Towards Eternity
Kembali ke blog

Apakah Islam benar-benar menghargai perempuan? Hijab, poligami, dan lainnya

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Bagaimana kedudukan wanita dalam Islam? Apakah Islam merendahkan mereka? Apakah Islam memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua? Saat kalian membahas Islam dengan non-Muslim, entah pria atau wanita, hal pertama yang ditanyakan selalu tentang wanita dalam Islam. Menurutmu kenapa? Karena kelompok besar baik dari media besar dan sosial media telah berupaya keras memakai topik wanita sebagai alat propaganda melawan Islam. Dan mereka terus menyerangnya. Tapi yang mengejutkan adalah statistik lain yang kami dapat. Di Amerika, empat dari lima orang yang masuk Islam adalah wanita.

Selain itu, penelitian lain di Inggris menemukan hampir 75% orang yang masuk Islam sejak 2001 hingga 2011 adalah wanita. Jika Islam mengancam wanita, hasil penelitian ini pasti menunjukkan hal sebaliknya, kan? Atau bisa jadi, bertentangan dengan kepercayaan umum, mereka menemukan nilai yang mereka cari di Islam. Ada hal penting yang perlu kita bahas. Dan tentu saja, jawaban pertanyaan yang sering ditanyakan. Bisakah pria punya empat istri? Bukankah hijab yang menutupi kepala dan tubuh itu pembatasan? Mengapa wanita menerima setengah bagian dari warisan pria? Dan satu ayat Al-Qur’an terkenal yang banyak diperdebatkan. Jika kamu siap, mari kita mulai.

Di tahun 1700-an, seorang sejarawan dan penulis Inggris datang ke Istanbul. Lady Elizabeth Craven. Ia sangat terkesan dengan kota Islam ini. Pengalaman para wanita di negaranya dengan di sini sangatlah berbeda. Tempat ini sungguh berbeda. Ia menyebut wanita Muslim sebagai 'makhluk bernapas paling bahagia'. Begini ia tuliskan pengamatannya, "Aku belum pernah lihat negara di mana wanita punya kebebasan sebanyak ini, dan bebas dari segala celaan, tuduhan, atau kritik, seperti di Turki." Saat itu adalah Kekaisaran Ottoman. Apa yang membuatnya terkejut? Apa yang dia lihat di Inggris hingga berkata demikian? Sayangnya, kita kurang tahu soal sejarah.

Masalah-masalah yang kusebutkan ini tidak ia temui di kota Islam itu. Misalnya, di Inggris dan Amerika, saat wanita menikah, seluruh harta pribadinya sering diambil alih suami. Bahkan jika bekerja, gajinya jadi milik suami, dan ia tak bisa menuntutnya. Jika ayahnya meninggal, warisannya langsung jatuh ke tangan suami, tanpa hak bagi si istri. Dalam perceraian, semua anak akan ikut ayah. Ibu dipisahkan dari anak-anak yang ia lahirkan, besarkan, dan korbankan segalanya untuk mereka. Anak-anak pun harus dipisahkan dari ibu mereka. Kecuali sebagian kecil kasus, wanita tak dapat tunjangan, bantuan finansial setelah bercerai. Ini bukan cuma ketidakadilan sosial, tapi sudah jadi aturan resmi.

Di samping itu, wanita juga menghadapi ketidakadilan moral dan emosional. Di Inggris hingga abad ke-20, masih ada praktik aneh. Salah satunya 'menjual istri'. Apa maksudnya? Sulit dipercaya, tapi saat pria bosan atau tak tertarik lagi pada istrinya, dia bisa membawanya ke pasar dan menjualnya seperti barang. Bahkan menurut catatan tahun 1913, seorang pria menjual istrinya seharga £1. Sementara itu, Eropa abad pertengahan jauh lebih kejam. Antara abad ke-15 dan ke-17, Gereja Katolik menggelar perburuan penyihir. Wanita tak bersalah dihukum mati atas tuduhan sembarangan. Menurut catatan, antara 40.000 hingga 100.000 wanita dieksekusi dengan mengerikan, dibakar hidup-hidup. Bisa kamu bayangkan?

