Towards Eternity
Kembali ke blog

"Jenazahnya Masih Utuh Setelah 1 Tahun!" – Ia Telah Memandikan 6.000 Jenazah

Diterbitkan pada

Tonton di YouTube

Pekerjaan pertamaku adalah menjemput jenazah. Sejujurnya, aku melakukannya demi uang. Sudah lebih dari 10.000 orang yang kumakamkan. Kami membuka kantong jenazah, dan belatung ada di mana-mana. Cacing. Saat aku sedang mengafani, laba-laba mulai keluar dari mulutnya dan belatung-belatung kecil keluar dari hidung dan telinganya. Saat dia meninggal, kami diberi tahu. Saudaranya bilang, "Tidak, aku akan mengkremasinya." Aku bilang, "Saudaramu Muslim. Dia ingin dimakamkan secara Islam." "Tidak, tidak. Tidak mungkin." Saat jenazah masuk, kau tahu apa yang terjadi saat api dinyalakan? Tubuhnya melompat. Lalu dia berkata, "Ya Tuhan, dia masih hidup!" Dia memandikan jenazah selama 30 tahun lebih.

Dia memegang lenganku, lalu meletakkannya di atas kakinya. Dia berkata, "Sekarang aku bahagia. Kau bisa memandikanku saat aku meninggal." Polisi melihat mereka, lalu menyalakan sirene agar mereka berhenti. Mereka tidak berhenti, terus melaju. Mobil itu akhirnya mengalami kecelakaan. Kedua pemuda itu tewas terbakar. terbakar 99.9%. Mereka bilang, "Bagaimana kau memandikannya?" Aku bilang, "Aku harus melakukannya." Kami membaringkannya di meja. Saat aku teringat menandatangani surat kematian ayahku, aku menyetir mobil jenazah dan melihat ke belakang, dan ayah di sana, telah wafat. Dulu ayah yang memandikanku, sekarang aku yang memandikannya.

Dan saat mengafaninya, aku merasakan dinginnya kulit tubuhnya. Aku bilang, "Ayah, kau belum benar-benar pergi. Ini baru permulaan." + Assalamu'alaikum, saudara Ahmad Hraichie, terima kasih sudah hadir. Juga dikenal sebagai Muslim Undertaker. Towards Eternity sangat senang kamu hadir di sini. - Jazakallah khairan (Semoga Allah membalas dengan kebaikan). Aku sangat senang bertemu denganmu, akhirnya kita bisa bertemu. + Bisa ceritakan secara singkat tentang kehidupanmu? - Asalku dari Timur Tengah. Kakek-nenekku datang dari Lebanon ke Australia saat Perang Dunia II. Kami lahir di Sydney, Australia. Seperti pemuda pada umumnya, aku berolahraga, kriket, sepak bola, atletik, tinju dan karate.

Pekerjaan pertamaku adalah menjemput jenazah saat masih muda. Dari sana aku menjadi penggali kubur, dan kemudian aku semakin mendalami dunia kematian, kematian dan hari terakhir di dunia. Sejak 1996, saat pertama kali aku memakamkan, hingga sekarang, tahun 2026. Jumlahnya sudah lebih dari 10.000 orang yang aku makamkan dan kuburnya kugali, serta lebih dari 6.000 jenazah yang kumandikan. + Kenapa kamu memilih pekerjaan ini? - Saat aku berusia sekitar 14 atau 15 tahun, pekerjaan pertama yang muncul adalah menjemput jenazah untuk komunitas kami. Dan sejujurnya aku melakukannya demi uang.

Aku tidak melakukannya karena ingin mengurus jenazah, tetapi karena pekerjaan itu dibayar lebih tinggi karena tak ada yang mau. Karena pekerjaannya bisa datang kapan saja di malam hari. Jadi kupikir, satu jenazah 30 dolar, lumayan juga. Kalau dapat tiga seminggu, berarti 90 dolar, aku sudah bisa, dalam setahun bisa setara tiga tahun. Begitulah caraku menghitungnya, karena saat muda kita butuh uang. Tapi syaratnya, aku harus membawa seseorang. Saat ada panggilan, aku bilang, "Hei, bisa ikut denganku, aku ada urusan sebentar." Jadi temanku ikut naik mobil... Aku ajak dia, lalu ke rumah sakit untuk menjemput... "Apa yang kau lakukan?

