuat perbandingan ini, dia menyebut aspek Rasulullah ini sebagai “mukjizat dari segala mukjizat.” Sekarang setelah kita melihat kehidupan keluarga dan karakter Rasulullah ﷺ, mari kita beralih ke apa yang terjadi setelah Perang Badar. Jika kau ingat, salah satu tantangan terbesar Rasulullah ﷺ adalah menghindari perpecahan di antara penduduk Madinah. Juga disebutkan bahwa suku-suku Yahudi akan banyak menimbulkan masalah dalam hal ini. Jadi, untuk mencegah konflik dan hidup bersama dalam damai, Rasulullah ﷺ menyiapkan sebuah perjanjian setelah hijrah. Dan mereka menyetujuinya.

Tapi setelah Perang Badar, ketegangan mulai meningkat di antara suku-suku Yahudi Madinah. Kemenangan kaum Muslimin membangkitkan kecemburuan dan kebencian yang tersembunyi di hati mereka. Mereka mulai melantunkan syair yang menghina Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Mereka juga mencoba cara lain untuk memprovokasi. Namun kemudian, mereka melakukan sesuatu yang melewati batas. Suatu hari, istri seorang Muslim masuk ke sebuah toko perhiasan yang dikelola oleh seorang Yahudi dari Bani Qaynuqa. Dia menutupi wajahnya karena rasa malu. Saat dia duduk di sana, sebagian orang Yahudi mulai mengganggunya dan mencoba membuka penutup wajahnya.

Ketika dia menolak, salah satu dari mereka datang dari belakang dan menyematkan satu bagian pakaiannya ke bagian lain dengan duri. Ketika dia berdiri, rok-nya tiba-tiba terbuka. Dan orang-orang Yahudi tertawa terbahak-bahak atas perbuatan menjijikkan itu. Wanita Muslim itu berteriak terkejut. Mendengar tangisannya, salah satu sahabat bergegas masuk ke toko. Dipenuhi amarah, dia meraih mencengkeram Yahudi itu, dan dalam perkelahian yang terjadi, dia membunuhnya. Kemudian orang-orang Yahudi lainnya menyerang sahabat itu dan memukulinya sampai mati. Dia syahid. Berita kejadian ini dengan cepat sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Tanpa menunda, Rasulullah ﷺ mengumpulkan Bani Qaynuqa dan berbicara kepada mereka. Beliau dengan tegas meminta mereka berhenti membuat masalah dan perilaku sombong mereka yang tidak sopan, lalu mengajak mereka masuk Islam. Namun alih-alih mendengarkan dan memperbaiki diri, mereka menjawab dengan sombong. “Wahai Muhammad! Jangan tertipu oleh kemenanganmu atas orang-orang yang tidak tahu perang. Kami tidak seperti mereka. Kami adalah pejuang terampil. Jika kau berani menghadapi kami, kau akan melihat pria macam apa kami ini.” Setelah tantangan terbuka ini, mereka pergi. Mereka telah melanggar Perjanjian Madinah.

Rasulullah ﷺ segera mengumpulkan para sahabatnya dan memerintahkan mereka bersiap untuk berperang. Beliau akan menjawab tantangan mereka. Kita akan melihat sikap yang sama ini berkali-kali dalam sirah. Setiap kali ada yang mencoba mengintimidasi kaum Muslimin atau menantang mereka, tidak peduli seberapa besar musuhnya, bahkan jika mereka memiliki pasukan seratus ribu orang, Rasulullah ﷺ tidak pernah mundur. Beliau akan menghadapi mereka tanpa takut dan menunjukkan keberanian dan kekuatan kaum Muslimin. Beliau menyelesaikan persiapan dan bergerak melawan Bani Qaynuqa. Orang-orang Yahudi ini memiliki benteng yang kuat.

Ketika mereka mendengar bahwa Rasulullah ﷺ menuju mereka, mereka mundur ke dalamnya. Bani Qaynuqa memiliki sekitar 700 pejuang, dengan 300 di antaranya memakai baju besi. Dan mereka memutuskan untuk melawan dari dalam benteng mereka. Dan selama sekitar 15 hari, mereka tetap di sana. Tidak mampu keluar. Dan ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak lagi mampu melawan kaum Muslimin, ketakutan menguasai mereka, dan mereka setuju untuk menyerah. Mereka menyerah tanpa perlawanan. Meskipun Rasulullah ﷺ bisa saja memerintahkan eksekusi mereka, beliau menyelamatkan nyawa mereka dan memberi mereka tiga hari untuk meninggalkan Madinah.

Dan demikianlah, suku Bani Qaynuqa diusir dari Madinah sebagai hukuman karena melanggar perjanjian. Sementara semua ini terjadi di Madinah, situasi di Makkah semakin tegang. Setelah tokoh-tokoh terkemuka Quraisy tewas di Perang Badar, Abu Sufyan menjadi pemimpin baru mereka. Kaum Quraisy membara dengan keinginan balas dendam yang dahsyat. Bersumpah untuk membalas kekalahan, Abu Sufyan mendekati Madinah dengan 200 pasukan berkuda. Dia mengumpulkan informasi tentang kaum Muslimin dari sebagian orang Yahudi di sana. Dan di sebuah tempat bernama Urayd dekat Madinah, dia membakar dua rumah dan beberapa kebun kurma, dan mensyahidkan dua orang Muslim.

Namun ketika dia mendengar bahwa 200 Muslim sedang bergerak menuju dirinya, dia segera melarikan diri. Dengan tindakan ini, Abu Sufyan mengira dia telah membalas dendam. Namun tentu saja, kaum Quraisy tidak akan berhenti di situ. Mereka yang kehilangan orang-orang tercinta di Badar masih terbakar oleh amarah. Akhirnya, saat yang mereka tunggu-tunggu tiba. Kafilah dagang mereka kembali. Mereka mengumpulkan keuntungan di satu tempat dan meminta bantuan suku-suku tetangga. Dan kemudian, mereka mulai merencanakan serangan mereka dengan sangat hati-hati. Didorong oleh dahaga balas dendam, Quraisy mengumpulkan pasukan 3.000 orang. Sebuah pertempuran dahsyat ada di depan mata.

Apa yang akan terjadi kali ini? Siapa yang akan menang? Perang Uhud, yang oleh Rasulullah ﷺ disebut “salah satu dari dua hari paling berat dalam hidupku,” menanti kita di episode berikutnya. Nantikan kisahnya.