Jika ada wanita yang tak menarik, mereka menyebutnya penyihir. Atau jika wanita menolak seorang pria, dia dianggap penyihir. Hidup mereka berakhir. Bahkan pemikiran itu mengerikan. Di masyarakat yang sama, orang memperdebatkan pertanyaan, "Apakah wanita manusia? Apakah mereka punya jiwa? " Lady Craven tidak mengatakan kata-kata ini tanpa alasan. Apa yang dia saksikan di kota Islam itu sungguh kebalikan dari apa yang terjadi di barat. Hak-hak wanita Barat yang baru diperoleh satu abad kemudian, di tahun 1882, sudah dinikmati di sini selama berabad-abad. Bagaimana bisa?

Seorang wanita dapat menggugat, membuat perjanjian hukum, memiliki properti menerima warisan, dan punya lebih banyak hak daripada wanita Inggris. Kalian mungkin bisa menebak bahwa saat itu, wanita Barat tak berkesempatan menerima pendidikan juga. Di sisi lain, kita lihat bahwa universitas tertua di dunia yang masih ada hingga kini didirikan oleh seorang wanita Muslim. Kamu dapat melihatnya di Guinness World Records. Universitas al-Qarawiyyin di Maroko didirikan oleh Fatima al-Fihri pada tahun 859. Artinya wanita diberi kesempatan untuk menerima pendidikan di tanah Muslim, dan itulah mengapa dia bisa melakukan ini.

Ini juga berarti bahwa wanita berhak memiliki properti, jika tidak maka ia tak bisa mendirikan universitas. Selain itu, ini menunjukkan wanita Muslim berperan penting di masyarakat hingga dapat membuat pencapaian ini. Dan yang paling penting, artinya ia dibesarkan dalam keluarga Muslim dengan rasa percaya diri, serta rasa bangga akan jenis kelamin dan jati dirinya, bukan dengan penghinaan. Tutup matamu dan coba bayangkan. Lebih dari 100.000 orang menunggu dengan kegembiraan dan rasa ingin tahu. Di depan mereka berdiri seorang pemimpin yang mengubah arah sejarah. Nabi Muhammad SAW. Saat itu tahun 632, dan saat menyampaikan khotbah perpisahan yang terkenal, beliau sampaikan hal berikut.

“Wahai manusia! Aku menasihati kalian untuk menghormati hak-hak wanita dan bertaqwalah pada Allah terkait hal ini. Kalian menerima wanita sebagai amanah dari Allah Dan menjadikan kehormatan mereka halal bagi kalian setelah mengucapkan janji atas nama Allah. Sama seperti kalian memiliki hak atas wanita, mereka pun memiliki hak atas kalian.” Di antara banyak hal lainnya, terkait hak-hak wanita, beliau ubah wilayah tempat tinggalnya secara mendalam. Sekarang mari kita lihat siklus kehidupan wanita di masyarakat dan bandingkan perbedaannya sebelum dan sesudah Islam.

Sebelum Islam, saat anak perempuan lahir, ayah sering melihatnya sebagai sumber rasa malu, dan dalam banyak kasus dikubur hidup -hidup. Saat Islam datang, praktik ini benar-benar dihapuskan. Bahkan jika dapat bertahan hidup, ia tak pernah menerima cinta dan kasih sayang dari ayahnya. Dia tetap tak berharga di matanya. Tapi Nabi Muhammad SAW kemudian berkata, "Jika dapat membesarkan tiga putri, mendisiplinkan mereka, mengawinkan mereka, berbuat baik untuk mereka, dia akan masuk surga." Misal dia tumbuh dewasa dan mencapai usia pernikahan. Sebelum Islam, dia akan dipaksa menikah. Tak ada yang peduli pendapat atau perasaannya. Tapi Islam datang dan melarang menikahkannya tanpa persetujuannya.