Kau bilang cuma ada urusan sebentar!" Aku suruh mereka ikut mengangkat. Begitulah caraku selalu melakukannya. Setelah menjemput jenazah, aku membawanya kembali ke garasi, pada waktu itu. Dan setelah bertahun-tahun, orang-orang tua itu meninggal, akhirnya tak ada lagi yang mengerjakannya selain aku. + Apakah orang-orang merasa takut mendengar pekerjaanmu? - Mereka penasaran. Sebagian orang tua percaya takhayul. Saat aku menyalami mereka, mereka berkata, "Ooh." Kukatakan "Tenang saja, hari ini aku memandikan dua orang." Lalu mereka melihatku dan bilang, "Kalau aku meninggal, urus aku." Kubilang, "Jangan khawatir, meninggal saja dulu.

Aku yang akan mengurusnya nanti." Aku menghormati orang yang lebih tua. + Bagaimana perasaanmu saat pertama kali memandikan jenazah? - Ia adalah orang yang selalu bersamaku. Ia memandikan jenazah lebih dari 30 tahun. Ia banyak mengajariku, aku belajar darinya. Ia seperti sosok ayah bagiku. Semua anaknya dibunuh, dan beliau sendiri yang memandikan mereka. Aku ingat ia bahkan memakamkan istrinya. Saat usianya sudah lebih dari 80 tahun, kesehatannya mulai menurun, dan aku menggantikan memandikan jenazah, karena ia keluar masuk rumah sakit. Suatu hari beliau datang, ada pemakaman seorang pemuda. Banyak anak muda hadir, ia muncul entah dari mana.

Orang bilang, "Ia kembali untuk mengambil pekerjaannya." Kukatakan, "Ini memang pekerjaannya, bukan pekerjaanku." Ia ambil sebuah kursi, dan meja pemandian ada di sini, lalu meletakkan kursi itu tepat di depan meja pemandian. Ia menatapku. Ia sosok yang tegas. Beliau berkata, "Mulai." Lalu aku membaca, "Rabbisyrahli shadri wa yassirli amri (Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku) Bismillaahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang)" Aku sudah pernah melakukannya. Lalu aku mulai, ia hanya memperhatikan. Ia berkata padaku sekali dua kali, "Sedikit lagi, sedikit lagi." Aku selesai, ia berdiri, lalu masuk ke kantor dan duduk.

Aku selesai memandikan dan mengafani, Ia bilang, "Masuklah, duduk di sampingku." Ia memegang tanganku, lalu meletakkannya di atas kakinya. Ia bilang, "Sekarang aku tenang. Kamu bisa memandikanku saat aku meninggal." + Subhanallah (Maha Suci Allah). - Lalu ia pergi. Aku melihat dari jendela, cara berjalannya memang selalu begini... Lalu seseorang berkata padaku, "Ia akan kembali mengambil pekerjaannya." Kukatakan, "Tidak. Ia datang untuk berpamitan. Ia tak akan kembali." Beberapa hari kemudian ia meninggal. + Subhanallah (Maha Suci Allah). - Lalu aku memandikannya. Pemandi jenazah pun dimandikan. Demi Allah... Aku memakamkan, memandikan, dan mengurus semuanya.

Ia dimakamkan dekat ibuku, di belakang makam ibuku. Jika aku menziarahi ibuku, aku juga mendatanginya. + Pernahkah kau benar-benar merasa takut saat memandikan jenazah? - Bukan takut, tapi lebih merasa rendah hati. Baru-baru ini aku memandikan seseorang yang sudah meninggal beberapa hari. Saat itu musim panas, suhu di Australia lebih dari 40 derajat. Dalam cuaca panas, jenazah membusuk sangat cepat. Kami menjemputnya, ia tak punya keluarga. Kami buka kantong jenazah, dan belatung ada di mana-mana. - Cacing. + Oh, cacing. - Belatung putih. Dan kau tahu, Subhanallah (Maha Suci Allah), sebisa mungkin aku membersihkannya, lalu mulai memandikan, selesai, kami mengeringkan dan mengafaninya.

Saat sedang mengafani, laba-laba mulai keluar dari mulutnya, dan belatung-belatung kecil keluar dari hidung dan telinganya. + Pernahkah kamu harus memandikan jenazah yang rusak parah? Apa kasus tersulit yang pernah kau tangani? - Aku ingat dua pemuda, belum genap berusia 20 tahun, sahabat karib. Sekitar pukul 11 malam mereka pergi ke gym, lalu berlatih. Salah satu dari mereka tidak memiliki SIM yang valid, SIM-nya telah dicabut. Saat mereka pulang, polisi melihat mereka, lalu menyalakan sirene agar berhenti. Mereka tidak berhenti, terus melaju. Apa yang terjadi setelah itu kami tidak tahu, tapi mobil mereka kecelakaan dan meledak. Kedua pemuda itu tewas terbakar. Terbakar, 99,9% hangus.

Mereka bertanya, "Bagaimana memandikannya?" Aku berkata, "Tawakkaltu 'ala Allah (Aku bertawakal kepada Allah.)" Aku harus melakukannya, mereka menyayangiku." Mereka sering bertemu denganku di gym, aku adalah panutan bagi mereka. Kami membaringkan mereka. Aku mengambil handuk dan membasahinya. Lalu dibuang. Ambil handuk lagi. Hanya menepuk perlahan. Lalu dibuang lagi. Aku rasa aku memakai lebih dari 20 handuk, demi meyakinkan bahwa aku benar-benar memandikan mereka. + Subhanallah (Maha Suci Allah). - Aku ingat belum lama ini, kami dipanggil ke sebuah apartemen, dan polisi sudah berada di sana, lalu mendobrak pintunya.

Pria di dalam itu, karena musim dingin, pemanas masih menyala, dan dia sudah meninggal di dekat pemanas. Sudah enam minggu. Tubuhnya membengkak hingga pecah, bagian perutnya pecah, menggembung lalu robek, pemandangannya sangat mengerikan. Aku ingat polisi itu berlari keluar, tak sanggup menahannya, sampai muntah. Subhanallah (Maha Suci Allah), kami mengangkatnya, dan tubuh yang sudah meninggal sangat berat. Kami membawanya ke rumah duka, dan aku ingat baunya sangat menyengat, hingga bau itu bertahan sangat lama. Kau masih bisa mencium baunya, karena tubuhnya sudah membusuk sangat parah. Kadang tahu apa yang kulakukan? Aku memakai dua inhaler Vicks.

Aku memasukkannya ke lubang hidung, agar aroma Vicks terus terhirup. + Sungguh? - Bau kematian itu khas. Para polisi atau petugas forensik pasti mengenal bau tersebut, karena sering mendatangi mayat yang sudah lama meninggal, tempat kejadian perkara. Baunya sangat khas. + Kamu pernah memandikan jenazah anak-anak? - Ya, aku sudah memandikan banyak anak. Jenazah anak-anak juga menyentuh hatiku. Aku sering menangis saat memandikan mereka, terutama saat melihat orang tua mereka, apalagi jika ayah anak itu berkata, "Dia adalah miniaturku. Dia selalu meniruku dan mengikutiku ke mana saja." "Tapi ini adalah ujian, kawan. Ujian dari Allah." Aku ingat ada anak laki-laki sedang berada di ruang kelas.

Seorang ibu dipanggil ke sekolah karena putranya membuat sedikit masalah. Jadi dia pergi menemui kepala sekolah. Saat hendak pulang, dia menginjak pedal gas. Botol minumnya jatuh ke bawah pedal rem, lalu saat dia mengambilnya dia justru menekan pedal gas. Mobilnya melaju ke depan, bukan mundur, lalu menabrak gedung, masuk ke sebuah ruangan seperti ini, dan menewaskan dua anak. Satu anak muslim, dan satu anak nonmuslim. Ibu itu sangat terpukul. Beliau sudah lanjut usia. Saat aku mengurus pemakaman anak itu, ayahnya duduk di sampingku di dalam mobil. Aku bertanya, "Apakah Anda akan membalas dendam?" Karena wanita itu dan keluarga korban juga Muslim. Ia jawab, "Tidak.