Sejak itu, jika ingin menikahinya, pria perlu melamarnya terlebih dahulu. Setelah beberapa pertemuan, jika wanita setuju, merasa cocok, proses pernikahan dapat dimulai. Sebagai bagian dari kontrak pernikahan, pengantin pria harus siapkan mahar, sejumlah uang atau hadiah yang berharga. Ini adalah bentuk pengamanan. Jika mereka bercerai atau suami meninggal, wanita bisa mencukupi kebutuhannya sendiri untuk sementara waktu dari uang ini. Tentu saja, ini bukan satu-satunya tujuan. Wanita dapat gunakan uang ini untuk apa saja selama hidup mereka. Mereka bisa mulai berbisnis, berinvestasi yang menguntungkan, atau mereka dapat menyimpannya. Jumlah mahar ditentukan oleh pihak wanita.

Pria harus membayarnya dan tak bisa mengambilnya kembali. Namun jika wanita ingin membantu suaminya secara finansial, tidak masalah. Setelah menikah, nafkah wanita itu tanggung jawab suaminya. Dia tak berkewajiban apa pun untuk bekerja, cari uang, atau berkontribusi pada pengeluaran rumah tangga. Sebelum menikah, ayah bertanggung jawab atas segala kebutuhannya. Setelah menikah, suaminya mengambil tanggung jawab itu. Tapi bahkan sekarang, banyak di berbagai belahan dunia tidak menerapkannya. Saat kami mewawancarai Ustazah Fatima Barkatulla, seorang cendekiawan Muslimah di Inggris, ia ceritakan hal mengejutkan.

Salah satu yang paling mengesankan bagi wanita non-Muslim tentang Islam, karena umumnya, mereka tidak pernah merasakan dinafkahi oleh orang lain di masyarakat mereka sendiri. Setelah usia tertentu, gadis lajang sering kali mengalami 'perceraian' dengan ayah mereka. Karena mereka diharuskan berdiri di atas kaki mereka sendiri, mereka dipaksa menjalani hidup yang tak mereka kenal dan pilih. Akibatnya, jutaan anak perempuan menderita berkepanjangan, berkali-kali mereka dilecehkan oleh orang dengan niat buruk. Baik sebelum dan sesudah menikah, mereka berusaha keras membela diri. Islam, bagaimanapun, menempatkan tanggung jawab nafkah pada ayah sebelum menikah dan pada suami setelah menikah.

Sekali lagi, saat waktunya tiba untuk menikah, siapa pria yang dirasa dapat menghidupinya juga ada di tangannya. Mari kita lanjutkan. Sebelum Islam, saat wanita menikah dan jadi ibu, dia tak punya nilai atau rasa hormat apa pun. Tapi lihat apa yang disampaikan Rasulullah SAW. “Sebaik‑baik orang yang beriman adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik‑baik kalian adalah yang paling baik kepada istri‑istrinya.” Untuk menjelaskan nilai ibu, beliau sampaikan pada sahabatnya, "Surga ada di bawah kaki ibumu." Beliau jelaskan, melanggar hak ibu dan menindasnya adalah salah satu dosa terbesar. Sebelum Islam, jika suami meninggal, wanita tak menerima warisan apapun dari suaminya.

Sebaliknya, ibu dan anak dianggap bagian dari warisan. Pria mana pun dapat mengklaim hak atas keluarga itu dan menikahi wanita itu. Islam datang menghapuskan praktik ini. Dan sebaliknya, warisan dibagi untuk istri, anak dan orang tua almarhum menurut perhitungan tertentu. Kalian mungkin tahu bahwa orang tua juga dapat bagian warisan. Ini penting karena kini, di banyak negara berkembang, orang tua tak menerima bagian warisan. Namun, secara logis, orang tua almarhum mungkin telah mencapai usia tua dan butuh perawatan. Islam memberi tanggung jawab perawatan mereka pada anak laki-laki, dan jika ia mati mereka dapat bagian warisan untuk tujuan ini.

Dengan kata lain, Islam tidak mengabaikan wanita saat dia jadi seorang ibu. Nafkah tetap jadi tanggung jawab anak-anaknya. Di satu sisi, ini benar-benar dapat dilihat sebagai dorongan bagi wanita untuk mengejar tujuan yang lebih tinggi. Jika kamu tidak diwajibkan atau tidak mau bekerja, kamu tak perlu habiskan waktu mencari penghasilan. Dedikasikan waktumu untuk hal yang lebih besar, seperti pendidikan. Bagaimanapun, bukankah ini fondasi segala hal? Perubahan besar di masyarakat dan kesejahteraan spiritual ada di tanganmu. Tapi jika wanita memilih bekerja, ada juga contoh besar dalam sejarah Islam. Istri Rasulullah SAW, Khadijah RA, adalah salah satu pedagang paling sukses di Makkah.