Saya memaafkannya." Aku bilang, "Memaafkannya? Orang bilang Anda akan balas dendam." Ia bilang, "Tidak. Enam bulan yang lalu, aku menghadiri takziah suaminya saat ia meninggal. Saya datang, bahkan makan di rumahnya. Tidak. Saya memaafkannya." Kami sedang menuju pemakaman, dan peti putranya ada di belakang, dan jaraknya hanya sejauh ini. Namun dia berkata, "Saya memaafkannya." - Kejadian ini menjadi viral di seluruh dunia. + Wow. Dan Subhanallah, inilah wajah Islam. Inilah Islam yang sesungguhnya. + Pernahkah kamu mendengar suara dari jenazah? - Terkadang tubuh jenazah mengeluarkan suara. Misalnya suara "ee" "ee" seperti...

otot-otot yang mengendur, terutama saat mulai dimandikan dengan air hangat, jadi semuanya akan mengendur. Tubuhnya bisa bergerak sedikit, misalnya lengannya begini lalu tiba-tiba... dan kau akan berpikir, "Apa yang terjadi? Siapa yang menyentuhku?" Tetapi aku tahu itu normal. Mereka tidak hidup lagi. Subhanallah, suatu kali kami sedang menguburkan, dan ada seorang pria berdiri, dan dia... berdiri di atas kubur. Sepertinya ponselnya ada di sini, lalu dia membungkuk, dan menjatuhkan ponselnya ke dalam kuburan, tapi dia tak menyadarinya. Saat itu aku masih berada di bawah, di dalam liang bersama jenazah.

Setelah selesai, kami menutup liang dengan batu penutup lalu tanah, Lalu dia berkata, "Mana ponselku? Bisa telepon nomorku?" Aku menelepon ponselnya, dan kami mendengar deringnya. Kami terus mendekat, dan ternyata suaranya berasal dari dalam kuburan. Subhanallah (Maha Suci Allah). Ponselnya berdering di dalam liang kubur. Dia menatapku, lalu aku berkata, "Kau kurang beruntung, Kawan. Sudah hilang." + Bisa kamu jelaskan langkah demi langkah bagaimana aku akan dimandikan dan dikuburkan setelah meninggal? - Saat ajalmu tiba, Allah SWT mengutus para malaikat-Nya terlebih dahulu. Mereka akan duduk di sana, dan kadang kau melihat orang yang sekarat menatap sesuatu.

Pada saat itu, Malaikat Maut berdiri di samping kepalamu, lalu ruh keluar, sebagaimana digambarkan, seperti air yang mengalir dari cangkir, keluar dengan lembut. Karena itulah orang meninggal... kau lihat? Mereka tidak... Mereka sebenarnya menarik napas terakhir. Saat meninggal, napas masuk, bukan keluar. Itulah kematian. Mata akan memandang ke atas, matanya masih terbuka, karena melihat ruhnya keluar. Kami memiliki kain khusus, kami memesan ribuan lembar. Kain itu menutupi dari sini sampai lutut, dan terbuat dari kain felt hitam. Artinya, air tidak akan bisa meresap. Jika kamu menaruh handuk di atas air, apa yang terjadi? Handuk itu akan tembus pandang.

Kalau memakai handuk putih saat memandikan, semuanya akan terlihat. Kain ini tidak tembus pandang. Jadi saat akan memandikan, kami menekan bagian perut terlebih dahulu, memastikan tidak ada isi perut yang tertinggal. Kami menekan perut agar semua isinya keluar. Langsung keluar. Semua kotoran harus dikeluarkan. Kadang kami harus bekerja sangat keras. Terus menekan, menekan, hingga semuanya keluar. Kadang isinya obat-obatan yang bercampur feses. Karena setelah itu jenazah dibungkus dengan kain kafan putih. Bayangkan jika sudah dikafani, lalu satu atau dua jam kemudian, di pemakaman saat jenazah diangkat untuk dimasukkan ke liang kubur, ternyata bagian bawahnya penuh feses.

Karena itu kami menggunakan spons, sabun atau daun Bidara, lalu membersihkan dari bagian bawah. Kemudian kami periksa. Bersih. Kami terus periksa apakah masih ada feses atau kotoran lain yang tersisa, hingga busa sabunnya tetap putih. Saat itulah kami tahu sudah bersih. + Jadi kamu tidak menyentuh langsung bagian-bagian tersebut? - Tidak. Selalu ada penghalang antara tangan kami dan bagian itu. Tujuan kami adalah memastikan spons atau sabunnya sudah terlihat bersih tanpa noda sedikit pun. Meja pemandian seperti ini dan memiliki saluran pembuangan. Jenazah berada di atasnya, jadi apa pun yang keluar langsung mengalir.

Jika masih banyak yang keluar setelah dibersihkan, kami memasukkan kapas ke bagian belakang jenazah. Kapas dipasang dari balik tangan kami, seperti penyumbat, lalu diberi lapisan plastik dan kapas agar tidak tembus. Jadi, pekerjaan ini tidak mudah. Pekerjaan ini bersifat sangat pribadi dan penuh tanggung jawab. Begitu kamu dinyatakan meninggal, persiapan pemakaman dimulai. Pesan WhatsApp akan tersebar ke berbagai tempat, tergantung seberapa banyak orang mengenalmu. "Si fulan telah meninggal." Jenazahmu akan dipikul di atas bahu oleh orang-orang yang mengenalmu atau bahkan orang asing, tergantung berapa banyak yang bisa mengangkat. Lalu di bawa ke pemakaman, menuju liang kubur.

Aku selalu berkata pada orang-orang, liang itu seperti lubang yang digali kucing untuk buang kotoran, hanya saja sedikit lebih dalam. Artinya setelah meninggal, kau hanya dimasukkan ke lubang lalu ditinggalkan. Lihatlah. Begitulah akhir kehidupan manusia. + Kenapa umat Islam memandikan jenazah sebelum dimakamkan, dan karena kremasi lazim di banyak negara, apakah orang nonmuslim menganggap praktik ini aneh? - Kamu pernah melihat bagaimana jenazah dikremasi? Kalau melihatnya, kau akan memahami kemuliaan Islam. Saat jenazah dikremasi, aku ingat pernah ada seorang pria tua, seorang mualaf dari salah satu negara Eropa, tapi tinggal di Australia.

Saudaranya adalah saudara kandung terdekat, jadi dialah yang berwenang. Ketika beliau meninggal, kami mendapat kabar. Saudaranya bilang, "Tidak, aku akan mengkremasinya." Aku bilang, "Hei, saudaramu Muslim. Dia ingin dimakamkan secara Islam." "Tidak, tidak. Tidak mungkin." Akhirnya kami datang dan menyaksikan kremasi itu, hanya untuk mendoakannya, karena itu semuanya di luar kendali kami. Saat jenazah itu masuk, kau tahu apa yang terjadi saat terkena api? Tubuhnya terangkat. Lalu dia teriak, "Ya Tuhan, dia masih hidup!" Aku berkata, "Tidak, Kawan. Kamu baru saja membunuhnya untuk kedua kalinya." Aku mengatakannya agar dia menyadari kesalahannya.

Karena yang sebenarnya terjadi adalah, panas yang sangat tinggi membuat otot dan saraf menyusut, sehingga tubuhnya tersentak seperti ini. Ini adalah hukuman. Dalam Islam, seorang Muslim menjalani hidup dalam keadaan suci. Setelah dari toilet kita bersuci, dan kita berwudu sebelum salat Karena itu, jenazah dikembalikan ke keadaan yang suci dan bersih, lalu dikembalikan ke dalam bumi, karena bumi itu suci.

Kalau kalian melihat media sosialku, kalian akan membaca komentar-komentar seperti, "Aku seorang Katolik." Mereka langsung menjelaskan identitasnya, "Aku bukan Muslim." "Tapi apa yang kalian lakukan sangat menjaga martabat manusia." "Kamu menunjukkan sisi kemanusiaan pada orang yang telah meninggal." Komentar seperti itu menunjukkan kita menghormati orang yang telah wafat, menjaga kehormatan mereka, dan menunaikan hak-hak mereka.

Banyak produser ternama juga pernah membuat dokumenter singkat bersamaku, ikut menghadiri prosesi pemakaman, lalu mereka berkata, "Ini adalah cara paling bermartabat dalam memperlakukan jenazah yang pernah aku lihat." Aku ingat pada suatu pemakaman, orang-orang berebut mengangkat keranda menuju masjid. Aku ingat para produser itu, mereka bukan Muslim. Mereka bertanya, "Apakah mereka semua keluarganya?" Kujawab, "Bukan, mereka bahkan tidak mengenalnya." "Mengapa mereka ikut mengangkat kerandanya?" Kukatakan, "Karena dalam Islam, kita semua saling bersaudara satu sama lain." Dia pun berkata, "Wah, indah sekali." + Aku telah menghadiri begitu banyak pemakaman.