Dia pengusaha wanita yang luar biasa. Atau ingat Fatima al-Fihri, pendiri universitas tertua. Itu benar-benar pencapaian bisnis yang luar biasa. Selama keseimbangan antara yang halal dan haram dilakukan, tak ada masalah. Biasanya, membuat masyarakat berhenti kebiasaan merokok tampaknya hampir mustahil. Namun Nabi Muhammad SAW berdiri sendiri dan dalam waktu singkat membuat masyarakat itu meninggalkan semua kebiasaan dan tradisi buruk ini. Bukan hanya itu, beliau menggantinya dengan prinsip-prinsip indah dan adil yang bahkan berabad-abad kemudian, manusia tak dapat mencapai level itu. Banyak contoh lain lagi. Seluruh transformasi ini terjadi hanya dalam 23 tahun.

Untuk menyoroti perubahan luar biasa ini, Cendekiawan besar Islam, Bediuzzaman Said Nursi berkata, "Biarkan mereka mengumpulkan seratus filsuf, kirim mereka ke masa dan tempat itu. Biarkan mereka bekerja selama 100 tahun. Bisakah mereka mencapai 1% dari apa yang dicapai pria hebat itu hanya dalam satu tahun?" Bahkan belum 20 tahun berlalu, sejak Rasulullah SAW meninggal, saat dunia menyaksikan peristiwa luar biasa lainnya dalam sejarah. Umar bin Khattab, salah satu pemimpin paling kuat di dunia khalifah kedua Islam, dan terkenal karena rasa keadilannya. Sekarang kita akan lihat contoh sebanyak apa rasa percaya diri dan nilai yang diberikan Islam pada wanita.

Suatu hari, Umar menerima keluhan seorang wanita yang meminta mahar sangat tinggi. "Ya Umar, wanita menginginkan mahar yang sangat tinggi." "Ya, dia benar. Kami kesulitan untuk menikah. Lakukan sesuatu." Kalian ingat mahar, kan? Sejumlah uang yang jadi hak wanita untuk memintanya saat pernikahan. Untuk menyelesaikannya, Umar berbicara di depan umat, dan menyarankan menempatkan batas jumlah mahar. Siapa yang berani untuk menentang pemimpin seperti dia? Dia adalah pria yang mengalahkan Kekaisaran Persia dan mencapai kemenangan melawan Romawi. Betapa kuatnya dia. Tapi pada saat itu, seorang wanita berdiri dan keberatan.

Dia dengan berani berkata, "Apakah kamu tidak mendengar Allah berfirman dalam Al-Qur'an, '...janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikit pun." Bahkan meski kau telah memberi sejumlah emas." Sangat jarang ada perempuan yang secara terbuka menentang seorang penguasa. Jadi bagaimana tanggapan Umar? Dengan rendah hati ia akui wanita itu telah mengatakan kebenaran, dan Umar melakukan kesalahan. Setiap orang punya pengetahuan lebih daripada Umar. Dia lalu pergi ke tempat tinggi dan menarik kata-katanya di depan orang-orang. Ini pemikiran yang sungguh mengesankan. Inti masalahnya adalah, media besar sering menyebarkan pandangan buruk tentang Islam.

Mungkin kalian ingat Penyanyi Irlandia terkenal yang masuk Islam, Sinead O'Connor. Dia dikenal sebagai feminis. Dia menceritakan perjalanannya menuju Islam, "Aku mulai mempelajari Kitab Suci agama lain, berusaha mencari kebenaran Tuhan. Aku tak terpikir ingin masuk agama tertentu, namun aku menjauhi Islam karena aku punya banyak prasangka pada Islam." Memang, banyak propaganda besar tentang Islam, terutama terkait wanita. Namun saat orang mulai mencari tahu, mereka sadar kenyataannya sungguh berbeda. Itulah mengapa empat dari lima Mualaf di Amerika adalah wanita. Itulah sebabnya, hampir 75% dari Mualaf di Inggris juga wanita. Coba kutanya.