Hal apa yang paling sering disesali orang? - Yang paling mereka sesali adalah tidak menjalin silaturahmi. Misalnya, aku melihat seorang pria membenturkan kepalanya sendiri ke tembok, karena dia tidak berbicara dengan saudaranya selama 10 tahun. Selama 10 tahun karena masalah sepele "Dia bilang begini, begitu." Saat kematian datang, dia berkata, "Kenapa dulu aku tidak meneleponnya saja?" "Kenapa aku tidak mengalah saja?" "Kenapa aku membiarkan semua ini terjadi?" Tapi semuanya sudah terlambat. Ada juga seorang ibu yang dibawa ke kamar jenazah karena tak ada yang tahu siapa dirinya. Ia meninggal lebih dari seminggu di rumahnya, padahal anak-anaknya tinggal di jalan yang sama.

Tapi mereka tak lagi berbicara dengannya. Saat pemakamannya, mereka memukul-mukul tanah, Mereka tak sanggup menghadapinya. Karena itu, sebagai manusia, telanlah itu. Telan gengsimu. Rendahkan hatimu, karena demi Allah gengsi tak sebanding dengan penyesalan, karena begitu kita masuk ke liang kubur, penyesalan dan segalanya akan berakhir. Jadi, selesaikan semuanya sekarang, sebelum penyesalan terbawa ke kubur. Kekayaan sejati di dunia ini adalah rasa cukup. Sakinah, yaitu ketenangan hati. Rasa cukup adalah harta yang tidak akan pernah habis. + Apakah jenazah bisa melihat atau mendengar kita? - Ada sebuah hadis Rasulullah SAW.

Setelah seseorang dimakamkan, ia mendengar langkah kaki orang-orang yang meninggalkannya. Langkah kaki yang didengar maksudnya ia kini sadar dirinya sendirian, orang-orang meninggalkanmu. Ini satu-satunya waktu yang pernah dijelaskan, seperti apa pendengaran itu, hanya Allah yang tahu. Rasulullah SAW juga bersabda, "Jangan mencederai atau mematahkan tulang orang yang telah meninggal." Karena jenazah dapat merasakannya sebagaimana orang yang masih hidup. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Kita cukup berpikir positif tentang segalanya, InsyaAllah. + Apakah yang terjadi jika seseorang meninggal sebelum sempat melakukan mandi wajib (ghusl)?

- Jika seseorang sengaja meninggalkan mandi wajib (ghusl), sebagai contoh, setelah berhubungan dengan istrinya, lalu langsung kembali beraktivitas, dan belum mandi wajib (ghusl), maka dia berhadas besar. Dia dalam keadaan tidak suci, dia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Tapi itu tidak membuatnya keluar dari Islam. Ia tetap seorang Muslim, tetap dimandikan, dikafani, dan disucikan. Tapi dosa itu jadi tanggung jawabnya. + Apakah ada pengalaman di profesimu ini yang membekas di ingatanmu? - Sekitar 25 tahun yang lalu, selesai pemakaman, aku kembali masuk ke kendaraan. Aku kembali menggali dengan ekskavator.

Ada pria berdiri di dekat ekskavator, tubuhnya tinggi, karena dia amat tinggi. Aku tinggi dan dia pun tinggi. Ada dua orang pria yang lebih pendek bersamanya. Aku masih ingat dia mengenakan jaket kulit hitam. Dia bertanya, "Apakah akan ada pemakaman lagi?" Kujawab, "Bukan, ini hanya liang kubur cadangan." Karena aku memang menggali liang cadangan. Lalu kedua temannya berkata, "Ali, ayo pergi." Lalu ia pergi. Keesokan harinya hujan turun. Sehari setelahnya, aku ditelepon, "Galilah kuburan yang lebih besar." Kukatakan, "Hei, kami sudah menggali 2 meter, tak mungkin lebih besar daripada 2 meter, siapa pun orangnya." Mereka melebih-lebihkan.

Hari pemakaman tiba, aku di liang kubur, mereka melewatiku, aku masuk, jenazah terbungkus kain kafan putih, aku tak tahu siapa itu. Tapi aku ingat, jenazah itu lebih tinggi daripada liang kubur, aku harus sedikit menekuk kedua kakinya agar dia muat di liang itu. Aku keluar, menguburnya, lalu pergi. Keesokan paginya aku kembali menggali, dan melihat seorang wanita di dekat kubur itu, di kuburan yang aku tangani kemarin, Lalu aku matikan mesin, dan biasanya aku mengajukan pertanyaan, "Apa yang mendiang katakan, apa pekerjaannya sebelum meninggal, apakah mendiang mengonsumsi sesuatu," Aku sangat penasaran. Wanita itu berkata, "Kau tak akan percaya.

Beberapa hari yang lalu dia juga datang ke sini." Aku bertanya, "Untuk menghadiri pemakaman?" Dia berkata, "Iya." Kutanya, "Bagaimana dia meninggal?" Wanita itu berkata, "Dia tidur, aku membangunkannya di pagi hari, dia tak terbangun." Usianya 40 tahun. Kutanya, "Apakah dia mengenakan jaket kulit hitam?" Dia berkata, "Itu adalah jaket favoritnya, dia selalu mengenakan jaket kulit." Kutanya, "Apakah dia bersama dua orang pria, sahabat-sahabatnya?" Lalu aku menatap batu nisan di tanah itu, namanya tertulis, "Ali." Saat itu aku tahu itu adalah dia. Karena tubuhnya tinggi, dan semuanya cocok dengannya. + Dia melihat makamnya sendiri. - Tentu saja aku tidak memberi tahu istrinya.

+ Apa kau pernah memandikan dan menguburkan orang yang kau cintai? Bagaimana rasanya? - Ayahku, belum lama ini. Aku masih ingat saat menandatangani surat kematian ayahku. Aku ingat dulu beliau menandatangani akta kelahiranku. Saat aku menjemputnya dari rumah sakit, untuk dibawa ke kamar jenazah, aku sedang mengemudi, aku melihat ke belakang, seperti ini, dia terbujur kaku di sana. Kukatakan, "Ayah, sekarang aku yang mengantarmu. Dulu Ayah yang mengajariku menyetir." Dan aku ingat saat beliau mengajariku untuk mengemudi. "Maju! Apa yang kau lakukan!" "Sekarang aku justru mengantarmu.

Dulu Ayah yang memandikanku, sekarang aku yang memandikanmu." Ketika aku mengafaninya, aku teringat saat aku sakit atau sedang berbaring, beliau datang menyelimutiku dan memastikan aku baik-baik saja. Kini aku yang menyelimuti beliau. Dan Subhanallah (Maha Suci Allah), saat aku menguburkan beliau, itulah terakhir kalinya aku melihat dan mencium beliau. Aku belum pernah membuka kafan atau mencium siapa pun di liang kubur kecuali ayahku. Aku merasakan dinginnya kulit beliau. Aku berkata, "Ayah, Ayah tidak benar-benar pergi. Ini hanyalah permulaan. Kami akan segera menyusul Ayah. InsyaAllah." Hal tersulit yang akan kau alami adalah menguburkan kedua orang tuamu.

Itu adalah sesuatu yang akan dialami semua orang. Entah kamu menguburkan anakmu, atau menguburkan orang tuamu. Saat itulah aku menyaksikan kenyataan benar-benar menghantam seseorang. + Apa kau pernah mengalami sesuatu yang misterius di pemakaman? - Kami sedang bekerja, orang-orang biasanya membuka makam setahun kemudian di luar negeri, biasanya, yang tersisa hanyalah beberapa tulang. Tulang-tulang itu dipindahkan, lalu jenazah lain dimakamkan di sana, karena lahannya sangat terbatas. Namun saat makam yang satu ini dibuka, mereka melihat kuburan itu, jenazahnya masih utuh, seperti saat dimakamkan. Jadi makam itu ditutup kembali. Dua belas bulan kemudian, makam itu dibuka lagi.

Aku menelepon untuk bertanya apa yang terjadi, karena saat itu aku sudah meninggalkan tempat itu, mereka berkata, "Masih tetap sama." Akhirnya kami menandai makam itu agar tak pernah dibuka lagi. + Apakah mungkin seorang Muslim meninggal dengan kehilangan imannya di saat terakhir mereka? Kehilangan imannya sebelum meninggal? - Tentu saja mungkin. Karena itulah Rasulullah SAW bersabda, "Mintalah husnul khatimah." Selalu berdoa untuk akhir hayat yang baik. Mohon kepada Allah agar kita diberi akhir kehidupan yang baik dan saleh. karena Imam Ahmad (ulama Islam), saat ia menghadapi sakaratul maut, beliau bolak-balik kehilangan kesadaran. Dan dia berkata, "Belum...