Jika aturan Islam benar-benar menindas wanita, bukankah justru wanita yang paling menjauhi Islam? Tetapi sebaliknya mualaf terbanyak adalah wanita. Karena mereka melihat Islam memuliakan wanita dan mereka sadar di sinilah mereka harusnya berada. Jika melihat kembali sejarah manusia, kita melihat pola. Apabila batasan yang jelas tidak diatur, apabila manusia mengabaikan petunjuk ilahi, wanita lah yang paling menderita. Hak-hak mereka diambil. Mereka dianiaya dan ditindas. Bahkan kini, dunia modern masih belum dapat sepenuhnya melindungi hak wanita. Ada wanita yang tak menerima gaji yang sama untuk kerjaan yang sama. Tubuh mereka dimanfaatkan untuk keperluan iklan.

Standar kecantikan tertentu selalu dipaksakan pada mereka, membuat mereka terpaksa menyesuaikannya, jika tidak mereka dianggap tidak berharga. Banyak wanita dimanipulasi melalui rayuan dan mengalami kekerasan emosional dalam hubungan yang toxic. Beberapa bahkan menjadi korban kekerasan seksual. Di sisi lain, ada ribuan wanita yang ditinggalkan pasangannya setelah melahirkan. Di 236 kota di seluruh Inggris dan Wales, lebih dari setengah rumah tangga dijalankan oleh ibu tunggal. Bayangkan berat beban pada wanita itu dan kesulitan yang dihadapi para anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah. Saat melihat banyaknya orang yang melakukan kejahatan, kebanyakan mereka tumbuh tanpa sosok ayah.

Masalah-masalah ini tak ada habisnya. Apa yang sebenarnya kita butuhkan? Kita butuh aturan yang benar-benar memahami pria dan wanita secara menyeluruh dan sempurna. Tak ada manusia yang bisa melakukannya. Karena pada akhirnya, kita semua tidak sempurna, lemah. Kita berbuat salah. Kita salah menilai, salah memahami. Maka kita butuh aturan di luar keterbatasan manusia. Aturan yang disukai dan diikuti secara sukarela oleh laki-laki dan perempuan. aturan yang dikirim oleh Sang Pencipta karena Dia yang paling memahami kita. lebih dari kita memahami diri sendiri. Dia tahu semua karakteristik pria dan wanita hingga detail terkecil.

Dia yang memiliki pengetahuan tak terbatas, hingga Dia dapat membuat keputusan yang paling adil dan sempurna. Karena Allah bukanlah pria maupun wanita, tidak ada bias dalam keputusannya. Aturan lainnya, secanggih apa pun, akan punya kekurangan, dan kita dapat melihatnya. Singkatnya, jawaban yang kita cari, solusi yang kita cari selama bertahun-tahun, sudah diberikan pada kita 1400 tahun yang lalu melalui Islam. Dan solusi semua masalah yang telah kita bahas, dan masalah lainnya dapat ditemukan dalam Islam. Saat kau cari tahu dan membaca lanjut, kau dapat menemukannya sendiri. Namun kini, sebuah pertanyaan melintas di pikiranku. Sejauh ini semuanya masuk akal.

Ya, Islam memberi kedudukan yang unik bagi wanita. Ya, hanya Sang Pencipta yang bisa menentukan aturan yang benar-benar kita perlukan. Tapi tetap saja, seperti yang kami sampaikan di awal, dalam Islam, beberapa topik tentang Wanita membuat beberapa orang bingung. Sekarang mari kita bahas tentang hijab. Jutaan orang menanyakan hal yang sama. "Bukankah ini pembatasan?" Meskipun hijab sering digambarkan sebagai bentuk penindasan atau batasan, hijab adalah salah satu hal yang paling membuat wanita non-Muslim terkesan pada Islam. Aneh, bukan? Jadi mengapa begitu? Jika kau bertanya padaku, bahkan ateis mungkin merasa perlu berhijab. Seorang ateis? Ya.

Karena menutupi tubuh itu hal yang alami, sesuatu yang melekat di penciptaan manusia. Pada sifatnya, seorang wanita mencari pria di mana ia merasa damai, bahagia dan aman. Dengan cara yang sama, pria ingin mempercayai istrinya, membangun ikatan kasih, dan berbahagia dengannya. Untuk melindungi kedamaian dan kebahagiaan keluarga, ikatan ini harus tetap kuat. Itu sebabnya konselor keluarga sering menekankan satu kebenaran penting. Untuk pernikahan yang sehat, pasangan perlu saling setia dan percaya. Di sinilah peran hijab dalam Islam bagi pria dan wanita.

Di Surah An-Nur, Allah berfirman, "Katakan pada laki-laki beriman, agar menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka." Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Dalam ayat berikut, wanita diperintahkan menutupi diri mereka. Jadi jika diperhatikan, perintah terkait hijab diberikan pada pria dulu. "Jagalah pandanganmu." Artinya, kelopak mata mereka itu hijab mereka. Di sini, ada dua sisi pencegahan. Allah menetapkan aturan untuk melindungi keluarga dan menjaga kebahagiaan mereka. Tapi hari ini, kedua bentuk ini hijab untuk pria dan wanita terus-menerus diserang. Jadi apa yang terjadi perlindungan ini dihapus dari keluarga?

Kepercayaan dan kesetiaan yang tadi kita bahas mulai rusak seiring waktu. Setiap wanita punya keinginan kuat untuk terlihat cantik dan menerima pujian. Jika wanita dengan kecenderungan itu keluar tanpa hijab, dia punya dua pilihan. Dia akan terlihat elegan dan menarik bagi orang di luar melalui pakaiannya, aksesoris, rambut, dan tubuh atau dia tidak peduli dan tampil tidak menarik. Harus pilih salah satu. Tidak ada jalan tengah. Tapi sesuai nalurinya, dia ingin terlihat cantik dan dipuji. Jadi mau tak mau saat keluar, dia akan berusaha terlihat cantik dan seperti itu seharian penuh. Tanpa hijab, hal seperti itu tidak bisa dihindari.

Jadi menurutmu ada berapa banyak pria yang berkata, "Dia mungkin istri seseorang, aku tidak boleh melihat." Sebuah eksperimen sosial memberikan jawabannya pada kita. Beberapa tahun yang lalu, mungkin kau pernah melihatnya. Seorang wanita berjalan di New York City selama lima jam mengenakan pakaian terbuka. dan sebagai hasilnya, 108 kali dia dilecehkan secara verbal. Artinya, dia mendapat ucapan yang kurang baik. Yang lebih parah, banyak pria menatapnya dengan niat buruk. Tapi inilah bagian yang menarik. Wanita yang sama mengulangi eksperimen, kali ini mengenakan hijab. Hasilnya? Tak ada yang memandangnya dengan tatapan seperti sebelumnya.

Apakah pasangan sadar atau tidak, situasi ini secara bertahap merusak kepercayaan mereka. Kecemburuan dan ketidakpercayaan mulai muncul, yang lalu mengganggu kedamaian hubungan. Tak ada pria yang mau mentolerir siapa pun melihat istrinya dengan motif tersembunyi. Dia mulai cemburu dan posesif. Itu sifat alamiah. Demikian pula, naluri wanita ingin suaminya untuk tertarik hanya padanya dan tidak melihat wanita lain. Dua naluri ini dapat menciptakan kedamaian dan keharmonisan saat kedua belah pihak mengikuti perintah untuk berhijab. Sekarang bayangkan skenario sebaliknya. Katakanlah kedua belah pihak menjaga hijab mereka. Apa bedanya?