belum." Ketika akhirnya beliau bisa berbicara, putranya bertanya, "Ayah adalah orang saleh. Apakah Ayah takut mati?" Beliau menjawab, "Tidak, wahai putraku. Iblis, setan, berada di samping kepalaku, menggigit tangannya sambil berkata, 'Wahai Ahmad, aku gagal menyesatkanmu! Oh Ahmad, engkau lolos dari genggamanku, engkau lolos...' Maksudnya, kau berhasil meraih surga (jannah), aku tak bisa menyesatkanmu." Dan ia berkata, "Belum... belum." Artinya, pertarungan belum selesai. Perjuangan benar-benar berakhir saat kita meninggal Saat meninggal, dan kedua kaki memasuki surga, berarti kau telah berhasil. Sampai saat itu tiba, ujian akan semakin berat, terutama menjelang kematian.

Karena pada saat itulah kesabaran terbesar sangat diperlukan. Saat itulah di mana setan (iblis) memberikan godaan dan ujian terberat, agar kita berpaling di detik terakhir. Ia ingin membuat kita percaya bahwa tidak ada akhirat. Tak ada hal ini. + Bagi mereka yang kehilangan orang tercinta, apa yang dapat mereka lakukan agar bermanfaat bagi yang meninggal? - Rasulullah SAW mengabarkan bahwa saat seseorang meninggal, amalnya terputus. Lalu beliau berkata, ada kasih sayang yang indah di sini, yakni tiga perkara yang tak terputus saat kau meninggal. Anak saleh yang mendoakanmu, maka didiklah anak-anakmu. Ilmu yang bermanfaat, yang terus diamalkan orang lain. Karena itu, ajarkanlah ilmu.

Jadilah guru, sebarkan ilmu dan nasihat yang baik. Nasihat yang baik, bukan yang buruk. Dan yang ketiga, sedekah jariyah. Membangun sumur, masjid, atau amalan lain. Al-Qur'an mengatakan, mereka bilang "Kembalikan aku ke dunia agar aku dapat bersedekah. Agar aku dapat melakukan amal saleh." + Apa nasihatmu agar kita selalu mengingat kematian? - Ingatlah kematian selama engkau masih hidup. Sering-seringlah mengingatnya. Karena kematian adalah penghancur kenikmatan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Mengingat kematian akan melembutkan hati, dan membuat kita sadar bahwa semua masalah dunia ini hanyalah sementara. Penyakit, musibah, dan ujian hanyalah sementara.

Itu akan mendorong kita untuk memperbanyak amal saleh dan mempersiapkan diri bertemu Sang Pencipta, pemilik jiwa kita, Yang menciptakan kita, dan akan kembali mengambil nyawa kita, Yang memiliki kita, Dialah Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali. Untuk orang-orang biasa, seringlah mengunjungi pemakaman, ajak anak-anakmu ke pemakaman. Biarkan mereka memahami hakikat kehidupan dunia. Bahwa dunia ini sementara. Dunia hanyalah sebuah ilusi.

Dan bagi dirimu, pergi ke pemakaman adalah suatu amalan yang melembutkan hati, dan ingatlah bahwa Subhanallah (Maha Suci Allah), kamu juga suatu hari nanti, seperti orang-orang sebelummu, yang tinggal dan memiliki rumah besar, dan memiliki jabatan penting, mereka pun berada di bawah tanah sekarang, hari ini kau di sini, tapi esok hari kau pun akan berada di bawah tanah seperti mereka. Apakah kamu kesulitan salat lima waktu secara konsisten? Atau mungkin kamu ingin belajar membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan lebih dekat kepada Rabb-mu, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Kami punya kabar baik untukmu.

Kami telah mengembangkan dua aplikasi yang gratis tanpa iklan untuk membantumu dalam perjalanan itu. Dengan aplikasi pelacak salat kami, kamu dapat melacak salatmu selama 40 hari dan membangun kebiasaan salat yang lebih kuat. Dan dengan aplikasi Lamelif, kamu dapat belajar membaca Al-Qur'an dari nol melalui pelajaran singkat, sederhana, dan menyenangkan. Jangan tunda lagi. Ambil langkah pertamamu hari ini dan unduh aplikasinya melalui tautan di deskripsi.