Seorang suami tak lagi punya keraguan atau kekhawatiran apakah pria lain melihat istrinya atau tidak. Demikian pula, saat seorang pria menjaga pandangannya, kelopak matanya, ia menunjukkan dengan tegas kesetiaannya pada pasangan. Hal ini tidak akan membuat wanita merasa ragu, "Apakah dia melihat wanita lain? Adakah wanita lain yang menurutnya lebih menarik? " Dia tidak akan merasa terganggu dengan memikirkan pertanyaan seperti itu. Hijab melindungi wanita agar tidak mudah diganggu. Hijab meningkatkan nilainya dan membuatnya lebih berharga. Tak ada yang bisa melihat untaian rambutnya tanpa izinnya. Pikirkan sosial eksperimen yang baru saja kita bahas.

Saat wanita berjalan dengan pakaian terbuka, ia menjadi target ribuan pandangan menjijikkan dan kekerasan verbal. Tapi saat berhijab, dia menunjukkan siapa yang benar-benar memiliki tubuhnya. Dia memberikan pesan bahwa dia bukan hanya objek, melainkan gagasan dan kepribadiannya lah yang membuatnya sungguh berharga. Pada saat yang sama, dia menyaring orang-orang yang bisa mendekatinya. Saat berhijab, mereka yang hanya fokus pada penampilan atau mereka yang rendahan tidak mendekatinya. Karena dia tak lagi menarik perhatian mereka. Dalam hal ini, berhijab artinya berinteraksi dengan mereka tertarik padamu apa adanya.

Mereka yang tidak hanya fokus pada penampilan, namun jiwamu, dan yang bermoral tinggi. Jangan lupa. Kau lebih dari sekedar label cantik atau tidak. Kau tidak harus sesuai dengan standar kecantikan orang lain berdasarkan keinginan dan harapan mereka. Kau tidak boleh berpakaian karena pendapat orang lain, tapi berpakaianlah menurut harapan Allah, Zat yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan menempatkan bumi di bawah kakimu. Beberapa orang mungkin mencintaimu karena kecantikanmu, tapi Allah menciptakamu karena Allah mencintaimu. Dia telah memberimu kecantikan yang unik yang tidak pernah diberikan pada orang lain. Ingat perkataanku bahwa ada dua jenis hijab. Hijab pria dan wanita.

Seiring dengan ini, beberapa batasan juga dibuat antara interaksi pria dan wanita. Misalnya, dilarang melakukan percakapan intim atau tertawa dengan lawan jenis yang bukan keluarga atau pasangan mereka. Saat kedua pihak gagal mengikuti aturan ini, mereka mulai menarik satu sama lain seperti kedua sisi magnet, dan tatanan dunia mulai berantakan. Kecenderungan seksual mulai berubah jadi tindakan, hubungan tidak sah, penyimpangan, dan akhirnya kejahatan. Punya tanggung jawab di sini, keduanya gagal melakukan bagian mereka, kedua pihak bersalah. Menurut sebuah penelitian oleh CDC, pada tahun 2020, hampir 500.000 aborsi dilakukan di Amerika dan 86% dari bayi-bayi ini bukan dari pernikahan sah.

Hanya dalam satu tahun di satu negara, kehidupan 400.000 bayi belum lahir digugurkan karena hubungan yang tidak sah. Tentu saja, ini sangat sulit bagi wanita. Dan dalam kebanyakan kasus, mereka dilahirkan. Menurut studi lain oleh organisasi yang sama, pada tahun 2021, 1,4 juta kelahiran tidak sah terjadi di Amerika. Dan dalam kebanyakan kasus, sang ibu memikul beban ini sendirian. Dia mengurus dan mencoba membesarkan anak bertahun-tahun tanpa adanya dukungan ayah di sisinya. Bayangkan emosi dan mental ibu dalam situasi seperti ini, pikirkan tantangan yang dihadapi anak yang tumbuh tanpa ayah. Cara mencegahnya bergantung pada dua perintah Al-Qur'an yang kita bahas sebelumnya.

Aku percaya gambarannya jauh lebih jelas sekarang, tapi kami masih punya pertanyaan lain yang perlu dijawab. Pria diizinkan menikah dengan empat wanita, wanita menerima setengah dari warisan saudara laki-laki, yang sering ditanya dan diperdebatkan dalam Surah An-Nisa, ayat 34. Jawaban atas semua pertanyaan ini lebih sederhana dari yang kita kira. Kami akan membahasnya secara rinci di Bagian Dua. Tetaplah bersama kami.